PERADABAN ISLAM PADA MASA UMAR BIN ABDUL AZIZ

Standar

PERADABAN ISLAM PADA MASA UMAR BIN ABDUL AZIZ

Makalah

Disusun Guna memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Sejarah Peradapan Islam

Dosen Pengampu: Mad Solikhin

 

Disusun Oleh:

Nur khapipudin        103111088

Nur rochmah             103111089

Amri Khan                 103111109

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

PERADABAN ISLAM PADA MASA UMAR BIN ABDUL AZIZ

  1. I.            PENDAHULUAN

Setelah beberapa tahun kekuasaan Bani Umayah dianggap atau banyak yang menilai bahwa pada masa-masa itu merupakan masa kedzaliman para penguasa. Kebanyakan dari para penguasa pada masa itu mempunyai sifat yang mestinya tidak pantas dimiliki oleh seorang pemimpin atau yang disebut dengan khalifah. Anehnya lagi, sifat yang buruk yang dimiliki para kalifah ternyata turun temurun pada khalifah-khalifah setelahnya yang menggantikan jabatan tertinggi itu.

Mulai pada pembahasan peradaban Islam pada khalifah inilah yang nantinya banyak mengalami perubahan pada segi positif pemerintahan ataupun kesejahteraan rakyat pada masa itu. Beliau adalah khalifah yang sudah lama ditunggu kedatangannya oleh rakyat yang merasa dianiaya oleh pemimpin-pemimpinnya yang kejam dan dinilai tidak adil. Beliau adalah khalifah yang memilki sifat yang mulia dan istimewa dibanding khalifah-khalifah yang terdahulu. Iinilah khalifah yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Untuk lebih jelasnya marilah kita simak bersama makalah kami ini yang akan membahas kaitannya dengan siapa Umar bin Abdul Aziz?, bagaimana terpanggilnya menjadi khalifatul muslimin?, dan bagaimana sifat pemerintahannya?.

  1. II.            RUMUSAN MASALAH
    1. 1.      Siapa Umar Bin Abdul Aziz Itu?
    2. 2.      Bagaimana Terpanggilnya Menjadi Khalifah Muslimin?
    3. 3.      Bagaimana Sistem Pemerintahannya?

 

  1. III.            PEMBAHASAN
    1. A.    Siapa Umar bin Abdul Aziz?

Marilah kita sekarang memasuki babak dan lembaran baru yang indah dari gelombang-gelombang sejerah yang beralun-alun di pantai sejarah islam itu menuju cita-cita islam yang luhur,agung dan mulia, yaitu”IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN” (kejayaan islam dan kaum muslimin). Suatu mata rantai sejarah yang kait-berkait dengan kepribadian seorang manusia yang saleh dan taqwa yang memainkan peranan yang amat penting dalam lakon sejarah itu. Umar bin Abdul Aziz.[1]

Umar bin Abdul Aziz dilahirkan dikota Hulwan pada tahun 61 H, tidak jauh dari Kairo ketika itu ayahnya yang jadi Gubernur di Mesir. Silsilah keturunannya dari pihak ibunya, bersambung kepada khalifah yang ke-2, Umar bin Khattab. Dimasa kecilnya Ia tinggal bersama paman-paman ibunya di Madinah. Dalam suasana yang semerbak itulah ia mempelajari bimbingan-bimbingan dan pendapat yang sehat, dan disana pulalah Ia tumbuh dengan baiknya terhadap sifat-sifatnya yang istimewa dan terpuji itu.[2]

Ia datang tepat pada waktunya pada zaman kurun kekuasaan Bani Umayah yang ricuh, bagaikan bintang yang muncul berkelip-kelip di langit cakrawala yang gelap gulita diselimuti awan kezaliman yang tebal bergumpal-gumpal itu.[3] Tatkala Ia telah menjadi pemuda yang cerdas ia berkunjung kepada Abdullah bin Umar karena ada hubungan keluarga dengan ibunya. Sekembalinya dari sana ia berkata kepada ibunya: ”Wahai ibu,saya ingin menjadi seperti nenek,” yang dimaksud ialah tidak lain dari pada Abdullah bin Umar.[4]

Ibunya menyahut:”Apakah engkau ingin seperti beliau?”

Tatkala Ia telah besar, ayahnya berangkat kemesir memangku jabatan Amir atau gubernur dinegri itu. Kemudian tak lama datanglah surat Abdul Aziz, gubernur yang baru itu kepada istrinya supaya menyusul dengan menyertakan anaknya Umar bin Abdul Aziz.

Ibunya berunding tentang itu dengan Abdulah bin Abdul sekaligus meminta pendapatnya tentang surat suaminya itu. Abdulah bin Umar menjawa:”Dia itu kan suamimu,berangkatlah memenuhi panggilannya kesana,wahai anak saudaraku!” Dan ketika Ummu Ashim mau keluar rumah, Abdulah berkata kepadanya:”tinggalkanlah anak muda ini bersama kami, karena dialah diantara kita yang lebih menyerupai Ahlul Bait, kelurga suci Rosulullah. Ummu Ashim tidak menolak permintaan itu, dan tinggallah Ia dimadinah dengan neneknya Abdullah bin Umar bin Khattab.[5]

Tatkala Ummu Ashim berada dimesir , maka disampaikanlah kata-kata Abdullah bin Umar itu kepada suaminya. Abdul Aziz pun gembira mendengar hal itu.

Abdul Aziz gubernur mesir itu pun berkirim surat kepada saudaranya, Abdullah Malik bin Marwan, Khalifah yang berkedudukan di Damsyik dan khalifah berjanji akan memberikan belanja setiap bulan untuk keperluan Abdulah bin Abdul Aziz yang ditinggalkannya dimadinah untuk kepentingan pendidikannya sebanyak seribu dinar.

Tentang kehidupan ayahnya sebagai pejabat tinggi mesir yang memangku jabatannya pada tahun 65hijriah dapatlah kita ceritakan sedikit disini seperti di bawah ini.

Zaman pemerintahan Abdul Aziz dimesir adalah zaman yang paling gemilang. Dimasa itu ia banyak melakukun perbaikak-perbaikan, dibuatnya alat pengukur air sungai Nildan dibangunnya sebuah jembatan diteluk amirul mukminin. Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang toleran dan dermawan. Ia tidak pernah menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri, walaupun daerah mesir itu dapat dijadikannya sumber kekayaan baginya.Ia tidak mau mengirimkan ke ibu kota kerajaan sesuatu pun dari penghasilan daerah tersebut. Menurut riwayat, Ia telah membelanjakan seluruh harta kekayaannya dan ketika ia meninggal dunia ia hanya meninggalkan kekayaan sebanyak tujuh dinar saja. Ini adalah jumlah yang kecil bila dibandingkan dengan kedudukan dan kekayaannya.

Demikianlah kehidupan dan perilaku ayahnya selagi beliau menjabat kedudukan tinggi itu dimesir, seorang pejabat yang dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi rakyat dan anaknya sendiri, selama dua puluh tahun.[6]

Umar bin Abdul Aziz sendiri nampaknya memang benar-benar meniru sifat-sifat baik dan terpuji serta kepemimpinan dari ayahnya. Sehingga Umar bin Abdul Aziz dapat memiliki watak dan kepribadian yang istimewa.

  1. B.     Bagaimana Terpanggilnya Menjadi Khalifah Muslimin?

Sebelum menjadi khalifah, umar telah mengenal minyak wangi dan pakaian sutera, bagaimana Ia mengenal nyanyi-nyanyian. Ia senang mendengarkan nyanyi-nyanyian dan bertepuk tangan untuk para penyanyi. Dia tidak berhenti di situ saja, bahkan Ia sendiri turut bernyanyi, dan mengubah not-not lagunya. Disamping itu, Umar melengkapi istananya dengan perabot-perabot yang paling mewah dan mahal harganya. Menurut riwayat, sebelum Umar menjadi Khalifah ada hal-hal yang tercela pada dirinya, yaitu bahwa ia terlalu suka kepada kemewahan, memakai pakaian serta perhiasan yang berlebih-lebihan, dan kecongkakannya ketika berjalan.

Cara umar berjalan itu disebut orang”Umariyah”, yaitu: “lenggang Umar” dan para dayang-dayang suka menirunya, karena begitu indah dan gemulainya. Ia suka memakai minyak wangi yang istimewa. Bila ia berjalan, maka meratalah baunya yang semerbak itu ditempat-tempat yang dilaluinya.

Tatkala namanya dinyatakan sebagai pengganti Sulaiman, dia mulai terkulai lemas dan berkata, “ Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah satu kali pun.”[7]

Kemudian umar menjadi khalifah. Dan saat itu merupakan garis pemisah antara hidupnya yang lama dan hidupnya yang baru. Ia menyadari tanggung jawabnya yang besar dan kezaliman-kezaliman yang banyak terjadi dimasa itu, serta resiko berat yang harus dihadapinya. Maka mulailah ia bekerja dengan segala kesungguhannya sejak dari saat-saat yang pertama. Peristiwa yang mula-mula dihadapinya setelah selesai menguburkan jenazah sulaiman, ialah tatkala dibawakan orang kepadanya kendaraan-kendaraan kerajaan. Kendaraan-kendaraan itu terdiri dari beberapa ekor kuda yang mengangkut barang-barang, beberrapa ekor kuda tunggangan dan beberapa ekor bagal, masing-masing lengkap dengan alat-alat sainsnya. Umar bertanya: ”Apakah ini?” Mereka menjawab: ”Inilah kendaraan khalifah”. Umar menyahut: “Hewanku lebih sesuai bagiku”. Kemudian dijualnya semua hewan-hewan kendaraan itu, dan uangnya disimpan diBaitul Mal. Begitu pula semua tenda-tenda, permadani-permadani, dan tempat-tempat kaki yang biasanya disediakan untuk kholifah-kholifah yang baru, semuanya itu dijualnya, dan uangnya dimasukkan ke Baitul Mal.[8]

Sesudah itu Umar mengadakan perhitungan terhadap dirinya sendiri Ia lalu menjauhkan dirinya dari segala macam kenikmatan hidup. Dan dikembalikannya semua tanah-tanah perkebunan yang dulunya telah dihibahkan kepadanya. Dilepaskannya semua tanah dan harta benda yang telah diwarisinya, karena Ia yakin semua itu bukanlah harta yang halal dan baik. Ditinggalkannya pakaiannya yang mahal itu, lalu digantinya dengan pakaian yang berharga hanya delapan dirham. Ibnu ‘Abdil Hakam meriwayatkan, bahwa Umar sebelum menjadi kholifah masih menganggap kasar pakaian yang berharga sampai 800 dirham. Dan kini, pakaian yang hanya 8 dirham dianggapnya begitu halus, dan ia mencari yang lebih kasar dari pada itu.

Umar membasuh dirinya dari bekas-bekas minyak wangi. Dan dipanggilnya tukang bekam untuk memotong rambutnya yang panjang. Dijualnya semua pakaian dan wangi-wangiannya yang ada padanya. Dan uangnya Ia masukkan keBaitul Mal. Umar menjauhkan diri dari makanan yang lezat-lezat, dan ia hanya memakan makanan kering. Ia melayani dirinya sendiri, dan tidak membolehkan orang lain melayaninya.

Kemudian umar berpaling kepada istrinya yang sebagaimana telah disebutkan diatas- dia adalah cucu khalifah, putri kholifah dan saudara dari beberapa orang kholifah.Dari asal usul yang agung ini mengalirlah kepadanya beraneka ragam permata, mutiara, barang-barang perhiasan dan prabot-prabot rumah yang amat mahal harganya. Kini dinda boleh memilih antara dua hal, yaitu: “Memilih aku serta melepaskan semua harta benda ini, ataukah dinda memilih harta benda ini dan aku melepaskan engkau?”. Akhirnya ia memilih umar dan relalah ia hidup bersama suaminya itu, dengan kehidupan yang bersahaja, seperti yang diinginkan Umar.[9]

Ketika Umar diangkat menjadi kholifah, para pelayan mengira bahwa mereka telah berkuasa terhadap rakyat. Tetapi setelah keadaan mereka begitu jelek mereka malah menyesal atas pengangkatan Umar tersebut, dan mereka sama menjauhkan diri dari padanya. Umar mempunyai seorang bujang yang bernama Dirham. Setelah beberapa hari Umar jadi kholifah ia bertanya kepada Dirham: “Apa kata orang, hai Dirhan?”. Dirham menjawab: “Apa pula lagi yang hendak mereka katakan, mereka semua baik-baik saja, hanya aku dan Tuan yang menjadi celaka!”. Umar bertanya lagi: “Mengapa demikian?”. Dirham menjawab: “aku mengenal Tuan sebelum jadi kholifah  sebagai orang yang parlente, berbau harum semerbak, berpakaian indah, dan suka pada kendaraan yang tangkas, dan makanan yang lezat. Setelah tuan diangkat menjadi kholifah aku berharap akan dapat istirahat dan melepaskan diri dari segala kesibukan. Tapi nyatanya, pekerjaanku malah bertambah berat, aku dan Tuan jadi sengsara!”. Umar barkata: “kini engkau merdeka, pergilah dariku dan tinggalkanlah aku dalam keadaan begini, hingga allah memberikan jalan keluar bagiku”. Dengan demikian jadilah Umar bersama istri dan rumah tangganya dalam keadaan bersahaja.[10]

  1. Bagaimana Sistem Pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz?

Umar terutama memperhatikan kebijaksanaan dalam negeri, dan karena itulah pemerintahannya menjadi menonjol. Dia mengangkat orang-orang baru untuk menduduki jabatan yang paling penting, bukan karena mereka termasuk dalam partainya, tetapi karena dia menganggap mereka tulus dan jujur. Untuk Spanyol, dia mengangkat Samh bin Malik, seorang bangsa Yaman, dan untuk Afrika, Ismail bin Abdullah. Umar mengetahui bahwa mereka ini tidak menjadi anggota salah satu partai;mereka sangat pemurah terhadap orang-orang yang tertindas. Umar cukup baik terhadap keluarga Ali yang pengutukan terhadapnya dalam hotbah jumat telah berlangsung diseluruh kerajaan. Dia melarang perbuatan ini, dan kebun Fedak yang telah dirampas oleh Marwan dikembalikan kepada keluarga Nabi.

  1. POLITIK AGAMANYA

Umar 11 adalah orang beriman yang taat kepada Islam. Untuk menyebarkan missi Nabi diKurasan dan Asia Tengah, dia menggunakan politik baru. Politiknya ialah bahwa orang yang menerima islam akan dibebaskan dari beban pajakdan menempatkan mereka pada pijakan yang sama. Ketika Gubernur Mesir mengeluh mengenai turunnya pendapatan karena banyaknya orang masuk Islam, Umar 11 menjawab, “Allah mengirim Nabi-nya sebagai seorang pengumpul pajak”. DiKurasan para pejabat biasanya menguji ketulusan hati orang yang baru masuk islam dengan menyunat. Dia melarang hal ini dengan mengatakan, “Muhammad Saw. Dikirim untuk menyeru manusia kejalan agama Allah, bukan untuk menyunat mereka”. Pada waktu yang sama dia melindungi orang kristen, tetapi tidak mengizinkan mereka membangun kembali gereja.

  1. PEMBAHARUAN

Tujuan umar ialah terjaminnya konsolidasi pemerintahan. Karena kerajaan terdiri atas berbagai bangsa, dia menyadari bahwa kerajaan nya akan sangat lemah jika tidak  berlandaskan maksud yang baik dan kerjasama semua golongan rakyat. Mawali (orang islam yang baru) berperang dipihak umat islam, tetapi mereka tidak diberi jaminan keuangan yang sama dengan orang arab yang islam, dan akibatnya mereka menjauhkan diri dari pemerintah umayah . Ketika Umar 11 menjadi khalifah, dia berusaha menghapuskan kesenjangan antara orang islam Arab dengan dengan orang islam non-Arab.dia juga memberi tunjangan kepada anak-anak para pahlawan Arab (Mukatilah) yang sebelumnya dibatasi dan dikurangi oleh Muawiyah dan ditahan oleh Abdul Malik. Meskipun dia seorang muslim ortodoks, dia berhasil menunjukkan kemurahan hati dan damaskus memohon kepadanya agar mengembalikan Gereja St.John yang diubah oleh Walid menjadi Masjid, karena tidak mampu memenuhi tuntutan mereka. Orang kristen dari Najran mengeluh bahwa pajak yang dikenakan pada mereka sangat berat. Umar 11, sebagai seorang penguasa adil, menurunkan pajak 2.000 helai kain, menjadi 200 helai kain.[11]

  1. PEMBAHARUAN PAJAK

Umar mengambil beberapa langkah untuk memperkuat kondisi keuangan negara. Orang islam membeli tanah dari orang non islam, karenanya mendorong mereka (non islam) segera pindah kekota. Dia menetapkan aturan bahwa sejak saat itu tanah berpajak yang dimiliki oleh orang bukan muslim dilarang diambil alih oleh orang islam. Orang islam dibebaskan dari semua jenis pajak kecuali zakat. Pendapatan negarapun menjadi berkurang karena banyaknya orang masuk islam. Orang terus menjadi islam dan karenanya terhindar dari beban pajak. Akibatnya pendapatan negara menjadi berkurang. Dengan demikian, “orang islam diwajibkan menyokong pendapatan negara, dan negara tidak menderita kekurangan”.[12]

  1. IV.            KESIMPULAN

Demikian itulah keadaan peradaban Islam pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz yang penuh dengan kebijakan-kebijakan yang dapat mensejahterakan rakyat. Beliau adalah khalifah yang dianggap datang tepat pada waktunya. Umar bin Abdul Aziz merupakan seorang khalifah yang dilahirkan oleh orang-orang yang memang mempunyai sifat mulia yang akhirnya bisa diturunkan pada khalifah tersebutu ini.

Pada waktu terpilihnya beliau menjadi khalifah sebagai pengganti khalifah sebelumnyapun sudah menunjukan bahwa beliau sebenarnya tidak menginginkan jabatan yang amat berat itu. Tetapi karena rasa tanggung jawabnya dan kebijakan-kebijakan serta sifat-sifat yang mulialah beliau mampu mensejahterakan rakyatnya pada masa itu. Diantara keijakan-kebijakannya pada pemerintahannya yaitu beliau menempatkan orang-orang yang sesuai pada jabatan-jabatan penting. Karena beliau lebih memperhatikan kebijakan dalam negerilah yang akhirnya membuat pemerintahannya lebih menonjol.

  1. V.            PENUTUP

Demikian makalah yang dapat kami sajikan dan didiskusikan kaitan dengan peradaban Islam pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kami menyadari bahwa yang namanya tidaklah lepas dari kesalahan dan sifat lupa serta kekurangan, oleh karenanya kritik dan saran yang kontruktif senatiasa kami harapkan guna memperbaiki kesalahan atau kekurangan kami dan untuk lebih baik pada kesempatan selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah khazanah keilmuan kita. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Adang, Study Sejarah Islam, (Bandung: Putra A Bardim, 1999)

As-Suyuti, Imam, Tarikh Khulafa, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), Cet. 7.

Firdaus, Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz,(Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2003), Cet. 6.

Syalabi, Ahmad, Sejarah Dan Kebudayaan Islam 2, (Jakarta: Al-Huzna Zikra, 1997), Cet. 9.

 


[1] Firdaus, Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz,(Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2003), Cet. 6, hlm. 35

[2] Ahmad Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam 2, (Jakarta: Al-Huzna Zikra, 1997), Cet. 9, hlm. 101

[3] Firdaus, Loc. Cit.                                                                                                                 

[4] Ibid, hlm. 37

[5] Ibid.

[6] Ibid. hlm. 39

[7] Imam As-Suyuti, Tarikh Khulafa, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), Cet. 7.,  hlm. 272.

[8]Ahmad Syalabi, Op. Cit. hlm. 105-108

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Adang affandi, Study Sejarah Islam, (Bandung: Putra A Bardim, 1999), hlm. 202-204

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s