PENGARUH TAHKIM ANTARA ALI DAN MUAWIYAH PADA UMAT ISLAM WAKTU ITU

Standar

PENGARUH TAHKIM ANTARA ALI DAN MUAWIYAH PADA UMAT ISLAM WAKTU ITU

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Drs. Mat Sholihin, M.Ag

Disusun oleh:
Muhammad Nurul Hukma (103111071)
Muharrom Iksan Wahid (103111072)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

I. PENDAHULUAN
Di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib kerap terjadi kekacauan dimana-mana. Peristiwa pembunuhan kholifah sebelumnya adalah penyebab utama dari kekacauan yang terjadi. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat muslim terjadi antara Ali dengan Aisyah yang disebut dengan perang Jamal dan Ali dengan Muawiyah yang disebut perang Siffin. Sebenarnya dalam perang Siffin khalifah Ali dapat memenangi peperangan, namun karena kelicikan Muawiyah yang mengajak khalifah Ali untuk berdamai dengan cara membuat suatu perjanjian atau yang disebut Tahkim, maka khalifah Ali pun kalah dan banyak pengikutnya yang memisahkan diri dari kelompok Ali. Dan sejak kejadian tahkim itulah umat Islam terpecah.
Untuk itu, pada makalah ini kami akan sedikit memaparkan mengenai pengaruh tahkim terhadap umat Islam dimasa itu dengan rumusan masalah seperti dibawah ini.
I. RUMUSAN MASALAH
A. Sebab-sebab terjadinya tahkim?
B. Proses tarjadinya tahkim?
C. Pengaruh tahkim terhadap umat Islam pada masa itu?
II. PEMBAHASAN
A. Sebab-sebab terjadinya tahkim
Sebagai khalifah yang ke-4, sayidina Ali memerintah selama sekitar 6 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat khalifah Usman ibn Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara sesama umat muslim terjadi antara khalifah Ali dengan 20.000 pasukan, melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair ibn Awwam, Talhah ibn Ubaidilah, dan Ummul mukminin Aisyah binti Abu Bakar, yang dinamakan dengan perang Jamal . Perang ini dimenangkan oleh sayidina Ali bin Abi Tholib.
Setelah pemberontakan yang dilakukan oleh Aisyah dalam perang Jamal dapat dimenangkan, kemudian khalifah Ali berangkat menuju Syria Utara untuk menghadapi Muawiyah. Menjelang penghujung bulan Zulhijjah tahun 36 H/657 M, iapun berangkat dengan pasukan gabungan menyusuri sungai Euphrate arah ke utara dengan kekuatan 95.000 orang. Dan ternyata Muawiyah telah lebih dahulu bergerak dengan pasukan berkekuatan 85.000 orang guna mempertahankan wilayah Syiriah Utara.
Setelah khalifah Ali membangun garis pertahanannya di Siffin, maka khalifah Ali masih mengandung harapan untuk mencapai penyelesaian dengan jalan damai. Iapun mengirim pasukan kepada Muawiyah dibawah pimpinan panglima Basyie ibn Amru untuk melakukan perundingan dengan Muawiyah.
Namun jawaban akhir dari pihak Muawiyah pada akhir bulan Muharram tahun 37 H/658 M adalah menolak untuk mengangkat bai’at dan sebaliknya, menuntut balik Ali bin Abi Tholib serta para pengikutnya untuk mengangkat bai’at terhadapnya. Dengan begitu perundingan yang dilakukan oleh khalifah Ali menuai jalan buntu, dan masing-masing pihak mengumumkan perang.
Perang Siffin terjadi pada bulan Shafar tahun 37 H/658 M. Pada mulanya perang-perang tanding selama 7 hari dengan korban berguguran pada masing-masing pihak. Pada hari yang ke-8 pecahlah pertempuran secara total. Pasukan melawan pasukan gemericing suara pedang dan anak panah yang berterbangan layaknya hujan yang mengguyur terjadi dimana-mana. Dalam pertempuran itu Umar ibn Yasir tewas. Kematian tokoh yang dihormati itu membangkitkan semangat tempur yang tiada terkira dari pihak pasukan khalifah Ali.
Pasukan demi pasukan dari pihak Muawiyah menderitakan desakan yang tidak tertahankan. Dalam pertempuran itu korban tercatat kira-kira 80.000 orang, 35.000 dari khalifah Ali dan 45.000 dari kelompok Muawiyah.
Pada saat yang terdesak itulah , pada saat tanda-tanda kehancuran telah membayangi pasukan Muawiyah, lantas Amru bin Ash memberikan sebuah anjuran kepada Muawiyah supaya mengangkat Mushaf Al-Qur’an pada ujung tombak, sambil menyerukan : “marilah ber-tahkim pada kitabullah!”.
Dan anjuran itu diterma baik oleh pihak Muawiyah dan kemudian memerintahkan kepada anggota-anggota pasukanya untuk meniru apa yang ia lakukan. Dan kemudian mereka beramai-ramai berteriak tiada henti-hentinya : “marilah kita ber-tahkim pada kitabullah!”.
Sebagian besar dari pasukan Ali menghentikan kuda dan untanya dan menurunkan pedang mereka demi mendengarkan seruan itu dan menyaksikan sekian banyaknya Mushaf Al-Qur’an berayun-ayun di udara .
Khalifah Ali mendorong pasukanya itu untuk terus bertempur meski musuh mereka meminta ber-tahkim, sambil berteriak : “Umdhu ala haqqi-kum ! fa-wa’llahi, ma rafa’uha illa makidatan wa khid’atan !” yang artinya : “lanjutkan tugas kamu ! demi allah, mereka mengangkat Mushaf itu tidak lain tidak bukan untuk sekedar kicuhan dan tipuan perang”.
Tetapai sebagian pasukannya itu menjawab : “jikalau mereka telah meminta ber-Tahkim kepada kitabullah, apakah layak untuk tidak menerimanya ?”.
Dan pada saat itulah timbul selisih pendapat dari pasukan khalifah Ali yang semakin lama makin tajam dan buntu. Bahkan mereka menuntut khalifah Ali supaya memerintahkan panglima besar Asytar Al Nakhi, yang dengan pasukanya masih melanjutkan pertempuran dan mendesak pasukan lawan, supaya menghentikan pertempuran tersebut.
Pada saat khalifah Ali tidak hendak juga memberikan perintah serupa itu, maka salah seorang dari panglima-panglima besar itu, Mus’ar ibn Fuka Al Tamimi memperdengarkan ancamanya. dan pada saat itu khalifah Ali dihadapkan kepada perlawanan pihak pasukanya sendiri hingga mau tidak mau ia terpaksa tunduk.
Iapun mengirimkan seseorang kepada panglima Asytar untuk menyampaikan perintahnya yang pada mulanya ditolak dengan keras karena lawanya sudah mendekati kehancuran.
B. Proses terjadinya tahkim
Setelah genjatan senjata di perang siffin itu diumumkan maka perundingan dibuka kembali. Khalifah Ali mengirimkan perutusan dibawah pimpinan Emir Asy’asy ibn Kaiss Al kindi untuk memintakan penjelasan sikap dan pendirian Muawiyah.
Dan jawaban daru pihak Muawiyah berbunyi : “mari kita pulang kembali, pihak kamu dan pihak kami, kepada apa yang kamu perintahkan Allah di dalam kitabNya. Kamu menunjuk seseorang yang kamu sukai dan kami menunjuk seseorang yang kami sukai. Kita sama-sama menyerahkan wewenang kepada keduanya untuk menemukan penyelesaian sepanjang ketentuan didalam kitab Allah. Dan kita semuanya dipihak kamu dan pihak kami, mematuhi setiap persetujuan yang dicapai oleh keduanya.”
Dan Emir Asy’asy dapat menyetujui gagasan itu. Dan gagasan itu dibawa pulang kepada pihak khalifah Ali dan semua pihak menyatakan persetujuanya. Bermakna kedua belah pihak sama-sama menyerahkan penyelesaian melalui jalan arbitrase dengan pembentukan majlis tahkim.
Penunjukkan hakim.
Setelah gagasan yang disampaikan oleh pihak Muawiyah diterima oleh pihak khalifah Ali, maka muncullah masalah baru yakni hakim arbitrase yang akan duduk didalam majlis tahkim itu. Di pihak Muawiyah menunjuk Amru ibn Ash, yakni seorang cendekiawan arab terbesar, untuk menjabat hakim arbitrase dari pihaknya dengan wewenang dan kekuasaan penuh. Dan penunjukan itu diterma dengan suara bulat penuh oleh para pendukungnya.
Tetapi pada pihak khalifah Ali terjadi sengketa pendapat bagi penunjukkan hakim arbitrase yang akan mempunyai wewenang dan kekuasaan penuh itu. Sebagian besar dari para pendukung khalifah Ali menuntut supaya khalifah Ali menunjuk dan mengangkat Abu Musa Al Asyari.
Dan di pihak khalifah Ali sendiri menyatakan keberatan dengan pendapat sebagian pendukungnya itu, khalifah Ali mengemukakan alasan keberatanya tersebut khalifah Ali paham betul siapa yang akan dihadapi oleh Abu Musa Al Asyari. Dia adalah seorang cendekiawan arab yang terkenal licin dalam catur perundingan.
Khalifah Ali sendiri menaruh hormat terhadap Abu Musa Al Asyari, seseorang yang lebih mengutamakn agamawi dari pada duniawi. Dan sejak semula sudah menganut pendirian jalan damai bagi penyelesaian setiap sengketa. Akan tetapi, Abu Musa Al Asyari bukan tandingan Amru ibn Ash didalam catur perundingan.
Tetapi setelah dijelaskan panjang lebar para pendukung khalifah Ali tetap bersikeras untuk mengajukan Abu Musa Al Asyari, dan dengan terpaksa khalifah Ali menyetujuinya.
Proses pembentukan majlis tahkim
Dengan ditetapkanya Amru ibn Ash sebagai wakil mutlak dari pihak Muawiyah, ia mendatangi khalifah Ali untuk merundingkan hal-hal yang bersangkutan dengan pembentukan majlis tahkim. Dan hasil perundungan itu merupakan perjanjian antara kedua belah pihak.
Para pemuka penduduk Irak dan para pemuka penduduk Syam membubuhkan tanda tangan pada surat perjanjian yang telah dibuat itu. Surat perjanjian itu disetujui pada tanggal 13 Shafar 37 H. Dengan perjanjian yang telah ditanda tangani tersebut terbentuklah majlis tahkim.
Pada sidang pertama yang dilakukan diidalam majlis tahkim persetujuan pertama adalah mengundurkan perundingan hingga bulan Ramdhan tahun 37 H/658 M.
Di dalam masa pengunduran yang panjang tersebut di harapkan gejolak perasaan yang tengah panas itu akan dingin, hingga pihak kedua hakim tersebut akan dapat berunding lebih tenang dalam suasana yang tentram.
Mengenai tempat perundingan pada bulan Ramadhan itu tercapai suatu persetujuan, yaitu suatu tempat yang terletak antara Irak dan Syam, dan pilihan jatuh pada kota kecil Adzroh , dan kedua belah pihak menerima keputusan majlis tahkim tersebut.
Kegagalan majlis tahkim
Setelah perang Siffin diakhiri dengan pembentukan majlis tahkim, maka kedua belah pihak pulang kembali ke daerah masing-masing dengan meninggalkan beribu-ribu korban jiwa dan para korban itu dikebumikan secara masal.
Dan pada perjalanan pulang tersebut diantara pasukan khalifah Ali memisahkan diri, mereka tidak hendak langsung pulang ke Kufah,tapi mereka menuju sebuah tempat yang bernama Harurak di dalam wilayah Kufah. Mereka dipimpin oleh panglima Hurkus ibn Zuhair Al Tamimi. Dan inilah pertumbuhan awal dari kelompok Khawarij.
Dalam masa pengunduran yang panjang itu pihak Muawiyah ibn Abi Sofyan mengirimkan utusan kepada Abu Musa Al Asyari di Kufah untuk membawa sebuah surat yang isinya bahwa Muawiyah ingin mempermudah perundingan. Tapi surat Muawiyah bertepuk sebelah tangan dan Abu Musa Al Asyari menolak tawaran yang dilakukan oleh Muawiyah.
Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga. Pada bulan Ramadhan 37 H/658 M, bermula sidang majlis di Adzroh, wilayah Dumatil Jindal. Khalifah Ali mengirimkan 400 orang untuk menghadirinya dan mendengarkan hasil keputusan. Akan tetapi khalifah Ali sendri tidak turut hadir. Di pihak Muawiyah juga mengirimkan 400 orang untuk menghadiri dan mendengar keputusan. Dan Muawiyah sendiri hadir pada acara itu.
Setelah sekain lama berunding akhirnya tibalah waktunya untuk membacakan hasil dari perundingan itu sendiri .
Yang pertama membacakan hasil perundingan itu adalah Abu Musa Al Asyari dari pihak khalifah Ali. Sewaktu ia akan menyampaikan hasil perundingan ia dicegat oleh Abdullah ibn Abbas, dan berkata : “terlalu sekali ! menurut anggapanku bahwa dia menipu Anda. Mintalah dia supaya dia berbicara lebih dahulu dari pada Anda.”
Akan tetapi Abu Musa tidak menghiraukan teguran itu. Iapun naik ke atas mimbar dan berkata : “hai, oaring banyak sekalian! Kami telah meneliti urusan umat sekarang ini, kami tidak menampak jalan yang lebih baik bagi penyelesaiannya, dan di dalam hal ini kami sependapat, kecuali memakzulkan Ali dan Muawiyah dan lalu menyerahkan kepentingan masa depan dari umat sekarang ini kepada ikhtiar mereka sendiri untuk memilih seseorang yang disenangi untuk menjabat sebagai khilafah. Maka aku, dengan ini menyatakan Ali dan Muawiyah makzul dari jabatanya. Silahkan pilih mana yang kamu pandang layak menjadi khilafah.”
Kemudian tibalah waktunya Amru ibn Ash naik ke atas mimbar dan membacakan hasil dari perundingan tersebut, iapun berkata : “hai, orang sekalian ! kamu telah mendengar apa yang telah diucapkan oleh wakil mutlak dari pihak Ali. Ia telah memakzulkan Ali, dan saya mengukuhkan pemakzulan itu. Dengan begitu Cuma tinggal seorang pemangku khilafat dalam dunia Islam, yakni sahabatku Muawiyah ibn Abi Sofyan, yang mengakui hak untuk menuntutkan bela atas darah Utsman karena dialah Wali yang sah dari Utsman. Saya mengukuhkan jabatanya sebagai pemangku khilafah.”
Suasana pertemuan lantas hiruk-pikuk dan kacau balau, Abu Musa yang mendengar perkataan yang diucapkan oleh Amru ibn Ash sangat germ dan kecewa lalu ia memperdengarkan reaksinya yang sangat pedih dan tajam, berbunyi : “engkau hai Amru telah berbuat culas dan fasik !.”kemudian ia pergi dari tempat itu dengan unta menuju tempat suci Makkah. Ia merasakan sudah ditipu dan dipermainkan.
Peristiwa itu amat melukai hatinya yang sangat dalam sekali. Dengan begitu, iapun tidak mampu menghadapkan mukanya kepada khalifah Ali.
Sedangkan di pihak Muawiyah mereka pulang kembali ke Syiria. Dan pihak Ali pulang kembali ke Irak. Dengan begitu kekalahan pada pihak Muawiyah yang sudah di depan mata dapat dihindari dengan tipu daya yang di lakukan oleh Amru ibn Ash, dengan cara membuat suatu perjanjian yang disebut tahkim.

C. Pengaruh tahkim rehadap umat islam pada masa itu
Setelah kegagalan pada majlis tahkim itu maka para pendukung khalifah Ali terpecah menjadi tiga. Pertama, pihak yang makin bertambah fanatic terhadap khalifah Ali karena terbukti segala apa yang dinyatakan oleh khalifah Ali di Siffin itu adalah benar semuanya, dan kelompok inilah yang dikenal dengan kelompok Syiah. Dan pada perkembanganya kelompok ini menjadi sebuah sekte syiah.
Kedua, pihak yang mengangkat bai’at terhadap khalifah Ali akan tetapi sejak semula sudah menganut pendirian untuk membebaskan pendirian untuk membebasan diri dari setiap sengketa bersenjata antara sesama Islam, dan mereka ini dikenal dengan kelompok atau aliran Murjiat.
Dan yang ketiga adalah pihak yang suda kehilangan kepercayaan terhadap khalifah Ali ibn Abi tholib dan kehilangan kepercayaan terhadap Muawiyah ibn Abi sofyan, lantas membebaskan diri dari kekuasaan sentral manapun juga, dan mereka membentuk kelompok merdeka yang dikenal dengan kelompok Khawarij.
Kemudian terpecahlah umat Islam dalam berbagai kelompok-kelompok yang membenarkan kelompok mereka sendiri dan menyalahkan kelompok yang tidak sependapat dengan kelompok mereka.
Inilah akibat terjadinya tahkim yang terjadi pada perang Siffin, dan itu mempengaruhi kerukunan antar umat Islam yang telah terjadi hingga umat Islam terpecah menjadi berbagai kelompok.
Pertempuran di Nahrawan
Kegagalan majlis tahkim itu telah mendorong khalifah Ali untuk mempersiapkan suatu pasukan besar, semenjak syawal tahun 37 H/658 M sampai Muharram tahun 38 H/659 M,, guna menghadapi Muawiyah ibn abi sofyan di Syiria. Kedudukan Muawiyah di Syiria itu, apalagi membentuk khilafat sendiri, di pandang khalifah Ali sebagai suatu ikhtiar untuk memecah belah ummat Islam. Itu merupakan duri dalam daging bagi pemulihan kesatuan ummat Islam kembali.
Pada akhirnya terbentuklah suatu kekuatan besar, berjumlah 70.000 tenaga tempur. Akan tetapi pada saat itu pengacauan dan perusuhan kelompok Khawarij telah menjadi-jadi di lembah Euphate.
Tersebab itu terjadi perbedaan pendapat antara khalifah Ali dengan para panglima pasukan. Khalifah Ali ingin membiarkan perusuhan itu buat sementara waktu dan langsung mengarahkan seluruh pasukan ke Syiria. Akan tetapi para panglima berpendapat bahwa perusuhan Khawarij harus ditumpas terlebih dahulu supaya kelak tidak digunakan lawan untuk menikam dari belakang.
Akhirnya khalifah Ali terpaksa setuju kepada tuntutan para panglima. Khalifah Ali menggerakkan pasukan besar untuk membasmi kaum Khawarij, dan kedua pasukan bertemu di lembah Nahrawan, terletak di pinggir sungai Tigris.
Sebelum perang diumumkan, khalifah Ali masih punya harapan untuk menyadarkan kaum Khawarij itu. Setelah khalifah Ali berbicara di depan kaum Khawarij, sebagaian besar dari mereka kembali pada kelompok khalifah Ali dan hanya sebagian kecil yang tetap dengan pendirian mereka bahwa di luar kelompok mereka adalah kaum kufur dan kaum bid’ah.
Dengan begitu pecahlah pertempuran yang tak dapat terhindarkan, dan pertempuran ini dikenal dengan sebutan pertempuran di Nahwaran. Korban di pihak khalifah Ali tidak terkirakan jumlahnya, sedangkan di pihak Khawarij hampir tewas selurunya hanya sekelompok kecil yang sempat meluputkan diri dan bersebar.
Peristiwa itu di dalam tahun 38 H/659 M. Pasukan besar pihak khalifah Ali menderita pukulan yang sangat dahsyat sekali hingga menyebabkan kelumpuhan untuk bisa digerakkan ke Syiria.
Pertempuran di Mesir
Berita tentang persiapan besar khalifah Ali untuk menyerang Syiria telah menyebabkan khalifah Muawiyah di Damaskus menggerakan persiapan pasukan pula guna menghadapi dan menangkisnya.
Setelah persiapan selesai, ternyata pasukan besar dari pihak khalifah Ali terlibat dalam pertempuran dengan kaum Khawarij di Nahrawan. Khalifah Muawiyah mengikuti jalanya perang itu dengan cara mengirimkan utusan-utusan khusus untuk memperoleh berita secepatnya. Pada akhirnya khalifah Muawiyah tahu bahwa pasukan khalifah Ali menderita pukulan yang sangat besar karena banyak dari pasukanya yang terbunuh di medan pertempuran itu. Untuk sementara waktu terbebaslah wilayah Syiria dan Palestina dari suatu ancaman.
Setelah Amru ibn Ash mengetahui bahwa khalifah Ali tidak jadi menyerang Syria, ia meminta kepada khalifah Muawiyah untuk memberinya pasukan guna merebut Mesir dan Tripoli dibawah kekuasaan khalifah Ali, dan khalifah Muawiyah memberikan 6000 tenaga tempur kepadanya. Panglima Amru sudah merasa senang dengan jumlah kekuatan itu karena panglima Amru mendapat bantuan dari panglima Mussalamah ibn Mukhalid dan panglima Muawiyah ibn Hudaji, yakni pasukan Muhammad ibn Abi bakar, yang menjabat Al Wali di wilayah Mesir dan Tripoli.
Pada saat panglima Amru ibn Ash hendak melancarkan serangan ke daerah Mesir dan Tripoli, panglima Muhammad ibn abu bakar yang telah mengetahuinya meminta bantuan kepada khalifah Ali. Khalifah Ali hanya mengirim bala bantuan yang sangat terbatas di bawah pimpinan panglima Asytar Al Nakhi karena pasukan khalifah Ali banyak yang terbunuh di pertempuran Nahrawan melawan Khawarij.
Khalifah Muawiyah yang mengetahui keberangkatan panglima Asytar mengirimkan utusan gelapnya untuk meracun panglima Asytar. Rencana khalifah Muawiyah itu berjalan lancar. Panglima Asytar tewas dan pasukanya kacau balau dan sebagian besar dari mereka pulang kembali ke Irak dan sebagian kecil yang melanjutkan perjalanan mereka untuk membantu panglima Muhammad ibn Abi bakar.
Sekalipun bala batuan sangat kecil namun panglima Muhammad tetap bertekad mempertahankan Mesir dan Tripoli dari tangan panglima Amru ibn Ash. Karena ia percaya pasukanya itu cukup tangguh. Pertempuran sengit pecah di Bilbis. Pada saat pertempuran pada puncaknya, maka dua pasukan yang berada di bawah pimpinanya itu melakukan tikaman dari belakang yang membuat pertahanan kacau balau dan porak poranda karena mendapat serangan dari segala penjuru. Pangliama Amru lantas memberikan pukulan yang cukup telak yang menghancurkan pasukan Muhammad ibn Abi bakar dan membuat sisa-sisa pasukannya bersebar dan meluputkan diri. Panglima Muhammad sendiri sempat meluputkan diri, namun sebuah pasukan yang ditugaskan untuk mencari dan mengejarnya di bawah pimpinan panglima Muawiyah ibn Hudaj, berhasil menemukan dan membunuhnya.
Tragedi di Kaufah
Akhir dari kegagalan majlis tahkim adalah tragedi Kaufah yakni sebuah pemufakatan gelap yang dilakukan oleh pihak Khawarij untuk membunuh tiga orang yang dianggap pangkal perpecahan ummat Islam pada masa itu yakni Muawiyah, Ali, dan Amru. Pada akhirnya terjadilah pemufakatan gelap diantara tiga orang tokoh kelompok Khawarij itu adalah Abduraahman ibn Muljam Al Muradi, Amru ibn Bakar Al Tamimi, dan Hujaj ibn Abdillah Al Shuraimi.
Mereka bermaksud mengakhiri sengketa itu, dan jalan satu-satunya adalah dengan cara membunuh ketiga tokoh tersebut. Dan tugas itu dilaksanakn oleh mereka sendiri Hujaj ibn Abdilah memilih Muawiyah ibn Abi Sofyan, Amru ibn Bakar memilih Amru ibn Ash, dan Abdurahman ibn Muljam memilih Ali ibn Abi Tholib.
Pembunuhan ketiga-tiganya dilakukan pada tiga ibu kota yakni Damaskus, Fushtat, dan Kaufah. Dan pembunuhan harus dilaksanakan dengan serentak. Pilihan mereka adalah pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H/661 M, yakni pada saat shalat subuh.
Insiden di Damaskus
Hujaj telah berada di Damaskus sebelum tanggal yang telah disepakati. Ia berangkat sebagai seorang saudagar, ikut dalam suatu rombongan kafilah dagang. Menjelang hari yang telah disepakati, ia menyelidiki gerak-gerik Muawiyah menjelang sholat subuh beserta jalan yang di tempuhnya menuju masjid agung di Damaskus. Iapun mempersiapkan pedang tajam yang pada ujung pedangnya diberi racun. Jikalau tidak langsung mati oleh pedang itu setidak-tidaknya mati oleh ujung pedang yang ada racunya itu.
Dan pada dini hari dan tanggal yang telah ditentukan itu, Hujaj pun melakukan aksinya. Karena pengawalan yang dilakukan terhadap khalifah Muawiyah,maka Hujaj pun menyerang dari depan secara mendadak. Namun karena pengawalan yang ketat, maka Hujaj hanya bisa melukai khalifah Muawiyah dan tidak sempat menusukkan pedangya, karena ia segera tertangkap oleh pengawal, dan keesokan harinya ia dijatuhi hukuman mati.
Insiden Fusthat
Amru ibn Bakar telah berada di Fusthat sbelum tanggal yang telah disepakati, iapun melancarkan aksinya, namun karena beberapa hari belakangan kondisi kesehatan Amru ibn Ash kurang sehat, maka iapun meminta panglima Kharijah ibn Habibat untuk mengimami sholat subuh.
Dan pada waktu yang telah disepakati itu Amru ibn Bakar ikut shalat subuh. Pada saat sujud iapun melompat dan menusukan pedangnya berulang kali ke tubuh Al imam, yang dikira Amru ibn Ash.
Dan ia berhasil ditangkap pada keesokan harinya akan tetapi panglima Kharijah tewas ditempat. Sewaktu dia dibawa kedepan panglima Amru ibn Ash, iapun menangis, sewaktu panglima Amru ibn Ash menanyakan kenapa ia menangis, iapun menjawab : “aku menyesali kegagalanku,pada saat kedua temanku telah berhasil membunuh Muawiyah dan Ali, akan tetapi disini aku menderita kegagalan.” dan pagi itu ia langsung dihukum mati.
Insiden Kufah
Abdurahman ibn Muljam telah berada di Kaufah sebelum tanggal yang telah disepakati, iapun melancarkan aksinya dan tidak seperti kedua temanya, ia tanpa mengalami kesulitan berarti dapat membunuh khalifah Ali Ia beroleh tusukan beberapa kali. Kemudian khalifah Ali segera mendapat pertolongan dari para jamaah yang melihat kejadian itu. Dua hari kemudian,khalifah Ali menghembuskan nafas terakhirnya karena akibat luka-luka yang dideritanya.
Kemarahan orang tidak terkira-kira terhadap Abdurahman ibn Muljam. Mereka menyiksanya dengan berbagai siksaan dan terakhir kali ia memotong anggota tubuhnya satu persatu hingga tewas.
Dengan meninggalnya khalifah Ali maka berakhir pula sejarah daulah Khulafaur Rasyidin. Khalifah Ali sendiri berkuasa selama 4 tahun 9 bulan, ia wafat pada usia 63 tahun.

III. KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa pengaruh tahkim rerhadap umat Islam pada waktu itu, terjadi karena beberapa sebab yakni terjadinya saling tidak percaya dalam diri umat kepada para pemimpin mereka, juga karena kelicikan seseorang dalam berdiskusi. Akibatnya adalah kekesalan umat terhadap pemimpin mereka, hingga akhirnya umat Islam terpecah belah menjadi beberapa kelompok.

IV. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan mengenai pembahasan tentang pengaruh tahkim pada umat Islam pada waktu itu. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan baik dalam isi maupun sistematika penulisanya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapa bermanfaat bagi kita semua, Amin……

DAFTAR PUSTAKA
Murad, Musthafa, kisah hidup Ali ibn Abi Thalib, (Jakarta : 2009), cet .1
Sou’yb, Joesoef, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, (Jakarta : 1979), cet. 1
Syalabi, A, sejarah dan kebudayaan Islam, (Jakarta : 1997), cet .9
Syukur, Fatah, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang : 2010), cet.2

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s