HUKUM MENDIRIKAN DUA SHALAT JUM’AT

Standar

HUKUM MENDIRIKAN DUA SHALAT JUM’AT

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Masail Fiqiyah
Dosen Pengampu: Amin Farih, M.Ag

Disusun oleh:
Syafikur Rohman
103111099

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

HUKUM MENDIRIKAN DUA SHALAT JUM’AT

I. PENDAHULUAN
Shalat Jum’at merupakan salah satu kewajiban agama Islam atas orang-orang pria yang beriman (mukmin), dewasa (baligh), merdeka, sehat jasmani dan rohani, serta tidak sedang bepergian jauh (musafir). Oleh karena itu, orang-orang yang berkewajiban melaksanakan shalat Jum’ at tidak boleh meninggalkannya. Agar shalat Jum’at dapat dilaksanakan dengan sempurna, maka Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman meninggalkan segala bentuk perdagangan atau pekerjaan lain yang dapat menghalang-halangi atau mengganggu pelaksanaan ibadah shalat Jum’at.
Salah satu tujuan dilaksanakannya ibadah shalat Jum’at secara berjamaah adalah untuk menghimpun umat Islam dalam satu tempat sehingga dapat melaksanakan ibadah dengan khusyu’, menciptakan syi’ar Islam, memperkuat ukhuwah Islamiyah, memperkokoh persatuan dan kesatuan umat serta menumbuh-kembangkan ruh at-ta’awun karena merasa sama-sama menjadi hamba Allah yang beribadah dan mengabdi kepada-Nya.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai hukum mendirikan dua Shalat Jum’at. Dan di dalamnya mencakup pengertian Shalat Jum’at, Siapa saja yang wajib Shalat Jum’at, dan bagaimana hukumnya mendirikan dua Shalat Jum’at dalam satu wilayah, dan lain sebagainya. Mengingat begitu pentingnya pembahasan ini, sehingga disamping untuk memenuhi tugas mata kuliah Masail Fiqiyah, tetapi yang terpenting untuk mencapai pemahaman kita terhadap hukum mendirikan dua Shalat Jum’at. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai pembahasan tersebut.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa Pengertian Shalat Jum’at?
B. Apa Saja Syarat Wajib Shalat Jum’at dan Syarat Pelaksanaan Shalat Jum’at?
C. Bagaimana Dasar Hukum Mendirikan Dua Shalat Jum’at dalam Satu Wilayah?
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Shalat Jum’at
Kata Al-Jumu’ah berasal dari kata Ijtima’. Ia disebut hari Jum’at karena pada hari itu penciptaan Adam dihimpun dari air dan tanah.
Shalat Jum’at Hukumnya Fardhu ‘ain. Semua ahli ilmu sepakat mengenai kefardhuan Shalat Jum’at. Shalat Jum’at diwajibkan pada Bulan Rabi’ul Awal tahun pertama Hijrah. Shalat Jum’at pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah SAW di Masjid Bani Salim bin Auf pada tanggal 16 Rabiul Awal, sementara yang pertama kali melaksanakan Shalat Jum’at di Madinah adalah Mush’ab bin Umair, hingga akhirnya Rasulullah SAW tiba di Madinah dan melakukan Shalat Jum’at ketika matahari tergelincir.
Adapula yang mengatakan bahwa Shalat Jum’at sudah dilakukan di Madinah jauh sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah, akan tetapi hukumnya masih mubah, dan baru kemudian di Fardhukan setelah Hijrah. Ini adalah pendapat yang Zhahir, mengingat Surah Al-Jumu’ah termasuk surah Madaniyyah. Orang-orang Anshar berkata: “Orang-orang yahudi mempunyai satu hari, dimana mereka bisa berkumpul setiap minggu, dan orang-orang nasrani juga seperti itu. Mengapa kita tidak melakukan sebagaimana yang mereka lakukan; berkumpul pada satu hari untuk berdzikir kepada Allah SWT, menjalankan Shalat, dan bersyukur kepada Allah SWT.” Yang lain menimpali: “hari sabtu adalah hari orang yahudi, hari minggu adalah hari orang nasrani.” Mereka akhirnya menunjuk hari Arubah sebagai hari mereke, lalu berkumpulah mereka dirumah As’ad bin Zurarah. Hari itu memimpin Shalat dua rakaat secara berjama’ah, kemudian berdzikir. Mereka kemudian memberi nama hari tersebut dengan hari Jum’at sebagai hari berkumpul mereka. Selanjutnya mereka menyembelih kambing dan makan malam hanya dengan kambing tersebut mengingat terlalu sedikit jumlah mereka. Selanjutnya Allah SWT menurunkan: “Apabila diseru untuk menunaikan Shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah SWT.
Seruan Shalat Jum’at sebagai kewajiban ditujukan kepada laki-laki yang merdeka,

B. Syarat Wajib Shalat Jum’at dan Syarat Pelaksanaan Shalat Jum’at
1. Syarat Wajib Shalat Jum’at

وشرائط وجوب الجمعة سبعة أشياء : الإسلام، والبلوغ، والعقل، والحرية، والذكورية، والصحة، والتيطان.

Syarat Wajib Shalat Jum’at ada tujuh macam, yaitu:
1) Islam
2) Baligh
3) Berakal
4) Merdeka
5) Laki-laki
6) Sehat
7) Mukmin
Adapun dasar diwajibkannya Shalat Jum’at adalah:
                      
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Rasulullah juga bersabda:
من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فعليه الجمعة، إلامرأة ومسافرا وعبدا ومريضا.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, dia harus mengerjakan (Shalat) Jum’at, kecuali seorang perempuan, musafir, hamba sahaya, dan orang yang sakit”. (HR. Daruquthni)
Sedangkan menurut riwayat Abu Dawud dari Thariq bin Syihab RA dari Nabi SAW, bersabda:
الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة: عبد مملوك أو إمرأة أو صبي أو مريض.
(Shalat) Jum’at adalah hak wajib bagi setiap muslim dengan berjama’ah, kecuali terhadap empat orang: hamba sahaya, atau perempuan, atau anak kecil, atau orang yang sakit.

2. Syarat Pelaksanaan Shalat Jum’at

وشرائط فعلها ثلاثة : أن تكون البلد مصرا أو قرية, وأن يكون العدد أربعين من أهل الجمعة, وأن يكون الوقت باقيا. فإن خرج الوقت أو عدمت الشروط, صليت ظهرا.
Syarat pelaksanaan Shalat Jum’at ada tiga macam, yaitu:
a. Tempat pelaksanaannya adalah di kota atau desa.
Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya tidak mengerjakan Shalat Jum’at kecuali di tempat seperti ini. Kabilah-kabilah arab yang tinggal di sekitar Madinah tidak melaksanakan Shalat Jum’at. Nabi Muhammad SAW tidak memerintahkan mereka untuk mengerjakannya.
b. Jumlah orang yang mengerjakannya sebanyak 40 orang.
Yaitu mereka yang memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan tadi. Tentang syarat jumlah ini ditunjukkan oleh Hadits yang diriwayatkan Daruquthni (2/3) dan Baihaqi (1/177) dari Jabir RA, dia berkata: “Sunnah telah berlalu adalah bahwa pada setiap 40 orang atau lebih harus melaksanakan Shalat Jum’at”.
Abu Dawud (1069) dan selainnya meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik RA bahwa orang yang pertama kali melaksanakan Shalat Jum’at bersama mereka adalah As’ad bin Zirarah. Ketika itu, jumlah mereka ada empat puluh orang.
c. Waktu pelaksanaannya berlangsung dalam waktu Zhuhur. Jika waktunya telah berlalu atau syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka dikerjakan Shalat Zhuhur.
Bukhari (3935) dan Muslim (860) meriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ RA, dia berkata: “kami mengerjakan Shalat Jum’at bersama Nabi Muhammad SAW kemudian kami membubarkan diri. Pada waktu itu dinding tidak memiliki bayangan lagi untuk kami berteduh”.
Keduanya (897, 859) juga meriwyatkan dari Sahl bin Sa’ad RA, dia berkata: “kami tidak tidur siang dan makan kecuali setelah Shalat Jum’at”.
Tidur siang, maksudnya tidur pada pertengahan siang untuk istirahat. Kedua Hadits ini menunjukkan bahwa Shalat Jum’at tidak dikerjakan kecuali pada waktu Zhuhur, bahkan di awalnya.

Shalat Jum’at wajib dilaksanakan di setiap daerah atau di setiap kota, dan Shalat Jum’at tidak wajib atas orang yang berada diluarnya, sebagaimana perkataan Ali RA: “tidak ada jum’at maupun tasyriq kecuali di mishr jami’ (kawasan pemukiman luas dengan populasi penduduk yang mengumpul).
Mishr adalah kawasan yang besar, sehingga keberadaan Masjid bukanlah syarat syah bagi pelaksanaan Shalat Jum’at, karena tidak ada persyaratan harus dilakukan secara berjamaah. Jika memang ada persyaratan harus berjamaah pasti hal itu diterangkan dalam ma’tsur. Ini adalah pendapat mayoritas ulama’ yang penulis anggap bagus, berbeda dengan apa yang dikemukakan kalangan ulama madzhab Maliki yang mensyaratkan demikian, namun dalam hal ini mereka tidak mempunyai sandaran.
Oleh karena itu, diperbolehkan menggelar Shalat Jum’at lebih dari satu tempat dalam satu kampung, jika memang kawasannya sempit dan populasi penduduknya cukup padat.
Tidak adanya fakta pelaksanaan Shalat Jum’at lebih dari satu tempat dalam satu kawasan pemukiman pada masa Nabi Muhammad SAW maupun pada masa sahabat tidak dapat dijadikan dalil bahwa hal itu tidak boleh, karena pada masa itu tidak perlu digelar lebih dari satu tempat dalam satu kawasan dan para sahabat kala itu pun sangat ingin mendengarkan khutbah Rasulullah SAW, dan ikut shalat Jum’at bersama Rasulullah SAW, meskipun tempat tinggal mereka jauh dari masjid Nabawi, sebab beliau adalah penyampai pesan Allah SWT.
Ada dua pendapat mengenai pelaksanaan Shalat Jum’at yang dilaksanakan di tempat kerja semisal pertambangan batu bara.
Pertama, Hukum Shalat Jum’atnya Syah, karena mereka yang mempertimbangkan mashlahah dan kondisi sekarang ini. Luasnya pembangunan, banyaknya manusia yang mustahil untuk dikumpulkan dalam satu masjid, dan kebutuhan mereka untuk mempermudah melaksanakan shalat jumat. Ibnu Rusyd berkata: semua persyaratan (shalat jum’at) ini merupakan hal-hal yang tampak mempersulit, sedangkan agama Allah itu mudah.
Kedua, Hukum Shalat Jum’atnya Tidak Syah, karena Shalat Jum’at tidak boleh dikerjakan berbilang di suatu tempat, dan juga karena tempat kerja – termasuk daerah pertambangan – tidak memiliki penduduk tetap (mustautin) sehingga tidak wajib jum’at.

C. Hukum Mendirikan Dua Shalat Jum’at dalam Satu Wilayah
Kesadaran umat Islam untuk menjalankan kewajiban agamanya dewasa ini dirasakan semakin meningkat. Hal ini antara lain ditandai dengan syiar agama yang semakin semarak, dan membludaknya masjid-masjid dalam Shalat Jum’at. Penyelenggaraan Shalat Jum’at tidak hanya dipemukiman, tapi juga di perkantoran, pertokoan, dan kawasan industri.
Namun hal ini belum sepenuhnya di imbangi oleh penyediaan sarana dan prasana ibadah yang cukup memadai, serta masih terdapatnya faktor-faktor kondisional yang menyebaban tidak terpenuhinya hasrat untuk menjalankan ibadah sebagaimana mestinya. Para karyawan pabrik kaca, misalnya, tidak dapat melaksanakan secara bersama-sama melaksanakan Shalat Jum’at karena ada proses yang tidak dapat ditinggal sama sekali. Ada pula pertokoan yang tetap buka saat Shalat Jum’at, sehingga tidak memungkinkan pramuniaga prianya secara serentak meninggalkan tugasnya. Hal ini bisa diatasi dengan menyelenggarakan Shalat Jum’at secara bergantian, bertahap, atau Shalat Jum’at dalam dua shif (angkatan).
Ta’addud Jum’at ialah berbilangnya penyelenggaraan jama’ah Jum’at dalam satu masa disuatu tempat dan hukumnya boleh dengan syarat-syarat tertentu sebagaimana keputusan mukhtamar NU di situ bondo, November 1984, dalam masalah nomor 359.
Adapun Jum’atan dua Shif/angkatan atau lebih (Insya-ul Jum’ah ba’da Jum’ah) yang artinya penyelenggaraan Shalat Jum’ah lebih dari satu di suatu tempat, maka hukumnya tidak Sah.
Jalan keluarnya adalah sebagai berikut:
1. karyawan seperti itu wajib berikhtiar seoptimal mungkin agar dapat menunaikan Jum’atan shif pertama.
2. Sebaiknya ditugaskan karyawati untuk menjaga produksi agar karyawan dapat menunaikan Shalat Jum’at.
3. Dalam hal ikhtiar tersebut bila tidak berhasil maka kewajiban Shalat Jum’at menjadi gugur dan wajib menunaikan Shalat Zhuhur dan dianjurkan berjama’ah. Jika ada udzur syar’i di dalam meninggalkan Shalat Jum’at demikian ini dengan menganti Shalat Zhuhur hukumnya tidak berdosa. Tetapi jika tidak ada udzur syar’i, hukumnya berdosa.
Rekomendasi:
Kepada pemerintah dan para produsen/pengusaha agar memberikan jaminan kebebasan kepada para karyawan untuk menjalankan agamanya, dan melaksanakan Shalat Jum’at.
أما غير المأموم فلا يجوز استخلافه لأنه يشبه إنشاء جمعة بعد أخرى وهو ممتنع. (الحواشي المدينة ٢ / ٧٦)

Adapun selain makmum, maka tidak boleh menggantikannya, karena serupa dengan membentuk Shalat Jum’at setelah Shalat Jum’at yang lain (dalam satu masa secara serentak di tempat yang sama). Dan hal ini tidak diperkenankan. (Al-Hawasyil Madaniyyah juz II, hlm. 76)

الشفعية قالوا: من فاته صلاة الجمعة لعذر أو لغيره سن له أن يصلي الظهر في جماعة . (الفقه على مذاهب الأربعة ۱ / ٤۰٦)

Para Ulama’ Syafi’i berpendapat, barang siapa yang ketinggalan Shalat Jum’at karena sesuatu uzur atau lainnya, maka di sunahkan untuk Shalat Zhuhur berjama’ah. (Al-Fiqh ‘Ala Madzahibul Arba’ah, juz I, hlm. 406)

Memperhatikan pelaksanaan Jum’at di masa Rasulullah SAW, di mana Shalat Jum’at hanya dilakukan di Masjid Nabawy padahal ada Masjid-masjid lain yang di lingkungan para shohabat untuk sholat lima waktu, juga memcermati makna syari’at dalam penegakan jum’at dan makna pelaksanaannya, yaitu untuk menyatukan kaum muslimin dan mendekat hubungan antara sesama mereka, dimana telah ada mesjid ditegakkan jum’at di sekitar kantor, serta memperhatikan bahwa Nabi SAW dan para shohabatnya tidak pernah melakukan jum’at di dalam perjalanan, bahkan hanya beliau lakukan di mesjid yang telah ditetapkan, maka seharusnya apa yang disebutkan dalam pertanyaan tidaklah terjadi dan seharusnya mereka menegakkan jum’at bersama kaum muslimin yang lainnya di mesjid yang telah ada.
Pada masa Rasulullah SAW Shalat Jum’at hanya dilaksanakan dalam satu masjid. Kemudian sejalan dengan meningkatnya jumlah pemeluk agama Islam sehingga tidak dapat ditampung dalam satu masjid, maka shalat Jum’ at dilaksanakan dalam beberapa masjid sesuai dengan kebutuhan. Bahkan sekarang ini karena tempat yang terbatas, terjadi shalat Jum’at dilaksanakan dalam dua shift. Berkenaan tentang hukum melaksanakan shalat Jum’at dua kali dalam satu masjid (tempat) karena terbatasnya kapasitas tempat, atau karena alasan lain.
Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah:

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنِ عُمَرَ وَأَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَاهُ أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ لَيَنْتَهَيِّنَ أَقْوَامٌ عَنْ وَدَعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لِيَكُونَنَّ مِنَ الْغَافِلِيْنَ (رواه مسلم(
Artinya:
“Hendaklah kaum muslimin (umat Islam)menghentikan kebiasaan mereka meninggalkan shalat Jum’at, atau Allah akan menutup pintu hati mereka sehingga mereka termasuk orang-orang yang lupa (kepada Allah SWT) “. (Nailul Authar Juz 3 halaman 226).
Demikian juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, dari sahabat Abu al- J a’ ad, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي الْجَعْدِ يَعْنِي الضَّمَرِيَّ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ فِيْمَا زَعَمَ مُحَمَّدٌ بْنُ عُمْرٍ وَقَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ(رواه الترمذي(
Artinya:
“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at karena meremehkannya, maka Allah SWT akan menutup pintu hatinya”.
Jika memungkinkan, shalat Jum’ at hanya dilaksanakan satu kali dalam satu masjid di setiap kota atau desa. Hal ini dimaksudkan untuk menghimpun umat Islam dalarn satu tempat sehingga dapat melaksanakan ibadah dengan khusyu’, menciptakan syi’ ar Islam, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah, memperkokoh persatuan dan kesatuan umat serta menumbuh-kembangkan ruh at-ta’ awun dalam jiwa mereka karena merasa sarna-sarna menjadi hamba Allah yang berkewajiban melaksanakan ibadah dan mengabdi kepada-Nya.
Jika tidak memungkinkan karena ada hajat (kebutuhan) seperti luasnya wilayah kota atau desa, sulitnya menghimpun umat Islam dalam satu masjid, sulitnya mempertemukan dua kelompok umat Islam yang saling bermusuhan, banyaknya jumlah jamaah Jum’at sehingga tidak dapat ditampun dalam satu masjid, jauhnya jarak antara satu wilayah pemukiman umat Islam dengan pemukiman yang lain dan sebagainya, maka shalat Jum’at dapat dilaksanakan di beberapa masjid atau bangunan sesuai dengan kebutuhan (hajat).
Jika kaum muslimin yang berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at tidak dapat melaksanakannya dalam waktu bersamaan karena tugas-tugas penting yang tidak dapat ditinggalkan dan harus bergantian, maka shalat Jum’at boleh dilaksanakan dua shift, dengan syarat, waktu pelaksanaan dua shift shalat Jum’ at tersebut masih dalam batas waktu Zhuhur. Semua pelaksanaan shalat Jum’ at tersebut dinilai sah sehingga tidak perlu dilakukan i’adah shalat Zhuhur.
Hal ini didasarkan pada dalil-dalil sebagai berikut:
a. Para imam madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) telah sepakat, bahwa shalat Jum’at tidak boleh dilaksanakan beberapa kali (ta’addud al-jumu’ah) di beberapa masjid atau bangunan lain dalam satu kota atau desa, kecuali karena ada hajat (kebutuhan). Seperti luasnya wilayah kota atau desa, sulitnya menghimpun umat Islam dalam satu masjid, sulitnya mempertemukan dua kelompok umat Islam yang saling bermusuhan, banyaknya jumlah jamaah Jum’at sehingga tidak dapat ditampung dalam satu masjid, jauhnya jarak an tara satu wilayah pemukiman umat Islam dengan pemukiman yang lain dan sebagainya.
b. Bahwa salah satu prinsip dasar disyari’ atkannya ajaran Islam adalah “tidak mempersulit manusia”
c. Qaidah Ushuliyah yang menyatakan:
اَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ
“Kesulitan mendorong pencarian kemudahan”

IV. KESIMPULAN
A. Kata Al-Jumu’ah berasal dari kata Ijtima’. Ia disebut hari Jum’at karena pada hari itu penciptaan Adam dihimpun dari air dan tanah. Shalat Jum’at Hukumnya Fardhu ‘ain. Semua ahli ilmu sepakat mengenai kefardhuan Shalat Jum’at. Shalat Jum’at diwajibkan pada Bulan Rabi’ul Awal tahun pertama Hijrah. Shalat Jum’at pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah SAW di Masjid Bani Salim bin Auf pada tanggal 16 Rabiul Awal, sementara yang pertama kali melaksanakan Shalat Jum’at di Madinah adalah Mush’ab bin Umair, hingga akhirnya Rasulullah SAW tiba di Madinah dan melakukan Shalat Jum’at ketika matahari tergelincir.
B. Syarat Wajib Shalat Jum’at ada tujuh macam, yaitu:
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Merdeka
5. Laki-laki
6. Sehat
7. Mukmin
Sedangkan Syarat pelaksanaan Shalat Jum’at ada tiga macam, yaitu:
1. Tempat pelaksanaannya adalah di kota atau desa.
2. Jumlah orang yang mengerjakannya sebanyak 40 orang.
3. Waktu pelaksanaannya berlangsung dalam waktu Zhuhur. Jika waktunya telah berlalu atau syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka dikerjakan Shalat Zhuhur.
C. Ta’addud Jum’at ialah berbilangnya penyelenggaraan jama’ah Jum’at dalam satu masa disuatu tempat dan hukumnya boleh dengan syarat-syarat tertentu sebagaimana keputusan mukhtamar NU di situ bondo, November 1984, dalam masalah nomor 359.
Adapun Jum’atan dua Shif/angkatan atau lebih (Insya-ul Jum’ah ba’da Jum’ah) yang artinya penyelenggaraan Shalat Jum’ah lebih dari satu di suatu tempat, maka hukumnya tidak Sah.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Azzam, Abdul Aziz Muhammad, dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah, Pnrj. As’at Irsyady, Ahsan Taqwim dan Al-Hakam Faishol, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2009), cet. 1
Al-Bugha, Musthafa Diib, Fiqih Islam Lengkap, pnrj. D.A Pakihsati, (Solo: Media Zikir, 2009)
Mahfudh, Sahal, Ahkamul Fuqoha, Solusi problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama, Pnrj. Djamaluddin Miri, (Surabaya: Lajnah Ta’lif Wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur, 2007), cet. 3

http://ad-dai.blogspot.com/2011/04/tentang-shalat-jumat-2.html

http://www.ilmu.us/1886/hukum-dua-masjid-untuk-shalat-jumat-dalam-satu-daerah/

http://www.e-infad.my/i-fms/index.php?option=comfatwa&task=viewlink&linkid =2948&Itemid=48

About these ads

Satu tanggapan »

  1. Ping-balik: Kali Kresek Kini Lebih Tertata | makanenak.info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s