HISAB DAN RUKYAH (SEBAGAI PENENTU AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL)

Standar

HISAB DAN RUKYAH

(SEBAGAI PENENTU AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL)

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Masail Fiqhiyah

Dosen Pengampu: Drs. H. Amin Farih, M. Ag

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

 

Amri Khan                             (103111109)

Malikhah Khan                     (103111084)

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

 

HISAB DAN RUKYAH

(SEBAGAI PENENTU AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL)

 

  1. I.                   PENDAHULUAN

Hampir setiap tahun kaum muslim disibukkan dengan kapan dimulainya puasa dan kapan berakhirnya.Setiap pemimpin ormas-ormas islam dan lembaga-lembaga islam sibuk berijtihad setiap kali ramadhan tiba,karena perbedaan pendapat.perbedaan pendapat ini disebabkan karena adanya ketidakjelasan pada sabda Nabi saw:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِِهِ وَاَفْطِرُوْالِرُؤْيَنِهِ فَإِنْغُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْالَهُ

”Berpuasalah kamu karena melihat bulan, dan berbukalah kamu karena melihat bulan, jika ternyata bulan tertutup atasmu, maka kira-kirakanlah.”

Dalam memahami dan memenuhi perintah hadist tersebut, dalam setiap menentukan awal bulan ramadhan dan awal syawal, selalu saja mengundang polemik. Polemik itu tidak hanya dalam wacana, tetapi berimplikasi pada awal dimulainya pelaksanaan ibadah puasa dengan segala macam kegiatan ibadah lainnya yaitu idul fitri. Bahkan tidak jarang berpengaruh pada harmonitas sosial antar sesama pemeluk agama islam. Implikasi lebih jauh adalah munculnya tiga arus utama “mazhab”, pertama, mazhab Rukyah yang dipersentasikan oleh organisasi kemasyarakatan islam terbesar di indonesia (NU), kedua, Mazhab hisab dengan sponsor utama Muhamadiyah, dan ketiga, mazhab imkan al-ru’yah yang dimunculkan oleh pemerintah. Tampaknya perbedaan itu muncul dari pemahaman  lafaz li ru’yatihi yang artinya “karena melihat bulan”, apakah melihat disini secara langsung dengan mata telanjang ataukah “bi al-nazhar”(melihat dengan penalaran-melalui hisab).Disini pemakalah akan sedikit memaparkan mengenai hisab dan rukyah sebagai penentu awal ramadhan dan syawal.

  1. II.                RUMUSAN MASALAH
  2. Bagaimana Pemikiran Hisab Rukyah Menurut Mazhab Rukyah ?
  3.  Bagaimana Pemikiran Hisab Rukyah Menurut Mazhab Hisab ?
  4. Apa Perbedaan Hisab Rukyah Menurut Pemikiran Mazhab Rukyah Dengan Mazhab Hisab ?
  1. III.             PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pemikiran Hisab Rukyah Mazhab Rukyah

Dalam wacana hisab rukyah di Indinesia, mazhab rukyah ini selalu diidentikkan dengan pemikiran hisab rukyah Nahdlatul Ulama. Namun penidentikan ini kiranya tidak dapat diterima seratus persen kebenarannya. Karena pada dasarnya dalam mazhab rukyah  terdapat beberapa mazhab kecil yang mempunyai  perbedaan-perbedaan yang prinsipil, dan Nahdlatul Ulama sendiri termasuk salah satu dari mazhab kecil tersebut. Mazhab-mazhab kecil tersebut muncul karena adanya perbedaan pemahaman term rukyah. Diantaranya dalam hal:

  1. 1.      Pemahaman Mathla’.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa hasil rukyah disuatu tempat berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini dengan argumentasi bahwa khitbah dari hadis-hadis hisab rukyah ditujukan pada seluruh umat islam didunia, tidak dibedakan oleh perbedaan geografis dan batas-batas daerah kekuasaan. Pendapat lain menyatakan bahwa hasil rukyah disuatu tempat hanya berlaku bagi suatu daerah kekuasaan hakim yang mengitsbatkan hasil rukyah tersebut. Pemikiran yang selama ini dipegang oleh Nahdlatul Ulama secara institusi.

  1. 2.      Pemahaman Keadilan

Hal  ini sebenarnya tidak hanya murni  permasalahan rukyah, namun juga sangat terkait dengan permasalahan hisab. Karena penilaian bahwa seseorang “adil” dalam hal melihat hilal sangat berkaitan dengan  perhitungan hisab dimana hilal itu dilihat.[1]

  1. B.     Pemikiran Hisab Rukyah mazhab Hisab

Sebagaimana dalam pemikiran Mazhab Rukyah, dalam Mazhab Hisab pun terdapat ragam pemikiran mazhab-mazhab kecil sebagai dampak dari adanya perbedaan sistem yang dipakai atau yang dipegangi. Di Indonesia, sistem hisab yang berkembang pada dasarnya banyak sekali, hanya saja jika ditilik dari dasar pijakannya, ia terbagi dalam dua macam yakni hisab urfi dan hisab haqiqi.

Ada juga sistem hisab yang mendasarkan pada posisi hilal, yakni penentuan awal bulan Qamariah tidak hanya didasarkan pada ijtima’ melainkan harus diperhatikan posisi hilal diatas ufuk saat terbenam setelah terjadinya ijtima’.

Dalam sistem ini terbagi menjadi tiga yakni:

  1. Sistem yang berpedoman pada ufuk hakiki yakni ufuk yang berjarak 90 derajat dari titik zenith. Prinsip utama dalam sistem ini  adalah sudah masuk bulan baru, bila hasil hisab menyatakan hilal sudah diatas ufuk hakiki (positif) walaupun tidak imkan al-rukyah. Sehingga sistem ini dikenal dengan hisab wujudul al-hilal sebagaimana prinsip yang dipegang Muhammadiyah secara institusi.
  2. Sistem yang berpedoman pada ufuk mar’i, yakni ufuk hakiki dengan mempertimbangkan refraksi (bias cahaya) dan tinggi tempat observasi, sebagai pendapat  yang dipegang mazhab kecil (kalender) Menara Kudus.
  3. Sistem yang berpedoman pada imkan al-ru’yah, jadi meskipun wujud  di atas ufuk hakiki atau mar’i, awal bulan Qamariahmasih tetap belum dapat ditetapkan, kecuali apabila hilal sudah mencapai posisi yang dinyatakan dapat dilihat. [2]
  4. C.    Perbedaan Hisab Rukyah Menurut Pemikiran Mazhab Rukyah Dengan  Mazhab Hisab

Persoalan penentuan awal Ramadhan, syawal, dan Dzulhijjah merupakan persoalan hisab rukyah yang mempunyai greget lebih dibanding dengan persoalan-persoalan hisab rukyah lainnya, seperti persoalan penentu waktu shalat, penentu gerhana matahari maupun bulan, dan penentuan kiblat. Disamping itu, karena adanya perbedaan pemahaman hadist-hadist hisab rukyah, lahirlah pemikiran mazhab Hisab dan mazhab Rukyah. Diantara dua mazhab tersebut, terdapat sekat yang mencolok (dibanding persoalan lainnya) yang berdampak pada timbulnya perbedaan penetapan. Sehingga persoalan ini sering kali muncul ke permukaan dalam setiap penetapan dan dikenal sebagai persoalan klasik namun senantiasa aktual.[3]

Hal tersebut terjadi karena perbedaan dalam memahami sabda Nabi saw:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِِهِ وَاَفْطِرُوْالِرُؤْيَنِهِ .

”Berpuasalah kamu karena melihat bulan, dan berbukalah kamu karena melihat bulan.” (H.Muttafaqun’alaih)

Berdasarkan hadis tersebutlah maka para ulama berijma’ (sepakat)menetapkan hukum puasa ramadhan itu wajib.[4]

Hadis diatas mengandung sepuluh interpretasi yang beragam, diantaranya:

  1. Perintah berpuasa berlaku atas semua orang yang melihat hilal dan tidak berlaku atas orang yang tidak melihatnya.
  2. Melihat disini melalui mata. Karenanya, ia tidak berlaku atas orang buta (matanya tidak berfungsi).
  3. Melihat (rukyah) secara ilmu bernilai mutawatir dan merupakan berita dari orang yang adil.
  4. Nash tersebut mengandung juga makna zhan sehingga mencakup ramalan dalam nujum (astronomi).
  5. Ada tuntutan puasa secara kontinu jika terhalang pandangan atas hilal manakala sudah ada kepastian hilal sudah dapat dilihat.
  6. Ada kemungkinan hilal sudah wujud sehingga wajib puasa, walaupun menurut ahli astronomi belum ada kemungkinan hilal dapat dilihat.
  7. Perintah hadist tersebut ditujukan kepada kaum muslimin secara menyeluruh. Namun pelaksanaan rukyah tidak diwajibkan kepada seluruhnya bahkan mungkin hanya perorangan.
  8. Hadis ini mengandung makna berbuka puasa.
  9. Rukyah itu berlaku terhadap hilal ramadhan dalam kewajiban berpuasa, tidak untuk  ifthar-nya (berbuka).
  10. Yang menutup pandangan ditentukan hanya oleh mendung bukan selainnya.

Berawal dari perbedaan itu lahirlah dua mazhab besar. Pertama,Mazhab Rukyah; menurut mazhab ini penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan ditetapkan berdasarkan rukyah atau melihat bulan yang dilakukan pada hari ke-29. Apabila rukyah tidak berhasil, baik karena posisi hilal memang belum dapat dilihat maupun karena terjadi mendung, maka penetapan awal bulan harus berdasarkan istikmal(penyempurnaan bilangan bulan menjadi 30 hari). Sehingga menurut mazhab ini term rukyah dalam hadis-hadis hisab rukyah adalah bersifat ta’abudi-ghair ma’qul al-ma’na. Artinya tidak dapat dirasionalkan pengertiannya, sehingga tidak dapat dikembangkan. Dengan demikian, rukyah hanya diartikan sebatas melihat dengan mata kepala (mata telanjang-tanpa alat).

Kedua, Mazhab Hisab, penentuan awal dan akhir bulan Qamariah berdasarkan perhitungan ilmu falak. Menurut mazhab ini, term rukyah yang ada dalam hadis-hadis hisab rukyah dinilai bersifat ta’aqquli-ma’qul al-ma’na, dapat dirasionalkan,dirasionalkan, dan dikembangkan. Sehingga ia dapat diartikan (antara lain) mengetahui sekalipun bersifat zhanni-dugaan kuat-tentang adanya hilal, kendatipun hilal berdasarkan hisab falaki tidak mungkin dapat dilihat.[5]

Untuk memahami makna rukyah yang terdapat pada hadis-hadis diatas, perlu memerhatikan setting historis. Pernyataan ini dimunculkan karena rukyah yang terdifinisikan dalam literatur-literatur klasik lebih bernuansa literal. Ibnu Mandzur dalam Lisan al-’Arab mengutip pendapat Ibnu Sayyidah yang menyebutkan bahwa, rukyah secara literal berarti melihat dengan mata atau hati (an-nazdru bi al-qalb). Pendapat lain menyebutkan bahwa, rukyah tidak semata-mata melihat dengan mata tetapi juga berarti melihat dengan ilmu (rasio) melalui hasil perhitungan ilmu hisab.

Dikalangan Nahdlatul Ulama rukyah cenderung dipahami melihat dengan mata telanjang. Berbeda dengan Muhammadiyah yang dikenal sebagai gerakan reformis, ketika memahami hadis-hadis rukyah mengaitkannya dengan realitas sosial dalam memahami rukyah tidak semata-mata melihat dengan mata telanjang tetapi melihat dengan rasio alias dengan ilmu hisab.

Namun demikian dalam perjalanannya  Nahdlatul Ulama telah memanfaatkan jasa ilmu hisab. Tapi dalam soal ramadhan dan syawal tetap berpegang pada makna hadis secara harfiah. Bagi mereka, upaya untuk melihat bulan rukyah harus tetap dilakukan karena didalamnya ada unsur ibadah lainnya. Dan rukyah memiliki kekuatan sebagai satu-satunya penentu yang dapat membatalkan hasil perhitungan (hisab). Karena itu meski sudah melakukan prediksi, mereka tidak berani memastikan awal bulan ramadhan dan syawal dengan hisab tetapi tetap menunggu hasil rukyah dilapangan.[6]

Berakar dari dua mazhab besar tersebut lahir perbedaan dalam penetapan awal dan akhir bulan Qamariah, dalam hal ini bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Ini dapat dimaklumi, karena baik mazhab Hisab dan mazhab Rukyah, keduanya sama-sama tidak sempurna kebenarannya, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan. Dalam hal ini kita perlu merenungkan pernyataan mantan menteri Agama RI, Mukti Ali bahwa baik hisab maupun rukyah menuju sasaran yang sama, yakni hilal (bulan tanggal 1 Qamariah). Kalau memang sasarannya satu yakni hilal tetapi terdapat perbedaan, penyebabnya berkisar diantara tiga hal:

  1. Mungkin hisabnya yang salah, atau
  2. Mungkin rukyahnya yang kurang tepat, atau
  3. Mungkin kedua-duanya (hisab dan rukyah) yang tidak betul.

Sehingga jika rukyahnya tepat dan hisabnya betul, pasti akan ditemukan sasarannya secara jelas, yakni hilal. Dan pernyataan perbedaan hasil penentuan awal dan akhir bulan Qamariah bukan hanya antara Mazhab Hisab dan Mazhab Rukyah. Sesama praktisi yang menggunakan cara rukyah pun mendapatkan hasil yang berbeda-beda, danlebih banyak lagi hasil yang didapat dari perhitungan falak (dalam mazhab hisab), karena metode yang dipakai berbeda-beda. Penyebab lainnya adalah dari cara maupun tolak ukur penilaian terhadap keabsahan hasilnya. Sehingga terjadi perbedaan secara intern baik dalam Mazhab Hisab maupun Mazhab Rukyah tidak bisa dielakkan.

Perbedaan intern Mazhab Rukyah antara lain disebabkan, pertama, perbedaan mathlaq’. Selam ini ada empat pendapat  tentang mathlaq’:

  1. Keberlakuan rukyah hanya sejauh jarak dimana qasar shalat diizinkan.
  2. Keberlakuan rukyah sejauh 8 derajat bujur, seperti yang dianut oleh negara Brunei Darussalam.
  3. Seperti yang dianut Indonesia yakni mathlaq’ sejauh wilayah hukum (wilayah al-hukmi), sehingga di bagian mana pun dari sabang sampai merauke rukyah dilakukan, hasilnya dianggap berlaku untuk seluruh Indonesia.
  4. Pendapat pengikut Imam Hanafi yang membatasi lebih jauh lagi, yakni keberlakuan suatu rukyah dapat diperluas ke seluruh dunia.

Hal kedua, mengenai rukyah bil fi’li dengan menggunakan alat (nazhzhzrah), para ulama juga berbeda pendapat Ibnu Hajar misalnya, tidak mengesahkan penggunaan cara pemantulan melalui permukaan kaca atau air (nahwa mir’atin). Al-Syarwani lebih jauh menjelaskan bahwa penggunakan alat yang medekatkan atau membesarkan seperti teleskop, air, ballur (benda yang berwarna putih seperti kaca) masih dapat dianggap sebagai rukyah. Al-Muthi’i menegaskan bahwa penggunaan alat optik (nazhzharah) sebagai penolong dapat diizinkan karena yang melakukan penilaian terhadap hilal adalah mata perukyah sendiri.

Sedangkan penyebab terjadinya perbedaan didalam intern Mazhab Hisab (dalam redaksi lain disebut rukyah hukmiyyah/rukyah teoritik) diantaranya adalah metode hisab yang dipakai. Dalam khasanah ilmu hisab dikenal beberapa metode untuk menentukan ijtima’ (konjungsi) dan posisi hilal dan awal pada akhir ramadhan. Metode-metode tersebut yakni sebagai berikut:

  1. Metode hisab haqiqi taqribi. Kelompok ini mempergunakan data bulan dan matahari berdasarkan data dan tabel Ulugh bek dengan proses perhitungan yang sederhana. Hisab ini dilakukan hanya dengan cara penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian tanpa mempergunakan ilmu ukur segitiga bola (spherical trygonometry).
  2. Metode hisab haqiqi tahqiqi. Metode ini dicangkok dari kitab al-Mathla’ al-Said Rushd al-Jadid yang berakar dari sistem astronomi serta matematika modern yang asal muasalnya dari sistem hisab astronom-astronom muslim tempo dulu dan telah dikembangkan oleh astronom-astronom modern (Barat) berdasarkan penelitian baru. Inti dari sistem ini adalah menghitung atau menentukan posisi matahari, bulan, dan titik simpul orbit bulan dengan simpul orbit matahari dalam sistem koordinat ekliptika. Artinya, sistem ini mempergunakan tabel-tabel yang sudah dikoreksi dan diperhitungan yang relatif lebih rumit dari pada kelompok hisab haqiqi taqribi serta memakai ilmu ukur segitiga bola.
  3. Metode hisab haqiqi kontemporer. Metode ini menggunakan hasil penelitian terakhir dan menggunakan matematika yang telah dikembangkan. Metodenya sama dengan metode hisab haqiqi tahqiqi hanya saja sistem koreksinya  lebih teliti dan kompleks sesuai dengan kemajuan sains dan teknologi. Rumus-rumusnya lebih disederhanakan sehingga untuk menghitungnya dapat digunakan kalkulator atau personal komputer. Disamping perbedaan metode hisab itu, masih banyak lagi perbedaan intern dalam mazhab hisab.[7]

Kurangnya pemahaman mengenai rukyah dan hisab sering menimbulkan perselisihan dan pengalaman ibadah. Yang paling rawan misalnya dalam penentuan awal ramadhan dan awal bulan syawal. Ada dua jalan (metode) digunakan untuk menentukan awal bulan yakni hisab dan rukyah.

Kalau diteliti secara cermat, dua aliran itu tidaklah bertentengan dan bukan tidak mungkin untuk dipersatukan, bagi kalangan rukyah berdasarkan sebuah hadis  riwayat imam Bukhari dan imam Muslim dari Abu Hurairah ”shummu liru’yatihi wa afthiru liru’yatihi” (puasalah jika sudah melihat bulan dan berbukalah-lebaran-jika sudah melihat bulan). Sementara itu pihak hisab dengan dalil yang dipakai adalah surat yunus ayat: 5 yang mengatakan:”Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, Dia tetapkan fase-fase (manzilah-manzilah) dalam peredaran itu,agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu”.[8]

Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menerangkan bahwa segala sesuatu berlaku menurut kadar dan perkiraan yang telah ditentukan. Al-Baghawi dan selainnya memaknakan ayat 96 S.Al- An’am, bahwasannya Allah menjadikan matahari dan bulan menurut hisab yang telah diketahui,tidak melampauinya. Ayat 5 S. Ar-Rahman juga memberi pengertian bahwa matahari dan bulan beredar menurut hisab dan manzilahnya. 

Berkata Qatadah :”Dengan perjalanan matahari dan bulan ditentukan waktu, malam dan siang dan lain-lain. Andaikata tak ada matahari dan bulan, tentulah seseorang tak dapat membuat perhitungannya”. Gerak matahari sempurna dalam setahun sekali. Gerak bulan sempurna dalam sebulan. Manzilah qamar walaupun tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, namun telah diketahuinya oleh bangsa Arab yang mula-mula menerima khitbah itu. Ibnu Abbas berkata:” Manzilah bulan, 28 hari”. Sesudah selesai ditempuh manzilah yang 28 itu kembali dipangkalnya, dua malam lamanya bulan tidak nampak sesudah menempuh manzilah yang 28 itu, jika dia 30 hari, dan semalam saja yang tidak nampak, jika dia 29 hari. Karenanya wajib diperhatikan pendapat-pendapat ahli hisab diwaktu pergi melihat bulan, sebagaiyang diterangkan dalam kitab: Iqazun nuiyam fi mayata’allaqu bil ahillati wash shiyam.[9]

Sebenarnya antara rukyah dan hisab mempunyai keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Rukyah adalah metode yang paling tua, sebagai metode ilmiah dan banyak manfaatnya, sedangkan hisab sebagai metode  yang tepat dan akurat dalam menentukan awal bulan jika tertutup mendung, dua-duanya bisa dipakai yaitu dihisab dulu kemudian dibuktikan dengan rukyah.[10]

Dengan demikian, nyatalah bahwa para ulama dahulu menempatkan hisab sebagai alat untuk melihat bulan (menentukan mungkin tidaknya rukyah), bukan suatu pegangan yang berdiri sendiri. Rukyah dan Hisab harus bantu membantu. Untuk menentukan kemungkinan rukyah dipergunakan hisab. Untuk mengecek salah benarnya hisab, dibuktikan dengan rukyah. Dan bukanlah semata-mata berpegang kepada hisab, tanpa menghiraukan rukyah.

  1. IV.             KESIMPULAN
  2. Hisab Rukyah merupakan lahan untuk berijtihad dalam penentuan awal bulan ramadhan dan bulan syawal. Dalam Pemikiran Hisab Rukyah mazhab Rukyah terdapat perbedaan pemahaman term rukyah yaitu pemahaman mathla’ dan pemahaman keadilan.
  3. Dalam Hisab Rukyah menurut mazhab hisab juga terdapat per bedaan dalam sistem hisab yang digunakan yaitu sistem yang berpedoman pada ufuk hakiki, sistem yang berpedoman pada ufuk mar’I, dan sistem yang berpedoman pada imkan al-ru’yah.
  4. Meskipun terjadi perbeaan sebenarnya hisab rukyah mazhab rukyah dan mazhab hisab mempunyai keunggulan an kelemahan masing-masing, sehingga kedua-duanya bisa saling melengkapi yang mana bisa dipakai hisab dulu baru kemudian dibuktikan dengan rukyah.
    1. D.    PENUTUP

Makalah yang dapat saya buat, sebagai manusia biasa saya menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun agar pemakalah lebih baik lagi dalam pembuatan makalah-makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin…

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Izzuddin, Ahmad. 2007.  Fiqih Hisab Rukyah. Jakarta : Erlangga.

Syihab. 1995. Tuntunan Puasa Praktis. Jakarta: Bumi Aksara.

Azhari, Susiknan. 2007. Hisab dan Rukyat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ash-Shiddieqy , Hasbi. 1992.  Pedoman Puasa. Jakarta : PT.Bulan Bintang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                

 


[1] Ahmad Izzuddin, Fiqih Hisab Rukyah, (Jakarta : Erlangga, 2007), hlm. 85-87

[2] Ibid.,hlm. 89-91

[3] Ibid.,hlm.171

[4] Syihab, Tuntunan Puasa Praktis,(Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Cet. I,hlm.23

[5] Ahmad Izzuddin, Op.Cit.,hlm.3-5

[6] Susiknan Azhari, Hisab dan Rukyat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), Cet. I, hlm. 65-70

[7] Ahmad Izzuddin, Op.Cit.,hlm.5-8

[8] Susiknan Azhari, Op. Cit.,hlm.96-98

[9] Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Puasa, (Jakarta : PT.Bulan Bintang, 1992), hlm.370-371

[10] Susiknan Azhari, Op.Cit.,hlm. 98

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s