HUKUM DOA BERSAMA DENGAN NON MUSLIM

Standar

HUKUM DOA BERSAMA DENGAN NON MUSLIM

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Masail al-Fiqhiyah al-Haditsah
Dosen Pengampu: Amin Farih, M. Ag

Disusun oleh:
MAGFIROH
(103111057)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

HUKUM DOA BERSAMA DENGAN NON MUSLIM

I. PENDAHULUAN
Apabila kita berkehendak mendapatkan sesuatu sama ada duniawi maupun ukhrawi maka kita akan berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Jika usaha kita tidak mampu meraihnya kita akan meminta pertolongan daripada orang yang mempunyai kuasa. Jika mereka juga tidak mampu membantu kita untuk mencapai hajat kita maka kita akan memohon pertolongan kepada Allah SWT menadah tangan ke langit sambil air mata bercucuran dan suara yang merayu-rayu menyatakan hajat kepada-Nya. Selagi hajat kita belum tercapai selagi itulah kita bermohon dengan sepenuh hati. Tidak ada kesukaran bagi Allah SWT untuk memenuhi hajat kita.
Sekiranya Dia mengaruniakan kepada kita semua khazanah yang ada di dalam bumi dan langit maka pemberian-Nya itu tidak sedikit pun mengurangi kekayaan-Nya. Andainya Allah SWT menahan dari memberi maka tindakan demikian tidak sedikit pun menambahkan kekayaan dankemuliaan-Nya. Jadi, dalam soal memberi atau menahan tidak sedikit pun memberi kesan kepada ketuhanan Allah SWT Ketuhanan-Nya adalah mutlak tidak sedikit pun terikat dengan kehendak, doa dan amalan hamba-hamba-Nya.
Di era yang serba modern sekarang, dan semakin pesatnya perkembangan teknologi. Mulai dari kemajuan dibidang teknologi, transportasi, sampai komunikasi. Semakin kompleks pula masalah yang dihadapi oleh manusia. Apalagi kita sebagai bangsa Indonesia yang notebennya hidup pada masyarakat yang multikultural dan heterogen. Adanya krisis (moneter, kepercayaan dan keimanan) yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini, menuntut bangsa Indonesia untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan. Diantara usaha-usaha yang dilakukan adalah dengan mengadakan do’a bersama antar umat beragama. Maka dari itu bagaimanakah hukumnya doa bersama yang dilakukan dengan komunitas Non- Muslim?
Berikut ini akan dibahas masalah Hukum Doa Bersama Dengan Agama Lain (non muslim).

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apakah Pengertian Doa ?
B. Bagaimana Hukum Doa Bersama Non Muslim ?

III. PEMBAHASAN MASALAH
A. Pengertian Doa
Doa berarti memohon atau meminta sesuatu yang baik daripada Allah SWT yang Maha Pemurah. Allah SWT menyuruh orang-orang Islam berdoa atau meminta sesuatu kepada-Nya seperti firman di bawah yang bermaksud:
       •        

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukmin: 60)

Orang yang berdoa mesti yakin bahwa doanya akan dikabulkan Allah. Ada kalanya doa seseorang itu mustajab, kerana sebaik sahaja ia berdoa lantas Allah memakbulkan dengan segera atau Allah menundakan doanya itu hingga beberapa lama pada masa yang akan datang.
Doa berarti permohonan. Untuk tercapainya sesuatu yang diinginkan, kita harus berdoa disamping berikhtiar. Allah mencintai orang yang berdoa. Doa merupakan bentuk ibadah yang khas dan doa hanya ditujukan kepada Allah secara langsung dan tanpa perantara. Firman Allah Surat Yunus: 106,
          

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; (QS. Yunus: 106)

Doa merupakan bagian dari kehidupan orang-orang yang beriman. Al-Qur’an dan Hadis sangat menganjurkan kita untuk berdoa. Doa yang paling baik adalah doa yang dilakukan dalam rangka memenuhi seruan serta terbinanya iman kepada Allah. sebagaimana firman Allah Al-A’rof: 55
         
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’rof: 55)

Adapun Hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda:
لَيْسَ شَيْئٌ اَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ
Tidak satupun yang lebih dihargai oleh Allah daripada Doa.

Berdoa atau memohon doa kepada Allah merupakan inti dari ibadah. Umat Islam tidak pandang drajat dan pangkat, semua diperintahkan supaya banyak-banyak berdoa kepada Allah baik siang dan malam. Orang yang sedang berdoa seolah-olah sedang berbicara dengan Tuhan, dengan memakai kata-kata yang sopan, yang merendah, sebagaimana keadaan orang-orang yang miskin meminta kepada orang-orang yang kaya.
Kedudukan doa sangat tinggi dalam ibadah Islam. Orang yang tidak mau berdoa adalah orang yang sombong, yang menganggap dirinya lebih tinggi, lebih pandai, dan lebih kaya daripada Tuahan. Maka dari itu, berdoa dengan khusyuk dan tawadhuk sangat dianjurkan oleh agama Islam.

B. Hukum Doa Bersama Non Muslim
Peristiwa-peristiwa doa bersama juga sangat menarik untuk diperhatikan agar menjadi jelas bagi kita bagaimana Islam memandang doa antar agama tersebut. Beberapa contoh empiris akan dikemukakan berikut ini. Salah satu contoh doa bersama adalah doa bersama untuk kedamaian dunia yang diprakarsai oleh paus yohanes paulus II. Doa itu diadakan pada 26 oktober 1986 di assisi, kota santo francis, italia bagian tengah. Dalam pertemuan agung itu wakil-wakil dari masing-masing agama, termasuk wakil dari Islam, secara bergantian membacakan doa dengan caranya masing-masing, dengan bentuk dan ekspresinya masing-masing. Doa bersama ini dilakukan dengan sebuah teks bersama yang dibaca oleh semua peserta bersama-sama dibawah komando salah seorang peserta, untuk menghindari kebingungan yang mungkin terjadi dalam pertemuan resmi seperti itu.
Contoh lain doa bersama diambil dari mesir, salah satu negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Sejak awal 1990-an orang-orang Muslim dan orang-orang Kristen yang bergabung dalam persaudaraan keagamaan, sering mengadakan pertemuan untuk doa bersama, baik dengan ekspresi bebas wakil-wakil dari masing-masing agama maupun dengan membaca sebuah teks bersama untuk semua peserta. Membaca teks sebuah doa yang disusun oleh almarhum syaikh Ahmad Hasan al-Baquri, yang semasa hidupnya pernah menjadi menteri wakaf Mesir dan rektor Universitas Al-Azhar. Dalam doa terakhir ini pada umumnya lebih disukai menghindari penggunaan teks-teks resmi peribadatan salah satu agama dalam organisasi ini (Islam dan Kristen) untuk menghindari kebingungan.
Contoh lain dari doa bersama adalah doa bersama yang dilakukan ketika perserikatan bangsa-bangsa (PBB) merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50 di markas besrnya di New York. Doa bersama itu dilakukan dengan diikuti oleh semua peserta dari negara-negara anggota PBB yang hadir pada pertemuan agung itu. Diantara para peserta itu adalah para peserta muslim dari negara-negara yang pada umumnya mayoritas penduduknya adalah muslim. Uskup desmond tutu dari Afrika Selatan memimpin para hadirin dalam doa itu.
Contoh doa bersama dapat pula ditemukan di Indonesia pada Jum’at, 5 Juni 1998, MADIA (masyarakat dialog antar agama), sebuah organisasi lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memajukan dialog antaragama di Indonesia, mengorganisir acara doa bersama solidaritas antar agama di rumah kediaman KH. Abdurrahman Wahid yang pada waktu itu adalah ketua PBNU, di Ciganjur, Jakarta Selatan. Tujuan doa bersama itu adalah memohon agar bangsa Indonesia diberi kekuatan sehingga dapat menciptakan suasana rukun dan damai agar mampu mengatasi persoalan-persoalan dan kemelut yang melanda bangsa ini. Kelompok-kelompok agama dan aliran kepercayaan yang mengikuti acara itu adalah kelompok-kelompok dari Islam, Hinduisme, Budhisme, Konfusiamisme, Katolik, Protestan, Kristen Ortodoks Suriah, dan Brahma Kumaris. Wakil-wakil tampil secara bergantian memimpin membaca doa menurut caranya masing-masing.
Doa kata (arab du’a) dalam Islam adalah “ seruan, permintaan, dan permohonan pertolongan, dan ibadah kepada Allah supaya terhindar dari bahaya mendapatkan manfaat.
Doa adalah cara yang dilakukan manusia untuk berkomunikasi dengan tuhan. Doa adalah cara yang dilakukan untuk mengingat Tuhan dan memohon pertolongannya. Doa adalah ibadah kepada Tuhan. Allah menyuruh hamba-hambanya agar berdoa kepadanya. Dan dia niscaya akan memperkenankan doa mereka.
Doa bukan hanya milik Islam, tetapi juga milik agama-agama lain. Dapat dikatakan bahwa doa adalah fenomena umum yang ditemukan dalam semua agama doa adalah salah satu segi utama kehidupan keagamaan umat manusia. Friederich Heiler (1892-1967), seorang fenomenolog agama terkemuka kelahiran Jerman, mengatakan bahwa “orang-orang beragama, para pengkaji agama, para teolog semua kepercayaan dan kecenderungan, sepakat dalam berpendapat bahwa doa adalah fenomena utama seluruh agama, jantung seluruh kesalehan” dan karena alasan ini tidak bisa diragukan sama sekali bahwa doa adalah jantung dan pusat seluruh agama.
Mengenai hal yang memimpin doa bersama adalah seorang muslim dan doa yang dibaca tidak bertentangan dengan ajaran Islam, doa bersama jenis ini dibolehkan. Apabila yang memimpin doa adalah orang muslim atau non muslim maka boleh, karena doa yang dibaca adalah satu yang dibaca untuk semua peserta. Karena itu, doa bersama seperti ini yang dipimpin seorang non muslim dibolehkan. Apalagi doa jenis ini bertujuan untuk kemaslahatan seperti kedamaian, kerukunan, persaudaraan, dan solidaritas, maka ia dibolehkan, bahkan bisa meningkat menjadi dianjurkan.
Orang Kristen dan orang Islam telah berdoa bersama, tidak hanya dalam arti bahwa mereka disatukan dalam persahabatan mereka dengan Tuhan, tetapi juga dalam komitmen mereka bersama melawan kemutlakan-kemutlakan palsu dimasa sekarang dan melawan ketidak adilan yang mereka timbulkan dalam kehidupan manusia. jika tidak ada komitmen pada hal ini, meski berdoa bersama, dalam arti harfiahnya, maka tak akan ada gunanya.
Orang Islam dan Kristen datang bersama, dalam keyakinan dan harapan, dalam pemahaman dan doa,dan melibatkan diri mereka sendiri untuk mengucapkan puji tuhan dan mencari landasan kesatuan dan kedamaian.
Ketika kita bertemu disini, sebagai orang Kristen dan muslim kita harap tercapai dengan segala kerendahan hati pada orang lain dan keyakinan dengan kepercayaan bahwa tuhan kita adalah Tuhan mereka juga. Hukum doa bersama antar berbagai umat beragama yang sering dilakukan di Indonesia hukumnya tidak boleh, kecuali cara dan isinya tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

وَعِبَارَتُهُ, وَلَزِمَنَ مَنْعُهُمْ اِظْهَارٌ مِنْكُمْ بَيْنَنَا كَاِسْمَاعِهِمْ اِيَّانَا قَوْلَهُمْ لِلهِ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ (حاشيه الجمل على فتح الوهاب 5/ 226 )
Menjadi keharusan kita untuk mencegah mereka menampilkan hal tersebut di kalangan kita, semisal mereka memperdengarkan syiar mereka; Allah adalah trinitas.
وَعِبَارَتُهُ : لَا يَجُوْزُ التَّأْمِيْنُ عَلَى دُعَاءِ الْكَافِرِ لِاَنَّهُ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ لِقَوْلِهِ تَعاَلَى : وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِيْنَ اِلَّا فِىرضَلَالٍ. (الحاشيه الجمل 2/ 119)

Dan tidak boleh mengamini doa orang kafir karena doanya tidak diterima sesuai dengan firman Allah SWT.: “dan doa (ibadah ) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (al-ra’d: 14).

قوله (تحريم مؤادة الكافرر) اي المحبة والميل بالقلب وأماالمخالطة الظاهرية فمكروهة …. أما معاشرتهم لدفع ضرر يحصل منهم او جلب نفع فلا حرمة فيه. (البجيرمي على الخطيب ٤/٢۳٥)
Haram mencintai orang kafir, yakni adanya rasa suka dan kecenderungan hati kepadanya. Sedangkan cuma sekedar bergaul secara lahir saja, maka hukumnya makruh. Adapun bergaul dengan mereka untuk mencegah timbulnya sesuatu madharat yang tidak di inginkan yang mungkin dilakukan oleh mereka, ataupun mengambil sesuatu manfaat dari pergaulan tersebut, maka hukumnya tidak haram.

(وَلاَ يُمْنَعُ اَهْلُ الذِّمَّةِ الْحُضُوْرَ) لِاَنَّهُمْ يَسْتَرْزِقُوْنَ وَفَضْلُ اللهِ وَسِعٌ وَقَدْ يُحِبُّهُمْ اِسْتِدْرَاجًا وَطَمَعًا فِى الدُّنْيَا (وَلاَ يَخْتَلِطُوْنَ) اَهْلُ الذِّمَّةِ وَلَا غَيْرُهُمْ مِنْ سَائِرِ الْكُفَّارِ (بِنَا) فِى مُصَلَّنَا وَلاَ عِنْدَ الْخُرُوْجِ اَيْ يُكْرَهُ ذَلِكَ بَلْ يُتَمَيَّزُوْنَ عَنّاَ فِى مَكَانِ لِاَنَّهُمْ اَعْدَاءُ اللهِ تعالى اِذْ قَدْ يَحِلُّ بِهِمْ عَذَابٌ بِكُفْرِهِمْ فَيُصِيْبَنَا. وَلاَ يَجُوْزُ اَنْ يُؤَمِّنَ عَلَى دُعَائِهِمْ كَمَا قَالَهُ الرَّوْيَانِيُّ لِاَنَّ دُعَاءِ الْكَافِرِ غَيْرُ الْمَقْبُوْلِ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ كَمَا اسْتُجِيْبَ دُعَاءُ اِبْلِيْسَ بِالْاِنْظَارِ. (مغني المحتاج 1/ 323)

Orang kafir dzimmi (yang keamanan dirinya dan hartanya dalam naungan jaminan pemerintah islam) karena mereka berhak mencari rezeki. Sedangkan rezeki Allah SWT. itu sangat luas. Terkadang Allah SWT. mengabulkan harapan mereka sebagai bentuk istidraj dan ketamakan di dunia.
Kafir dzimmi tersebut dan orang kafir lainnya tidak diperbolehkan untuk bercampur dengan kita di tempat peribadatan kita, demikian halnya ketika berkumpul. Percampuran tersebut makruh, dan mereka harus berbeda dengan kita umat Islam ketika berada dalam suatu tempat. Hal ini, karena mereka adalah musuh-musuh Allah SWT., yang suatu saat mereka akan ditimpa suatu adzab dengan kekufuran mereka itu, dan adzab tersebut akan mengenai kita pula.
Tidak boleh mengamini doa mereka sebagaimana pendapat yang dianut oleh Imam al-Rauyani, karena doa mereka tidak akan diterima. Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa doa mereka bisa saja dikabulkan sebagaimana dikabulkannya doa iblis agar menunda (adzab menggoda manusia) sampai hari kiamat.

(فَرْعٌ) فِيْ مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِيْ خُرُوْجِ اَهْلِ الذِّمَّةِ لِلْاِسْتِسْقَاءِ قَدْ ذَكَرْنَا اَنْ مَذْهَبَنَا اَنَّهُمْ يُمْنَعُوْنَ مِنَ الْخُرُوْجِ مُخءتَلِطِيْنَ بِالْمُسْلِمِيْنَ وَلَا يُمْنَعُوْنَ مِنَ الْخُرُوْجِ مُتَمَيِّزِيْنَ وَبِهِ قَالَ الُّهْرِيُّ وَابْنُالْمُبَارَكِ وَاَبُوْ حَنِيْفَةَ وَقَالَ مَكْحُوْلٌ لاَبَأْسَ بِاِخْرَاجِهِمْ. (المجموع 5 /72)

Dalam berbagai madzhab ulama’ perihal ikut berkumpulnya kafir dzimmi dalam kegiatan salat meminta hujan, bahwa madzhab kami menyatakan mereka itu dilarang untuk ikut berkumpul bercampur dengan orang-orang Islam. Namun jika mereka dibedakan maka tidak dilarang. Pendapat ini dianut oleh imam Zuhri, Ibnu al-Mubarak, abu Hanifah dan Makhul.

وَيَكُوْنُ اِخْرَاجَ الْكُفَّارِ لِلْاِسْتِسْقَاءِ لِاَنَّهُمْ اَعْداَءٌ فِى اللهِ وَلاَ يَجُوْزُ اَنْ يُتَوَسَّلَ بِهِمْ اِلَيْهِ فَاِنْ حَضَرُوْا وَتَمَيَّزُوْا لَمْ يُمْنَعُوْ لِاَنَّهُمْ جَاؤُا فِيْ طَلَبِ الرِّزْقِ. (المجموع 5/66)

Tentang ikut berkumpulnya orang kafir dalam kegiatan salat meminta hujan mengingat mereka adalah musuh-musuh Allah SWt., maka tidak diperkenankan untuk bertawasul dengan mereka. Jika mereka ikut hadir dan keberadaan mereka berbeda dengan umat Islam, maka mereka tidak perlu dilarang karena mereka datang untuk mencari rezeki.

وَالْوَجْهُ جَوَازُ التَّاْمِيْنِ بَلْ نَدْبُهُ اِذَا دَعَا لِنَفْسِهِ بِالْهِدَايَةِ وَلَنَا بِالنَّصْرِ مَثَلاً. (الجمل على شرح المنهج 2 /119)

Menurut salah satu pendapat, boleh mengamini doa orang kafir, bahkan sunnah jika misalnya ia berdoa agar dirinya mendapatkan hidayah dan kita mendapatkan pertolongan.

IV. KESIMPULAN
A. Doa berarti permohonan. Untuk tercapainya sesuatu yang diinginkan, kita harus berdoa disamping berikhtiar. Allah mencintai orang yang berdoa. Doa merupakan bentuk ibadah yang khas dan doa hanya ditujukan kepada Allah secara langsung dan tanpa perantara.
B. Di dalam buku yang ditulis oleh Nur Kholish Majid Mengenai hal yang memimpin doa bersama adalah seorang muslim dan doa yang dibaca tidak bertentangan dengan ajaran Islam, doa bersama jenis ini dibolehkan. Apabila yang memimpin doa adalah orang muslim atau non muslim maka boleh, karena doa yang dibaca adalah satu yang dibaca untuk semua peserta. Karena itu, doa bersama seperti ini yang dipimpin seorang non muslim dibolehkan. Apalagi doa jenis ini bertujuan untuk kemaslahatan seperti kedamaian, kerukunan, persaudaraan, dan solidaritas, maka ia dibolehkan, bahkan bisa meningkat menjadi dianjurkan.
C. Hukum doa bersama antar berbagai umat beragama yang sering dilakukan di Indonesia hukumnya tidak boleh, kecuali cara dan isinya tidak bertentangan dengan syari’at Islam.
D. Dan tidak boleh mengamini doa orang kafir karena doanya tidak diterima.

V. PENUTUP
Makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin….

DAFTAR PUSTAKA

Aksari, Hasan, Lintas Iman Dialog Spiritual, diTer. Sunarwoto, Yogyakarta: LKIS, 2003, Cet. 1
Madjid, Nurcholish, dkk., Fiqh Lintas Agama:Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis, Jakarta: Paramadina, 2004
Mahfudh, Sahal, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, diTerj. Djamaliddin Miri, Surabaya: Lajnah Ta’lif wan Nasyr NU, 2007, Cet. 3
Tsabiq, Sayyid, Fiqh Sunnah 4, diTrej. Mahyuddin Syaf, Bandung: PT. Almaarif, 1978, Cet. 1,
Saleh, Hassan, Kajian Fiqh Nabawi dan Fiqh Kontemporer, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008
http://Pengertian Doa/21/11/2011/Senin/Pukul: 10.16 wib//

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s