PERADABAN ISLAM DI MASA ABU BAKAR AS SHIDIQ

Standar

PERADABAN ISLAM DI MASA ABU BAKAR AS SHIDIQ

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu: Drs. H. M. Solikhin Nur, M.Ag

 

 

Disusun Oleh:

Maghfiroh                                          (103111057)

Mahmud Yunus Mustofa                 (103111058)

Amri Khan                                         (103111109)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2010

  1. I.                   PENDAHULUAN

Imperium Islam merupakan salah satu Imperium terbesar di dunia. Kejayaanya pun  tidak  terlepas dari para  pembesar-pembesar yang selama ini berada di balik semua itu, baik berperan secara langsung maupun tidak langsung. Berbagai macam kerajaan besar seperti kerajaan Persia bahkan Romawi sekalipun pernah  tunduk di bawah kekuasaan Islam. Ajaran-ajaran agama Islam yang begitu mulia membuat kerajaan ini menjadi tentram walaupun terkadang dibumbui dengan berbagai macam peperangan, namun hal itu semua diawali dengan sebuah perdamaian dan diakhiri dengan perdamaian pula.

Namun, setelah Nabi Muhammad SAW yang merupakan pucuk pimpinan dari Islam telah wafat, berbagai macam permasalahan muncul mengancam eksistensi Islam itu sendiri. Kepergian Rosul telah membuat kaum muslimin mengalami guncangan yang hebat, kaum muslimin dilanda kebingungan akan sosok yang nantinya mampu menggantikan Nabi . Para pengganti Rosulullah SAW setelah beliau wafat yang disebut dengan Khulafaur Rasyidin menjadi tulang punggung Islam dalam mempertahankan  kekuasaan dari tangan para pembelot Islam dan demi tetap tegaknya syari’at Islam dimuka bumi.

Adalah Abu Bakar as Shidiq yang diberi kepercayaan pertama untuk  menggantikan Nabi setelah beliau wafat yang diharapkan dapat membawa Islam pada kejayaan. Dipilihnya Abu Bakar untuk menemani Nabi Hijrah dan untuk menggantikan Imam shalat dikarenakan beliau yang pertama kali mangimani akan Islam .Dengan gigih dan penuh dengan keridhoan serta keihkhlasan Abu Bakar pun mencoba untuk tetap menjaga eksistensi Islam serta berusaha membawa Syari’at islam agar mampu menjamah keberbagai Negara. Dengan penuh ketenangan dan kebijaksanaanya Abu bakar mampu menjalankan tugas mulianya walaupun hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat.

  1. II.                RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana Tentang Abu Bakar as Shidiq ?
  1. Bagaimana Pengaruh Abu Bakar as Shidiq Terhadap Islam ?
  1. III.             PEMBAHASAN

 

  1. Sekilas Tentang Abu Bakar as Shidiq

Abu Bakar dilahirkan dengan nama Abdullah ibn Abi Qahafah dari seorang ayah  bernama Abu Qahafah yang semula bernama Ustman ibn Amir. Sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair yang semula bernama Salma binti Sakhr ibn Amir. Abu Bakar berkulit putih bersih, badanya kuurus tapi sangan lincah. Wajahnya cerah, sedangkan matanya dalam. Beliau berasal dari keturunan suku Taim Ibn Murah ibn Ka’ab.[1]// Dalam  sebuah  riwayat  pernah dituliskan mengenai Bani Taim yang terkenal  dengan kelembutan hatinya dan sikap kedermawananya, selain itu Bani Taim juga terkenal dengan kejantananya dalam menghadapi musuh. Hampir sama persis dengan apa yang dimiliki oleh sosok seorang Abu Bakar as Shidiq. Beliau penuh dengan kelembutan serta  kebijaksanaan namun tetap tegas terhaap musuh yang berani memerangi Islam. Beliau juga terkenal dengan keadilanya, Ia sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Suatu ketika pernah ada suatu kisah yang menceritakan tentang salah satu perilaku adil dari Abu Bakar as Shidiq. Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dari Abdullah bin Amru ibn Ash; bahwasanya Abu Bakar as Shidiq ra pernah berpidato pada hari jum’at: “Besok pagi, jika kita mendapatkan sedekah-sedekah yang berupa onta, maka kami akan membagikanya, dan jangan sampai ada seorangpun yang masuk kepada kami tanpa meminta izin terlebih dahulu”[2]

Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rosul, Abu Bakar disebut Khalifah Rasulillah (pengganti rosul) yang dalam perkembangan selanjutnya disebut Khalifah saja. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.[3]

Dikatakan bahwa namanya adalah Abdul Ka’bah, yang kemudian diganti setelah masuk Islam menjadi Abdullah. Namun ia sering di panggil dengan nama Abu Bakar. Julukan  lain dari beliau adalah al-Atqa (orang yang paling bertaqwa), al-Atiq (yang suci dan yang terbebas), ia juga di juluki al-Awwah al-Munib (yang tunsuk dan kembali.Namun dari semua itu gelar yang paling popular adalah as Shidiq.Gelar as Shidiq yang ia sandang dikarenakan beliau merupakan orang yang pertama kali percaya akan kenabian Nabi Muhammad serta kejadian Isra’ Mi’raj.[4] Walaupun berbagai kalangan tidak percaya bahkan mengecam terhadap Nabi, Abu Bakar dengan penuh keyakinan membenarkan akan fenomena tersebut sehingga oleh Rosulullah ia di beri gelar as Shidiq yang artinya adalah Jujur.

Abu Bakar memiliki hubungan yang khusus dengan nabi Muhammad SAW, tidak seperti sahabat-sahabat lain, Abu bakar sangat dekat dengan Nabi. Sampai-sampai ketika Nabi Muhammad sedang sakit keras menjelang wafat beliau, Abu Bakar yang menjadi Imam Shalat untuk menggantikan Nabi ketika itu. Abu Bakar adalah orang yang sangat dicintai Rosululah SAW, juga sebaliknya Rosulullah pun sangat dicintai oleh Abu Bakar. Betapa besar hati beliau ketika nabi wafat beliaulah orang yang mampu menyadarkan umat Islam dikala itu yang sedang dilanda oleh kepanikan.[5]  Seperti yang sudah termaktub dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 144 :

$tBur JptèC žwÎ) ×Aqߙu‘ ô‰s% ôMn=yz `ÏB Ï&Î#ö7s% ã@ߙ”9$# 4 û’ïÎ*sùr& |N$¨B ÷rr& Ÿ@ÏFè% ÷Läêö6n=s)R$# #’n?tã öNä3Î6»s)ôãr& 4

`tBur ó=Î=s)Ztƒ 4’n?tã Ïmø‹t6É)tã n=sù §ŽÛØtƒ ©!$# $\«ø‹x© 3 “Ì“ôfu‹y™ur ª!$# tûï̍Å6»¤±9$# `__” 0 ÇÊÍÍÈ

Artinya:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[234]. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

(Qs. Ali Imron :144)

Pada masa akhir dari perjalanan pemerintahanya ia sering sakit-sakitan, menurut putrinya yaitu Aisyah Ummul mukminin, Putra Abdurrahman berkata: “Penyebab sakitnya Abu bakar adalah dia mandi malam pada musim dingin. Setelah itu ia menderita demam dan panas selama lima belas hari. Ia tidak keluar untuk menjadi Imam dalam shalat. Ia menyuruh Umar ibn Khattab untuk menggantikanya.”[6]

Abu Bakar wafat menurut keterangan yang berasal dari Aisyah antara waktumaghrib dan isya’, Senin, jumadil akhir tahun 13 H. Dalam usia 63 tahun sama dengan Nabi dan jenazahnya dimakamkan disamping makam Nabi Muhammad SAW.”24[7]

  1. Bagaimana Pengaruh Abu Bakar as Shidiq Terhadap Islam

Perkembangan  kejayaan Islam  tidak  terlepas dari pengaruh seorang Abu Bakar as Shidiq. Baik itu dari perkembangan politik, ekonomi sampai pada masalah pendidikan. Corak pemerintahan beliau sendiri memang berbeda dengan khalifah-khalifah yang lain. Ia lebih menitik beratkan kepada masalah kemiliteran, yang berorientasi kepada masalah ekspansi atau perluasan wilayah,berbeda dengan Umar yang membentuk dewan-dewan pada masa pemerintahanya, namun semua itu juga tidak terlepas dari hasil daripada penaklukan Persia yang kemudian system pamerintahanya diadopsi oleh Umar. Atau pada masa bani Umayah yang lebih condong kepada system kerajaan. Namun, hal itu terbukti dengan penaklukan berbagai macam Negara di sekitar jazirah Arab, mulai dari Bahrain, Yamamah, Irak, Syam, Syiria hingga Romawi dan yang patut kita banggakan semua itu ia mampu capai hanya dalam kurun waktu  pemerintahan yang hanya 2 tahun 3 bulan sebelum akhirnya ia wafat.

.Stabilitas politik yang diciptakan oleh Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini telah diajarkan oleh Nabi, Secara __ (, kebijakan internal Abu Bakar as Shidiq tidak jauh berbeda dengan rosul. Barang siapa yang menentang Abu Bakar berarti menentang nabi pula. Ia mangayomi para  kaum fakir miskin menggunakan uang hasil pembayaran zakat, sehingga akan tercipta kesejahteraan bagi seluruh umat.[8]

Memang beliau tidak berperan sebesar Rasul dalam penyebaran Islam, seperti pada saat perang Badar maupun  perang-perang besar Islam  yang  lain, Namun beliau setidaknya mampu sedikit memperluas wilayah  kekuasaan  Islam. Dibawah komando Usamah, Abu Bakar mengirim pasukan menuju Romawi untuk meneruskan ekspansi  Islam dan menyerukan syari’at Islam di tanah Romawi. Sebenarnya pertikaian antara bangsa Romawi dengan Islam juga tidak terlepas dari campur tangan  bangsa  yahudi yang menghasut bangsa Romawi untuk memerangi Islam yang dirasa akan membahayakan agama mereka.

Pengangkatan  Usamah sebagai panglima pun membuahkan  hasil. Ia mampu memenangkan perang dengan bangsa Romawi dan mampu masuk ke dalam daerah kekuasaan Romawi. Dengan kemenangan  inilah Abu bakar merasa sedikit lega karena ia mampu  menunjukkan hasil yang kongkrit bagi kemajuan islam di bawah pemerintahanya. Selama ia manjadi khalifah ada saja problem yang ia hadapi, diantaranya adalah  penolakan pembayaran zakat oleh sebagian suku Arab, namun  ia mampu menghadapinya.

Berbagai  macam  pemberontakan yang dilakukan oleh para suku-suku Arab pun mulai bermunculan. Mulai dari golongan murtad, Thulaihah yang mengaku pernah mendapat wahyu dari Allah SWT, Musailamah yang mengaku manjadi Nabi, sampai pada perselisihan dengan Fatimah  putri Nabi. Cukup pelik posisi ini bagi Abu Bakar, dalam segala hal ia lebih mengutamakan kepentingan Rosulullah, namun pada saat itu ia dihadapkan dengan Fatimah yang tidak lain adalah putrid dari orang yang sangat dicintainya yaitu Nabi. Fatimah menuntut hak atas dirinya yaitu warisan dari ayahnya, namun  Nabi pernah mengatakan sesuatu kepadanya bahwa sesuatu  yang ditinggalkanya merupakan sedekah.[9]

Terbebasnya Syam dari genggaman Romawipun tidak terlepas dari jasa beliau, Tidaklah adil ketika melihat paukan yang dikirim beliau menuju Syam berhadapan dengan tentara Romawi yang dua kali lipat lebih banyak. Ditambah dengan bergabungnya para kabilah-kabilah Arab yang memberontak terhadap Islam. Namun, hal itu tidak menyurutkan niat pasukan yang dibawa oleh Khalid tersebut. Khalid menuliskan surat kepada Abu Bakar untuk mengirimkan bala bantuan agar pasukan Islam mampu mengalahkan Romawi[10]

Disamping pengaruh di bidang politik,Abu Bakar juga sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan Islam. Gagasan beliau tentang penulisan serta pembukuan Al-Qur’an merupakan salah satu loncatan besar dalam dunia pendidikan Islam. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa itu atas dasar usulan dari Umar ibn Khattab, namun awal mula proses pembukuan Qur’an diawali pada masa pemerintahan beliau walaupun nantinya diteruskan pada zaman Umar ketika menjadi Khalifah. Gagasan itu muncul karena para hafidz Qur’an elah banyak gugur di medan perang. Jadi, untuk menjaga agar Qur’an tidak hilang maka dilakukanlah pembukuan Qur’an.

Beberapa sumber ahli-ahli Hadist dan Qur’an menyebutkan Abu Bakar kemudian memanggil Zaid ibn Tsabit, seorang pemuda yang tegap dan cerdas. Dia ditugaskan untuk menelusuri dan menyelidiki Qur’an kemudian mengumpulkanya.[11] Kemudian mulailah Zaid mengumpulkan al-Qur’an dari daun-daun kurma,tulang-tulang dan dari dada-dada orang yang terpercaya, hingga aku menemukan dari khuzaimah al-Anshari 2 ayat surat at-Taubah yang tidak aku dapati dari orang lain, yaitu:

ô‰s)s9 öNà2uä!%y` Ñ^qߙu‘ ô`ÏiB öNà6Å¡àÿ_”08 Rr& ͕tã Ïmø‹n=tã $tB óOšGÏYtãs_Tbch

 


[1] Muhammad Husain Haikal, Biografi Abu Bakar as Shidiq, ( Jakarta: Qisthi Press, 2007 ), hal.25-26

[2] Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Kehidupan Para Sahabat Rasulullah SAW, (Surabaya:PT Bina Ilmu, 1993), hal.105

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hal.35-36

[4] Musthafa Murad, Kisah Hidup Abu Bakar as Shidiq,(Jakarta: Zaman, 2009), hal.33-34

[5] Taha Husain, Dua Tokoh Besar Dalam Sejarah Islam, ( Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1986), hal.22

[6] Muhammad Husain Haikal, Op.Cit, hal.408

õm[7] Taha Husain, Op.Cit, hal.116

[8] Musthafa Murad, Op.cit, hal.132-133

[9] Taha Husain, Op.cit,, hal.71

[10]__”0  Muhamad Husein Haikal, Abu Bakar as Shidiq, (Jakarta: PT Pustaka Litera Antar Nusa, 2002), hal.254

[11] Ibid, hal.112

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s