JUJUR

Standar

JUJUR

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Hadits Tarbawi
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. M. Erfan Soebahar, M.Ag

Disusun oleh:
M. Rizik Mubarok (103111055)
Maftuh Ahnan (103111056)
Maghfiroh (103111057)
Mahmud Yunus Mustofa (103111058)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
JUJUR
I. PENDAHULUAN
Sebagai makhluk sosial, tentunya setiap harinya manusia berinteraksi dengan sesama manusia, entah itu sesama jenis atau lawan jenis. Dalam interaksi itu pastinya manusia melakukan yang namanya perbincangan atau semacam komunikasi, tetapi dalam komunikasi itu tidak selamanya atau selalu sejalan, tetapi ada satu hal yang terkadang membuat kejanggalan bahkan bisa menimbulkan ketidak seimbangan dalam interaksi sosial tersebut, yaitu ketika salah satu dari manusia melakukan suatu kebohongan atau ketidak jujuran. Padahal jujur itu merupakan hal yang penting dalam sebuah komunikasi, karena dari kejujuran itu awal mula timbulnya kepercayaan dari satu dengan yang lain, kemudian dari kepercayaan itu akan timbul keharmonisan atau keserasian dalam berinteraksi antar sesama.
Mungkin istilah jujur ini tidak asing lagi ditelinga kita, mengingat istilah ini sering kita gunakan dalam keseharian kita. Jujur itu sendiri adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut. Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali ataupun ada juga yang hanya sekedar tahu maknanya secara samar-samar. Berikut dalam makalah ini akan mencoba memberikan sedikit pemahaman tetang makna dari kata jujur ini. Dan nantinya etika kita berbicara tentang masalah jujur ataupun kejujuran, pasti kita akan menyerempet atau sedikit membahas tentang bohong karena kedua hal tersebut memang saling berhubungan. Jadi untuk membantu dalam pemahaman nanti kita terkait masalah jujur akan kami sedikit sisipkan tentang bohong.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Pengertian Jujur ?
B. Apa Saja Hadits Yang Berkaitan Dengan Jujur ?

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Jujur
Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sebuah kebenaran atau bisa dikatakan sebuah pengakuan akan sesuatu yang benar. Semisal apabila ada seseorang yang menceritakan informasi tentang gambaran suatu kejadian atau peristiwa kepada orang lain tanpa ada “perubahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur.
Menurut al-Raghib, jumhur ulama’ berkata : “kebenaran atau kejujuran adalah bila sesuai dengan realitas, sedangkan kedustaan adalah ketika berbeda dengan realitas”. Ulama’ lain berkata : “kebenaran adalah apa yang sesuai dengan keyakinan, sedangkan kedustaan adalah apa yang berbeda dengan keyakinan”. Kejujuran (kebenaran) ialah nilai dari keutamaan yang utama-utama dan pusat akhlak, dimana dengan kejujuran maka suatu bangsa menjadi teratur, segala urusan menjadi tertib dan perjalananya adalah perjalanan yang mulia. Kejujuran akan mengangkat harkat pelakunya di tengah manusia, maka ia menjadi orang terpercaya, pembicaraanya disukai, ia dicintai orang-orang, ucapanya diperhitungkan oleh para penguasa, dan persaksianya diterima di pengadilan. Dengan ini Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk berlaku jujur, sebagaimana juga Al-Qur’an memerintahkan kepada kita dalam firmanya :
        
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kalian dengan orang-orang yang benar atau jujur”. (9/Al-Taubah 119.)
Kebenaran (kejujuran) berada pada ucapan, akidah dan perbuatan. Kebenaran dalam ucapan adalah ketika sinergi dengan isi hati atau realitas. Kebenaran akan membawa anda berkeberanian bicara dan berkehati-hatian sebelumnya dan tidak mengatakan tanpa dasar pengetahuan. Ketika membicarakan tentang niatan maka jadikanlah pembicaraan itu sejalan dengan niatan kita. Dan jika berjanji maka jadikanlah niatan memenuhinya sebagai kawan setia kemauan. Janganlah meminta pemahaman tentang sesuatu ketika anda sudah mengetahui dengan maksud membujuk orang-orang yang mendengarkan.
Kejujuran adalah ketepatan antara ucapan, isi hati dan realitas yang diberitakan, dimana apabila syarat ini tidak terpenuhi maka bukanlah kejujuran, tetapi kedustaan atau diantara kejujuran dan kedustaan seperti ucapan orang munafik. Istilah yang biasa muncul adalah As Shidiq. As Shidiq ialah orang yang dikenal berkejujuran. Terkadang kata shidiq ini juga digunakan untuk kebenaran dalam keyakinan.
Kita ketahui bahwa sikap jujur merupakan sebagai sumber keutamaan dan sikap dusta sebagai sumber kehinaan, karena dusta menjadikan bangunan hubungan manusia menjadi retak, perjalanan kehiduan jadi tidak stabil, para kawan berguguran jauh dari pandangan mata, dimana mereka tidak lagi membenarkan ucapanya, tidak bertanya terhadap langkah perilakunya dan tidak betah ketika dekat denganya. Disisi lain adalah pembicaraanya dibuang dan persaksianya tidak diterima. Dengan itu nabi melarang untuk berdusta. Di dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang mengancam terhadap pendustaan. Maka dari itu, pertahankanlah pola kejujuran, dan berkedudukan luhur ditengah masyarakat dan bermartabat luhur disisi Allah. Janganlah berbohong, supaya tidak termasuk orang jahat dan berdusta. Jadikanlah catatan dan amal perbuatan yang putih bersih agar berpendidikan luhur serta diridloi oleh Allah SWT. Jadi sebenarnya kita bisa membedakan lebih baik mana antara sikap jujur dengan bohong, karena kalau kita lebih memilih untuk bersikap bohong maka madlorotlah yang nantiya akan kita dapatkan.

B. Hadits yang Berkaitan Dengan Jujur
1. Hadits dari Bukhari dan Muslim

إنّ الصدق يهدي إلى البرّ وانّ البرّ يهدي إلى الجنّة و إنّ الرّجل ليصدق حتّى يكتب عند الله صدّيقا, وإنّ الكذب يهدي إلى الفجور وإنّ الفجور يهدي إلى النّار وإنّ الرّجل ليكذب حتّى يكتب عند الله كذّابا (رواه البخارى ومسلم).
Artinya :
“Sesungguhnya kejujuran (kebenaran) itu akan membawa kepada kebaikan, sedangkan kebaikan itu akan membawa ke surga. Dan sesunguhnya seseorang yang jujur itu akan ditulis (ditetapkan) disisi Allah sebagai seorang yang benar. Dan sesungguhnya seseorang yang berbohong akan membawa kepada dosa (kejahatan). Dan sesungguhnya dosa itu akan membawa pelakunya ke neraka. Sesungguhnya seseorang yang berbohong akan di tetapkan disisi Allah sebagai pembohong.”

Manusia yang selalu melatih diri untuk kebaikan, akhirnya kebaikan itu menjadi tabiat kebiasaanya. Dan apabila telah menjadi demikian, maka mudahlah ia melakukanya. Hadits ini menerangkan bahwa kejujuran adalah sesuatu hal yang sangat harus kita perhatikan, karena berawal dari kejujuran itulah semua kebaikan akan muncul, ketika kejujuran itu dapat diterapkan dalam berbagai macam segi, maka dapat dipastikan semua yang berlandaskan kejujuran akan menuai atau berujung pada kebaikan. Tidak ada yang meragukan bahwa kejujujuran merupakan akhlak yang paling mulia. Maka dari itu tidak heran jika Rasulullah SAW selalu menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri mereka dengan akhlak yang agung ini. Beliau juga telah mencontohkan kepada umatnya untuk selalu bersikap jujur, seperti ketika Nabi menjdi pedagang, karea kejujuranya beliau sampai dipercaya oleh siti Khadijah dan kemudian sampai beliau dijadikan suaminya. Karena kejujurn beliau juga Islam mampu diterima dikalangan kaum Arab.
Jujur mempunyai banyak definisi, namun ada satu makna yang digunakan dan mudah dipahami yaitu, perkataan yang benar sesuai dengan realita yang dilihat oleh orang yang mengatakanya meskipun orang lain tidak mengetahuinya. Kejujuran dan kebenaran memiliki derajat tinggi disisi Allah SWT. Hingga dalam firmanya , Allah SWT. mengistilahkan janji yang akan diberikan kepada orang-orang yang melakukan kebajikan dengan istilah “janji yang benar”. Allah SWT berfirman :
“ Mereka itulah yang orang-orang yang Kami terima amal baiknya yang telah mereka kerjakan, dan (orang-orang) penghuni-penghuni surga. Itu janji yang benar yang telah djanjikan kepada mereka.” (Al-Ahqaaf:16).
Nabi agung kita Nabi Muhammad Rasulullah SAW sudah mengajarkan kepada kita tentang kejujuran dan beliau dikenal dengan sifat kejujuranya sehingga beliau mendapat julukan sebagai “As Shidqu”. Meskipun orang-orang kafir quraisy menentang ajaran yang dibawa oleh beliau tetapi mereka mengakui kejujuran dari beliau, sehingga ketika nabi datang pada pemuka quraisy orang-orang quraisy menyambutnya dengan kata-kata penghormatan “Orang yang jujur dan dapat dipercaya telah datang”.
2. Hadits Yang Diriwayatkan Oleh Malik, Ahmad dan Enam Ahli Hadits dari Ummu Salamah. R.A.

انّما انا بشر وانّكم تختصمون اليّ فلعلّ بعضكم ان يكون ألحن بحجّته من بعض فأ قضي له على نحو ما اسمع فمن قضيت له بحقّ مسلم فإنّما هي قطعة من النّار فاليأخذها او ليتكها.
Artinya : “Sesungguhnya saya ini hanyalah manusia biasa. Sesunguhnya kalian bertengkar (mengadukan persoalan) kepadaku. Barangkali sebagian kalian lebih fasih (bersilat lidah) dalam beradu alasan (argumentasi) dari sebagian lain. Maka aku putuskan perkara itu dengan putusan yang menguntungkan baginya, berdasarkan apa yang aku dengar. Maka barang siapa yang keputusanku menguntungkanya (dengan menyerahkan) hak muslim kepadanya, maka sesungguhnya putusan itu adalah percikkan api neraka, maka hendaklah dia mengambil (menggenggam)nya atau melepaskanya.”
Pada Hadits tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah itu manusia biasa seperti kita, dalam hal suatu perkara beliau tidak mengetahui apa yang tersembunyi dalam batin orang yang bertengkar tersebut. Karena itu beliau hanya memutuskan perkara berdasarkan apa yang beliau dengar dari penuturan pihak yang berselisih. Adakalanya pihak yang berperkara lebih unggul dalam beradu alasan dan mengalahkan pihak lawanya, sehingga mampu mengatakan yang bathil menjadi yang benar. Maka bila aku putuskan suatu putusan yang memenangkanya, padahal dia berbohong, maka tidaklah berhak ia atas hak muslim lain (yang menjadi lawanya).
Hal ini mengindikasikan bahwa kejujuran itu merupakan hal yang bersifat transenden, jadi yang mengetahuinya hanya Allah dan orang itu sendiri, Nabi Muhammadpun yang merupakan orang yang paling mulia di dunia tidak mengetahui seseorang itu jujur atau tidak.
3. Hadits Yang Diriwayatkan oleh Ibnu Najar

أ لمؤمن أخو المؤمن لايدع نصيحته على كلّ حال. (رواه ابن البخار)
Artinya:
“Orang beriman itu saudara orang beriman, tidak meninggalkan kejujuran dalam segala hal.” Diriwayatkan oleh ibnu Majah
Dalam hal ini kita dapat mengambil ibroh atau pelajaran dari hadits diatas bahwa sebenarnya antara sesama orang mukmin itu adalah saudara, jadi tidak perlu sebenarnya ketika ada permusuhan diantara keduanya, dan biasanya permusuhan itu bermula dari sebuah kesalah pahaman yang diawali dari sebuah kebohongan, bermula dari kebohongan itulah akan timbul rasa saling tidak percaya satu sama lain dan kemudian akan melebar menjadi sebuah perselisihan.
Perselisihan yang seperti itulah yang seringkali membawa kepada permusuhan, berawal dari masalah yang kecil kemudian melebar menjadi suatu permasalahan yang besar, dan ini sulit untuk ditangani. Maka dari itu sikap bohong harus kita hindari dari sekarang.
4. Hadits Yang Diriwayatkan Oleh Tirmidzi
عن أبى محمد الحسن بن علىّ بن أبى طا لب رضى الله عنهما قال: حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلّم: دع ما يريبك, فإنّ الصّدق طمأنينة, والكذب ريبة (رواه الترمدى)
Artinya:
“Dari abu Muhammad al hasan bin Ali bin abi thalib RA; ia berkata : “saya menghafal beberapa kalimat dari Rasulllah yaitu: “Tinggalkanlah apa yang kamu ragukan dan kerjakanlah apa yang kamu tidak ragukan, sesungguhnya kejujuran itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu membawa kebimbangan”
Rasulullah SAW mewanti-wanti umatnya untuk tidak meremehkan suatu kejujuran. Dan beliau menegaskan bahwa sekecil apapun sebuah kebohongan tetap merupakan sebuah dosa. Disamping selalu menganjurkan untuk jujur, beliau selalu mengingatkan umatnya akan bahaya dan dosa berbohong. Beliau pernah mengajukan pertanyaan kepada para sahabat, “Apakah kalian ingin mengetahui dosa yang paling besar?”, para sahabat menjawab “ya”. Kemudian Rasulullah bersabda, “ Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua”. Waktu itu Rasulullah duduk sambil bersandar, kemudian beliau bangun, duduk tegak dan berkata, “Ingat, (juga) perkataan bohong.” Beliau terus mengulang-ngulang kalimat terakhir itu, sampai-sampai kami berharap beliau berhenti mengucapkanya. (HR Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi) Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammd tidak menganggap remeh ntara jujur dan bohong.
5. Hadits Yang Diriwayatkan Oleh Imam Ahmad
عن عبد الله ابن عمر وأنّ رجلا جاء إلى النّبىّ صلّى الله عليه وسلّم فقال يا رسول الله ما عمل الجنّة قال الصّدق وإذا صدق العبد برّ وإذا برّ امن وإذا امن دخل الجنّة قال يا رسول الله ما عمل النّار قال الكذب إذا كذب العبد فجر وإذا فجر كفر وإذا كفر دخل يعنى النّار (أخرجه أحمد في الرّسالة)

Artinya:
“Dari Abdullah Ibn Umar Sesungguhnya seorang pria datang kepada Nabi SAW, dan berkata, Ya Rosulullah, Apa amalan syurga?, maka menjawab, Jujur dan ketika orang jujurmaka seharusnya tulus dan ketika tulus maka amandan ketika aman maka masuk syurga, berkata kembali Ya Rosulullah, Apa amalan neraka, maka menjawab, bohongketika bohong maka kufur dan etika kufur maka masuk neraka. (HR.Imam Ahmad)
Jelas sekali hadist ini menerangkan tidak jauh beda seperti hadist-hadist sebelumnya bahwa sesuatu yang diawali kejujuran maka akan berakhir denan kebaikan yaitu surga dan sesuatu yang diawali dengan kebohongan maka berakhir dengan neraka.

IV. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan :
A. Jujur adalah perilaku yang dianjurkan agama dan kejujuran adalaah selarasnya perilaku lahiriyah degan keyakinan batiniyah. Dengan kata lain, kejujuran adalah sesuainya amal perbuatan dengan realita yang ada.
B. Kejujuran adalah sumber dari kebajikan. Sesuai dengan firman Allah yang artinya:” Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang jujur.”
C. Kejujuran telah dianjurkan oleh Rasulullah SAW, terlebih dengan contoh yang riil perilaku beliau dalam keseharianya selalu diliputi dengan kejujuran.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin……

DAFTAR PUSTAKA

Bahreisj, Husein, “Hadits Sahih Al-Jami’us Sahih”, Tarjamah, Surabaya:Karya Utama,
Bahreisy, Salim, “Tarjamah Riyadus Salihin”, Bandung:PT Al Ma’arif,1987
Fahrudin, Fahrudin HS dan Irfan, “Pilihan Sabda Rasul (Hadits-Hadits Pilihan”), Jakarta:PT Bumi Aksara,2001
HAsyimi, Abdul Mu’im AL, “Akhlak Rasul Menurut Bukhori dan Muslim”,Terj.Abdul Hayyi Al Qattani, Jakarta:Gema Insani,2009
Kauli, M.Abd Al Azis Al, “Menuju Akhlak Nabi Bimbigan Nabi Dalam Interaksi Sosial”, Terj. Al Adab An Nabawi, Semarang:Pustaka Nun,2006
Nawawi, Imam, “Riyadus Salihin”, Terj. Imam Sunarto, Jakarta:Pustaka Amani,1999

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s