Monthly Archives: Juli 2012

PERANAN BAITUL HIKMAH BAGI PERADABAN ISLAM

Standar

PERANAN BAITUL HIKMAH BAGI
PERADABAN ISLAM

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Drs. Mat Sholihin, M.Ag

Disusun oleh:
Taat Rifani (103111100)
Achmad Umar (103311001)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
PERANAN BAITUL HIKMAH BAGI
PERADABAN ISLAM

I. PENDAHULUAN
Pada masa dinasti Bani Abbasiah terkenal ada beberapa khalifah yang mempunyai pencapaian yang luar biasa. Pencapaian tersebut ditandai dengan majunya peradaban Islam. Puncak kemajuan ini berada pada pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid dan anaknya Al Ma’mun. Pada masa pemerintahan Harun Al Rasyid Islam mengalami puncak kejayaanya dengan Bagdad sebagai pusatnya. Pada masa ini kemajuan dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan. Sahingga peradaban ini disebut sebagai ”The golden age of Islam”, atau masa keemasan Islam.
Setelah Harun Al Rasyid wafat, pemerintahanpun diteruskan oleh anaknya yang bernama Al Ma’mun. Bahkan pada masa ini kejayaan Islam masih berlanjut. Hal ini ditandai dengan kemajuanya pada bidang pendidikan dan intelektualnya dengan dibangunya Baitul hikmah di Bagdad. Di baitul hikmah ini dijadikan sebagaipusat kajian keilmuan dan pengetahuan. Pada masa itu pula banyak muncul cendekiawan-cendekiawan muslim dan juga karya-karya besar mereka yang nantinya akan mempengaruhi peradaban Islam bahkan dunia.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaiman sekilas tentang Baitul Hikmah?
B. Bagaiman Peranan Baitul Hikmah bagi Peradaban Islam?

III. PEMBAHASAN
A. Sekilas Tentang Baitul Hikmah
Baitul Hikmah bahasa Arab Bait al-Hikmah adalah perpustakaan dan pusat penerjemahan pada masa dinasti Abbasiah. Baitul hikmah ini terletak di Baghdad, dan Bagdad ini dianggap sebagai pusat intelektual dan keilmuan pada masa Zaman Kegemilangan Islam (The golden age of Islam). Karena sejak awal berdirinya kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Itulah sebabnya K. Hitti menyebut bahwa bagdad sebagai profesor masyarakat Islam.
Baitul Hikmah ini dibangun pada masa pemerintahan Al Ma’mun, akan tetapi embrionya sudah ada pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid. Dan ada pula sumber lain yang mengatakan bahwa Baitul Hikmah didirikan oleh Harun Ar Rasyid yang kemudian disempurnakan oleh puteranya, Al- Makmun pada abad keempat. Baitul Hikmah berfungsi sebagai balai ilmu dan perpustakaan. Di situ para sarjana sering berkumpul untuk menterjemah dan berdiskusi masalah ilmiah. Dan khalifah Harun Ar-Rasyid kemudian Al-Makmun secara aktif selalu ikut dalam pertemuan-pertemuan itu.
Jika kita melihat Harun Ar Rasyid adalah khalifah yang banyak memanfaatkan kekayaan negara untuk kesejahteraan sosial, seperti mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan kedokteran, lembaga pendidikan farmasi dan pemandian umum. Sedangkan putranya Al ma’mun yang merupakan pengganti Harun ar Rasyid dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Sehingga pada masa pemerintahanya penerjemahan buku-buku asing digalakan. Dan bukti dari jasa besarnya adalah dalam pembangunan Baitul Hikmah ini.
Pada mulanya Harun ar Rasyid (736-809 M) mendirikan Khizanat Al Hikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan, tempat penerjemahan dan penelitian. Kemudian pada tahun 815 M Al Ma’mun (813-833 M) mengubahnya menjadi Baitul Hikmah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang berasal dari persia, Bizantium, Eithopia dan India. Di Baitul Hikmah Al Ma’mun menunjuk Hunain Ibn Ishaq sebagai kepalanya, disamping itu juga mempekerjakan Muhammad Ibnu Musa Al Khawarijmi ahli dalam bidang aljabar dan astronomi dan orang-orang Persia. Akan tetapi sejak abad ke-9 M dijadikan tempat penerjemahan filsuf klasik dibawah bimbingan Hunair ibn ishaq.
Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing juga digalakkan.Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia mempersiapkan penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahlinya. Salah satu bukti zaman keemasan Bani Abbasiyah salah satunya adalah Baitul Hikmah.Pendirian lembaga Baitul Hikmah atau wisma kebijaksanaan dilakukan oleh khalifah Al-Makmun. Dalam lembaga pendidikan tersebut merupakan wujud keinginan mengulang (meniru) lembaga “hebat” yang didirikan oleh orang-orang Kristen Neotorians, yakni Gondeshapur yang salah satu tokohnya Gorgius Gabriel.
Baitul Hikmah ini mengalami kemajuan pesat pada masa khalifah Al ma’mun. Baitul Hikmah merupakan salah satu contoh perpustakaan Islam yang lengkap, yang berisi ilmu agama Islam dan bahasa arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada masa itu dan berbagai macam buku terjemahan dari bahasa-bahasa Yunani, Persia, India, Qibty dan aramy. Perpustakaan-perpustakaan Islam pada masa jayanya dikatakan sudah menjadi aspek budaya, dikatakan sudah menjadi budaya yang penting, sekaligus sebagai tempat belajar dan sumber ilmu pengetahuan, baik agama maupun ilmu umum.
Baitul Hikmah berkembang maju di bawah pengganti al-Ma’mun, al-Mu’tasim dan al-Wathiq tetapi menurun di bawah pemerintahan al-Mutawakkil. Ini disebabkan al-Ma’mun, al-Mu’tasim dan al-Wathiq mengikut mazhab Muktazilah tetapi al-Mutawakkil mengikut aliran Islam tradisional. Al-Mutawakkil hendak menghentikan merebaknya falsafah Greek yang merupakan salah satu asas ajaran Muktazilah. Sama seperti perpustakaan lain di Baghdad, Baitul Hikmah dimusnahkan masa pencerobohan Mongol pada tahun 1258. Diriwayatkan Sungai Tigris menjadi hitam selama enam bulan kerana dakwat dari buku-buku yang dihumbankan ke dalam sungai.

B. Peranan Baitul Hikmah bagi Peradaban Islam
Masa dinasti abasiyyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pada masa ini umat Islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan, sehingga mengalami kemajuan pesat. Pengalihan ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara menerjemahkan berbagai buku karangan bangsa-bangsa terdahulu, seperti buku-buku karya bangsa Yunani, Romawi dan Persia. Berbagai naskah yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika seperti Mesopotamia dan Mesir juga menjadi perhatian.
Banyak para ahli yang berperan dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan adalah kelompok mawali atau orang-orang non arab, seperti Persia. Pada masa permulaan Dinasti Abasiyah, belum terdapat pusat-pusat pendidikan formal, seperti sekolah-sekolah. Akan tetapi sejak masa pemerintahan Harun Ar Rasyid mulailah dibangun pusat-pusat pendidikan formal seperti Darul Hikmah dan pada masa Al Ma’mun dibangun Baitul Himah yang kelak dari lembaga ini melahirkan para sarjana dan para ahli ilmu pengetahuan yang membawa kejayaan bagi umat Islam.
Pada masa Al Ma’mun ilmu pengetahuan dan kegiatan intelektual mengalami masa kejayaanya. Ia mendirikan Baitul Hikmah yang menjadi pusat kegiatan ilmu, terutama ilmu pengetahuan nenek moyang Eropa (Yunani). Pada masa itu banyak karya-karya Yunani yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Selanjutnya model ini dikembangkan di Darul Hikmah Cairo kemudian diterima kembali oleh barat melalui Cordova dan kota-kota lain di Andalusia.
Khalifah Al Ma’mun lebih lagi melangkah, yaitu mengirim tim-tim sarjana ke berbagai pusat ilmu di dunia, untuk mencari kitab-kitab penting yang harus diterjemahkanya. Hal inilah salah satu yang menjadikan Islam mengalami kemajuan. Karena umat Islam bis mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang ada di penjuru dunia.
Disamping sebagai pusat penerjemahan, Baitul Hikmah juga berperan sebagai perpustakaan dan pusat pendidikan. Karena pada masa perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, buku mempunyai nilai yang sangat tinggi. Buku merupakan sumber informasi berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikembangkan oleh ahlinya. Orang dengan mudah dapat belajar dan mengajarkan ilmu pengetahuan yang telah tertulis dalam buku. Dengan demikian buku merupakan sarana utama dalam usaha pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan. Sehingga Baitul Hikmah selain menjadi lembaga penerjemahan juga sebagai perpustakaan yang mengoleksi banyak buku.
Pada masa ini berkembang berbagai macam ilmu pengetahuan, baik itu pengetahuan umum ataupun agama, seperti Al Qur’an, qiraat, Hadits, Fiqih, kalam, bahasa dan sastra. Disamping itu juga berkembang empat mazhab fiqih yang terkenal, diantaranya Abu Hanifah pendiri madzhab Hanafi, Imam Maliki ibn Anas pendiri madzhab Maliki, Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i pendiri madzhab syafi’i dan Muhammad ibn Hanbal, pendiri madzhab Hanbali. Disamping itu berkembang pula ilmu-ilmu umum seperti ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, alam, geometri, aritmatika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran dan kimia. Ilmu-ilmu umum masuk kedalam Islam melalui terjemahandi Baitul Hikmah dari bahasa Yunani dan persia ke dalam bahasa Arab, disamping dari bahasa India. Pada masa pemerintahan al Ma’mun pengaruh Yunani sangat kuat. Diantara para penerjemah yang masyhur saat itu ialah Hunain ibn Ishak, seorang Kristen Nestorian yang banyak menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Ia terjemahkan kitab Republik dari Plato dan kitab Kategori, Metafisika, Magna Moralia dari dari Aristoteles.
Peran Baitul Hikmah memang sangat besar dalam kemajuan peradaban Islam, terutama dalam ilmu pengetahuanya yang pada masa itu lahir banyak ilmuan-ilmuan Islam, berikut Sarjana-sarjana dan ilmuan-ilmuan yang lahir dari lembaga ini:
1. Ilmu Pengetahuan Umum
Dibidang ilmu pengetahuan umum banyak lahir ilmuan-ilmuan besar dan sangat berpengaruh terhadap peradaban islam.
a. Ilmu kedokteran
1) Hunain ibn Ishaq (804-874 M), terkenal sebagai dokter penyakit mata.
2) Ar Razi (809-873 M), terkenal sebagai dokter ahli penyakit cacar dan campak. Buku karanganya dibidang kedokteran berjudul Al Hawi.
3) Ibn sina (980-1036 M), karyanya yang terkenal adalah al Qonun fi at-Tibb dan dijadikan buku pedoman kedokteran bagi universitas di negara Eropa dan negara islam.
4) Abu Marwan Abdul Malik ibn Abil’ala ibn Zuhr (1091-1162 M), terkenal sebagai dokter ahli penyakit dalam. Karyanya yang terkenal adalah At Taisir dan Al Iqtida.
b. Ibn Rusyd (520-595 M), terkenal sebagai perintis penelitian pembuluh darah dan penyakit cacarIlmu Perbintangan
1) Abu Masy’ur al Falaki, karyanya adalah Isbatul’Ulum dan Haiatul Falaq.
2) Jabir Al Batani, pencipta teropong bintang yang pertama, karya yang terkenal adalah Kitabu Ma’rifati Matlil-Buruj Baina Arba’il Falaq.
5) Raihan Al Biruni, karya yang terkenal adalah at-Tafhim li Awa’ili Sina’atit-Tanjim.
c. Ilmu Pasti (Riyadiyat)
1) Sabit bin Qurrah al Hirany, karyanya yang terkenal adalah Hisabul Ahliyyah.
2) Abdul Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin Abbas, karyanya yang terkenal ialah Ma Yahtaju Ilaihi Ummat Wal Kuttab min Sinatil-hisab.
3) Al Khawarijmi, tokoh matematika yang mengarang buku al Jabar.
4) Umar Khayam, karyanya tentang al Jabar yang bejudul Treatise on al-Gebra telah diterjemahkan oleh F Woepcke ke dalam bahasa Perancis (1857 M). Karya Umar Khayam lebih maju daripada al Jabar karya Euklides dan Al Khawarizmi.
d. Ilmu farmasi dan Kimia
Salah satu ahli farmasi adalah ibn Baitar, karyanya yang terkenal adalah Al Mugni, Jami’ Mufratil Adwiyyah, wa Agziyah dan Mizani tabib. Adapun dibidang Kimia adalah Abu Bakar Ar Razi dan Abu Musa Ya’far al Kufi.
e. Ilmu Filsafat
Tokoh-tokoh filsafat Islam antara lain, Al Kindi (805-873), Al Farabi (872-950 M) dengan karyanya Ar-Ra’yu Ahlul Madinah al Fadilah, Ibnu sina (980-1036 M), Al Ghazali (450-505 M) dengan karya Tah-Afut al-Falasifat, Ibnu Rusyid dan lain-lain.
f. Ilmu Sejarah
Ahli Sejarah yang lahir pada masa itu adalah Abu Ismail al Azdi, dengan karyanya yang berjudul Futuhusyi Syam, al Waqidy dengan karyanya al Magazi, Ibn Sa’ad dengan karyanya at-Tabaqul Kubra dan Ibnu Hisyam dengan karyanya Sirah ibn Hisyam.
g. Ilmu Geografi
Tokohnya ialah Ibnu Khazdarbah dengan karyanya Kitabul masalik wal Mamalik, Ibnu Haik dengan karyanya Kitabus Sifati Jaziratil-‘arab dan Kitabul Iklim, Ibn Fadlan dengan karyanya Rihlah Ibnu fadlan.
h. Ilmu Sastra
Pada masa itu juga berkembang ilmu sastra yang melahirkan beberapa penyair terkenal seperti, Abu Nawas, Abu Atiyah, Abu Tamam, Al Mutannabbi dan Ibnu Hany. Di samping itu mereka juga menghasilkan karya sastra yang fenomenal seperti Seribu Satu Malam “Alf Lailah Walailah”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Arabian Night.
2. Ilmu Agama
Di samping ilmu pengetahuan umum, pada masa itu berkembang pula ilmu agama dengan tokoh-tokohnya sebagai berikut:
a. Ilmu Tafsir
Pada masa itu berkembang 2 macam tafsir dengan tokoh-tokohnya:
1) Tafsir Bil Ma’tsur (penafsiran ayat Al Qur’an oleh Al Qur’an atau Hadits Nabi), diantara tokohnya adalah Ibnu Jarir At Tabari, Ibnu Atiyah al Andalusy, Muhammad Ibn Ishak dan lain-lain.
2) Tafsir Bir-Ra’yi (Tafsir dengan akal pikiran), diantara tokohnya adalah Abu Bakar Asam, Abu Muslim Muhammad bin Bahr Isfahany, Ibnu Juru Ak Asadi dan lain-lain.
b. Ilmu Hadits
Pada masa itu sudah ada pengkodifikasian Hadits sesuai kesahihannya. Maka lahirlah ulama-ulama Hadits terkenal seperti Imam Bukhori, Muslim, At Tirmadzi, Abu Dawud, Ibn Majah dan An Nasa’i. Dan dari merekalah diperoleh Kutubus Sittah.
c. Ilmu Kalam
Ilmu Kalam lahir karena dua faktor, yaitu musuh Islam ingin melumpuhkan Islam dengan filsafat dan semua masalah termasuk agama berkisar pada akal dan ilmu. Diantar tokohnya ialah Wasil ibn Atho’, Abu Hasan Al Asy’ari, Imam Ghozali dan lain-lain.
d. Ilmu Tasawuf
Diantara tokohnya adalah al Qusairy dengan karyanya Risalatul Qusairiyah dan Al Ghozali dengan karyanya Ihya’ Ulumuddin.
e. Ilmu bahasa
Pada masa itu kota Basrah dan kuffah menjadi pusat kegiatan bahasa. Diantara tokohnya ialah Sibawaih, AL Kisai dan Abu Zakariya al Farra.
f. Ilmu Fikih
Pada masa ilmu fikih juga berkembang pesat, terbukti pada masa ini muncul 4 madzhab fiqih, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.
Dari uraian di atas maka lelas bahwa ilmu pengetahuan ini hanya dapat maju apabila masyarakat berkembang dan berperadaban. Jika kita ketahui bahwa pendidikan akan maju maka suatu rakyat harus sejahtera, disamping itu segala sarana yang menunjang lengkap. Hal itulah yang terjadi di Bagdad dengan Baitul Hikmah yang mampu memajukan peradaban Islam.

IV. KESIMPULAN
Baitul Hikmah bahasa Arab Bait al-Hikmah adalah perpustakaan dan pusat penerjemahan pada masa dinasti Abbasiah yang terletak di Bagdad. Pada mulanya Harun ar Rasyid (736-809 M) mendirikan Khizanat Al Hikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan, tempat penerjemahan dan penelitian. Kemudian pada tahun 815 M Al Ma’mun (813-833 M) mengubahnya menjadi Baitul Hikmah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang berasal dari persia, Bizantium, Eithopia dan India.
pada masa Al Ma’mun Baitul Hikmah mengalami kemajuan yang luar biasa. Karena pada saat itu Baitul Hikmah menjadi pusat kajian yang memunculkan banyak ilmuan, baik ilmuan agama atau ilmu umum. Maka di sinilah Baitul Hikmah mempunyai peranan yang cukup besar dalam memajukan peradaban Islam, bahkan pada masa itu Islam mengalami masa keemasanya ”The golden age of Islam”.

V. PENUTUP
Demikian uraian makalah ini, kami sadar masih banyak kekurangan ataupun kesalahan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin……

DAFTAR PUSTAKA

A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973).
Issawi, Charles, Filsafat Islam Tentang Sejarah, (Jakarta: Tintamas, 1976).
Karim, M Abdul, Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007).
Mubarok, Jaiha, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005).
Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997).
Syukur, Patah, Sejarah Peradaban Islam 2, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2008).
Wahid, N Abbas dan Suratno, Khasanah sejarah Kebudayaan Islam, (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009).
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 51
Zuhairi dkk, Sejarah Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992).

http://ms.wikipedia.org/wiki/Baitul_Hikmah.25/05/2011

PERADABAN ISLAM DI MASA AL-MAKMUN

Standar

PERADABAN ISLAM DI MASA AL-MAKMUN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Drs. H. Mad Solikhin Nur, M.Ag

Disusun oleh:
Susi Ifattur Rosyidah (103111098)
Syafikur Rohman (103111099)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

PERADABAN ISLAM DI MASA AL-MAKMUN

I. PENDAHULUAN
Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di bumi. Proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman pada ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al Qur`an dan terjabar dalam Sunnah Rasul bermula sejak Nabi Muhmmad SAW menyampaikan ajaran tersebut pada umatnya.
Pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dibagi dalam lima periodisasi, yaitu periode pembinaan pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW, periode pertumbuhan pendidikan Islam yang berlangsung sejak Nabi Muhammad SAW wafat sampai masa akhir Bani Umayyah, periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah sampai jatuhnya Baghdad, periode kemunduran pendidikan Islam, yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat dan periode pembaharuan pendidikan Islam yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini yang ditandai dengan gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.
Dalam makalah ini akan dibahas Sejarah Pendidikan Islam pada masa Al-Ma’mun yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu aqliyah dan timbulnya madrasah serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam.
Pembahasan pada masa ini merupakan rangkaian pembahasan Sejarah Pendidikan Islam, Karena pada hakikatnya suatu peristiwa sejarah seperti halnya Sejarah Pendidikan Islam selalu berkaitan dengan peristiwa lainnya yang saling berhubungan yang mengakibatkan terjadinya rentetan peristiwa serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat.
Semoga dengan makalah ini pembaca dapat menambah pengetahuan tentang peristiwa sejarah khususnya Sejarah Pendidikan Islam pada Masa Al-Makmun.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Riwayat Hidup Al-Makmun?
B. Perluasan Daerah Islam Selama Pemerintahan Al-Makmun?
C. Sistem Ketatanegaraan Al-Makmun?
D. Bagaimana Masa kejayaan al-Makmun?

III. PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup Al-Ma’mun
Al-Makmun Abdullah Abu Al-Abbas bin Ar-Rasyid, dilahirkan pada tahun 170 H, tepat pada malam jum’at di pertengahan bulan Rabi’ul Awwal. Pada malam itu bersamaan dengan kematian Al-Hadi dan digantikan oleh ayahnya, Ar-Rasyid.
Ibunya adalah mantan budak yang kemudian dikawini oleh ayahnya. Namanya Murajil, dia meninggal saat masih dalam keadaan nifas setelah melahirkan Al-Ma’mun, sejak kecil Al-Ma’mun telah belajar banyak ilmu. Dia menimba ilmu hadits dari ayahnya dari Hasyim, dari Ibad bin Al-Awam, dari Yusuf bin ‘Athiyyah, dari Abu Mu’awiyah adh-Dharir, dari Ismail bin ‘Aliyah, Hajjaj Al-A’war dan Ulama-ulama lain di zamannya.
Al-Yazidi adalah orang yang menggemblengnya. Dia sering kali mengumpulkan para fukaha dari berbagai penjuru negeri. Dia memiliki pengetahuan yang sangat luas dalam masalah fiqih, ilmu bahasa arab, dan Sejarah umat manusia. Saat dia menjelang dewasa, dia banyak bergelut dengan ilmu filsafat dan ilmu-ilmu yang pernah berkembang di yunani sehingga membuatnya menjadi seorang pakar dalam bidang ilmu ini. Ilmu filsafat yang dia pelajari telah menyeretnya kepada pendapat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.
Dia adalah tokoh Bani Abbasiyyah yang paling istimewa dalam kemauannya yang kuat, kesabaran, keluasan ilmu, kecemerlangan ide, kecerdikan, kewibawaan, keberanian dan ketolerannya. Dia memiliki kisah hidup panjang yang penuh dengan kebaikan-kebaikan. Sayangnya jejak kehidupannya yang demikian baik sedikit tercemari dengan peristiwa yang menggemparkan saat dia mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.
Tidak seorang pun dari khalifah Bani Abbasiyyah yang lebih pintar darinya. Dia adalah seorang pembicara yang fasih dan singa podium yang lantang. Tentang kefasihannya dia berkata, “Juru bicara mu’awiyah adalah ‘Amr bin Ash, juru bicara Abdul Malik adalah Hajjaj, dan juru bicara saya adalah diri saya sendiri.” Disebutkan bahwa di dalam Bani Abbas itu ada Fatihah (pembuka), wastilah (penengah), dan Khatimah (penutup). Adapun pembukanya adalah As-Saffah, penengahnya adalah Al-Makmun dan penutupnya adalah Al-Mu’tadhid.

B. Perluasan Daerah Islam Selama Pemerintahan Al-Ma’mun
Al-Makmun Khalifah Penyokong Ilmu Pengetahuan dan menempatkan para intelektual dalam posisi yang mulia dan sangat terhormat. Di era kepemimpinannya, Ke khalifahan Abbasiyah menjelma sebagai adikuasa dunia yang sangat disegani. Wilayah kekuasaan dunia Islam terbentang luas mulai dari Pantai Atlantik di Barat hingga Tem bok Besar Cina di Timur. Dalam dua dasawarsa kekuasaannya, sang khalifah juga berhasil menjadikan dunia Islam sebagai penguasa ilmu pengetahuan dan peradaban di jagad raya.
Khalifah Abbasiyah ketujuh yang mengantarkan dunia Islam pada puncak penca paian itu bernama Al-Ma’mun. Ia di kenal sebagai figur pemimpin yang dianuge rahi intelektulitas yang cemerlang. Ia menguasai beragam ilmu pengetahuan. Kemampuan dan kesuksesannya mengelola pemerintahan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.
Berkat inovasi gagasannya yang brilian, Baghdadibu kota Abbasiyah menjadi pusat kebudayaan dunia. Sang khalifah sangat menyokong perkembangan aktivitas keilmuan dan seni. Perpustakaan Bait Al-Hikmah yang didirikan sang ayah, Khalifah Harun Ar-Rasyid disulapnya menjadi sebuah universitas virtual yang mampu menghasilkan sederet ilmuwan Muslim ng melegenda.
Khalifah yang sangat cinta dengan ilmu pengetahuan itu mengundang para ilmuwan dari beragam agama untuk datang ke Bait Al-Hikmah. Al-Ma’mun menempatkan para intelektual dalam posisi yang mulia dan sangat terhormat. Para filosof, ahli bahasa, dokter, ahli fisika, matematikus, astronom, ahli hukum, serta sarjana yang menguasai ilmu lainnya digaji dengan bayaran yang sangat tinggi.
Dengan insentif dan gaji yang sangat tinggi, para ilmuwan itu dilecut sema ngatnya untuk menerjemahkan beragam teks ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa seperti Yunani, Suriah, dan San sekerta. Demi perkembangan ilmu pengetahuan, Al-Ma’mun mengirim seorang utusan khusus ke Bizantium untuk mengumpulkan beragam munuskrip termasyhur yang ada di kerajaan itu untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Ketika Kerajaan Bizantium bertekuk lutut terhadap pemerintahan Islam yang dipimpinnya, sang khalifah memilih untuk menempuh jalur damai. Tak ada penjarahan terhadap kekayaan intelektual Bizantium, seperti yang dilakukan peradaban Barat ketika menguasai dunia Islam. Khalifah Al-Ma’mun secara baikbaik meminta sebuah kopian Almagest atau al-kitabu-l-mijisti (sebuah risalah tentang matematika dan astronomi yang ditulis Ptolemeus pada abad kedua) kepada raja Bizantium.

C. Sistem Ketatanegaraan Al-Makmun
Al-Makmun pengganti Ar-Rasyid, dikenal sebagai Khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani beliau Menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karyanya yang terpenting adalah pembangunan bait al-hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Makmun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, Khalifah Al-Makmun memperluas Baitul Hikmah (Darul Hikmah) yang didirikan ayahnya, Harun Ar-Rasyid, sebagai Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia. Baitul Hikmah diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan, dan tempat penelitian. Lembaga ini memiliki ribuan buku ilmu pengetahuan.
Lembaga lain yang didirikan pada masa Al-Makmun adalah Majalis Al-Munazharah sebagai lembaga pengkajian keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan istana khalifah. Lembaga ini menjadi tanda kekuatan penuh kebangkitan Timur, di mana Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan puncak keemasan Islam.
Sayangnya, pemerintahan Al-Makmun sedikit tercemar lantaran ia melibatkan diri sepenuhnya dalam pemikiran-pemikiran teologi liberal, yaitu Muktazilah. Akibatnya, paham ini mendapat tempat dan berkembang cukup pesat di kalangan masyarakat.
Kemauan Al-Makmun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tidak mengenal lelah. Ia ingin menunjukkan kemauan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat tradisi Yunani. Ia menyediakan biaya dan dorongan yang kuat untuk mencapai kemajuan besar di bidang ilmu. Salah satunya adalah gerakan penerjemahan karya-karya kuno dari Yunani dan Syria ke dalam bahasa Arab, seperti ilmu kedokteran, astronomi, matematika, dan filsafat alam secara umum.
Ahli-ahli penerjemah yang diberi tugas Khalifah Al-Makmun diberi imbalan yang layak. Para penerjemah tersebut antara lain Yahya bin Abi Manshur, Qusta bin Luqa, Sabian bin Tsabit bin Qura, dan Hunain bin Ishaq yang digelari Abu Zaid Al-Ibadi.
Hunain bin Ishaq adalah ilmuwan Nasrani yang mendapat kehormatan dari Al-Makmun untuk menerjemahkan buku-buku Plato dan Aristoteles. Al-Makmun juga pernah mengirim utusan kepada Raja Roma, Leo Armenia, untuk mendapatkan karya-karya ilmiah Yunani Kuno yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Selain para pakar ilmu pengetahuan dan politik, pada Khalifah Al-Makmun muncul pula sarjana Muslim di bidang musik, yaitu Al-Kindi. Khalifah Al-Makmun menjadikan Baghdad sebagai kota metropolis dunia Islam sekaligus pusat ilmu pengetahuan, pusat kebudayaan, peradaban Islam, dan pusat perdagangan terbesar di dunia selama berabad-abad lamanya.

D. Masa Kejayaan Al-Makmun
Puncak kejayaan dinasti Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan anaknya Al-Makmun (813-833M). Setelah ayahnya memerintah negara dalam keadaan makmur, kekayaannya melimpah, dan keamanan terjamin, walaupun masihn adan juga pemberontakan.
Dalam fase keemasan inilah lahir berbagai ilmu Islam, dan telah diterjemahkan berbagai ilmu penting kedalam bahasa Arab. Ilmu-ilmu umum masuk kedalam Islam melalui terjemahan dari bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab, disamping bahasa india. Pada masa pemerintahan Al-Makmun, pengaruh Yunani sangat kuat. Di antara para penerjemah yang masyhur saat itu adalah Hunain bin Ishak, seorang kristen Nestorian yang banyak menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani ke bahasa Arab. Ia menerjemahkan kitab Republik dari Plato, dan kitab Katagori, Metafisika, Magna Moralia dari Aristoteles.
Lembaga pendidikan dimasa dinasti Abbasiyah mengalami perkembangan dan kemajuan sangat pesat. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak masa bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Disamping itu kemajuan tersebut paling tidak, juga ditentukan oleh dua hal, yaitu sebagai berikut:
1. Terjadi asimilasi antara bahasa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
2. Gerakan penerjemahan dilakukan dalam tiga fase. Fase pertama pada Khalifah Al-Mansyur hingga Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Fase kedua berlangsung mulai Khalifah Al-Makmun hingga Tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang Filsafat dan kedokteran pada fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas, selanjutnya bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
IV. KESIMPULAN
A. Riwayat Hidup Al-Makmun
Al-Ma’mun Abdullah Abu Al-Abbas bin Ar-Rasyid, dilahirkan pada tahun 170 H, tepat pada malam jum’at di pertengahan bulan Rabi’ul Awwal. Ibunya adalah mantan budak yang kemudian dikawini oleh ayahnya. Namanya Murajil, dia meninggal saat masih dalam keadaan nifas setelah melahirkan Al-Ma’mun.
B. Perluasan Daerah Islam Selama Pemerintahan Al-Makmun
Wilayah kekuasaan dunia Islam terbentang luas mulai dari Pantai Atlantik di Barat hingga Tembok Besar Cina di Timur.
C. Sistem Ketatanegaraan Al-Makmun
Al-Makmun pengganti Ar-Rasyid, dikenal sebagai Khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani beliau Menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli.
D. Masa kejayaan al-Makmun
Puncak kejayaan dinasti Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan anaknya Al-Makmun (813-833M). Setelah ayahnya memerintah negara dalam keadaan makmur, kekayaannya melimpah, dan keamanan terjamin, walaupun masihn adan juga pemberontakan. Dalam fase keemasan inilah lahir berbagai ilmu Islam, dan telah diterjemahkan berbagai ilmu penting kedalam bahasa Arab.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah Sejarah Peradaban Islam di masa Al-Makmun ini kami sampaikan, kami telah berusaha maksimal dalam penulisan makalah ini, jika masih ada kesalahan dan kekurangan di dalamnya. Kritik dan saran yang konstruktif senantiasa kami nantikan sebagai bahan evaluasi. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Amir Amin, Samsul,Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2009. cet. I
As-Suyuthi, Imam, Tarikh Al-Khlafa’, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2000.
Hajmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1986. cet. III
Yatim, Badri, Sejarah Peraddaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003. Cet XV.

http://alkisahteladan.blogspot.com/2009/09/al-mamun-khalifah-penyokong-ilmu.html

http://abihafiz.wordpress.com/2011/05/19/daulah-abbasiyah-al-makmun-khalifah-pengembang-sains/

PERADABAN ISLAM DI MASA HARUN AR-ROSYID

Standar

PERADABAN ISLAM DI MASA HARUN AR-ROSYID
MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Tafsir
Dosen Pengampu: Drs.M. Sholikhin Nur, M. Ag

Disusun oleh:
Siti Thoifah (103111096)
Sobihin (103111097)

FAKULTAS TARBIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

PERADABAN ISLAM DI MASA HARUN AR-RASYID
I. PENDAHULUAN
Harun ibnu Muhammad naik menjadi khalifah yang kelima menggantikan saudaranya khalifah Al-Hadi pada tahun 170 H / 780 M dalam usia 22 tahun dengan panggilan Harun Ar-Rasyid (170-193 H/786-809 M).
Masa pemerintahan ini merupakan permulaan zaman emas bagi sejarah dunia islam belahan timur seprti halnya masa pemerintahan Amir Abdurrahman II (206-238H/822-252 M) di Cordofa merupakan permulaan zaman emas dalam sejarah dunia islam belahan barat.
Penguasa yang termashur ini, yang pada masanya kecakapan khusus bangsa Arab mencapai perkembangannaya yang tertinggi, memiliki keistimewaan diantara penguasa yang menggantikan Muhammad. Gagah berani, dermawan, yang maha agung ia menolak setiap rayuan untuk mempergunakan kekuasaan tertinggi yang berada di tangannya itu secara sewenang-wenang terhadap rakyat yang tidak pernah menggerutu atas setiap kehendaknya, dan ia memerintah dengan keseluruhan perhatian tertentu bagi menjaminkan kebahagiaan rakyatnya.
Untuk lebih jelas pada makalah ini akan sedikit paparkan mengenai peradaban islam pada masa Harun Ar-Rasyid dengan rumusan masalah seperti dibawah ini.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Riwayat Harun Ar-Rasyid?
B. Apa Penaklukan-penaklukan Pada Masa Pemerintahannya?
C. Apa Peristiwa-peristiwa Pada Masa Pemerintahnnya?

III. PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup Harun Ar-Rasyid
Harun Ar-Rasyid bernama lengkap Abu Ja’far bin Al-Mahdi bin Al-Mansyur Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas. Ia lahir di Rayy pada 766 M. Ia adalah khlifah kelima dari kekhalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khlifah yang ketiga dan kakaknya, Musa Al-Hadi adalah khalifah yang keempat. Ibunya Jurasiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman.
Ia diangkat sebagai khalifah setelah kakaknya. Khlifah Al-Hadi wafat pada malam sabtu, 16 Rabi’ul Awwal 170 H. Pada malam itu juga lahir anak Harun Ar-Rasyid, yaitu Abdullah Al-Ma’mun. Tidak ada satu malam pun sejarah manusia, ada seorang khalifah yang wafat, lalu dilantik khalifah yang baru dan lahir pada saat itu juga seorang calon khalifah, kecuali malam itu.
Khalifah Harun Ar-Rasyid memiliki wajah rupawan dan murah senyum, berkulit putih dan tinggi. Kata-katanya fasih dan memiliki wawasan yang luas. Pada saat ia berkuasa, ia selalu melakukan solat sebanyak 100 rakaat setiapa harinya sampai wafatnya. Ia tidak pernah meninggalkan kebiasaan baiknya itu kecuali dalam keadaan sakit. Ia juga bersedekah dari sakunya sendiri sebanyak 1000 dirham setiap harinya.
Ia sosok khalifah yang mencintai ilmu dan sangat senang kepada orang-orang yang berilmu dan mengagungkan perintah dan larangan Allah SWT. Ia pun sangat tidak suka membicarakan sesuatu yang telah jelas nas-nya dalam agama. Ia dikenal luas suka menangis atas kesalahan dan dosa-dosanya, khususnya jika ia dinasehati.
Harun dikenal sebagai sosok khalifah yang selalu setia mendenganrkan nasihat-nasihat dan sering kali menangis karena takut kepada Allah. Dia adalah salah seorang khalifah yang memiliki sifat-sifat utama. Dia seorang yang fasih dalam berbicara. Juga salah seorang ulama diantara mereka dan orang yang paling mulya dan terhormat.
Sebab-sebab penting yang menyebabkan khalifah Harun ar-Rosyid begitu masyhur adalah naungaannya ke atas ilmu pengetahuan dan mendirikan Baitul Hikmah yang merupakan sebuah ilustrasi kebudayaan dan pikiran yang cemerlang ketika itu, dan merintis jalan ke arah kebangkitan. Beliau juga membuat buku seribu satu malam yang menduduki tempat paling atas di bidang kesusastraan dunia.
Diantara kerja mulia yang dia lakukan untuk ilmu pengetahuan dalam mendirikan Baitul Hikmah, sebuah akademi yang menjadi mercusuar ilmu dan peradaban di dunia pada masa itu. Sebuah akademi yang darinya muncul obor bagi kebangkitan sains di Eropa setelah itu.
Sebelum meninggal dia mewariskan kekuasaan kepada kedua anaknya, Al-Amin dan Al-Ma’mun. Ini menjadi fitnah yang bertiup kencang yang terjadi diantara dua saudara ini setelah kematiannya. Fitnah ini menelan korban yang sangat besar dari kaum muslimin.
Pada 24 Maret 809 (3 Jumadil Akhir 193 H) Harun Ar-Rasyid wafat. Ia meninggalkan uang 1 dinar, dan binatang peliharaan yang harganya diperkirakan 1.025.000 dinar. Ia disolatkan oleh seluruh pasukannya dan yang bertindak sebagai imam atas jenazahnya adalah anaknya sendiri yang bernama Soleh bin Harun Ar-Rasyid.

B. Penaklukan-penaklukan Pada Masa Pemerintahannya
Penaklukan Heraclee. Peperangan di negri Romawi terus berlanjut dan tidak pernah terputus. Bahkan, tak jarang Harun Ar-Rasyid memimpin langsung pertempuran. Pada tahun 187H/802M, orang-orang Romawi mengingkari janji tatkala yang berkuasa atas mereka adalah Naqfur (dalam bahasa Inggris disebut dengan Nicheporus I [802-811 M], pen) yang menulis surat kepada Harun, “ Dari Nicephorus Raja Romawi kepada Harun raja Arab. Jika Engkau telah membaca surat ini, maka kembalikan semua harta benda yang telah diberikan kepadamu sebelum ini dan jadikan dirimu sebagai tebusan. Jika tidak, maka yang akan berbicara antara kamu dan aku adalah pedang.”
Setelah memabaca surat ini, Harun sangat marah dan segera membalas surat tersebut, “ Dari Harun Amirul Mukminin kepada Nicephorus anjing Romawi saya telah membaca suratmu wahai anak wanita akhir. Sedangkan, jawabannya adalah apa yang akan engkau lihat dan bukan apa yang engkau dengar”.
Harun segera berangkat dengan pasukan yang sangat besar dan mewajibkan bagi musuhnya untuk membayar jizyah. Harun berhasil memasuki kota Heraclee dan menguasainya. Dia juga berhasil menawan salah seorang putri raja mereka dan berhasil merampas harta rampasan perang dalam jumlah yang sangat besar. Pada masanya juga orang-orang Siprus mengingkari janji sehingga mereka pun ditaklukan .

C. Peristiwa-peristiwa Pada Pemerintahannya
1. Keserentakan tiga peristiwa
Sejarah mencatat bahwa pada malam itu seorang Khalif mangkat dan seorang Khalif dibatlkan dan seorang bakal Khalif dibatalakan dan seorang bakal Khalif lahir. Sekaliyannya terjadi dalam waktu yang bersamaan.
Putranya yang lahir pada malam itu, yakni Abdullah yang belakangan menjabat Khalif Al-Ma’mun, adalah putra dari istri kedua berkebangsaan Iran. Sedangkan putranya yang pertama, yakni Muhammad yang belakangan menjabat Khalif Al-Amin, adalah putra dari istri pertama tuan Putri Zubaidah dari turunan keluarga Hasyimi.

2. Mata Air Zubaidah
Pada tahun 173 H/789 M berlangsung suatu peristiwa yang amat tercatat sekali di dalam sejarah. Khalif Harun Al Rasyid dengan keluarganya dan pasukan pengertiannya berangkat menunaikan rukun kelima ke tanah suci dengan berjalan kaki. Ia menolak untuk menggunakan kendaraan apapun juga kecuali bagi mengangkut peralatan dan perbekalan. Dengan begitu ia inigin merasakan kesulitan kalangan umum didalam menunaikan haji.
Syukur saja bahwa bapaknya Khalif Al-Mahdi telah menggali telaga-telaga air tawar (al-Abar) pada temapt-tempat perhentian dan membangun kolam-kolam air tertutup (al-Bark) pada jarak tertentu dengan petugas-pertugas yang harus terus menerus mengisinya pada setiap musim haji.
Pada masa itu lah permaisurinya tuan putri Zubaidah mendorongkan pembangunan saluran air untuk kota suci Makkah dari salah satu sumber mata air yang terletak jauh di luar kota Makkah. Bagi pembanguna saluran air tawar itu tuan Putri Zubaidah mengeluarkan pembiayaan yang sekian besarnya. Saluran air itu lah yang dikenal sampai pada masa kita sekarang ini dengan Ain Zubaidah atau Mata Air Zubaidah.

3. Serangan pihak Khazars
Pada tahun 183 H / 799 M berlangsung serangan pihak Khazars, yang mendiami hulu sungai Donau dan sungai Wolga di sebelah utara Kaukasus, terhadap wilayah Georgia dan Armenia dan Azarbeijan. Serangan itu amat mendadak sekali terjadi pembunuhan-pembunuhan masal disana terhadap orang islam dan orang dzimmy (bukan islam) beserta pembakaran dan pemusnahan dan rebut rampas.

4. Serangan Bizantium
Pada tahun 790 M, demikian William L.Langer di dalam Encyclopedia of World history cetakan 1956 halaman 176, kaisar Constantine VI menggerakan serangan pada perbatasan Asia kecil di sebelah selatan dan pada perbatasan Bulgaria untuk melaksanakankristenisasi di situ dalam kalangan suku-suku Slavs dan tujuan ke selatan untuk memulihkan kekuasaan imperium Roma Timur dalam wilayah syria dan palistina.
Akan tetapi serangan balasan dari pihak Khalif Harun Al-Rasyid dan begitupun serangan balasan dari pihak King Kardam (790-797 M) dari Bulgaria telah menyebabkan pasukan Bizantium menderita kehancuran pada medan-medan pertempuran. Kekalahan yang terus menerus itu telah menyebabkan timbul tantangan terhadap Kaisar Constantine IV, terutama dari kalangan para Rahib (Monks)yang pengaruhnya teramat kuat terhadap kalangan Awwam.

5. Serangan Kaisar Necephorus
Muhyeddin Al Khayyat dalam Tarikhul Islami jilid IV halaman 40 mencatat bahwa pada tahun 187 H/803 M tiba perutusan Kaisar Nicephorus di Baghdad membawa sepucuk surat yang menurut pengembaliam seluruh upeti-tahunan yang telah pernah diterimakan pihak Baghdad dan surat itu di tutup dengan suatu ancaman berbunyi :”Urdud ma Akhazta mina’l-Mali wal-Illa fal-saifu baini wa bainaka,”kembalikan seluruh harta yang telah kau ambil itu, dan jikalau tidak, maka pedang akan menyeselaikan persoalan antara aku dan engkau”.
Terhadap surat yang tidak sopan itu, demikianmuhyeddin Al Khayyat, maka khalif harun Al-Rasyid telah memberikan jawabannya bukan pada lembaran kertas tersendiri akan tetapi di balik surat Kaisar Nicephorus itu, dengan tulisan tangan khalif Harun sendiri, berisikan kalimat pendek berbunyi :” Al-Jawabuma-Tara la ma-Tasmak”, bermakna, “jawabanya apa yang kau saksikan bukan apa yang kau Dengar’.

6. Tragedi Keluarga Bamerki
Tragedi keluarga bamerki agak merupakan cacat-hitam dalam emerintahan khalif Harun Al Rasyid. Semenjak Khalid ibn Barmak diankatmenjabat wazir oleh khalif Al Manshur maka pengaruh keluarga ini bertamba-tamba besar di dalam Daulat Abbasiah. Putranya Yahya ibn Khalid Al barmeki menjabat Wazir pada masa khalif Al Mahdi dan khalif Al Hadi cucunya ja’far ibn yahya Al Barmeki menjabatwazir pada masa khalif Harun Al Rasyid. Cucunya yang seorang lagi, fadhal ibn yahya Al Barmeki, menjabat Al Wali (Gubernur) wilayah Azarbaijan, sebuah wilayah bersejara tua di Tana Iran, yang pada abad keenam sebelum masehi merukan tempat kelahiran tokoh besar yang membangun Agama Zarathustra.

7. Kemangkatan Khalif Ar-Rasyid
Sekalipun khalif Al Rasyid sesampai di bagdad sakit akan tetapi perikeadaan dalam wilayah Khurasan itu amat mengawatirkannya hingga ia berkehendak untuk mengepalai sendiri pasukan bagi memadamkan pemberontakan di situ.
Pada tahun 193 H/809 M iapun berangkat bersama puteranya Amir Al Al Makmun dan pemerintahan di ibu kota diwakilkannya kepada puteranya Amir Al Amin.Sesampai di kota Thuss, dalam wilayah Khurasan, penyakitnya kambuh kembali hingga ia mangkat dalam usia 47 tahun dan memerinta selama 23 tahun dan 2 bulan lamanya. Menjelang ia wafat iapun telah meninggalkan wasiat bahwa puteranya Al Amin menggantikannya dan kemudian puteranya Al Makmun.
Khalifah Harun Ar-Rasyid merupakan penguasa yang paling kuat didunia pada saat itu, tidak ada yang menyamainya dalam hal perluasan wilayah yang diperintah, dan kekuatan pemerintahannya serta ketinggian kebudayaan dan peradaban yang berkembang di negaranya. Harun berada pada tingkat yang lebih tinggi peradabannya dan lebih besar kekuasaannya jika dibandingkan dengan Karel Agung di Eropa yang menjallin persahabatan dengannya karena motif saling memanfaatkan. Harun bersahabat dengan Karel untuk menghadap dinasti Umayah di Andalusia, sementara Karel berkepentingan dengan kholifah yang tersohor itu untuk menghadapi Bizantium.

IV. KESIMPULAN
Harun Ar-Rasyid bernama lengkap Abu ja’far bin Mahdi bin Al Manshur Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas. Ia lahar di Rayy pada 766 M. Ia adalah khalifah ke lima dari kekhalifahan Abbassiyah dan memerintah antara tahun 786-803
Peperangan di negeri Romawi terus lanjut dan tidak pernah terputus ,bahkan tak jarang Harun Ar Rasyid memimpin langsung pertempuran
Pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid banyak peristiwa-peristiwa sangat penting seperti keserentakan tiga peristawa, mata air zubaidah perusahaan arah ke dalam dan lain-lain.

V. PENUTUP
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua Amin…
DAFTAR PUSTAKA
Al-‘Usairy, Ahmad, Sejara Islam. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2008. cet.VI.
Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta:Amzah, 2009), cet I.
Iskandar, Salman, Tokoh Muslim Dunia. Bandung : PT. Mizan Bunaya Kreativa, 2007.
Syukur, Fatah, Sejarah Peradaban Islam. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010.cet.II.
Sou’yb, Joesoef, Sejarah Daulah Abbasiah. Jakarta:Bulan Bintang, 1977.

PERADAPAN ISLAM DI MASA ABU JA’FAR AL- MANSUR

Standar

PERADAPAN ISLAM DI MASA
ABU JA’FAR AL- MANSUR

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradapan Islam
Dosen Pengampu: Drs. H. M. Sholikhin Nur, M.Ag

Disusunoleh:

Nuzul Faizah (103111093)
Riza Rahmawati (103111094)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

PERADAPAN ISLAM DI MASAABU JA’FAR AL- MANSUR

I. PENDAHULUAN
Kekuasaan dinasti Bani Abbas, atau khalifah Abbasiyah sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al- Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al- Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn al- Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang yang panjang.
Setelah menjadi khalifah, Abu al- Abbas bergelar al- saffah penumpah darah mengeluarkan dekrit para Gubernur, supaya tokoh- tokoh umayyah yang memiliki darah biru semuanya dibunuh. Ia sendiri juga membunuh banyak rival.
Sebelum Saffah wafat, Ia mengangkat saudaranya, Abu Ja’far, dengan gelar al- Mansur( sebut Mansur) sebagai penggantinya. Maka dari itu dalam makalah ini akan menguraikan beberapa hal mengenai Peradapan Islam Pada Masa Abu Ja’far al- Mansur.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Sejarah dan Kepribadian Abu Ja’far al- Mansur?
B. Bagaimana Perjalanan Politik Abu Ja’far al- Mansur?

III. PEMBAHASAN
A. Sejarah Dan KepribadianAbu Ja’far al- Mansur
Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad Al Mansur (712-775) merupakan Khalifah kedua Bani Abbasiyah. Ia dilahirkan di al- Humaymah, kampung halaman keluarga Abbasiyah setelah migrasi dari Hejaz pada tahun 687- 688. Ayahnya adalah, Muhammad, cicit dari Abbas, ibunya bernama Salamah al- Barbariyah, adalah wanita dari suku Barbar. Ia dibaiat sebagai khalifah karena penobatanya sebagai putra mahkota oleh kakaknya, As- Saffah pada tahun 754, dan berkuasa sampai 775. Pada tahun 762 Ia mendirikan ibu kota baru dengan istananya Madinat as- Salam, yang kemudian menjdi Baghdad.
Al- mansur tersangkut dengan kerasnya masa pemerintahanya setelah kematian saudaranya al- Abbas. Pada 775 Ia menyusun pembunuhan Abu Muslim, Jendral yang telah memimpin pasukan Abbas menang terhadap keluarga Umayyah dalam perang saudara ke- 3. Ia berusaha memastikan bahwa keluarga Abbasiyah ialah yang tertinggi dalam urusan negara, dan kedaulatannya atas Khilafah tidak diragukan lagi.
Selama masanya, karya satra dan ilmiah didunia Islam mulai muncul dalam kekuatan penuh, didukung toleransi terhadap orang- orang Persia dan kelompok lain. Walaupun Khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abd al- Malik telah mengambil praktik peradilan Persia, itu tidak sampai masa al- mansur jika sastra dan ilmu Persia sampai mendapat penghargaan yang sebenarnya di dunia Islam.
Dia bernama Abdullah bin Muhammad Ali bin Abdullah al- Abbas. Dia seorang yang paling terkenal dari penguasa Bani Abbasiyah dengan kebenarian, ambisi, dan kecerdekiannya. Dia dianggap sebagai pendiri pemerintahan Bani Abbasiyah yang sebenarnya.
Bersama- sama dengan Abul Abbas, dia pindah ke Kufah dan berusaha untuk mendirikan pemerintahan Bani Abbasiyah. Dia merupakan tangan al- Abbas yang utama dan orang yang paling kuat.
Khalifah yang amat berbakti memajukan kebudayaan Islam, ialah khalifah al- Mansur, yakni khalifah yang kedua dari dinasti Abbasiyah, dan pembangunkota Baghdad.
Beliau ialah seorang yang shaleh, teguh memegang agama, ahli dalam ilmu fiqih dan tidak kurang pula suka kepada ilmu keduniaan terutama ilmu bintang dan ilmu kedokteran. Ahli- ahli ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa dan agama sama- sama bekerja di istana beliau dengan nafkah yang bukan kecil.
Setengah dari mereka ialah Naubacht seorang ahli astronomi berasal dari Persia dan dulunya beragama Majusi, dan masuk agama islam dengan penyaksian baginda khalifah al- Mansur sendiri.
Al- Mansur telah meninggalkan buah usahanya dalam ilmu- ilmu asteonomi, ilmu pasti dan ilmu kedokteran.
Juga khalifah- khalifah yang lain- lain seperti, Khalifah al- Mahdi, Khalifah Harunar- Rasyid, Khalifah al- Ma’mun yang meneruskan pekerjaan beliau.

B. Perjalanan Politik Abu Ja’far al- Mansur
Pada masa Khalifah Mansur dalam bidang politik, Negara cukup stabil dan maju, setelah ia memadamkan api pemberontakan termasuk gerakan Ustadsis di Herat yang menyatakan dirinya sebagai Nabi, menguasai Khurasan dan Sizistan yang sangat luas. Ia ditangkap dan dibawa ke Baghdad.
Di Afrika Utara Berber dan Khawarij yang semula ikut barisan berdirinya Abbasiyah untuk mengulingkan Umayyah, karena mereka berfaham demokratis dan menganggap khalifah tidak hanya harus dari golongan tertentu ( Quraisy). Akan tetapi boleh saja dari suku dan bangsa mana pun. Akhirnya kecewa dengan sikap Mansur yang satu persatu menyingkirkan tokoh- tokoh yang berjasa guna menumbangkan Dinasti Umayyah untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah.Pada akhirnya, mereka menarik dukungan dan menggangu kestabilan politik Abbasiyah. Mereka juga kecewa dengan sikap Abbasiyah terhadap mereka yang berat sebelah dengan orang Persia. Gerakan dan pemberontakan baik Berber maupun Khawarij dapat dipadamkan di bawah panglima merangkap amir, Yazid ibn Hasan al- Muhallab yang berhasil menguasai Qayrawan, sebagai pusat politik di Afrika Utara.
Saat Khalifah sibuk dalam urusan dalam negeri, tentara Bizantium menyerang dan menggangu di wilayah perbatasan barat laut. Akhirnya, mereka dapat mengalahkan tentara Raja Kostantinopel IV yang damai sama Islam dengan membayar pajak. Demi memperkokoh kedaulatan islam, Khalifah membangun banyak benteng kokoh di sana. Selain Saffah, semua Khalifah Abbasiyah menganggap kekuasaanya dari Allah. Dengan demikian, sejak masa kepemimpinan Mansur dalam diri seorang Khalifah terdapat dua jabatan, yaitu Khalifah, sebagai jabatan sakral dan sebagai seorang raja.Dengan adanya jabatan sakral itu, maka sejak Mansur para Khalifah Abbasiyah tidak membutuhkan pengakuan rakyat dengan kata lain, rakyat yang butuh Khalifah.
Telah disebut, bahwa setelah Mansur berkuasa terdapat perubahan corak kepemimpinan dalam Islam, yang pasca Abbasiyah, diteruskan oleh Dinasti Malik terakhir disandang oleh para penguasa Turki Usmani sendiri sampai Mustofa Kemal Atta Turk yang mengusir Sultan Turki merangkap Khalifah itu dari tanahTurki.

IV. KESIMPULAN
Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad Al Mansur (712-775) merupakan Khalifah kedua Bani Abbasiyah. Ia dilahirkan di al- Humaymah, kampung halaman keluarga Abbasiyah setelah migrasi dari Hejaz pada tahun 687- 688. Ayahnya adalah, Muhammad, cicit dari Abbas, ibunya bernama Salamah al- Barbariyah, adalah wanita dari suku Barbar. Ia dibaiat sebagai khalifah karena penobatanya sebagai putra mahkota oleh kakaknya, As- Saffah pada tahun 754, dan berkuasa sampai 775. Pada tahun 762 Ia mendirikan ibu kota baru dengan istananya Madinat as- Salam, yang kemudian menjdi Baghdad.
Pada masa Khalifah Mansur dalam bidang politik, Negara cukup stabil dan maju, setelah ia memadamkan api pemberontakan termasuk gerakan Ustadsis di Herat yang menyatakan dirinya sebagai Nabi, menguasai Khurasan dan Sizistan yang sangat luas. Iaditangkapdandibawake Baghdad.

V. PENUTUP
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kesalahan dan kekurangan untuk itu kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Besar harapan kami, semoga makalah ini bias memberikan manfaat bagi pembaca umumnya dan pemakalah khususnya. Amiin.

DAFTAR PUSTAKA

Al- Usairy, Ahmad, Terj. Samson Rahman, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX,( Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003)
Karim, Abdul, Sejarah Pemikiran Dan Peradapan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007 )
Natsir, Kebudayaan Islam Dalam Prespekti Sejarah, ( Jakarta: PT. Girimukti Pasaka, 1988)
Yatim, Badri, Sejarah Peradapan Islam Dirasah Islamiyah II, ( Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 2003)
http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27al- Mansur Kategori: Kelahiran 712 | Kematian 775

PERADABAN ISLAM PADA MASA ABUL ABBAS AS SAFFAH

Standar

PERADABAN ISLAM PADA MASA ABUL ABBAS AS SAFFAH

Makalah
Disusun Guna Menuhi Tugas
Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Drs. Mat sholikin, M.Ag


Disusun Oleh :
Nurul Atikah (103111091)
Nurul Mar’Atus Sholikah ( 103111092 )

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

PERADABAN ISLAM PADA MASA ABUL ABBAS AS SAFFAH
I.PENDAHULUAN
Pada saat pemerintahan bani umayah mulai mengalami kemunduran, hal tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang keturunan Nabi muhammad saw. Terutama keturunan Ali bin Abi Tholib ( Ahlul Bait ). Mereka menganggap bahwa merekalah yang berhak atas kekhalifahan islam daripada bani umayah sebab mereka dari cabang bani hasyim memiliki nasab keturunan yang dekat dengan nabi. Menurut mereka, orang umayah secara paksa menguasai khilafah melalui tragedi perang siffin. Oleh karena itu mereka mendirikan dinasti abbasiyah dengan melakukan gerakan yang luar biasa melakukan pemberontakan terhadap dinasti umayah.
Salah satu tokoh yang melakukan pemberontakan tersebut adalah abul abbas as saffah. Dia juga pendiri sekaligus kholifah pertama pemerintahanbani abbasiyah. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani hasyim (alawiyun ) setelah meninggalnya Rasullulah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan saw dan anak-anaknya. Selanjutnya makalah ini akan membahas sekilas abul abbas as saffah menjadi pendiri sekaligus khalifah pertama pemerintahan dinasti abbasiyah, serta masa pemerintahan abul abbas as saffah yang dilakukan untuk menguatkan pilar-pilar negara dan membunuh tokoh-tokoh yang memiliki keturunan dengan bani umayah. Dalam makalah ini, pemakalah akan membahas tentang sekilah tentang abul abbas as saffah, pembaitan, dan masa pemerintahan abul abbas as saffah.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Sekilas tentang Abul Abbas As saffah
B. Pembaitan Abul Abbas As Saffah
C. Masa Pemerintahan Abul Abbas As Saffah
III. PEMBAHASAN
A. Sekilas tentang Abul Abbas As Saffah
Dia bernama Abdullah bin muhammad bin ali bin abdullah bin abbas, Khalifah pertama pemerintahan bani abbasiyah. Beliau dilahirkan di hamimah pada tahun 104 H. Ibunya adalah Rabtah binti abaidullah al haritsi, ayahnya muhammad bin ali adalah orang yang melakukan gerakan untuk mendirikan pemerintahan bani abbasiyah dan menyebarkannya kemana-mana. Inilah yang membuat Abdullah banyak mengetahui tentang gerakan ini dan rahasia-rahasianya.
Abdullah bin muhammad mendapat gelar as saffah, yang berarti pengalir darah dan pengancam siapa saja yang membangkang tetapi yang sebenarnya adalah pemberontak pemusnah, maksudnya ialah pengancam dan mengalirkan darah bagi pihak yang menentang, khususnya bani umayan dan pendukung-pendukungnya. Hal itu dibuktikan bahwa as saffah menumpas mereka secara habis-habisan.
Abul Abbas adalah seorang yang bermoral tinggi dan mempunyai loyalitas sehingga beliau disegani dan dihormati oleh kerabat-kerabatnya. Beliau memiliki pengetahuan yang luas, pemalu dan budi pekerti yang baik. Menurut as sayuti, abul abbas as saffah ialah manusia yang paling sopan dan selalu menepati janji tepat pada waktunya.
Beliau diangkat oleh saudaranya yang bernama ibrahim sebelum dia ditangkap oleh pemerintahan umayah pada tahun 129 H atau 746 M. Tertangkapnya ibrahim membuat abdullah harus berangkat ke kiffah bersama-sama dengan pengikutnya secara rahasia. 3 tahun berikutnya, tepatnya pada 3 rabiul awal 132 h beliau dibaiat menjadi khalifah pertama bani abbasiyah dan berpusat di kuffah.
Abul abbas as saffah menjadi khalifah selama 4 tahun 9 bulan, dan wafat dikota anbar pada hari ahad, setengah pertama dari bulan dzulhijah tahun 136 h atau 753 m.

B. Pembaitan abul abbas as saffah
Sebelum berdirinya dinasti abbasiyah terdapat tiga poros yang merupakan pusat kegiatan. Antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman Nabi muhammad saw,yaitu abbas ibnu abdul mutholib. Tiga tempat itu ialah hamimah, kuffah, dan khurasan. Hamimah merupakan tempat yang terteram, disana banyak bermukim keluarga bani hasyim baik dari kalangan pendukung ali maupun pendukung keluarga abbas. Kuffah adalah wilayah wilayah yang penduduknya menganut aliran syi’ah, pendukung ali bin abi tholib, yang selalu bergolak dan di tindas oleh bani umayah sehingga mudah dipengaruhi agar memberontak dan menghancurkan kekuasaan bani umayah. Sedangkan khurasan mempunyai warga yang pemberani , kuat fisiknya,dan teguh pendiriannya sehingga tidak mudah terpengaruh nafsu dan disanalah diharapkan dakwah kaum abbasiyah mendapat dukungan untuk meruntuhkan kekuasaan bani umayah yang sudah mulai lemah.
Di hamimah bermukim keluarga bani abbas yang pemimpinnya adalah muhammad bin ali bin abi abdullah. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat ambisius, maka diapun segera melahirkan pemikiran untuk mendirikan pemerintahan abbasiyah. Beliau meletakkan dasar-dasar berdirinya daulah abbasiyah dan mengemukakan bahwa pemindahan kekuasaan harus didahului persiapan jiwa dan perubahan yang mendadak akan menyebabkan kegoncangan dalam masyarakat dan belum tentu berhasil. Sehingga harus diatur stategi yang hati-hati dengan cara menyebarkan para propagandis untuk mendukung keluarga nabi saw. Dia menjadikan hamimah sebagai sentral perencanaan, konsolidasi, dan sistem kerja gerakan, sedangkan kuffah dijadikan sebagai pusat pembentukan opini dan khurasan sebagai pusat penebaran opini tersebut.
Dia memilih orang-orang yang sangat terpilih untuk menebarkan pemikiran dan rencananya ini. Sehingga gerakan ini berlangsung dengan sangat rahasia dan sangat lamban. Mereka menggunakan nama ahlul bait. Apa yang dikerjakan penuh semangat dan cemerlang. Setelah muhammad bin ali meninggal, anaknya yang bernama ibrahim menggantikannya pada tahun 125 H atau 742 M. Pada saat itu pemerintahan bani umayah telah mengalami kemunduran yang sangat tajam setelah meninggalnya hisyam bin abdul malik. Pada tahun 129 H ibrahim memerintahkan kepada seorang panglimanya yang paling terkenal yaitu abu muslim al- khurasani untuk mendeklarasikan gerakan secara terang-terangan di khurasan. Namun marwan bin muhammad ( khalifah terakhir bani umayah ) mengetahui rencana tersebut dan akhirnya merangkap dan memenjarakn ibrahim. Setelah ibrahim di tangkap dia memberikan wasiat kepada adiknya yaitu abul abbas untuk menggantikan kedudukannya dan pindah dari hamimah ke kuffah bersama dengan keluarganya. Dia tinggal di rumah Abu salamah al khalal dan melakukan gerakan dengan cara sembunyi-sembunyi.
Panglima Abu muslim berhasil mengalahkan nashr bin sayyar, gubernur khurasan, dan menjadikan khurasan dibawah kekuasaanya pada tahun 130 H atau 747 M. Dan kemudian mengambil alih irak dari tangan yazid bin umar bin futhairah pada tahun 132 H atau 749 M, Namun Yazid bin umar tidak menyerah pada bani abbasiyah kecuali setelah saffah menjadnjikan pandangan untuk memberikan rasa aman. Namun, mereka mengingkari dean mengkhianati janji membunuh Abu salamah al khalal dengan tuduhan dia akan melakukan makar untuk kekhilafan kepada golongan alawiyah. Padahal orang ini memiliki peran yang sangat besar dalam menghancurkan pemerintahan umayah dan dalam menebarkan seruan untuk mendirikan pemerintahan bani abbasiyah. Hal ini menunjukkan semangatnya bani abbasiyah dalam memberikan perlindungan dan penjagaan keamanan kepada kekuasaan dan negaranya.
Setelah situasi stabil, Abul abbas as saffah keluar dari persembunyiannya dan berangkat menuju masjid di kuffah dan mendeklarasikan pemerintahan bani abbasiyah. Dia di baiat di masjid itu pada tanggal 3 rabiul awal tahun 132 H atau 749 M. Ketika di lantik menjadi khalifah, abul abbas sedang sakit sehingga beliau memberikan ucapan yang pendek saja dari mimbar masjid di kuffah. Dalam ucapanya beliau menyebutkan tentang keturunan Rasullulah yang berhak menjadi khalifah dan bentuk-bentuk kekejaman bani umayyah, serta menyanjung kebaikan-kebaikan penduduk kuffah,beliau berkata : “ Anda adalah tempat kesayangan dan kasih mesra kami. Anda tidak bergeming dan tidak mengubah sikap walaupun ada tekanan-tekanan dari golongan yang kejam, sehingga anda menemui kami. Allah kurniakan anda dengan kedaulatan kami, anda adalah manusia paling bahagia menerima kami dan paling bersimpati kepada kami. Kami tambahkan 100 dirham lagi ke atas pendapatan anda. Oleh karena itu bersedialah untuk memikul amanah.” Beliau mengakhiri ucapanya dengan berkata “ Aku ialah saffah tidak pantang menyerah dan pemberontakan pemusnah”.
Menurut Daud bin Ali menyebutkan abul abbas mengatakan ahlul bait yang lebih berhak mewarisi Rasullulah saw, dan menerangkan bahwa tujuan kaum abbasiyah bukan untuk menambah kekayaan emas dan perak dari perjuangan kami ini.

C. Masa pemerintahan Abul abbas as saffah
Masa pemerintahan abul abbas as saffah hanya berlangsung 4 tahun. Setelah di baiat menjadi khalifah pertama bani abbasiyah, tugas yang pertama ia lakukan adalah mengalahkan khalifah terakhir bani umayah yaitu marwan bin muhammad. Abul abbas memberangkatkan pasukannya untuk memerangi marwan bin muhammad yang saat itu bersama dengan tentaranya berada di Zab, marwan dikalahkan dalam perang ini dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya berhasil dibunuh oleh pasukan abul abbas pada januari tahun 132 H / 750 M. Dengan demikian semua wilayah pemerintahan berada dibawah kendali abbasiyah kecuali andalusia.
Setelah marwan bin muhammad terbunuh, maka secara de facto berdiri dinasti baru yaitu Dinasti abbasiyah dengan kekhalifahan abul abbas as saffah. Dia mengeluarkan dekrit kepada para gubernur supaya tokoh-tokoh umayah yang memiliki darah biru semuanya dibunuh. Ia sendiri banyak membunuh rival dari dinasti itu. bukan hanya diam di situ saja, abul abbas menggali kuburan para khalifah umayah ( kecuali umar bin abdul aziz ) dan tulang-tulangnya pun dibakar. Oleh karena itu rakyat damaskus, harran, hims, kinnisirin, zerusalam dan daerah lainnya memberontak, namun pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dengan tangan besi oleh razim abul abbas as saffah.
Dalam pemerintahan abul abbas, ia menjadikan kota anbas sebagai ibukota negaranya, ia juga disibukkan dengan upaya untuk konsolidasi internal dan untuk menguatkan pilar-pilar negara yang hingga saat itu belum sepenuhnya stabil, oleh karena itulah, dia tidak banyak fokus terhadap masalah penaklukan wilayah karena pertempuran di kawasan turki dan asia tengah terus bergolak.
Oleh karena itu, pemerintahan abul abbas as saffah bersandar pada tiga hal utama yaitu
1. keluarganya sebab dia memiliki paman, saudara-saudara, dan anak-anak saudara dalam jumlah besar. Mereka menyerahkan kepemimpinan dan pemerintahan wilayah kepadanya, demikian juga dalam masalah nasihat dan musyawarah.
2. Abu muslim khurasani. Dia adalah panglima perang yang jempolan. Dengan kekuatan dan tekadnya yang kokoh, dia mampu menaklukan khurasan dan irak sehingga membuka jalan yang lapang bagi berdirinya pemerintahan abbasiyah
3. Fanatisme golongan. Dia muncul pada akhir-akhir dan melemahnya pemerintahan umayah peluang ini di manfaatkan oleh bani abbasiyah mereka bersama-sama dengan yamaniyun bergerak melawan qoysiyun yang berpihak kepada bani umayah.

IV. KESIMPULAN
Abdullah bin muhammad bin ali bin abdulkah bin abbas adalah khalifah pertama pemerintahan bani abbasiyah. Beliau dilahirkan di hamimah, dengan ibunya yaitu Rabtah binti ubaidullah al haritsi dan ayahnya adalah Muhammad bin ali abul abbas adalah seorang yang bermoral tinggi dan mempunyai loyalitas sehingga beliau di segani dan dihormati oleh kerabat-kerabatnya. Dia mendapat gelar as saffah yang artinya penumpah darah atau peminum darah.
Abul abbas as saffah di angkat oleh saudaranya yang bernama ibrahim dan membuat abul abbas beserta keluarganya pindah ke kuffah dengan pengikutnya secara rahasia. Setelah 3 tahun bersembunyi, akhirnya pada 3 rabiul awal 132 H beliau di baiat menjadi khalifah pertama bani abbasiyah dan berpusat di kuffah. Kemudian ia bersama pasukannya mengejar marwan bin muhammad yang melarikan diri ke mesir, dan akhirnya berhasil di bunuh, sehingga berdirilah secara de facto pemerintahan bani abbasiyah.
Dia ingin menghapuskan seluruh pengikut bani umayah, hal ini terbukti dari perintahnya untuk membunuh semua orang yang memiliki darah keturunan dengan bani umayah, termasuk menggali kuburan khalifah bani umayah dan membakar tulang-tulangnya ( kecuali umar bin abdul aziz ).
Abul abbas as saffah memerintah selama 4 tahun dan wafat pada tahun 136 H atau 753 M, yang sebelumnya memberikan wasiat bahwa adiknya, Al mansyur yang akan menggantikan pemerintahannya.
V. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami buat, pemakalah menyadari bahwa penulisan makalh ini masih banyak kesalahan dan kekurangan untuk itu kritik dan saran yang membangun selalu pemakalah harapkan dari pembaca, supaya dalam pembuatan makalah mendatang dapat lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin ..

6

DAFTAR PUSTAKA
A.Syalaby. Sejarah dan Kebudayaan Islam I ( Jakarta : PT. Al Husna Zikra, 2000)
Al-Usyairi, Ahmad. Sejarah Islam ( Jakarta : Media Grafika, 2003 )
Karim, M.Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam ( Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2007)
Mufrodi, Ali. Islam dikawasan Kebudayaan Arab ( Jakarta : Logos, 1997 )

PERADABAN ISLAM PADA MASA UMAR BIN ABDUL AZIZ

Standar

PERADABAN ISLAM PADA MASA UMAR BIN ABDUL AZIZ
Makalah
Disusun Guna memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradapan Islam
Dosen Pengampu: Mad Solikhin

Disusun Oleh:
Nur khapipudin 103111088
Nur rochmah 103111089

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

PERADABAN ISLAM PADA MASA UMAR BIN ABDUL AZIZ
I. PENDAHULUAN
Setelah beberapa tahun kekuasaan Bani Umayah dianggap atau banyak yang menilai bahwa pada masa-masa itu merupakan masa kedzaliman para penguasa. Kebanyakan dari para penguasa pada masa itu mempunyai sifat yang mestinya tidak pantas dimiliki oleh seorang pemimpin atau yang disebut dengan khalifah. Anehnya lagi, sifat yang buruk yang dimiliki para kalifah ternyata turun temurun pada khalifah-khalifah setelahnya yang menggantikan jabatan tertinggi itu.
Mulai pada pembahasan peradaban Islam pada khalifah inilah yang nantinya banyak mengalami perubahan pada segi positif pemerintahan ataupun kesejahteraan rakyat pada masa itu. Beliau adalah khalifah yang sudah lama ditunggu kedatangannya oleh rakyat yang merasa dianiaya oleh pemimpin-pemimpinnya yang kejam dan dinilai tidak adil. Beliau adalah khalifah yang memilki sifat yang mulia dan istimewa dibanding khalifah-khalifah yang terdahulu. Iinilah khalifah yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Untuk lebih jelasnya marilah kita simak bersama makalah kami ini yang akan membahas kaitannya dengan siapa Umar bin Abdul Aziz?, bagaimana terpanggilnya menjadi khalifatul muslimin?, dan bagaimana sifat pemerintahannya?.
II. RUMUSAN MASALAH
1. Siapa Umar Bin Abdul Aziz Itu?
2. Bagaimana Terpanggilnya Menjadi Khalifah Muslimin?
3. Bagaimana Sistem Pemerintahannya?

III. PEMBAHASAN
A. Siapa Umar bin Abdul Aziz?
Marilah kita sekarang memasuki babak dan lembaran baru yang indah dari gelombang-gelombang sejerah yang beralun-alun di pantai sejarah islam itu menuju cita-cita islam yang luhur,agung dan mulia, yaitu”IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN” (kejayaan islam dan kaum muslimin). Suatu mata rantai sejarah yang kait-berkait dengan kepribadian seorang manusia yang saleh dan taqwa yang memainkan peranan yang amat penting dalam lakon sejarah itu. Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul Aziz dilahirkan dikota Hulwan pada tahun 61 H, tidak jauh dari Kairo ketika itu ayahnya yang jadi Gubernur di Mesir. Silsilah keturunannya dari pihak ibunya, bersambung kepada khalifah yang ke-2, Umar bin Khattab. Dimasa kecilnya Ia tinggal bersama paman-paman ibunya di Madinah. Dalam suasana yang semerbak itulah ia mempelajari bimbingan-bimbingan dan pendapat yang sehat, dan disana pulalah Ia tumbuh dengan baiknya terhadap sifat-sifatnya yang istimewa dan terpuji itu.
Ia datang tepat pada waktunya pada zaman kurun kekuasaan Bani Umayah yang ricuh, bagaikan bintang yang muncul berkelip-kelip di langit cakrawala yang gelap gulita diselimuti awan kezaliman yang tebal bergumpal-gumpal itu. Tatkala Ia telah menjadi pemuda yang cerdas ia berkunjung kepada Abdullah bin Umar karena ada hubungan keluarga dengan ibunya. Sekembalinya dari sana ia berkata kepada ibunya: ”Wahai ibu,saya ingin menjadi seperti nenek,” yang dimaksud ialah tidak lain dari pada Abdullah bin Umar.
Ibunya menyahut:”Apakah engkau ingin seperti beliau?”
Tatkala Ia telah besar, ayahnya berangkat kemesir memangku jabatan Amir atau gubernur dinegri itu. Kemudian tak lama datanglah surat Abdul Aziz, gubernur yang baru itu kepada istrinya supaya menyusul dengan menyertakan anaknya Umar bin Abdul Aziz.
Ibunya berunding tentang itu dengan Abdulah bin Abdul sekaligus meminta pendapatnya tentang surat suaminya itu. Abdulah bin Umar menjawa:”Dia itu kan suamimu,berangkatlah memenuhi panggilannya kesana,wahai anak saudaraku!” Dan ketika Ummu Ashim mau keluar rumah, Abdulah berkata kepadanya:”tinggalkanlah anak muda ini bersama kami, karena dialah diantara kita yang lebih menyerupai Ahlul Bait, kelurga suci Rosulullah. Ummu Ashim tidak menolak permintaan itu, dan tinggallah Ia dimadinah dengan neneknya Abdullah bin Umar bin Khattab.
Tatkala Ummu Ashim berada dimesir , maka disampaikanlah kata-kata Abdullah bin Umar itu kepada suaminya. Abdul Aziz pun gembira mendengar hal itu.
Abdul Aziz gubernur mesir itu pun berkirim surat kepada saudaranya, Abdullah Malik bin Marwan, Khalifah yang berkedudukan di Damsyik dan khalifah berjanji akan memberikan belanja setiap bulan untuk keperluan Abdulah bin Abdul Aziz yang ditinggalkannya dimadinah untuk kepentingan pendidikannya sebanyak seribu dinar.
Tentang kehidupan ayahnya sebagai pejabat tinggi mesir yang memangku jabatannya pada tahun 65hijriah dapatlah kita ceritakan sedikit disini seperti di bawah ini.
Zaman pemerintahan Abdul Aziz dimesir adalah zaman yang paling gemilang. Dimasa itu ia banyak melakukun perbaikak-perbaikan, dibuatnya alat pengukur air sungai Nildan dibangunnya sebuah jembatan diteluk amirul mukminin. Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang toleran dan dermawan. Ia tidak pernah menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri, walaupun daerah mesir itu dapat dijadikannya sumber kekayaan baginya.Ia tidak mau mengirimkan ke ibu kota kerajaan sesuatu pun dari penghasilan daerah tersebut. Menurut riwayat, Ia telah membelanjakan seluruh harta kekayaannya dan ketika ia meninggal dunia ia hanya meninggalkan kekayaan sebanyak tujuh dinar saja. Ini adalah jumlah yang kecil bila dibandingkan dengan kedudukan dan kekayaannya.
Demikianlah kehidupan dan perilaku ayahnya selagi beliau menjabat kedudukan tinggi itu dimesir, seorang pejabat yang dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi rakyat dan anaknya sendiri, selama dua puluh tahun.
Umar bin Abdul Aziz sendiri nampaknya memang benar-benar meniru sifat-sifat baik dan terpuji serta kepemimpinan dari ayahnya. Sehingga Umar bin Abdul Aziz dapat memiliki watak dan kepribadian yang istimewa.

B. Bagaimana Terpanggilnya Menjadi Khalifah Muslimin?
Sebelum menjadi khalifah, umar telah mengenal minyak wangi dan pakaian sutera, bagaimana Ia mengenal nyanyi-nyanyian. Ia senang mendengarkan nyanyi-nyanyian dan bertepuk tangan untuk para penyanyi. Dia tidak berhenti di situ saja, bahkan Ia sendiri turut bernyanyi, dan mengubah not-not lagunya. Disamping itu, Umar melengkapi istananya dengan perabot-perabot yang paling mewah dan mahal harganya. Menurut riwayat, sebelum Umar menjadi Khalifah ada hal-hal yang tercela pada dirinya, yaitu bahwa ia terlalu suka kepada kemewahan, memakai pakaian serta perhiasan yang berlebih-lebihan, dan kecongkakannya ketika berjalan.
Cara umar berjalan itu disebut orang”Umariyah”, yaitu: “lenggang Umar” dan para dayang-dayang suka menirunya, karena begitu indah dan gemulainya. Ia suka memakai minyak wangi yang istimewa. Bila ia berjalan, maka meratalah baunya yang semerbak itu ditempat-tempat yang dilaluinya.
Tatkala namanya dinyatakan sebagai pengganti Sulaiman, dia mulai terkulai lemas dan berkata, “ Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah satu kali pun.”
Kemudian umar menjadi khalifah. Dan saat itu merupakan garis pemisah antara hidupnya yang lama dan hidupnya yang baru. Ia menyadari tanggung jawabnya yang besar dan kezaliman-kezaliman yang banyak terjadi dimasa itu, serta resiko berat yang harus dihadapinya. Maka mulailah ia bekerja dengan segala kesungguhannya sejak dari saat-saat yang pertama. Peristiwa yang mula-mula dihadapinya setelah selesai menguburkan jenazah sulaiman, ialah tatkala dibawakan orang kepadanya kendaraan-kendaraan kerajaan. Kendaraan-kendaraan itu terdiri dari beberapa ekor kuda yang mengangkut barang-barang, beberrapa ekor kuda tunggangan dan beberapa ekor bagal, masing-masing lengkap dengan alat-alat sainsnya. Umar bertanya: ”Apakah ini?” Mereka menjawab: ”Inilah kendaraan khalifah”. Umar menyahut: “Hewanku lebih sesuai bagiku”. Kemudian dijualnya semua hewan-hewan kendaraan itu, dan uangnya disimpan diBaitul Mal. Begitu pula semua tenda-tenda, permadani-permadani, dan tempat-tempat kaki yang biasanya disediakan untuk kholifah-kholifah yang baru, semuanya itu dijualnya, dan uangnya dimasukkan ke Baitul Mal.
Sesudah itu Umar mengadakan perhitungan terhadap dirinya sendiri Ia lalu menjauhkan dirinya dari segala macam kenikmatan hidup. Dan dikembalikannya semua tanah-tanah perkebunan yang dulunya telah dihibahkan kepadanya. Dilepaskannya semua tanah dan harta benda yang telah diwarisinya, karena Ia yakin semua itu bukanlah harta yang halal dan baik. Ditinggalkannya pakaiannya yang mahal itu, lalu digantinya dengan pakaian yang berharga hanya delapan dirham. Ibnu ‘Abdil Hakam meriwayatkan, bahwa Umar sebelum menjadi kholifah masih menganggap kasar pakaian yang berharga sampai 800 dirham. Dan kini, pakaian yang hanya 8 dirham dianggapnya begitu halus, dan ia mencari yang lebih kasar dari pada itu.
Umar membasuh dirinya dari bekas-bekas minyak wangi. Dan dipanggilnya tukang bekam untuk memotong rambutnya yang panjang. Dijualnya semua pakaian dan wangi-wangiannya yang ada padanya. Dan uangnya Ia masukkan keBaitul Mal. Umar menjauhkan diri dari makanan yang lezat-lezat, dan ia hanya memakan makanan kering. Ia melayani dirinya sendiri, dan tidak membolehkan orang lain melayaninya.
Kemudian umar berpaling kepada istrinya yang sebagaimana telah disebutkan diatas- dia adalah cucu khalifah, putri kholifah dan saudara dari beberapa orang kholifah.Dari asal usul yang agung ini mengalirlah kepadanya beraneka ragam permata, mutiara, barang-barang perhiasan dan prabot-prabot rumah yang amat mahal harganya. Kini dinda boleh memilih antara dua hal, yaitu: “Memilih aku serta melepaskan semua harta benda ini, ataukah dinda memilih harta benda ini dan aku melepaskan engkau?”. Akhirnya ia memilih umar dan relalah ia hidup bersama suaminya itu, dengan kehidupan yang bersahaja, seperti yang diinginkan Umar.
Ketika Umar diangkat menjadi kholifah, para pelayan mengira bahwa mereka telah berkuasa terhadap rakyat. Tetapi setelah keadaan mereka begitu jelek mereka malah menyesal atas pengangkatan Umar tersebut, dan mereka sama menjauhkan diri dari padanya. Umar mempunyai seorang bujang yang bernama Dirham. Setelah beberapa hari Umar jadi kholifah ia bertanya kepada Dirham: “Apa kata orang, hai Dirhan?”. Dirham menjawab: “Apa pula lagi yang hendak mereka katakan, mereka semua baik-baik saja, hanya aku dan Tuan yang menjadi celaka!”. Umar bertanya lagi: “Mengapa demikian?”. Dirham menjawab: “aku mengenal Tuan sebelum jadi kholifah sebagai orang yang parlente, berbau harum semerbak, berpakaian indah, dan suka pada kendaraan yang tangkas, dan makanan yang lezat. Setelah tuan diangkat menjadi kholifah aku berharap akan dapat istirahat dan melepaskan diri dari segala kesibukan. Tapi nyatanya, pekerjaanku malah bertambah berat, aku dan Tuan jadi sengsara!”. Umar barkata: “kini engkau merdeka, pergilah dariku dan tinggalkanlah aku dalam keadaan begini, hingga allah memberikan jalan keluar bagiku”. Dengan demikian jadilah Umar bersama istri dan rumah tangganya dalam keadaan bersahaja.
C. Bagaimana Sistem Pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz?
Umar terutama memperhatikan kebijaksanaan dalam negeri, dan karena itulah pemerintahannya menjadi menonjol. Dia mengangkat orang-orang baru untuk menduduki jabatan yang paling penting, bukan karena mereka termasuk dalam partainya, tetapi karena dia menganggap mereka tulus dan jujur. Untuk Spanyol, dia mengangkat Samh bin Malik, seorang bangsa Yaman, dan untuk Afrika, Ismail bin Abdullah. Umar mengetahui bahwa mereka ini tidak menjadi anggota salah satu partai;mereka sangat pemurah terhadap orang-orang yang tertindas. Umar cukup baik terhadap keluarga Ali yang pengutukan terhadapnya dalam hotbah jumat telah berlangsung diseluruh kerajaan. Dia melarang perbuatan ini, dan kebun Fedak yang telah dirampas oleh Marwan dikembalikan kepada keluarga Nabi.
1. POLITIK AGAMANYA
Umar 11 adalah orang beriman yang taat kepada Islam. Untuk menyebarkan missi Nabi diKurasan dan Asia Tengah, dia menggunakan politik baru. Politiknya ialah bahwa orang yang menerima islam akan dibebaskan dari beban pajakdan menempatkan mereka pada pijakan yang sama. Ketika Gubernur Mesir mengeluh mengenai turunnya pendapatan karena banyaknya orang masuk Islam, Umar 11 menjawab, “Allah mengirim Nabi-nya sebagai seorang pengumpul pajak”. DiKurasan para pejabat biasanya menguji ketulusan hati orang yang baru masuk islam dengan menyunat. Dia melarang hal ini dengan mengatakan, “Muhammad Saw. Dikirim untuk menyeru manusia kejalan agama Allah, bukan untuk menyunat mereka”. Pada waktu yang sama dia melindungi orang kristen, tetapi tidak mengizinkan mereka membangun kembali gereja.

2. PEMBAHARUAN
Tujuan umar ialah terjaminnya konsolidasi pemerintahan. Karena kerajaan terdiri atas berbagai bangsa, dia menyadari bahwa kerajaan nya akan sangat lemah jika tidak berlandaskan maksud yang baik dan kerjasama semua golongan rakyat. Mawali (orang islam yang baru) berperang dipihak umat islam, tetapi mereka tidak diberi jaminan keuangan yang sama dengan orang arab yang islam, dan akibatnya mereka menjauhkan diri dari pemerintah umayah . Ketika Umar 11 menjadi khalifah, dia berusaha menghapuskan kesenjangan antara orang islam Arab dengan dengan orang islam non-Arab.dia juga memberi tunjangan kepada anak-anak para pahlawan Arab (Mukatilah) yang sebelumnya dibatasi dan dikurangi oleh Muawiyah dan ditahan oleh Abdul Malik. Meskipun dia seorang muslim ortodoks, dia berhasil menunjukkan kemurahan hati dan damaskus memohon kepadanya agar mengembalikan Gereja St.John yang diubah oleh Walid menjadi Masjid, karena tidak mampu memenuhi tuntutan mereka. Orang kristen dari Najran mengeluh bahwa pajak yang dikenakan pada mereka sangat berat. Umar 11, sebagai seorang penguasa adil, menurunkan pajak 2.000 helai kain, menjadi 200 helai kain.
3. PEMBAHARUAN PAJAK
Umar mengambil beberapa langkah untuk memperkuat kondisi keuangan negara. Orang islam membeli tanah dari orang non islam, karenanya mendorong mereka (non islam) segera pindah kekota. Dia menetapkan aturan bahwa sejak saat itu tanah berpajak yang dimiliki oleh orang bukan muslim dilarang diambil alih oleh orang islam. Orang islam dibebaskan dari semua jenis pajak kecuali zakat. Pendapatan negarapun menjadi berkurang karena banyaknya orang masuk islam. Orang terus menjadi islam dan karenanya terhindar dari beban pajak. Akibatnya pendapatan negara menjadi berkurang. Dengan demikian, “orang islam diwajibkan menyokong pendapatan negara, dan negara tidak menderita kekurangan”.
IV. KESIMPULAN
Demikian itulah keadaan peradaban Islam pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz yang penuh dengan kebijakan-kebijakan yang dapat mensejahterakan rakyat. Beliau adalah khalifah yang dianggap datang tepat pada waktunya. Umar bin Abdul Aziz merupakan seorang khalifah yang dilahirkan oleh orang-orang yang memang mempunyai sifat mulia yang akhirnya bisa diturunkan pada khalifah tersebutu ini.
Pada waktu terpilihnya beliau menjadi khalifah sebagai pengganti khalifah sebelumnyapun sudah menunjukan bahwa beliau sebenarnya tidak menginginkan jabatan yang amat berat itu. Tetapi karena rasa tanggung jawabnya dan kebijakan-kebijakan serta sifat-sifat yang mulialah beliau mampu mensejahterakan rakyatnya pada masa itu. Diantara keijakan-kebijakannya pada pemerintahannya yaitu beliau menempatkan orang-orang yang sesuai pada jabatan-jabatan penting. Karena beliau lebih memperhatikan kebijakan dalam negerilah yang akhirnya membuat pemerintahannya lebih menonjol.
V. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami sajikan dan didiskusikan kaitan dengan peradaban Islam pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kami menyadari bahwa yang namanya tidaklah lepas dari kesalahan dan sifat lupa serta kekurangan, oleh karenanya kritik dan saran yang kontruktif senatiasa kami harapkan guna memperbaiki kesalahan atau kekurangan kami dan untuk lebih baik pada kesempatan selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah khazanah keilmuan kita. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Affandi, Adang, Study Sejarah Islam, (Bandung: Putra A Bardim, 1999)
As-Suyuti, Imam, Tarikh Khulafa, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), Cet. 7.
Firdaus, Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz,(Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2003), Cet. 6.
Syalabi, Ahmad, Sejarah Dan Kebudayaan Islam 2, (Jakarta: Al-Huzna Zikra, 1997), Cet. 9.

PERADABAN ISLAM DI MASA WALID BIN ABDUL MALIK

Standar

PERADABAN ISLAM DI MASA WALID BIN ABDUL MALIK

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Drs. H. M. Sholikhin Nur, M. Ag

Disusun oleh:
Nova Fitri Rifkhiana (103111084)
Nur Hayati (103111085)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
PERADABAN ISLAM di MASA
WALID BIN ABDUL MALIK

I. PENDAHULUAN
Naik tahtanya Bani Umayah tidak hanya menunjukkan suatu perubahan dinasti, tetapi juga berarti pemutarbalikan suatu prinsip dan lahirnya beberapa faktor baru yang menggunakan pengaruh sangat kuat atas kekayaan kerajaan dan perkembangan bangsa, sehingga dapat menjadikan pemerintahannya yang makmur dan terjamin kehidupannya. Termasuk dalam masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik yang disebut- sebut sebagai masa kejayaan dari Daulah Bani Umayah.
Pada zaman kekhalifahan Rasyidin, khalifah dipilih oleh rakyatdi Madinah, dan pemilihan itu dihormati oleh bangsa- bangsa di luar bangsa Arab. Akan tetapi, sejak zaman Mu’awiyah penguasa yang sedang memerintah itu mulai mencalonkan penggantinya dan tokoh kerajaan mengangkat sumpah setia kepadanya dalam upacara kerajaan. Dan itu berlanjut secara turun- menurun dalam sistem pemerintahan monarkhi. Termasuk dari pemerintahan Abdul Malik bin Marwan kepada Walid bin Abdul Malik dalam pengalihan jabatan sebagai khalifah menggunakan sistem pemerintahan monarkhi. Maka dari itu dalam makalah ini akan menguraikan beberapa hal mengenai Peradaban Islam pada masa Walid bin Abdul Malik.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Sejarah dan Kepribadian Walid bin Abdul Malik?
B. Bagaimana Pembangunan dan Kondisi Negara di masa Walid bin Abdul Malik?
C. Bagaimana Penaklukan dan Perluasan Wilayah di masa Walid bin Abdul Malik?
III. PEMBAHASAN
A. Sejarah dan Kepribadian Walid bin Abdul Malik

Nama lengkapnya adalah Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Dilahirkan pada tahun 50 H. Tetapi pendidikan tentang bahasa arabnya sangat lemah, sehingga beliau berbicara kurang fasih. Menurut riwayat ayahnya, Abdul Malik bin Marwan pernah berkata:”Cinta kasih kami membahayakan dirinya, sebab kami tidak mau mengirimkanya ke padang pasir”. Padahal padang pasir adalah sekolah yang terbaik bagi orang-orang yang ingin mempelajari Bahasa Arab yang fasih jauh dari cacat-cacat yang biasa terdapat dalam bahasa orang-orang di kota, yang disebabkan karena pergaulan bangsa Arab dengan bangsa-bangsa asing. Tetapi ayahnya tidak membiarkan Al- Walid dengan kecacatan itu, bahkan dengan tegas beliau berkata kepada anaknya:”Yang dapat memimpin bangsa Arab hanyalah orang yang baik bahasanya”, sebab itu Al- Walid lalu mengumpulkan ulama-ulama nahwu, lalu beliau belajar kepada mereka dengan rajinnya.
Khalifah Marwan ibnul Hakam dulunya telah mengangkat dua orang putranya sebagai putra mahkota yang akan menggantikannya menjadi khalifah berturut-turut, yaitu Abdul Malik dan Abdul Aziz telah meninggal sebelum wafat Abdul Malik. Maka Abdul Malik lalu menunjuk dua orang putranya juga, yaitu Al- Walid, kemudian Sulaiman. Ini terjadi pada tahun 85 H. Beliau mengirimkan surat ke daerah-daerah, menerangkan hal itu. Maka rakyat tidak keberatan untuk memberikan ba’iah dan sumpah setia. Sesudah wafat Abdul Malik, rakyat mengulangi sekali lagi bai’ah sumpah setia mereka kepada Al- Walid.
Setelah kematian ayahnya (Abdul Malik), Al- Walid menduduki tahta kerajaan Damaskus pada tahun 86 H/ 705 M. Memerintah selama sepuluh tahun lamanya (86 – 96 H/ 705- 714 M).
Dulu telah disebutkan bahwa Abdul Malik telah bekerja dengan sekuat tenaga untuk menegakkan kembali kesatuan Alam Islami, untuk itu beliau telah berjuang terus-menerus selama 20 tahun sampai beliau berhasil melaksanakan cita-citanya itu. Ketika wafat beliau telah mewariskan kepada putranya, Al- Walid, suatu kerajaan yang stabil, tentram, dan bersatu.
Al- Walid adalah orang yang terbaik untuk menerima kerajaan itu, dan orang yang terbesar untuk memelihara warisan itu. Selain dari itu dapat pula dikatakan bahwa Abdul Malik adalah pejuang, yang justru muncul pada suatu masa yang sangat memerlukan perjuangannya. Sedangkan Al-Walid adalah seorang yang suka damai dan menginginkan perbaikan-perbaikan, justru beliau muncul pada zaman damai, maka diadakanlah perbaikan-perbaikan dalam negeri. Seolah-olah Abdul Malik telah membangun suatu gedung yang besar, lalu datanglah Al-Walid, maka dihiasilah gedung itu, diperindah, dan diperluas.
Al- Walid menunjukkan dengan jelas betapa tingginya jiwa islam, dan betapa murninya prinsip-prinsip serta bimbingan-bimbingannya.
Beliau sangat dermawan, bijaksana, dan kasih sayang terhadap masyarakat serta rakyatnya yang kurang beruntung.

B. Pembangunan dan Kondisi Negara di masa Walid bin Abdul Malik
Masa kekuasaaan Walid bin Abdul Malik yang disebut- sebut sebagai masa kemenangan yang luas. Pengepungan yang gagal atas kota Konstantinopel di masa Muawiyah bin Abu Sofyan, dihidupkan kembali dengan memberikan pukulan- pukulan yang cukup kuat. Walaupun cita- cita untuk menundukkan ibu kota Romawi tetap saja belum berhasil, tetapi tindakan itu sedikit banyak berhasil menggeser tapal batas pertahanan islam lebih jauh ke depan, dengan menguasai basis- basis militer Kerajaan Romawi di Mar’asy dan ‘Amuriyah.
Perbaikan- perbaikan dalam negeri dengan karya-karya besar Al- Walid diantaranya adalah:
1. Mendirikan gedung- gedung, bangunan- bangunan dan pabrik- pabrik.
2. Mengumpulkan dan menyantuni fakir miskin dan anak- anak yatim piatu serta mendirikan banyak sekolah serta para pendidik dengan jaminan hidup dan gaji yang teratur.
3. Mendirikan rumah sakit khusus dan jaminan hidup kepada rakyatnya yang kurang beruntung (orang buta, orang cacat,orang yang berpenyakit kusta, dan orang lumpuh) serta pelayan atau perawat khusus untuk merawat dan mengurusi mereka dengan perawatan yang sesuai syarat- syarat kesehatan, dimana para perawat mendapatkan gaji tertentu.
4. Membangun jalan- jalan raya di seluruh kerajaan, terutama jalan yang menuju ke tanah Hejaz .
5. Membuat sumur- sumur di sepanjang jalan dan pegawai- pegawai yang bertugas mengurusi sumur- sumur ini dan menyediakan air kepada para kafilah yang melewati jalan ini.
6. Membangun Masjid Jami’ Damaskus dengan arsitektur yang indah dan selesai diakhir masa pemerintahannya selama 10 tahun.
7. Membangun kembali dan memperluas Masjid Nabawi di Madinah oleh gubernur Madinah, Umar ibnu Abdil Aziz. Dibongkar dan dibangun kembali dengan menperluas serta menggabungkan bekas dari kamar- kamar istri-istri Rasulullah.
8. Membangun masjid di setiap kota, semisal Masjid Aksa di Yerussalam.
9. Al- Qur’an dan Hadits dipelajari dengan penuh perhatian, baik di Kufah maupun di Basrah.
10. Perdagangan tumbuh dengan pesat, khalifah sendiri mengunjungi pasar- pasar.
11. Mengembangkan manufaktur dan desain.

Selain perbaikan dan pembangunan yang dilakukan diatas yang maju, kondisi negara yang aman saat beliau memerintah juga sangat stabil di seluruh negeri, karena khawarij tidak memiliki gigi pergerakan dan tidak ada pemberontakan di masa pemerintahannya. Masa pemerintahannya selama 10 tahun sangat sejahtera, aman,dan stabil.
Masa pemerintahan Al- Walid pada umumnya dapat disebut masa kemakmuran, keamanan, kedamaian, dan ketentraman. Dengan adanya kekayaan dan kesatuan bulat, terutama keteguhan iman Al- Walid. Dengan menilainya dari awal hingga akhir, tidak salah kalau dikatakan pemerintahan Walid bin Abdul Malik lebih gemilang dan lebih mengesankan dibandingkan dengan pemerintahan siapapun dari pada pendahulu dan para penerusnya.

C. Penaklukan dan Perluasan Wilayah di masa Walid bin Abdul Malik

Pada masa pemerintahannya terjadi penaklukan yang demikian luas. Penaklukan ini meliputi banyak kawasan, diantaranya:
1. Kawasan Barat
Panglima pasukan Islam Maslamah bin Abdul Malik sampai di daerah Amuriyah (dekat Ankara) dan Hiraqlah salah satu wilayah Romawi, lalu berhasil menaklukannya pada tahun 89 H / 707 M. Kaum muslimin berhasil mencapai Teluk Konstantinopel. Mereka juga menyerang Azarbaijan yang penduduknya selalu melanggar kesepakatan yang mereka lakukan. Di kawasan ini terjadi banyak peperangan pada tahun 93 H / 711 M.
Laut Tengah. Pasukan Islam berhasil menaklukan kepulauan Sisilia dan Merovits pada tahun 89 H / 707 M.
Afrika. Musa bin Nushair diangkat menjadi gubernur di pantai Laut Tengah hingga ke selatan Mesir. Beliau melakukan beberapa penaklukan besar di Barat. Beliau mengalahkan Bangsa Barbar dan menyebarkan agama islam yang banyak menimbulkan kesulitan kepada para pendahulunya dan mendirikan kembali kekuasaan khalifah hingga ke tepi Lautan Atlantik. Beliau mengirim beberapa ekspedisi untuk melawan Bangsa Romawi yang menimbulkan kerusuhan terhadap umat islam di Laut Tengah, dengan bantuan armada laut , merebut pulau Ivika , Minorca, dan Majorca, dekat Pantai Spanyol .
Penaklukan Andalusia. Panglima kaum muslimin Musa bin Nushair bertekad untuk menyeberangi selat yang memisahkan Benua Afrika dan Eropa. Tujuannya untuk menyebarkan islam di Eropa dan memasukannya menjadi bagian dari pemerintahan islam. Maka, Beliau memberangkatkan panglima islam asal Barbar yang bernama Thariq bin Ziyad ke Andalusia melalui Laut Merah dengan 7000 tentara merebut benteng yang kemudian dinamai Jabal Al-Thariq. Beliau menyerbu dan mengalahkan Roderic di tepi Sungai Guadalete dekat Medinia- Sidonia pada bulan September 93 H / 711 M. Dalam pelariannya Roderic tenggelam di Sungai Guadalete. Setelah itu Thariq bin Ziyad merebut Sidonia, Carmona dan Granada. Setelah Kordoba di taklukan Beliau menuju Toledo, ibukota Spanyol dalam waktu singkat sebagian besar wilayah Spanyol tunduk akan kekuasaan islam.
Di antara perang yang paling terkenal adalah Perang Lembah Langkah dimana Beliau berhasil mengalahkan Goth dan membunuh Raja mereka, Ludzrig. Andalusia berhasil di taklukan pada tahun 92 H / 710 M. Kemudian Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair sampai di Pegunungan Baranes dan berhasil menaklukan semua wilayah itu kecuali Jaliqiyah.

2. Kawasan Timur
Kawasan Asia tengah, Qutaibah bin Muslim al- Bahili berhasil menaklukan kota Tashkent pada tahun 87 H / 705 M. Masyarakat di daerah ini selalu menimbulkan kesulitan bagi orang Islam dengan melakukan pemberontakan. Untuk mengakhiri kerusuhan ini, Hajjaj bin Yusuf memecat Yazid bin Muhallab yang gagal menundukkan mereka, dan diganti oleh Qutaibah bin Muslim. Ternyata Beliau orang yang tepat dalam memangku tugas yang dipercayakan kepadanya. Beliau membawa seluruh Asia Tengah ke dalam kekuasaan Islam. Pertama kali menyerbu Balkh dan Turkaristan pada tahun 88 H / 706 M. Raja dari tempat ini tunduk kepadanya dan setuju membayar upeti kepada khalifah. Beliau menyerang negeri Saghd, Nasef, dan Kush pada tahun 89 H / 707 M. Qutaiba bin Muslim berhasil menaklukan Bukhara pada tahun 91 H / 709 M, kemudian menyeberangi Sungai Oksus dan menyerbu Kawarisma. Mendengar kabar bahwa Samarkand telah melepaskan diri dari kekuasaan islam maka Qutaibah bin Muslim beserta pasukannya memerangi dan merebut kota ini pada tahun 93 H / 711 M. Dan ini berlanjut hingga dua atau tiga tahun berikutnya, yaitu menyerang wilayah Syasy dan Farghanag hingga mencapai Khauqand pada tahun 94 H / 712 M. Beliau juga berhasil membuka Kota Kabul pada tahun 94 H / 712 M, kemudian Kashgar (kini wilayah Turkistan Timur) pada tahun 96 H / 714 M. Kabarnya perluasan sampai perbatasan Cina di tahun 96 H / 714 M, menyerbu Cina, Turkestan, dan juga merebut kasygar.
Panglima Islam ini berhasil meluaskan penaklukannya hingga wilayah- wilayah yang berada di antara dua sungai (wilayah yang dulu sebagian besar masuk wilayah Uni Soviet dan Afghanistan). Beliau melanjutkan misi militernya ini hingga sampai ke perbatasan Cina dan mewajibkan penguasa di sana untuk membayar jizyah. Hingga di sini Qutaibah bin Muslim berhenti melakukan ekspansi ke kawasan timur.
Qutaibah bin Muslim berhasil membuka wilayah yang sangat luas. Luas wilayah taklukannya diperkirakan sekitar 4.000.000 kilometer persegi yang memanjang dari bagian tengah negeri Kaukaz membentang ke bagian selatan Laut Khazr. Sementara itu, ke bagian utara meliputi Asia Tengah, ke timur bagian ke bagian Turkistan, dan ke barat ke Kabul (Afghanistan dan Sajistan).
Wilayah Sind dan India. Yang disebut dengan Sind adalah provinsi Sind yang berada di negara Islam Pakistan saat ini. Hajjaj bin Yusuf mengirimkan pasukan dalam jumlah yang sangat besar ke negeri itu di bawah pimpinan seorang panglima muda islam yang bernama Muhammad bin Qasim ats- Tsaqafi (saudara sepupu Hajjaj bin Yusuf sendiri). Panglima muda ini berhasil menorehkan kemenangan- kemenangan dan membunuh Dahir, Raja Sind. Beliau berhasil menduduki wilayah Sind antara tahun 93- 94 H / 711- 714 M. Kemenangan ini merupakan kemenangan terbesar yang dicapai pada saat itu. Penyebab ekspedisi ini adalah adanya gangguan terhadap guberbur Arab oleh bajak laut dari Sind. Raja Sind, Dahir, menolak mengabulkan permintaan gubernur itu. Beberapa usaha dilakukan untuk menghukum raja di samping menghukum para bajak laut, tetapi semua usaha tidak berhasil hingga Muhammad bin Qasim dapat memulihkan prestise dan kehormatan gubernur Arab itu. Beliau menyerang kerajaan Dahir. Dahir berusaha sekuat tenaga menyelamatkan negerinya dari kekuasaan asing, tetapi akhirnya dia kalah dan dibunuh. Kemudian Sind, Multan dan sebagian wilayah Punyab diduduki dan dijadiakan wilayah kerajaan Islam. Pasukan muslim juga membuat kemajuan besar pada waktu ini di Armenia dan Asia Kecil. Akan tetapi, semua penaklukan yang lain dari pemerintahannya menjadi pudar sebelum penaklukan Barat.
Pada masa inilah pemerintahan islam mencapai wilayah yang demikian luas dalam rentang sejarahnya.

IV. KESIMPULAN
Nama lengkapnya adalah Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Dilahirkan pada tahun 50 H. Tetapi pendidikan tentang bahasa arabnya sangat lemah, sehingga beliau berbicara kurang fasih. Dalam masa pemerintahannya dilakukan perbaikan dan pembangunan di bidang sosial yang lebih maju diantaranya pembangunan rumah sakit bagi penderita cacat, sekolah bagi anak- anak yatim piatu dan fakir miskin, pembuatan jalan dan sumur- sumur di sepanjang jalan tersebut dan lain sebagainya, serta kondisi negara yang aman saat beliau memerintah juga sangat stabil di seluruh negeri. Penaklukan dan perluasan wilayah di kawasan barat dan di kawasan timur, kawasan barat sampai pada afrika, sedangkan kawasan timur sampai pada cina oleh beberapa panglima perang diantaranya: Musa bin Nashir, Thariq bin Ziyad, Qutaibah bin Muslim, dan Muhamad bin Qashim Ats- Tsaqafi.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan mengenai pembahasan tentang peradaban islam di masa Walid bin Abdul Malik. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan baik dalam hal isi maupun sistematika penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya, besar harapan kami semoga makalah ini bisa memberikan banyak manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah khususnya, Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Terj. Adang Affandi, Studi Sejarah Islam, (Bandung: Putra A Bardin, 2000), cet. I
Al-‘Usairy, Ahmad Terj. Samson Rahman, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003), cet. I
Mufrodi, Ali Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), cet. I
Syalabi, Ahmad Terj. Mukhtar Yahya dkk, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 2, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1997), cet. IX