MASALAH HISAB DAN RU’YAH (PENENTUAN AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL) SERTA PENARIKAN AMAL (SEDEKAH) OLEH ANAK KECIL

Standar

MASALAH HISAB DAN RU’YAH (PENENTUAN AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL) SERTA PENARIKAN AMAL (SEDEKAH) OLEH ANAK KECIL

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Masailul Fiqhiyah Al-Haditsah
Dosen Pengampu: Bapak Amin Farih

Disusun Oleh:
ROIFATUL MASFUFAH
083111107

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010
MASALAH HISAB DAN RU’YAH (PENENTUAN AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL) SERTA PENARIKAN AMAL (SEDEKAH)
OLEH ANAK KECIL

I. PENDAHULUAN
Penentuan awal Ramadhan, Syawwal, Dzulhijjah adalah merupakan masalah penting karena berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, yaitu ibadah puasa dan shalat hari raya (Idhul Fitri dan Idhul Adha), dimana penetapannya didasarkan pada Al-Qur’an dan al-Hadits.
Persoalan hisab dan rukyah dalam hal penentual awal bulan Qomariyah terutama bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah seringkali memunculkan perbedaan. Mengingat hal ini berkaitan erat dengan salah satu kewajiban (ibadah), sehingga melahirkan sejumlah pendapat yang bervariasi. Karena penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dimunculkan metode rukyah dan hisab.
Dalam hidup manusia tidak dapat lepas dari segala aktivitas yang hampir seluruhnya memerlukan materi. Baik dari kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, manusia adalah makhluk yang terus berkembang dan senantiasa beradaptasi dengan lingkungan. Komunitas dan perkembangan zaman menuntut individu untuk dapat memenuhi setiap keperluan agar dapat bertahan hidup. Akal pikiran yang dianugerahkan Tuhan sebagai salah satu keistimewaan dari makhluk-makhluk lain memudahkan manusia berinteraksi dengan lingkungan, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan. Namun kadang sebagian oknum manusia tidak menggunakan anugrah itu sebagaimana mestinya. Manusia lebih senang bermalas-malasan, sehingga ketika kebutuhan menghimpit, mereka memilih menegadahkan tangan sebagai solusi masalah.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa Pengertian Ru’yah dan Hisab
B. Bagaimana Metode Rukyah-Hisab Menurut Hukum Islam
C. Bagaimana Metode Penetapan Awal Puasa dan Hari Raya di Indonesia
D. Penarikan Amal Sedekah Oleh Anak Kecil

III. PEMBAHASAN
A. Apa Pengertian Ru’yah dan Hisab
Makna ru’yah secara bahasa adalah melihat dengan mata kepala. Adapun hilal secara bahasa adalah bulan yang nampak pada malam pertama sampai malam ketiga di setiap bulannya dan setelah itu barulah dikatakan bulan (tidak dikatakan hilal lagi). Dalam bahasa Indonesia hilal dikenal sebagia bulan sabit.
Makna hisab secara bahasa adalah menghitung/ mengira, dan hisab terbagi menjadi dua:
1. Hisab yang menghitung melalui penanggalan bulan ke bulan lainnya sesuai perjalanan matahari.
2. Hisab yang menghitung dengan melihat perjalanan matahari dan pergerakan bulan, matahari dan bintang.

B. Bagaimana Metode Rukyah-Hisab Menurut Hukum Islam
صُوْمُوْ الِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْ الِرُؤْيَتِهِ فَاِنْ عُمٌّ عَلَيْكُمْ فَاكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا (صحيح البخارى، رقم 1776)
“Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan) dan berbukalah (berlebaranlah) kamu karena melihat bulan. Namun jika pandanganmu terhalang oleh awan, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban itu sampai 30 hari”. Demikianlah hadits riwayat Imam al-Bukhary dan Muslim dari Abu Hurairah yang sangat terkenal itu.

Dalam memahami dan memenuhi perintah hadits tersebut, dalam setiap menentukan awal bulan Ramadhan, awal Syawal dan awal Dzulhijjah selalu saja mengungang polemik. Polemik itu tidak hanya dalam wacana, tetapi berimplikasi pada awal dimulainya pelaksanaan ibadah puasa dengan segala macam kegiatan ibadah didalamnya, penentuan Idul Fitri dan Idhul Adha.
Berawal dari perbedaan itulah lahirlah 2 metode:
1. Metode Ru’yah
Pada masa Rasulullah SAW dan beberapa generasi sesudah beliau, menetapkan awal bulan Qumariyah khususnya awal Ramadhan selalu didasarkan pada metode Ru’yahtul Hilal, yaitu dengan melihat bulan sabit dengan mata telanjang.
Menurut metode ini penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan ditetapkan berdasarkan rukyah atau melihat bulan yang dilakukan pada hari ke 29. Apabila ru’yah tidak berhasil, baik karena posisi hilal memang dapat dilihat maupun karena terjadi mendung, maka penetapan awal bulan harus berdasarkan isti’mal (penyempurnaan bilangan bulan menjadi 30 hari). Sehingga menurut madzab ini term rukyah dalam hadits-hadits hisab ru’yah adalah bersifat ta’abudi ghair ma’qul al-ma’na. Artinya tidak dapat dirasionalkan pengertiannya, sehingga tidak dapat diperluas dan tidak dapat dikembangkan. Dengan demikian, rukyah hanya diartikan sebatas melihat dengan mata kepala (mata telanjang-tanpa alat).
2. Metode Hisab
Menurut metode ini penentuan awal dan akhir bulan Qomariyah berdasarkan perhitungan falak. Menurut madzah ini, term rukyah yang ada dalam hadits-hadits hisab rukyah dinilai bersifat ta’aqqulu ma’qul al-ma’na, dapat dirasionalkan, diperluas dan dikembangkan.
Ada dua metode hisab yang lazim digunakan, yaitu hisab urki dan hisab hakiki. Hisab urki berasal dari penyimpulan rata-rata lamanya umur bulan Qomariyah. Metode ini menentukan umur bulan-bulan ganjil 30 hari dan umur-umur bulan genap 29 hari. Sedangkan hisab hakiki, menentukan bahwa bulan baru dipastikan masuk bila pada waktu Maghrib hilal diperhitungkan berada diatas ufuk.

C. Bagaimana Metode Penetapan Awal Puasa dan Hari Raya di Indonesia
1. Menurut Ormas Islam
a. Nahdhatul Ulama (NU)
Dalam menentukan awal bulan Qomariyah yang ada hubungannya dengan ibadah, NU berpegang pada beberapa hadits yang berhubungan dengan rukyah. Disamping hadits, NU juga berpegang pada pendapat para ulama Imam Madzab selain Hambali, dimana Imam Madzab tersebut menyebutkan bahwa awal Ramadhan dan Syawal ditetapkan berdasarkan Ru’yah al-Hilal dan dengan istikmal.
Adapun dasar yang dipakai dari aliran ini adalah Al-Baqarah ayat 189:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ … ﴿189﴾
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan stabit, katakanlah, bulan tsabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi (ibadah-ibadah) manusia dan haji”.

Dalam ayat sebelumnya telah dijelaskan tentang puasa dan hal-hal terkait, maka ayat diatas juga punya keterkaitan yang erat dengan pelaksanaan puasa. Dari segi penentuan awal waktu, dan akhirnya, yaitu soal bulan. Permasalahan bulan memiliki urgensi yang cukup besar, terlebih sering kali bulan dijadikan (semacam) hakim dalam memutuskan tentang pelaksanaan ibadah pada hari-hari tertentu, seperti berpuasa, hari raya, wukuf di Arafah dan lain-lain. dimana ketika ibadah-ibadah tersebut tidak dilakukan pada waktu yang tepat maka menjadi tidak syah.
Firman-Nya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan tsabit”, adalah ketika salah seorang shahabat Nabi menanyakan keadaan bulan yang semula kecil/tsabit, tapi dari malam ke malam kian membesar dan akhirnya menjadi bulan purnama, lantas kembali mengecil lagi sampai menghilang dari pandangan? Maka dalam potongan ayat selanjutnya disebutkan, “Katakanlah bulan tsabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia”. Waktu dalam pandangan Al-Qur’an adalah batas akhir peluang untuk melakukan/ menyelesaikan suatu aktivitas. Dengan kondisi bulan seperti itu manusia dapat mengetahui dan merancang aktivitasnya sehingga dapat terlaksana sesuai masa penyelesaian. Juga dengan keadaan demikian dapat ditentukan penanggalan Arab, bila bulan tsabit tampak seperti garis tipis diufuk barat, kemudian tenggelam beberapa detik setelah terbenamnya matahari ketika itu dapat terjadi rukyah terhadap bulan.
b. Muhammadiyah
Dalam menetapkan awal dan akhir bulan qomariyah yang ada pelaksanaannya dengan ibadah, Muhammadiyah mendasarkan pendapatnya pada beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi SAW ayat Al-Qur’an yang dijadikan dasar adalah QS. Yunus [10]: 5.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ ﴿5﴾
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah (tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu) supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan baik. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”. (QS. Yunus [10]: 5)

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa Allah memberikan petunjuk tentang peran matahari dan bulan sebagai sarana untuk mengetahui perhitungan waktu.
Dan organisasi ini juga berpegang pada hadits
عن ابن عمر رضى الله عنهما عن النبى ص.م. انه قال انا اُمَّةٌ اُمِّيَّةٌ لاَنَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَذَا وَهَذَا يعنى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِيْنَ وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ (صحيح لبخارى، رقم 1780)
“Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Kami adalah umat yang tidak dapat menulis dan berhitung. Satu bulan itu seperti ini, seperti ini”. Maksudnya satu saat berjumlah 29 dan pada waktu lain mencapai 30 hari”. (shahih Bukhari, [1780])

Menurut mereka, hadis ini menjadi bukti bahwa Nabi SAW menggunakan ru’yah dalam keadaan terpaksa, sebab umat beliau tidak mampu menulis, membaca serta melakukan hisab. Melihat kondisi umat yang seperti itu, maka wajar jika Nabi SAW menggunakan ru’yah untuk menentukan awal dan akhir puasa. Ini dilakukan untuk memudahkan kaumnya agar mereka tidak menemui kesulitan ketika akan memulai/ mengakhiri puasanya. Atas dasar ini, menurut mereka, penggunaan ru’yah sudah tidak relevan lagi, karena sekarang sudah banyak ahli hisab. Dan juga fasilitas untuk melakukan hisab sudah tersedia, sehingga tidak sulit lagi untuk melakukannya.
c. Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Dalam fatwa MUI disebutkan bahwa penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyat dan hisab. Fatwa tersebut tidak hanya berisi tentang metode penetapan awal Qomariyah, tetapi juga tentang anjuran untuk mengikuti keputusan pemerintah dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.
Fatwa tersebut berisi empat butir, yaitu :
1) Penetapan awal bulan dengan metode ru’yah dan hisab.
2) Pemerintah instruksional mempunyai otoritas dalam penentuan awal bulan Qomariyah.
3) Pelaksanaan ibadah haji berdasarkan hasil ru’yah dan hisab di Indonesia.
4) Kewajiban umat Islam untuk menaati ketetapan pemerintah tentang penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.
2. Menurut Pemerintah
Di Indonesia penetapan awal bulan Qomariyah secara resmi dilakukan oleh menteri Agama dalam bidang Itsbat yang dihadiri berbagai utusan Ormas Islam. Kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk penetapan awal bulan Qomariyah selain Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode hisab. Sedangkan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode hisab-rukyah.

D. Penarikan Amal (Sedekah) Oleh Anak Kecil
Pada prinsipnya seorang anak mempunyai hak untuk menikmati masa kanak-kanknya dan jangan sampai masa kanak-kanaknya diubah menjadi masa dewasa secara dini. Karena hal ini akan berpengaruh pada kejiwaannya secara negatif dan menghalanginya menjalani periode yang amat penting dari kehidupannya, yaitu masa kanak-kanak. Tidak boleh seperti yang dilakukan sebagian masyarakat yang tidak memberi kesempatan bahkan melarang anak-anak untuk belajar dan tidak memperharikan pendidikannya. Kita juga tidak boleh acuh dan membiarkan mereka terlantar jika kenyataannya mereka tidak mampu. Dan inilah yang mendorong Dr Yusuf Al-Qardhawi untuk menyerukan agar dibentuk sebuah lembaga internasional yang bisa menaruh perhatian terhadap anak-anak yang dikaruniai bakat luar biasa dikalangan kaum muslimin.
عَنْ قُبَيْصَةَ بن مُسْحَارِقٍ الْهِلاَلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. اِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَتَحِلُّ اِلاَّ ِلأَحَدِ ثَلاَثَةٍ: رَجُلِ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةَ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِكَ وَرَجُلٍ اَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اِحْتَاجَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ. وَرَجُلَ فَاقَةً حَتَّى يَقُوْمُ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ. لَقَدْ اَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ. فَمَاسِوَا هُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةٍ يَاقُبَيْصَةُ سُحْتٌ يَأْكُلُهُ صَاحِبُهُ سُحْتًا (رواه مسلم وابو داود وابن خزيمه وابن حبان)
Artinya:
“Dari Qubaishoh bin Mukhariq Al-Hila-liy r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya minta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari macam orang-orang yang menanggung hutang orang lain maka halal meminta-minta baginya sehingga ia dapat melunasi hutang-hutang itu, kemudian dia harus berhenti meminta-minta. Dan orang yang ditimpa kerusakan seluruh hartanya, halal meminta-minta sehingga ia dapat menutupi kebutuhan hidupnya, dan orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga berkata tiga orang dari kaumnya yang mengerti permasalahannya: sungguh si fulan itu telah ditimpa kesengsaraan, maka halal bagi dia minta-minta itu sehingga dia mendapatkan sesuatu yang akan menutupi kebutuhannya. Minta-minta selain dari tiga macam itu wahai Qubaishoh adalah aharam dan orangnya memakan yang haram”.

Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya minta-minta itu, kecuali bagi tiga macam orang, yaitu:
3. Bagi orang yang menanggung harta utangan orang lain, dia halal meminta-minta, hingga dia dapat melunasi utangnya itu, kemudian setelah itu harus berhenti.
4. Orang yang ditimpa hartanya oleh musibah dari langit atau dari bumi seperti kedinginan dan tenggelam dan semacamnya.
5. Orang yang menderita kesengsaraan hidup.
Dari hadits diatas jelas bahwa hukum meminta-minta adalah haram. Entah itu bentuk sumbangan ataupun hal lain. apalagi dengan memanfaatkan anak-anak untuk meminta-minta.

IV. KESIMPULAN
1. Proses penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dimulai dengan data yang ada pada Badan Hisab Rukyat baik di pusat maupun di daerah, kemudian Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia melaksanakan rukyat dengan mengundang unsur-unsur dari ulama, Ormas Islam, Perguruan Tinggi, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), instansi terkait, dan para ahli. Hasil rukyat tersebut kemudian dilaporkan kepada Menteri Agama untuk selanjutnya dibawa dan dibahas dalam sidang Itsbat yang dihadiri berbagai unsur Ormas Islam.
2. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, ketika baru lahir salah satu hal yang mesti dilakukan orang tua adalah mengaqiqohi anak tersebut, aqiqah dimaksudkan untuk mengajarkan anak pada pentingnya bersedekah dan berkorban di jalan Allah. Seorang anak selain harus dibekali pendidikan agama, pengetahuan untuk pengembangan soft skillnya, orang tua juga wajib membekalinya dengan kemampuan hard skill, ilmu ekonomi sebagai agar mampu hidup mandiri di kemudian hari. Jika anak-anak yang masih labil sudah diajari meminta-minta, hal itu akan berakibat negatif pada pengembangan psikologinya.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, dalam pembuatan makalah ini tentunya kami masihlah teramat jauh dari kesempurnaan, karenanya kritik dan saran sangatlah kami harapkan, untuk pembuatan makalah selanjutnya. Agar dalam pembuatan tugas-tugas yang akan datang, kami akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Wallahu A’lam Bi As-Sowab.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qardhawi, Yusuf, Fatwa-Fatwa Kontemporer 4, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2009.
Hooker, MB., Islam Madzab Indonesia Fatwa-Fatwa dan Perubahan Sosial, Bandung: Teraju Mizan, 2003.

http://akhwat.web.id/muslimah.salafiyah/fiqh-ibadah/polemik-seputar-rukyah-dan-hisab

Izzudin, Ahmad, Fiqih Hisab Rukyah, Jakarta: Erlangga, 2007.
Muhammad, Abu Bakar, Terjemah Subulus Salam II, Surabaya: Al-Ikhlas, 1991.
Mushhaf Al-Qur’an Terjemah, Jakarta: Al-Huda, 2005.
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah, Jilid I, Tangerang: Lentera Hati, 2008.
Shomad, Muhyiddin Abdus, Fiqh Tradisionalis, Malang: Pustaka Bayan, 2004.
Widiana, Wahyu, Kebijakan Pemerintah Dalam Penetapan Bulan Qomariyah, Workshop Nasional, Metodologi Penetapan Awal Bulan.

About these ads

One response »

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s