HUKUM TINJU MENURUT HUKUM ISLAM HUKUM KOPERASI DAN BANK TITIL

Standar

HUKUM TINJU MENURUT HUKUM ISLAM

HUKUM KOPERASI DAN BANK TITIL

 

 

Makalah

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Masail fiqhiyah haditsah

Dosen Pengampu Prof. Bpk Amin Farih M.Ag

 

Disusun Oleh:

Amri Khan                 (103111109)

Yekti Nur Hidayati   (083111123)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2010

HUKUM TINJU MENURUT HUKUM ISLAM

HUKUM KOPERASI DAN BANK TITIL

  1. I.        PENDAHULUAN

Dalam menjalani kehidupan dunia ini, tidaklah semua yang kita inginan dan harapkan dapat tercapai. Ketika terjadi ketimpangan atau ketidaksesuaian antara hal yang kita inginkan dan fakta yang terjadi maka akan menimbulkan masalah terutama apabila menyangkut dengan olahraga.

Kita mengenal adanya olahraga tinju, yang mana olahraga ini bertujuan menjatuhkan lawan dan mengalahkannya walaupun dengan menghancurkan jasad  lawan. Namun, apakah semua hal yang dinamai olahraga dibolehkan dalam islam?

Selain itu banyak juga permasalahan yang masih mengganjal dalam islam antara lain hukum koperasi dan hukum bank TITIL. Dalam makalah ini penulis akan memuat sekilas tentang hukum-hukum tersebut. Sebagai penyempurna makalah ini penulis mengharapkan kontribusi pemikiran dan saran yang membangun untuk perbaikan makalah ini.

  1. II.     RUMUSAN  MASALAH
    1. Bagaimana hukumnya permainan Tinju menurut Hukum Islam ?
    2. Bagaimana hukum Koperasi dan Bank TITIL menurut Hukum Islam?
  1. III.  PEMBAHASAN
    1. A.    Hukum permainan Tinju menurut Hukum Islam

Suatu kenyataan yang tidak bisa dibantah, bahwa tinju adalah suatu cabang olahraga yang banyak ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari awam sampai para pejaabat pemerintah pusat, baik tinju amatir maupun professional. Dan tampaknya tinju itu bukan hanya suatu aktraksi yang sangat menarik bagi banyak orang yang ingin menyksikan pertarungan yang seru dengan berbagai teknik tinju yang tinggi, kelincahan gerakan, melainkan tinju itu juga sangat menarik di kalangan pemuda dan remaja saat ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa tujuan olahraga tinju ini adalah melemahkan lawan dan mengalahkannya walaupun dengan menghancurkan sebagian jasad lawan. Dalam artian Tinju membolehkan memukul wajah dan dada, sehingga menyebabkan kebutaan, gagar otak, patah tulang sampai pada kematian tanpa ada tanggung jawab. Hal ini bertentangan dengan Tujuan Olahraga yang sebenarnya yaitu perhatian terhadap jasad dengan melatih otot, menguatakan jantung dan membuat badan memiliki kemampuan tahan banting. [1]

Olahraga-olahraga yang dapat menyebabkan terbunuhnya diri sendiri dan orang lain seperti ini, atau membuat mereka menderita cedera yang berbahaya, tak dapat dibenarkan kecuali jika dalam keadaan darurat yang mentolerir dilakukannya hal-hal yang dilarang.

Di dalam agam Islam, tinju itu terutama yang profesional dilarang oleh Islam berdasarkan dalil-dalil syar’i antara lain sebagai berikut [2]:

v  Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 195 :

Ÿwur…. (#qà)ù=è? ö/ä3ƒÏ‰÷ƒr’Î/ ’n<Î) Ïps3è=ök­J9$#  …..

195. dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaa.,

Ayat tersebut mengingatkan agar tidak gegabah berbuat sesuatu yang bisa berakibat fatal bagi dirinya. Padahal Tinju itu bisa membawa maut, kelumpuhan, patah tulang, dan penderitaan lain yang luar biasa.

v  Hadist Nabi riwayat beberapa ahli Hadist yang  kenamaan antara lain Malik dan Ibnu Majah :

لاضررولاضرار

Tidak boleh membikin mudarat pada dirinya dan tidak boleh pula membikin mudarat pada orang lain

Dalam pertarungan tinju, pasti satu sama lain berusaha menjauhkan lawannya dan terkadang dengan cara yang curang. Menang ataupun kalah tetap saja mengalami cedera baik yang akut maupun yang relatif ringan saja. Tetapi apabila terjadi kematian di atas ring akibat pukulan tinju lawannya, maka kasus tinju yang mematikan ini termasuk perbuatan yang diancam oleh Nabi dengan sabdanya :[3]

إذاالتقى المسلمان بسيفيهما ، فالقاتل والمقتول في النّار فقلت : يا رسول الله ، هذا القاتل : فما بال المقتول ؟ قال : إنّه كان حريصا على قتل صاحبه

Apabula dua orang islam berduel dengan pedangnya, maka yang dibunuh dan yang membunuh masuk neraka. Kemudian aku ( perowi hadist bernama Abu Bakrah ) bertanya, “ Hai utusan Allah ! itu pembunuhnya ( diketahui masuk neraka karena pembunuhannya )! Maka bagaimanakah si terbunuh masuk neraka?”Jawab nabi, “Sesungguhnya ia sangat berkeinginan pula membunuhh temannya.”)

Demikian pula dalam pertarungan tinju, satu sama lain tentu bertekat bulat untuk mengalahkan lawannya dengan konsekuensi to kill or to be killed, akibat emosi atau rayuan setan.

Berdasarkan dalil-dalil itulah, para ulama menegaskan bahwa orang yang menghalalkan darahnya kepada orang lain dan berkata kepadanya,’bunuhlah saya’, tidak boleh membunuhnya. Jika ia melakukannya, ia harus bertanggung jawab dan mendapatkan hukuman (qishah atau diyat,)[4]

Berdasarkan hal itulah,Lembaga menetapkan bahwa tinju ini tidak boleh dinamakan olah raga dan tidak boleh mempelajarinya (berlatih), karena pengertian olah raga adalah  berdasarkan latihan, tanpa menyakiti atau membahayakan. Wajib dihilangkan dari program olah raga daerah, dan ikut serta dalam pertandingan dunia. Sebagaimana Dewan juga menetapkan tidak boleh menayangkannya di program televisi agar generasi muda tidak belajar perbuatan buruk ini dan berusaha menirunya.

  1. B.     HUKUM KOPERASI DAN BANK TITIL
    1. HUKUM KOPERASI

Dari segi etimologi kata “koperasi” berasal dan bahasa Inggris, yaitu cooperation yang artinya bekerja sama. Sedangkan dari segi terminologi, koperasi ialah suatu perkumpulan atau organisasi yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang bekerja sama dengan penuh kesadaran untuk meningkattkan kesejahteraan anggota atas dasar sukarela secara kekeluargaan.

Koperasi dari segi bidang usahanya ada yang hanya menjalankan satu bidang usaha saja, misalnya bidang konsumsi, bidang kredit atau bidang produksi. Ini disebut koperasi berusaha tunggal (single purpose). Ada pula koperasi yang meluaskan usahanya dalam berbagai bidang, disebut koperasi serba usaha (multipurpose), misalnya pembelian dan penjualan.

Dalam Islam, koperasi tergolong sebagai syirkah/syarikah. Lembaga ini adalah wadah kemitraan, kerjasama, kekeluargaan, dan kebersamaan usaha yang sehat, baik, dan halal. Dan, lembaga yang seperti itu sangat dipuji Islam seperti dalam firman Allah,[5] :

(#qçRur$yès?ur …. ’n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3“uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? ’n?tã ÉOøOM}$# Èbºurô‰ãèø9$#ur 4….

 “Dan bekerjasamalah dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah saling bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2).

Dari pengertian koperasi di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa yang mendasari gagasan koperasi sesungguhnya adalah kerja sama, gotong-royong dan demokrasi ekonomi menuju kesejahteraan umum.

Sebagian ulama menganggap koperasi (Syirkah Ta’awuniyah) sebagai akad mudharabah, yakni suatu perjanjian kerja sama antara dua orang atau lebih, di satu pihak menyediakan modal usaha, sedangkan pihak lain melakukan usaha atas dasar profit sharing (membagi keuntungan) menurut perjanjian, dan di antara syarat sah mudharabah itu ialah menetapkan keuntungan setiap tahun dengan persentasi tetap, misalnya 1% setahun kepada salah satu pihak dari mudharabah tersebut.

Menurut Muhammad Syaltut, koperasi merupakan syirkah baru yang diciptakan oleh para ahli ekonomi yang dimungkinkan banyak sekali manfaatnya, yaitu membari keuntungan kepada para anggota pemilik saham, membori lapangan kerja kepada para karyawannya, memberi bantuan keuangan dan sebagian hasil koperasi untuk mendirikan tempat ibadah, sekolah dan sebagainya.
Dengan demikian jelas, bahwa dalam koperasi ini tidak ada unsur kezaliman dan pemerasan (eksploitasi oleh manusia yang kuat/kaya atas manusia yang lemah/miskin). Pengelolaannya demokratis dan terbuka (open management) serta membagi keuntungan dan kerugian kepada para anggota menurut ketentuan yang berlaku yang telah diketahui oleh seluruh anggota pemegang saham. Oleh sebab itu koperasi itu dapat dibenarkan oleh Islam.

Menurut Sayyid Sabiq, Syirkah itu ada empat macam, yaitu[6]:

  1. Syirkah ‘Inan
  2. Syirkah Mufawadhah
  3. Syirkah Wujuh
  4. Syirkah Abdan

Jika demikian halnya, lantas bagaimana hukum berkoperasi? Kembali pada sifat koperasi sebagai praktek mu’amalah, maka dapat ditetapkan hukum koperasi adalah sesuai dengan ciri dan sifat-sifat koperasi itu sendiri dalam menjalankan roda kegiatannya. Karena dalam kenyataannya, koperasi itu berbeda-beda substansi model pergerakannya. Misalnya koperasi simpan pinjam berbeda dengan koperasi yang bergerak dalam bidang usaha perdagangan dan jasa lainnya. Koperasi simpan pinjam bahkan banyak yang lebih tinggi bunga yang ditetapkannya bagi para peminjam daripada bunga yang ditetapkan oleh bank-bank konvensional. Tentunya hal seperti ini tidak diragukan lagi adalah termasuk riba yang diharamkan. Adapun koperasi semacam kumpulan orang yang mengusahakan modal bersama untuk suatu usaha perdagangan atau jasa yang dikelola bersama dan hasil keuntungan dibagi bersama, selagi perdagangan atau jasa itu layak dan tidak berlebihan di dalam mengambil keuntungan, maka dibolehkan, apalagi jika keberadaan koperasi itu memudahkan dan meringankan bagi kepentingan masyarakat yang bersangkutan.
sebuah firman Allah SWT, yang artinya:

“Dan sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh; dan amat sedikitlah mereka itu

Jadi, dapat dikatakan bahwa hukum koperasi diperbolehkan, karena, dalam Islam tidak ada sebuah subjek hukum baik itu subjek hukum privat (personal) maupun badan hukum publik (korporasi) yang diharamkan, yang dilarang adalah perbuatannya. Sehingga meskipun badan hukum tersebut sangat islami sekalipun seperti Masjid, kalo didalamnya mempraktekkan judi togel iya tetap haram dan dilarang oleh Islam. Tetapi yang diharamkan bukanlah Mesjidnya tetapi perbuatan judi togelnya. Begitupula dengan Badan Hukum Koperasi, Tidaklah diharamkan. namun jika dalam salah satu produknya terdapat trasaksi yang mengandung unsur riba, maka itulah yang diharamkan tetapi bukan Badan Hukumnya.

  1. HUKUM BANK TITIL

Bank Titil (bukan nama sebenarnya) adalah bank yang menyediakan uang pinjaman untuk orang yang memiliki kebutuhan hidup yang tidak tercukupi hanya dari pendapatannya, dengan konsekuensi tanggungan bunga, dibayar mingguan (ada yang harian), dan status bank ini tidak terakreditasi alias milik personal. Bank Titil biasanya beroperasi di pasar (rumahan juga ada, tapi tidak sebanyak di pasar). Jaminan dari pinjaman yang diberikan adalah barang dagangan (kalo di pasar) atau alat-alat rumah tangga (kalo rumahan) semisal: rice cooker, setrika, dispencer, dll.

Bank Titil seringkali diidentikkan dengan rentenir, yakni suatu usaha ekonomi yang termasuk kategori “haram” karena dinilai mengandung “riba”. Persepsi ini tidak bisa disangkal begitu saja mengingat para pelaku Bank Titil menetapkan bunga atas pinjaman terhadap para “bakul” atau pedagang kecil. Bahkan bunga Bank Titil bisa dikategorikan lebih besar dari bunga bank. Rata-rata pelaku Bank Titil ini menetapkan bunga 20% terhadap para pedagang kecil untuk jangka waktu tertentu[7].

Firman Allah :

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qè=à2ù’s? (##qt/Ìh9$# $Zÿ»yèôÊr& Zpxÿy軟ҕB ( (#qà)¨?$#ur ©!$# öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÌÉÈ

130. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda[228]] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Serta firman Allah dalam Al-qur’an Al-Imran 130 :

ß,ysôJtƒ ª!$# (#4qt/Ìh9$# ‘Î/öãƒur ÏM»s%y‰¢Á9$#¤& ÇËÐÏÈ

276. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah[177].

Para pedagang kecil ini lebih sering memanfaatkan jasa para pelaku Bank Titil. Mereka lebih suka menggunakan jasa Bank ini dibanding jasa Bank umum. Hal ini bisa jadi karena prosedur yang ditempuh sangat mudah, cepat, dan cara pengembaliannyapun tidak harus menyetor, tetapi cukup diambil oleh “debitur” atau oleh pelaku Bank Titil itu. Artinya peminjam cukup di tempat, baik untuk meminjam maupun mengembalikannya. Prosedur dan mekanisme ini dirasa sangat memudahkan bagi para pedagang kecil.

Keterlibatan para pedagang dalam transaksi Bank Titil tidak bisa dilepaskan begitu saja dari berbagai keadaan yang melatarbelakanginya, baik personal/internal maupun eksternal. Faktor personal pada umumnya didasarkan atas kebutuhan uang/dana untuk menopang atau menambah modal dagangan mereka. Namun demikian, pedagang tertentu terkadang memiliki prakondisi personal di mana dirinya merasa terpojok karena kesulitan keuangan sehingga pilihan terakhir praktis ditujukan kepada Bank Titil. Sedangkan faktor eksternal merujuk kepada eksistensi Bank Titil itu sendiri.

Pola transaksi Bank Titil yang lebih ditentukan oleh sikap proaktif Bank Titil nampaknya mengisyaratkan bahwa terdapat unsur pemaksa pelaku Bank Titil. Indikator pemaksaan ini adalah penawaran pinjaman yang dilakukan dengan serta merta yang mengakibatkan pedagang menerima pinjaman ini tanpa melalui berbagai pertimbangan. Keadaan demikian, sebenarnya bagi pedagang bukanlah satu keharusan untuk melakukan peminjaman uang, namun kehadiran Bank Titil dan sikap proakivitasnya menyebabkan pedagang terjerumus dalam transaksi pinjaman ini.

Berdasarkan gambaran di atas dapat ditarik satu kesimpulan bahwa dalam transaksi Bank Titil sering memunculkan permasalahan-permasalahan yang menjadi beban bagi pihak nasabah. Kemunculan permasalahan-permasalahan ini merupakan salah satu kategori keribaan Bank Titil. Permasalahan dimaksud seperti ketidakadilan dalam esensi transaksi, keterpaksaan keuangan, penyebab keterpurukan ekonomi, penyebab usaha dagang tidak berkembang dan terciptanya lilitan hutang yang tak pernah kunjung usai.

Namun demikian, keberadaan Bank Titil juga mengandung sisi positif. Diantaranya, keberuntungan yang diperoleh oleh sebagian pedagang seperti adanya tambahan modal, bahkan sebagian yang lain menjadikannya modal utama yang nantinya akan menjadi sumber ekonomi bagi mereka. Keuntungan yang lain adalah proses pencarian dan peminjaman uang yang sangat mudah, pembayaran angsuran/cicilan yang tidak mengganggu kegiatan para nasabah dalam menjajakan barang dagangannya, serta keuntungan yang diperoleh dari tambahan modal usaha yang masih mencukupi untuk membayar cicilan sehingga sisanya merupakan hasil usaha yang langsung bisa dinikmati. Berbagai keuntungan di atas bisa dikategorikan sebagai sisi humanisme dari Bank Titil.[8]

Eksistensi Bank Titil di tengah-tengah komunitas pedagang pasar tidak terlepas dari falsafah kerjanya bahwa kehadirannya semata-mata demi kepentingan mengikat para pedagang sebagai nasabahnya. Sebagai konsekuensi dari hal ini, maka keberadaan Bank Titil seringkali menimbulkan soal baru bagi para nasabahnya meski di sisi lain juga menguntungkan.

Berdasarkan pemaparan dalam penelitian ini, bisa disimpulkan bahwa Bank Titil tidak dapat secara mutlak dikategorikan sebagai riba karena mengandung nilai-nilai humanisme.

  1. IV.  KESIMPULAN 

Hukum islam telah tegas bahwa segala sesuatu yang menyakiti badan dan menyebabkan bahaya adalah haram hukumnya, baik yang berkedok olahraga ataupun yang lainnya, termasuk tinju di dalamnya. Karena tujuan bertinju tidak sampai kepada kesehatan badan dan telah berubah dari hakikat tujuan olahraga.

Hukum koperasi diperbolehkan, karena, dalam Islam tidak ada sebuah subjek hukum baik itu subjek hukum privat (personal) maupun badan hukum publik (korporasi) yang diharamkan, yang dilarang adalah perbuatannya. Sehingga meskipun badan hukum tersebut sangat islami sekalipun seperti Masjid, kalo didalamnya mempraktekkan judi togel iya tetap haram dan dilarang oleh  Islam. Tetapi yang diharamkan bukanlah Mesjidnya tetapi perbuatan judi togelnya. Begitupula dengan Badan Hukum Koperasi, Tidaklah diharamkan. namun jika dalam salah satu produknya terdapat trasaksi yang mengandung unsur riba, maka itulah yang diharamkan tetapi bukan Badan Hukumnya.

Bank Titil tidak dapat secara mutlak dikategorikan sebagai riba karena mengandung nilai-nilai humanisme.

  1. V.     PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat pemakalah sampaikan, pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik allah SWT. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat pemakalah harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya.

Dan akhirnya pemakalah mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan, baik dalam sistematika penulisan, isi dari pembahasan maupun dalam hal penyampaian materi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah sendiri pada khususnya dan para pembaca budiman pada umumnya dalam kehidupan ini, amiiin…

DAFTAR PUSTAKA

Al Qaradhawi Dr Yusuf, Fikih Hiburan,  Jakarta; PUSTAKA AL KAUTSAR, 2001

Rasyid sulaiman, fiqh Islam, Bandung; Sinar baru Algensindo, 1990

Syaltut Mahmud, Al Fatwa,  Mesir ;Terbit Terang,2000

http://www.avveroes.or.id/research/memotret-modus-operandi-bank-titil-antara-riba-semangat-dan-humanis

http//www.almanhaj.or..id//content/527/slash.

Zuhdi Masjfuk,Masailil Fiqhiyah,  Jakarta; PT Surya Grafindo,1997

 


[1] Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Fikih Hiburan, (Jakarta; PUSTAKA AL KAUTSAR ) hlm 105-106

[2] Masjfuk Zuhdi,Masailil Fiqhiyah, ( Jakarta; PT Surya Grafindo ) hlm 166

[3] Ibid hlm 167

[5] Masjfuk Zuhdi. Op. cit. hlm 118

[6] Mahmud Syaltut, Al Fatwa, Mesir, Darul Qalam, hlm 349

[7] http//www.almanhaj.or..id//content/527/slash.

[8] Sulaiman Rasyid, fiqh islam ( sina baru Al gensindo Bandung ) hlm 292

About these ads

One response »

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s