HUKUM MENGAWINI WANITA HAMIL, RIBA DAN BANK , UNDIAN BERHADIAH DAN PERLOMBAAN BERHADIAH

Standar

HUKUM MENGAWINI WANITA HAMIL,

RIBA DAN BANK , UNDIAN BERHADIAH DAN PERLOMBAAN BERHADIAH

 

 

Makalah

Disusun guna memenuhi tugas

Masailul Fiqhiyyah Haditsah

Dosen Pengampu:

Bp. Amin Farih, M.Ag.

Disusun Oleh :

AMRI KHAN                        (103111109)

ZUHROTUN NAFISAH      (063311035)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI  WALISONGO

SEMARANG

2008

 

HUKUM MENGAWINI WANITA HAMIL RIBA DAN BANK UNDIAN BERHADIAH DAN PERLOMBAAN BERHADIAH

 

  1. I.            PENDAHULUAN

Perkembangan umat manusia “Islam” dari masa ke masa selalu melahirkan berbagai kebutuhan mendasar sebagai konsekuensi interaksi antar manusia secara timbale balik. Konsekuensi itu diilhami oleh ekstensi manusia sebagai makhluk social, yang secara natural tidak dapat dipisahkan dengan manusia lainya. Akibat dari relitas tersebut, pada waktu yang bersamaan terjadi aktifitas, baik disadari maupun tidak disadari  diperhadapkan dengan hukum sebagai mahkamah yang berfungsi memberi justifikasi tentang kehalalan dan keharamannya.

Dalam mmakalah ini akan dibahas mengenai bagaimana hokum mengawini wanita hamil, riba dan bunga bank, dan undian berhadiah dan perlombaan berhadiah.

  1. II.            POKOK PERMASALAHAN
    1. Hukum Mengawini Wanita Hamil,
    2. Riba dan Bank
    3. Undian Berhadiah dan Perlombaan Berhadiah
  1. III.            PEMBAHASAN
    1. A.    Hukum Mengawini Wanita Hamil,

Hakikat mengenai tujuan perkawinan, yaitu: untuk menentramkan (menenangkan) jiwa, melestarikan keturunan, memenuhi kebutuhan biologis dan melakukan latihan praktis dalam memikul tanggungjawab.

Dengan adanya pergaulan bebas pada zaman sekarang ini sering menimbulkan akibat yang negatif, contoh kecil banyaknya pemudi yang hamil diluar nikah. Hal ini karena mereka tidak mampu menjaga pergaulan dengan lain jenis sehingga tidak mampu mengendalikan nafsu. Sehingga terjadilah pernikahan yang mungkin dilandasi dengan keterpaksaan.

Untuk menghindari aib maksiat hamil diluar nikah, terkadang orang justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan berkepanjangan. Bila seorang laki-laki menghamili wanita, dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib, nah apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah atau dia itu tidak memiliki ayah ?

Jika seorang istri yang hamil karena dicerai oleh suaminya, atau ditinggal mati oleh suaminya, maka si wanita itu tidak boleh kawin sebelum melahirkan, baru kemudian setelah melahirkan dan sesudah menjalani nifas barulah diperbolehkan kawin.  Beberapa ulama mengemukakan pendapatnya terkait dengan hal ini,

  1. Ulama mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) berpendapat bahwa perkawinan keduanya sah dan boleh bercampur sebagai suami istri, dengan ketentuan bila si pria itu yang menghamilinya dan baru kemudian ia mengawininya.
  2. ibnu Hazm (Zhahiri) berpendapat, behwa keduanya boleh(sah) dikawinkan dan boleh pula bercampur dengan ketentuan bila telah bertaubat dan menjalani hukuman dera (cambuk) karena keduanya telah berzina.[1]

Kemudian mengenai pria yang kawin dengan wanita yang dihamili oleh orang lain, terjadi perbedaan pendapat para ulama’

  1. Imam Abu Yusuf mengatakan, keduanya tidak boleh dikawinkan, sebab bila dikawinkan perkawinaannya itu batal (fasid), berdasarkan firman Allah surat An-Nur:3

الزَّانِيلايَنْكِحُإِلَّازَانِيَةًأَوْمُشْرِكَةًوَالزَّانِيَةُلايَنْكِحُهَاإِلَّازَانٍأَوْمُشْرِكٌوَحُرِّمَذَلِكَعَلَىالْمُؤْمِنِينَ (النّور : 3)

Artinya: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin” (An Nur:3)

Dan diperkuat oleh hadits:

أنّ رجلا تزوّج امرأة فلمّا أصابها وجدها حبلى فرجع ذلك إلى النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم ففرّق بينهما وجعل لها الصّداق وجلّد ها ما ئة.

Artinya: “Seseungguhnya seorang laki-laki mengawini seorang wanita, ketika ia mencampurinya, ia mendapatkannya dalam keadaan hamil. Lalu dia laporkan kepada Nabi saw. Kemudian Nabi menceraikan keduanya dan memberikan kepada wanita itu mas kawin, kemudian didera atau dicambuk sebanyak seratus kali.” 

  1. Imam Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani mengatakan bahwa perkawinannya itu dipandang sah, tetapi haram baginya bercampur, selama bayi yang dikandungnya belum lahir. Hal ini berdasarkan hadist:

لا تؤ طأ حاملا حتّى تضع

janganlah engkau campuri wanita yang hamil sehingga lahir kandungannya

  1. Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i mengatakan perkawinan itu dipandang sah, maksudnya boleh dan halal dinikahi dengan alasan bahwa perempuan tersebut hamil karena zina bukan dari hasil nikah (tidak terikat dengan perkawinan orang lain). Oleh karena itu halal baginya untuk dinikahi dan menyetubuhinya tanpa harus menunggu perempuan tersebut melahirkan anaknya.[2]

Dalam kompilasi hukum Islam bab VIII pasal 53 ayat (1), (2), dan (3) dicantumkan bahwa:

  1. seorang wanita hamil diluar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
  2. perkawinan dengan wanita hamil yang tersebut pada ayat (1) dapat di langsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
  3. dengan dilangsungkannya pernikahan pada saat wanita hamil, tidak di perlukan perkawinan ulang setelah anak yang di kandungnya lahir.[3]
  1. B.     Riba dan Bank
    1. 1.      Riba

Riba berasal dari bahasa Arab yang berarti az-ziyadah, artinnya tambahan, ta’rif lain mengenai pengertian riba:

هو فضل خال عن عود شرط لأ حدالعاقدين

”Riba adalah kelebihan sepihak yang dilakukan oleh salah satu dari dua orang yang bertransaksi”

Di dalam berbagai kitab disebutkan bahwa arti bahasa dari riba adalah tambahan (az-ziyadah).sedangkan dalam merumuskan arti istilah riba memiliki rumusan yang berbeda-beda, tetapi intinya sama.

Istilah riba yang dipakai pegangan adalah tambahan tanpa imbangan yang diisyaratkan kepada salah satu di antara dua pihak yang melakukan muamalah utang piutang atau tukar-menukar barang.[4]

Semua agama samawi melarang praktek riba, karena dapat menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat pada umumnya dan bagi mereka yang terlibat riba pada khususnya.

Adapun dampak akibat praktek riba itu, antara lain:

a)      Menyebabkan eksplotasi (pemerasan) oleh si kaya terhadap si miskin

b)      Uang modal besar yang di kuasai oleh the haves tidak di salurkan ke dalam usaha-usaha yang produktif yang dapat menciptakan lapangan kerja banyak yang sangat bermanfaat bagi masyarakat dan juga bagi pemilik modal sendiri, tetapi modal besar itu justru disalurkan dalam perkreditan berbunga yang belum produktif.

c)      Bisa menyebabkan kebangkrutan usaha dan pada gilirannya bisa menyebabkan keretakan rumah tangga, jika si peminjam itu tidak mampu mengembalikan pinjaman dan bunganya.[5]

Karena begitu besarnya bahaya yang bisa di timbulkan oleh riba, Allah mengharamkannnya, sebagaimana di jelaskan dalam surat Al-Baqarah: 275

وَأَحَلَّاللَّهُالْبَيْعَوَحَرَّمَالرِّبا… (البقرة: 275)

Artinya: ”Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Dan dalam surat Ali Imron : 130:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوالاتَأْكُلُواالرِّباأَضْعَافاًمُضَاعَفَةًوَاتَّقُوااللَّهَلَعَلَّكُمْتُفْلِحُونَ

Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (Q. S. Ali Imron : 130)

Ada pula hadits Nabi yang mengutuk semua orang yang terlibat dalam perbuatan riba, ialah hadits riwayat Al-Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Tirmidzi dari Jabir bin Abdullah:

لعن الله أكل الرّ با وموكّله وشا هديه وكاتبه. (الحديث)

Artinya: ”Allah mengutuk orang yang mengambil riba (orang yang memberi pinjaman), orang yang memberikan riba (orang yang utang)  dua dua orang yang menjadi saksinya, dan orang yang mencatatnya”

Jenis riba ada dua macam:

  1. Riba nasiah atau riba yang jelas keharamannya disebabkan karena eksistensinya yaitu dengan diisyaratkan tambahan yang diambil oleh pemberi hutang kepada orang yang berhutang sebagai imbangan atas penundaan pembayaran hutangnya.
  2. Riba fadl atau riba yang samar (syubhat), keharamannya dikarenakan adanya sebab lain.  Yakni riba yang terjadi karena adanya tambahan pada segala bentuk jual beli benda/bahan yang sama atau sejenis. Riba ini bersifat prefentif, yaitu untuk mencegah keharaman yang diakibatkan oleh riba nasiah. Namun riba fadl juga diperbolehkan dalam keadaan darurat. Contoh jual beli emas/perak atau jual beli makanan dengan bahan makanan yang sejenis dengan adanya tambahan.[6]
  3. 2.      Bank dan Bunga Bank

Bank atau perbankan adalah suatu lembaga keuangan yang usaha pokoknya adalah memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang dengan tujuan memenuhi kebutuhan kredit dengan modal sendiri atau orang lain.

Di antara kegiatan-kegiatan bank yaitu:

a)      Menerima pinjaman dan simpanan

b)      Memberi pinjaman kepada orang atau badan yang memerlukan

c)      Mengirim uang

d)     Mempertukarkan mata uang

e)      Mengeluarkan uang.

Di antara kegiatan-kegiatan tersebut yang menjadi pembahasan ialah bagian pertama dan kedua yaitu bagaimana pandangan Islam atau hukumnya tantang pelaksanaan menerima pinjaman dan memberikan pinjaman dengan menggunakan bunga. Apakah ini termasuk riba yang dilarang dalam agama Islam atau tidak.

Muzakaroh dan pengkajian ilmiah tentang riba dan bunga bank yang dilaksanakan Majlis Ulama Sumatera Utara bersama yayasan Baitul Makmur Sumatera Utara pada tahun 1985 membuat kesimpulan sebagai berikut:

  1. Perbankan dan lembaga-lembaga keuangan non bank adalah satu sub sistem dari sistem ekonomi dewasa ini yang sulit dapat dihindarkan.
  2. Riba yang sifatnya adh’afan mudha’afah(berlipat ganda) adalah hukumnya haram, sesuai dengan nash yang shohih dari Al-Qur’an dan Sunnah.
  3. Bunga bank adalah masalah yang masih berbeda pendapat dari para ulama, diantaranya:
    1. Mengharamkan bunga bank karena menganggapnya sama dengan riba.
    2. Membolehkan bunga bank karena menganggapnya tidak sama dengan riba yang diharamkan oleh syariat Islam.
    3. Bunga bank adalah haram, tetapi karena belum ada jalan keluar untuk menghindarinya, maka di perbolehkan (karena di anggap darurat)[7]
  4. C.    Undian Berhadiah dan Perlombaan Berhadiah

Undian berhadiah merupakan salah satu masalah yang aktual dan kontroversial yang hingga kini masih tetap ramai di bicarakan oleh tokoh-tokoh masyarakat. Memang untuk mencari dana dengan cara menyelenggarakan undian/kupon berhadiah seperti Sumbangan Sosial Berhadiah (SSB) yang pernah di selenggarakan oleh Departement Sosial RI merupakan cara yang sangat efektif, karena dapat menarik masyarakat berlomba-lomba membelinya dengan harapan akan memperoleh hadiah yang di janjikan atau juga dengan niat untuk membantu proyek yang mau di tunjang dengan dana itu.

Sebagian besar ulama di Indonesia mengharamkan segala macam taruhan dan perjudian, seperti Nasional Lotre (Nalo)dan Lotre Totlisator (Lotto) yang pernah terjadi di Indonesia, yang akhirnya di larang oleh Presiden Soekarno dengan Keppres No. 1 33 tahun 1965 karena di anggap dapat merusak moral bangsa Indonesia.[8] Di lihat dari segi modusnya undian dan lotre merupakan dua sisi mata uang, tetapi hakekatnya adalah sama, yaitu berusaha menarik dana dari masyarakat dengan jalan yang tidak halal, yang di iming-imingi oleh hadiah dan sebagainya. Kenyataan ini, dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang signifikan, terutama dalam mengembangkan modus-modus yang di lihat secara sepintas dapat mengecok umat untuk terlibat melakukannya. Padahal Islam telah memberikan batasan yang kongkret bahwa setiap penghasilan yang di peroleh secara untung-untungan atau nasi-nasiban dan merugikan orang lain termasuk judi yang di larang oleh Islam.[9]

Berkaitan dengan hal ini, Muktamar Majlis Tarjih Muhammadiyah di Sidoarjo pada tanggal 27-31 Juli 1969 memutuskan antara lain bahwa, uundian berhadiah seperti Lotto dan Nalo dan sesamanya adalah termasuk perjudian. Oleh karena itu hukumnya haram, denghan alasan:

  1. Lotto dan Nalo pada hakikatnya dan sifatnya sama dengan taruhan dan perjudian dengan unsur:
  2. Oleh karena Lotto dan Nalo adalah salah stu dari jenis taruhan dan perjudian, maka berlaku nas sharih dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 219, ialah:

يَسْأَلونَكَعَنِالْخَمْرِوَالْمَيْسِرِقُلْفِيهِمَاإِثْمٌكَبِيرٌوَمَنَافِعُلِلنَّاسِوَإِثْمُهُمَاأَكْبَرُمِنْنَفْعِهِمَاوَيَسْأَلونَكَمَاذَايُنْفِقُونَقُلِالْعَفْوَكَذَلِكَيُبَيِّنُاللَّهُلَكُمُالْآياتِلَعَلَّكُمْتَتَفَكَّرُونَ

Artinya: ” mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ”pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”

  1. Muktamar mengakui bahwa hasil Lotto dan Nalo yang diambil oleh pihak penyelenggara mengandung menfaat bagi masyarakat sepanjang bagian hasil itu benar-benar di pergunakan bagi pembangunan.
  2. Bahwa mudlorot dan akibat jelek yang di timbulakan oleh tersebar luasnya taruhan dan perjudian dalam masyarakat, jauh lebih besar dari pada manfaat yang di peroleh dari penggunaan hasilnya.[10]

Adapun yang di maksud dengan lomba berhadiah, adalah perlombaan yang bersifat adu kekuatan seperti bergulat atau lomba lari, ataupun adu ketangkasan seperti badminton , sepak bola.

Pada prinsipnya lomba semacam tersebut di atas di perbolehkan dalam agama, asal tidak membahayakan keselamatan badan dan jiwa. Dan mengenai uang hadiah yang di peroleh dari hasil lomba tersebut di perbolehkan oleh agama, jika sistem yang ditempuh mengacu pada cara-cara yang dapat ditolerir Islam, bahkan cara dibawah ini merupakan prasyarat, bahwa pertandingan tersebut tidak termasuk dalam kategori judi.

  1. Jika hadiah lomba itu disediakan oleh pemerintah atau sponsor (non pemerintah) kepada pemenang dengan tidak mengurangi hak-hak yang semestinya diterima oleh pemenang tersebut.
  2. Hadiah lomba tersebut merupakan janji sponsor atau orang lainnya dan akan diberikan kepada salah satunya (kepada yang menang) setelah perlombaan usai.
  3. Hadiah lomba disediakan pemain dan orang lain disertai muhalil, yaitu orang yang berfungsi menghalalkan perjanjian lomba sebagai pihak ketuga, dan akan mengambil hadiah itu bila jagonya menang dan ia tidak wajib membayarjika jagonya kalah.[11]
  1. IV.            ANALISIS

Hakikat sebuah perkawinan diantaranya adalah melestarikan keturunan dan pemenuhan kebutuhan biologis, akan tetapi dengan adanya kemajuan zaman yang mengakibatkan adanya pergaulan bebas, banyak terjadi fenomena yang mungkin tidak diharapkan, yang mana perkawinan harus dilakukan, karena si pria dituntut bertanggung jawab atas perbuatannya karena melakukan hubungan seks dengan seorang wanita sebelum adanya akad nikah menurut ajaran Islam, sehingga pernikahan ini dilakukan hanya untuk menutup aib keluarga.

Bagaimanapun hukum mengenai mengawini wanita hamil, yang menjadi permasalahan nantinya adalah status anak yang masih dalam kandungan, apalagi status anak dari hubungan di luar pernikahan. Karena dari segi psikologis tetap mengganggu jiwa anak, walaupun dalam pandangan hukum Islam si anak tidak menanggung dosa (fitrah) dan hanya bapak (walaupun tidak sah menurut hukum) dan ibunya yang menanggung dosa. Apalagi jika nantinya harus dikaitkan dengan masalah perwalian dalam perkawinan (bila anak itu wanita) dan dalam pembagian warisan, mau tidak mau akan tetap terbongkar aibnya. Jadi walaupun ada peluang untuk menyatakan sah perkawinan itu, perkawinan itu tetap ada cacatnya , baik ditinjau dari segi agama, psikologis dan sosiologis.

Fenomena –fenomena ini terjadi karena adanya pergaulan bebas , dan juga kerapuhan iman dimasing-masing pihak. Oleh  karena itu yang perlu kita fikirkan bagaimana kita menjaga keimanan sebagai penangkal agar tidak terjadi perbuatan yang tidak diinginkan.

Sedangkan berkaitan dengan riba dan bunga bank kita kembali kepada asal pembagian riba, riba terbagi menjadi dua yaitu yang jelas dan tersembunyi (khafi). Riba jelas yang disebut juga dengan riba nasiah diharamkan karena kemudaratannya yang besar, sedangkan diharamkannya riba khafi karena menjadi perantara yang akan membawa kepada riba jaily. Riba khafi atau riba fadl jika kita amati, sudah banyak terjadi di masyarakat, adanya bunga bank termasuk riba khafi,  Jadi riba khafi diperbolehkan apabila ada mashlahat. Karena orang yang menyimpan uang di Bank untuk memelihara keamanan uang, lalu memperoleh tambahan tetap halal karena kemashlahatan.

Untuk mengantisipasi adanya kekhawatiran menjadiaknnya riba dalam bunga bank bisa dengan bank Islam, dengan menjalakan usaha-usaha bisnis secara Islami sebagai wujud adanya kesadaran umat Islam yang ingin menjalankan syariat Islam dalam bidang ekonomi pada umumnya dan perbankan pada khususnya. Bank Islam berprinsip berbagai keuntungan yang lepas dari riba. Sehingga bank ini tidak menerapkan bunga sebagaimana yang berlaku di bank-bank konversional. Dengan kata lain Bank Islam adalah bank bebas bunga. Sehingga jika di lihat dari hukum Islam penyelenggaraan bank tanpa bunga ini jelas sesuai dengan hukum Islam. Melalui bank inilah macam-macam transaksi perekonomian seperti yang di sebut dalam syariat hukum Islam dapat diwujudkan.

Sedangkan berkaitan dengan undian berhadiah dan perlombaan berhadiah kita harus pandai memilih dan memilah jenis undian dan perlombaan yang ada sekarang ini, karena merupakan keharusan dan ikhtiar agar tidak terjebak pada perbuatan yang menyesatkan, karena banyak perlombaan dan undian yang pelaksanaanya di tunggangi judi, karena di lakukan bertujuan komersil dan mengandung muatan konvensial. Kecuali hanya segelintir perlombaan tertentu yang di perbolehkan Islam, dengan ketentuan uang hadiahnya tidak langsung di terimanya dari pemain, melainkan dari pihak ke tiga (sponsor). Mencermati banyaknya dampak yang di timbulkan akibat keterlibatan seseorang dalam permainan yang terindikasi judi, yang konsekuensi hukumnya haram. Di samping itu keterlibatan seseorang dalam permainan tersebut mengakibatkan perputaran tidak optimal karena uang masyarakat terkonsentrasi pada pembelian kupon dan sebagainya yang sia-sia.

Realitas tersebut tidak dapat di pungkiri sebagai suatu kondusi yang obyektif yang terjadi dalam masyarakat. Namun bila di kaji lebih dalam maka akan di temukan aspek-aspek yang subtansial tentang keharamannya sehingga Islam memberikan solusi yang terbaik untuk mencari rizki yang halal dan prosesnyapun halal, misalkan saja berusaha melalui perdagangan, pertanian yang jauh lebih terhormat. Beberapa usaha itu relatif tidak merugikan orang lain, bahkan menguntungkan, jika dalam aktifitas itu mengedepankan aspek persaudaraan dan toleransi antar ssama umat sehingga mereka yang berusaha memperoleh kesejahtaraan, minimal mencukupi kebutuhan pokok mereka sehari-hari.

  1. V.            KESIMPULAN
    1. Hakikat mengenai tujuan perkawinan, yaitu: untuk menentramkan (menenangkan) jiwa, melestarikan keturunan, memenuhi kebutuhan biologis dan melakukan latihan praktis dalam memikul tanggungjawab.
    2. Ada beberapa pendapat ulama’ berkaitan dengan mengawini wanita hamil, yakni tergantung pada status kehamilan wanita itu.
    3. Semua agama samawi melarang praktek riba, karena dapat menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat pada umumnya dan bagi mereka yang terlibat riba pada khususnya.
    4. 4.      Bunga bank adalah haram, tetapi karena belum ada jalan keluar yntuk menghindarinya, maka di perbolehkan (karena dianggap darurat)
    5. 5.      undian berhadiah sangat di larang, karena mudlorot dan akibat jelek yang di timbulakan oleh tersebar luasnya taruhan dan perjudian dalam masyarakat, jauh lebih besar dari pada manfaat yang di peroleh dari penggunaan hasilnya
    6. 6.      Lomba berhadiah di perbolehkan dalam agama, asal tidak membahayakan keselamatan badan dan jiwa. Dan mengenai uang hadiah yang di peroleh dari hasil lomba tersebut di perbolehkan oleh agama, jika sistem yang ditempuh mengacu pada cara-cara yang dapat ditolerir Islam.

 

  1. VI.            PENUTUP

Puji syukur kehadirat Allah SWT, demikianlah makalah yang dapat kami sajikan, tentunya makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan sebagai perbaikan pada makalah kami selanjutnya. Dan semoga menjadikan manfaat dengan bertambahnya wawasan kita. Amiiin……..

 


DAFTAR PUSTAKA

Laonso, Hamid Hukum Islam Alternatif Solusi Terhadap Masalah Fiqh Kontemporer, Restu Ilahi

T. Yanggo, Chuzaimah Problematika Hukum Islam Kontemporer Iii,Jakarta, Penerbit Pustaka Firdaus, 2004

Zuhdi, Masyfuk Masail Fiqhiyah: kapita selekta hukum islam, jakarta, 1990

Hasan, M. Ali Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam, jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1996

http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/18935

 

 

 


[1] M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam, jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1996, hlm:86

[3] M. Ali Hsan, op. Cit, hlm: 89

[4] Chuzaimah T. Yanggo, Problematika Hukum Islam Kontemporer Iii,Jakarta, Penerbit Pustaka Firdaus, 2004, hlm.49-50.

[5] Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah: kapita selekta hukum islam, jakarta, 1990, hlm.  101

[6] Hamid Laonso, Hukum Islam Alternatif Solusi Terhadap Masalah Fiqh Kontemporer, Restu Ilahi, hlm:148

[7]Chuzaimah T. Yanggo, Op. Cit, hlm: 64-65

[8] Masyfuk Zuhdi, Op. Cit, hlm: 138

[9] Hamid Laonso, Op. Cit, hlm: 220

[10] Masyfuk Zuhdi, Op. Cit, hlm:138-139

[11] Hamid Laonso, Op. Cit, hlm. 217

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s