SEJARAH PERADABAN ISLAM DI MASA ALI BIN ABI THALIB

Standar

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI MASA

ALI BIN ABI THALIB

 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu: Drs.M. Sholikhin Nur, M. Ag

 

 

Disusun Oleh:

Muhammad Latif Wibowo                                   (103111069)

Muhammad Nuroni                                               (103111070)

Amri Khan                                                             (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI MASA ALI BIN ABI THALIB

 

       I.            PENDAHULUAN

Islam pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin berkembang sangat pesat, dimana dimulai setelah kedaulatan Nabi hingga ke Timur Tengah dan bahkan di luar daerah itu. Islam dikembangkan dengan mengajarkan nilai-nilai demokratis terutama dalam pengangkatan seorang khalifah. Ini bisa dilihat dalam berbagai peristiwa pengangkatan Khulafa al-Rasyidin walaupun caranya berbeda-beda tetapi intinya sama yaitu menjunjung nilai bermusyawarah untuk mufakat.

Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah khalifah terakhir masa khulafa’ ar-Rasyidin dimana masa ini adalah masa yang sangat kritis politik dalam negeri karena banyak pemberontakan demi menuntut kematian khalifah Utsman yang dianggap didalangi oleh khalifah Ali.

Maka dari itu dalam makalah ini akan dipaparkan tentang sekilas kehidupan Ali, bagaiamana Ali dibaiat sebagai khalifah, kemudian kebijakan-kebijakan apa yang dilakukan Ali dalam pemerintahannya?

    II.            RUMUSAN MASALAH

  1. A.    Bagaimana Kehidupan Ali bin Abi Tholib?
  2. B.     Bagaimana Pembaiatan Ali bin Abi Tholib?
  3. C.    Apa Kebijakan Ali bin Abi Tholib Dalam Pemerintahan?

 III.            PEMBAHASAN

  1. A.       Sekilas Tentang Kehidupan Ali bin Abi Thalib

Khalifah keempat adalah Ali bin Abi Tholib bin Abdil Mutholib, putra dari paman Rasulullah dan suami dari beliau Fatimah. Fatimah adalah satu-satunya putri Rasul yang mempunyai keturunan.

Sepanjang hayatnya, Ali bin Abi Thalib tidak pernah sujud dihadapan berhala. Sujud pertamanya dan sujud selamanya hanya untuk Allah SWT. Karena itulah ia dijuluki “karramallahuwajhah- Allah memuliakan wajahnya”. Ia telah masuk islam di usia yang sangat dini, sepuluh tahun. Dialah anak-anak pertama dalam islam. Bahkan sebagian mengatakan bahwa dialah muslim pertama setelah Rasulullah SAW.[1]

Ketika nabi menerima wahyu yang pertama, menurut Hasan Ibrahim Hasan Ali berumur 13 tahun, atau 9 tahun menurut Mahmudunnasir. Ia menemani nabi dalam perjuangan menegakkan islam, baik di Makkah maupun di Madinah, dan ia diambil menantu oleh Nabi SAW dengan menikahkannya dengan Fatimah, salah seorang putri Rasulullah SAW.[2]

Setelah keislamannya, ia mencari ilmu pengetahuan dan akhlak yang mulia dari Baginda Nabi Muhammad SAW. Sejak kecil ia dididik di Madrasah Nubuwah di bawah bimbingan pengajar dan pembimbing paling agung Rasulullah Muhammad SAW.

Ujian pertama yang dihadapi oleh Ali bin Abi Tholib di jalan islam adalah di malam hijrah ketika ia diminta untuk menggantikan Rasulullah SAW. Ia harus tidur diatas pembaringan Rasulullah SAW dan mangenakan jubah beliau. Pejuang dan pahlawan kecil ini menguatkan iman dan tekadnya sehingga ia layak disebut pejuang cilik.[3]

Ali sejak kecil sudah dididik dengan adab dan budi pekerti islam. Lidahnya amat fasih berbicara, dan dalam hal ini terkenal ulung. Pengetahuannya tentang islam amat luas. Dan mungkin, karena rapatnya dengan Rasulullah SAW, beliau termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadist Nabi. Keberaniannya juga masyhur dan hampir diseluruh peperangan-peperangan yang dipimpin Rasulullah, Ali tetap ada didalamnya, bergulat atau perang tanding, dengan tak takut mati. Sering Ali dapat merebut kemenangan bagi kaum Muslimin dengan mata pedangnya yang tajam.[4]

Ali bin Abi Thalib mengikuti semua peperangan disisi Rasulullah SAW, kecuali perang Tabuk. Sebelum berangkat ke medan perang, Rasulullah memercayakan semua urusan Madinah kepada Muhammad ibnu Maslamah r.a. Dan memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menjaga keluarganya.

Setelah Rasulullah wafat, Ali bin Abi Thalib dihormati dan diagungkan oleh ketiga Khalifah Rasyidin. Dan ketika kekhalifahan beralih ketangan Ali, ia menerimanya dengan berat hati dan sikap yang enggan. Ali menjalankan roda pemerintahan dan politik seperti yang dijalankan oleh Umar r.a. Ia juga menyerupai Umar dari sisi kezuhudan, keadilan,ketakutan, kewarakan, dan ketegasan hukumnya.[5]

 

  1. B.       Pembaiatan Ali bin Abi Tholib

Setelah peristiwa pembunuhan Utsman ibnu Affan, kota Madinah dilanda ketegangan dan kericuhan. Walikota Madinah, Al-Ghafiqi ibnu Harb, mencari-cari orang yang pantas untuk dibaiat sebagai khalifah. Para penduduk Mesir meminta Ali untuk memangku kekhalifahan namun ia enggan dan menghindar. Para penduduk Kuffah mencari-cari  Zubair ibnu Al-Awwam, namun mereka tak menemukannya. Penduduk Bhasrah meminta Thalhah untuk menjadi khalifah namun ia tidak memenuhi permintaan mereka. Akhirnya, mereka berkata, “kita tidak akan menyerahkan kekhalifahan kepada ketiga orang ini.” Setelah itu mereka mendatangi Sa’ad ibnu Abi Waqos dan berkata, “Kau termasuk diantara Dewan Syura,” namun ia menolak. Lalu ia mendatangi Ibnu Umar, yang juga menolaknya.

Akhirnya mereka menetapkan bahwa yang bertanggung jawab adalah penduduk Madinah sehingga mereka berkata kepada penduduk Madinah, “ kalianlah yang bertanggung jawab. Kami akan memberi kalian waktu selama dua hari. Jika selama itu kalian tidak menghasilkan keputusan, demi Allah, kami akan membunuh Ali, Thalhah, Zubair, dan banyak orang lainnya.”

Maka orang-orang mendatangi Ali dan berkata, “Kami membaiatmu, karena kau telah menyaksikan rahmat yang diturunkan oleh Allah bersama islam dan karena saat ini kita menghadapi ujian yang sangat berat berupa konflik antara berbagai kota.”

Ali menjawab, “Tinggalkanlah aku, dan carilah orang lain yang lebih baik dariku, karena aku akan menghadapi suatu masalah yang sangat rumit dan pelik, masalah yang tidak akan mampu dihadapi oleh hati dan pikiran siapapun.

Namun, mereka bersikukuh membaiat Ali bin Abi Tholib. Tindakan mereka itu didukung oleh kaum Muhajirin dan Anshar, serta kelompok-kelompok lainnya. Termasuk diantara yang membaiat Ali ialah Thalhah, Zubair, Abdullah bin Umar, dan Sa’ad bin Abi Waqash.[6] Ali dibaiat sebagai khalifah setelah terbunuhnya Utsman di Madinah pada hari Jum’at 5 Dzulhijjah 35 Hijriah. Semua sahabat membaiatnya sebagai khalifah, disebutkan bahwa Thalhah dan Zubair membaiatnya dengan sangat terpaksa dan bukan dengan suka rela.[7]

Sebagian orang termasuk putranya sendiri, Al-Hasan mengkritik Ali bin Abi Tholib karena mau menerima baiat dan diangkat sebagai khalifah. Mereka beranggapan bahwa semestinya di tengah situasi yang penuh fitnah ini Ali menolak dibaiat sebagai khalifah.

Ali sendiri telah menyadari konsekuensi yang mesti ia tanggung ketika ia bersedia dibaiat dan diangkat sebagai khalifah umat islam. Ia merasa harus maju dan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan umat islam dari kehancuran yang lebih besar.[8]

  1. C.       Kebijakan Ali Bin Abi Tholib Dalam Pemerintahan

Sudah diketahui bahwa Ali bin Abi Tholib memiliki sikap yang kokoh, kuat pendirian dalam membela yang hak. Setelah dibaiat sebagai khalifah, dia cepat mengambil tindakan. Dia segera mengeluarkan perintah yang menunujukkan ketegasan sikapnya.[9]

Langkah awal yang dilakukan khalifah Ali adalah menghidupkan kembali cita-cita Abu Bakar dan Umar, ia menarik kembali semua tanah dan hibah yang telah dibagikan Utsman kepada kerabat dekatnya menjadi milik negara. Ali juga melakukan pemecatan semua gubernur yang tidak disenangi oleh rakyat.

Selama pemerintahannya ia menghadapi berbagai pergolakan, tidak ada masa sedikit pun dalam masa pemerintahannya yang dikatakan stabil. Setelah memangku jabatan khalifah, Ali mengubah apa yang telah ditetapkan oleh utsman. Dua buah ketetapan diantaranya:

  1. Memecat kepala-kepala daerah yang diangkat Utsman. Dikirim kepala daerah baru yang akan menggantikan. Semua kepala daerah angkatan Ali itu terpaksa kembali saja ke Madinah, karena tidak dapat memasuki daerah yang ditugaskan kepadanya.
  2. Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagikan Utsman kepada famili-famili dan kaum kerabatnya tanpa jalan yang sah. Demikian juga hibah atau pemberian Utsman kepada siapapun yang tiada beralasan diambil Ali kembali.

Banyak pendukung-pendukung dan kaum kerabat Ali yang menasihatinya supaya menangguhkan tindakan-tindakan radikal seperti itu, sampai keadaan stabil. Tetapi Ali kurang mengindahkan. Pertama-pertama Ali mendapat tantangan dari keluarga bani Umayyah. Mereka membulatkan tenaga dan bangkitlah Muawiyyah melancarkan pemberontakan memerangi Ali.[10]

Kemudian oposisi terhadap khalifah secara terang-terangan dimulai oleh Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Meskipun masing-masing mempunyai alasan pribadi sehubungan dengan penentangan terhadap Ali. Mereka sepakat menuntut khalifah segera menghukum para pembunuh Utsman. Tuntutan yang sama juga diajukan oleh Muawiyah, bahkan ia memanfaatkan peristiwa berdarah itu untuk menjatuhkan legalitas kekuasaan Ali, dengan membangkitkan kemarahan rakyat dan menuduh Ali sebagai orang yang mendalangi pembunuhan Utsman, jika Ali tidak dapat menemukan dan menghukum pembunuh uang sesungguhnya.

Khalifah Ali sebenarnya ingin menghindari pertikaian dan mengajukan kompromi kepada Thalhah dan kawan-kawan, tetapi tampaknya penyelesaian damai sulit dicapai. Oleh karena itu kontak senjata tidak dapat dielakkan lagi.  Thalhah dan Zubair terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah dikembalikan kembali ke Madinah. Peperangan ini terkenal dengan nama “Perang Jamal”(Perang Unta), yang terjadi pada tahun 36 H, karena dalam pertempuran tersebut Aisyah istri Nabi mengendarai unta. Dalam pertempuran tersebut sebanyak 20.000 kaum muslimin gugur.

Perang unta menjadi sangat penting dalam catatan sejarah islam, karena peristiwa itu memperlihatkan suasana yang baru dalam islam, yaitu untuk pertama kalinya seorang khalifah turun ke medan perang untuk memimpin langsung angkatan perang, dan justru bertikai melawan saudara sesama islam.[11]

Segera setelah menyelesaikan gerakan Thalhah dan kawan-kawan, pusat kekuasaan islam dipindahkan ke kota Kuffah. Sejak itu berakhirlah Madinah sebagai ibukota kedaulatan islam dan tidak ada lagi khalifah yang berkuasa berdiam disana. Sekarang Ali adalah pemimipin dari seluruh wilayah islam, kecuali Suriah.

Maka dengan dikuasainya Syiria oleh Muawiyyah, yang secara terbuka menentang Ali, dan penolakannya atas perintah meletakkan jabatan gubernur, memaksa khalifah Ali untuk bertindak. Pertempuran sesama muslim terjadi lagi, yaitu antara Ali dan Muawiyah di kota Shiffin dekat sungai Eufrat, pada tahun 37 H. Khalifah Ali mengerahkan 50.000 pasukan untuk menghadapi Muawiyah. Sebanarnya pihak Muawiyah telah terdesak kalah, dengan 70.000 pasukannya terbunuh, yang menyebabkan mereka mengangkat Al Qur’an sebagai tanda damai dengan cara tahkim. Dari pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari, sedangkan Muawiyah diwakili oleh ‘Amr bin Ash yang terkenal cerdik. Dalam tahkim tersebut khalifah dan Muawiyah harus meletakkan jabatan, pemilihan baru harus dilaksanakan. Abu Musa pertama kali menurunkan Ali sebagai khalifah. Akan tetapi, Amr bin Ash berlaku sebaliknya, tidak menurunkan Muawiyah melainkan mengangkat sebagi khalifah, karena Ali telah diturunkan oleh Abu Musa. Peperangan  Shiffin yang diakhiri melalui tahkim(arbitrase), yakni perselisihan yang diselesaikan oleh dua orang dengan penengah sebagai pengadil. Namun ternyata tidak menyelesaikan masalah, kecuali menyebabkan lahirnya golongan khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali yang berjumlah kira-kira 12.000 orang.[12]

 IV.            KESIMPULAN

Khalifah keempat Ali bin Abi Tholib adalah sepupu Nabi Muhammad SAW yang diangkat sebagai khalifah dalam situasi politik yang kurang mendukung. Peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia islam. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat Ali  sebagai khalifah.

Sebagai khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 6 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintahan khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat muslim terjadi saat pemerintahannya, yaitu perang jamal pada tahun 36 H.

Kemudian dengan dikuasainya Syiria oleh Muawiyyah, yang secara terbuka menentang Ali, dan penolakannya atas perintah meletakkan jabatan gubernur, memaksa khalifah Ali untuk bertindak. Pertempuran sesama muslim terjadi lagi, yaitu antara Ali dan Muawiyah di kota Shiffin dekat sungai Eufrat, pada tahun 37 H.

 

    V.            PENUTUP

Demikian makalah ini dibuat, kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak kesalahan dan kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Besar harapan kami, somoga makalah ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi para pembaca pada umumnya dan khususnya bagi pemakalah. Amin …………………

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar Armedia, 2003), cet. 1

Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), cet. 1

As-Suyuti , Imam, Tarikh Khulafa’, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), cet. 1

Murad, Musthafa, Kisah Hidup Ali ibnu Abi Thalib, (Jakarta: Zaman, 2009), cet.1

NC, Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2010), cet. 2

Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam1, (Jakarta: PT. Al Husna Zikra, 2000), cet. 4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Musthafa Murad, Kisah Hidup Ali ibnu Abi Thalib, (Jakarta: Zaman, 2009), cet.1. Hlm. 63

[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), cet. 1. Hlm. 109

[3] Musthafa Murad, op.cit. Hlm. 64

[4] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam1, (Jakarta: PT. Al Husna Zikra, 2000), cet.4. Hlm. 281

[5] Musthafa Murad, op.cit, Hlm. 67-68

[6] Musthafa Murad, op.cit. Hlm.68-70

[7] Imam As-Suyuti, Tarikh Khulafa’, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), cet. 1. Hlm. 192

[8] Musthafa Murad, op.cit. Hlm.70

[9] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar Armedia, 2003), cet. 1. Hlm. 173

[10] Fatah Syukur NC, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2010), cet. 2. Hlm. 58

[11] Ibid.

[12] Samsul Munir Amin, Op.cit, hlm. 110-112

About these ads

2 responses »

  1. Ping-balik: Erbeevani

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s