TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG BAYI TABUNG (INSEMINASI), TRANSFUSI DARAH, ABORTUS DAN MENSTRUAL REGULATION

Standar

TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG BAYI TABUNG (INSEMINASI), TRANSFUSI DARAH, ABORTUS DAN MENSTRUAL REGULATION

Makalah

Disusun guna memenuhi tugas
MASAILUL FIQHIYYAH
Dosen Pengampu:
Bp. AMIN FARIH, M.Ag.

Disusun Oleh :
AKHSANUL ARIFIN
( 063311023 )

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2008

TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG BAYI TABUNG (INSEMINASI), TRANSFUSI DARAH, ABORTUS DAN MENSTRUAL REGULATION

I. PENDAHULUAN
Perkembangan sains teknologi saat ini, semakin lama terlihat nilai afiliatifnya di tengah-tengah masyarakat di dunia ini, terutama dibidang tekhnologi kedokteran tentunya. Namun dimensi legalitas penerapan tekhnologi reproduksi ini ditanggapi beragam oleh banyak komponen, baik islam maupun luar islam. Berbagai argumen, persepsi, asumsi pun terlontarkan.
Bagaimana persepsi Islam tentang bayi tabung, transfusi daran, abortus dan menstrual regulation ini? Kalau kita ingin mengkaji masalah-masalah tersebut dari versi hukum Islam, maka kita harus mengkajinya dengan menggunakan metodologi ijtihad yang lazim dipakai oleh para mujtahid, agar hukum yang dihasilkan sesuai dengan prinsip-prinsip dan jiwa al-Qur’an serta sunnah yang menjadi pegangan umat Islam. Sudah tentu ulama yang mengkaji masalah-masalah tersebut memerlukan informasi yang valid tentang masalah ini, baik dari segi tehnik maupun proses terjadinya, dari ahli kedokteran dan ahli biologi. Dari pengkajinya secara multidispliner ini, maka hukumnya dapat disimpulkan secara proposional.

II. PERMASALAHAN
Pada kesempatan makalah kali ini, penulis akan mencoba menjelaskan tentang pengerian dan tinjauan hukum Islam dari permasalahan :
1. Bayi Tabung (Inseminasi)
2. Transfusi Darah
3. Abortus dan Menstrual Regulation

III. PEMBAHASAN
1. BAYI TABUNG (INSEMINASI)
A. Pengertian
Pengertian bayi tabung disubutkan sebagai istilah طفل الانابيب yang artinya jabang bayi, yaitu sel telor yang telah dibuahi oleh seperma yang telah dibiakan dalam tempat pembiakan (cawam) yang sudah siap untuk diletakkan ke dalam rahim seorang ibu.
Bayi tabung dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah fertilisasi-in-vitro yang memiliki pengertian sebagai berikut : Fertilisasi-in-vitro adalah pembuahan sel telur oleh sel sperma di dalam tabung petri yang dilakukan oleh petugas medis. Inseminasi buatan pada manusia sebagai suatu teknologi reproduksi berupa teknik menempatkan sperma di dalam vagina wanita, pertama kali berhasil dipraktekkan pada tahun 1970. Awal berkembangnya inseminasi buatan bermula dari ditemukannya teknik pengawetan sperma. Sperma bisa bertahan hidup lama bila dibungkus dalam gliserol yang dibenamkan dalam cairan nitrogen pada temperatur -321 derajat Fahrenheit
Pada mulanya program pelayanan ini bertujuan untuk menolong pasangan suami istri yang tidak mungkin memiliki keturunan secara alamiah disebabkan tuba falopii istrinya mengalami kerusakan yang permanen. Namun kemudian mulai ada perkembangan dimana kemudian program ini diterapkan pula pada pasutri yang memiliki penyakit atau kelainan lainnya yang menyebabkan tidak dimungkinkan untuk memperoleh keturunan.
B. Tinjauan Hukum Islam Tentang Bayi Tabung
Bayi tabung atau inseminasi buatan apabila dilakukan dengan sperma suami istri sendiri dan tidak ditranfer embrionya ke dalam rahim wanita lain termasuk istrinya sendiri yang lain (bagi suami yang berpoligami), maka islam membenarkannya, baik dengan cara mengambil sperma, kemudian disuntikan ke dalam vagina atau uterus istri, maupun dengan cara pembuahan dilakukan diluar rahim, kemudian buahnya ditanam di dalam rahim istri, asal kondisi suami istri yang bersangkutan benar-benar memerlukan inseminasi buatan untuk memperoleh anak, Karena dengan cara pembuahan alami, suami istri tidak berhasil memperoleh anak. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum fiqh Islam, yang berbunyi:
الحا جة تترل الضرورة والضرورة تبيح المحظورات
Artinya : ”Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlakukan seperti dalam keadaan terpaksa (Emergensy) padahal keadaan darurat atau terpaksa itu membolehkan melakukan hal-hal yang terlarang.”
Sebaliknya insiminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan donor sperma atau ovum, maka hal ini diharamkan, dan hukumnya sama dengan zina (prostitusi) dan sebagai akaibat hukumnya anak hasil inseminasi tersebut tidak sah. Dan nasabnya hanya dengan ibu saja yang melahirkan.
Upaya bayi tabung, dibolehkan oleh islam manakala perpaduan sperma dengan ovum itu bersumber dari suami istri yang sah (inseminasi homolog) yang disebut juga dengan ”Artifical insemination husband” (AIH). Dan yang dilarang adalah inseminasi buatan yang dihasilkan dari perpaduan sperma dan ovum dari orang lain (inseminasi heterolog) yang disebut juga dengan istilah ”Artifical Insemination Donor” (AID). Inseminasi homolog tidak melanggar hukum agama atau ketentuan agama hanya kecuali hanya menempuh jalan keluar untuk memenuhi prosedur senggama karena tidak dapat memenuhi atau dibuahi. Karena itu kebolehannya ada karena faktor darurat yang diberi dispensasi oleh agama, sebagaimana hadist nabi yang mengatakan bahwa tidak boleh mempersulit diri dan menyulitkan orang lain.
C. Pendapat Yusuf Al-Qardawi Tentang Bayi Tabung
Kalau Islam telah melindungi keturunan, yaitu dengan mengharamkan zina dan pengangkatan anak, sehingga dengan demikian situasi keluarga selalu bersih dari anasir – anasir asing, maka untuk itu Islam juga mengharamkan apa yang disebut pencangkokan sperma (bayi tabung), apabila ternyata pencangkoan itu bukan sperma suami.
Bahkan situasi demikian, seperti kata Syekh Syaltut, suatu perbuatan zina dalam satu waktu, sebab intinya adalah satu dan hasilnya satu juga, yaitu meletakkan air mani laki-laki lain dengan suatu kesengajaan pada ladang yang tidak ada ikatan perkawinan secara syara’ yang dilindungi hukum naluri dan syariat agama. Andaikata tidak ada pembatasan-pembatasan dalam masalah bentuk pelanggaran hukum, niscaya pencangkoan ini dapat dihukumi berzina yang oleh syariat Allah telah diberinya pembatasan; dan kitab-kitab agama akan menurunkan ayat tentang itu.
Apabila pencangkokan yang dilakukan itu bukan air mani suami, maka tidak diragukan lagi adalah suatu kejahatan yang sangat buruk sekali, dan suatu perbuatan mungkar yang lebih hebat daripada pengangkatan anak. Sebab anak cangkokan dapat menghimpun antara pengangkatan anak, yaitu memasukkan unsur asing ke dalam nasab, dan antara perbuatan jahat yang lain berupa perbuatan zina dalam satu waktu yang justru ditentang oleh syara’ dan undang-undang, dan ditentang pula oleh kemanusiaan yang tinggi, dan akan meluncur ke derajat binatang yang tidak berperikemanusiaan dengan adanya ikatan kemasyarakatan yang mulia.
D. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang bayi tabung/inseminasi buatan. Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia:
a. Bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami isteri yang sah hukumnya mubah (boleh), sebab hak ini termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah-kaidah agama.
b. Bayi tabung dari pasangan suami-isteri dengan titipan rahim isteri yang lain (misalnya dari isteri kedua dititipkan pada isteri pertama) hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan masalah warisan (khususnya antara anak yang dilahirkan dengan ibu yang mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya, dan sebaliknya).
c. Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam kaitannya dengan hal kewarisan.
d. Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami isteri yang sah hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah, yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya.
E. ANALISA
Dari pemabahasan makalah di atas, penulis dapat menganalisa bahwa inseminasi untuk inseminasi buatan dengan sperma suami sendiri di bolehkan bila keadaannya benar-benar memaksa pasangan itu untuk melakukannya dan bila tidak akan mengancam keutuhan rumah tangganya (terjadinya perceraian). Dan adapun tentang inseminasi buatan dengan bukan sperma suami atau sperma donor para ulama mengharamkannya seperti pendapat Yusuf Al-Qardlawi yang menyatakan bahwa islam juga mengharamkan pencakukan sperma (bayi tabung). Apabila pencakukan itu bukan dari sperma suami.
Penghamilan buatan adalah pelanggaran yang tercela dan dosa besar, setara dengan zina, karena memasukan mani’ orang lain ke dalam rahim perempuan tanpa ada hubungan nikah secara syara’, yang dilindungi hukum syara’. Pada inseminasi buatan dengan sperma suami sendiri tidak menimbulkan masalah pada semua aspeknya, sedangkan inseminasi buatan dengan sperma donor banyak menimbulkan masalah di antaranya masalah nasab.

2. TRANSFUSI DARAH
A. Pengertian
Menurut dr. Rustam Masri, trnasfusi darah adalah proses pekerjaan memindahkan darah dari orang yang sehat kepada orang yang sakit, yang bertujuan untuk :
i. Menambah jumlah darah yang beredar dalam badan orang yang sakit yang darahnya berkurang karena sesuatu sebab, misalnya pendarahan, operasi, kecelakaan, dan sebab lainnya.
ii. Menambah kemampuan darah dalam badan si sakit untuk menambah atau membawa zat asam atau O2
Dr. Ahmad Sopian memberikan pengertian, bahwa transfusi darah adalah memasukkan darah orang lain ke dalam pembuluh darah yang akan ditolong. Dengan demikian, transfusi darah itu tiada lain adalah suatu cara membantu pengobatan yang sudah ada, dan darah hanya membantu saja sebagai salah satu pelengkap dari pada metode pengobatan. Namun demikian perlu diperhatikan lagi, bahwa transfusi darah itu bukanlah pekerjaan yang tanpa resiko dan mungkin suatu pekerjaan yang banyak resikonya bagi si sakit.
Sebagaimana diketahui, bahwa sumber darah itu amat terbatas. Sumber darah itu hanya manusia saja dan tidak semua orang bisa menjadi pendonor, yaitu berumur 19 sampai dengan 60 tahun. Kemudian ada lagi pembatasan-pembatasan lain, yaitu bagi orang yang darahnya kurang, atau orang yang pada saat menjadi donor kesehatannya terganggu, misalnya flu, atau orang yang baru dicabut giginya, tidak boleh menjadi donor, meskipun dia bersedia dan umurnya pun memenuhi persyaratan. Transfusi darah, jangan sampai menjadi beban bagi si sakit, karena darah yang diterimanya kurang atau tidak baik, di samping mengganggu biaya yang cukup mahal. Pasien yang tidak memerlukan benar, jangan diberikan darah, mengingat efek sampingnya yangmungkin terjadi bagi si sakit.
B. Tinjauan Hukum Islam Tentang Transfusi Darah
Masalah transfusi darah adalah masalah baru dalam hukum Islam, karena tidak ditemukan hukumnya dalam fiqh pada masa-masa pembentukan hukum Islam. Al-Qur’an dan hadis pun sebagai sumber hukum Islam, tidak menyebutkan hukumnya, sehingga pantaslah hal ini disebut sebagai masalah ijtihadi, karena untuk mengetahui hukumnya diperlukan metode-metode istimbath atau melalui penalaran terhadap prinsip-prinsip umum agama Islam.
Sebenarnya, transfusi (pemindahan) darah telah dilakukan oleh para ahli bidang kedokteran sejak ratusan tahun lalu. Dalam hal ini agama Islam sangat menyambut baik ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kedokteran yang menyangkut pada permasalahan transfuse darah manusia, dalam rangka penyelamatan jiwa manusia, sesuai dengan firman Allah SWT :
وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعاً…
Artinya : “…..Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah memelihara kehidupan manusia semuanya…..” (QS. Al-Maidah : 32)
Namun di dalam prakteknya, banyak masalah yang dihadapi, bahkan menjadi bahan plemik yang berkepanjangan. Ada orang yang setuju dan ada pula yang tidak setuju dalam beberapa hal.
Masalah donor darah adalah masalah yang baru, dalam arti kata tidak ditemukan hukumnya pada masa pembentukkan hukum Islam, ataupun dalam Al-Qur’an dan Hadis. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu penegtahuan dan teknologi yang pada akhirnya banyak menimbulkan hal-hal yang baru, maka masalah-masalah seperti tersebut di atas bermunculan di mana-mana dan menuntut ada ketentuan hukumnya
Agama Islam tidak melarang seorang muslim atau muslimah menyumbangkan darahnya untuk kemanusiaan dan bukan komersial. Darah dapat disumbangkan secara langsung kepada yang memerlukannya, seperti kepada keluarga sendiri, orang lain, maupun kepada Palang Merah Indonesia atau Bank Darah untuk disimpan dan sewaktu-waktu dapat digunakan untuk menolong orang yang memerlukan, apakah dia seagama ataupun tidak. Demikian juga sebaliknya si donor pun tidak usah mempersoalkan tentang pengunaan darah tersebut. Apabila hal ini dipersoalkan,maka akan mengalami kesukaran bagi pengelola (PMI), Karena penggunaan darah itu harus memperhatikan juga golongan darah yang menerimanya.
Sebagai dasar hukum yang memerperbolehkan donor darah ini, dapat dilihat kaedah hukum Islam sebagai berikut :
الأصل فى الأشياء الاباحة حتى يدل الدليل على تحريمها
Artinya :”Bahwa pada prinsipnya segala sesuatu itu boleh (mubah), kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
Berdasarkan kaidah tersebut di atas, maka hukum donor darah itu diperbolehkan,karena tidak ada dalil yang melarangnya, baik dari Al-Qur’an maupun Hadis. Namun demikian tidak berarti, bahwa kebolehan itu dapat dilakukan tanpa syarat, bebas lepas begitu saja. Sebab bisa saja terjadi, bahwa sesuatu yang pada awalnya diperbolehkan, tetapi karena ada suatu hal yang membahayakan resipien, maka dapat menjadi terlarang. Umpamanya seorang yang akan mendonorkan darahnya terdapat penyakit menular, misalnya AIDS dan penyakit-penyakit lainnya yang dapat menular via darah, maka hukum transfuse darah menjadi terlarang. Oleh sebab itu, sebelum para pendonor darah memberikan darahnya, maka harus diperiksa lebih dahulu (bagi yang diduga ada penyakitnya). Demikian juga darah tersebut harus benar-benar bebas dari virus yang berbahaya, baru diberikan kepada yang memerlukannya,sesuai dengan kaidah fiqhiyyah :
الضرريزال
Arinya : “Kemudharatan itu harus dilenyapkan”
Kaidah tersebut di atas bersumber dari firman Allah SWT :
ان الله لا يحب المفسدين
Artinya : “…..sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa sumber darah amat terbatas, sedang yang memerlukannya sangat banyak, apalagi sering terjadi kecelakaan, ada yangtidak tertolong karena kehabisan persediaan darah.
Dalam keadaan yang seperti ini, dimungkinkan ada seseorang yang mempergunakan kesempatan untuk mencari keuntungan, yaitu memperjualbelikan darah. Bila diberi peluang dan tidak ketat diawasi, maka timbul kekhawatirkan, bahwa ada di antara anggota masyarakat yang menjual darahnya karena didesak oleh keperluan hidup. Akhirnya bisa membahayakan para donor tersebut, karena tidak diperiksa lebih dulu, atau darah yang diperjualberlikan itu milik dari donor yang mempunyai penyakit yang berbahaya.
Kalau dipikir dalam-dalam, maka orang yang memperjualberlikan darah itu kurang manusiawi, kalau tidak dapat dikatakan manusiawi, sebab penggunaan darah itu adalah untuk menolong nyawa si penderita. Dalam keadaan yang semacam ini, sebenarnya yang berbicara adalah nurani, bukan materi yangmenonjol. Berbeda halnya kalau uang yang dipungut untuk sekedar biaya admisitrasi, karena darah itu memerulukan perawatan (pemeliharaan) sebelum digunakan.
C. ANALISA
Kalau ditinjau dari segi hukum, maka para ulama ada yang memperbolehkan jual beli darah, sebagaimana halnya jual beli barang yang najis yang ada manfaatnya, seperti kotoran hewan. Dengan demikian secara analogis (Qiyas), diperbolehkan memperjualbelikan darah manusia, dan memang besar manfaatnya untuk menolong jiwa manusia. Pendapat ini dianut oleh madzhab Hanafi dan Zhahiri.
Menurut penulis, dengan melihat keterangan di atas terlepas dari pendapat yang berbeda itu, tanpa melihat pendapat mana yang lebih kuat, dan mana pula yang dipandang lemah, sebaiknya lebih dititik beratkan pada panggilan nurani dan kemanusiaan. Bila hal ini dapat dilakukan dengan ikhlas, mudah-mudahan akan mendapat rizki dari jalan lain. Kita hendaknya jangan sekedar melihat dari segi legalitas hukum, tanpa tersentuh oleh kepribadian muslim yang baik dan melimpah antar sesamanya.

3. ABORTUS DAN MENSTRUAL REGULATION
A. Pengertian
Perkataan abortus dalam bahasa Inggris disebut abortion berasal dari bahasa latin yang berarti gugur kandungan atau keguguran.
Sardikin Ginaputra dari Fak. Kedokteran UI, memberi pengertian abortus sebagai pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin hidup di luar kandungan. Kemudian menurut Maryono Reksodipurnodari Fak. Hukum UI, abortus adalah pengeluaran hasil konsepesi dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir secara alamiah).
Dari pengertian di atas dapat dikatakan, bahwa abortus adalah suatu perbuatan untuk mengakgiri masa kehamilan dengan mengeluarkan janin dari kandungan sebelum janin itu dapat hidup di luar kandungan. Dalam bahasa Arab disebut
اسقاط الحمل(menggugurkan kandungan).
Dalam masalah abortus ini, apakah janin itu hidup atau mati, tidak dipersoalkan. Hal ini berarti, janin yang belum memiliki tanda-tanda kehamilan seperti terdapat pada manusia, yaitu ada respirasi (pernapasan), sirkulasi (peredaran darah) dan aktifitas otak, termasuk juga abortus.
Janin yang berusia 16 minggu dapat disamakan dengan manusia, karena peredaran darahnya yang merupakan tanda dari kehidupan telah berfungsi sebagaimana nestinya. Jika pengertian nyawa ditafsirkan sebagai tanda mulai berfungsi kehidupan ini, maka kesimpulan tersebut menjadi amat beralasan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :
عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ ص م وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ إِنَّ اَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فىِ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ فىِ ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ فىِ ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسِلُ الْمَلَكَ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْح
Artinya : “Dari Zaid bin Wahab dari Abdillah meriwayatkan : Rasulullah SAW, menjelaskan kepada kami (beliau adalah benar dan dapat dipercaya), bahwa sesungguhnya seseorang di antara kalian dikumpulkan kejadniaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari sebagai nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) dengan waktu yang sama, kemudia menjadi mudghah (segumpal daging) dengan masa yang sama, kemudian diutus seorang malaikat meniupka ruh kepadanya.” (HR. Muslim)
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa janin yang dikeluarkan sebelum mencapai 16 minggu dan sebelum mencapai 1000 gram, dapat dipandang sebagai abortus, baik karena alasan medis maupun karena didorong oleh alasan-alasan lain yang tidak sah menurut hukum. Adapun pengguguran janin yang sudah berusia 16 minggu ke atas, harus dimasukkan ke dalam pengertian pembunuhan, karena sudah bernyawa.
Metode yang di pakai untuk abortus biasanya ialah:
1. Curatage & Dilatage (C&D).
2. Dengan alat khusus, mulut rahim di lebarkan, kemudian janin di kiret (di-curet) dengan alat seperti sendok kecil.
3. Aspirasi, penyedotan isi rahim dengan pompa kecil.
4. Hysterotami (melalui operasi).
Abortus (pengguguran) ada 2 (dua) macam, ialah:
1. Abortus spontan (spontaneus abortus), ialah abortus yang tidak di sengaja. Abortus spontan bisa terjadi karena penyakit syphilis, kecelakaan dan sebagainya.
2. Abortus yang disengaja (abortus provocatus/induced proabortion). Dan abortus macam kedua ini ada 2 (dua) macam, ialah:
a. Abortus artificialis therapicus, yakni abortus yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis. Misalnya jika kehamilan diterusan bisa membahayakan jiwa si calon ibu, karena misalnya penyakit-penyakit yang berat, antara lain TBC yang berat dan penyakit gijal yang berat.
b. Abortus provocatus criminalis, ialah abortus yang dilakukan tanpa dasar indikasi medis. Misalnya abortus yang dilakukan untuk meniadakan hasil hubungan seks di luar perkawinan atau untuk mengakhiri kehmilan yang tidak dikehendaki.
Menstrual regulation secara harfiah artinya pengaturan menstruasi/datang bulan/haid, tetapi dalam praktek menstrual regulation ini dilaksanakan terhadap wanita yang merasa terhambat waktu menstruasi, dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratoris ternyata positif dan mulai mengandung, kemudian ia minta “dibereskan janinnya” itu. Maka jelaslah bahwa menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah abortus provocatus criminalis, sekalipun dilakukan oleh dokter. Karena itu, abortus dan mentrual regulation itu pada hakikkatnya adalah pembunuhan janin secara terselubung. Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 299, 346, 348 dan 349 negara melarang abortus, termasuk menstrual regulation dan sangsi hukumannya cukup berat, bahkan hukumannya tidak hanya ditujukan kepada wanita yang bersangkutan, tetapi semua orang yang terlibat dalam kejahatan ini dapat di tuntut, seperti dokter, dukun bayi, tukang obat dan sebagainya yang mengobati atau menyuruh atau yang membantu atau yang melakukannya sendiri.
B. Pandangan Islam Mengenai Abortus dan Menstrual Regulation
Menurut pandangan Islam, Apabila abortus dilakukan sebelum diberi ruh/nyawa pada janin (embrio), yaitu sebelum berumur 4 bulan, ada beberapa pendapat, di antaranya :
1. Ada ulama yang membolehkan abortus, antara lain Muhammad Ramli dalam kitab Al-Nihayah (meninggal tahun 1596) dengan alasan, karena belum ada makhluk yang bernyawa.
2. Ada ulama yang memandangnya makruh, dengan alasan karena janin sedang mengalami pertumbuhan. Dan ada pula yang mengharamkannya antara lain Inbu Hajar (wapat pada Th 1567) dalam kitabnya Al-Tuhfah dan Al-Gozali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin. Dan apabila abortus dilakukan sesudah janin bernyawa atau berumur 4 bulan, maka dikalangan ulama telah ada ijma (consensus tentang haramnya abortus )
3. Muhammad Syaltut eks Rektor Unipersitas Al-Azhar Mesir, mengatakan bahwa sejak bertemunya sel sperma (mani lelaki) dengan ovum (sel telur wanita), maka pengguguran adalah suatu kejahatan dan haram hukumnya, sekalipun si janin belum diberi nyawa, sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi mekhluk baru yang bernyawa bernama manusia, yang harus di hormati dan dilindungi eksistensinya. Dan makin jahat dan makin besar dosanya, apabila pengguguran dilakukan setelah janin bernyawa, apa lagi sangat besar dosanya kalau sampai di bunuh atau dibuang bayi yang baru lahir dari kandungan. Tetapi apabila pengguguran itu dilakukan benar-benar terpaksa demi melindungi/menyelamatkan si ibu, maka Islam membolehkan, bahkan mengharuskan, kerena Islam mempunyai prinsip:
إرتكاب أخف ضررين واجب
Artinya : “Menempuh salah satu tindakan yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya itu adalah wajib”
Jadi dalam hal ini, Islam tidak membenarkan tindakan menyelamatkan janin dengan mengorbankan si calon ibu, kerena eksistensi si ibu lebih diutamakan mengingat dia merupakan tiang atau sendi keluarga (rumah tangga) dan dia telah mempunyai beberapa hak dan kewajiban, baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama makhluk. Berbeda dengan si janin, selama ini belum lahir di dunia dalam keadaan hidup, ia tidak atau belum mempunyai hak, seperti hak waris, dan juga belum mempunyai kewjiban apapun)
Mengenai menstrual regulation, Islam juga melarangnya, karena pada hakikatnya sama dengan abortus, merusak atau menghancurkan janin calon manusia yang dimuliakan oleh Allah, karena ia tetap berhak survive lahir dalam keadaan hidup, sekalipun dalam eksistensinya hasil dari hubungan tidak sah (di luar perkawinan yang sah). Sebab menurut Islam, bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci (tidak bernoda). ) Sesuai dengan hadis Nabi:
كل مولود يولد على الفطره فأبواه يهدانه اوينصرانه اويمجساته
Artinya : “Semua anak dilahirkan atas fitrah, kemudian orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Yang dimaksud dengan fitrah dalam hadis ini ada dua pengertian, yaitu:
1. Dasar pembawaan manusia (human nature) yang religius dan monoteis, artinya bahwa manusia itu dari dasar pembawaannya adalah makhluk yang beragama dan percaya pada keesaan Allah secara murni (pure monotheism atau tauhid khalis)
2. Kesucian/kebersihan (purity), artinya behwa semua anak manusia di lahirkan dalam keadaan suci/bersih dalah segala macam dosa.
IV. KESIMPULAN
Dari pemaparan makalah di atas, dapat kami simpulkan, di antaranya :
1. Inseminasi buatan dengan sel sperma dan ovum dari suami istri dan tidak ditranfer embrionya ke dalam rahim wanita lain (ibu titipan) diperbolehkan islam, jika keadaan kondisi suami istri yang bersangkutan benar-benar memerlukannya (ada hajat, jika bukan untuk kelinsi percobaan atau main-main) dan status anak hasil di luar pernikahan yang sah.
2. Inseminasi buatan dengan sperma dan ovum donor diharamkan (dilarang keras) dalam islam, hukumnya seperti halnya zina dan anak yang lahir dari hasil inseminasi masam ini berstatus sama dengan anak hasil zina yaitu bernasab dengan ibu yang melahirkan saja.
3. Tranfusi darah adalah tindakan medis yang dilakukan untuk menolong pasien
yang mengalami kehilangan darah dalam jumlah besar sehingga mengganggu
kelangsungan hidupnya. Yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia bermacam-macam tergantung kebutuhannya, tetapi disini kita batasi yang ditanyakan, yakni tranfusi darah berupa sel-sel darah merah (eritrosit).
4. Agama Islam tidak melarang seorang muslim atau muslimah menyumbangkan darahnya untuk kemanusiaan dan bukan komersial. Darah dapat disumbangkan secara langsung kepada yang memerlukannya, seperti kepada keluarga sendiri, orang lain, maupun kepada Palang Merah Indonesia atau Bank Darah untuk disimpan dan sewaktu-waktu dapat digunakan untuk menolong orang yang memerlukan, apakah dia seagama ataupun tidak
5. Abortus adalah suatu perbuatan untuk mengakgiri masa kehamilan dengan mengeluarkan janin dari kandungan sebelum janin itu dapat hidup di luar kandungan. Dalam bahasa Arab disebut
اسقاط الحمل(menggugurkan kandungan)
6. Menstrual regulation secara harfiah artinya pengaturan menstruasi/datang bulan/haid, tetapi dalam praktek menstrual regulation ini dilaksanakan terhadap wanita yang merasa terhambat waktu menstruasi, dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratoris ternyata positif dan mulai mengandung, kemudian ia minta “dibereskan janinnya” itu.

V. PENUTUP
Puji syukur kepada Allah, akhirnya kami dapat menyusun makalah ini dengan baik. Sebagai manusia biasa, kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini, pastilah banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu kami meminta saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini.
Akhirnya kami berharap semoga dengan adanya makalah ini akan dapat menambah ilmu dan pengetahuan bagi para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Agil al-Munawwir, Said. Hukum Islam dan Pluralitas Sosial. Jakarta : Pustaka Pelajar. 2004
Ali Hasan, Muhammad. Masail Fiqhiyyah Al Haditsah. Jakarta : PT. Raja Grafindo. 1996Mahjudin, Masail Fiqhiyyah. Jakarta : Kalam Mulia. 2003.
Bakhri, Nazar. Problematika Pelaksanaan Fiqh Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 1994
Masjfuk, Zuhdi. Masail Fiqhiyyah. Jakarta : Toko Gunung Agung. 1994.
Masri, Rustam. Al Manak Transfusi Darah. Palang Merah Indonesia

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s