AYAT-AYAT TENTANG MASYARAKAT

Standar

AYAT-AYAT TENTANG MASYARAKAT

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Tafsir

Dosen Pengampu: Dr. H. Hamdani Mu’in, M.Ag

 

 

 

 

Disusun oleh:

Nur Khapipudin                         (103111088)

Tarqiyah Ulfa                             (103111101)

Nafiul Huda                                (103111129)

Amri Khan                                  (103111109)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

  1. I.            PENDAHULUAN

Manusia adalah mahkluk Allah SWT yang diciptakan dalam rupa yang paling sempurna.[1] Tetapi dalam melaksanakan kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan peran antar sesama manusia yang biasa disebut dengan interaksi sosial.

Dalam kehidupannya, manusia bukan saja sebagai mahkluk individual, tetapi manusia juga sebagai mahkluk sosial. Perannya sebagai mahkluk individual, manusia membutuhkan makan, minum, istirahat, tempat tinggal dan kebutuhan lainnya. Sedangkan perannya sebagai mahkluk sosial, manusia membutuhkan orang lain guna melangsungkan kebutuhan hidupnya. Sekumpulan manusia yang hidup dan saling berinteraksi satu dengan yang lain serta membentuk suatu sistem tatanan hidup dalam suatu tempat tinggal atau wilayah inilah yang nantinya disebut dengan masyarakat.

  1. II.            RUMUSAN MASALAH
  2. Pengertian Masyarakat Menurut Al-Qur’an
  3. Tafsir Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Masyarakat
  4. Kandungan Pendidikan
  1. III.            PEMBAHASAN
    1. Pengertian  Masyarakat menurut Al-Qur’an

Istilah masayarakat dapat dilihat dari adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pembinaan masyarakat, seperti istilah  ummat, qaum, syu’ub, qabail dan lain sebagainya. Istilah ummat dapat dijumpai pada ayat yang berbunyi :

öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù’s? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ

“ Kamu sekalian adalah ummat yang terbaik (khaira ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah SWT “. (QS. Ali Imran : 110)

Kata ummah pada ayat tersebut, berasal dari kata amma, yaummu yang berarti jalan dan maksud. Dari asal kata tersebut, dapat diketahui bahwa masyarakat adalah kumpulan perorangan yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama, menghimpun diri secara harmonis dengan maksud dan tujuan bersama.[2]

Selanjutnya dalam  Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, masyarakat diartikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh persamaan agama, waktu, tempat baik secara terpaksa maupun kehendak sendiri.

Inti dari pendapat- pendapat tersebut, adalah bahwa masyarakat tempat berkumpulnya manusia yang didalamnya terdapat sistem hubungan, aturan serta pola- pola hubungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

  1. Tafsir Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Masyarakat
    1. QS. Al-Hujurat : 10

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r’sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah SWT supaya kamu mendapat rahmat .”

Sesungguhnya orang-orang mu’min bernasab pada satu pokok yaitu iman yang menyebabkan diperolehnya kebahagiaan abadi. Oleh karena persaudaraan itu menyebabkan terjadinya hubungan yang baik dan mau tidak mau harus dilakukan. Maka perbaikilah hubungan di antara dua orang saudaramu dalam agama, sebagaimana kamu memperbaiki hubungan di antara dua orang saudaramu dalam nasab.

Dan bertaqwalah kamu kepada Allah SWT dalam segala hal yang kamu lakukan maupun yang kamu tinggalkan. Yang di antaranya adalah memperbaiki hubungan di antara kamu yang kamu disuruh melaksanakannya. Mudah- mudahan Tuhanmu memberi rahmat kepadamu dan memaafkan dosa- dosamu yang telah lalu apabila kamu mematuhi Dia dan mengikuti perintah dan larangan-Nya.[3]

  1. QS. Al-Hujurat : 11

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw öy‚ó¡o„ ×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3tƒ #ZŽöyz öNåk÷]ÏiB Ÿwur Öä!$|¡ÎS `ÏiB >ä!$|¡ÎpS #Ó|¤tã br& £`ä3tƒ #ZŽöyz £`åk÷]ÏiB ( Ÿwur (#ÿrâ“ÏJù=s? ö/ä3|¡àÿRr& Ÿwur (#râ“t/$uZs? É=»s)ø9F{$$Î/ ( }§ø©Î/ ãLôœew$# ä-qÝ¡àÿø9$# y‰÷èt/ Ç`»yJƒM}$# 4 `tBur öN©9 ó=çGtƒ y7Í´¯»s9′ré’sù ãNèd tbqçHÍ>»©à9$# ÇÊÊÈ

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka itulah orang-orang yang dzalim.”

Janganlah beberapa orang dari orang-orang mu’min mengolok-olok orang-orang mu’min lainnya. Karena kadang-kadang orang yang diolok-olokkan itu lebih baik di sisi Allah SWT. dari pada orang yang mengolok-olokkannya. Dan janganlah kaum wanita mengolok-olok wanita lainnya, karena barang kali wanita-wanita yang diolok-olokkan itu lebih baik dari pada wanita-wanita yang mengolok-olokkan.

Allah SWT. menyebutkan kata jama’ pada dua tempat dalam ayat tersebut, karena kebanyakan mengolok-olok itu dilakukan di tengah orang banyak, sehingga sekian banyak orang enak saja mengolok-olokkan, sementara dipihak lain banyak pula yang sakit hati.[4] Dan janganlah sebagian kamu mencela sebagian yang lain dengan ucapan atau isyarat secara tersembunyi.

Kata anfusakum merupakan peringatan bahwa orang yang berakal tentu tidak akan mencela dirinya sendiri. Seperti halnya sabda Nabi, “orang- orang mu’min itu seperti halnya satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh menderita sakit, maka seluruh tubuh itu menderita sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan tak bisa tidur dan demam.”[5]

Dan janganlah sebagian kamu mamanggil sebagian yang lain dengan gelar yang manyakiti dan tidak disukai. Seperti halnya berkata kepada sesama muslim,”Hai fasik, hai munafik dan lain sebagainya. Adapun gelar- gelar yang memuat pujian dan penghormatan, dan merupakan gelar yang benar tidak dusta, maka hal itu tidak dilarang, sebagaimana orang memanggil Abu Bakar dengan ‘Atiq dan Umar dengan nama Al-Faruq.

Alangkah buruknya sebutan yang disampaikan kepada orang-orang mu’min bila mereka disebut sebagai orang-orang yang fasik setelah mereka masuk ke dalam iman dan termasyhur dengan keimanan tersebut. Dan barang siapa tidak bertaubat dari mencela saudara-saudaranya dengan gelar-gelar yang Allah SWT melarang mengucapkannya atau menggunakannya sebagai ejekan atau olok-olok terhadapnya, maka mereka itulah orang-orang yang menganianya diri sendiriyang berarti mereka menimpakan hukuman Allah SWT terhadap diri sendiri karena kemaksiatan mereka terhadap-Nya.

  1. Qs. Al-Hujurat : 12

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw öy‚ó¡o„ ×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3tƒ #ZŽöyz öNåk÷]ÏiB Ÿwur Öä!$|¡ÎS `ÏiB >ä!$|¡ÎpS #Ó|¤tã br& £`ä3tƒ #ZŽöyz £`åk÷]ÏiB ( Ÿwur (#ÿrâ“ÏJù=s? ö/ä3|¡àÿRr& Ÿwur (#râ“t/$uZs? É=»s)ø9F{$$Î/ ( }§ø©Î/ ãLôœew$# ä-qÝ¡àÿø9$# y‰÷èt/ Ç`»yJƒM}$# 4 `tBur öN©9 ó=çGtƒ y7Í´¯»s9′ré’sù ãNèd tbqçHÍ>»©à9$# ÇÊÊÈ

“Hai orang-orang yang beriman, jahuilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha penyanyang.”

Pada ayat di atas, menjelaskan tentang perkara-perkara besar yang menambah semakin kuatnya hubungan dalam masyarakat islam, yaitu :

  1. Menghindari prasangka yang buruk terhadap sesama manusia
  2. Jangan mencari keburukan dan aib orang lain
  3. Jangan sebagian mereka menyebut sebagian yang lain dengan hal-hal yang tidak mereka sukai tanpa sepengetahuan mereka.
  4. Qs. Al-Hujurat : 13

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesunggunhnya orang yang paling mulia di sisi Allah SWT ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.”

Pada QS. Al-Hujurat : 11 kata qaum dihubungkan dengan kelompok orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Ini menunjukkan bahwa kata qaum berhubungan dengan manusia. Al-Qur’an menghendaki agar hubungan kemasyarakatan manusia dapat berjalan baik, hendaknya disertai dengan etika. Antara satu dan lainnya tidak boleh saling mengejek, memanggil dengan sebutan yang buruk. Selanjutnya dalam ayat 12 surat Al-Hujurat etika hubungan tersebut dilanjutkan dengan larangan saling berburuk sangka (negative thingking), membicarakan keburukan orang lain (menggunjing). Agar terhindar dari perbuatan tersebut, seseorang hendaknya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sedangkan pada ayat 10 surat Al-Hujurat telah diletakkan dasar untuk membangun masyarakat dengan rasa persaudaraan (ukhuwah).[6] Dengan dasar ini, jika di antara mereka terjadi perselisihan, hendaknya didamaikan dengan cara yang sebaik-baiknya.

Salah satu hukum kemasyarakatan yang paling populer adalah hukum terjadinya perubahan sosial, sebagaimana dinyatakan :

  1. Qs. Ar-Ra’d : 11

¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts† ô`ÏB ̍øBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#u‘r& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqߙ Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ

“Ada baginya pengikut-pengikut yang bergiliran, dihadapannya dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah SWT. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu qaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu qaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum kemasyarakatan yang ditetapkan Tuhan. Kata maa bianfusihim yang diterjemahkan dengan apa yang terdapat dalam diri mereka, mengandung dua unsur pokok, yaitu nilai-nilai yang dihayati dan iradah (kehendak) manusia. Perpaduan keduanya menciptakan kekuatan pendorong manusia dalam melakukan suatu perbuatan.[7]

  1. Qs. Al-Anfal : 53

y7Ï9ºsŒ  cr’Î/ ©!$# öNs9 à7tƒ #ZŽÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4’n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/   žcr&ur ©!$# ìì‹ÏJy™ ÒOŠÎ=tæ ÇÎÌÈ

“Yang demikian itu adalah karena sesunggunhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugrahkan-Nya kepada suatu qaum hingga qaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Bahwasanya Allah tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugrahkan-Nya kepada seseorang melainkan karena dosa yang dilakukannya.[8]

Ada beberapa hal yang perlu di garis bawahi menyangkut kedua ayat di atas, yaitu :[9]

  1. Ayat-ayat tersebut, berbicara tentang perubahan sosial, bukan perubahan individu. Ini dapat dipahami dari penggunaan kata qaum (masayarakat) pada kedua ayat tersebut.
  2. Penggunaan kata qaum, juga menunujukkan bahwa hukum kemasyarakatan ini tidak hanya berlaku bagi kaum muslimin atau satu suku, ras dan agama tertentu, tetapi ini berlaku umum, kapan dan di mana mereka berada.
  3. Kedua ayat tersebut, berbicara tentang dua pelaku perubahan. Pelaku yang pertama adalah Allah SWT Sedang pelaku ke dua adalah manusia.
  4. Kedua ayat tersebut, menekankan bahwa perubahan yang dilakukan oleh Allah SWT, haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat.
  1. Kandungan Pendidikan

Pemahaman terhadap konsep masyarakat yang ideal amat diperlukan dalam rangka mengembangkan konsep pendidikan. Berkenaan dengan ini paling tidak terdapat empat hal yang menggambarkan hubungan konsep masyarakat dengan pendidikan, antara lain :[10]

  1. Bahwa gambaran masyarakat yang ideal harus dijadikan salah satu pertimbangan dalam merancang visi, misi dan tujuan pendidikan
  2. Gambaran masyarakat yang ideal juga harus dijadikan landasan bagi pengembangan pendidikan yang berbasis masyarakat
  3. Perkembangan dan kemajuan yang terjadi di masyarakat juga harus dipertimbangkan dalam merumuskan tujuan pendidikan
  4. Perkembangan dan kemajuan yang terjadi di masyarakat harus dijadikan landasan bagi perumusan kurikulum
  1. IV.            KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas, maka dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Pengertian masyarakat adalah tempat berkumpulnya manusia yang di dalamnya terdapat sistem hubungan, aturan serta pola-pola hubungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
  2. Istilah masyarakat dapat dilihat dari adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pembinaan masyarakat, seperti istilah ummat, syu’ub, qabail.
  3. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang masyarakat di antaranya, Qs. Al-Hujurat ayat 10-13, Ar-Ra’d ayat 13, dan Al-Anfal ayat 53.
  4. Anjuran untuk membangun masyarakat yang dilandasi dengan rasa persaudaraan (ukhuwah), disertai dengan etika sehingga dapat meningkatkan ketaqwaan, serta larangan berburuk sangka (negative thingking), menggunjing, memanggil saudaranya dengan gelar yang buruk.
  5. Perlu adanya pemahaman terhadap konsep masyarakat yang ideal untuk mengembangkan konsep pendidikan
  1. V.            PENUTUP

Demikianlah makalah tentang istilah masyarakat dalam Al-Qur’an serta konsep masyarakat yang ideal untuk mengembangkan konsep pendidikan yang pemakalah buat. Kritik dan saran yang kontruktif senantiasa dinantikan pemakalah demi perbaikan makalah berikutnya. Akhir kata, kami hanya bisa mengucap tidak ada gading yang tak retak hanya milik-Nyalah kesempurnaan yang merajai langit dan bumi serta isinya. Semoga penulisan makalah ini bermanfaat. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Maragi, Ahmad Musthafa, Tafsir Al-Maragi juz XXVI. Smarang : Toha Putra, 1993

Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib, Tafsir Ibnu Katsir jilid 2. Jakarta : Gema Insani Press, 1999

Nata, Abudin, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers, 2009

Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Qur’an. Bandung : Mizan, 1996

Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah juz 6. Jakarta : Lentera Hati, 2008


[1] Dalam salah satu Firman Allah SWT, “ Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .” (Qs. At-Tin: 4)

[2] Abudin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2009 ), cet. 3, hal. 233

[3] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi juz XXVI, ( Semarang : Toha Putra, 1993 ), cet. 2, hal. 214- 219

[4] Ahmad Mustafa Al-Maragi, op. cit., hal. 222

[5] Ibid., hal, 223

[6]Abudin Nata, op. cit., hal. 238-239

[7] M. Quraish Shihab, Wawasan Al- Qur’an, (Bandung : Mizan, 1996), hal. 322

[8] Muhammad Nasib ar-Rifa’I, Tafsir Ibnu Katsir  jilid 2, (Jakarta : Gema Insani Press, 1999), cet. 1, hal. 540-541

[9] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah juz 6, (Jakarta : Lentera Hati, 2008), cet. IX, hal. 568- 569

[10] Abudin Nata, op.cit., hal. 245-246

About these ads

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s