PERADABAN ISLAM DI MASA DINASTI MONGOLIA

Standar

PERADABAN ISLAM DI MASA DINASTI MONGOLIA

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu: Drs. H. M. Sholikhin Nur, M.Ag

 

 

 

Disusun oleh:

Siti Azimatul Uliyah              (103111095)

Imamatus Sa’adah                (103811009)

Amri Khan                             (103111109)

           

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

PERADABAN ISLAM DI MASA DINASTI MONGOLIA

  1. I.            PENDAHULUAN

Sejarah perjalanan umat Islam memiliki kekhasan tersendiri pada setiap daerah yang diduduki. Islam memiliki sejarah panjang dan variasi model penyebaran yang unik dan berliku. Jika ditilik dari perspektif Barat, maka Islam tidak lebih dari sebuah ajaran yang diperjuangkan dengan darah dan pedang. Namun, sebaliknya justru Islam telah melakukan pembebasan bagi masyarakat lokal yang ditindas atas hegemoni dua imperium besar saat itu yakni Persia dan Romawi.

Salah satu contoh kebangkitan kekuatan muslim adalah berhasilnya menanamkan anasir ajaran tauhid di kalangan Mongol. Peristiwa tersebut menarik untuk dikaji lebih dalam karena bangsa Mongol adalah suku bangsa yang besar dan memiliki pengaruh signifikan di kawasan Asia Tengah.

  1. II.            RUMUSAN MASALAH
  2. Bagaimana Asal Usul Bangsa Mongol?
  3. Bagaimana Ciri-ciri Masa Mongol?
  4. Bagaimana Serangan Hulagu Khan?
  5.  Bagaimana Dampak Kekuasaan Mongol?
  1. III.            PEMBAHASAN
  2. A.    Asal Usul Bangsa Mongol

Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia, yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia utara, Tibet Selatan, dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan, yang mempunyai dua putra kembar, Tartar dan Mongol. Kedua putra itu melahirkan dua suku bangsa besar, Mongol dan Tartar. Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan, yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol di kemudian hari.

Dalam rentang waktu yang sangat panjang, kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menggembala kambing dan hidup dari hasil buruan. Mereka juga hidup dari hasil perdagangan tradisional, yaitu mempertukarkan kulit binatang dengan kulit binatang yang lain, baik diantara sesama mereka maupun dengan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Sebagaimana umumnya bangsa nomad, orang-orang Mongol mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut dalam mencapai keinginannya. Akan tetapi, mereka sangat patuh kepada pemimpinnya.[1]

Agama bangsa Mongol semula adalah Syamanisme, yang meskipun mereka mengakui adanya Yang Maha Kuasa, tetapi mereka tidak beribadah kepada-Nya, melainkan menyembah kepada arwah, terutama roh jahat yang karena mampu mendatangkan bencana, mereka jinakkan dengan sajian-sajian, di samping itu mereka dengan sangat memuliakan arwah nenek moyang yang dianggap masih berkuasa mengatur hidup keturunannya.[2]

Saat berlangsungnya Qurultay, sidang para kepala suku bangsa Mongol yang berlangsung pada 1206 M, menghasilkan kesepakatan untuk mengangkat Temujin dengan gelar Jenghiz Khan sebagai pemimpin tertinggi bangsa Mongol, ketika ia berumur 44 tahun. Ia adalah anak dari pemimpin atau Khan bangsa Mongol, yang dalam sejarah bernama Yesugey Ba’atur (W. 1175 M). [3]

Jenghiz Khan dan bangsa yang dipimpinnya itu meluaskan wilayah ke Tibet (Cina barat laut), dan Cina, 1213, serta dapat menaklukkan Beijing tahun 1215. Ia menundukkan Turkestan tahun 1218 yang berbatasan dengan wilayah Islam, Khawarazm Syah. Invasi Mongol ke wilayah Islam terjadi karena adanya peristiwa Utrar 1218, yaitu ketika Gubernur Khawarazm membunuh para utusan Chinggis yang disertai pula oleh para saudagar Muslim. Peristiwa tersebut menyebabkan Mongol menyerbu wilayah Islam, dan dapat menaklukkan Transoxania yang merupakan wilayah Khawarazm, 1219-1220, padahal sebelumnya mereka itu justru hidup berdampingan secara damai satu sama lain.

Kemudian mereka masuk Bukhara, Samarkand, Khurasan, Quzwain, Hamadzan, dan sampai ke perbatasan Irak. Di Bukhara, ibu kota Khawarizm, mereka kembali mendapat perlawanan dari Sultan Alauddin, tetapi kali ini mereka dengan mudah dapat mengalahkan pasukan Khawarizm. Sultan Alauddin tewas dalam perteempuran di Mazindaran. Ia digantikan putranya, Jalaluddin yang kemudian melarikan diri ke India karena terdesak dalam pertempuran di dekat Attock tahun 1224 M. Dari sana pasukan Mongol terus ke Azerbaijan.[4]

Setelah dinasti Samaniah runtuh, Samarkand dan Bukhara jatuh ke tangan dinasti Saljuk Sanjar yang kemudian dihancurkan oleh pasukan Mongol di bawah pimpinan Jenghis Khan (616 H/1220M). Selama 500 tahun berikutnya sejarah keduanya menyedihkan. Kebangkitan terjadi mulai masa pemerintahan Timur Lenk (771 H/ 1369 M), penguasa Transoxania, Samarkand dijadikan ibu kota.[5]

Kota Bukhara  di Samarkand yang di dalamnya terdapat makam Imam Bukhari, salah seorang perawi hadis yang termasyhur, dihancurkan. Balkh dan kota-kota lain yang mempunyai peradaban Islam yang tinggi di Asia Tengah juga tidak luput dari penghancuran. Jalaluddin, penguasa Khawarizm yang berusaha meminta bantuan kepada khalifah Abbasiyah di Baghdad, menghindarkan diri dari serbuan Mongol, ia diburu oleh lawannya hingga ke India tahun 1221, yang akhirnya ia lari ke barat. Toluy, salah seorang anak Jenghiz, diutus ke Khurasan, sementara anaknya yang lain, yakni Juchi dan Chagatai bergerak untuk merebut wilayah sungai Sir Darya Bawah dan Khawarizm.[6]

Pada saat kondisi fisiknya mulai lemah, Jenghiz Khan membagi wilayah kekuasaannya menjadi empat bagian kepada empat orang putranya sebelum ia meninggal dunia pada tahun 624H /1227M, yaitu Juchi, Chagatay, Ogotay, dan Toluy.

Pertama ialah Juchi, anaknya yang sulung mendapat wilayah Siberia bagian barat stepa Qipchaq yang membentang hingga ke Rusia Selatan, di dalamnya terdapat Khawarizm. Namun ia meninggal dunia sebelum ayahnya wafat, dan wilayah warisannya itu diberikan kepada anak Juchi yang bernama Batu dan Orda.

Kedua ialah Chagatay, mendapat wilayah yang membentang ke timur, sejak dari Transoxania hingga Turkistan Timur atau Turkistan Cina.

Ketiga bernamaOgotay, adalah putra Jenghiz Khan yang terpilih oleh Dewan Pimpinan Mongol untuk menggantikan ayahnya sebagai Khan Agung yang mempunyai wilayah kekuasaan di Pamirs Tien Syan. Tetapi dua generasi Kekhanan Tertinggi jatuh ke tangan keturunan Toluy.

Keempat ialahToluy, si bungsu mendapat bagian wilayah Mongolia sendiri. Anak-anaknya, yakni Mongke dan Qubilay menggantikan Ogotay sebagai Khan Agung. Mongke bertahan di Mongolia yang beribukota di Qaraqarum, sedangkan Qubilay Khan menaklukan Cina dan berkuasa disana yang dikenal sebagai Dinasti Yuan yang memerintah hingga abad keempatbelas, yang kemudian digantikan oleh dinasti Ming.[7]

  1. B.     Ciri-ciri Masa Mongol
    1. Berpindahnya Pusat Ilmu

Kegiatan ilmu pada masa Abbasiyah berpusat di kota-kota Baghdad, Bukhara, Naisabur, Ray, Cordova, Sevilla, ketika kota-kota tersebut hancur maka kegiatan ilmu berpindah ke kota-kota Kairo, Iskandariyah, Usyuth, Faiyun, Damaskus, Hims, Halab, dan lain-lain kota di Mesir dan di Syam.

  1. Tumbuhnya Ilmu-ilmu baru

Dalam masa ini mulai matang ilmu umron (sosiologi) dan filsafat tarikh (philosophy of history) dengan munculnya Muqaddimah Ibn Khaldun sebagai kitab pertama dalam bidang ini. Juga mulai disempurnakan penyusunan ilmu politik, ilmu tata usaha, ilmu peperangan, ilmu kritik sejarah.

  1. Kurangnya kutubul khanah

Dalam zaman ini banyak perpustakaan besar yang musnah bersama segala kitabnya karena terbakar atau tenggelam di tengah-tengah suasana yang kacau waktu penaklukan Mongol di Timur dan penyerangan Spanyol di Barat. Atau pemusnahan kitab-kitab dan prtpustakaan sebagai akibat terjadinya pertentangan sengit antara firqah-firqah agama. Atau karena menjadi rusaknya kertas dan mengaburnya tinta akibat lapuk dimakan usia.

  1. Banyaknya sekolah dan  mausu’at

Dalam masa ini sekolah-sekolah yang teratur tumbuh subur, terutama di Mesir dan Syam, dan yang menjadi pusatnya adalah Kairo dan Damaskus. Pembangun sekolah pertama adalah Sultan Nuruddin Zanky yang kemudian diikuti oleh para raja dan Sultan sesudahnya. Berdirilah berbagai corak sekolah baik karena perbedaan madzhab ataupun karena kekhususan ilmu. Ada sekolah untuk ilmu tafsir dan hadits, ada sekolah untuk fiqh berbagai madzhab, ada sekolah untuk ilmu thib dan filsafat, ada sekolah untuk ilmu riyad-hiya’at (ilmu pasti, ilmu musik, dan ilmu eksakta lainnya). Dari sekolah ini keluarlah para ulama’ dan sarjana yang jumlahnya cukup banyak. Keadaan di Mesir pun demikian juga, bahkan jami’ah Al-Azhar Kairo menjadi bintangnya segala sekolah, tidak saja karena usianya yang lebih tua tetapi yang terutama karena mutu ilmu yang tinggi. Kecuali banyaknya sekolah, zaman ini istimewa dengan lahirnya mausu’at dan majmu’at (buku kumpulan berbagai ilmu dan masalah kira-kira seperti encyclopedia). Pendiri Universitas Al-Azhar yaitu Jauhar Al-Kitab As-Siqili pada tanggal 7 Ramadhon tahun 361H.

  1. Penyelewengan ilmu

Dalam zaman ini umat Islam dan kaum terpelajar banyak yang melarikan diri ke dunia pembahasan agama, apalagi ketika persatuan politik tidak ada lagi dan sultan-sultannya tidak memperhatikan perkembangan dan kemurnian agama, umat Islam makin tenggelam kepada pembahasan bidang agama saja, bahkan lama kelamaan jatuh ke lembah mistik dan khurofat. Hal ini mungkin karena kebanyakan manusia telah dihinggapi rasa takut sehingga mereka mengungsi ke dunia agama dan mistik untuk menghibur diri. Dalam masa ini berbagai ilmu mereka pergunakan untuk mengkhidmati agama saja atau mistik dan khurofat. Misalnya ilmu falak hanya untuk menetapkan waktu sholat, sementara ilmu bintang untuk meramal.[8]

  1. C.    Serangan Hulagu Khan

Wilayah kultur Arab menjadi jajahan Mongol setelah Baghdad ditaklukan oleh Hulagu Khan pada tahun 1258M. Hulaghu Khan membentuk kerajaan Ilkhan yang berpusat di Tabris dan Maragha. Ia dipercaya oleh saudaranya, Mongke Khan untuk mengembalikan wilayah-wilayah Mongol di Asia Barat yang telah lepas dari kekuasaan Mongol setelah kematian Jenghiz Khan. Ia berangkat dengan disertai pasukan yang besar untuk menunaikan tugas itu tahun 1253 dari Mongolia. Atas kepercayaaannya tersebut, Hulagu Khan dapat menguasai wilayah yang luas seperti Persia, Irak, Caucasus dan Asia Kecil. Sebelum menundukkan Baghdad, ia telah menguasai pusat gerakan Syi’ah Isma’iliyah di Persia Utara, tahun 1256M.[9]

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa pada tahun 656H /1258M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 2000.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. Khalifah Al-Mu’tashim, penguasa terakhir Bani Abbasiyah di Baghdad (1243-1258M) betul-betul tidak mampu membendung “topan” tentara Hulagu Khan. Pada saat yang kritis tersebut, wazir khalifah Abbasiyah, Ibnu Al-Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. Ia mengatakan kepada khalifah, “Aku telah menemui mereka untuk perjanjian damai. Raja (Hulagu Khan) ingin mrngawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakar, putra khalifah. Dengan demikian, Hulagu Khan menjamin posisimu. Ia tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan, sebagaimana kakek-kakekmu terhadap sultan-sultan Saljuk.”

Khalifah menerima usul tersebut, ia keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara, permata, dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. Hadiah-hadiah tersebut dibagikan Hulagu Khan kepada panglimanya. Keberangkatan Khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fiqh dan orang-orang terpandangf. Akan tetapi, sambutan Hulagu Khan sungguh diluar dugaan khalifah. Apa yang dikatakan wazirnya ternyata tidak benar. Mereka semua, termasuk wazirnya sendiri, dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. Dengan penbunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan sehingga rata dengan tanah, sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut.[10]

Selanjutnya ia ingin merebut Mesir, tetapi malang, pasukan Mamluk rupanya lebih kuat dan lebih cerdik sehingga pasukan Mongol dapat dipukul di ‘Ain Jalut, Palestina, tahun 1260 sehingga mengurungkan niatnya melangkahi Mesir. Ia sangat tertarik pada banguna dan arsitektur yang indah dan filsafat. Atas saran Nasiruddin at-Tusi, seorang filosof Muslim besar, ia membangun observatorium di Maragha tahun 1259.[11]

Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama 2 tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syiria dan Mesir. Dari Baghdad, pasukan Mongol menyeberangi sungai Eufrat menuju Syiria, kemudian melintasi Shinai, Mesir. Pada tahun 1260 M, mereka berhasil menduduki Nablus. Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta agar Sultan Qutus yang menjadi raja Kerajaan Mamalik di sana menyerah. Permintaan itu ditolak oleh Qutus, bahkan utusan Kitbugha dibunuhnya.

Tindakan Qutus ini menimbulkan kemarahan di kalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintasi Yordania. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamalik yang dipimpin langsung oleh Qutus dan Baybras di ‘Ain Jalut. Pertempuran dahsyat pun terjadi. Pasukan Mamalik berhasil menghancurkan tentara Mongol pada 3 September 1260 M.

Baghdad dan daerah-daerah yang ditaklukan Hulagu selanjutnya diperintah oleh Dinasti Ilkhan. Ilkhan adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu. Dari sinilah di kemudian hari muncul Kerajaan Mongol Islam, karena keturunan Hulagu Khan yang masuk Islam dan mendirikan Kerajaan Mongol Islam dengan nama Dinasti Ilkhan.[12]

  1. D.    Dampak Kekuasaan Mongol

Kekuasaan Mongol terhadap peradaban Islam sungguh sangat terasa. Dampak negatif tentunya lebih banyak jika dibandingkan dampak positifnya. Kehancuran tampak jelas di mana-mana dari serangan Mongol, sejak dari wilayah timur hingga ke barat. Kehancuran kota-kota dengan bangunan yang indah-indah dan perpustakaan-perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi umat Islam. Pembunuhan tehadap umat Islam terjadi, bukan hanya pada masa Hulagu yang membunuh khalifah Abbasiyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan juga dilakukan terhadap umat Islam yang tidak berdosa.

Bangsa Mongol yang asal mulanya memeluk agama nenek moyang mereka, lalu beralih memeluk agama Budha dan rupanya mereka bersimpati terhadap orang-orang Kristen yang bangkit kembali pada masa itu dan menghalang-halangi dakwah Islam di kalangan Mongol. Yang lebih fatal lagi ialah hancurnya baghdad sebagai pusat Dinasti Abbasiyah yang di dalamnya terdapat berbagai macam tempat belajar dengan fasilitas perpustakaan, hilang lenyap dibakar oleh Hulagu. Suatu kerugian besar bagi khazanah ilmu pengetahuan yang dampaknya masih dirasakan hingga kini.[13]

Ada pula dampak positif dengan berkuasanya dinasti Mongol ini setelah para pemimpinnya memeluk agama Islam. Mereka dapat menerima dan masuk ke agama Islam, antara lain  disebabkan mereka berasimilasi dan bergaul dengan masyarakat muslim dalam jangka panjang. Seperti yang dilakukan oleh Ghazan Khan (1295-1304) yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaannya, walaupun pada mulanya beragama Budha. [14]

Rupanya ia telah mempelajari ajaran agama-agama sebelum menetapkan keislamannya. Dan yang lebih mendorongnya masuk Islam ialah karena pengaruh seorang menterinya, Rashidudin yang terpelajar dan ahli sejarah yang terkemuka yang selalu berdialog dengannya, dan Nawruz, seorang gubernurnya untuk beberapa provinsi Syiria. Ia menyuruh kaum Kristen dan Yahudi untuk membayar jizyah, dan memerintahkan untuk mencetak uang yang yang bercirikan Islam, melarang riba, serta menyuruh para pemimpinnya menggunakan sorban. Ia gemar kepada seni dan ilmu pengetahuan, menguasai beberapa bahasa seperti Mongol, Arab, Persia, Cina, Tibet, dan Latin. Ia wafat muda pada usia ketika masih berumur 32 tahun karena tekanan batin yang berat sehingga ia sakit yang menyebabkan kematiannya, yaitu ketika pasukannya kalah di Syiria dan munculnya sebuah komplotan yang berusaha untuk menggusurnya dari kekuasaanya. Sepeninggal Ghazan digantikanlah oleh Uljaytu Khuda Banda (1305-1326) yang memberlakukan aliran Syi’ah sebagai hukum resmi kerajaannya. Ia mendirikan ibu kota baru yang bernama Sultaniyah, dekat Qazwain yang dibangun dengan arsitektur khas Ilkhan dan menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan antara dunia Barat dan India serta Timur Jauh. Namun, perselisihan dalam keluarga Dinasti Ilkhan menyebabkan runtuhnya kekuasaan mereka.[15]

  1. IV.            KESIMPULAN

Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia, yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia utara, Tibet Selatan, dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan, yang mempunyai dua putra kembar, Tartar dan Mongol. Kedua putra itu melahirkan dua suku bangsa besar, Mongol dan Tartar. Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan, yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol di kemudian hari.

Ciri-ciri Masa Mongol, yaitu:

  1. Berpindahnya Pusat Ilmu
  2. Tumbuhnya Ilmu-ilmu baru
  3. Kurangnya kutubul khanah
  4. d.      Banyaknya sekolah dan  mausu’at
  5. Penyelewengan ilmu

Wilayah kultur Arab menjadi jajahan Mongol setelah Baghdad ditaklukan oleh Hulagu Khan pada tahun 1258M. Hulaghu Khan membentuk kerajaan Ilkhan yang berpusat di Tabris dan Maragha.

Baghdad dan daerah-daerah yang ditaklukan Hulagu selanjutnya diperintah oleh Dinasti Ilkhan. Ilkhan adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu. Dari sinilah di kemudian hari muncul Kerajaan Mongol Islam, karena keturunan Hulagu Khan yang masuk Islam dan mendirikan Kerajaan Mongol Islam dengan nama Dinasti Ilkhan.

Dampak negatif kekuasaan Mongol, diantaranya: Kehancuran tampak jelas di mana-mana dari serangan Mongol, sejak dari wilayah timur hingga ke barat. Kehancuran kota-kota dengan bangunan yang indah-indah dan perpustakaan-perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi umat Islam. Pembunuhan tehadap umat Islam terjadi, bukan hanya pada masa Hulagu yang membunuh khalifah Abbasiyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan juga dilakukan terhadap umat Islam yang tidak berdosa. Sedangkan dampak positifnya, yaitu: disebabkan mereka berasimilasi dan bergaul dengan masyarakat muslim dalam jangka panjang. Seperti yang dilakukan oleh Ghazan Khan (1295-1304) yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaannya, walaupun pada mulanya beragama Budha.

  1. V.            PENUTUP

Demikian makalah yang dapat kami buat. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah pada khususnya. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2009.

Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka book Publisher, 2007.

Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997.

NC, Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2008.

Sunanto, Hj. Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Bogor: Kencana, 2003.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008.

 


[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 111-112

[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), Cet.1, hlm.212-213

[3] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hlm.286

[4] Samsul Munir Amin, Op. Cit, hlm. 213-214

[5] H. Fatah Syukur NC, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2008), Cet.1, hlm. 148

[6] Samsul Munir Amin, Op. Cit, hlm. 214

[7]Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos, 1997), Cet.1,hlm.129-130

[8] Hj. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Bogor: Kencana, 2003), Cet.1, hlm. 194-197

[9] Ali Mufrodi, Op. Cit, hlm. 130

[10] Samsul Munir Amin, Op. Cit, hlm. 217-218

[11] Ali Mufrodi, Op. Cit, hlm. 131

[12] Samsul Munir Amin, Op. Cit, hlm. 218-219

[13] Ibid, hlm. 227

[14] Ali Mufrodi, Op. Cit, hlm. 134

[15] Samsul Munir Amin, Op. Cit, hlm. 228

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s