SANAD, MATAN, DAN ROWI HADITS

Standar

SANAD, MATAN, DAN ROWI HADITS

 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata  Kuliah: Ilmu Hadits

Dosen Pengampu: Darmu’in, M, Ag

 

 

 

 

Disusun Oleh:

 

M. Nurul Khafid       (103111054)

M. Khoirul Anam      (103111068)

M. Latif Wibowo       (103111069)

M. Nur Roni              (103111070)

M. Ikhsan Wakhid    (103111072)

M. Farid Ma’ruf       (103111073)

M. Rokhimin             (103111074)

Amri Khan                 (103111109)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

SANAD, MATAN, DAN ROWI HADITS

  1.              I.      PENDAHULUAN

Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia bagi orang-orang yang bertaqwa sifatnya mujmal(global) atau masih ‘am(umum), maka untuk menerapkannya secara praktis sangatlah membutuhkan penjelasan-penjelasan yang lebih jelas terutama dari nabi Muhammad SAW yang menerima wahyu. penjelasan-penjelasan dari nabi tersebut bisa berupa ucapan atau perbuatan maupun pernyataan atau pengakuan, yang dalam tradisi keilmuan islam disebut hadits. Dengan demikian, hadits nabi merupakan sumber ajaran islam setelah AL-Qur’an.

Dari sisi periwayatannya hadits memang berbeda dengan Al-Qur’an. Semua periwayatan ayat-ayat Al-Qur’an dipastikan berlangsung secara mutawatir, sedang hadits ada yang mutawatir dan ada juga yang ahad. Oleh karena itu, Al-Quran bila dilihat dari segi periwayatannya mempunyai kedudukan sebagai qot’i al-wurud, sedang hadits nabi dalam hal ini yang berkategori ahad, berkedudukan sebagai dzoni al-wurud.

Untuk mengetahui otentisitas dan orisinalitas hadits semacam ini diperlukan penelitian matan maupun sanad. Dari sini dapat dilihat bahwa selain rowi , matan dan sanad merupakan tiga unsur terpenting dalam hadits nabi.

Untuk itu dalam pembahasan makalah ini kami akan menyajikan bahan diskusi yang berjudul :Sanad, Matan, dan Rowi Hadits, kami akan mencoba memaparkan apa itu Sanad, Matan, dan Rowi Hadits, Tolak Ukur Kesahihan Sanad Hadits, Tolak Ukur Kesahihan Matan Hadits, dan Tolak Ukur Kesahihan Rawi Hadits.

  1.           II.      RUMUSAN MASALAH
    1. Pengertian Sanad, Matan, dan Rowi Hadits
    2. Tolak Ukur Kesahihan Sanad Hadits
    3. Tolak Ukur Kesahihan Matan Hadits
    4. Tolak Ukur Kesahihan Rawi Hadits
  2.        III.      PEMBAHASAN
    1. Pengertian Sanad, Matan, dan Rowi Hadits

Contoh hadits nabi dalam periwayatan yang lengkap :

حدثنا عبيدالله بن موسى قال : اخبرنا حنظلة بن ابى سفيان عن اكرمة بن خالد عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله ص.م. بني الاسلام على خمس شهادة ان لااله الاالله وان محمد رسول الله واقام الصلاة وايتاء الزكاة والحج وصوم رمضان. “رواه البخارى”

Artinya : “telah menceritakan kepada kami ubaidullah bin musa, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami handhalah bin abi sufyan dari ikrimah bin khalid dari ikrimah bin khalid dati ibnu umar radhiyallahu ‘anhuma berkata : telah bersabda rasulullah saw : didirikan islam itu atas lima perkara : syahadat bahwa tidak ada tuhan selain allah dan muhammad rasulullah, mendirikan solat, membayar zakat, berhaji dan puasa dalam bulan ramadhan”. (Riwayat Bukhari)

1)      Sanad

Kata sanad menurut bahasa adalah sandaran atau sesuatu yang kita jadikan sandaran. Jika demikian karena hadits bersandar kepadanya. Menrut istilah terdapat perbedaan rumusan pengertian. Al-badru bin jama’ah dan al-tiby mengatakan bahwa sanad adalah :

 الاخبار عن طريق المتن

Artinya : “berita tentang jalan matan”

Yang lain menyebutkan :

سلسلة الرجال الموصلة للمتن

Artinya : “silsilah orang-orang yang meriwayatkan hadits yang menyampaikannya kepada hadis

Ada juga yang menyebutkan :

سلسلة الرواة الذين نقلو المتن عن مصدره الاول

Artinya : “silsilah para perawi yang menukilkan hadits dari sumbernya yang pertama”.[1]

Sanad hadits yang menurut pengertian istilah adalah rangkaian para periwayat yang menyampaikan kita kerada matan hadits, mengandung dua bagian penting, yaitu :

  1. Nama-nama periwayat yang terlibat dalam periwayatan hadits yang bersangkutan, dan
  2. Lambang-lambang periwayatan hadits yang telah digunakan oleh masing-masing periwayat dalam meriwayatkan hadits yang bersangkutan, misalnya sami’tu, ’an, dan ’anna.[2]

Yang berkaitan dengan istilah sanad adalah isnad, musnid, dan musnad. Isnad menurut ilmu bahasa yaitu menyandarkan. Menurut istilah ialah menerangkan sanad hadits (jalan menerima hadits). Maka arti ”saya isnad-kan hadits” adalah saya sebutkan sanadnya, saya terangkan jalan datangnya, atau jalan sampainya kepada saya.

Orang yang menerangkan hadits dengan menyebut sanadnya, disebut musnid. Hadits yang disebut dengan diterangkan sanadnya yang sampai kepada nabi saw. Dinamai musnad.[3]

Suatu hadits sampai kepada kita, tertulis dalam bentuk hadits, melalui sanad-sanad. Setiap sanad bertemu dengan rawi yang dijsdikan sandaran menyampaikan berita (sanad yang setingkat lebih atas), sehingga seluruh sanad itu merupakan suatu rangkaian. Rangkaian sanad itu ada yang berderajat tinggi, sedang, dan lemah., mengingat perbedaan kedhabitan (kesetiaan ingatan) dan keadilan rawi yang dijadikan sanadnya.rangkaian sanad yang berderajat tinggi menjadikan suatu hadits lebih tinggi derajatnya dari pada hadits yang rangkaian sanadnya sedang atau lemah. Para muhadditsin membagi tingkatan sanad kepada :

  1. Ashahhul asanid (sanad-sanad yang lebih sahih).
  2. Ahsanul asanid (sanad-sanad yang lebih hasan), dan
  3. Adh’aful asanid (sanad-sanad yang lebih lemah).[4]

Deretan kata-kata mulai dari : حدثنا عبيدالله بن موسى sampai kepada قال رسول الله ص.م. itulah yang dinamakan sanad. Dengan demikian, maka urutan-urutan sanad dari hadis diatas adalah sebagai berikut :

  1. Ubaidullah bin musa sebagai sanad pertama atau awal sanad.
  2. Handhalah bin abi sufyan sebagai sanad kedua.
  3. Ikrimah bin khalid sebagai sanad ketiga.
  4. Ibnu umar ra. Sebagai sanad keempat atau akhir sanad.

Karena ada istilah “awal sanad” dan “akhir sanad”, maka ada juga yang disebut  “ausatus sanad”, atau pertengahan sanad. Dan dalam ausatus sanad diatas adalah seluruh sanad yang berada antara awal sanad dengan akhir sanad , yakni : handhalah bin abu sufyan dan ikrimah bin khalid.

2)      Matan

Kata Matan atau almatn menurut bahasa ma irtafa’a min al-ardhi (tanah yang meninggi). Sedang menurut istilah adalah :

ما ينتهى اليه السند من الكلام

Artinya : “suatu kalimat tempat berakhirnya sanad”.

Atau dengan redaksi lain ialah :

الفاظ الحديث التى تتقوم بها معا نيه

Artinya : “lafal-lafal hadits yang didalamnya mengandung makna-makna tertentu”.

Ada juga redaksi yang lebih simpel lagi, yang menyebutkan bahwa matan adalah ujung sanad ( gayah as-sanad). Dari semua pengertian diatas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan matan adalah materi atau lafal hadits itu sendiri.

Deretan kata-kata mulai dari : بني الاسلام sampai kepada وصوم رمضان itulah yang dinamakan matan.

Sebab-sebab  terjadinya Perbedaan Kandungan Matan suatu hadits, antara lain :

  1. Karena Periwayatan Hadis Secara Makna.
  2. Karena Meringkas dan Menyederhanakan Matan Hadis.

3)      Rawi

Yang dimaksud dengan rawi ialah orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa yang pernah didengar atau diterimanya dari dari seorang  (gurunya).[5] Bentuk jamaknya yaitu ruwat, perbuatan menyampaikan hadits tersebut dinamakan me-rawi  (riwayat) kan hadits.

Hadits tersebut diatas , kita temukan pada kitab hadits yang disusun oleh imam bukhari yang bernama : الجامع الصحيح (aljami’u as-shahih) atau lebih dikenal dengan  صحيح البخارى (shahih bukhari). Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh beberapa orang rawi, yakni :

  1. Ibnu umar ra. ………………………sebagai rawi pertama.
  2. Ikrimah bin khalid ……………….sebagai rawi kedua.
  3. Handhalah bin abi sufyan ……..sebagai rawi ketiga.
  4. Ubaidullah bin musa ……………sebagai rawi keempat.
  5. Imam bukhari ……………………..sebagai rawi kelima atau rawi terakhir.

Imam bukhari di sini, selain disebut sebagai rawi kelima atau terakhir, juga disebut sebagai “mukharrij”, yakni orang yang telah menukil atau mencatat hadits tersebut pada kitabnya yang bernama “al-jami’us shahih”. Dengan kata lain imam bukharilah sebagai pentakhrij dari hadits tersebut.

Sebenarnya antara sanad dan rawi itu merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Jika yang dimaksud rawi adalah orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadits, akan tetapi yang membedakan antara rawi da sanad ialah terletak pada pembukuan dan pentadwinan hadits. Orang yang menerima hadits dan kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin , disebut dengan perawi. Dengan demikian maka perawi dapat disebut mudawwin (orang yang membukukan dan menghimpun hadits).

  1. Tolak Ukur Kesahihan Sanad Hadits

Setelah menyusun keseluruhan sanad yang telah ditakhrij dalam sebuah skema sanad (guna memudahkan pembacaan jaringan sanad hadits yang sedang diteliti), maka untuk selanjutnya dilakukan telaah kritis terhadap sanad hadits tersebut, namun sebelum menetapkan suatu hadits itu sahih atau tidak, diperlukan tolak ukur yang baku (setidak-tidaknya telah dibakukan oleh ulama’ hadits), yaitu yaitu sebagaimana dikemukakan al-nawawi bahwa yang disebut hadits sahih adalah :

ما اتصل سنده بالعدول الضابطين من غير شذوذ ولا علة

Yaitu hadits yang bersambung oleh rawi-rawi yang adil dan dhabit serta terhindar dari syudhut dan illat”.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kaedah kesahihan hadits adalah

1)      Sanadnya bersambung

Pengertian sanad bersambung adalah tiap-tiap rawi dalam sanad hadits menerima riwayat dari rawi terdekat sebelumnya dan keadaan itu berlangsung sampai akhir sanad.

Sehingga kaedah sanad hadits yang bersambung adalah :

a. Seluruh rawi dalam sanad benar-benar tsiqah.

  1. Antara masing-masing rawi dengan rawi terdekat sebelumnya dalam sanad benar-benar terjadi hubungan periwayatan secara sah berdasarkan kaedah tahammul wa ada’ al-hadits.

c. Disamping muttasil juga harus marfu’.[6]

2)      Seluruh rawi dalam sanad tersebut adil

Pengertian rawi yang adil adalah :

من استقام دينه وحسن خلقه وسلم من الفسق وجوارم المروءة

“Yaitu rawi yang menegakkan agamanya (islam), serta dihiasi akhlak yang baik, selamat dari kefasikan juga hal-hal yang merusak muru’ah” .

Jadi kaedah rawi hadits yang adil adalah :

a. Beragama islam dan menjalankan agamanya dengan baik

b.Berakhlak mulia

c. Terhindar dari kefasikan

  1. Terpelihara muru’ahnya.[7]

3)      Seluruh rawi dalam sanad tersebut dhabit

Pengertian rawi yang dhabit adalah :

ان يكون حافظا عالما بما يرويه ان حدث من حفظه فاهما ان حدث على المعنى وحافظا لكتابه من دخول التحريف والتبديل اوالنقص عليه ان حدث من كتابه

Rawi tersebut hafal betul dengan apa yang ia riwayatkan dan mampu menyampaikannya dengan baik hafalannya, ia juga memahami betul bila diriwayatkan senara ma’na, ia memelihara hafalan dengan catatan dari masuknya unsur perubahan huruf dan penggantian serta pengurangan didalamnya bila ia menyampaikan dari catatannya”.

Jadi kaedah rawi yang dhabit adalah :

a. Rawi memahami dengan baik riwayat yang telah didengarnya .

b.Rawi tersebut hafal dengan baik riwayat yang telah diterimanya.

  1. Rawi tersebut mampu menyampaikan riwayat yang telah dihafalnya dengan baik, kapan saja dia kehendaki dan sampai saat dia menyampaikan kembali riwayat tersebut kepada orang lain.[8]

4)      Haditsnya terhindar dari syudhud.

Pengertian hadits syadz adalah :

هو مخالفة الثقة من هو ارجخ منه

“Yaitu riwayat seorang yang tsiqah yang menyalahi riwayat orang yang lebih tsiqah darinya”.

Jadi kaedah hadits yang syadz adalah :

a. Haditsnya diriwayatkan oleh orang yang tsiqah.

b.Haditsnya tidak fard

c. Haditsnya bertentangan dengan riwayat orang yang lebih tsiqah.[9]

5)      Haditsnya terhindar dari illat.

Pengertian illat adalah sebab tersembunyi yang merusak kualitas hadits.

Jadi kaedah hadits yang berillat adalah :

a. Tampak secara lahiriah sahih.

b.Sebenarnya dalam hadits itu ada kecacatan.[10]

  1. Tolak Ukur Kesahihan Matan Hadits

Kritik matan telah dilakukan sejak masa sahabat, dan cara-cara mereka ini pulalah  yang tetap dipertahankan hingga kini, namun sebelum menguraikan tolak ukur matan hadits ini terdapat langkah sistematis yang perlu dilalui yaitu :

a)Pada langkah pertama ini menunjukkan bahwa telaah matan hadits ini tidak terlepas dari telaah sanad hadits yang sebagai satu kesatuan hadits, sehingga matan yang sahih tetari tidak didukung sanad yang sahih tiak serta merta dapat dinyatakan sebagai hadits yang shahih atau benar-benar bersumber dari nabi saw. demikian pula sebaliknya.

b)      Sedangkan langkah kedua dilakukan telaah lafal, karena hadits yang sampai kepada beberapa mukharrij memiliki keragaman, sehingga perlu dilakukan telaah terhadap berbagai lafal yang ada pada beberapa hadits semakna tersebut, hal ini juga dipengaruhi oleh adanya hadits nabi yang yang sampai kepada mukharrij lebih banyak bersifat riwayat bil ma’na dari pada riwayat bil lafdhi.

c)Adapun langkah ketiga sebagai tindak lanjut dari langkah sebelumnya yaitu setelah peneliti mampu mengembara dengan bekal beberapa hasil rekaman berita yang semakna tersebut dilanjutkan dengan rekonstruksi makna bahwa hadits ini diyakini berasal dari nabi saw.

Untuk membantu kearah yang benar dalam menyimpulkan bahwa hadits-hadits tersebut benar-benar datangnya dari nabi saw., maka untuk mengukur hadits tersebut shahih dilakukan langkah teknis lain yaitu :

a)Memperhadapkan hadits tersebut dengan al-qur’an, sebab alqur’anlah yang menjadi dasar hidup nabi saw., sementara hadits adalah rekaman terhadap aktualisasi nabi saw. atas nilai-nilai alqur’an tersebut.

b)      Memperhadapkan hadits tersebut dengan hadits-hadits yang lain atau sunnah nabi saw.

c)Memperhadapkan hadits itu dengan realitas sejarah, sebab aktualisasi nabi saw. terikat oleh ruang dan waktu, oleh karenanya untuk menguji suatu suatu rekaman yang disandarkan kepada nabi saw. Salah satunya tidak bertentangan dengan sosio historis yang ada pada saat berita itu direkam.[11]

  1. Tolak Ukur Kesahihan Rawi Hadits
    1. Syarat-syarat yang diperlukan pada perawi hadits

Diisyaratkan untuk menerima riwayat para perawi hadits atau khbar yang tidak mutawatir supaya sah kita berhujjah dengannya, ada dua syarat :

1.perawi itu seorang yang adil.

2.perawi itu seorang perawi yang dhabit bagi riwayatmya.[12]

Diperlukan dua syarat ini adalah supaya kita bias mempercayainya terhadap agamanya dan supaya yang diriwayatkan itu dapat dipercayai karena kuat hafalannya, sedikit salahnya dan kelupaannya.

Jika perawi itu banyak salah dan lupa, ditolaklah riwayatnya, terkecuali riwayatnya yang dapat diketahui bahwa dia tidak khilaf dan lupa padanya. Dan jika dia seorang yang tidak banyak, diterimalah riwayatnya, terkecuali riwayat diketahui bahwa perawi itu salah padanya.

Pendapat lain mengatakan bahwa syarat-syarat rawi yaitu :

a)       Bulugh artinya ia sudah baligh menurut ketentuan agama.Artinya bahwa ia  sudah baligh ketika meriwayatkan hadits yang bersangkutan,sekalipun waktu menerimanya masih kecil atau belum mencapai baligh.

b)      Islam.artinya saat ia menyampaikan hadits ia dalam keadaan islam,walaupun waktu menerimanya masih beragama lain.

c)      ‘Adalah.Yakni orang islam,  aqil baligh (berakal) dan tidak terjangkit penyakit gila, juga tidak pernah melakukan dosa besar dan tidak membiasakan melakukan dosa kecil.

d)     Dhobath.yaitu dapat menangkap apa yang diterima dan didengar,kuat hafalannya dan bukan pelupa,sehingga dimana dan kapan saatnyapun jika diperlukan maka ia dapat mengulang kembali dan menyebutkan hadits yang diterima olehnya itu dengan baik.

e)      Ittishol.yakni bersambung.artinya rowi yang menerima hadits itu bertemu langsung dengan rowi yang diatasnya,jadi seperti rawi G bertemu dengan F,rowi F bertemu dengan rowi E,E bertemu D demikian seterusnya hingga rowi A bertemu sendiri dengan rosulullah saw.

f)       Ghoiru syadz.yakni tidak ganjil.Maksudnya hadits yang diriwayatkan tidak berlawanan dengan hadits lain yang lebih kuat dan juga tidak berlawanan dengan Al qur’an.

  1. Jalan atau cara untuk mengetahui keadilan dan kedhabitan perawi.

Diketahui bahwa seseorang perawi itu adil, dengan cara berikut ini :

  1. Dengan karena telah terkenal dalam masyarakat bahwa perawi tersebut seorang yang adil, yaitu seperti imam malik, syu’bah, al-auza’i, sufyan ats-tsauri, dan lain-lain.
  2. dengan disaksikan oleh seorang ahli yang diterima perkataannya, bahwa perawi tersebut seorang yang ahli. Ibnush shalah menetapkan, bahwa perlu dua orang ulama’ untuk untuk mentazkiyahkan seseorang perawi, yakni untuk menerangkan bahwa perawi itu oeang yag adil.

Para ulama’ sependapat bahwa tazkiyah (mengaku keadilan seorang perawi) dari dua orang mengukupi. Mereka berselisih tentang menerima tazkiyah dari seseorang saja. Kebanyakan fuqaha’ ahli madinah, menurut hikayat alqadli abu baker, bahwa adil dan tidaknya (‘adalah dan jarah) tidak dapat ditetapkan dengan tazkiyah (ta’dil) atau tajrih seorang saja. Mereka mengkiaskan dengan syahadah (persaksian).

Diketahui seseorang perawi itu dhabit adalah dengan  mengi’tibarkan riwayat-riwayatnya dengan riwayat – riwayat orang kepercayan yang terkenal kuat ingatan dan bagus hafalan. Jika kita dapati riwayatnya sesuai dalam kebanyakannya, sedang  kesalahannya sedikit, walaupun dari jurusan makna, yakinlah kita bahwa perawi hadits  itu seorang yang dhabit.

  1.        IV.      KESIMPULAN

Contoh hadits nabi dalam periwayatan yang lengkap :

حدثنا عبيدالله بن موسى قال : اخبرنا حنظلة بن ابى سفيان عن اكرمة بن خالد عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله ص.م. بني الاسلام على خمس شهادة ان لااله الاالله وان محمد رسول الله واقام الصلاة وايتاء الزكاة والحج وصوم رمضان. “رواه البخارى”

Artinya : “telah menceritakan kepada kami ubaidullah bin musa, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami handhalah bin abi sufyan dari ikrimah bin khalid dari ikrimah bin khalid dati ibnu umar radhiyallahu ‘anhuma berkata : telah bersabda rasulullah saw : didirikan islam itu atas lima perkara : syahadat bahwa tidak ada tuhan selain allah dan muhammad rasulullah, mendirikan solat, membayar zakat, berhaji dan puasa dalam bulan ramadhan”.(Riwayat Bukhari)

Deretan kata-kata mulai dari : حدثنا عبيدالله بن موسى sampai kepada قال رسول الله ص.م. itulah yang dinamakan sanad. Dengan demikian, maka urutan-urutan sanad dari hadis diatas adalah sebagai berikut :

  1. Ubaidullah bin musa sebagai sanad pertama atau awal sanad.
  2. Handhalah bin abi sufyan sebagai sanad kedua.
  3. Ikrimah bin khalid sebagai sanad ketiga.
  4. Ibnu umar ra. Sebagai sanad keempat atau akhir sanad.

Deretan kata-kata mulai dari : بني الاسلام sampai kepada وصوم رمضان itulah yang dinamakan matan.

Hadits tersebut diatas , kita temukan pada kitab hadits yang disusun oleh imam bukhari yang bernama : الجامع الصحيح (aljami’u as-shahih) atau lebih dikenal dengan  صحيح البخارى (shahih bukhari). Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh beberapa orang rawi, yakni :

  1. a.  Ibnu umar ra. ………………………sebagai rawi pertama.

b. Ikrimah bin khalid ……………….sebagai rawi kedua.

  1. c.  Handhalah bin abi sufyan ……..sebagai rawi ketiga.
  2.  Ubaidullah bin musa ……………sebagai rawi keempat.
    1. e.  Imam bukhari ……………………..sebagai rawi kelima atau rawi terakhir.
  1.           V.      PENUTUP

Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayat, serta inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini, semoga uraian-uraian yang kami sampaikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri dan para pembaca.

Kami menyadari makalah ini masih kurang sempurna, maka dari itukritik dan saran yang konstruktif sangat membantu dalam kesempurnaan makalah ini. Kami berdo’a  kepada Allah semoga Allah meridhoi makalah ini. Amin . . . . . .

DAFTAR PUSTAKA

As-siddiqi, Teungku M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009

                              , Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1994

Ismail, M. Syuhudi, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Jakarta : Bulan Bintang, 1992

                             , Pengantar Ilmu Hadits, Bandung :Penerbit  Angkasa, 1991

Suparta, Munzier, Ilmu Hadits, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003

Rahman, Fatchur, Ikhtisar Mushthalahatul Hadits, Bandung : PT. Alma’arif, 1995

Ulama’I, A. Hasan Asy’ari, Melacak Hadits Nabi saw : Cara Cepat Mencari Hadits Dari Manual Hingga Digital, Semarang : Rasail, 2006

 


[1] Munzier Suparta, Ilmu Hadits, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003), cet. 4, hlm. 45-46

[2] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), cet. 1, hlm. 25

[3] Teungku M. Hasbi As-siddiqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2009), cet. 2, hlm. 147

[4] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahatul Hadits, (Bandung : PT. Alma’arif, 1995), cet. 8, hlm. 26

[5] M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits, (Bandung :Penerbit  Angkasa, 1991), cet. 2, hlm. 17

[6] A. Hasan Asy’ari Ulama’i, Melacak Hadits Nabi saw : Cara Cepat Mencari Hadits Dari Manual Hingga Digital, (Semarang : Rasail, 2006), cet. 1, hlm. 26

[7] Ibid, hlm. 29

[8] Ibid, hlm. 29-30

[9] Ibid, hlm. 30

[10] ibid

[11] Ibid, hlm. 70

[12]Teungku M. Hasbi Ash-shiddiqy, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, (Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1994), cet. 6, hlm. 18

About these ads

5 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s