PERADAPAN ISLAM DI MASA ABU JA’FAR AL- MANSUR

Standar

 

PERADAPAN ISLAM DI MASA

ABU JA’FAR AL- MANSUR

 

MAKALAH

DisusunGunaMemenuhiTugas

Mata Kuliah: SejarahPeradapan Islam

DosenPengampu: Drs. H. M. SholikhinNur, M.Ag


 

Disusunoleh:

 

Nuzul Faaizah                                   (103111093)

Riza Rahmawati                                (103111094)

Amri Khan                                         (103111109)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

PERADAPAN ISLAM DI MASAABU JA’FAR AL- MANSUR

 

  1. I.            PENDAHULUAN

Kekuasaan dinasti Bani Abbas, atau khalifah Abbasiyah sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al- Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al- Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn al- Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang yang panjang. [1]

Setelah menjadi khalifah, Abu al- Abbas bergelar al- saffah penumpah darah mengeluarkan dekrit para Gubernur, supaya tokoh- tokoh umayyah yang memiliki darah biru semuanya dibunuh. Ia sendiri juga membunuh banyak rival.

Sebelum Saffah wafat, Ia mengangkat saudaranya, Abu Ja’far, dengan gelar al- Mansur( sebut Mansur) sebagai penggantinya.[2]  Maka dari itu  dalam makalah ini akan menguraikan beberapa hal mengenai Peradapan Islam Pada Masa Abu Ja’far al- Mansur.

  1. II.            RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana Sejarah dan Kepribadian Abu Ja’far al- Mansur?
    2. Bagaimana Perjalanan Politik Abu Ja’far al- Mansur?
  1. III.            PEMBAHASAN
    1. Sejarah Dan KepribadianAbu Ja’far al- Mansur

Ja’far ash-Shadiq (Bahasa Arab:جعفر الصادق), nama lengkapnya adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, adalah Imam ke-6 dalam tradisi Islam Syi’ah.

Ia lahir di Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah / 20 April 702 Masehi (M), dan meninggal pada tanggal 25 Syawal 148 Hijriyah / 13 Desember 765 M.

Ia memiliki saudara satu ibu yang bernama Abdullah bin Muhammad. Sedangkan saudara lainnya yang berlainan ibu adalah Ibrahim dan Ubaydullah yang beribukan Umm Hakim binti Asid bin al-Mughirah. Ali dan Zaynab beribukan wanita hamba sahaya, dan Umm Salamah yang beribukan wanita hamba pula.

Sejak kecil hingga berusia sembilan belas tahun, ia dididik langsung oleh ayahnya. Setelah kepergian ayahnya yang syahid pada tahun 114 H, ia menggantikan posisi ayahnya sebagai Imam bagi kalangan Muslim Syi’ah.

Pada masa remajanya, Ja’far ash-Shadiq, turut menyaksikan kejahatan dinasti Bani Umayyah seperti Al-Walid I (86-89 H) dan Sulaiman (96-99 H). Kedua-dua bersaudara inilah yang terlibat dalam konspirasi untuk meracuni Ali Zainal Abidin, pada tahun 95 Hijriyah. Saat itu Ja’far ash-Shadiq baru berusia kira-kira 12 tahun. Ia juga dapat menyaksikan keadilan Umar II (99-101 H). Pada masa remajanya Ja’far ash-Shadiq menyaksikan puncak kekuasaan dan kejatuhan dari Bani Umayyah.[3]

Dia bernama  Abdullah bin Muhammad Ali bin Abdullah al- Abbas. Dia seorang yang paling  terkenal dari penguasa Bani Abbasiyah dengan kebenarian, ambisi, dan kecerdekiannya. Dia dianggap sebagai pendiri pemerintahan Bani Abbasiyah yang sebenarnya.

Bersama- sama dengan Abul Abbas, dia pindah ke Kufah dan berusaha untuk mendirikan pemerintahan Bani Abbasiyah.  Dia merupakan tangan al- Abbas yang utama dan orang yang paling kuat.[4]

Khalifah yang amat berbakti memajukan kebudayaan Islam, ialah khalifah al- Mansur, yakni khalifah yang kedua dari dinasti Abbasiyah, dan pembangunkota Baghdad.

Beliau ialah seorang  yang shaleh, teguh memegang agama, ahli dalam ilmu fiqih dan tidak kurang pula suka kepada ilmu keduniaan terutama ilmu bintang dan ilmu kedokteran. Ahli-  ahli ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa dan agama sama- sama bekerja di istana beliau dengan nafkah yang bukan kecil.

Setengah dari mereka ialah Naubacht seorang ahli astronomi berasal dari Persia dan dulunya beragama Majusi, dan masuk agama islam dengan penyaksian baginda khalifah al- Mansur sendiri.

Al- Mansur  telah meninggalkan buah usahanya dalam ilmu- ilmu asteonomi, ilmu pasti dan ilmu kedokteran.

Juga khalifah- khalifah yang lain- lain seperti, Khalifah al- Mahdi, Khalifah Harunar- Rasyid, Khalifah al- Ma’mun yang meneruskan pekerjaan beliau.[5]

  1. Perjalanan Politik Abu Ja’far al- Mansur

Pada masa Khalifah Mansur dalam bidang politik, Negara cukup stabil dan maju, setelah ia memadamkan api pemberontakan termasuk gerakan Ustadsis di Herat yang menyatakan dirinya sebagai Nabi, menguasai Khurasan dan Sizistan yang sangat luas. Ia ditangkap dan dibawa ke Baghdad.

Di Afrika Utara Berber dan Khawarij yang semula ikut barisan berdirinya Abbasiyah untuk mengulingkan Umayyah, karena mereka berfaham demokratis dan menganggap khalifah tidak hanya harus dari golongan tertentu ( Quraisy). Akan tetapi boleh saja dari suku dan bangsa mana pun. Akhirnya kecewa dengan sikap Mansur yang satu persatu menyingkirkan tokoh- tokoh yang berjasa guna menumbangkan Dinasti Umayyah untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah.Pada akhirnya, mereka menarik dukungan dan menggangu kestabilan politik Abbasiyah. Mereka juga kecewa dengan sikap Abbasiyah terhadap mereka yang berat sebelah dengan orang Persia. Gerakan dan pemberontakan baik Berber maupun Khawarij dapat dipadamkan di bawah panglima merangkap amir, Yazid ibn Hasan al- Muhallab yang berhasil menguasai Qayrawan, sebagai pusat politik di Afrika Utara.

Saat Khalifah sibuk dalam urusan dalam negeri, tentara Bizantium menyerang dan menggangu di wilayah perbatasan barat laut. Akhirnya, mereka dapat mengalahkan tentara Raja Kostantinopel IV yang damai sama Islam dengan membayar pajak. Demi memperkokoh kedaulatan islam, Khalifah membangun banyak benteng kokoh di sana. Selain Saffah, semua Khalifah Abbasiyah menganggap kekuasaanya dari Allah. Dengan demikian, sejak masa kepemimpinan Mansur dalam diri seorang Khalifah terdapat dua jabatan, yaitu Khalifah, sebagai jabatan sakral dan sebagai seorang raja.Dengan adanya jabatan sakral itu, maka sejak Mansur para Khalifah Abbasiyah tidak membutuhkan pengakuan rakyat dengan kata lain, rakyat yang butuh Khalifah.

Telah disebut, bahwa setelah Mansur berkuasa terdapat perubahan corak kepemimpinan dalam Islam, yang pasca Abbasiyah, diteruskan oleh Dinasti Malik terakhir disandang oleh para penguasa Turki Usmani sendiri sampai Mustofa Kemal Atta Turk yang mengusir Sultan Turki merangkap Khalifah itu dari tanahTurki.[6]

  1. IV.            KESIMPULAN

Ja’far ash-Shadiq (Bahasa Arab:جعفر الصادق), nama lengkapnya adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, adalah Imam ke-6 dalam tradisi Islam Syi’ah.

Ia lahir di Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah / 20 April 702 Masehi (M), dan meninggal pada tanggal 25 Syawal 148 Hijriyah / 13 Desember 765 M.

Ja’far ash-Shadiq, turut menyaksikan kejahatan dinasti Bani Umayyah seperti Al-Walid I (86-89 H) dan Sulaiman (96-99 H). Kedua-dua bersaudara inilah yang terlibat dalam konspirasi untuk meracuni Ali Zainal Abidin, pada tahun 95 Hijriyah. Saat itu Ja’far ash-Shadiq baru berusia kira-kira 12 tahun. Ia juga dapat menyaksikan keadilan Umar II (99-101 H). Pada masa remajanya Ja’far ash-Shadiq menyaksikan puncak kekuasaan dan kejatuhan dari Bani Umayyah.

Pada masa Khalifah Mansur dalam bidang politik, Negara cukup stabil dan maju, setelah ia memadamkan api pemberontakan termasuk gerakan Ustadsis di Herat yang menyatakan dirinya sebagai Nabi, menguasai Khurasan dan Sizistan yang sangat luas. Iaditangkapdandibawake Baghdad.

 

  1. V.            PENUTUP

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kesalahan dan kekurangan untuk itu kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Besar harapan kami, semoga makalah ini bias memberikan manfaat bagi pembaca umumnya dan pemakalah khususnya. Amiin.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al- Usairy, Ahmad, Terj. Samson Rahman, Sejarah IslamSejakZamanNabi Adam Hingga Abad XX,( Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003)

Karim, Abdul, SejarahPemikiran Dan Peradapan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007 )

Natsir, Kebudayaan Islam DalamPrespektiSejarah, ( Jakarta: PT. Girimukti Pasaka, 1988)

Yatim, Badri, SejarahPeradapan Islam DirasahIslamiyah II, ( Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 2003)

http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_ash-Shadiq Kategori: Kelahiran 702 | Kematian 765

 


[1]BadriYatim,SejarahPeradapan Islam DirasahIslamiyah II, ( Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 2003), cet.15hal. 49

[2]Abdul Karim, SejarahPemikiran Dan Peradapan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007 ), cet. 1, hal. 144

[4] Ahmad al- Usairy, Terj. Samson Rahman, Sejarah IslamSejakZamanNabi Adam Hingga Abad XX,,( Jakarta: Akbar Media EkaSarana, 2003), cet. 1, hal. 222

[5]Natsir, Kebudayaan Islam DalamPrespektifSejarah, ( Jakarta: PT. GirimuktiPasaka, 1988), cet.1, hal. 53- 54

[6]Abdul Karim, Op. Cit, hal.146- 148

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s