PENDIRIAN DAN PERKEMBANGAN PESANTREN

Standar

PENDIRIAN DAN PERKEMBANGAN PESANTREN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: H. Ruswan, M.A

Disusun oleh:
Siti Thoifah (103111096)
Susi Iffatur Rosyidah (103111098)
Syafikur Rohman (103111099)
Taat Rifani (103111100)
Malikhah (103111123)
Novita Nur ‘Inayah (103111130)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
PENDIRIAN DAN PERKEMBANGAN PESANTREN

I. PENDAHULUAN
Pesantren sebagai lembaga yang mengiringi dakwah islamiyah di indonesia memiliki presepsi plural. Pesantren bisa dipandang sebagai lembaga spiritual lembaga pembinaan moral, lembaga dakwah, dan paling poluler adalah sebagai institusi pendidikan islam yang mengalami konjungtur dan romantika kehidupan dalam menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal.
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren telah eksisi ditengah masyarakat selama enam abad dan sejak awal berdirinya menawarka pendidikan kepada mereka yang masih buta huruf. Oleh sebab itu dalam makalh kami ini akan sedikit banyak membahas tentang sejarah pendirian sampai periode pengembangan pesantren yang notabennya sebagai lembaga pendidikan Islam yang digadang gadang.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Sejarah Pendirian Pesantren?
B. Bagaimana Perkembangan Pesantren?
C. Bagaimana Sistem dan Kurikulum Pesantren?
D. Bagaimana Model-Model Pesantren?

III. PEMBAHASAN
A. Sejarah Pendirian Pesantren
Menurut asal katanya pesantren berasal dari kata santri yang mendapat imbuhan awalan pe dan akhiran an yang menunjukkan tempat. Dengan demikian pesantren artinya tempat para santri. Sedangkan menurut SudjokoPrasodjo, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara non klasikal, dimana seorang kyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut. Dengan demikian pesantren adalah suatu lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang biasanya seorang santri belajar kitab-kitab berbahasa Arab yang ditulis dan sekaligus menjadi tempat tinggal para santri.
Secara terminologis dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah digunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa. Setelah Islam masuk dan tersebar di Jawa, sistem tersebut kemudian diambil oleh Islam. Istilah pesantren tersebut seperti halnya mengaji bukanlah berasal dari istilah Arab, melainkan dari India.
Disamping berdasarkan alasan terminologi, persamaan bentuk antara pendidikan Hindu di India dan pesantren dapat dianggap sebagai petunjuk untuk menjelaskan asal usul sistem pendidikan pesantren. Soegarda Poerbakawatja misalnya, menyebut persamaan itu dalam penyerahan tanah oleh negara bagi kepentingan agama yang terdapat dalam tradisi Hindu. Selanjutnya dia melihat beberapa unsur yang dapat diketemukan baik dalam sistem pendidikan Hindu maupun pesantren di Indonesia yang tidak dijumpai dalam sistem pendidikan Islam yang asli di Makkah. Unsur tersebut anatara lain, seluruh sistem pendidikannya bersifat agama, guru tidak mendapatkan gaji, penghormatan yang besar terhadap guru dan para murid yang pergi meminta-minta ke luar lingkungan pondok.
Namun pendapat-pendapat diatas yang mengatakan bahwa sistem pendidikan pesantren berasal dari Hindu dan bukan dari Islam, ternyata kurang tepat. Sebab sistem tersebut dapat diketemukan dalam dunia Islam. Begitu pula kebiasaan para santri yang sering mengadakan perjalanan yang ditemukan pada masa pra Islam di Jawa, ternyata dapat ditemukan juga ditradisi Islam. Mahmud Junus mengatakan bahwa asal usul pendidikan yang dipergunakan dalam pesantren ternyata dapat ditemukan di Baghdad ketika menjadi pusat dan ibukota wilayah Islam. Begitu pula tradisi menyerahkan tanah oleh negara bagi pendidikan agama, dapat ditemukan dalam sistem wakaf. Kemudian mengenai istilahnya pondok atau nama lain pesantren berasal dari bahasa Arab, funduk yang berarti pesanggrahan atau penginapan bagi orang yang bepergian. Perbedaan akan asal usul sejarah pesantren, tentunya tidak perlu terlalu diperdebatkan. Yang terpenting, di era saat ini, pengembangan pesantren lah yang harus menjadi fokus utama untuk mengembangkan pendidikan Agama di pesantren.

B. Perkembangan Pesantren
Terlepas dari perbedaan asal-usul asal istilah nama pesantren, istilah pesantren dalam pembahasan ini adalah sebuah lembaga pendidikan dan pengembangan agama Islam. Sedangkan pengembangan Islam di Indonesia (khususnya di Jawa) di mulai pada masa Walisongo, maka pesantren mulai berdiri dan berkembang pada masa Walisongo.
Dalam taraf perkemangannya, pesantren kali in tidak hanyamengembangkan yang dilevel keagamaan saja. Bidang kajiang yang ditawarkan oleh lembaga pesantren sekarang semakin bertambah dalam rangka mendorong kemampuan kapasita diri pribadi santri itu sendiri. Diantaranya kajian tentang ilmu pengetahuan u,um, mulai dari ekonomi, sosial maupun politik.

C. Unsur-Unsur dan Sistem Kurikulum Pesantren
Menurut historisnya, pesantren sudah tumbuh sejak ratusan tahun yang lalu dan telah mengalami dinamika dari yang tradisional maupun yang modern. Sebagai lembaga pendidikan Islam pesantran mempunyai unsur-unsur yang mempunyai ciri khas tersendiri. Unsur-unsur tersebut juga menjadi sesuatu yang harus ada dari lembaga pendidikan Islam ini. Berikut adalah unsur-unsur pesantren :
1. Kyai
2. Santri
3. Masjid
4. Pondok
5. Pengajaran kitab-kitab klasik.
Kelima unsur tersebut mempunyai ciri khusus yang dimilki pesantren dan membedakan pendidikan pondok pesantren dengan lembaga pendidikan yang lainya. Sekalipun kelima elemen ini saling menunjang eksistensi sebuah pesantren, tetapi kyai memainkan peranan yang begitu sentral dalam dunia pesantren.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, maka dapat kita ketahui bahwa tradisi yang ada pada waktu itu, pengajaran yang diberikan kepada para santri hanyalah ilmu-ilmu agama, walaupun sebenarnya Islam juga mengakui adanya ilmu-ilmu umum. Namun tampaknya tradisi untuk sekedar mengajarkan ilmu-ilmu agam Islam hingga sekarang masih diwarisi dan dilestarikan oleh kalangan tertentu khususnya pesantren tradisional. Pengajaran keislaman ini ditempuh karena disesuaikan dengan tingkat kemampuan santri. Mereka awalnya dikenalkan dengan materi pengajaran yang paling dasar. Hal itu sesuai dengan kepentingan mereka yaitu hal-hal praktif dalam kehidupan keagamaan Islam sehari-hari.
Dari sekedar materi yang bersifat doktrinal (dasar) menjadi lebih interpretatif kendati masih sangat terbatas. Mahmud Yunus mencatat, “ilmu-ilmu yang mula-mula diajarkan di pesantren ialah nahwu dan sharaf, kemudian ilmu fikih, tafsir, tauhid, hingga pada ilmu tasawuf dan sebagainya.

D. Model-Model Pesantren
Kategori pesantren bisa diteropong dari berbagai perspektif, diantaranya adalah segi rangkaian kurikulum, tingkat kemajuan dan kemodernan, keterbukaan terhadap perubahan, sudut system pendidikannya. Dari segi kurikulum, Arifin menggolongkannya menjadi pesantren modern, pesantren tahassus, dan pesantren campuran. Dipandang dari kemajuan berdasarkan muatan kurikulumnya, Martin Van Bruinessen mengelompokkan pesantren menjadi pesantren paling sederhana yang hanya mengajarkan cara membaca huruf Arab dan menghafal beberapa bagian atau seluruh Al-Qur’an. Pesantren sedang, mengajarkan berbagai kitab fiqh, ilmu aqidah, tata bahasa Arab, terkadang amalan sufi. Dan pesantren paling maju, mengajarkan kitab-kitab fiqh, qaidah, tasawuf yang lebih mendalam dan beberapa mata pelajaran tradisional lainnya.
Meskipun banyak pendapat terkait kategori pesantren, namun secara umum pesantren dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Pesantren Salaf
Menurut Zamakhsyari Dhofiar, pesantren salaf adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik atau salaf sebagai inti pendidikan. Sedangkan system madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan system sorogan yang dipakai dalam lembaga-lebaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum.
Sistem pengajaran pesantren salaf memang lebih sering menerapkan model sorogan dan weton. Istilah weton berasal dari bahasa Jawa yang berarti waktu. Disebut demikian karena pengajian model ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu, biasanya sesudah mengerjakan sholat fardhu.
Sistem weton atau yang juga dikenal dengan istilah bendongan adalah model pengajian yang dilakukan seperti kuliah terbuka yang diikuti oleh sekelompok santri sejumlah 100-500 orang atau lebih. Sang kiai membaca, menerjemahkan, menerangkan, dan sekaligus mengulas kitab-kitab salaf berbahasa Arab yang menjadi acuannya. Sedangkan para santri mendengarkan dan memperhatikan kitabnya sambil menulis arti dan keterangan tentang kata-kata atau pemikiran yang sukar.
Termasuk dalam kelompok sistem bendongan atau weton ini adalah halaqah, yaitu model pengajian yang umumnya dilakukan dengan cara mengitari gurunya. Para santri duduk melingkar untuk mempelajari atau mendiskusikan suatu masalah tertentu dibawah bimbingan seorang guru.
Sedangkan pada sistem sorogan, para santri maju satu persatu untuk membaca dan menguraikan isi kitab dihadapan seorang guru atau kiai. Sistem ini amat bagus untuk mempercepat sekaligus mengevaluasi penguasaan santri terhadap kandungan kitab yang dikaji. Akan tetapi sistem ini membutuhkan kesabaran, ketekunan, keta’atan, dan kedisiplinan yang tinggi dari para santri. Model ini biasanya hanya diberikan kepada santri pemula yang memang masih membutuhkan bimbingan khsus secara intensif. Pada umumnya pesantren lebih banyak menggunakan model weton karena lebih cepat dan praktis untuk mengajar banyak santri.
2. Pesantren Khalaf/ Modern
Pesantren Khalaf adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan, atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti SMP, SMU, dan bahkan perguruan tinggi dalam lingkungannya.
Akan tetapi, tidak berarti pesantren khalaf meninggalkan sistem salaf. Ternyata hampir semua pesantren modern meskipun telah menyelenggarakan sekolah-sekolah umum tetap menggunakan sistem salaf dipondoknya misalnya, pondok pesantren “Bahrul Ulum”, tambak beras. Pesantren ini menyelenggarakan pendidikan formal yakni dari Madrasah Al-Qur’an hingga Muallimin-muallimat, dan dari SMP hingga Universal Bahrul Ulum. Akan tetapi di lingkungan pondoknya masih menerapkan sistem salaf. Setiap selesai menunaikan Shalat Wajib, para santri menela’ah kitab Nihayatuz-Zain, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Fathul Wahhab, Fathul Mu’in, Tafsir Munir, dan lain sebagainya dengan sistem weton atau sorogan.
Jika dibandingkan dengan pesantren Salaf, pesantren khalaf mengantongi satu nilai plus karena lebih lengkap materi pendidikannya, yang meliputi pendidikan Agama dan Umum. Para santri pesantren khalaf diharapkan lebih mampu memahami aspek-aspek keagamaan dan keduniaan agar dapat menyesuaikan diri secara lebih baik dengan kehidupan modern dari pada alumni pesantren salaf.

IV. KESIMPULAN
Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara non klasikal, dimana seorang kyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.
Istilah pesantren dalam pembahasan ini adalah sebuah lembaga pendidikan dan pengembangan agama Islam. Sedangkan pengembangan Islam di Indonesia (khususnya di Jawa) di mulai pada masa Walisongo, maka pesantren mulai berdiri dan berkembang pada masa Walisongo.
Sebagai lembaga pendidikan Islam pesantran mempunyai unsur-unsur yang mempunyai ciri khas tersendiri. Unsur-unsur tersebut juga menjadi sesuatu yang harus ada dari lembaga pendidikan Islam ini. Berikut adalah unsur-unsur pesantren :
1. Kyai
2. Santri
3. Masjid
4. Pondok
5. Pengajaran kitab-kitab klasik
Kelima unsur tersebut mempunyai ciri khusus yang dimilki pesantren dan membedakan pendidikan pondok pesantren dengan lembaga pendidikan yang lainya. Sekalipun kelima elemen ini saling menunjang eksistensi sebuah pesantren, tetapi kyai memainkan peranan yang begitu sentral dalam dunia pesantren.
Secara umum pesantren dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Pesantren Salaf
Pesantren salaf adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik atau salaf sebagai inti pendidikan.
2. Pesantren Khalaf/ Modern
Pesantren Khalaf adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan, atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti SMP, SMU, dan bahkan perguruan tinggi dalam lingkungannya.

V. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat saya buat. Saya menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah pada khususnya. Amin.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s