IKHLAS DALAM BERAMAL

Standar

IKHLAS DALAM BERAMAL

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : HADITS

Dosen Pengampu: Nadhifah M.S.I

 

 

Disusun Oleh :

Fatmawati

103911016

Amri Khan

103111109

FAKULTAS  TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

 

  1. I.          PENDAHULUAN

Dalam dunia yang serba modern ini, banyak manusia terjebak menilai kualitas amal yang diperoleh berupa materi. Keberhasilan seseorang dinilai dengan banyaknya harta dunia yang dikumpulkan. Mereka tidak menyadari bahwa diri mereka telah terjebak ke dalam faham materialism. Manusia menjadi budak harta, melupakan jati dirinya sebagai hamba Allah. Padahal hanya orang yang beramal ikhlas karena Allah saja yang akan mendapat balasan kebaikan dari Allah.

Firman Allah dalam surat Al Bayyinah: “Wa maa umiruu illa liya’budullaaha mukhlishiina lahuddiin hunafaa-a.” (Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan kethaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.)

  1. II.       RUMUSAN MASALAH
    1. Pengertian  Ikhlas
    2. Pentingnya  Ikhlas  dalam  Beramaal
    3. Rahasia  Ikhlas  Beramal
    4. Niat  yang  Ikhlas  dalam  Beramal
    5. Tanda-tanda  Orang  Ikhlas
  1. III.    PEMBAHASAN
    1. Pengertian  Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.[1]

Adanya keikhlasan dapat menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama”Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”[2]

Sabda Rasulullah SAW :

“Sesungguhnya Allah tidak akan menilai bentuk tubuh kamu dan tidak pula menilai rupa kamu, tetapi Allah hanya menilai kepada hatimu (niat yang ikhlas).” (HR. Muslim)

Menurut Imam Al-Ghozali menegaskan bahw ikhlas adalah sidqun niyyah fil a’mal, yaitu niat yang benar ketika melaksanakan suatu pekerjaan. Dengan kata lain, setiap amal soleh dan kebajikan  yang ingin dilakukan semestinya berorientasi kepada Allah. Tanpa keikhlasan semua amal kebaikan yang dilakukan sangat mudah terkena penyakit hati yang sangat berbahaya yaitu : riya dan bangga hati.

  1. Pentingnya Ikhlas dalam Beramal

Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian paling ikhlas. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah/tuntunan.[3]

Asy Syathibi rahimahullah mengatakan, ”Penyakit hati yang paling terakhir menghinggapi hati orang-orang salih adalah suka mendapat kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.”

Di dalam biografi Ayyub As Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan, ”Aku sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (kari kiamat). Ketika dipanen barulah akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan tauhid adalah ‘sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surga yang penuh dengan kenikmatan di akherat.

  1. Rahasia Ikhlas  dalam  Beramal

Setan senantiasa menghalangi langkah manusia untuk merusak amal shalih mereka, dan seorang mukmin akan senantiasa ber jihad melawan musuhnya hingga ia berjumpa dengan Rabb-nya kelak dalam keadaan beriman dan ikhlas semata karena-Nya dalam setiap amalnya. Diantara Beberapa hal yang dapat menimbulkan keikhlasan, antara lain :

  1. 1.      Do’a

Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu senantiasa berdoa dengan bacaan:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا, وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا, وَلاَ تَجْعَلْ لأَحَدٍ فِيْهِ شَيْئاً

“Ya Allah jadikanlah amalku shalih semuanya, dan jadikanlah ia ikhlas karena-Mu, dan janganlah Engkau jadikan untuk seseorang dari amal itu sedikitpun”.

  1. 2.      Menyembunyikan Amal

Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ. وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka di bawah naungan ‘Arsy-Nya di hari tiada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang dibesarkan dalam nuansa beribadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu dan berpisah karen-Nya, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita yang cantik dan terpandang lalu (menolaknya dan) mengatakan, “Aku takut kepada Allah”, dan seseorang yang bersedekah dengan sesuatu lalu ia berusaha menutupinya sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Bisyr Ibnul Harits berkata, “Jangan kau beramal supaya dikenang. Sembunyikanlah kebaikanmu seperti kamu menyembunyikan kejelekanmu.”

  1. 3.      Memperhatikan Amalan Mereka yang Terbaik

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah, “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an)”. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala ummat.” (QS. Al-An’aam: 90).

Bacalah biografi orang-orang shaleh dari kalangan para ulama’, ahli ibadah, orang-orang terpandang dan orang-orang yang zuhud; karena hal itu lebih berkesan untuk menambah keimanan dalam hati.

  1. 4.      Memandang Remeh apa yang telah Diamalkan

Sa’id bin Jubair berkata, “Ada seseorang yang masuk surga karena sebuah maksiat yang dilakukannya; dan ada seseorang yang masuk neraka karena sebuah kebaikan yang dilakukannya.” Orang-orang pun bertanya keheranan, “Bagaimana bisa begitu?” Maka lanjutnya, “Seseorang melakukan kemaksiatan kemudian setelah itu ia senantiasa takut dan cemas terhadap siksa Allah karena dosanya itu, kemudian ia menghadap Allah lalu Allah mengampuninya karena rasa takutnya kepada-Nya; dan seseorang berbuat suatu kebaikan lalu ia senantiasa mengaguminya, kemudian ia pun menghadap Allah dengan sikapnya itu maka Allah pun mencampakkannya ke dalam neraka.”[4]

  1. 5.      Merasa Khawatir jika Amalnya tidak Diterima

Anggaplah remeh semua amalan yang telah Anda perbuat; kemudian jadilah Anda orang yang senantiasa khawatir jika amal Anda tidak diterima.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS. An-Nahl: 92).

  1. 6.      Tidak Terpengaruh dengan Ucapan Orang

Ibnul Jauzy berkata, “Bersikap acuh terhadap orang lain serta menghapus pengaruh dari hati mereka dengan tetap beramal shaleh disertai niat yang ikhlas dengan berusaha untuk menutup-nutupinya adalah sebab utama yang mengangkat kedudukan orang-orang yang mulia.”

  1. 7.      Senantiasa ingat Bahwa Surga dan Neraka bukan Milik Manusia

Apabila seseorang selalu ingat bahwa orang-orang yang selalu menjadi pusat perhatian (niat)nya dalam beramal akan sama-sama berdiri bersamanya di padang Mahsyar kelak dalam keadaan takut dan telanjang bulat, ia akan sadar bahwa meniatkan suatu amal karena mereka adalah tidak pada tempatnya.

Maka wajib atas seorang mukmin untuk meyakini bahwa manusia tidak dapat memasukkan Anda ke dalam Surga; merekapun tidak akan kuasa mengeluarkan Anda dari Neraka ketika Anda meminta mereka untuk itu. Sekalipun seluruh manusia mulai dari Nabi Adam ‘Alaihissalam hingga manusia terakhir berkumpul dan berdiri di belakang Anda, mereka tidak akan mampu mendekatkan Anda ke dalam Surga selangkahpun.

Ibnu Rajab berkata, “Barangsiapa shalat, puasa dan berdzikir namun ia meniatkannya untuk mencari perniagaan dunia, maka tidak ada kebaikan sedikit pun pada orang itu; yang demikian itu karena ia mendapat dosa karenanya sehingga amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, dan tidak pula bagi orang lain”.

Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa beramal karena riya’ maka Allah akan memperlihatkan kepada manusia bahwa orang tersebut beramal karena riya’.” (HR. Muslim).

  1. 8.      Ingatlah bahwa Anda akan Berada dalam Kubur Sendirian

Jiwa akan menjadi baik bila senantiasa ingat akan tempat kembalinya. Jika seorang hamba ingat bahwa ia akan berbantalkan tanah sendirian dalam kuburnya tanpa ada teman yang menghibur, ingat bahwa tidak ada yang berguna baginya selain amal shalehnya, ingat bahwa seluruh manusia tidak berdaya meringankan sedikit pun siksa kubur darinya, ingat bahwa seluruh urusannya berada di tangan Allah, ketika itulah ia yakin bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali dengan mengikhlaskan seluruh amalnya hanya kepada Allah Yang Maha Pencipta semata.

  1. Niat yang Ikhlas dalam Beramal

Seorang hamba yang menginginkan keikhlasan dalam seluruh aktifitasnya hendaklah berniat dalam melaksanakan aktifitasnya dengan niat-niat sebagai berikut:

Hendaklah dalam beramal dilandasi oleh keimanan kepada Allah, dan ini adalah niat yang paling prinsip karena tanpa keimanan semua amalan akan menjadi sia-sia, tidak berarti dan tidak bernilai sedikitpun di sisi Allah.

  1. Berniat cinta Allah.
  2. Berniat mengagungkan dan memuliakan Allah.
  3. Berniat untuk taat dan beribadah kepada Allah.
  4. Berniat mencari ridha Allah.
  5. Berniat mendapatkan kedamaian dan kelezatan bersama Allah ketika berbuat ketaatan dan beribadah kepadaNya.
  6. Berniat mengharapkan kenikmatan dan kelezatan memandang Wajah Allah pada hati kiamat dan ketika di surga.
  7. Berniat agar dijadikan istiqamah.
  8. Berniat agar mati husnul khatimah.
  9. Berniat mencari pahala, ganjaran dan balasan kebaikan dari Allah di dunia dan di akhirat.
  10. Berniat mendapatkan surga.
  11. Berniat takut hukuman, ancaman dan adzab Allah di dunia dan di akhirat.
  12. Berniat takut neraka dan agar dibebaskan dari api neraka.

Ada tiga niat, tujuan dan prinsip yang harus selalu menyertai seorang hamba dalam beribadah kepada Allah, yaitu hendaklah ibadah didasari oleh cinta kepada Allah disertai pengagungan, didasari rasa takut dan didasari rasa berharap. Hendaklah seorang hamba dalam beribadah kepada Allah tidak pernah terlepas dari ketiganya karena inti dan tujuan beribadah berkisar pada ketiga hal tersebut.[5]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”. [HR. Muslim]

Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوي . فمن كانت هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي إلي ما هاجر إليه الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته

“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.”[6]

Amal yangn dilakukan dengan ikhlas karma Allah semata akan menjadi penyebab untuk mendapat fahala. Hadist menunjukkan bahwa malan yang bercampur dengan riya tidak ada fahalanya .

 ﻋﻦﺍﺒﻲﺍﻤﺎﻤﻪرﻀﻲﺍﻠﻠﻪﻋﻨﻪﻋﻦﺍﻠﻨﺒﻲﺼﻠﻲﺍﻠﻠﻪﻋﻠﻴﻪﯣﺴﻠﻢﻘﺎﻞ  :ﻴﻘﻮﻞﺍﻠﻠﻪﺴﺒﺤﺎﻨﻪ: ﺍﺒﻦﺍﺪﻢﺍﻦﺼﺒﺮﺕﻮﺍﺤﺘﺴﺒﺕﻋﻨﺪﺍﻠﺼﺪﻤﺔﺍﻞﺃﻮﻠﯽ لم ارض لك سوٲبا الى الجنه

Dari sahabat Abu Umamah ra. Dari Nabi SAW. Beliau bersabda Allah subkhanallah wa ta’ala berfirman: Hai Anak Adam, jika kamu sabar dan kamu ikhlas ketika goncangan pertama (digoncang musibah) aku tidak rela (memberi) balasan untukmu, kecuali surga.

  1. Tanda-tanda  Orang  Ikhlas

Berikut diantara tanda-tanda orang yang ikhlas dalam beramal.

  1. Ia tidak mencari popularitas dan tidak menonjolkan diri. Karena ia sadar, sehebat apapun ketenaran disisi manusia tiada berarti di hadapan Allah andaikata tidak memiliki keikhlasan. Seorang hamba ahli ikhlas tidak sibuk menonjolkan diri, menyebut-nyebut amalnya, memamerkan hartanya, keilmuannya, kedudukannya, dan aneka topeng duniawi lainnya. Karena itu tiada berguna kalau Allah menghinakannya
  2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian. Baginya pujian hanyalah sangkaan orang pada kita, padahal kita tahu keadaan diri kita yang sebenarnya. Bagi seorang yang ikhlas, dipuji, dihargai, tidak dipuji, bahkan dicaci sama saja. Karena baginya pujian dari Allah-lah yang terpenting. Allah-lah tujuan dari segala amalnya.
  3. Tidak silau dan cinta jabatan. Allah tidak pernah menilai pangkat dan jabatan seseorang, namun yang dinilai adalah tanggung jawab terhadap amanah dari jabatannya. Maka hamba Allah yang ikhlas tidak bangga dan ujub karena jabatannya.
  4. Tidak dipebudak Imbalan dan balas budi. Seorang hamba ahli ikhlas sangat yakin kepada janji dan jaminan Allah, baginya mustahil Allah memungkiri janji-janji-Nya. Bagi seorang hamba yang ikhlas, rezekinya adalah ketika ia berbuat sesuatu bukan ketika mendapatkan sesuatu. Balasannya cukup dari Allah saja, yang pasti, tidak akan meleset, dan tidak akan salah perhitungan-Nya.
  5. Tidak mudah kecewa. Seorang yang ikhlas yakin benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik, lalu terjadi atau tidak yang ia niatkan itu, semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah SWT.
  6. Tidak Membedakan Amal Besar dan Amal Kecil. Seorang hamba yang ikhlas tidak peduli amal itu kecil dalam pandangan manusia atau tidak, ada yang menyaksikan atau tidak. Karena dihadapan Allah tidak ada satupun amal yang remeh andaikata dilakukan dengan tulus sepenuh hati karena Allah semata.
  7. 7.      Tidak fanatik golongan. Seorang muslim yang ikhlas sangat sadar bahwa tujuan dari      perjuangan hidupnya adalah Allah SWT, maka yang akan dibela pun adalah kepentingan yang diridhoi oleh Allah. Tidak tegantung perasaan pribadi. Selama apa yang diperjuangkan adalah untuk membela agama Islam, maka ia pun akan turut membela.
  8. Ringan, lahab dan Nikmat dalam Beramal. Keikhlasan adalah buah keyakinan yang mendalam dari seorang hamba Allah sehingga perbuatan apapun yang disukai oleh Allah, dapat membuatnya bertambah dekat dengan Allah, akan menjadi program kesehariannya. Semua dilakukan dengan ringan, lahab, dan nikmat.
  9. Tidak egois karena selalu mementingkan kepentingan bersama. Orang yang ikhlas tidak pernah keberatan dengan keberadaan orang lain yang lebih pandai, lebih sholeh, lebih bermutu darinya. Meski menurut pandangan manusia ia akan tesaingi dengan keberadaan orang yang melebihi dirinya, namun orang yang ikhlas beramal bukan untuk mencari popularitas. Baginya yang terpenting adalah maju bersama demi kepentingan bersama.
  10. Tidak Membeda-bedakan dalam pergaulan. Seorang yang ikhlas tidak akan membeda-bedakan teman. Tegur sapanya tidak akan terbatas pada orang tertentu, senyumnya tidak akan terbatas pada yang dikenalnya, dan pintunya selalu terbuka untuk siapa saja.
  1. IV.    KESIMPULAN

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak ciri Orang Yang Ikhlas. Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian paling ikhlas. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah atau tuntunan.

  1. V.     PENUTUP

Demikian makalah ini kami buat,tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca kami harapkan untuk sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR  PUSTAKA

 

Muhsin,Abdul,Langkah pasti menuju bahagia,Jakarta;Pustaka An-Naba  2005

Hasbi,Fuad, Mutiara Hadits, Semarang; Pustaka rizki putra 2005

Nasrudin,Muhammad,Silsilah hadits sahih,jakarta;Pustaka An-naba 2005

Rajab,Ibnu,Jami’al ulum wa al hikam,Jakarta;Pustaka An-naba 200

Usman, M. Ali, dkk, Hadist Qudsi Firman Allah yang Tidak dicantumkan dalam Al-qur’an Pola Pembinaan Akhlak Muslim,  Bandung : CV. Diponegoro, 1995

http;// http://www.hatibening.blogspot.com

http;//www.dakwatuna.com

Sahih Muslim,Kitab  Al-Imarah

Al-Qur’an nul karim

 


[1] Abdul muhsin,langkah pasti menuju bahagia,Pustaka An-Naba Jakarta;2005.hlm  24 – 25

[2] Ibid,hlm 35-36

[3] Ibnu  Rajab,Jami’al-ulum wa al-hikam,Pustaka An –naba jakarta;2009 hlm 19

[4] Ibid,hlm 76

[5] Muhammad nasrudin,silsilah hadits sahih,pustaka an-naba jakarta;2006,hlm 94-95

[6] HR .Muslim ,Kitab al –imarah,no.1907

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s