PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM DI BAGHDAD, KAIRO, ISFAHAN, DAN ISTAMBUL

Standar

PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM
DI BAGHDAD, KAIRO, ISFAHAN, DAN ISTAMBUL

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam 2
Dosen Pengampu: DR. Muslih MZ, M. A

Disusun oleh:
Noor Aini (103111083)
Nova Fitri Rifkhiana (103111084)
Nur Hayati (103111085)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
I. PENDAHULUAN
Peradaban adalah suatu proses perubahan cara hidup manusia. Kemajuan yang di capai dalam aspek bahasa, kesenian, ilmu pengetahuan, sosial, politik, hukum dan agama. Prosesnya berjalan secara berangsur-angsur dalam waktu yang lama.
Peradaban Islam pada mulanya mulai dari zaman Rasulullah SAW sampai abad ke-12 M telah berhasil gemilang dengan membangun peradaban-peradabannya yang untuk melahirkan sejarawan kelas dunia. Di permukaan alam dunia ini pernah timbul beberapa peradaban, tetapi kemudian menghilang dan sirna. Begitu pula dengan bangsa-bangsa yang dulunya begitu besar dan jaya lama kelamaan menjadi kecil dan akhirnya lenyap, dan digantikan dengan bangsa baru timbul makin lama makin maju dan menjadi bangsa yang besar pula, hingga pada suatu ketika dengan pengalaman-pengalaman itu menjadikan manusia menjadi matang untuk menerima kemajuan yang sesungguhnya dalam segala bidang.
Pada waktu Islam datang seluruh dunia sedang mengalami kemunduran di semua bidang dan lapangan. Belum berlalu masa seratus tahun, Islam telah menegakkan dan memperbaharui serta meluruskan paham agama-agama yang telah lalu, ilmu pengetahuan yang tinggi dan meyakinkan, peradaban yang membawa kebahagiaan dan politik yang selalu menguntungkan, yang semuanya telah disiarkan di seluruh dunia dengan cepat dan penuh kebenaran.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Peradaban Islam di Kota Baghdad?
B. Bagaimana Peradaban Islam di Kota Kairo?
C. Bagaimana Peradaban Islam di Kota Isfahan?
D. Bagaimana Peradaban Islam di Kota Istambul?

III. PEMBAHASAN
A. Peradaban Islam di Kota Baghdad
Negara yang berada di bagian barat daya Asia ini, memiliki batas-batas wilayah: di selatan berbatasan dengan Kuwait dan Arab Saudi, di sebelah utara berbatasan dengan Turki, di bagian barat dengan Yordania dan Syiria, di utara dengan Turki, dan di timur dengan Iran. Irak berada tepat di bagian timur wilayah Bulan Sabit Subur yang dulu sering disebut daerah Mesopotamia- kosa kata Yunani yang berarti “lahan di antara dua sungai”: Sungai Tigris dan Sungai Efrat. Kedua aliran sungai ini sangat mempengaruhi pola kehidupan dan lingkungan penduduk Irak dari masa ke masa.
Didirikan oleh Khalifah Abbasiyah kedua, yaitu Al- Manshur (754-755 M) pada tahun 763 M dan di jadikan sebagai ibu kota pemerintahannya. Terletak di pinggir Sungai Tigris. Menurut cerita rakyat, daerah ini sebelumnya adalah tempat peristirahatan Kisra Anusyirwan, seorang raja Persia yang masyhur, di musim panas. Baghdad sendiri mempunyai arti “Taman Keadilan”. Masa keemasan Kota Baghdad terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al- Rasyid (786- 806 M) dan anaknya Al-Ma’mun (813-833 M).
Peradaban yang dicapai pada masa Khalifah Al- Manshur diantaranya pada pembangunan fisik, dengan mendesain kota ini berbentuk bundar, yang di sekililingnya dibangun dinding tembok yang besar dan tinggi. Di sebelah luar dinding tembok digali parit besar yang berfungsi sebagai saluran air dan sekaligus sebagai benteng. Disediakannya empat buah pintu gerbang di sekitar kota ini untuk setiap orang yang ingin memasuki kota ini. Keempat pintu gerbang itu adalah Bab al- Kufah yang terletak di sebelah barat daya, Bab al- Syam di barat laut, Bab al- Bashrah di tenggara, dan Bab al- Khurasan di timur laut. Di masing-masing pintu gerbang di bangun 28 menara untuk tempat pengawal negara yang mengawasi keadaan di luar. Terdapat tempat peristirahatan dengan ukiran indah dan menyenangkan pada setiap pintu gerbang bagian atas.
Di tengah-tengah kota terdapat Al- Qashar Al- Zahabi yang merupakan istana khalifah dengan seni arsitektur Persia. Dilengkapi dengan bangunan masjid, tempat pengawal istana, polisi, dan tempat tinggal putera-puteri dan keluarga khalifah. Di sekitar istana dibangun pasar tempat pembelanjaan dan jalan raya yang menghubungkan empat pintu gerbang. Semua pembangunan itu di kerjakan oleh ahli bangunan yang terdiri dari arsitek- arsitek, tukang batu, tukang kayu, ahli lukis, ahli pahat, dan lain- lain. Mereka semua didatangkan khalifah dari Syria, Mosul, Basrah, dan Kuffah dengan jumlah sekitar 100. 000 orang.
Pembelanjaan membangun kota Baghdad itu berjumlah 4.000.833 dirham, dan sebagian besar pekerja-pekerja, insinyur, dan orang-orang kenamaan telah terlibat di dalam pembangunan itu. Diantara orang- orang terkemuka yang terlibat adalah Al-Hajj bin At-Ta’ah yang turut merancang pembangunan kota itu, dan Imam Abu Hanifah yang bertugas memperhitungkan batu-batu yang diperlukan.
Setelah selesai pembangunan kota Baghdad di gali pula terusan yang membelah negeri Irak untuk pelayaran dan airnya bersumber dari Sungai Eufrat. Dengan demikian Kota Baghdad berhubungan pula Sungai Eufrat dan seterusnya ibu kota Kerajaan Abbasiyyah yang baru itu mempunyai hubungan melalui sungai dengan Asia kecil dan Syiria.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, Al- Manshur memerintahkan untuk menerjemahkan buku-buku ilmiah dan kesusteraan dari bahasa Inggris, India, Yunani lama, Bizantium, Persia, dan Syiria ke dalam bahasa Arab. Sehingga sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi kota peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Sehingga julukan sebagai kota intelektual pun di berikan dari Philip K. Hitti terhadap Kota Baghdad. Para peminat ilmu dan kesusasteraan segera berbondong-bondong datang ke kota ini.
Kota Baghdad menjadi lebih masyhur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan islam di dunia setelah masa Al-Manshur. Banyak buku filsafat yang sebelumnya dipandang sudah mati, yang kemudian dihidupkan kembali dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Khalifah Al- Ma’mun memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan beribu-ribu ilmu pengetahuan yang bernama Bait Al-Hikmah. Banyak para ilmuwan dari berbagai daerah datang ke kota ini untuk mendalami ilmu pengetahuan.
Berdiri banyak akademi, sekolah tinggi dan sekolah biasa di kota ini. Diantaranya Perguruan Nizhamiyyah yang didirikan oleh Nizham Al- Mulk, seorang wazir Sultan Seljuk pada abad ke-5 H. Perguruan Mustanshiriyah yang didirikan oleh Khalifah Al-Mustanshir Billah.
Dalam bidang sastra, Kota Baghdad terkenal dengan hasil karya yang indah dan di sukai orang. Di antaranya Alf Lailah wa Lailah, atau Kisah Seribu Malam. Para saintis, ulama, filosof, dan sasterawan islam yang terkenal banyak muncul dari kota ini, seperti Al- Khawarizmi (ahli astronomi dan matematika, penemu ilmu aljabar), Al-Kindi (filosof Arab pertama), Al-Razi (filosof, ahli fisika dan kedokteran), Al-Farabi (filosof besar dengan julukan al-Mu’allim al-Tsani), Abu Hanifah, Syafi’i, Ahmad ibn Hambal, Al- Ghazali (filosof, teolog, dan sufi besar dalam islam dengan julukan Hujjah al-Islam), Abd Al-Qadir Al-Jilani (pendiri Tarekat Qadariyah), Ibn Muqaffa’ (sasterawan besar), dan lain-lain.
Perkembangan dalam bidang ekonomi Kota Baghdad berjalan seiring dengan perkembangan politik. Perdagangan dan industri berkembang pesat pada masa Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun. Tiga buah pelabuhan yang ramai yang banyak dikunjungi para kalifah dagang internasional (Cina, India, Asia Tengah, Syria, Persia, Mesir dan Afrika lainnya), dua di Bashrah dan Sirat di Teluk Persia, adalah faktor pendukung perkembangan kehidupan ekonomi di Kota Baghdad.
Di Kota Baghdad juga menjadi pusat tempat ziarah bagi orang muslim karena banyaknya orang suci yang di makamkan disana, sehingga mendapat julukan Benteng Kesucian. Diantaranya makam Imam Musa Al-Kazhim (Imam ketujuh Syi’ah), Syekh Junaid, Syibli, dan Abdul Kadir Jailani (semuanya pemimpin-pemimpin kaum sufi). Para khalifah dan permaisurinya juga banyak dimakamkan di kota Baghdad.
Kota terindah dan termegah di dunia pada masanya itu, mencapai masa kegemilangannya sebelum dihancurkan oleh Tentara Mongol, kota ini memperlihatkan pemandangan yang indah, sehingga diabadikan dalam Syair Gubahan Anwari.
Semua keindahan Kota Baghdad hanya tinggal kenangan yang seolah-olah hanyut dibawa arus Sungai Tigris, setelah dibumi hanguskan oleh Tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan tahun 1258 M. Semua bangunan kota, termasuk istana emas tersebut dihancurkan. Pasukan Mongol juga meruntuhkan perpustakaan yang merupakan gudang ilmu dan membakar buku-buku yang terdapat di dalamnya. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pasukan Timur Lenk, dan tahun 1508 M oleh Tentara Kerajaan Safawi. Kota Baghdad yang sekarang menjadi ibu kota Irak dengan lokasi yang sama tetapi tidak mencerminkan kemajuan Kota Baghdad lama.
Semua penduduk Baghdad di bunuh oleh Tentara Mongol dan Kota Baghdad sendiri hancur rata dengan tanah. Dihancurkan semua peradaban dan pusaka yang telah dibuat beratus-ratus lamanya. Karangan kitab-kitab oleh para ahli ilmu pengetahuan diangkut dan dihanyutkan ke dalam Sungai Dajlah sehingga airnya berwarna karena terlarut oleh tinta. Semua keluarga khalifah dimusnahkan sehingga putuslah Bani Abbas dan takhta kerajaan selama lima ratus tahun hancur.
Berbagai perpecahan dan perselisihan sudah lama terjadi sehingga Baghdad kehilangan wibawa dan jatuh ke tangan Tentara Mongol. Pada masa kejayaannya, Baghdad menerapkan paham Mu’tazilah sebagai madzhab resmi negara sehingga menimbulkan pertentangan dengan Madzhab Hambali yang merupakan madzhab yang dianut oleh kebanyakan rakyat. Selain itu pajak yang terlalu tinggi juga menyebabkan banyak daerah melepaskan diri dan membentuk pemerintahan yang baru.
Dalam pemerintahan yang baru dibentuk, mereka hanya tunduk kepada Baghdad dalam namanya saja. Dalam segi aqidah, ketauhidan yang diajarkan Rasul Muhammad berubah menjadi Madzhab Syi’ah pada bangsa Iran yang menimbulkan pertikaian yang berlarut-larut dengan Ahli Sunnah wal Jamaah. Sebagaimana yang dilakukan Wazir Al-Ahqomi, Wazir itu tau bagaimana besarnya bahaya kaum Mongol, tetapi karena dia seorang Syiah sedangkan daulah dan khalifah yang berkuasa yaitu Bani Saljuk dan Khalifah Musta’shim menganut Madzhab Ahli Sunnah, dia lebih suka membiarkan musuh besar itu masuk ke dalam negeri dari pada negeri itu di bawah kuasa khalifah yang berlainan madzhab, sambil dia mengharap bahwa Hulagu kelak akan mengangkatnya sebagai kepala negara Baghdad di bawah naungan Kerajaan Mongol. Hanya saja harapan itu sia-sia karena diapun dibunuh oleh Hulagu tidak lama setelah khalifah dibunuh.
Baghdad sebagai pusat dinasti Abbasiyah dan sekitarnya yang terletak di Irak, ketika para khalifahnya lemah, dikuasai oleh para dinasti lain yang mengendalikan kekuasaan khalifah, di samping masih adanya khalifah. Diantara dinasti-dinasti tersebut yaitu Dinasti Bani Buwaih (320-447 H/932-1055 M). Di masa kekuasaannya, Bagdad yang dijadikan pusat pemerintahan telah dibangun gedung tersendiri yang bernama Darul Mamlakah. Para khalifah Abbasiyah yang memimpin pada masa kekuasaanya tergantung sekali kepada penguasa baru itu.
Pertikaian yang terjadi di antara putra-putra tiga bersaudara itu menyebabkan lemahnya Bani Buwaih hingga akhirnya sirna dari peredaran perpolitikan di Baghdad dan diganti oleh Bani Saljuk, di samping adanya perselisihan di tubuh militer Bani Buwaih sendiri. hingga ahirnya Bani Saljuk memindah kekuasaannya di Ray dan Isfahan, sedangkan kekuasaan Khalifah Abbasiyah tetap di Bagdad. Di kota terakhir itu dan di Nishapur pada masa Malik Syah dikembangkan Madrasah Nizamiyah yang di pelopori oleh menteri Nizamul Mulk, disamping mendirikan Hanafite School yang diambil dari nama salah seorang Imam Madzhab yang empat, yakni Imam Abu Hanifah. Bani Saljuk berhasil mengembalikan reputasi Abbasiyah yang bermadzhab Sunni dari pemaksaan kehendak para pemimpin Bani Buwaih yang Syi’i. Pada masanya hidup para tokoh ilmuwan muslim seperti Imam Al-Ghazali yang pernah memimpin Madrasah Nizamiyah, Umar Khayyam dll. Kekuasaan Saljuk berakhir dengan menguatnya kembali para khalifah Abbasiyah di Baghdad, 590 M/ 1194 H.

B. Peradaban Islam di Kota Kairo
Kota yang terletak di tepi Sungai Nil ini mengalami tiga kali masa kejayaan, yaitu pada masa Dinasti Fatimiah, di masa Shalah Al-Din Al-Ayyubi, dan di bawah Baybars dan Al-Nashir pada masa Dinasti Mamalik. Dinasti Fathimiyah adalah satu- satunya Dinasti Syi’ah dalam islam.
Dalam periode yang kedua dari pemerintahan Abbasiyah, berdiri dinasti Tuluniyah di Mesir (254-292/ 868-905) yang merupakan wilayah otonom dari Baghdad. Pendirinya adalah Ahmad ibn Tulun yang berasal dari Turki. Pada mulanya ia datang ke Mesir sebagai wakil gubernur Abbasiyah, kemudian menjadi gubernur yang berkuasa hingga Palestina dan Syiria. Karena terjadi perselisihan di pusat pemerintahan Abbasiyah yang menyebabkab daerah tidak terindahkan, maka menguatlah dinasti yang berbasis di Lembah Sungai Nill. Kejayaan dinasti ini terjadi pada masa putra Ahmad yang bernama Al- Khumarawayh yang mendapatkan wilayah Mesir, Syiria, dan Gunung Taurus serta wilayah Aljazirah.
Pada Dinasti Tuluniyah, Mesir mengalami kemajuan terutama di bidang militer dan pasukan perang yang dapat menaklukan Syiria, Palestina, Barquq, Mosul, Yaman, dan Hijaz. Di bangunlah Masjid Ibn Tulun yang terkenal hingga sekarang dan markas militer Al- Qathai untuk menampung pasukannya yang tidak tertampung di Masjid ‘Amr ibn Ash, penakluk dan gubernur pertama Mesir. Masjid tersebut juga masih berdiri tegak sampai kini di pinggiran Kota Kairo.
Ketika Dinasti Tuluniyah mulai melemah yang mana tidak dapat mengontrol Sekte Qaramitah yang ada di Syiria, khalifah di Baghdad mengirim pasukan untuk menaklukan Syiria, memasuki Mesir, dan menundukan ibu kota Tulun, yakni Fustat (Kairo lama).
Dinasti Ikhsyidiyah (323-358 H/ 935-966 M) yang didirikan oleh Muhammad Ibn Tugj yang berasal dari Turki. Beliau menjadi gubernur Mesir sebagai hadiah dari Abbasiyah setelah dapat mempertahankan wilayah Nill dari serangan Kaum Fathimiyah. Namun serangan yang bertubi-tubi dari Dinasti Fathimiyah menyebabkan tidak lama memegang kekuasaan di Mesir dan akhirnya menyerah kalah di bawah Panglima Jauhar As- Saqili.
Setelah panglima Jauhar As-Saqili menduduki Mesir pada tahun 358 H, maka ia mengambil keputusan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Fustat, ke kota yang akan dibangun. Pada tanggal 17 Sya’ban 358 H (969 M), Jauhar As-Saqili memulai pembangunan kota baru untuk menjadi ibu kota Dinasti Fathimiyah. Kot ini mula-mul diberi nama kota “Mansyuriyah” dinisbatkan kepada Mansur Al-Mu’iz Lidinilah. Setelah Mu’iz sendiri sampai di Mesir, namanya diubah menjadi Qahirah Mu’iziyah.
Bentuk kota Kairo ini hampir merupakan segi empat. Di sekelilingnya dibangun pagar tembok besar dan tinggi, yang sampai sekarang masih ditemui peninggalannya. Pagar tembok ini memanjang dari Masjid Ibn Thulun sampai ke Qal’at Al- Jabal, memanjang dari Jabal Al-Muqattam sampai ke tepi Sungai Nill.
Setelah pembangunan kota Kairo rampung lengkap dengan istananya, As-Saqili mendirikan Masjid Al-Azhar, 17 Ramadhan 359 H/970 M. Masjid ini berkembang menjadi sebuah universitas besar yang sampai sekarang masih berdiri megah. Nama Al-Azhar diambil dari Al-Zahra’, julukan Fathimiah, puteri Nabi Muhammad SAW dan istri ‘Ali ibn Abi Thalib, Imam pertama Syi’ah.
Dalam pemerintahannya Al-Mu’iz melaksanakan tiga kebijaksanaan besar, yaitu pembaharuan dalam bidang administrasi, pembangunan ekonomi, dan toleransi beragama. Dalam bidang administrasi, beliau mengangkat seorang wazir untuk melaksanakan tugas-tugas kenegaraan. Dalam bidang ekonomi, beliau memberi gaji khusus kepada tentara, personalia istana, dan pejabat pemerintahan lainnya. Dalam bidang agama, di Mesir diadakan empat lembaga peradilan, dua untuk Madzhad Syi’ah dan dua untuk Madzhab Sunni.
Pada masa Al-Aziz menggunakan program baru dengan mendirikan masjid- masjid, istana, jembatan, dan kanal- kanal baru. Pada masa Aziz Billah dan Hakim Bianrillah, terdapat seorang mahaguru bernama Ibn Yunus menemukan pendulum dan ukuran waktu dengan ayunannya. Karyanya Zij Al-Akbar Al-Hakimi diterjemahkan ke berbagi bahasa. Beliau meninggal pada tahun 1009 M kemudian penemuan- penemuannya diteruskan oleh Ibn Al-Nabdi (1040) dan Hasan Ibn Haitham, seorang astronom dan ahli optika, yang tersebut terakhir ini menemukan sinar cahaya datang dari objek ke mata dan bukan keluar dari mata lalu mengenai dunia luar.
Pada masa Al-Hakim (996-1021 M) didirikan Bait Al-Hikmah, terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh Al-Makmun di Baghdad. Di lembaga ini banyak sekali koleksi buku-buku. Lembaga ini juga merupakan pusat pengkajian astronomi, kedokteran, dan ajaran-ajaran islam terutama Syi’ah. Pada masa-masa selanjutnya, Dinasti Fathimiah mulai mendapat gangguan-gangguan politik. Akan tetapi Kairo tetap menjadi sebuah kota besar dan penting. Ketika jayanya, di Kairo telah memiliki kurang lebih 20.000 toko milik khalifah. Kafilah-kafilah, tempat-tempat pemandian dan sarana umum lainnya telah didirikan oleh khalifah. Istana khalifah dihuni 30.000 orang, 12.000 orang diantaranya adalah pembantu dan 1.000 pengawal berkuda.
Dinasti Fathimiyah dapat ditumbangkan Dinasti Ayyubiyah yang didirikan Al-Ayyubi, seorang pahlawan dalam Perang Salib. Beliau tetap mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang didirikan oleh Dinasti Fathimiyah, tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari Syi’ah menjadi Ahlussunnah. Beliau juga mendirikan lembaga-lembaga ilmiah baru, terutama masjid yang di lengkapi dengan tempat belajar teologi dan hukum. Karya-karya ilmiah yang muncul pada masanya dan sesudahnya adalah kamus-kamus biografi, kompendium sejarah, manual hukum, dan komentar-komentar teologi. Ilmu kedokteran diajarkan di rumah-rumah sakit. Prestasinya yang lain adalah didirikannya sebuah rumah sakit bagi orang yang cacat fikiran.
Kekuasaan Dinasti Ayyubiyah di Mesir diambil alih oleh Dinasti Mamalik. Dinasti ini mampu mempertahankan pusat kekuasaannya dari serangan Mongol dan mengalahkan Tentara Mongol itu di Ayn Jalut dibawah pimpinan Baybars. Hal yang dilakukan Baybars yaitu memugar bangunan- bangunan kota, merenovasi Al- Azhar dan pada tahun 1261 M mengundang keturunan dari Abbasiyah untuk melanjutkan khilafahnya di Kairo. Dengan demikian prestise kota ini semakin menanjak. Banyak bangunan yang didirikan dengan rarsitektur yang indah-indah pada masanya dan masa-masa kekuasaan Dinasti Mamalik berikutnya. Kejayaan Dinasti Mamalik memang berlangsung agak lama. Pada tahun 1517 M, dinasti ini dikalahkan oleh Kerajaan Utsmani yang berpusat di Turki dan sejak itu Kairo hanya menjadi ibu kota provinsi dari Kerajaan Ustmani tersebut.
Pada waktu itu, Kairo menjadi satu-satunya pusat peradaban Islam yang terpenting, di karenakan kota ini selamat dari serangan Mongol yang di pimpin oleh Panglima Jauhar As-Saqili.

C. Peradaban Islam di Kota Isfahan
Isfahan adalah kota terkenl di Persia, pernah menjadi ibu kota kerajaan Safawi. Kota ini merupakan gabungan dari dua kota sebelumnya, yaitu Jayy, tempat berdirinya Syhrastan kemudian, dan Yahudiyah yang didirikan oleh Buchtanashshar atau Yazdajir I atas anjuran istrinya yang beragama Yahudi. Ada beberapa pendapat tentang kapan kota ini ditaklukan oleh tentara Islam. Pendapat pertama mengatakan penaklukan itu terjadi pada tahun 19 H (640 M), dibawah pimpinan Abdullah ibn ‘Atban atas perintah Umar ibn Al-Khattab untuk menalkukan kota Jayy yang merupakan salah satu ibu kota provinsi Persia waktu itu.
Setelah beberapa peristiwa, penguasanya memilih msuk islam dari pada membayar pajak. Pendapat lain, yaitu Al-Thabari menyebutkan bahwa penaklukan itu terjadi pada tahun 21 H (642 M). Aliran Bashrah menyebutkan, penaklukan Isfahan terjadi pada tahun 23 H (644 M) di bwah pimpinan Abu Musa Al-‘Asy’ari yaitu setelah penaklukan Nahawand, atau di bawah pimpinan Abdullah ibn Badil yang menerima penyerahan kota itu dengan syarat pembayaran pajak. Penaklukan ulang terjadi pada masa khalifah Abbasiyah, Al-Mu’taz. Ketika tentara Abbasiyah berusaha memadamkan pemberontakan Al-Alawiyin di Tobaristan tahun 247 H(861 M). Sejak itu, kota ini menjadi kota penting sebagai ibu kota provinsi dan pusat industri dan perdagangan.
Ketika raja Safawi, Abbas I, menjadikan Isfahan sebagai ibu kota kerajaannya, kota ini menjadi kota yang luas dan ramai dengan penduduk. Sebagaimana telah disebutkan, kot ini terletk di atas sungai Zndah. Di atas sungai ini terbentang tiga buah jembatan yang megah dan indah, satu diantaranya terletak di tengah kota. Sementara dua lainnya di pinggiran kota.
Kota ini berbentuk bundar, pintunya ada empat dengan menara pengontrol sebanyak seratus buah. Letk tembok kota sekitar setengah Farsak (satu farsakh sekitar 8 km atau 3,5 mil). Di dalam kota ini terdapat bangunan menyerupai benteng, disekitrnya terdapat tambang terbuat dari perak yang sudah tidak berfungsi lagi sejak penaklukan tentara islam, dan juga tambang tembaga batu bahan celak. Ardashir, raja persia, pernah membangun irigasi untuk pengaturan air dari sungai Zandah, bernama Zirrin Rod, berarti sungai emas. Hingga sekarang, perekonomian negeri ini sangat tergantung kepada pertanian kapas, candu, dan tembkau.
Kota ini, sebelum berada di bawah kekuasaan Kerajaan Safawi, sudah beberapa kali mengalami pergantian penguasa, Dinasti Samani tahun 301 H/913 M, kemudian direbut Mardawij tahun 316 H/928 M dan memerdekakan diri dari kekuasaan Baghdad. Setelah itu jatuh ke tangan kekuasaan Bani Buwaih dan pada tahun 421 H/1030 M direbut oleh Mahmud Al-Ghznawi, penguasa Dinasti Ghaznawiah. Dari penguasa Ghaznawi ini, Isfahan lepas ke tangan penguasa Seljuk dan dijadikan sebagai tempt tinggal Sultan Maliksyah. Di awal abad ke-6 H/ 12 M, di kota ini Syi’ah Ismailiah banyak memperoleh pengikut. Pada tahun 625 H/ 1228 M terjadi pertempuran besar di sini, ketika tentara Mongol datang menyerbu negeri-negeri islam dan menjadikan Isfahan sebagai salah satu bagian dari wilayah kekuasaan Mongol itu. Ketika Timur Lenk menyerbu negeri-negeri islam kota ini ikut jatuh ke tangannya Tahun 790 H/ 1388 M dan 7000 penduduk terbunuh. Setelah itu kota ini dikuasai oleh Kerajaan Usmani tahun 955 H/1548 M, dan pada taahun 1134 H/ 1721 M, terjadi pertempuran antara Husein Syah, raj Safawi dengan Mahmud Al-Afghani, yang mengakhiri riwayat kerajaan Safawi sendiri. Pada tahun 1141 H/1729 M, kota ini berada di bawah kekuasaan Nadzir Syah.
Kota ini, ketika berada di bawah kekuasaan kerjn Safawi di kelilingi oleh tembok yang terbuat dari tanah dengan delapan buah pintu. Di dalam kota banyak berdiri bangunan, seperti seperti istana, sekolah-sekolah, masjid-masjid, menara, pasar, dan rumah-rumah yang indah, terukir rapi dengan warna-warna yang menarik. Masjid Syah yang masih ada sampai sekarang yang didirikan oleh Abbas I, merupakan salah satu masjid terindah di dunia. Pintunya dilapisi dengan perak. Di samping itu juga ada lapangan dan tanaman yang terawat baik dan menawan.
Kerajaan Safawi berdiri di saat Kerajaaan Utsmani di Turki mencapai puncak kejyanya. Kerajaan Safawi berasal dari gerakan tharikat di Ardabil sebuah kota di Azerbeijan (wilayah Rusia) yang berdiri hampir bersamaan dengan Kerajaan Usmani di Turki. Nama Safawiyah diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (q252-1334 M). Kerajaan Safawiyah menganut ajaran Syi’ah dan di tetapkan sebagai madzhab negaranya. Safi Al-Din keturunan dari Imam Syi’ah yang ke enam Mus Al-Kazim. Karena alim dan sifat zuhudnya maka Safi Al-Din diambil menantu oleh gurunya yang bernama Syekh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301 M) yang di kenal dengan julukan Zahid Al-Gilani. Dalam waktu yang tidak lama tarekat ini berkembang pesat di Persia, Syiria, Asia kecil,
Masa kemajuan Kerajaan Safawi di Persia dalam bidang ekonomi, yaitu telah di kuasainya Kepulauan Hurmuz dan Pelabuhan Gumrun yang telah di ubah menjadi Bandar Abbas pada masa Abbas I. Maka salah satu jalur dagang yang menghubungkan antara timur dan barat sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi. Di samping sektor perdagangan kerajaan Safawi jug mengalami kemajuan di sektor pertanian terutam di diaerah Bulan Sabit Subur (fortille crescent).
Dalam bidang ilmu pengetahuan sejarah Islam bangsa Pesia di anggap berjasa besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Maka tidaklah mengherankan apabila kondisi tersebut terus berlanjut, sehingga muncul ilmuwan seperti, Baha Al-Din Asy-Syaerozi, Sadar Al-Din Asy-Syaerozi, Muhammad Al-Baqir Al-Din ibn Muhammad Damad, masing-masing ilmuwan di bidang filsafat, sejarah, teolog, dan ilmu umum.
Kemajuan seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah ibu kota ini, seperti masjid, sekolah, rumah sakit, kebun wisata, jembatan yang memanjang di atas Zende Rud dan Istana Chihilsutun.

D. Peradaban Islam di Kota Istambul
Kota Istambul adalah ibu kota Kerajaan Turki Usmani. Kota ini awalnya merupakan ibu kota Kerajaan Romawi Timur dengan nama Konstantinopel. Konstantinopel sebelumnya sebuah kota bernama Bizantium, kemudian diganti dengan nama Konstantinopel oleh Kaisar Romawi Timur, Kaisar Constantin.
Pada tahun 395 M, Kerajaan Romawi pecah menjadi dua, Romawi Timur dan Romawi Barat. Romawi Barat yang beribu kota di Roma (Italia) sedangkan Romawi Timur beribu kota di Konstantinopel.
Konstantinopel jatuh ke tangan umat islam pada masa Dinasti Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad II yang bergelar Muhammad Al-Fatih tahun 1453, dan dijadikan ibu kota Kerajaan Turki Usmani. Bahkan jauh sebelum Sultn Muhammad Al-Fatih dapat menguasai Konstantinopel, para penguasa islam sudah sejak zaman Khulafaur Rasyidin, kemudian Khalifah Bani Umayyah, dan Khalifah Bani Abbasiyyah berusaha untuk menaklukan kota Konstantinopel, namun baru pada masa Kerajaan Turki Usmani usaha itu dapat berhasil.
Oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, kota Konstantinopel yang artinya kota Constantin, yang diubah namaya menjadi Istambul yang artinya kota islam. Wilayah kekuasaannya meliputi wilayah Eropa timur, Asia kecil, dan Afrika Utara. Bahkan kekuasaan Istambul juga diakui oleh daerah-daerah Islam.
Setelah Muhammad Al-Fatih menjadikan Istambul sebgai ibu kota kerajaan Turki Usmani, beliau melakukan penataan hal-ihwal orang-orang Kristen Yunani(Romawi). Dalam penataan tersebut beliau tetap memberikan kebebasan kepada pihak gereja, seperti yang dilakukan para pendahulunya dan mengakui agama lain sesuai dengan ajaran islam yang menghormati keyakinan suatu agama. Penduduk Istambul memang heterogen dalam bidang agama. Menurut sensus thun 1477, penduduk Istmbul berdasarkan agama adalah sebagai berikut: Muslim 8951 rumah tangga (60 %), penganut Kristen Ortodoks (Yunani) 3151 rumah tangga( 21,5%), Yahudi 1647 rumah tangga (11%), lain-lain 1054 rumah tangga (7,5% ).
Sebagai ibu kota, di sinilh tempat berkembangnya kebudayaan Turki yang merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan. Bangsa Turki Utsmani banyak mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Sebagai bangsa berasal dari Asia Tengah, Turki memang suka berasimilasi dan senang bergaul dengan bangsa lain. Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan, kebudayan Bizantium banyak mempengaruhi kerajaan Turki Utsmani ini. Namun, jauh sebelum mereka berasimilasi dengan bangsa-bangsa tersebut, sejak pertama kali mereka masuk islam bngsa Arab sudah menjadi guru mereka dalam bidang agama, ilmu, prinsip-prinsip kemasyarakatan dn hukum. Huruf Arab dijadikn huruf resmikerajan. Kekuasaan tertinggo memang berada di tangan Sultan, tetapi roda pemerintahan dijalankan oleh Shadr Al-A’zham (Perdana menteri) yang berkedudukan di ibu kota. Jabatan-jabatan penting, termasuk perdana menteri, seringkali justru diserahkan kepada orang-orang asal Eropa, dengan syarat menyatakan diri secara formal masuk islam.
Dalmbidang arsitektur, masjid-masjid yang dibangun di sana membuktikan kemajuannya. Masjid memang merupakan suatu ciri dari sebuah kota Islam, tempat kaum muslimin mendapat fasilitas lengkap untuk menjalankan kewajiban agamanya, Gereja Aya Sophia, setelah penaklukan diubah menjadi sebuah masjid agung yang terpenting di Istambul. Gambar-gambar makhluk hidup yang ada sebelumnya ditutup, mihrab didirikan, dindingnya dihiasi dengan kaligrafi yang indah, dan menara-menara dibangun. Masjid-masjid penting lainnya adalah Masjid Agung Al-Muhammadi atau Masjid Agung Sultan Muhammad Al-Fatih, Masjid Abu Ayyub Al-Anshari (tempat penaklukan para Sultan Utsmani), Masjid Bayazid dengan gaya Persia, dan Masjid Sulaiman Al-Qanuni.
Di samping masjid, para sultan juga mendirikn istana-istana dan vila-vila yang megah, sekolah, asrama, rumah sakit, panti asuhan, penginapan, pemandian umum, pusat-pusat Tharekat, dan lain- lain. Rumah-rumah dan vila yang mewah juga dimiliki oleh pedagang-pedagang kaya. Istana dan vila biasanya dilengkapi dengan taman dan tembok di sekelilingnya. Jalan- jalan yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lain, terutama dengan ibu kota dibangun.
Istambul merupakan pusat peradaban Islam pada masa kekuasaan Turki Usmani terpenting. Bukan saja pada keindahan kotanya akan tetapi juga karena di kota bekas kekuasaan Romawi Timur itu terdapat pusat-pusat kajian keilmuwan yang mendorong puncak kejayaan peradaban umat Islam.
Kemajuan di bidang intelektual di abad ke-19 pada masa pemerintahan Turki Usmani nampaknya tidak lebih menonjol dibandingkan bidang politik dan kemiliteran. Di antaranya terdapat dua buah surat kabar yang muncul yaitu, Berita harian Takvini Veka dan jurnal Tasviri Efkyar serta Terjumaning Ahval dalam bidang pendidikan terjadinya transformasi yaitu dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar dan menengah tahun 1861 dan perguruan tinggi 1869, juga mendirikan fakultas kedokteran dan hukum. Di samping itu mengirimkan para pelajar yang berprestasi ke Perancis untuk melanjutkan studinya yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Dalam bidang saatra dan bahasa muncullah sastrawan-sastrawan dengan hasil karyanya setelah menamatkan studi di luar negeri. Di antaranya Ibrahim Shinasi pendiri surat kabar Tasviri Efkyar.
Di masa Dinasti Usmani, Turki meliputi sebagian negara Eropa, Asia Tengah, Afrika dan semenanjung Arab. Namun pada akhirnya mengalami kemunduran. Belakangan hanya Turki saja sebagai wilayah dinasti tersebut. Kemunduran tersebut lebih disebabkan adanya pertentangan internal Dinasti Usmani serta pemberontakan dan upaya pelepasan diri dari negeri- negeri jajahan. Pada masa Sultan Salim III (1789-1807) diupayakan birokrasi namun mengalami kegagalan. Kegagalan Turki dalam upaya pembaharuan tersebut dikecam oleh Eropa Barat sebagai “The Sick Man of Europe” (orang sakit Eropa).

IV. KESIMPULAN
Peradaban-peradaban islam yang telah di alami di daerah Baghdad, Kairo, Isfahan, dan Istambul memiliki kontribusi besar dalam berbagai bidang seperti: pendidikan dan ilmu pengetahuan, politik dan pemerintahan, ekonomi, arsitektur. Peradaban dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan Kota Baghdad memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan beribu-ribu ilmu pengetahuan yang bernama Bait Al-Hikmah, Perguruan Mustanshiriyah, serta para ilmuwan yaitu Al- Khawarizmi, Al-Kindi, Al-Razi, Al-Farabi, Abu Hanifah, Syafi’i, Ahmad ibn Hambal, Al- Ghazali, Abd Al-Qadir Al-Jilani, Ibn Muqaffa’, dan lain-lain.Peradaban dalam bidang politik dan pemerintahan di Kairo dengan pelaksanaaan tiga kebijaksanaan besar, yaitu pembaharuan dalam bidang administrasi, pembangunan ekonomi, dan toleransi beragama.
Peradaban Islam dalam bidang ekonomi di Kota Isfahan dengan di kuasainya Kepulauan Hurmuz dan Pelabuhan Gumrun dan diubah menjadi Bandar Abbas yang menjadi salah satu jalur dagang yang menghubungkan antara timur dan barat. Peradaban dalam bidang arsitektur di Kota Istambul dengan pembangunan masjid, Gereja Ayashopia yang diubah menjadi masjid Agung terpenting di Istambul dengan menutup gambar makhluk hidup sebelumnya, mendirikan mihrab yang dindingnya dihiasi dengan kaligrafi indah dan menara-menara, Masjid Agung Al-Muhammady, Masjid Abu Ayyub Al-Anshory sebagai tempat pelantikan para Sultan Usmani, Masjid Bayazid dengan gaya Persia, dan Masjid Sulaiman Al-Qanuni.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
aa

DAFTAR PUSTAKA
Al-‘Usairy, Ahmad, Sejarah Islam,(Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003),cet. I
Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), cet. I
Hitti, Philip K, History of The Arabs, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2005)
Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab,(Jakarta:Logos,1997), cet.I
Solikhin, M, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: Rasail, 2005), cet. I
Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, ( Jakarta: Kencana, 2007), cet.III
Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam 3, (Jakarta: Pustaka Al- Husna, 1993), cet. I
Syukur, Fatah, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: PT.Pustaka Riski Putra), cet. II
Thohir, Ajid, Studi Kawasan Bumi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), cet. I
__________, Perkembangan Peradaban di kawasan dunia Islam, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004), cet. I.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003), cet. XV

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s