sanad dan hadits

Standar

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Ulumul Hadits

Dosen Pengampu : Drs.Darmu’in, M.Ag

 

Di susun oleh :

Novita Nur ‘Inayah     (103111130)

Rochmatun Naili         (103111131)

Syaiful Anwar                         (103111132)

Tri Maryati                  (103111133)

Wachidatun Nazilah   (103111134)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

       I.            PENDAHULUAN

Dalam jarak waktu antara kewafatan Nabi dan penulisan kitab-kitab hadits tersebut. Terjadi berbagai hal yang dapat menjadikan riwayat hadits itu  menyalahi apa yang sebenarnya berasal dari Nabi. Dengan demikian, untuk mengetahui apakah riwayat berbagai hadits yang terhimpun dari kitab-kitab tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah atau pun tidak, terlebih dahulu perlu dilakukan penelitian. Kegiatan penelitian itu tidak hanya ditunjukkan kepada apa yang menjadi materi berita dalam hadits itu saja, yang bisa dikenal dengan masalah matan hadits, tetapi juga kepada berbagai hal yang berhubungan dengan periwayatannya, dalam hal ini sanadnya. Yakni rangkaian para riwayat yang menyampaikan matan hadits kepada kitab. Jadi, untuk mengetahui apakah suatu hadits dapat dipertanggungjawabkan keshohihannya diperlukan penelitian matan dan sanad hadits yang bersangkuatan.

II.            RUMUSAN MASALAH

  1. Apakah unsur-unsur pokok yang terkandung dalam hadits?
  2. Apakah pengertian dari sanad, matan , dan rawi hadits?
  3. Bagaimana hubungan sanad, matan, dan rawi hadits?

 

III.            PEMBAHASAN

  1. Dalam hadits terdapat tiga unsur pokok yaitu sanad, matan, dan rawi. Di bawah ini akan dijelaskan secara terperinci.
  2. Sanad

Kata sanad secara etimologis, berakar dari kata sanada-yasnudu, yang berarti ”sandaran”, atau sesuatu yang dijadikan sandaran (mu’tamad). Dikatakan demikian, karena  hadits bersandar kepadanya. Sedangkan secara terminologis ialah:

 سِلْسِلَةُ الرِّجَالِ الْمُوَصِّلَةُ لِلْمَتْنِ.

“silsilah orang-orang yang menghubungkan kepada matan hadits”.

Maksudnya, ialah susunan atau rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi hadits  dari yang disebutkan pertama sampai kepada Nabi SAW. Perkataan, perbuatan, taqrir, dan lainnya merupakan materi atau matan hadits. Dengan pengertian di atas, maka sebutan sanad hanya berlaku pada serangkaian orang-orang, bukan ditinjau dari sudut pribadi perorangan. Sedangkan sebutan untuk pribadi, yang menyampaikan hadits dilihat dari sudut perorangnya, disebut dengan rawi.

Al-Badru Ibnu Jama’ah dan Ath-Thibi, sebagaimana yang telah disebutkan As-Suyuthi, mengemukakan definisi yang hampir sama, yaitu:

الْأَخْبَارُ عَنْ طَرِيْقِ الْمَتْنِ.

“Berita-berita tentang jalan matan”.

            Yang dimaksud dengan jalan matan (thoriqul matni) pada definisi di atas ialah serangkaian orang-orang yang menyampaikan atau meriwayatkan hadits, mulai perawi pertama sampai yang terakhir. Dua definisi di atas dapat dipertegas dengan definisi yang lebih terperinci, seperti berikut:

طَرِيْقُ الْمَتْنِ أَوْ سِلْسِلَةُ الرُّوَاةِ الَّذِيْنَ نَقَلُوْا الْمَتْنَ عَنْ مَصْدَرِهِ الْأَوَّلِ.

“ Jalan matan hadits atau silsilah para rawi yang menukilkan matan hadits dari sumbernya yang pertama (Rasulullah SAW)”.1

            Yang berkaitan dengan istilah sanad, terdapat kata-kata lain, seperti al-Isnad, al-Musnid, dan al-Musnad. Secara terminologis, kata-kata ini mempunyai arti yang cukup luas, sebagaimana yang telah dikembangkan oleh para ulama.

Kata al-isnad berati menyandarkan, mengasalkan (mengembalikan ke asal), dan mengangkat. Di sini maksudnya ialah menyandarkan hadits kepada orang yang mengatakannya (raf’ul hadits ilaa qa-ilih atau ‘azwul hadits ilaa qa-ilih). Menurut Ath-Thibi, sebenarnya al-isnad dan as-sanad digunakan oleh para ulama dalam pengertian yang sama.[1]

Kata al-Musnad mempunyai beberapa arti. Bisa berarti hadits yang diisnadkan atau disandarkan oleh seseorang; bisa berarti nama suatu kitab yang menghimpun hadits-hadits dengan sistem penyusunan yang berdasarkan nama-nama para sahabat atau para perawi hadits, seperti kitab Musnad Ahmad; bisa juga berarti nama bagi hadits yang berkriteria marfu’ dan muttashil.

            Karena demikian pentingnya kedudukan sanad itu, maka suatu berita yang dinyatakan sebagai hadits Nabi oleh seseorang, tapi berita itu tidak memiliki sanad sama sekali, maka berita tersebut oleh ulama’ hadits tidak dapat disebut sebagai hadits. Sekiranya berita itu tetap juga dinyatakan sebagai hadits oleh orang-orang tertentu, misalnya oleh ulama’ yang bukan ahli hadits, maka berita tersebut oleh ulama’ hadits dinyatakan sebagai hadits palsu atau hadits maudlu’.

Lemahnya suatu sanad riwayat hadits tertentu sesungguhnya belumlah menjadikan hadits yang bersangkutan secara absolut tidak berasal dari Rasulullah. Dalam pada itu, riwayat hadits yang sanadnya lemah tidak dapat memberikan bukti yang kuat bahwa hadits yang bersangkutan berasal dari Rasulullah. Padahal, hadits Rasulullah adalah sumber ajaran islam; dan karenanya, riwayat hadits haruslah terhindar dari keadaan yang meragukan.

Pada kenyataannya, tidaklah setiap sanad yang menyertai sesuatu yang dinyatakan sebagai hadits terhindar dari keadaan yang meragukan. Hal itu dapat dimaklumi sebab orang yang terlibat dalam periwayatan hadits, selain banyak jumlahnya, juga sangat bervariasi kualitas pribadi dan kapasitas intelektualnya.

Menghadapi sanad yang bermacam-macam kualitasnya itu, maka ulama’ hadits menyusun berbagai istilah. Berbagai istilah itu tidak hanya dimaksudkan untuk mempermudah membedakan macam-macam sanad yang keadaannya sangat bervariasi itu saja, tetapi juga untuk mempermudah penilaian terhadap sanad yang bersangkutan dalam hubungannya dengan dapat dan tidak dapatnya dijadikan hujjah.

Pada umumnya  ulama’ hadits dalam melakukan penelitian sanad hadits hanya berkonsentrasi pada keadaan para periwayat dalam sanad itu saja, tanpa memberikan perhatian yang khusus pada lambang-lambang yang digunakan oleh masing-masing periwayat dalam sanad. Hal itu terlihat jelas pada skema sanad yang dibuat dalam rangka kegiatan penelitian. Padahal cacat hadits (‘llatul hadits) tidak jarang “tersembunyi” pada lambang-lambang tertentu yang digunakan oleh periwayat dalam meriwayatkan hadits.  Ulama hadits telah membahas syarat-syarat umum sahnya seorang periwayat menerima dan menyampaikan hadits. Dalam hal ini, dibedakan syarat-syarat periwayat  hadits ketika menerima dan menyampaikan riwayat hadits. Para ulama pada umumnya berpendapat, orang-orang kafir dan anak-anak dinyatakan sah menerima riwayat hadits, tetapi untuk kegiatan penyampaian hadits, riwayat mereka tidak sah. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang ketika menyampaikan riwayat hadits sehingga riwayatnya dinyatakan sah ialah orang itu harus: beragama islam, balig, berakal, tidak fasiq, terhindar dari tingkah laku yang mengurangi atau menghilangkan kehormatan (muru’ah), mamu menyampaikan hadits yang telah dihafalnya, sekiranya dia memiliki catatan hadits maka catatannya itu dapat dipercaya, dan mengetahui dengan baik apa yang merusakkan maksud hadits yang diriwayatkannya secara makna. Mereka yang memenuhi syarat-syarat tersebut biasa disebut sebagai bersifat adil dan dhabith.[2]

 

  1. Matan

Kata matan atau al- matnu. Menurut bahasa berarti

مَا صَلُبَ وَارْتَفَفَعَ مِنَ الْأَرْضِ.

Sesuatu yang keras dan tinggi (terangkat) dari bumi (tanah).

Secara terminologis, istilah matan memiliki beberapa definisi yang pada dasarnya maknanya sama, yaitu materi atau lafadz hadits itu sendiri.

Definisi lain menyebutkan:

اَلْفَا ظُ الْحَدِيْثِ الَّتِيْ تَقُوْمُ بِهَا مَعَا نِيْهِ.

“Beberapa lafadz hadist yang membentuk beberapa makna”

Terdapat berbagai definisi matan yang diberikan, tetapi intinya sama yaitu materi atau isi berita hadist itu sendiri yang datang dari Rasulullah SAW. Matan hadist ini sangat penting karena menjadi topik kajian dan kandungan syari’at Islam untuk dijadikan petunjuk dalam beragama.

 

 

Ada juga redaksi yang lebih simpel lagi, yang menyebutkan bahwa matan adalah ujung sanad (ghayah as-sanad). Dari semua pengertian di atas menunjukan bahwa yang dimaksud dengan matan ialah materi atau lafadz hadits itu sendiri.

Untuk menelti matan hadits dari segi kandungannya, diperlukan penggunaan pendekatan rasio, sejarah, dan prinsip-prinsip pokok ajaran islam. Dengan demikian, kesahihan matan hadits yang di hasilkan tidak hanya dilihat dari sisi bahasa saja, tetapi juga dilihat dari sisi yang mengacu kepada rasio, sejarah, dan prinsip-prinsip pokok dari ajaran islam.

.

  1. Rawi

Kata “rawi” atau “al-rawi” berarti orang yang meriwayatkan atau memberikan hadits (naqil al-hadits)

Sebenarnya antara sanad dan rawi itu merupakan dua isilah yang tidak dapat dipisahkan. Sanad hadits pada tiap-tiap tabaqahnya, juga disebut rawi, jika yang dimaksud dengan rawi adalah orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadits. Akan etapi yang memnbedakan rawi dan sanad adalah terletak pada pembukuan atau pentadwinan hadits. Orang yang menerima hadits dan kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin, disebut dengan perawi. Dengan demikian, maka perawi juga disebut mudawwin atau (orang yang membukukan dan menghimpun hadits).

Ulama’ hadits sependapat bahwa ada dua hal yang harus diteliti pada diri pribadi periwayat hadits untuk dapat dipahami apakah riwayat hadits untuk dapat diketahui apakah riwayat hadits yang dikemukakannya dapat diterima sebaga hujjah atau pun harus ditolak. Kedua hal itu adalah keadilan dan ke-dhabit-annya.

Keadilan seorang perawi  dengan kualitas pribadi. Sedangkan dengan ke-dhabit-annya berhubungan dengan kapasitas intelektualnya. Apabila kedua hal terebut dimiliki oleh periwayat hadits, maka periwayat hadits tersebut mempunyai sifat tsiqot.

Istilah tsiqot merupakan gabungan dari sifat adil dan dhabit. Utnuk sifat adil dan dhabit masing-masing memilki kriteria tersendiri.

  1. Kualitas pribadi periwayat

Kualitas pribadi periwayat bagi hadits haruslah adil.

Kata adil berasal dar bahasa Arab : ‘adl. Arti ‘adl menurut bahasa ialah pertengahan, lurus, atau condong kepada kebenaran.

Dalam memberikan pengertian istilah ‘adl yang berlaku dalam ilmu hadits, ulama berbeda pendapat. Dari berbagai perbedaan pendapat itu dapat dihimpunkan kriterianya menjadi empat bagian. Keempat bagian tersebut ialah

1)      Baragama islam

Beragama islam menjadi salah satu kriteria keadilan periwayat apabila periwayat yang berangkutan melakukan kegiatan menyampaikan riwayat hadits. Untuk kegiatan menerima hadits, kriteria tersebut tidak berlaku. Jadi, periwayat tatkala menerima riwayat hadits boleh saja tidak dalam keadaaan muslim, asalkan saja ketika menyampaikan riwayat hadits kembali dia telah memeluk agama islam.

2)      Mukalaf (baligh dan berakal sehat)

Merupakan salah satu kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang periwayat tatkala dia menyampaikan riwayat hadits. Untuk kegiatan penerimaan riwayat, periwayat tersebut masih belum mukalaf, asal dia telah mumazzis (dapat memahami maksud pembicaraan dan dapat membedakan antara sesuatu dan sesuatu yang lain). Jadi, seorang anak yang menerima suatu riwayat, kemudian seteah mukalaf riwayat itu disampaikan kepada orang lain, maka penyampaian riwayat tersebut telah memenuhi salah satu kriteria keshahihan sanad hadits.

3)      Melaksanakan ketentuan agama

Yang dimaksud ialah teguh dalam agama, tidak berbuat dosa besar, tidak berbuat bid’ah, tdak berbuat maksiat, dan harus berakhlak mulia.

4)      Memelihara muru’ah

Arti muru’ah ialah kesopanan pribadi yang membawa pemeliharaan diri manusia pada tegakknya kebajikan moral dan kebiasaan-kebiasaannya

  1. Kapasitas intelektual

Periwayat yang kapasitas intelektualnya memenuhi syarat keshahihan sanad hadits disebut sebagai periayat yang dhabit.

Arti harfiah dhabit ada beberapa macam yakni dapat berarti yang kokoh, yang kuat, yang tepat, dan yang hafal dengan sempurna.

Ulama’ hadits memang berbeda pendapat dalam memberikan pengertian istilah untuk kata dhabit, namun perbedaannya itu dapat dipertemukan dengan memberi rumusan sebagai berikut :

a)      Periwayat yang bersifat dhabit adalah periwayat yang hafal dengan sempurna hadist yang diterimanya, mampu menyampaikan dengan baik hadits yang dihafalnya itu kepada orang lain.

b)      Periwayat yang bersifat dhabit ialah mampu memahami dengan baik hadits yang dihafalnya itu.

Dalam studi hadits persoalan sanad dan matan merupakan dua unsur penting yang menentukan keberadaan dan kualitas suatu hadits sebagai sumber otoritas ajaran Nabi Muhammad SAW. Kedua unsur itu begitu penting artinya, dan antara yang satu dengan yang lain saling berkaitan erat, sehingga kekosongan salah satunya akan berpengaruh, dan bahkan merusak kualitas suatu hadits. Karenanya, seperti disebutkan, suatu berita yang tidak memiliki sanad tidak dapat disebut hadits, demikian sebaliknya matan, yang sangat memerlukan sanad. Tanpa adanya sanad, maka suatu matan tidak dapat dinyatakan sebagai berasal dari Rasulullah. Apabila ada suatu ungkapan yang oleh pihk-pihak tertentu dinyatakan sebagai hadits Nabi, padahal ungkapan itu sama sekali tidak memiliki sanad, maka menurut ulama hadits, ungkapan tersebut dinyatakan sebagai hadits palsu.

 

IV.            KESIMPULAN


[1]

[2]  Syuhudi ismail, kaedah kesahihan matan hadits (Jakarta: PT Bulan Bintang) hlm. 56

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s