KEWAJIBAN MENCARI ILMU

Standar

KEWAJIBAN MENCARI ILMU

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Hadits Tarbawi 1
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H.M. Erfan Soebahar, M.Ag

Disusun Oleh:
1. Muhammad Amik Fahmi (103111067)
2. Muhammad Khoirul Anam (103111068)
3. Muhammad Latif Wibowo (103111069)
4. Muhammad Nuroni (103111070)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
KEWAJIBAN MENCARI ILMU
I. PENDAHULUAN
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk itu, maka diutuslah Rasulullah SAW untuk memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu.
Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Dengan pendidikan yang baik, tentu akhlak manusia pun juga akan lebih baik. Ilmu pengetahuan dunia rasanya kurang kalau belum dilengkapi dengan ilmu agama atau akhirat. Orang yang berpengetahuan luas tapi tidak tersentuh ilmu agama sama sekali, maka dia akan sangat mudah terkena bujuk rayu syaitan untuk merusak bumi, bahkan merusak sesama manusia dengan berbagai tindak kejahatan.
Disinilah alasan mengapa ilmu agama sangat penting dan hendaknya diajarkan sejak kecil. Oleh karena itu, manusia membutuhkan terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT.
Untuk itu dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pengertian ilmu, dalil-dalil kewajiban mencari ilmu dan keutamaan orang yang berilmu.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa yang Dimaksud dengan Ilmu?
B. Apa Hadits-hadits Tentang Kewajiban Mencari Ilmu?
C. Bagaimana Keutamaan Orang yang Berilmu?

III. PEMBAHASAN
A. Definisi Ilmu
Ilmu menurut etimologi berasal dari Bahasa Arab. علم (‘alima) artinya mengetahui. Sedangkan pengertian ilmu menurut istilah yaitu:
العلم صفة ينكشف بها المطلوب إنكشافا تاما
Ilmu adalah suatu sifat yang dengan sifat tersebut sesuatu yang dituntut bisa terungkap dengan sempurna. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan sarana untuk mengungkap, mengatasi, menyelesaikan, dan menjawab persoalan yang sedang dihadapi dalam hidup dan kehidupan manusia.
عن انس رضي الله عنه قا ل : قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة (أخرجه إبن ماجة)
Dari Anas r.a. berkata: Nabi SAW bersabda: mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat. (H.R. Ibnu Majah)

Hadits diatas menerangkan bahwa menunutut ilmu itu hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan yang mukallaf. Seperti ilmu yang membebankan untukm menerangkan ma’rifat kepada Allah SWT dengan meng-Esakan-Nya dan mengetahui sifat-Nya serta membenarkan adanya Rasul, sebab hal ini tidak boleh taklid, berdasarkan firman Allah SWT:
فاعلم أنّه لاإله إلاالله

Artinya: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah.”(QS. Muhammad : 19)

Imam al-Ghazali berpendapat bahwa kewajiban mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan ketika setelah mencapai akil baligh dan keislamnnya adalah mengetahui dua kalimat syahadat dan memahami maknanya. Tidak wajib baginya menyempurnakannya dengan penjelasan-penjelasan terperinci. Melainkan cukup meyakininya tanpa kebimbangan dan keraguan, walau melalui taklid.

Ilmu dapat membedakan nilai manusia dihadapan Allah. Firman-Nya:

…….             

Artinya:” ……..katakanlah (Muhammad Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?) tentu tidak. Hanya orang-orang berakal yang dapat menerima peringatan”.(Q.S. Az Zumar : 9)

Ayat diatas menjelaskan betapa Allah telah membedakan antara orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu, karena dengan ilmunya orang dapat memikirkan semesta dengan segala kemahakuasaaan penciptaan-Nya. Ilmu juga merupakan sarana untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.

Nabi bersabda:

من ارد الدنيا فعليه بالعلم ومن ارد الأخرة فعليه بالعلم ومن ارد هما فعليه بالعلم

(رواه البخري)

Barang siapa menghendaki dunia maka hendaknya dia berilmu, barang siapa menghaendaki akhirat maka hendaknya dia berilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka hendaknya dia berilmu pula.(H.R. Al Bukhori)

Dari semua uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.

B. Hadits Tentang Kewajiban Mencari Ilmu:
Karena ilmu menjadi sarana bagi manusia untuk memperoleh kesejahteraaan dunia dan akhirat maka hukum untuk mencari ilmu adalah wajib.
Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW:
عن انس رضي الله عنه قا ل : قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : طلب العلم فريضة على كل مسلم (رواه الطبراني) وفي روا ية : طلب العلم فريضة على كل مسلم وإ ن طا لب العلم يستغفر له كل شيئ حتى الحيتان فى البحر
( حد يث صحيح لإبن عبد البر فى العلم )

Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah SAW. Bersabda: Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (HR. At Tabrani). Dalam riwayat lain dikatakan: Mencari ilmu itu wajib bagi kaum muslimin, dan sesungguhnya pencari ilmu itu akan dimintakan ampunan oleh setiap sesuatu, sampai kepada ikan di lautan.

Mengkaji ilmu itu merupakan pekerjaan mulia karenanya maka orang yang keluar dari rumahnya untuk mengkaji dan mencari ilmu dengan dilandasi iman kepada Allah, maka semua yang ada di bumi akan mendoakannya, termasuk ikan yang ada di lautan. Karena mencari ilmu itu pekerjaan yang memerlukan perjuangan fisik dan akal, maka Nabi pernah mengatakan bahwa orang yang keluar untuk mencari ilmu akan mendapatkan pertolongan dari Allah, karena Allah suka menolong orang yang mau bersusah payah dalam menjalankan kewajiban agama.
Nabi bersabda:
عن ا نس رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : طلب العلم فريضة على كل مسلم والله يحب إ غا ثة اللهفا ن (حديث صحيح للبيهقى )
Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah SAW. Bersabda : Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan Allah suka menolong orang-orang yang bersusah payah. (H.R. Baihaqi)

Mencari ilmu berarti melaksanakan perintah agama yang memerlukan perjuangan, ketabahan, keuletan, kerja keras, dan kesabaran, karena itu Nabi pernah menyampaikan bahwa orang yang keluar untuk mencari ilmu adalah di jalan Allah sampai menemui ajalnya.

Nabi SAW. Bersabda:
عن انس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من خرج في طلب العلم في سببيل الله حتى يرجع ( حديث صحيح رواه الترميذى)
Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah SAW. Bersabda: Barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai meninggal dunia. ( H.R. Tirmidzi)

C. Keutamaan Orang yang Berilmu

يا ايها الذين أمنوا إذاقيل لكم تفسحوا في المجالس فافسحوايفسح الله لكم وإذاقيل انشزوا فانشزوا يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتواالعلم درجت والله بما تعملون خبير.
Artinya :” Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu berlapang-lapanglah didalam majlis, maka berlapang-lapanglah!Niscaya Allah akan melapangkan untukmu. Dan apabila dikatakan bangunlah kamu maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Mujadalah : 11)

Ayat diatas dapat dipahami sebagai perintah untuk mencari ilmu, sebab perintah untuk berlapang-lapang dalam majlis maksudnya adalah majlis diamana disana dikaji suatu ilmu, sehingga ayat diatas mengajarkan kita bahwa iman itulah yang akan mendorong manusia untuk menghidupkan hati untuk bberdiri dan taat menjalankan perintah Allah, dan ilmu yang membimbing dan mendidik hati sehingga menjadi lapang dan tunduk, keduanya itulah yang disebutkan ayat diatas sebagai akan menyampaiakan kepada derajat yang tinggi.
فضل العالم على العابد كفضلى على ادناكم إن الله عز وجل وملا ئكته واهل السموات والأرضين حتى النملة فى جحرها وحتى الحوت فى البحر ليصلون على معلم الناس الخير .
Artinya: “Kelebihan orang yang berilmu (‘alim) dengan orang yang banyak beribadah (‘abid) seperti kelebihanku dengan seorang yang terendah diantaramu. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla, para malaikat serta penduduk langit dan bumi sampai seekor semut disarangnya atau ikan dilautan, semuanya bersholawat (mengucapkan selamat) kepada seorang guru yang baik”. (HR. Turmudzi).

Hadits diatas menjelaskan bahwa kelebihan orang yang berilmu yang beribadah dengan seorang ahli ibadah seperti kemuliaan Rasulullah dibanding kemuliaan orang yang terendah dikalangan sahabat. Penyamaaan ini menerangkan keharusannya orang yang berilmu beribadah dan orang yang beribadah berilmu. “Bahwa orang yang berilmu lebih utama, dikarenakan jika ia, bukan ahli ibadah, ilmunya akan tetap menjadi perhatian orang kepadanya. Adapun ahli ibadah yang tidak berlimu dengan segala kekurangannya itu ia lebih utama dibanding seorang berpengatahuan (faqih) yang tidak beribadah yang hanya sibuk dengan berbagai urusan “. Demikian komentar Adz Dzahabi.
Kemudian Nabi juga bersabda:

من سلك طريقا يبتغى فيه علما سهل الله له طريقا الى الجنة وإن الملا ئكة لتضع اجنحتها لطالب العلم رضا بما صنع . وإن العالم يستغفر له من في السموات و من فى الأرض حتى الحيتا ن فى الما ء وفضل العا لم على العابد كفضل القمر على سا ئر الكوا كب وان العلماء ورثة الأنبياء وان الأنبياء لم يورثوا دينا را ولا درها ما . انما ورثوا العلم فمن اخذ ه اخذ بحظ وافر( رواه ابوداوود والترميذى)

Artinya: “Siapa yang melalui jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan para Malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar karena senang dengan perbuatan mereka. Sesungguhnya orang alim itu dimintakan ampun oleh peduduk langit dan bumi termasuk ikan-ikan didalam air. Kelebihan seorang alim atas orang yang beribadah bagaikan kelebihan sinar bulan atas seluruh bintang-bintang. Dan sesunguhnya para ulam itu pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, mereka hanya mewarisakan ilmu agama. Maka siapa yang telah mendapatknnya berarti telah mengambil bahagian yang besar.” (HR. Imam Abu Dawud dan At Turmudzi).

IV. ANALISIS
Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.
Keutamaan orang yang berilmu lebih utama daripada orang yang ahli ibadah tetapi tidak berilmu.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin……
DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Imam . Mutiara Ihya’ Ulumuddi. (Jakarta: Mizan. 2008). cet.1

Hamzah, Ibnu Al husaini al Hanafi Ad Damsyiqi. Asbabul Wurud. (Jakarta: Kalam Mulia. 2005). cet. 8

Ibrahim , Syekh bin Ismail. Sarah Ta’limul Muta’allim. (Semarang: Toha Putra. 2000). cet. 2

Juwariyah, Hadits Tarbawi. (Yogyakarta: Teras. 2010). cet. 1

Nawawi, Imam. Terjemah Riyadhus Shalihin, Penerjemah: Achmad Sunarto (Jakarta: Amani. 1999). cet. 4

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s