AYAT-AYAT TENTANG MANUSIA

Standar

AYAT-AYAT TENTANG MANUSIA
MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Tafsir
Dosen Pengampu: Dr. H. Hamdani Mu’in, M.Ag

Disusun oleh:
M. Nurul Khafid (103111054)
M.Riziq Mubarok (103111055)
Siti Thoifah (103111096)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

AYAT-AYAT TENTANG MANUSIA

I. PENDAHULUAN
Orang yang diberi pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, maka jiwanya akan meningkat dan naik ke tangga kesempurnaan, karena dalam ayat-ayat itu terdapat petunjuk kepada jalan kebaikan yang hanya bisa ditempuh lewat perbuatan yang berguna dan mengadung keuntungan rohani bagi penempuhnya. dengan syarat, ayat-ayat itu di pelajari benar-benar dengan niatyang sungguh-sungguh.
Kebahagiaan dan kemenangan yang akan diraih secara khusus untuk orang-orang mukmin dimulai dengan uraian tentang sifat orang-orang mukmin, lalu dilanjutkaan dengan bukti keimanan dalam diri manusia dan alam raya, kemudian uraian tentang hakekat iman sebagaimana dipaparkan oleh para rasul sejak nabi Nuh as sampai dengan Nabi dan Rasul terakhir Muhammad Saw.
Untuk lebih jelasnya makalah ini akan memaparkan topik mengenai Manusia.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Tafsir Surat at-Thin (95): 1-6
B. Tafsir Surat al-A’raf (7): 175-176
C. Tafsir Surat al-Isra’ (17): 70
D. Tafsir Surat al-Mu’minun (23): 1-7
E. Tafsir Surat al-Imran (3): 102

III. PEMBAHASAN
A. Tafsir Surat At-Thin (95): 1-6

“Demi (buah) Tin”.
Aku bersumpah dengan masa Tin Nabi Adam – Bapak manusia. yaitu zaman ketika nabi adam dan istrinya menutupi tubuhnya dengan pohon Tin. Dan sebagian Ulama’ juga berpendapat bahwa itu adalah buah tin itu sendiri.
•
“dan buah Zaitun”.
Kesimpulan-Pohon Tin dan Zaitun – keduanya mengingatkan pada dua masa yaitu masa nabi Adam as. Sebagai bapak manusia pertama, dan masa nabi Nuh as, sebagai bapak manusia kedua.
Ka’ab al-Ahbar, Qatadah, Ibnu Zaid, dan lain-lain mengatakan: “yaitu masjid baitul maqdis. Mujahid dan ikromah mengatakan yaitu buah zaitun yang kalian peras.”
Ulama ada yang berpendapat ia adalah buah tin itu sendiri. Dan Mujahid dan ‘Ikrimahpun mengatakan:”Yaitu buah zaitun.
 
“dan demi bukit cina”.
Bukit ini mengingatkan kepada peristiwa di turunkannya ayat-ayat Ilahiah oleh nabi musa as dan kaumnya. dan diturunkannya kitab taurat kepada nabi musa setelah kejadian itu dan bersinarnya nur tauhid, pada masa sebelum itu di kotori oleh akidah wasaniyah (keyakinan berhala). Para nabi setelah musa as, tetap mengajak kaumnya agar berpegangan kepada syari’at tauhid ini.
   
“dan demi kota makkah ini yang aman”.
Kota Makkah yang dimuliakan Allah dengan dilahirkannya Muhammad saw, dan dengan keberadaan ka’bah (baitullah) padanya.
      
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Allah ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik dengan ukuran tinggi yang memadai.
Kami istimewakan manusia dengan akalnya agar bisa berfikir dan menimba sebagai ilmu pengetahuan serta bisa mewujudkan segala inspirasinya yang dengannya manusia bisa berkuasa atas segala makhluk.
    
“kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”.
Manusia banyak melakukan kerusakan, sehingga mereka terlanjur dalam kesesatan. mereka lupa kepada fitroh asalnya dan lari kepada naluri kebinatangannya. mereka terpelosok ke jurang kebejatan moral dan dosa-dosa.
         
“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.
Kelak jika kembali pada kehidupan akhirat, mereka akan memperoleh pahala atas amal shalih yang mereka lakukan. mereka adalah pengikut para nabi dan orang-orang yang di beri hidayah oleh Allah SWT. Kejalan hak dari setiap umat.

B. Tafsir Surat Al-A’raf: 175-176
                  •    •                         
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat (175) “Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir (176)”.
Allah memberikan berita penting kepada orang Yahudi berupa pengetahuan alasan-alasan tauhid, dan pemahaman dalil-dalilnya. Tetapi mereka meninggalkannya setelah memperoleh petunjuk. Sehingga ia menjadi bulan-bulanan syetan, dan orang-orang yang sesat. Mereka cenderung kepada dunia dan tidak di arahkan kepada kehidupan rohani sama sekali, dia bagaikan anjing dalam kelakuannya yang terburuk dan hina, memperturutkan hawa nafsunya, seorang dari mereka itulah seperti orang yang menjulurkan lidahnya karena kepayahan dan letih. Mereka salah satu perumpamaan dari kaum yang ingkar terhadap ayat-ayat Kami dan angkuh untuk menerimanya.
Maka ceritakanlah hai rosul yang mulia, kisah orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, diharapkan mereka mau memikirkannya dan mau memandang ayat-ayat Allah dengan mata hatinya, bukan dengan mata nafsu dan sikapnya yang bermusuhan. Pada ayat di atas, terdapat isyarat, betapa besar manfaat pemberian perumpamaan-perumpamaan seperti tersebut di atas, dalam memberi keputusan hati, dan bahwa pengaruhnya lebih kuat daripada sekadar member alasan-alasan dan bukti-bukti tanpa dibarengi dengan perumpamaan-perumpamaan. Disamping terdapat pada ayat tersebut suatu isyarat betapa besar manfaat berfikir, dan bahwa berfikir itu adalah prinsip ilmu dan jalan yang akan menyampaikan kepada jalan kebenaran. Dan oleh karenya, Allah Ta’ala menganjurkan berfikir diberbagai tempat dalam kitab-Nya.

C. Tafsir Surat Al-Isra’: 70
                 
“Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”.
Setelah kami menggambarkan anugrah-Nya ketika berada di laut dan di darat, baik terdapat yang taat maupun yang durhaka, ayat ini menjelaskan sebab anugrah itu, yakni karena manusia adalah makhluk unik yang memiliki kehormatan dalam kedudukannya sebagai manusia – baik ia taat beragama maupun tidak. Manusia memiliki kehormatan dalam kedudukannya sebagai manusia, Allah menciptakan manusia dengan bentuk tubuh yang bagus kemampuan berbicara dan berpikir, dan Allah ciptakan alat transport untuk mereka. Dan Allah lebihkan mereka dari hewan dengan akal dan daya cipta, sehingga menjadi makhluk bertanggung jawab. Kami lebihkan yang taat dari mereka atas malaikat karena ketaatan manusia melalui perjuangan melawan syetan dan nafsu, sedang ketaatan malaikat tanpa tantangan. Demikian seterusnya dan masih banyak lainnya.
Kelebihan rezeki kepada seseorang menjadiakan ia memiliki rezeki melebihi dari rezeki yang diberikan-Nya kepada orang lain, dan ini mengakibatkan terjadinya perbedaan antara seseorang dengan yang lain dalam bidang rezeki. Dalam konteks ayat ini manusia dianugrahi Allah keistimewaan yang tidak di anugrahkan-Nya kepada selainnya dan itulah yang menjadikan manusia mulia serta harus dihormati dalam kedudukannya sebagai manusia. Anugerah-Nya itu untuk semua manusia dan lahir bersama kelahirannya sebagai manusia, tanpa membedakan seseorang dengan yang lain. Inilah yang menjadikan Nabi Muhammad SAW berdiri menghormati jenazah seorang yahudi, yang ketika itu sahabat-sahabat Rasul saw menanyakan sifat beliau itu, Nabi saw menjawab: “bukankah yang ati itu juga manusia?”.
Ayat di atas tidak menjelaskan bentuk kehormatan, kemuliaan dan keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepada anak cucu Adam as. Itu agaknya untuk mengisyaratkan bahwa kehormatan tersebut banyak dan ia tidak khusus untuk satu rasa atau generasi tertentu, tidak juga berdasar agama atau keturunan, tetapi dianugerahkan untuk seluruh anak cucu Adam as. sehingga diraih oleh orang perorang, pribadi demi pribadi. Apa yang penulis sebutkan di atas adalah sebagian dari kandungan penghormatan itu.

D. Tafsir Surat Al-Mu’minun: 1-7
         

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman”. (1)
“(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya”. (2)

Kata qad mengandung makna kepastian. ayat di atas mengatakan bahwa: sesungguhnya telah yakni pasti beruntunglah mendapat apa yang di dambakannya orang-orang mukmin, yang mantap imannya dan mereka buktikan kebenarannya dengan amal-amal shalih yaitu mereka yang khusuk dalam sholatnya, yakni tenang, rendah hati lahir dan batin, serta yang perhatiannya terarah kepada shalat yang mereka kerjakan.
     
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,”
kata Al-Laghw terambil dari kata Lagha yang berarti batal, yakni sesuatu yang seharusnya tidak ada atau di tiadakan.
Mereka akan memperoleh kebahagiaan adalah mereka yang terhadap Al-Laghw, yakni hal-hal yang tidak bermanfaat adalah orang-orang yang tidak acuh, menjauhkan diri secara lahir dan batin dari hal tidak berguna.
  •  
“Dan orang-orang yang menunaikan zakat,”
Mereka memperoleh kebahagiaan yakni mereka yang menyangkut zakat sedekah atau penyucian jiwa adalah pelaksana-pelaksana yakni yang melakukannya dengan sempurna lagi tulus.
            •           

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,”(5), “Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.”(6), “Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.(7)”.

Orang mukmin yang akan memperoleh kebahagiaan adalah mereka yang selalu menyangkut kemaluan mereka adalah pemelihara-pemelihara yakni tidak menyalurkan kebutuhan biologisnya melalui cara-cara yang tidak direstui agama, kecuali terbatas dalam melakukannya terhadap pasangan-pasangan mereka atau budak wanita yang mereka yakni para pria miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal menyalurkan kebutuhan biologis melalui pasangan dan budak mereka itu tidaklah dicela selama ketentuan yang ditetapkan agama tidak mereka langgar.

E. Tafsir Surat Ali-Imran ayat: 102
     •   •    
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (kepada Allah)”.
Dalam ayat ini Allah menyerukan kepada kaum muslimin terutama kaum Aus dan Khazraj agar ereka tetap di madinah. Beriman, bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dengan memenuhi segala kewajiban taqwa itu. Dan demikian dikerahkan segala daya dan kemampuan untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, secara keseluruhan. Dan jangan sekali-kali mati melainkan memeluk agama Islam. Dan berperanglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.
Dan kamu telah ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. Dengan demikian Allah memerintahkan kepada kalian untuk menjalankan perintahnya dan menjauhi laranganNya sampai pada batas akhir (taqwa) kemampuanmu, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam berserah diri kepada Allah memeluk agama Islam.

IV. ANALISIS
Berdasarkan pemaparan di atas secara panjang mengenai tafsir ayat-ayat tentang manusia, dari berbagai mufassir yang menafsiran surat At-Tin, Al-Imran, Al-A’raf, Al-Isra’, dan Al-Mukminun, kita dapat menganalisis bahwa kelima surat tersebut beberapa bagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang ayat-ayat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, dengan berbagai criteria dan perbedaan diantaranya manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan kesempurnaan. tetapi mereka membuat kerusakan tidak taat dan tidak beriman kepada Allah sehingga mereka ditempatkan ke neraka.
Manusia diciptakan dengan keterbatasan untuk menyembah kepada Allah, manusia yang mendustakan kebenaran dan kebesaran Allah. Dan manusia diciptakan dengan pengetahuan untuk menciptakan seperti alat transportasi di darat dan di laut yang berguna bagi mereka sendiri untuk menjelajahi bumi dan seisinya, serta manusia diciptakan untuk beriman kepada Allah. Apabila kita sudah memahami ayat tersebut semoga kita mendapatkan keberkahan dan menambah keimanan kita.

V. KESIMPULAN
Manusia dari segi kemanusiaannya memiliki kehormatan yang sama semua diberi hak memilih serta diberi pula kemampuan melaksanakan pilihanya lagi dan diciptakan sebagai makhluk yang bertanggungjawab.
Allah telah menciptakan manusia dalam wujud dan bentuk yang sebaik-baiknya dengan perawakan yang sempurna. Mereka akan diseret ke neraka jika mereka tidak taat kepada Allah dan tidak mengikuti para Rasul kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh.

VI. PENUTUP
Makalah yang dapat kami buat, sebgai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin……

DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraggi, Ahmad Mustafa, Terjemah Tafsir Al-Maragi, Semarang: Toha Putra, 1993.
Alu Syaikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman, Lubaabut Tafsir min ibni Katsir, Jakarta: Pustaka Imam As-Syafi’I, 2008.
Jalaluddin, Imam Al-Mahallily dan Imam Jalaluddin As-Syuyuthi, Terj. Mahyudin Syaf dan Bahrun Abu Bakar, Tafsir Jalalain, Bandung: CV. Sinar Baru, 1990.
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2008.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s