HUKUM WALI HAKIM DALAM PERNIKAHAN,

Standar

HUKUM WALI HAKIM DALAM PERNIKAHAN,
NIKAH MUT’AH DAN STATUS ANAK ZINA

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Masail Fiqhiyah Haditsah
Pengampu Amin Farih, M.Ag.

Disusun Oleh :
QURROTA A’YUN FATKHI
NIM : 063311014

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2008

HUKUM WALI HAKIM DALAM PERNIKAHAN,
NIKAH MUT’AH DAN STATUS ANAK ZINA

I. PENDAHULUAN
Dewasa ini sering kita jumpai berbagai permasalahan tentang status hukum dari hal-hal yang kontemporer antara lain adalah hukum wali hakim dalam pernikahan, hukum nikah mut’ah dan juga hukum status anak zina yang kini semakin meradang pada masyarakat.
Sudah sering kita dengar perbedaan dalam penentuan status hukum dari ketiga hal tersebut dari mulai ulama yang satu dengan yang lain mempunyai dalil dan pedoman yang berbeda untuk menentukan ukumnya. Dari enomena tersebut pemakalah mencoba menulis sedikit dari ikhtilaf ulama tentang hukum yang berlaku baik dari pandangan agama islam maupun yang sudah ditetapkan di Indonesia.

II. PERMASALAHAN
1. Hukum wali hakim dalam pernikahan
2. Hukum nikah mut’ah
3. Hukum status anak zina

III. PEMBAHASAN
A. Hukum Wali Hakim dalam Pernikahan
Dalam pernikahan adanya wali dan mempelai perempuanadalah penting karena salah satu termasuk hokum nikah. Apabila dalam prosesi pernikahan tidak adanya wali maka perkawinan tersebut tidak sah
Jumhur Ulama’ diantaranya Imam malik Assyafi’I, Ats Tsauri dan Al Laits bin Saad berpendapat bahwa wali dalam pernikahan adalah ashabah bukan paman dan bukan saudara seibu dan bukan ahwalil arham lainnya. Kata Imam SyAfi’I pernikahan seorang perempuan Tidak sah kecuali apabila di nikahkan oleh wali aqrob ( dekat ). Kalau tidak ada wali aqrob maka dinikahkan oleh wali abad ( jauh ) kalau todak ada maka dinikahkan oleh penguasa ( wali Hakim) dan urutannya sebagai berikut:
1. Ayah
2. Kakek
3. Saudara laki-laki sekandung
4. Saudara laki-laki seayah
5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah
7. Paman sekandung (saudara laki-laki dari ayah yang seibu seayah)
8. Paman seayah
9. Anak laki-laki dari paman sekandung
10. Anak laki-laki dari paman seayah
11. Hakim

Dari urutan yang berhak dan diperbolehkan untuk menjadi wali adalah sesuai dengan urutan diatas, tidak boleh melompati atau mengganti apabila wali yang terdekat dengan mempelai wanita masih ada. Setelah mengetahui adanya urutan dalam perwalian kita spesifikkan lah kepada wali hakim.

1. Pengertian wali hakim
Wali hakim adalah sultan atau Raja yang beragama islam yang bertindak sebagai wali kepada hakim perempuan yang tidak mempunyai wali, oleh karena sultan atau raja ini seibuk dengan tugas-tugas Negara. Maka ia menyerahkannya kepada Kadhi-kadhi atau pendaftar-pendaftar nikah untuk bertindak sebagai wali nikah. Dalam lingkungan kita biasanya menggunakan orang-orang yang bekerja dikantor urusan agama (KUA) seperti penghulu dan staf-staf yang ahli dalam bidang tersebut dan mempunyai bekal agama yang cukup disesuaikan dengan syarat-syarat menjadi wali. Hadis dari Nabi SAW yang artinya ; “Dari abi Musa ra Rosulullah SAW bersabda : tidak ada nikah melainkan dengan adanya wali”. ( riwayah alKhomsah dan AnNasai).

2. Sebab-sebab menggunakan wali hakim
a. Tidak adanya wali nasab
Bagi penganten perempuan yang tidak mempunyai wali nasab seperti saudara baru tidak ada saudara yang memeluk islam atau perempuan yang tidak mempunyai wali langsung mengikkut tertib wali atau anak luar nikah maka wali hakimlah yang menjadi wali dalam perkawinannya.
b. Anak tidak sah taraf atau anak angkat.
Anak tidak sah taraf atau anak diluar nikah ialah anak yang lahir atau terbentuk sebelum diadakan perkawinan yang sah.
c. Wali yang ada tidak cukup syarat.
Dalam islam kalu wali aqrab tidak mempunyai cukup syarat untuk menjadi menjadi wali seperti gila, tidak sampai umur, dan sebagainya maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali ab’ad mengikuti tertib wali. Sekiranya satu-satunya wali yang ada itu juga tidak cukup syarat tidak ada wali lagi yang lain maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali hakim.
d. Wali aqrob menunaikan haji atau umroh
Dalam kitab minhaj tholibi dalam bab nikah menyatakan jika wali aqrob menunaikan haji atau umroh maka hak hak walinya terlucut dan hak wali itu juga tidak berpindahan kepada wali ab’ad tetapi hak wali itu berpindah kepada wali hakim.
e. Wali enggan
Para fuqoha sependapat bahwa bahwa wali tidak boleh enggan untuk menikahkan perempuan yang dalam kewaliannya tidak boleh menyakitinya atau melarangnya berkahwin walhaj pilihan perempuan itu memenuhi kehndak syarak.

B. Nikah Mut’ah
1. Pengertian Mut’ah
Mut’ah bberasal dari kata tamattu’ myang berarti senand-senang atau menikmati. Adapun secara istilah mu’ah berarti seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan memberikan sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu, pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan tanpa talak serta taanpa kewajiban memberi nafkah atau tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewarisi antara keduanya sebelum meninggal dan berakhirnya masa nikah mut’ah itu.
Kata-kata mut’ah pada dasrnya memberi kesenangan dan meningkat tinggi. Maka kita ini mendapat keseempatan untuk bergembira dan berkelapangan. Umpamannya firman Allah :
بل متعت هؤلاء واباءهم حتى جاءهم الحق ورسول مبين
Artinya :
Bahkan Aku biarkan mereka dan bapak-bapak mereka bersenag-senang hingga dating kepada mereka kebenaran dan seorag Rosul yang menerangkan. “ (as Zukhruf ; 29 ) .
Ada juga dalil Al Quran yang menerangkan bahwa pernikahan adalah untuk mendapat ketentraman , adalah ;
ومن ايته ان خلق لكم من انفسكم ازواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة ورحمة ان في ذلك لا يت لقوم يتفكرون
Artinya: “dan diantara tanda-tanda (kebesaran ) –Nya ialah ia menciptakan pasangan-pasangan untuk jenismu sendiri agar kamu cendeerung dan merassa tentran kepadanya dan dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan saying. Sungguih pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesara Allah )bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar- Rum :21)
Didalam hadis menyebutkan :
عن ربيع بن سبرة الجهني أن أباه حدته كان مع رسول الله عليه وسلم فقال ياايها الناس إني قدكنت أذنت لكم في الستمتاع من النساء وإن الله قدحرم ذلك إلي يوم القيامة فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيله ولاتأخذوا مما اتيتموهن شينا (أخرجه مسلم وأبوداوودوا النسائ وابن ماجة وبن حبان)
Artinya : “ diriwayatkan dari robi’ bim Sabrah r.a. Sesungguhnya Allah SAW bersabda :” wahai sekalian manusia sesungguhnya aku pernah meninggikan perag Mut’ah, dan sesuhngguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat, oleh karrenanya barang siapa yang masih mempunyai ikatan mut’ah maka segera lepaskan lah, dan jangan kalian ambil apa yang telah kalian berikan kepada wanita yang kalian mut’ah “ (HR Muslim, Abu DAud, An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

2. Hukum nikah Mut’ah
Pandangan Umar r.a tentang Mut’ah telah disetujui Oleh banyak sahabat. Dan riowayat-riwayat tentang keharamannya tidak hanya dating dari al Faruq r.a, tetapi diriwyatkan pula oleh banyak sahabat lainnya. Berikut ini adalah sebagian dari riwayat-riwayat tersebut:
1) Al –Hasan bin Muhammad bin Ali dan saudaranya, Abdullah dari Ayah keduanya bahwa ali ra berkata kepada ibnu Abbas : “ Bahwa nabi SAW melarang nikah mut’ah dan memakan daging khikar ahliah (liar) pada masa perasng khaibar .
2) Dai Iyas bin Salamah dari Ayahnya ia berkata : Rosulullah SAW memberikan rukhsoh (keringanan bermut’ah pada tahun authas kemudian setelah itu beliau melarang .
3) dari Abdul Malik bin Robi, bin Sabrah al- Juhani, dari Ayahnya, dari kakeknya menyatakkan : “kami diperintahkan bermut’ah oleh Rosulullah SAW pada Amul FAth (masa penaklukan kota mekkah ), ketika kita memasuki kota makkah kemudian sebelum kami keluar daripadanya beliau telah melarangnya.
4) Riwayat lain : dari Ar robi’ bin Sabrah al- Juhani, dari bapaknya, bahwa Rosulullah SAW melarang melakukan mut’ah dan bersabda : “ ketahuilah bahwa ia haram sejak hari ini hingga hari kiamat. Dan siapa-siapa yang telah memberikan sesuatu (kepada pasanganMut’ahnya , penerj ) maka janganlah ia mengambilnya kembali.
Imam Syafi’I mengatakan semua nikah yang ditentukan berlangsungnya sampai waktu yang diketahui ataupun yang tidak diketahui (temporer) maka nikah tersebut tidak sah dan tidak ada hak waris ataupun talak antara kedua pasangan suami istri. (al Uum V/7).
Para Ulama bersepakat bahwa nikah mut’ah itu tidak sah dan hamper tidak ada perselisihan pendapat. Bentuknya adalah misalnya seseorang mengawini perempuan untuk masa teretentu dengan berkata : “saya mengawini kamu untuk masa satu bulan/ setahun/dan semisalnya”.
Apabilla ada orang yang melaksanakan nikah mut’ah ia telah dianggap melanggar ajaran islam dan secara otomatis nikahnya tersebut batal sebagaimana disebutkan oleh al-Imam an –Nawawi dalam syarah shohih muslim:
واجمعواعلي أنه متي وقع نكاح المتعته الان حكم يبصلانه سواء كان قبل الدخول أوبعده
Artinya :“ para Ulama sepakat (ijma’) bahwa jika saat ini ada yang melaksanakan nikah mut’ah maka hukumnya tidak sah (batal) baik sebelum atau sesudah dilakukan hubungan badan.

C. Status Anak Zina
1. Pengertian Zina
Zina menurut Jurnani adalah :
الوطأ في قبل خال عن ملك وشبهة

Artinya : Memasukkan penis (zakar bahasa arab ) ke dalam vagina (fajr Bahasa Arab ) bukan miliknya ( istrinya) dan tidak ada unsure subhat( kesurupan atau kekeliruan ).

Dari definisi di atas dapat dipahami, bahwa suatu perbuatan dapat dikatakan zina apaabila sudah memenuhi dua unsur yaitu :
1) Ada persetubuhan antara dua orang yang berbeda jenis kelaminnya
2) Tidak ada kesurupan atau kekeliruan (subhaht ) dalam perbuatan seks.

2. Status hukum anak zina
Anak zina menurut pandangan islam adalah suci dari segala dosa karena kesalahan itu tidak dapat ditujukan kepada anak tersebut , tetapi kepada kedua orangtuanya (yang tidak sah menurut hokum)
Didalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman :

ألانزروازرة وزرأخري

Artinya : (yaitu) Bahwasanya seseorang yang berdosa tidak tidak akan memikul dosa orang lain. (an Najm ; 38 )

Didalam Hadis disebutkan :
ما من مولود إلايولد علي الفطرة(رواه البخاري)
Artinya : Tidak setiap anak dilahirkan kecuali suci bersih (menurut fitrah) ….(HR Bukhori)

Mengenai status anak zina ini ada tiga pendapat , yaitu:
a. Menurut imam malik dan Syafi’I anak zina yang lahir setelah nam bulan dari perkawinan ibu bapaknya, anak itu dinasabkan kepada bapaknya.
b. Jika anak itu dilahirkan sebelum enam bulan maka anka itu dinasabkkan kepada ibunya karena ibunya diduga telah melakukan hubungan seks dengan orang lain sedang batas waktu hamil paling kurang enam bulan.
c. Menurut Ibnu Hanifah Anak zina tetap dinasabkan kepada suami ibunya (bapaknya ) tanpa mempertimbangkan waktu masa kehamilan si Ibu.
Status anak zina tidak ddapat sikatakan secara huku m islam mempunyai Ibu Bapak , sebab tidak mempunyai dasar yang sah semnejak semulanya bahkan didasarkan kepada sesuatu yang tidak dapat dibenarkan bahkan melanggar peraturan yang ada sanksi hukumnya,. Sesuatu yang berdasarkan kepada yang bathil , mak bathil pulalah hukumnya . Anak ini adalah manusia biasa yang normal serrta mereka mempunyai hak hidupnya yang biasa dengan manusia yang lainnya hanya ia kehilangan hak warisan sebab ia tak mempunyai bapak yang sah . Hubungan darah ada secara kahiriyah tetapi hubungan jiwa perasaan dan cinta tidak didapatkannya.
Anak hasil zina harus diperlakukan secara manusiawi, diberi p[endidikan, pengajran dan ketrempilan yang berguna untuk bekal hidupnya dimasa depan. Tangg8ung jawab mengenai segala keperluan anak itu . baik materiil maupun sepiritul adalah ibunya yang melahirkanya dan keluarga ibunya itu. Sebab anak zina hanya mempunyai nasab dengan ibunya saja. Demikian juga halnya hak waris mewarisi, sebagaimana dinyatakan dalam hadits:

عن ابن عمر أن رجلا لاعن امرأته في زمن النبي صلي الله عليه وسلم وانتفي من ولدها ففرق النبي بينهما الولدبالمرأة(رواه البخاري وابوداود)
Artinya: “dari ibnu umar, bahwa seorang laki-laki telah meli’an istrinya di zazaman nabi SAW, dan ia tidak mengakui anak istrinya (sebagai anaknya), maka nabi menceraikan antara keduanya dan menasabkan anak tersebutkepada si istri. (HR. Bukhari dan abu daud).

3. Beberapa akibat negatif dari zina.
Islam menganggap zina sebagai tindak pidana (jarimah) yang sudah di tentukan sanksi hukumnya dan ketentuan ini sudah pastiad tujuanya. Salah satu tujuanya adalah agar manusia tidak terjerumus kepada perbuatan terkutuk yang dimurkai Allah dan bertentangan pula dengan akal yang sehat.
Sayid sabiq dalam fiqh sunnah dengan tegas mengatakan bahwa zina itu termasuk tindak pidana, dengan alas an-alasan:
a) Zina dapat menghilangkan nasab (keturunan) dan dengan sendirinya menyia-nyiakan harta warisan ketika orang tuanya (tidak sah) meninggal dunia.
b) Zina dapat menularkan penyakit yang berbahaya bagi orang yang melakukanya seperti penyakit kelamin dan sebagainya.
c) Zina merupakan salah satu sebab terjadinya pembunuhan, karena rasa cemburu yang adapada setiap manusia.
d) Zina dapat menghancurkan keutuhan rumah tangga dan meruntuhkan eksistensinya. Bahkan lebih dari itu dapat memutuskan hubungan keluarga.
e) Zina hanya sekedar hubungan yang bersifat sementara, karena itu termasuk perbuatan binatang.

4. Akibat hokum bagi anak zina.
Apabila anak dilahirkan secara tidak sah, maka ia tida dapat duhubungkan dengan bapaknya (tidak sah), kecuali hanya dengan ibunya saja. Dalam hokum islam anak tersebut tetap dianggap anak yang tidak sah dan berakibat:
a) Tidak ada hubungan nasab dengan laki-laki yang mencampuri ibunya (secara tidak sah).
b) Tidak ada saling mewarisi dengan laki-laki itu dan hanya waris mewarisi dengan ibunya saja.
c) Tidak dapat menjadi wali bagi anak perempuan, karena ialahir akibat hubungan diluar nikah.
Sebagai akibat dari ketentuan hokum tersebut diatas. Merambat pula masalahnya pada masalahkejiwaan si anak tadi. Cepat atau lambat pasti akan diketahuinya dan aib itu merupakan corengan orang yang sukar menghapusnya. Jiwanya merasa tertekan sepanjanghidupnya, karena cemooan dari masyarakat sekitar. Walaupun dalam pandangan agama islam anak itu tidak menanggung dosa, akibat perbuatan orang tuanya.

IV. ANALISIS
Wali hakim dalam pernikahan sering kita jumpai di daerah-daerah tertentu di Indonesia misal saja pada suatu hari ada acara pernikahan tetapi wali dari mempelai wanita merasa tidak atau kurang mampu untuk menjadi wali dalam pernikahan dengan alasan pengetahuan agamanya kurang maka wali memasrahkan hak perwaliannya diberikan kepada ulama atau kyai yang diyakini beragama dengan baik ataupun juga diserahkan kepada penghulu dari pihak Kantor Urusan Agama (KUA). Dalam pemberian hak perwalian hak perwalian haruslah ada ijab qobul antara wali mempelai wanita kepada wali hakim.
Dari contoh yang pemakalah sebutkan sudah jelas bahwasannya hukum wali hakim dalam pernikahan adalah boleh. Yang terpenting adalah adanya syarat-syarat yang dipenuhi sesuai dengan tulisan dalam makalah. Dan pernikahan dalam keadaan yang direstui oleh wali.
Nikah mut’ah adalah nikah yang hanya untuk jangka waktu tertentu dengan memberikan mahar. Sudah sering kita jumpai peristiwa seperti ini, orang-orang yang mempunyai uang banyak dan hanya ingin bersenang-bersenang karena hakekat mereka menggunakan kata nikah mut’ah hanya untuk menghindari perkataan dari orang bahwa hubungannya adalah termasuk zina tetapi pada hakekatnya hal itu adalah zina karena pernikahan merupakan hal yang yang suci dan untuk kelanggengan. Keadaan tersebut sangat memprihatinkan karena sesungguhnya perbuatan itu sama saja dengan membayar wanita penghibur di tempat pelacura, karena setelah puas menyalurkan nafsunya maka akan meninggalkan wanita tersebut. Sudah barang tentu wanita yang mau untuk menjalankan nikah mut’ah bisa terkena penyakit HIV AIDS karena dalm jangka waktu antara pernikahan yang satu dengan yang lainnya tidak ada masa iddah dan selalu berganti pasangan.
Anak zina adalah korban dari perbuatan orang-orang yang tidak bermoral, tidak mau menjaga nama baiknya dan karena hanya untuk menyalurkan nafsunya belaka. Kesenangan yang didapatkan juga sangatlah sebentar karena apabila hubungan zina itu berbuahkan anak maka mereka akan menanggung akibat yang sangat berat.
Anak zina disini posisinya sangatlah memprihatinkan karena dalam bidang psikologinya akan terganggu. Anak yang mengetahui bahwa dia lahir dari orang yang tidak benar perawatannya maka akan terjadi gangguan pada dirinya merasa minder dari hal-hal lain. Belum juga nantinya ada orang yang mencemooh karena masyrakat kita jika melihat kejadian yang tidak sesuai maka akan merasa risih untuk membenarkannya. Tetapi pada hakekatnya anak itu suci sehingga janganlah dikucilkan dalam kehidupannya.
Dunia yang glamor ternyata memanglah sangat merusak moral dari para generasi muda, karrena sekarang banyak sekali pemuda yang melakukan hubungan seks di luar nikah. Walaupun mereka tahu bahwa hubungan itu haram, karena iman mereka goyah. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut alangkah baiknya kita membekali diri kita dan keluarga kita dengan pengetahuan agama dan menjalankannya.

V. KESIMPULAN
Dari ketiga bab diatas memanglah merupakan kejadian yang sangat banyak terjadi dilingkungan kita sehingga kita harus pintar untuk menghadapi hal tersebut. Wali hakim dalam pernikahan diperbolehkan sesuai dengan keadaan dan harus disesuikan dengan syarat-syarat yang ada. Sedangkan untuk nikah mut’ah sudah jelas bahwa hukumnya haram karena sudah dipertegas oleh Rosullullah dengan hadits-haditsnya. Seorang anak dilahirkan dalam keadaan suci, karena orang tidak bisa memikul dosa orang lain. Jadi anak hasil dari zina adalah tetap suci.

VI. PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat semoga dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya. Kritik dan saran kami tunggu untuk kesempurnaan pembuatan makalah selanjutnya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s