KONSEP DASAR MEDIA PEMBELAJARAN

Standar

KONSEP DASAR

 MEDIA PEMBELAJARAN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Media Pembelajaran

Dosen Pengampu: Drs. Fatah Syukur NC, M. Ag

Disusun oleh:

Amri Khan                             (103111109)

Nova Fitri Rifkhiana                        (103111084)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

KONSEP DASAR MEDIA PEMBELAJARAN

  1. PENDAHULUAN

Pada hakikatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi. Proses komunikasi harus diciptakan atau diwujudkan melalui kegiatan penyampaian dan tukar menukar pesan atau informasi antara pendidik dengan peserta didik. Satu kesatuan dari proses komunikasi belajar mengajar yang bertumpu pada tujuan pendidikan di sekolah adalah media pembelajaran. Peranan media pembelajaran pun menjadi penting karena memiliki nilai praktis dan fungsi yang besar dalam pelaksanaan pembelajaran.

Maka dari itu dalam makalah ini, akan di bahas tentang pengertian, klasifikasi dan kriteria pemilihan media pembelajaran yang bertujuan memberikan gambaran secara lebih detail tentang media pembelajaran.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa Pengertian Media Pembelajaran?
    2. Bagaimana Klasifikasi Media Pembelajaran?
    3. Apa Saja Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran?

III. PEMBAHASAN

  1. Pengertian Media Pembelajaran

Definisi media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti “tengah, perantara atau pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara (و سا ئل) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.

Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media ada dua bagian, yaitu arti sempit dan arti luas. Dalam arti sempit, bahwa media itu berwujud: grafik, foto, alat mekanik dan elektronik yang digunakan untuk menangkap, memproses serta menyampaikan informasi. Dalam arti luas, yaitu kegiatan yang dapat menciptakan suatu kondisi, sehingga memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap baru.

AECT (Association of Education and Comunication Technology, 1997) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.[1] Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Berbeda dengan itu, Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/ NEA) memberikan batasan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya.[2] Media adalah medium yang digunakan untuk membawa/ menyampaikan sesuatu pesan, di mana medium ini merupakan jalan atau alat dengan suatu pesan berjalan antara komunikator dengan komunikan (Blake and Haralsen). Jadi, media adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai perantara/ sarana/ alat untuk proses komunikasi (proses belajar mengajar).[3]

Definisi belajar (learning) adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak ia masih bayi sampai ke liang lahat nanti (Sadiman, dkk., 1996: 2). Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. (Gredler, 1994: 1). Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain (Pidarta, 2000: 197). Dengan demikian belajar menuntut adanya perubahan yang relatif permanen pada pengetahuan atau perilaku seseorang karena pengalaman (Mayer, 1982: 1040 dalam Seels & Richey, 2000: 13). Dalam kegiatan pembelajaran tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bisa bertindak secara tepat (Dimyati & Mudjiono, 2002: 41-42).[4]

Belajar adalah suatu proses yang kompleks. Tiap orang mempunyai ciri yang unik untuk belajar. Hal itu terutama disebabkan oleh efisiensi mekanisme penerimaannya dan kemampuan tanggapannya. Seorang pelajar yang normal akan dapat memperoleh pengertian dengan cara mengolah rangsangan dari luar, yang ditanggapi oleh indranya, baik indra penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa maupun peraba. Semakin baik tanggapan seseorang tentang sesuatu objek, orang, peristiwa atau hubungan, semakin baik pula hal tersebut dapat dimengerti dan diingat (Miarso, 1984: 111).[5]

Dalam pandangan konstruktivisme, belajar adalah menyusun pengetahuan dari pengalaman konkret, aktivitas kolaborasi, dan refleksi serta interpretasi. Proses belajar pada hakikatnya terjadi dalam diri peserta didik yang bersangkutan, walaupun prosesnya berlangsung dalam kelompok, bersama orang lain.[6]

Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “ menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran. Pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik (Sadiman, dkk., 1986: 7). Pembelajaran disebut juga kegiatan pembelajaran (instruksional) adalah usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang membentuk diri secara positif tertentu dalam kondisi tertentu (Miarso, 2004: 528). Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disususn sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar peserta didik yang bersifat internal (Gagne dan Briggs, 1979: 3). Pembelajaran adalah segala upaya untuk menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah (facilitated) yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik.[7]

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam proses belajar mengajar yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak untuk mencapai proses dan hasil pembelajaransecara efektif dan efisien, serta tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan mudah.[8]

Jadi tugas media bukan sebagai sekedar mengkomunikasikan hubungan antara pengajar dan murid namun lebih dari itu media merupakan bagian integral yang saling berkaitan antara komponen yang lain yang saling berinteraksi dan mempengaruhi.[9]

  1. Klasifikasi Media Pembelajaran

Beberapa pendapat para pakar dalam hal klasifikasi media pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Santoso S. Hamijaya mengklasifikasikan media pembelajaran yang dikaitkan dengan teknologi pembelajaran menurut penggunaannya:
    1. Media dan teknologi pembelajaran yang penggunaannya secara massal, meliputi: televisi, film dan slide, serta radio.
    2. Media dan teknologi pembelajaran yang metode penggunaannya secara individual, meliputi: kelas atau laboratorium elektronik, alat-alat otoinstruktif, dan kotak unit instruksional.
    3. Media dan teknologi pembelajaran yang penggunaannya secara konvensional.
    4. Media dan teknologi pembelajaran pada pendidikan modern, meliputi: ruang kelas otomatis, sistem proyeksi berganda, dan sistem interkomunikasi.
    5. Gerlach membagi menjadi lima kategori umum menurut sifat benda, yaitu:
      1. Benda-benda asli dan manusia (real materials and people).
      2. Gambar-gambar dan gambar yang disorotkan (visuals and projection).
      3. Benda-benda yang didengar (audio materials).
      4. Benda-benda cetakan (printed materials).
      5. Benda-benda yang dipamerkan (display materials).
      6. Edgar dell mengklasifikasikan media pembelajaran berdasarkan pengalaman belajar peserta didik, yaitu dari yang bersifat konkret sampai yang bersifat abstrak.
        1. Pengalaman melalui lambang kata/ verbal.
        2. Pengalaman melalui lambang visual (peta, diagram).
        3. Pengalaman melalui gambar (foto, album).
        4. Pengalaman melalui rekaman, radio, gambar.
        5. Pengalaman melalui gambar hidup.
        6. Pengalaman melalui televisi.
        7. Pengalaman melalui pameran (study display).
        8. Pengalaman melalui wid wisata (field study).
        9. Pengalaman melalui kegiatan demonstrasi.
        10. Pengalaman melalui dramatisasi.
        11. Pengalaman melalui mode (benda tiruan).
        12. Pengalaman melalui pengalaman langsung bertujuan dan melakukan sendiri (selfdoing).
        13. R. Murry Thomas mengklasifikasikan atas tiga jenjang pengalaman, meliputi:
          1. Pengalaman dari benda asli (reliefe experience).
          2. Pengalaman dari benda tiruan (subsitude of relief experience).
          3. Pengalaman dari kata-kata (words only).
          4. Bretz mengelompokan media ke dalam tujuh kelas, yaitu:
            1. Kelas I            : Media audio –  motion – visual
            2. Kelas II          : Media audio – still – visual
            3. Kelas III         : Media audio – semination
            4. Kelas IV         : Media motion – visual
            5. Kelas V          : Media still – visual
            6. Kelas VI         : Media audio
            7. Kelas VII       : Media yang hanya mampu menampilkan informasi berupa simbol-simbol tertentu saja.
            8. Pembagian lain dikemukakan oleh Jerold E. Kemp yang meliputi:
              1. Media cetak.
              2. Media display.
              3. Over head transparancies.
              4. Audio tape recording.
              5. Slide dan film-strips.
              6. Montipicture.
              7. Komputer.
            9. Gerlach dan Ely mengklasifikasikan jenis media pembelajaran seperti:
              1. Gambar diam.
              2. Gambar gerak.
              3. Rekaman bersuara.
              4. Televisi.
              5. Benda-benda hidup.
              6. Instruksional berprogama atau CAI (Computer Assisten Instruction).

Dalam pelaksanaan pembelajaran dikenal beberapa jenis media. Penggunaan media pembelajaran ditentukan oleh fungsi dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan tersedianya bahan untuk mengelola media.

Berdasarkan hal ini klasifikasi media pembelajaran dapat dikategorikan menurut jenis-jenisnya:

  1. Berdasarkan indra yang digunakan:
    1. Media audio.
    2. Media visual.
    3. Media audio visual.
    4. Berdasarkan jenis pesan yaitu:
      1. Media cetak.
      2. Media non cetak.
      3. Media grafis.
      4. Media non grafis.
      5. Berdasarkan sasarannya yaitu:
        1. Media jangkauan terbatas (tape).
        2. Media jangkauan yang luas (radio, pers).
        3. Berdasarkan penggunaan tenaga listrik (elektronik) yaitu:
          1. Media elektronik.
          2. Media non elektronika.
          3. Media asli dan tiruan, yaitu berupa spesimen, meliputi:
            1. Spesimen makhluk hidup yang masih hidup.
            2. Spesimen makhluk yang sudah mati.
            3. Spesimen dari bendaa tidak hidup.
            4. Benda asli yang bukan makhluk hidup.
            5. Model (tiruan benda-benda) yaitu bentuk tiruan dari suatu benda asli yang karena sesuatu sebab tidak dapat ditunjukkan aslinya.
            6. Media grafis, adalah semua media yang mengandung grafis (tulisan/ gambar).

Jenis-jenis media grafis antara lain:

  1. Media bagan.
  2. Media grafik (grafik diagram).
  3. Media poster.
  4. Karikatur.
  5. Media gambar.
  6. Media komik.
  7. Media gambar bersambung/ gambar seri (vitatoom).
  8. Media bentuk papan, adalah media yang menggunakan benda berupa sebagai sarana komunikasi yang dapat dibedakan menjadi:
    1. a.      Media papan tulis (black/ white board).
    2. Media papan tempel/ pengumuman (information board).
    3. Media papan flanel (flanel board, left board, visual board).
    4. Media papan/ pameran/ visual (display board).
    5. Media papan magnet.
    6. Media papan demonstrasi (demonstration board).
    7. Media papan paku (spika board).
    8. Media yang disorotkan (projectable aids) atau alat pandang (visual aids).

Media ini baru dapat dimanfaatkan setelah diproyeksikan, meliputi:

  1. Media sorot yang diam (still projection media).
  2. Media sorot yang bergerak (movie projection media).
  3. Media sorot mikro (micro projection media).
  4. Media yang dapat didengar, yaitu media sebagai alat komunikasi dengan melalui pendengaran. Misalnya: kaset audio, radio.
  5. Media pandang dengar, yaitu media yang dapat dilihat sekaligus dapat didengar untuk memperjelas gambar yang dapat dilihat. Misalnya: slide audio, televisi.
  6. Media bahan-bahan cetak (printed materials media), yaitu bahan cetak dari bahan pembelajaran. Misalnya: buku, pamflet, majalah, koran, dan sebagainya.[10]
  1. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran

Pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. Media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran memerlukan perencanaan yang baik. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa seorang guru memilih salah satu media dalam kegiatannya di kelas atas dasar pertimbangan tertentu yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, diantaranya:

  1. Merasa sudah akrab dengan media itu.
  2. Merasa bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri.
  3. Media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian siswa, serta menuntunnya pada penyajian yang lebih terstruktur dan terorganisasi.
  4. Bermaksud mendemonstrasikan media tersebut.
  5. Ingin memberi penjelasan dan gambaran yang lebih konkrit.

Pada tingkat yang menyeluruh dan umum pemilihan media dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

  1. Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitas, dan peralatan yang telah tersedia, sumber-sumber yang tersedia.
  2. Persyaratan isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Isi pelajaran beragam dari sisi tugas yang ingin dilakukan siswa. Setiap kategori pembelajaran itu menuntut perilaku yang berbeda-beda, dan dengan demikian akan memerlukan teknik dan media penyajian yang berbeda pula.
  3. Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan awal.
  4. Tingkat kesenangan dan keefektivan biaya.
  5. Pemilihan media sebaiknya mempertimbangkan pula:
    1. Kemampuan mengakomodasikan penyajian stimulus yang tepat (visual dan atau audio).
    2. Kemampuan mengakomodasikan respons siswa yang tepat (tertulis, audio, dan atau kegiatan fisik).
    3. Kemampuan mengakomodasikan umpan balik.
    4. Pemilihan media utama dan media sekunder untuk penyajian informasi atau stimulus, dan untuk latihan dan tes (sebaiknya latihan dan tes menggunakan media yang sama).
    5. Media sekunder harus mendapat perhatian karena pembelajaran yang berhasil menggunakan media yang beragam. Dengan penggunaan media yang beragam, siswa memiliki kesempatan untuk menghubungkan dan berinteraksi dengan media yang paling efektif sesuai dengan kebutuhan belajar mereka secara perorangan.

Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologi yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah berikut ini:

  1. Motivasi.
  2. Perbedaan individual.
  3. Tujuan pembelajaran.
  4. Organisasi isi.
  5. Persiapan sebelum belajar.
  6. Emosi.
  7. Partisipasi.
  8. Umpan balik.
  9. Penguatan (reinforcement).
  10. Latihan dan pengulangan.
  11. Penerapan.

Media merupakan bagian dari sistem instruksional secara keseluruhan. Untuk itu ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media, diantaranya:

  1. Disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.
  2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi.
  3. Praktis, luwes, dan bertahan.
  4. Guru terampil menggunakannya.
  5. Pengelompokan sasaran.
  6. Mutu teknis.[11]

Media pembelajaran digunakan dalam kegiatan pembelajaran karena berbagai kemampuan sebagai berikut:

  1. Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata menjadi lebih besar.
  2. Menyajikan benda atau peristiwa yang terletak jauh dari peserta didik ke hadapan peserta didik.
  3. Menyajikan peristiwa yang kompleks, rumit, berlangsung dengan sangat cepat atau sangat lambat menjadi lebih sistematik dan sederhana.
  4. Menampung sejumlah besar peserta didik untuk mempelajari materi pelajaran dalam waktu yang sama.
  5. Menyajikan benda atau peristiwa berbahaya ke hadapan peserta didik.
  6. Meningkatkan daya tarik pelajaran dan perhatian peserta didik.
  7. Meningkatkan sistematika pembelajaran.[12]

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran, diantaranya:

  1. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
  2. Karakteristik siswa atau sasaran. .
  3. Jenis rangsangan belajar yang diinginkan.
  4. Keadaan latar atau lingkungan.
  5. Kondisi setempat.
  6. Luasnya jangkauan yang ingin dilayani.
  7. Relevan dengan tujuan pembelajaran.
  8. Keberadaan sumber informasi dan katalog yang mengenai media tersebut.
  9. Kevaliditasan media pembelajaran.

Profesor Ely mengatakan bahwa pemilihan media seharusnya tidak terlepas dari konteksnya bahwasanya media merupakan komponen dari sistem pembelajaran secara keseluruhan, sehingga ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, diantaranya:

  1. Tujuan dan isinya harus sudah diketahui.
  2. Karakteristik siswa.
  3. Strategi belajar-mengajar.
  4. Organisasi kelompok belajar.
  5. Alokasi waktu.
  6. Sumber.
  7. Prosedur penilaiannya.

Dick dan Carey (1978) menyebutkan bahwa di samping kesesuaian dengan tujuan perilaku belajarnya, setidaknya ada empat faktor lagi yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran, diantaranya:

  1. Ketersediaan sumber setempat.
  2. Ketersediaan dana, fasilitas, dan tenaga ketika membeli atau membuat sendiri.
  3. Keluwesan, kepraktisan, dan ketahanan media yang bersangkutan untuk waktu yang lama.
  4. Efektivitas biaya dalam dalam jangka waktu yang panjang.

Hakikat dari pemilihan media pada akhirnya adalah keputusan untuk memakai, tidak memakai, atau mengadaptasi media yang bersangkutan. [13]

IV. KESIMPULAN

Media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam proses belajar mengajar yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak untuk mencapai proses dan hasil pembelajaransecara efektif dan efisien, serta tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan mudah. Media pembelajaran di klasifikasikan berdasarkan indra yang digunakan, jenis pesan, sasaran, penggunaan elektronik, media asli dan tiruan, media grafis, media bentuk papan, media yang disorotkan, media yang didengar, media pandang dengar, dan media bahan cetak. Ada beberapa pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media diantaranya: motivasi, perbedaan individual, tujuan pembelajaran, organisasi isi, persiapan sebelum belajar, emosi, partisipasi, umpan balik, penguatan (reinforcement), latihan dan pengulangan, penerapan.

  1. PENUTUP

Demikian makalah yang dapat saya buat. Saya menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah pada khususnya. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1997.

Darwanto. Televisi sebagai Media Pendidikan. Jogjakarta: Pustaka Pelajar Offset. 2005.

Rohani, Ahmad. Media Instruksional Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1997.

Sadiman, Arief S, dkk. Media Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali. 1986.

Syukur, Fatah. Teknologi Pendidikan. Semarang: RaSAIL. 2004.

Warsita, Banbang. Teknologi Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2008.

 


[1] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 3

[2]Arief S. Sadiman, dkk., Media Pendidikan, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hal 6

[3] Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997), hal.2-3

[4] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008), hal. 62- 63

[5] Darwanto, Televisi sebagai Media Pendidikan, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2005), hal. 99

[6] Bambang Warsita, Op. Cit, hal. 63

[7] Ibid,  hal. 265-226

[8] Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997),  hal. 4

[9] Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan, (Semarang: RaSAIL, 2004), hal. 124

[10] Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997), hal. 11-24

[11] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 65-74

[12] Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997), hal. 24-25

[13] Arief S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hal 84-86

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s