DOSA – DOSA BESAR DAN TAUBAT

Standar

DOSA – DOSA BESAR DAN TAUBAT   

Makalah

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu

 Mata Kuliah : Hadist

Dosen Pengampu   :  Nadhifah, S.Th.I, M.Ag

 

 

 

Disusun Oleh  :

Amri Khan Al-Khadafi

(NIM.103111109)

 

 

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

 SEMARANG

2011

 

DOSA-DOSA BESAR DAN TAUBAT

      I.            PENDAHULUAN

Hadits merupakan sumber hukum kedua setelah al-Qur’an, sudah seharusnya kita mempelajarinya, sebagaimana fungsi hadits sebagaimana fungsi hadits sebagai penjelas al-Qur’an, dalam hadits memuat gejala penjelasan tentang suatu hal yang dirasa mujmal atau sulit dipahami
Dalam al-Qur’an telah dijelaskan berbagai macam dosa besar dan keharusan kita untuk bertaubat serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dosa besar merupakan sesuatu dosa yang dalam al-Qur’an sudah diancam hukuman yang sangat berat dan tidak mendapat ampunan dari Allah, sebagai muslim kewajiban kita adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sebagai wujud dari keimanan dan ketakwaan kita.

Untuk itu dalam pembahasan makalah ini kami akan menyajikan bahan diskusi yang berjudul :Dosa Besar dan Taubat, kami akan mencoba memaparkan apa itu dosa besar dan taubat, hadits tentang dosa besar, dan taubat.

   II.            RUMUSAN MASALAH

  1. Pengertian Dosa Besar dan Taubat
  2. Hadits Tentang  Dosa Besar
  3. Hadits Tentang Taubat
  4. III.            PEMBAHASAN
    1. Pengertian Dosa Besar dan Taubat

Dalam kamus bahasa indonesia kata dosa besar tu terdiri dari kdua kata yaitu: dosa dan besar. Dosa adalah perbuatan yang melenggar hukum tuhan atau agama.[1] Dan besar adalah lebih dari ukuran sedang(tinggi, luas, lebar, banyak, hebat, kuasa, mulia, dsb).[2] Tapi besar disini bila di hubungkan dengan kata dosa  maka berarti; dosa yang mengenai perkara yang besar(berat).Jadi dosa besar adalah perbuatan yang melenggar hukum tuhan atau agama yang berkaitan dengan perkara yang besar(berat).

Kata “taubat” yang sudah menjadi kosa kata bahasa Indonesia berasal dari kata bahasa arab. Didalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “taubat” mengandung dua pengertian. Pertama, taubat berarti sadar dan menyasali dosanya (perbuatan salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Kedua, kata taubat berarti kembali kepada agama (jalan) yang benar. “Bertaubat” berarti menyadari, menyesali, dan berniat hendak memperbaiki (perbuatan yang salah).

Dalam bahasa Arab kata Taubat, menurut bahasa berasal dari kata (Tâba- Yatûbu-Taubatan) yang artinya kembali. Orang yang kembali disebut Tâib dan yang kembalinya berulang-ulang dan terus-menerus disebut Tawwâb. Secara istilah taubat  berarti kembali kepada dengan melepaskansegala ikatan penyimpanganyang pernah dilakukan, kemudian bertekad untuk melaksanakan semua hak-hak allah swt.

Hakikat taubat adalah: Menyesal terhadap apa yang telah terjadi,meninggalkan perbuatan tersebut saat ini juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dimasa yang akan datang.

  1. Hadits Tentang  Dosa Besar

Dosa besar tidak bisa kita hapuskan hanya dengan berwudlu ataupun mengerjakan shalat. Karena itulah jika orang yang mengerjakan shalat dan menjalankan puasa namun masih melibatkan diri dalam perbuatan dosa besar, niscaya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa-dosanya, baik yang besar ataupun yang kecil. Nabi Muhammad SAW menyebutkan jumlah dosa besar itu berlainan jumlahnya tergantung pada waktu dan situasinya.oleh karenanya para ulama’ sepakat bahwa tidak ada angka atau jumlah pasti perihal macam dan banyaknya dosa-dosa besar.  Diantara hadits yang menerangkan tentang dosa-dosa besar:

1)      Hadits Anas tentang menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, dan saksi palsu.

عن أنس رضي الله عنه قال مثل النبي صلى الله عليه وسلم عن الكبائر قال الإشراك بالله و عقوق الوالدين و قتل النفس و شهادة الزور.(أخرجه البحارى في كتاب الشهادة).

 

Artinya : “Dari Anas r.a Nabi Muhammad ditanya dari dosa-dosa besar, Nabi Muhammad menjawab menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh orang dengan tidak benar dan saksi yang palsu”.[3]

 

Dari hadits diatas yang diriwayatkan oleh yang termauk dosa-dosa

besar yaitu :

  1. Syirik (menyekutukan) allah yaitu menyekutukan Allah baik mengenai dzat-Nya, sifat-Nya dengan sesuatu atau makhluk-Nya. syirik yang demikian oleh para ulama disebut syirik akbar (besar), perbuatan syirik ini mempunyai daya mengeluarkan seseorang dari golongan pemeluk agama dan mengekalkannya di neraka, karena dosanya tidak memperoleh ampunan dari Allah. Di samping syirik akbar disebut syirik ashghar (kecil) yaitu mengerjakan sesuatu amal bukan karena Allah, tetapi karena manusia, syirik ini tidak sampai mengeluarkan orang yang bersangkutan dari golongan agama.
  2. Durhaka kepada orang tua, yang dimaksud durhaka kepada orang tua adalah bermaksiat kepada kedua orang tua, namun jika seorang anak enggan melaksanakan perintah kedua orang tuanya supaya menyekutukan Allah ia tidak mendurhakai kedua orang tuanya, walaupun pada lahirnya ia bermaksiat, sebab perintah kedua orang tuanya adalah perintah yang bertentangan dengan syariat.
  3. Membunuh orang tanpa alasan yang dibenarkan. Allah menciptakan makhluk-Nya dengan segala hal dan kewajiban-Nya, termasuk hak untuk hidup, maka seseorang diharamkan untuk membunuh orang lain.
  4. Kesaksaksi palsu. Islam mengajarkan kepada kita agar selalu bersifat jujur, karena dengan kejujuran itulah hidup kita akan tenang dan tentram, tidak dikejar-kejar rasa takut. Sebuah kesaksian palsu dapat merugikan orang lain.

2 )  Hadits Abu Hurairah tentang tujuh  macam dosa besar.

عن أبي هريرة رضي الله عنه،عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (اجتنبوا السبع الموبقات). قالوا: يا رسول الله: وما هن؟ قال: (الشرك بالله، والسحر، وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق، وأكل الربا، وأكل مال اليتيم، والتولي يوم الزحف، وقذف المحصنات المؤمنات الغافلات).

 

Artinya : “Dari Abi Hurairah Nabi Muhammad bersabda jauhilah kamu sekalian tujuh perkara yang merusak. Sahabat bertanya wahai Rasulullah dan itu apa, rasul menjawab : “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang telah diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, memakan riba, makan harta bendanya anak yatim, berpaling pada hari pertempuran (lari), menyangka seorang perempuan mukmin berzina.”

 

 

Dari hadits diatas yang diriwayatkan oleh abi hurairah, yang termasuk

dosa-dosa besar yaitu :

  1. Syirik (menyekutukan) allah. Hadits diriwayatkan oleh ibnu mas’ud

الرقى والتمائم والتوالة شرك (احمد و ابوداود)

Artinya : “sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan tiwalah itu adalah termasuk syirik”(HR. Ahmad dan Abu dawud).

 

Yang dimaksud dengan ruqoyah ialah memohon kekuatan kepada kekuatan alam. Sedang yang dimaksud dengan tamaim ialah benda-benda tertentu yang dipercyakan dapat menolak diri dari gangguan makhluk halus. Dan tiwalah ialah sejenis sihir yang dipergunakan untuk merubah seseorang perempuan sehingga dapat tergila-gila cintanya kepada seorang laki-laki. Jadi semua alat dan perbuatan yang ddiyakini mempunyai pengaruh kekuatan diluar kekuatan allah adalah termasuk syirik.[4]

  1. Sihir. Yang dimaksud sihir disini ialah suatu tata cara yang bertujuan untuk merusak rumahtangga orang lain atau menghancurkan manusioa dengan jalan minta bantuan syetan.[5]
  2. Membunuh orang yang telah diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak. Membunuh orang karena menghilangkan hak seseorang untuk hidup kecuali jika kita membunuh dengan suatu alasan yang dibenarkan oleh syariat agama islam.
  3. Memakan riba. seseorang yang memakan riba ia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya sekaligus merugikan orang lain.
  4. Makan harta bendanya anak yatim. Memakan harta anak yatim termasuk perbuatan yang dilaknat oleh Allah. Perbuatan memakan harta anak yatim biasanya juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Yang saya maksudkan disini ialah oleh pihak wali dan penanggung jawab, karena disamping dia yang dipercaya, juga karena tidak ada pihak lain yang menjadi lawannya selain anak yatim itu sendiri. Sementara si anak masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan.
  5. Berpaling pada hari pertempuran (lari). Lari pada waktu perang ini termasuk dosa besar karena dia orang yang laknat oleh allah nantinya.
  6. Menyangka seorang perempuan mukmin berzina. Menuduh orang wanita mukmin yang berzina tanpa bukti yang dibenarkan maka itu termasuk dosa besar.

3)  Hadits dari Abu Bakrah r.a.

عن ابي بكرة رضي الله عنه قال : قال النبي ص.م. (الا انبئكم باكبر الكبائر ؟ ) ثلاثا، قالوا : بلى يارسولالله، قال : (الأشراك بالله، وعقوق الوالدين- وجلس متكئا، فقال- الا وقول الزور). قال : فما زال يكررها حتى قلنا : ليته سكت، [رواه البخاري]

 

Artinya : “diriwayatkan dari abu bakrah r.a., dia berkata : nabi saw, pernah bertanya, (sudikah kalian aku beritahu dosa yang paling besar diantara sekalian dosa besar ?) beliau mengulanginya tiga kali. Para sahabat menjawab, (tentu ya rosulullah). Beliau bersabda, (pertama, Menyekutukan allah. kedua, Durhaka kepada orang tua, Rosulullah yang semula bersandar kemudian duduk tegak, lalu melanjutkan sabdanya, hati-hati, yang ketiga adalah ucapan atau kesaksian dusta”. Kata abu bakrah : rosulullah terus mengulang-mengulangnya sehingga kami berharap beliau tidak mengulanginya lagi”.[6]

 

4)  Hadits diriwayatkan oleh  asy-syaikhan, ahmad dan tiga orang (ahli hadits) dari Abdullah bin Mas’ud

 

اعظم الذنب عند الله ان تجعل لله ندا وهو خلقك ثم ان تقتل ولدك مخافة ان يطعم معك ثم ان تزاني حليلة جارك

Artinya : “dosa yang sebesar-besarnya disi allah ialah engkau jadikan ada tandingan bagi allah padahal dialah yang menciptakanmu. Kemudian engkau membunuh anakmu sendiri karena takut ia akan makan bersama engkau. Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu”.[7]

  1. Hadits Tentang Taubat

Ketahuilah bahwa tobat merupakan salah satu tahapan yang sulit dan juga penting. Tobat adalah kembali dari alam materi ke alam ruhani, setelah terbutakannya cahaya fitrah dan ruhani tersebut  oleh gelapnya hawa nafsu karena dosa-dosa dan kedurhakaan jelasnya ruhani pada mulanya tidak memiliki keunggulan, keindahan, cahaya, atau kesenangan. Jiwa juga pada mulanya terbebas dari berbagai sifat seperti kehinaan, keburukan, kegelapan, atau kedukaan serta sifat-sifat yang berlawanan denganya. Jiwa manusia dapat diibaratkan seperti lembaran kosong yang belum ada tulisanya sama sekali. Ia tidak memiliki kebaikan spiritual ataupun keburukan. Hanya jiwa ini sudah dilengkapi oleh suatu kesiapan serta kelayakan untuk memperoleh kedudukan tinggi atau rendah. Fitrahnya tumbuh berkembang dalam keadaan lurus, dan asal usul penciptaanya mengandung kilauan hakiki.

Ketika manusia melakukan suatu perbuatan buruk, secara otomatis sebuah titik hitam mewarnai hatinya. semakin ia melakukan perbuatan dosa, semakin meningkat pula jumlah kadar hitam dan kegelapan pada hatinya, hinga titik hitam dan kegelapan itu menyelimuti hatinya seluruhnya, hingga hati benar-benar gelap gulita. Cahaya fitrah pun menjadi padam dan berubah sampai pada suatu kesengsaraan yang abadi. Namun, apabilamanusia sadar akan apa yang dialaminya itusebelum terjadinya kegelapan total yang menyelimuti totalitas hatinya, kemudian ia bangkit dari kelalaianya, disertai dengan langkah menuju tobat, sambil melengkapi syarat-syarat terkabulnya tobat tersebut- yang khusus akan kami jelaskan permasalahan ini pada bagian yang akan datang –maka kegelapan yang menyelimuti hatinya serta merta akan menjadi hilang dan kembali keadaan semula. Seakan-akan keadaanya berbalik seketika menjadi lembaran-lembaran yang kosong dari kebaikan dan keburukan, seperti dalam hadits :

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

Artinya:” orang brtaubat dari dosa seperti orang yang tidak pernah berbuat dosa”.

 

Para ulama’ berkata bahwa bertaubat dari segala dosa hukumnya wajib. Jika kemaksiatan itu dilakukan seorang hamba kerada allah yang tidak ada kaitanyya dengan hak manusia, maka taubat didalam nya mempunyai tiga syarat: pertama, meninggalkan kemaksiatan itu. Kedua, menyesali perbuatannya. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi selama lamanya. Jika salah satu dari ketiga syarat ini tidak terpenuhi maka taubatnya tidak sah.[8]

Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak adam  (manusia), maka syaratnya ada empat : yang tiga sama dengan diatas dan ditambah menunaikan hak saudaranya. Misalnya jika hak itu berupa harta dan sebagainya maka dia harus mengembalikannya. Diantara hadits-hadits yang membicarakan tentang taubat :

1)      Hadits Abi Bardah tentang beristighfar 100 kali sehari.

عن أبي بردة عن رجل من المهاجرين يقول سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقزل ياأيها الناس تويوا إلى الله واستغفروه فإني أتوب إلى الله و أستغفروه في كل يوم مائة مرة أو أكثر من مائة مرة.(رواه أحمد في مسند الكوفيين)

Artinya : “Dari Abi Burdah dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat Muhajirin beliau mengatakan kami telah mendengar Nabi Muhammad bersabda “Wahai ingatlah manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah pengampunan kami sekalian kepada-Nya, maka sesungguhnya kami bertaubat kepada Allah dan kami mohon pengampunan kepada-Nya pada tiap hari 100 kali atau lebih”.

Manusia adalah insan yang tempatnya salah dan lupa, banyak kesalahan yang kita lakukan, baik secara sengaja maupun tidak, kita sadari atau tidak. Sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah segera minta maaf, oleh sebab itu menurut hadits di atas kita dianjurkan untuk beristighfar 100 kali atau lebih.

2)      Hadits Abi Hurairah tentang Allah gembira terhadap hamba-Nya yang bertaubat.

عن أبي هريرة،عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ أنه قال “قال الله عز وجل: أنا عند ظن عبدي بي. وأنا معه حيث ذكرني. والله! لله أفرح بتوبة عبده من أحدكم يجد ضالته بالفلاة. ومن تقرب إلي شبرا، تقربت إليه ذراعا. ومن تقرب إلي ذراعا، تقربت إليه باعا. وإذا أقبل إلي يمشي، أقبلت إليه أهرول”.(أخرجه مسلم في كتاب التوبة)

Artinya : “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika ia ingat kepadaKu. Demi Allah, sungguh Allah lebih suka kepada taubat hambaNya dari pada salah seorang di antaramu yang menemukan barangnya yang hilang di padang. Barangsiapa vang mendekatkan diri kepadaKu sejengkal maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta. Dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu sehasta, maka Aku mendekatkan diri kepadanya satu depa. Apabila ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari kecil ”.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At -Tahrim: 8)

Taubat nashuha ialah kembalinya seorang hamba kepada Allah Ta’ala, tiada sekutu bagi-NYA dari dosa yang pernah dia lakukan baik karena sengaja atau lupa dengan kembali secara benar, ikhlas, percaya, dan berhukum dengan ketaatan yang akan menghantarkan hamba tersebut kepada kedudukan para wali Allah yang bertaqwa serta menjauhkan antara dia dengan jalan-jalan syaitan.

Di antara hal yang memperkuat akan wajibnya taubat nashuha untuk dilakukan secara berkelanjutan dan secepat mungkin adalah bahwa manusia manapun tidak akan pernah lepas dan tidak akan selamat dari kekurangan, namun setiap makhluk bertingkat-tingkat dalam kekurangan tersebut sesuai dengan takdirnya masing-masing, bahkan pada dasarnya mereka pasti memiliki kekurangan. Sehingga hal tersebut harus ditutupi dengan taubat nashuha. Allah SWT telah menganjurkan untuk melakukan taubat dan beristighfar, karena hal itu lebih baik daripada gemar melakukan dosa secara terus-menerus.

3)      Hadits dari Anas r.a. tentang orang yang taubat.

عن انس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلعم. : “كل بني ادم خطاء وخير الخطائين التوابون”(اخرجه الترمذى وابن ماجه وسنده قوي).

Artinya : Bersumber dari Anas r.a. ia berkata, bahwa rosulullah SAW. Bersabda, “setiap anak cucuadam itu pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang barsalah ialah orang yang banyak bertaubat”
(HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah sanadnya kuat)[9]

Perintah bertaubat berulang-ulang disebutkan didalam beberapa ayat Alquran. Perintah yang hukumnya wajib ain, bukan wajib kifayah, apalagi sunnah.  Artinya, setiap manusia di dunia ini tanpa kecuali harus melaksanakan taubat.  Baik laki atau perempuan, kaya atau miskin, tua atau muda. Orang  sibuk atau tidak sibuk, faham ilmu agama atau tidak, semuanya tanpa terkecuali harus mau bertaubat.  Hal ini juga tidak boleh ditunda-tunda, tidak boleh ditawar-tawar, apalagi diwakilkan. Karena kesempatan taubat hanya di dunia sementara datangnya maut tidak bisa disangka-sangka, karena seseorang yang taubatnya terlambat tidak akan diterima taubatnya. Seperti dalam hadits :

عن عبد الله بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الله عز و جل ليقبل توبة العبد ما لم يغرغر.(أخرجه إبن ماجه في كتاب الزهد).

Artinya : “Dari Abdullah bin umar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan”.

 

Dalam bertaubat, ada tiga tahapan atau tingkatan., tahap pertama yaitu berpaling dari dosa karena takut kepada Allah SWT. Tahapan seperti ini merupakan tahapan orang mukmin biasa. Kedua yaitu inabat, yaitu taubat karena ingin mendapat balasan atau pahala dari Allah SWT, Inabat merupakan tahapan para wali dan yang diridhai Allah SWT. Ketiga yaitu aubat, aubat adalah taubat karena mematuhi perintah allah SWT, bukan karena menginginkan pahala atau takut kepada Allah SWT. Aubat merupakan tahapan para nabi dan rasul.

Untuk benar-benar bertaubat, manusia harus berupaya merenung, bertafakur dan beramal serta menyadari bahwa menjadi orang yang dicintai allah itu merupakan sesuatu yang tidak terhingga harga dan nilainya. Hanya allahlah yang tahu kegemilangan spiritual dan kesempurnaan sang hamba, dan apa yang akan menjadi bentuk akhirati dari kecintaan-Nya itu.  Dan hanya allah yang tahu bagaimana perlakuan-Nya  terhadap orang-orang yang dicintai-Nya ini.[10]

Tobat diharuskan pada setiap melakukan dosa. Maka tobat itu dari semua dosa besar dan dosa kecil. Ada yang mengatakan bahwa tidak ada dosa kecil kalau dilakukam terus menerus, dan tidak ada dosa besar bersam istighfar. Jika engkau mengetahui hal itu maka pahamilah bahwa jika hak orang lain yang berkaitan dengannya, maka tidak sah tobatnya kecuali dengan menyerahkan urusan itu kepada, seperti qishas, kedzoliman, berbagai macam denda dan hukuman karena melakukan tuduhan palsu.[11]

  1. IV.            SIMPULAN

Hakikat taubat adalah: Menyesal terhadap apa yang telah terjadi,meninggalkan perbuatan tersebut saat ini juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dimasa yang akan datang.

Dosa adalah perbuatan yang melenggar hukum tuhan atau agama. Dan besar adalah lebih dari ukuran sedang(tinggi, luas, lebar, banyak, hebat, kuasa, mulia, dsb). Tapi besar disini bila di hubungkan dengan kata dosa  maka berarti; dosa yang mengenai perkara yang besar (berat). Jadi dosa besar adalah perbuatan yang melenggar hukum tuhan atau agama yang berkaitan dengan perkara yang besar(berat).

Dalam bahasa Arab kata Taubat, menurut bahasa berasal dari kata (Tâba- Yatûbu-Taubatan) yang artinya kembali. Orang yang kembali disebut Tâib dan yang kembalinya berulang-ulang dan terus-menerus disebut Tawwâb. Secara istilah taubat  berarti kembali kepada dengan melepaskan segala ikatan penyimpanganyang pernah dilakukan, kemudian bertekad untuk melaksanakan semua hak-hak allah swt.

Para ulama’ berkata bahwa bertaubat dari segala dosa hukumnya wajib. Jika kemaksiatan itu dilakukan seorang hamba kerada allah yang tidak ada kaitanyya dengan hak manusia, maka taubat didalam nya mempunyai tiga syarat: pertama, meninggalkan kemaksiatan itu. Kedua, menyesali perbuatannya. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi selama lamanya. Jika salah satu dari ketiga syarat ini tidak terpenuhi maka taubatnya tidak sah.

Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak adam  (manusia), maka syaratnya ada empat : yang tiga sama dengan diatas dan ditambah menunaikan hak saudaranya. Misalnya jika hak itu berupa harta dan sebagainya maka dia harus mengembalikannya.

   V.            PENUTUP

Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayat, serta inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini, semoga uraian-uraian yang kami sampaikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri dan para pembaca.

Kami menyadari makalah ini masih kurang sempurna, maka dari itukritik dan saran yang konstruktif sangat membantu dalam kesempurnaan makalah ini. Kami berdo’a  kepada Allah semoga Allah meridhoi makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                               DAFTAR PUSTAKA

                                                                    

 

Abdul Latif Az-zabidi, Al-Imam Zainudin Ahmad bin, Ringkasan Hadits Sahih Bukhari, diterjemahkan oleh achmad Zaidun dari  Mukhtashar Sahih Al-Bukhari, (Jakarta : Pustaka Amani, 2002), cet,1

 

Ad-Damsyiqi, Ibnu Hamzah Alhusaini Alhanafi, Asbabul Wurud 1 : Latar Belakang Historis Timbulnya Hadits-Hadits Rosul, diterjemahkan oleh M. Suwarta Wijaya dan Zafrullah Salim dari Albayanu wa Alta’rif fi Asbab Alwurud Alhadits Asy-syarif, (Jakarta : Kalam Mulia, 2008), cet.10

 

Adz-Dzahabi, Syamsudin,75 Dosa besar, disadur oleh M. Ladzi Syafoni dari Al-akbar, (Surabaya : Media Idaman, 1987), cet. 1

 

Al-Asqalani, Ibnu Hajar, Terjemah Lengkap Bulughul Maram, diterjemahkan oleh Abdul Rosyad Siddiq dari Bulughul Maram Min Adillat Al-Ahkam, (Jakarta : Akbar Media Eka Sarana, 2009), cet. 2

 

Al-Ghozali, Mutiara Ihya’ Ulumuddin : Ringkasan Yang Ditulis Sendiri Oleh Hujjatul Islam, diterjemahkan oleh Irwan Kurniawan dari Mukhtashor Ihya’ Ulumuddin,( Bandung : PT Mihzan Pustaka, 2008), cet.1

 

Al-Khomeini, Al-Musawi, 40 Hadis: Telaah Atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak (edisi revisi), diterjemahkan oleh Musa Kazhim dari Syarh Al-arba’in Haditsan, ,(Bandung:PT. Mizan Pustaka, 2004), cet.1

 

Al-Utsaimin Muhammad,Syarah Riyadhu Ash-Shalihin (Jilid 1), diterjemahkan oleh Munirul Abidin dari Syarah Riyadhus Shalihin (Jilid 1), , (Jakarta: PT. Darul Falah, 2006), cet. 2

 

Asy’ari, A. Hasan  Ulama’i, Hadis-hadis Pendidikan Mental Islami, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2008)

 

Purwadarmanto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), cet. XVI


[1]Purwadarmanto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), cet. XVI, hlm. 258

[2] Ibid, hlm.130-131

[3] A. Hasan Asy’ari Ulama’i, Hadis-hadis Pendidikan Mental Islami, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo,2008),hlm. 118

[4] Syamsudin Adz-Dzahabi,75 Dosa besar, disadur oleh M. Ladzi Syafoni dari Al-akbar, (Surabaya : Media Idaman, 1987), cet. 1, hlm. 29-30

[5] Syamsudin Azd-Dzahabi, Ibid, hlm. 27

[6] Al-imam Zainudin Ahmad bin Abdul Latif Az-zabidi, Ringkasan Hadits Sahih Bukhari, diterjemahkan oleh achmad Zaidun dari  Mukhtashar Sahih Al-Bukhari, (Jakarta : Pustaka Amani, 2002), cet,1, hlm. 543

[7] Ibnu Hamzah Alhusaini Alhanafi Ad-Damsyiqi, Asbabul Wurud 1 : Latar Belakang Historis Timbulnya Hadits-Hadits Rosul, diterjemahkan oleh M. Suwarta Wijaya dan Zafrullah Salim dari Albayanu wa Alta’rif fi Asbab Alwurud Alhadits Asy-syarif, (Jakarta : Kalam Mulia, 2008), cet.10, hlm. 219

[8] Muhammad Al-Utsaimin ,Syarah Riyadhu Ash-Shalihin (Jilid 1), diterjemahkan oleh Munirul Abidin dari Syarah Riyadhus Shalihin (Jilid 1), , (Jakarta: PT. Darul Falah, 2006), cet. 2, hlm. 61

[9] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Terjemah Lengkap Bulughul Maram, diterjemahkan oleh Abdul Rosyad Siddiq dari Bulughul Maram min Adillat Al-Ahkam, (Jakarta : Akbar Media Eka Sarana, 2009), cet. 2, hlm. 680

[10]Al-Musawi Alkhomeini, 40 Hadis: Telaah Atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak (edisi revisi), diterjemahkan oleh Musa Kazhim dari Syarh Al-arba’in Haditsan, ,(Bandung:PT. Mizan Pustaka, 2004), cet. 1, hlm.333

[11] Al- Ghozali, Mutiara Ihya’ Ulumuddin : Ringkasan Yang Ditulis Sendiri Oleh Hujjatul Islam, diterjemahkan oleh Irwan Kurniawan dari Mukhtashor Ihya’ Ulumuddin,( Bandung : PT Mihzan Pustaka, 2008), cet. 1, hlm. 328-329

 

 

About these ads

One response »

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s