TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Standar

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Mahfudz Junaidi, M. Ag

Disusun oleh :

Asep Saepul Amri
103111109

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

I. PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang dilengkapi dengan pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan bagi pengemban tugas dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan Islam mengacu pada Al-Tarbiyah, meskipun kata ini memiliki banyak arti tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestariannya. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa Allah adalah Rabbal ‘Alamin dan Rabbi tersebut nas artinya pendidik semesta alam serta pendidik bagi manusia dengan demikian menurut Al-Qur’an alam dan manusia mempunyai sifat tumbuh dan berkembang. Jadi mendidik dan pendidik pada hakikatnya adalah fungsi Tuhan dan mengapa dalam kenyataan pendidikan dan mendidik menjadi urusan manusia, dalam pandangan Filsafat Islam manusia adalah khalifah Allah di alam semesta ini Khalifah berarti kuasa atau wakil Allah dimuka bumi.
Pendidikan merupakan upaya yang mempunyai sasaran manusia, yang
keberhasilannya sangat ditentukan oleh sejauh mana upaya tersebut bersedia dan mampu memperhitungkan aspek-aspek intern, yang terdapat pada diri manusia. Manusia sebagai makhluk yang secara potensial dikaruniai kemampuan untuk menyempurnakan diri dengan akal dan imajinasinya sanggup untuk menerobos hari-hari ke depannya dengan membuat gambaran tentangsesuatu yang baik, indah, sempurna sebagai tujuan hidupnya. Manusia memiliki potensi fisik dan kerohanian berupa kemampuan cipta, rasa dan karya yang ingin dikembangkannya. dengan sempurna (aspekpsikologis). Manusia sadar bahwa martabat kemanusiaannya hanya dibina dan dikembangkan di dalam dan bersama sesamanya. Dengan kata lain, manusia sadar bahwa pengabdian berupa keharusan bersama dengan sesamanya dapat menjamin kelestarian hidupnya.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Tujuan Pendidikan Nasional ?
B. Bagaimana Tujuan Pendidikan Islam ?
C. Bagaimana Tujuan Pendidikan Nasional Ditinjau Dari Perspektif Filsafat Pendidikan Islam ?

III. PEMBAHASAN
A. Tujuan Pendidikan Nasional
Berkaitan dengan tujuan pendidikan, Plato sangat menekankan pendidikan untuk mewujudkan negara idealnya. Ia mengatakan bahwa tugas pendidikan adalah membebaskan dan memperbaharui; lepas dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Aristoteles mempunyai tujuan pendidikan yang mirip dengan Plato, tetapi ia mengaitkannya dengan tujuan negara. Ia mengatakan bahwa tujuan pendidikan haruslah sama dengan tujuan akhir dari pembentukan negara yang harus sama pula dengan sasaran utama pembuatan dan penyusunan hukum serta harus pula sama dengan tujuan utama konstitusi, yaitu kehidupan yang baik dan yang berbahagia (eudaimonia).
Dalam penjabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Bila dibandingkan dengan undang-undang pendidikan sebelumnya, yaitu Undang-Undang No. 2/1989, ada kemiripan kecuali berbeda dalam pengungkapan. Didalam pasal 4 ditulis, “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi-pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung-jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pada Pasal 15, Undang-undang yang sama, tertulis, “Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.
Bila dipelajari, secara konseptual tujuan pendidikan nasional masih sesuai dengan substansi Pancasila, yaitu menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
Adapun Tujuan pendidikan secara umum dapat dilihat sebagai berikut:
1. Tujuan pendidikan terdapat dalam UU No2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
2. Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.
3. TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.

B. Tujuan Pendidikan Islam
Manusia ialah mahluk Allah yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik, Sehingga mampu menjadi kholifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitrah Allah berupa bentuk yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk yang mulia, pikiran, perasaan dan kemampuannya berbuat merupakan komponen dari fitrah itu. Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan mahluk yang lain dan membuat manusia itu istimewa dan lebih mulia daripada makhluk yang lain.
Pendidikan adalah proses yang bertumpu pada tujuan. Pendidikan yang dimaksud adalah usaha untuk melestarikan dan mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspek dan jenisnya kepada generasi penerus. Jadi pendidikan Islam itu tidak hanya memperhatikan satu aspek saja, tetapi segala aspek yang ada, meliputi aspek jasmani, rohani dan aspek akal pikiran serta aspek akhlaq. Oleh karena itu setiap proses pendidikan yang akan dilaksanakan harus memperhatikan beberapa hal.
Harapan tercapainya sebuah keberhasilan dalam suatu aktifitas pendidikan Islam dalam mencapai tujuan yang dirumuskan, banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: faktor tujuan, faktor pendidik, faktor anak didik, faktor alat dan metode, dan faktor lingkungan. Di antara kelima faktor tersebut tidak bisa lepas satu sama lain, di dalam prosesnya saling berkaitan erat sehingga membentuk satu sistem yang saling mempengaruhi. Pendidikan merupakan amanah yang harus dikenalkan oleh suatu generasi ke generasi berikutnya, terutama dari orang tua atau pendidik kepada anak-anak dan murid-muridnya.
Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam kontek ini, dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat menghantarkan peserta didik ke arah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu, dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah (hadits).
Dalam pendidikan Islam, sunnah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu: Menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat di dalamnya. Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat, perlakuannya terhadap anak-anak, dan pendidikan keimanan yang pernah dilakukannya. Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Tujuan dan tugas manusia di muka bumi. baik secara vertikal maupun horizontal. Sifat-sifat manusia tututan masyarakat dan dinamika peradaba
2. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam
Adapun tujuan pendidikan Islam adalah mengembangkan fitrah peserta didik, baik ruh, fisik, kemauan, dan akalnya secara dinamis, sehingga akan terbentuk pribadi yang utuh dan mendukung bagi pelaksanaan fungsinya sebagai khalifah fi al-ardh. Pendekatan tujuan ini merupakan memiliki makna, bahwa upaya pendidikan Islam adalah pembinaan pribadi muslim sejati yang mengabdi dan merealisasikan” kehendak tuhan sesuai dengan syariat Islam serta mengisi tugas kehidupannya di dunia dan menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan utama pendidikannya.
Tujuan pendidikan Islam adalah mendekatkan diri kita kepada Allah dan pendidikan islam lebih mengutamakan akhlak, untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional ; perasaan dan indera. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik ; aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif ; dan mendorong semua aspek tersebut berkembang kearah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.
Tujuan pendidikan islam adalah. Secara lebih luas pendidikan islam bertujuan untuk:
a. Pembinaan Akhlak
b. Penguasaan Ilmu
c. Keterampilan bekerja dalam masyarakat
d. Mengembangkan akal dan Akhlak
e. Pengajaran Kebudayaan
f. Pembentukan kepribadian
g. Menghambakan diri kepada Allah
h. Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat
Adapun dalam proses kependidikan tujuan akhir merupakan tujuan yang tertinggi yang akan dicapai pendidikan Islam, tujuan terakhirnya merupakan kristalisasi nilai-nilai idealitas Islam yang diwujudkan dalam pribadi anak didik. Maka tujuan akhir itu harus meliputi semua aspek pola kepribadian yang ideal.
Dalam konsep agama Islam pendidikan itu berlangsung sepanjang kehidupan manusia, dengan demikian tujuan akhir pendidikan Islam pada dasarnya sejajar dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sabagai makhluk ciptaan Allah dan sebagi kholifah di bumi. Sebagaimana diungkapkan Hasan Langgulung bahwa “segala usaha untuk menjadikan manusia menjadi ‘abid inilah tujuan tertinggi pendidikan dalam Islam
Sebagaimana firman Allah SWT :
وما خلقت الجنّ والإ نس الاّ ليعبدون.
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(Q.S.Adz-Dzariyat :56)
Dalam tujuan umum pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung adalah perubahan-perubahan yang dikehendaki serta diusahakan oleh pendidikan untuk mencapainya, yang bersifat lebih dekat dengan tujuan tertinggi tetapi kurang khusus jika dibandingkan dengan tujuan khusus

C. Tujuan Pendidikan Nasional Ditinjau Dari Perspektif Filsafat Pendidikan Islam
Tujuan Pendidikan akan menentukan kearah mana anak didik akan dibawa. Disamping itu pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia indonesia. Tujuan pendidikan dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu menurut islam dan tujuan pendidikan secara umum.
Tujuan pendidikan sama halnya dengan tujuan manusia, manusia menginginkan semua manusia termasuk anak keturunannya menjadi manusia yang baik, sampai disini tidaklah ada perbedaan. Kualitas baik seseorang ditentukan oleh pandangan hidupnya, bila pandangan hidupnya berupa agama, maka manusia yang baik itu merupakan manusia yang baik menurut agamanya, bila pandangan hidupnya sesuai warisan nilai dari nenek moyang, maka manusia yang baik itu adalah manusia yang baik menurut pandangan nenek moyangnya itu.
Maka dari sinilah muncul perbedaan-perbedaan tentang tujuan pendidikan. Perbedaan itu dipersempit tatkala negara ini merumuskan tujuan pendidikan negara ( tujuan pendidikan nasional ) tatkala membuat rumusan terjadilah perdebatan berkepanjangan. Penganut agama menginginkan tujuan pendidikan negara dirumuskan berdasarkan agamanya, orang filsafat menginginkan tujuan pendidikan negara ditentukan oleh ajaran filsafatnya, demikian juga penganut warisan nenek moyang.
Suatu tujuan merupakan akhir dari suatu usaha yang disengaja, teratur, dan tersusun, maka hasil tidaklah merupakan penghabisan yang pasti dari serentetan langkah langkah yang berkaitan satu sama lain. Sedangkan mengenai hubungan antara istilah tujuan dengan keinginan itu mudah berubah, sedangkan dalam suatu tujuan adalah lebih tetap adanya.
Sementara itu hubungan antara tujuan dan nilai nilai, dapat dianggap tujuan-tujuan pendidikan itu sebagai nilai-nilai yang disukai untuk melaksanakannya, suatu tujuan mempunyai tahap-tahap tertentu, Abu Achmad mengatakan bahwa tahap tahap tujuan suatu pendidikan Islam meliputi:
1. Tujuan tertinggi/Terakhir
Tujuan ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dan berlaku umum, karena sesuai dengan konsep ke-Tuhanan yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi tersebut dirumuskan dalam satu istilah yang disebut Insan Kamil.
Dalam tujuan pendidikan Islam, tujuan tertinggi atau terakhir ini pada akhirnya sesuai denga tujuan hidup manusia, dan peranannya sebagai makhluk ciptaan Allah.
2. Tujuan Umum
Berbeda dengan tujuan tertinggi yang lebih mengutamakan pendekatakan filosofis, tujuan umum lebih bersifat empirik dan realistis. Tujuan umum berfungsi sebgai arah tercapainya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik.
Dikatakan umum karena berlaku untuk siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu, dan menyangkut diri semua peserta didik secara total. Pendidikan adalah upaya pengembangan potensi atau sumber daya insani berarti telah mampu merealisasikan (Self Realisation), menampilkan diri sebagai pribadi yang utuh (Pribadi Muslim). Proses pencapaian realisasi diri tersebut dalam istilah psikologi disebut becoming, yakni proses menjadikan diri dengan keutuhan pribadinya. Sedangkan untuk sampai pada keutuhan pribdi diperlukan proses perkembangan tahap demi tahap yang disebut proses Development.
3. Tujuan Khusus
Tujuan khusus adalah pengkhususan atau operasional tujuan tertinggi/ terakhir (pendidikan Islam). tujuan khusus bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan (bilamana perlu) sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, selama tetap berpijak pada kerangka tujuan tertinggi/terakhir dan umum itu. Pengkhususan tujuan tersebut dapat didasarkan pada:
a) Kultur dan cita-cita dalam suatu negara atau suatu bangsa.
b) Minat dan Bakat, maupun Kesanggupan Subjek Didik.
c) Tuntutan Situasi, Kondisi, pada Kurun Waktu Tertentu.
4. Tujuan Sementara
Tujuan sementara pada umumnya merupakan tujuan tujuan yang dikembangkan dalam rangka menjawab segala suatu tuntutan kehidupan. Karena itu tujuan sementara itu kondisional, tergantung faktor di mana peserta didik itu tinggal atau hidup. Dengan berangkat dari pertimbangan kondisi itulah pendidikan Islam bisa menyesuaikan diri untuk memenuhi prinsip dinamis dalam pendidikan dengan lingkungan yang bercorak apa pun yang membedakan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain, yang penting orientasi dari pendidikan itu tidak ke luar dai nilai-nilai ideal Islam. Menurut Zakiyah Darajat, tujuan sementara itu merupakan tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.
Dalam tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola ubudiyah, sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang kurangnya beberapa ciri pokok sudah kelihatan pada pribadi anak didik. Tujuan pendidikan Islam seolah-olah merupakan suatu lingkaran yang pada tingkat paling rendah, mungkin merupakan suatu lingkaran kecil. Semakin tinggi tingatan pendidikannya lingkaran tersebut semakin besar. Tetapi sejak dari tujuan pendidikan tingkat permulaan bentuk dalam lingkarannya sudah harus kelihatan. Bentuk lingkaran inilah yang akan menggambarkan insan kamil itu. Di sinilah barangkali perbedaan yang mendasar tujuan pendidikan Islam dibandingkan dengan pendidikan nasuonal.
Tujuan pendidikan di atas jauh berbeda dengan tujuan yuag akan dicapai oleh tujuan pendidikan hasil rancangan di dalam suatu negara. Kekurangan dari suatu tujuan yang dilandasi oleh falsafah pendidikan yang demikian itu menurut Lengkulung mengarah kepada tujuan kebendaan, seperti yang terdapat di dalam tujuan pendidikan di negara kapitalis dan komunis.
Implikasinya tujuan pendidikan di negara Amerika adalah untuk menciptakan warga Negara yang pragmatis, di Negara komunis menciptakan warga Negara komunis markxis dan begitukah seterusnya. Kedua falsafah yang kita sebutkan di atas, sekalipun nampaknya berbeda teori serupa, yaitu bahwa kebahagiaan manusia hanya dapat diciptakan dengan memperbaiki keadaan ekonominya (Materi). Dalam golongan kapitalisme beranggapan bahwa perbaikan ekonomi itu hanya dapat dalam suasana persaingan bebas di mana akan membawa kemajuan dan kemakmuran suatu negara dan selanjutnya kemakmuran masyarakat termasuk individu yang ada di dalamnya.
Sebaliknya golongan komunis beranggapan bahwa untuk memperbaiki ekonomi golongan terbesar pada rakyat, maka sumber-sumber produksi mestilah dipegang rakyat terbesar itu, yang tentunya tidak mungkin menjadi sebagian kecil saja dari golongan terbesar yang menamakan dirinya diktator proletariat, dengan demikian kekayaan dan kemakmuran dapat dinikmati oleh sebagian terbesar dari rakyat. Kedua falsafah itu nampaknya berbeda, tetapi serupa dalam hasil akhirnya yang terlihat kebahagiaan manusia ini hanya dapat diciptakan bila keadaan materinya sudah cukup, atau dengan kata lain tujuan pendidikan di bawah lindungan falsafah itu adalah tujuan kebendaan.
Begitu pula dalam falsafah orang Eropa (Yunani) yang mendasarkan pendapatnya pada pendapat bahwa kesempurnaan masyarakat harmonis yang penuh keindahan serta keadilan bila dicapai dengan intelegensi, tanpa memerlukan bantuan kekuatan supernatural lain. Paham rasionalisme, materialisme, pragmatisme dalam modernisasi berjalan dengan proses pemisahan terhadap dasar dan nilai-nilai agama yang akhirnya melahirkan sekularisme. Sekularisme adalah istilah yang dipakai untuk mengatakan suatu proses yang berlaku demikian rupa, sehingga orang, golongan atau masyarakat yang bersangkutan semakin berhaluan duniawi, artinya semakin berpaling dari agama, atau semakin berkurang memerukan nilai-nilai atau norma yang dianggap kekal (agama).
Dengan kata lain sekularisme adalah suatu paham yang mengatakan bahwa Tuhan tidak berhak mengurusi masalah duniawi, masalah duniawi harus dengan cara lain, yang tidak datang dari Tuhan. Jadi sekularisme adalah paham tidak ber-Tuhan. Tujuan pendidikan seperti disebutkan di atas jelas mengarah kepada tujuan kebendaan dan keduniaan semata: yang berbeda dengan tujuan pendidikan Islam. Tujuan Pendidikan Islam tentunya sangat menekankan keseimbangan antara material dan spiritual serta duniawi dan ukhrawi.
Menurut Al-Ghazzali bahwa setiap pendidikan harus berakhir dengan pencapaian tujuan sebagai berikut:
1. Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2. Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kebahagiaan dunia akhirat dalam pandangan Al-Ghazzali merupakan kebahagian dalam proporsi yang sebenarnya, kebahagiaan yang lebih mempunyai nilai universal, abadi, dan lebih hakiki itulah yang diprioritaskan, sehingga pada akhirnya tujuan ini akan menyatu dengan tujuan yang pertama.
Jika pendidikan dapat dipandang sebagai aplikasi pemikiran filsafi dan seorang filosuf bergerak selaras dan sejalan dengan pemikirannya, sistem pendidikan AL-Ghazali pun sejalan dengan ndasar pemikiran filsafinya yang mengarah kepada tujuan yang jelas. Dengan demikian, sistem pendidikan haruslah mempunyai filsafat yang mengarah pada tujuan tertentu.
Menurut Al-Ghazali, pendidikan dlam prosesnya haruslah mengarah kepada mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani, mengarahkan manusia untuk mengarahkajn tujuan hidupnya yaitu bahagia dunia dan akhirat.
Al-Ghazali berkata:
“ Hasil dari ilmu ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, dan menghubungkan diri dengan para malaikat yang tinggi dan bergaul dengan alam arwah, itu semua adalah kebenarn, pengaruh, pemerintaha bagi raja-raja dan penghormatan secara naluri.”
Menurut Al-Ghazali, pendekatan kepada Allah merupakan tujuan pendidikan. Orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu sendiri tidak akan dapat diperoleh manusia kecuali melalui pemgajaran.
Selanjutnya dari kata-kata tersebut dapat dipahami bahwa menutut Al-Ghazali tujuan pendidikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.

1. Tujuan Jangka Panjang
Tujuan pendidikan jangka panjang ialah pendekatan diri kepada Allah. Pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudian pendekatan diri kepada tuhan pencipta alam.
2. Tujuan Jangka Pendek
Menurut Al-Ghazali, tujuan pendidikan jangka pendek ialah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuan. Syarat untuk mencapai tujuan itu, manusia harus mengembangkan ilmu pengetahuan baik yang termasuk fardhu ain maupun fardu kifayah.

IV. KESIMPULAN
Dari Uraian diatas dapat kami simpulkan bahwa :
1. Pendidikan menurut pandangan islam lebih dominan kepada pembentukan akhlak, akidah dan iman. Sedangkan secara umum pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan pengembangan kemapuan yang dimiliki. Apabila kedua hal ini digabungkan maka hasil dari pendidikan akan sangat maksimal dan menghasilkan peserta didik yang memiliki intelektual dan akhlak yang mulia.
2. Dasar pendidikan menurut islam fokus kepada Al-qur’an dan hadist sedang secara umum dasar pendidikan juga lebih menitik beratkan ke dasar religius.
3. Tujuan Pendidikan baik secara islam maupun umum hampir memiliki kesamaan yaitu mendapatkan kesuksesan. Apabila digabungkan maka tujuan pendidikan adalah upaya untuk meraih kesuksesan hidup di dunia dan akherat.
Menutut Al-Ghazali tujuan pendidikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu
1. Tujuan Jangka Panjang
2. Tujuan Jangka Pendek
Menurut Al-Ghazzali bahwa setiap pendidikan harus berakhir dengan pencapaian tujuan sebagai berikut:
1. Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2. Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Tujuan pendidikan menurut Al-Ghazali adalah sebagai berikut:
1. Mendekatkan diri kepada Allah, yang wujudnya adalah kemampuan dan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan sunnah.
2. Menggali dan mengembangkan potensi atau fitrah manusia.
3. Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya.
4. Membentuk manusia yang berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerndahan budi dan sifat-sifat tercelah.
5. Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manusiawi

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Abu, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta, Aditya Media, 1992)
Arif M, 2009. Ilmu Pendidikan Islam. ( Jakarta: IRReS kerjasama dengan STAIM Press, 1998)
Feisal Amir Jusf, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Gemah Insani Press, 1995), Cet. 1
Hasan Sulaiman Fithiyah, Sistem Pendidikan Versi Ghazali, (Bandung: PT. Raja Grapindo Persada, 1986)
Ibnu Rusn Abidin, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, ( Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009)
Langgulung Hasan, Manusia dan Pendidikan, ( Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1986)
Maryam Jamelah, Islam dan Modernisasi, (Surabaya:Usaha Nasional, 1982)
Shaleh, Abdul, Rahman, Pendidikan Agama dan Pembangunan Untuk Bangsa. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2005)
Tafsir Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010)
Tafsir Ahmad, Ilmu Pendidikan Dalam Persfektif Islam, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005)

http://www.putra-putri-indonesia.com/tujuan-pendidikan-nasional.html

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s