PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Standar

PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Ilmu Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Ani Hidayati

Disusun Oleh:
M.Riziq Mubarok (103111055)
Nur Khapipudin (103111088)
Zubaidah (103111107)
Ikfina Kamalia Rizqi (103111117)
Muhammad Kholid (103111127)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

I. PENDAHULUAN
Salah satu unsur penting dari proses kependidikan adalah pendidik. Di pundak pendidikan terletak tanggung jawab yang amat besar dalam mengantarkan peserta didik kearah tujuan pendidikan yang di cita-citakan. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan kultural transition yang bersifat dinamis kearah suatu perubahan secara kontinu, sebagai sasaran vital bagi membangun kebudayaan dan peradaban umat manusia.
Dalam hal ini, pendidik bertanggung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, intelektual, moral, etika, maupun kebutuhan fisik peserta didik. Karena demikian pentingnya peserta didik dalam proses pendidikan, selanjutnya dalam makalah ini kami mencoba untuk memaparkan hal tersebut yang berkaitan dengan hakikat pendidik dalam sudut pandang pendidikan Islam.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Pengertian Pendidik dalam Pendidikan Islam
B. Kedudukan Pendidik dalam Pendidikan Islam
C. Sifat-Sifat Pendidik
D. Syarat-Syarat Pendidik
E. Fungsi dan Tugas Pendidik
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidik dalam Pendidikan Islam
Dari segi bahasa, pendidik, sebagaimana dijelaskan oleh WJS. Poerwadarminta adalah orang yang mendidik. Yang berarti bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Dalam bahasa Inggris dijumpai kata seperti teacher yang berarti guru atau pengajar dan tutor yang berarti guru pribadi, atau guru yang mengajar di rumah. Dalam bahasa Arab dijumpai kata ustadz, mudarris, mu’allim, dan mu’addib. Kata asatidz yang berarti teacher (guru), professor (gelar akademik). Jenjang dibidang intelektual, pelatih, penulis, penyair. Adapun kata mudarris berarti teacher (guru), instructor (pelatih) dan lecturer (dosen). Selanjutnya kata mu’allim yang juga berarti teacher (guru), instructor (pelatih), trainer (pemandu). Selanjutnya kata mu’addib berarti educator pendidik atau teacher in Karonik School (guru dalam lembaga pendidikan Al-Qur’an). Dengan demikian, kata pendidik secara fungsional menunjukkan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya.
Adapun pengertian pendidik menurut istilah yang lazim digunakan di masyarakat., diantaranya seperti Ahmad Tafsir, mengatakan bahwa pendidik dalam Islam, sama dengan teori anak didik. Selanjutnya ia mengatakan bahwa dalam Islam, orang yang paling bertanggung jawab tersebut adalah orang tua (ayah-ibu) anak didik, tanggung jawab itu disebabkan oleh dua hal : pertama, karena kodrat, yaitu karena orang tua ditakdirkan bertanggung jawab mendidik anaknya, kedua, karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya.
Guru di sekolah adalah pendidik yang kedua secara teoritis. Mereka menghadapi hal yang sama dengan yang dihadapi orang tua dirumah, yaitu masalah kekurangan waktu. Tanggung jawab sekolah sekarang lebih besar dari pada jaman dahulu karena guru di sekolah harus mengambil alih sebagian tugas mendidik yang tadinya dilakukan oleh orang tua di rumah.
Menurut Ahmad D. Marimba, pendidik adalah seseorang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik, yaitu manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan si terdidik. Secara singkat Ahmad Tafsir mengatakan pendidikan dalam Islam sama dengan teori Barat, yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik.
B. Kedudukan Pendidik dalam Pendidikan Islam
Salah satu hal yang amat menarik pada ajaran Islam adalah penghargaan Islam yang sangat tinggi terhadap pendidiknya. Salah seorang penyair Mesir jaman modern menjelaskan kedudukan guru sebagai berikut :
قف للمعلم وفه كاد المعلم ان يكون رسول
“Berdirilah kamu bagi seorang guru dan hormatilah dia. Seorang guru itu hampir mendekati kedudukan seorang rasul.”
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin dikutip Al-Abrasyi mengatakan : “Seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu, dialah yang bekerja dibidang pendidikan. Sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan sangat penting, maka hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya ini.”
Dan Al-Ghazali menjelaskan bahwa kedudukan yang tinggi ini dengan ucapannya sebagai berikut : “Maka seorang yang alim mau mengamalkan apa yang telah diketahuinya, maka ialah dinamakan seorang besar di semua kerajaan langit. Dia adalah seperti matahari yang menerangi alam-alam yang lain, dia mempunyai cahaya dalam dirinya, dan dia adalah seperti minyak wangi yang mewangikan orang lain, karena ia memang wangi. Siapa-siapa yang memilih pekerjaan mengajar ia telah memilih pekerjaan yang besar dan penting, maka dari itu, hendaklah ia menjaga tingkah lakunya dan kewajiban-kewajibannya.”
C. Sifat-Sifat Pendidik
Dalam pendidikan Islam, seorang pendidik hendaknya memiliki karakteristik yang membedakan dari orang lain. Dengan karakteristiknya, menjadi ciri dan sifat yang akan menyatu dalam seluruh totalitas kepribadiannya. Totalitas tersebut kemudian akan teraktualisasi melalui seluruh perkataan dan perbuatannya. Dalam hal ini, an-Nahlawi membagi karakteristik pendidik muslim kepada beberapa bentuk, yaitu :
1. Mempunyai watak dan sifat rubbaniyah yang terwujud dalam tujuan, tingkah laku, dan pola pikirnya.
2. Bersifat ikhlas, melaksanakan tugasnya sebagai pendidik semata-mata utuk mencari keridhaan Allah dan menegakkan kebenaran.
3. Bersifat sabar dalam mengajarakan berbagai pengetahuan kepada peserta didik.
4. Jujur dalam menyampaikan apa yang diketahuinya.
5. Senantiasa membekali diri dengan ilmu, kesediaan diri untuk terus mendalami dan mengkajinya lebih lanjut.
6. Mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi. Sesuai dengan prinsip-prinsip penggunaan metode pendidikan.
7. Mampu mengelola kelas dan peserta didik, tegas dalam bertindak, dan profesional.
8. Mengetahui kehidupan psikis peserta didik.
9. Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan atau pola pikir peserta didik.
10. Berlaku adil terhadap peserta didiknya.
Sedangkan menurut Muhammad Athiyah Al-Abrosyi menyebutkan tujuh sifat yang dimiliki oleh seorang pendidik Islam :
1. Bersifat zuhud, dalam arti tidak menggunakan kepentingan materi dalam pelaksanaan tugasnya, namun mementingkan perolehan keridhoan Allah.
2. Berjiwa bersih dan terhindar dari sifat atau akhlak buruk, dalam arti bersih secara fisik atau jasmani dan bersih secara mental dan rohani, sehingga dengan sendirinya terhindar dari sifat atau perilaku buruk.
3. Bersikap ikhlas dalam melaksanakan tugas mendidik
4. Bersifat pemaaf
5. Bersifat kebapaan, dalam arti ia harus memposisikan diri sebagai pelindung yang mencintai muridnya serta selalu memikirkan masa depan mereka.
6. Berkemampuan memahami bakat, tabiat dan watak peserta didik
7. Mengusai bidang studi atau bidang pengetahuan yang akan dikembangkan atau diajarkan.
D. Syarat-Syarat Pendidik
Suwarno mengemukakan enam syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pendidik, yaitu :
1. Kedewasaan, Langeveld berpendapat seorang pendidik harus orang dewasa, sebab hubungan anak dengan orang yang belum dewasa tidak dapat menciptakan situasi pendidik dalam arti yang sebenarnya.
2. Identifikasi Norma, artinya menjadi satu dengan norma yang disampaikan dengan anak.
3. Identifikasi dengan anak, artinya pendidik dapat menempatkan diri dalam kehidupan anak hingga usaha pendidik tidak bertentangan dengan kudrat anak.
4. Knowledge, mempunyai pengetahuan yang cukup perihal pendidikan.
5. Skill, mempunyai keterampilan mendidik
6. Attitude, mempunyai sikap jiwa positif terhadap pendidikan.

Al-Kanani mengemukakan persyaratan seorang pendidik, yaitu :
1. Syarat-syarat guru berhubungan dengan dirinya, yaitu :
a. Hendaknya guru insyaf dengan peringatan Allah terhadapnya dalam segala perkataan dan perbuatan bahwa ia memegang amanat ilmiah yang diberikan Allah kepadanya.
b. Hendaknya guru memelihara kemuliaan murid.
c. Hendaknya guru bersifat zuhud.
d. Hendaknya guru tidak berorientasi duniawi dengan menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencapai kedudukan dan kebanggaan atas orang lain.
e. Hendaknya guru menjauhi mata pencaharian yang hina dalam pandangan syara’ dan menjauhi situasi yang bisa mendatangkan fitnah dan tidak melakukan sesuatu yang bisa menjatuhkan harga dirinya didepan orang banyak.
f. Hendaknya guru memelihara syiar-syiar Islam.
g. Guru hendaknya rajin melakukan hal-hal yang disunahkan agama baik lisan maupun perbuatan.
h. Guru hendaknya memelihara akhlak yang memuliakan pergaulannya dengan orang banyak dan menjauhi akhlak yang buruk.
i. Guru hendaknya mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat.
j. Guru hendaknya selalu belajar dan tidak merasa malu untuk menerima ilmu dari orang yang lebih rendah daripadanya.
k. Guru hendaknya rajin meneliti, menyusun, dan mengarang dengan memperhatikan keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk itu.

2. Syarat-syarat yang berhubungan dengan pelajaran dan peserta didik, yaitu :
a. Sebelum keluar rumah untuk mengajar guru hendaknya bersuci dari hadas dan kotoran serta menggunakan pakaian yang baik dengan maksud mengagungkan ilmu dan syari’at.
b. Ketika keluar rumah, hendaknya guru selalu berdo’a agar tidak tersesat dan menyesatkan dan terus berdzikir kepada Allah sebelum mengajar.
c. Memotovasi peserta didik untuk menuntut ilmu seluas mungkin.
d. Menyampaikan pelajaran dengan bahasa yang mudah dan berusaha agar peserta didiknya memahami pelajaran.
e. Evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya.
f. Bersikap adil terhadap peserta didik.
g. Berusaha memenuhi kemaslahatan peserta didik.
h. Terus memantau perkembangan peserta didik, baik intelektual maupun akhlaknya.
E. Fungsi dan Tugas Pendidik
Fungsi dan peranan pendidik dalam penyelenggaraan pendidikan Islam menduduki posisi strategis dan vital. Pendidik yang terlibat secara fisik dan emosional dalam proses pengembangan fitrah manusia didik baik langsung ataupun tidak akan memberi warna tersendiri terhadap corak dan modal sumberdaya manusia yang dihasilkannya. Oleh karena itu disamping sangat menghargai posisi strategi pendidik, Islam telah menggariskan fungsi, peranan, dan kriteria seorang pendidik.
Menurut Suhairini, dkk dalam melaksanakan pendidikan Islam, peranan pendidik sangat penting, karena dia yang bertanggung jawab dan menentukan arah pendidikan tersebut. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang berilmu pengetahuan yang bertugas sebagai pendidik. Pendidik mempunyai tugas mulia, sehingga Islam memandang pendidik mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan dan bukan sebagai pendidik. Hal ini didasarkan pada surat Al-Mujaddalah (58) ayat 11 :
…          ………..
“………….. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……………………..” (QS. Al-Mujaddalah : 11)
Pendidik sangat mengemban tugas berat dan mulia, tugas penyelamatan kehidupan manusia agar selalu berada dalam lingkaran ketentuan Allah. Sebagai pengembang fitrah kemanusiaan anak atau peserta didik, maka pendidik harus memiliki nilai lebih dibanding si terdidik. Tanpa memiliki nilai lebih, sulit bagi pendidik untuk dapat mengembangkan potensi peserta didik, sebab itu akan kehilangan arah, tidak tahu kemana fitrah anak didik dikembangkan, serta daya dukung apa yang dapat digunakan. Nilai lebih yang harus dimiliki oleh seorang pendidik Islam mencakup tiga hal pokok, yaitu pengetahuan, keterampilan dan kepribadian yang didasarkan nilai-nilai ajaran Islam.
Mengenai tugas pendidik lebih lanjut dijelaskan oleh S. Nasution menjadi tiga bagian. Pertama, sebagai orang yang mengkomunikasikan pengetahuan. Dengan tugas ini, maka guru harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bahan yang akan diajarkannya. Kedua, guru sebagai model, yaitu dalam bidang studi yang diajarkannya merupakan sesuatu yang berguna dan dipraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga guru tersebut menjadi contoh nyata dari yang dikehendaki oleh mata pelajaran tersebut. Ketiga, guru juga menjadi model sebagai pribadi, apakah ia berdisiplin, cermat berpikir, mencintai pelajarannya, atau yang mematikan idealisme dan picik dalam pandangannya.
Dari ketiga fungsi guru tersebut, tergambar bahwa seorang pendidik selain orang yang memiliki pengetahuan yang akan diajarkannya, juga seorang yang berkepribadian baik, berpandangan luas, dan berjiwa besar.
IV. KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pendidik adalah komponen yang sangat penting dalam sistem pendidikan, karena ia yang mengantrakan peserta didik pada tujuan yang telah ditentukan, bersama komponen-komponen lainyang terkait. Pendidik mempunyai kedudukan yang amat mulia, maka dari itu ia dijadikan sosok yang dapat memberikan contoh bagi peserta didik baik dari tingkah laku, maupun sifatnya, serta membimbing dan memotivasi anak didiknya agar dapat menyongsong masa depan yang lebih baik.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang kami buat dan kami sampaikan. Kami menyadari bahwa pada makalah ini banyak terdapat kekurangan, baik dalam penulisan, pencarian data ataupun dalam penyampaian. Untuk itu kami mohon saran dan kritik yang konstruktif guna perbaikan pada makalah kami selanjutnya. Semoga makalah yang kami buat ini bermanfaat bagi kita semua, baik di dunia maupun di akhirat, Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Rasyidin, Samsul Nizar, Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat Press, 2005.
Fahmi, Asma Hasan, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1979.
Jalaludin, Teologi Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001.
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997.
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2005.
Rosyadi, Khoron, Pendidikan Profetik, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004.
Syar’I, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus, 2005.
Tafsir, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Remaja Rosda Karya, 2006.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s