PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM

Standar

PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM

( Delhi, Andalus, Samarkhan Dan Bukhara )

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam II

Dosen Pengampu: DR. Muslih MZ, MA.

 

Disusun oleh:

Maulida khoirun ni’mah                          (103111125)

Mu’alifin                                                    (103111126)

M. Kholid Mawardi                                  (103111127)

Nafi’atur Rohmaniyah                             (103111128)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM

 

  1. PENDAHULUAN

Peradaban Islam pada  mulanya dimulai dari zaman Rasulullah.  Islam menampilkan peradaban baru yang esensinya berbeda dengan peradaban sebelumnya. Peradaban yang ditinggalkan Nabi misalnya, jelas sangat berbeda dengan peradaban Arab di zaman Jahiliyah. Dengan demikian, Islam telah melahirkan revolusi kebudayaan dan peradaban.

Peradaban Islam berkembang sangat maju dalam percaturan peradaban dunia, bahkan jauh sebelum kebangkitan bangsa Eropa, umat Islam telah maju dengan peradabannya yang gemilang. Bahkan bangsa-bangsa Eropa tidak mungkin akan bisa menjadi maju, jika saja tidak belajar dari peradaban Islam.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Pusat Peradaban Islam di Delhi
    2. Pusat Peradaban Islam di Andalus
    3. Pusat Peradaban Islam di Samarkhan
    4. Pusat Peradaban Islam di Bukhara
  1. PEMBAHASAN
    1. Pusat Peradaban Islam di Delhi
      1. Awal masuk Islam di India

Wilayah Asia Selatan (dahulu bernama India) sudah terdapat dua golongan besar yang berbeda kepercayaan. Yaitu, Dravida mempercayai agama secara abstrak dan Aria mempercayai agama secara nyata, sehingga terjadilah pertentangan-pertentangan kepercayaan. Akibatnya, bangsa Dravida menjadi lemah dan ada yang ikut menganut kepecayaan mereka. Bangsa Aria yang lebih kuat memaksa bangsa Dravida untuk menganut kepercayaan mereka. Kemudian, kepercayaan ini berkembang menjadi agama Brahmana (Hindu) yang melahirkan adanya kasta-kasta, yaitu kasta Brahmana, kasta Ksatriya, Kasta Waisa dan Kasta Sudra.

Pada waktu itu, kondisi sosial dan politik India sedang rapuh dengan terjadinya penindasan kaum Brahmana terhadap kasta yang lebih rendah dan orang Budha, juga terjadinya perebutan kekuasaan diantara raja-raja Hindu. Selanjutnya hubungan politik antara Arab dengan India sedang rapuh. Dalam kondisi yang demikian pasukan Islam dibawah pimpinan Muhammad ibn Qasim semasa Khalifah al-Wahid I datang membawa harapan bagi keselamatan orang yang terlindas melalui penerapan keadilan sosial yang memberi harapan baru. Mereka berdampingan memasuki tentara muslim. Kemudian, mengucapkan setia kepada orang muslim.[1]

Awal masuk Islam di india dibagi dalam beberapa periode, diantaranya :

1)      Periode Nabi Muhammad SAW

Pada masa Nabi, banyak orang dari  suku jat (india) menetap di Arab. Dan salah satunya menyembuhkan Aisyah, Istri Rasulullah. Rasulullah telah mengetahui tentang daerah india dari para pedagang yang telah lama berhubungan dagang dengan daerah tersebut. Pada tahun 630-631 M. Nabi mulai berhubungan dengan luar dengan cara mengirim utusan dan menerima kunjungan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.[2] Tidak begitu banyak informasi yang dapat diketahui tentang india pada periode ini.

2)      Periode Khulafaur Rhasyidin dan Bani Umayyah

Pada Masa Khulafaur Rhasyidin, beberapa ekspedisi ke India melalui laut tidak berhasil karena tenggelamnya armada, disamping tentara Arab kurang ahli di laut. Invasi melalui laut selanjutnya dilarang oleh Umar Ibn Khattab. Pada tahun 643-644 M tentara Arab berhasil menguasai kirman, Sizistan sampai Mekran. Selanjutnya Pada masa Muawiyyah Ibn Abu Sofyan, Dinasti Umayah, tentara Islam hanya sampai Kabul, Ibu kota Afghanistan sekarang. [3]

3)      Periode Dinasti Ghazni

Meskipun masih dalam abad pertama dari hijrah Nabi, tanah-tanah Sind telah menjadi wilayah kerajaan islam, dan telah berganti-ganti pemerintahan yang menguasainya, dan telah tersebar ke muslim yang menetap di negeri yang luas itu, namun bagian terbesar dari tanah india belum takluk di bawah pemerintahan Islam. Raja-raja masih memerintah dengan kuat di beberapa negeri yang besar, dan alam Hindu masih kuat dengan Kuil-kuil Pagoda, meskipun dia telah bertetangga dengan negeri-negeri Islam. Pergerakan penaklukan dilanjutkan dengan semangat dan tenaga baru pada abad ke-10 M, oleh bangsa Turki yang datang ke india dari balik perbukitan Afghan.

Pada permulaan paruh kedua abad X M, 961-962 M berdiri dinasti Ghazni yang terkenal karena gagah berani dan perkasa berperang. Mulanya kerajaan ini hanya sebuah kerajaan kecil dalam wilayah kerajaan bani Saman dan nama pendirinya adalah Alptgin.[4]

Tokoh yang terkenal dalam dinasti Gazni adalah sultan Mahmud. Pengakuan dari khalifah Bagdad al-Qadir Billah dengan memberi gelar Yamin Al Daulah (tangan kanan kerajaan) dan Amin al Milah (orang kepercayaan agama) kepadanya.

4)      Dinasti Ghuri

Kerajaan Ghur terletak didaerah perbukitan antara Ghazni dan Herat. Daerah ini di taklukkan Sultan Mahmud pada tahun 1010 M. Sejak saat itu daerah ini menjadi sebuah provinsi yang menjadi bagian dari kesultanan Ghazni. Orang-orang Ghuri telah berjuang dan melayani setia di bawah bendera sultan Mahmud. Tetapi selama kekuasaan para penggantinya, mereka menunjukkan sikap kurang perhatian dalam hal loyalitas terhadap terhadap sultan Ghaznawi.

  1. Islam di Delhi

Di benua India, berdiri kesultanan Delhi selama 3 abad, 602-962 H/1206-1555 M. Pada masa itu kebudayaan Arab Muslim cemerlang di sebagian besar Benua India.[5] Delhi adalah ibu kota kerajaan-kerajaan Islam di India sejak tahun 608 H/1211 M (kecuali beberapa kali dalam waktu yang tidak lama, yaitu ketika ibu kota pindah ke Dawlatabad, Agra dan Lahore) sampai kerajaan Mughal runtuh oleh Inggris tahun 1858, Sebagai ibukota kerajaan-kerajaan Islam Delhi juga menjadi pusat kebudayaan dan peradaban Islam di anak Benua India.

Kota ini terletak di pingggir Sungai Janma. Sebelum Islam masuk kesana, Delhi berada di bawah kekuasaan keturunan Johan Rajput. Tahun 589 H(1204 M), kota ini ditaklukkan oleh Qutb Al Din Aybak dan tahun 602 H (1204 M) ini dijadikan ibukota kerajaan tersendiri olehnya. Dinasti Mamluk ini berkuasa sampai tahun 689 H(1290), kemudian diganti oleh dinasti Khaji (1296-1326M), kemudian diganti oleh dinasti Tughlug (1320-1413M). Babur, raja munghal pertama, merebut  Delhi dari tangan dinasti Lodi. Setiap dinasti Islam memperluas kota itu dengan mendirikan “kota-kota” baru di Delhi semula, yaitu kota yang berada di dalam benteng Lalkot. Delhi sekarang mencakup semua kota-kota baru itu. Semuanya dikenal sebagai ”Tujuh Kota Delhi”.

Dinasti Mamluk memperluas tembok kota Hindu dengan apa yang dikenal kota Kil’a Ray Pithora. Inilah kota pertama dari tujuh kota Delhi tersebut. Sementara itu Dinasti Khalji menambah bangunan Masjid dengan atap yang indah dan beberapa menara lagi. Kesebelah barat, dinasti ini memperluas benteng Lalkot yang lama dengan maksud mempertahankan kota dari serangan bangsa Mongol. Dengan demikian ia memindahkan ibukota ke Siri, sekitar 2 km dari yang. Inilah kota yang kedua. Di dalam kota, dinasti ini mendirikan sebuah istana megah tersendiri.

Pada dinasti Tughlug, raja pertama mendirikan Tughlughabad, kota sekitar 8 km di sebelah timur Kil’a Ray Pithora, yang kemudian dijadikan sebagai pusat pemerintahan Pada tahun 730 H/1320 M.

Di tengah kota didirikan masjid, perumahan, perkantoran, dan jalan-jalan yang dikelilingi oleh benteng yang kuat. Muhammad Ibn Tughlug juga melaksanakan sebuah proyek raksasa, yaitu mendirikan Adilabad yang kemudian dikenal dengan kota Jahanpah. Hal yang sama juga dilakukan oleh Fairuz Tughlug dengan mendirikan kota fairuzabad, sekita 3 km disebelah barat laut kota yang kemudian dikenal dengan Syahjahanabad.

Setelah Delhi dihancurkan tentara Timur Lenk, kekuasaan raja-raja yang berkedudukan di Delhi merosot tajam. Ketika itulah dinasti Lodi mengambil kota agra sebagai ibu kota, sementara Delhi menjadi kota yang kurang penting.[6]

Saat-saat paling indah dan cemerlang dalam seni bangunan islam di India terjadi pada zaman pemerintahan mughal. Kuburan yang megah dan dinamakan “Taj Mahal” yang dibangun oleh Syah Jihan untuk mengenang  isterinya yang telah meninggal, dan pembangunan itu membutuhkan waktu 22 tahun yang dibangun oleh 22 ribu orang pekerja tiap hari.[7]

Setiap dinasti Islam uang berkuasa di India dan menjadikan Delhi sebagai ibu kotanya, seakan-akan mereka berlomba-lomba untuk membangun dan memperindah Istana, Benteng, Masjid, Madrasah dan Makam. Di Delhi dan sekitarnya banyak berdiri Makam-makam megah, bukan saja makam penguasa islam tetapi juga makam-makam para Wali. Kalau saja Timur Lenk tidak menghancurkan kota Delhi, tentu akan banyak sekali bangunan mewah dan indah yang dapat disaksikan. Delhi islam yang dapat kita saksikan sekarang adalah Delhi yang hanya dibangun oleh kerajaan Mughal.[8]

  1. Pusat peradaban Islam di Andalusia

Ekspansi pasukan Muslim ke semenanjung Iberia, gerbang barat daya Eropa, merupakan serangan terakhir dan paling dramatis dari seluruh operasi militer penting yang dijalankan oleh orang-orang Arab. Serangan itu menandai puncak ekspansi Muslim ke wilayah Afrika-Eropa, seperti halnya penaklukan Turkistan yang menandai titik terjauh ekspansi ke kawasan Mesir-Asia. Dari sisi kecepatan operasi dan kadar keberhasilannya, ekspedisi ke Spanyol memiliki kedudukan yang unik dalam sejarah militer abad pertengahan.[9]

Orang Arab masuk ke Andalusia dalam keadaan penduduk negeri itu terdiri dari orang-orang Goht, Romawi, Italia, dan Yahudi. Orang Goth merupakan golongan yang berkuasa. Sebagian dari mereka memeluk agama Nasrani mazhab Katholik. Semua golongan penduduk tersebut bermukim di kota-kota besar, seperti Toledo, Sevilla, Merida dan Cordova.[10]

Sejak kemenangan pasukan Islam di bawah kekuasaan dinasti Amawiyah 1 Damaskus berhasil merebut dan mengintervensi berbagai kekuatan politik lainnya di Afrika Utara, Spanyol dengan semerta-merta telah ikut menyempurnakan keberhasilan mereka. Penaklukkan ke wilyah ini oleh Toriq bin Ziyad pada tahun 710 M sepertinya tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari penguasa mereka karena secara politis kekuatan pemerintahan mereka pada kondisi yang lemah, dimana posisi rakyatnya sedang bersebrangan dengan penguasanya. Sejak pertama kali berkembangnya kekuasaan dan kepemimpinan Islam di Spanyol, tampaknya telah memainkan peranan yang sangat besar dalam membangun citra budaya dan peradaban kemanusiaan di wilayah ini. Masa ini berlangsung selama hampir delapan abad (711 – 1429 M).[11]

Pengusaan umat islam terhadap Andalus dapat dibagi menjadi beberapa periode:[12]

  1. Periode pertama

Periode antara tahun 711-755M, Andalus diperintah oleh para wali yang diangkat oleh Khalifah bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini Andalus secara politis belum setabil, masih terjadi perebutan kekuasaan antar elit penguasa, atau masih adanya ancaman musuh Islam dari penguasa setempat.

  1. Periode kedua

Periode antara tahun 755-1013M pada waktu Andalus dikuasai oleh daulah Amawiyah II. Periode ini dibagi menjadi dua:

1)   Masa keamiran tahun 755-912. Masa ini dimulai ketika Abd al-Rahman al-Dakhili, seorang keturunan Bani Umayyah I yang berhasil menyelamatkan diri dari pembunuhan yang dilakukan Bani Abbas di Damaskus, mengambil kekuasaan di Andalus pada masa Amir Yusuf al-Fihr. Ia kemudian memproklamirkan berdirinya daulah Amawiyah II di Andalus kelanjutan Amawiyah I di Damaskus.

2)   Masa kekhalifahan tahun 912-1013M, ketika Abd al-Rahman III, amir ke delapan Bani Umayyah II, menggelari diri dengan Khalifah al-Nasir li Dinilah (912-961M). Kedudukannya dilanjutkan oleh Hakam II (961-976M), kemudian oleh Hisyam II (976-1007M). Pada masa ini umat Islam Andalus mengalami kemakmuran dan kemajuaan di segala bidang.

  1. Periode ketiga

Periode antara tahun 1031-1419M, ketika umat Islam Andalus terpecah dan menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Periode ini dibagi menjadi tiga masa:

1)   Masa kerajaan-kerajaan kecil yang sifatnya lokal tahun 1031-1086M,  jumlahnya sekitar 20 buah. Masa ini disebut Muluk al-Thawaif (raja golongan). Mereka mendirikan kerajaan berdasarkan etnis bar-bar, slofia, atau Andalus yang bertikai satu dengan yang lain sehingga menimbulkan keberanian umat kristen di Utara untuk menyerang. Karena itu terjadiketidak setabilan dalam politik. Namun dalam bidang peradaban mengalami kemjuan karena masing-masing Ibu kota kerajaan lokal ingin menyaingi kerajaan Kordova.

2)   Masa antara tahun 1086-1235M, ketika uamt Islam Andalus dibawah kekuasaan bangsa Bar-bar Afrika Utara. Mula-mula Bangsa Bar-bar dipimpin oleh Yusuf ibn Tasyfin mendirikan daulah Murabitin, kemudian datang ke Andalus untuk menolong umat Islam Andalus mengusir umat Kristen yang menyerang Sevila pada tahun 1086M, tetapi kemudian menggabungkan Muluk al-Thawaif kedalam dinasti yang dipimpinnya sapai tahun 1143M, ketika dinasti ini melemah digantikan oleh dinasti Bar-bar lain al-Muwahhidin(1146-1235M). Dinasti ini datang ke Andalus dipimpin Abd al-Mu’in pada masa putranya Abu Ya’kub Yusuf Ibn Abd al-Mu’in (1163-1184M) andalus mengalami masa kejayaan. Namun sepeninggal Sultan ini al-Muwahhidin mengalami kelemahan. Paus Innosent III menghasut raja-raja Kristen untuk mengadakan penahlukan kembali (reconkuista). Dalam perang al-Uqab di Las Nafas tahun 1212 pasukan Kristen yang dipimpin Alfonso VIII dari Castila memperoleh kemenangan. Sejak saat itu daulah Muwahhidain mundur baik di Andalus maupun di Afrika Utara. Andalus mengalami perpecahan kembali dibawah raja-raja lokal, sedangkan umat kristen makin kuat dan menyerang sehingga Kordova jatuh pada tahun 1236M. Umat Islam Andalus jatuh dibawah kekuasaan Kristen kecuali Granada yang dikuasai oleh Bani Ahmar sejak tahun 1232M.

3)   Masa antara tahun 1232-1492M, ketika umat Islam Andalus bertahan di wilayah Granada dibawah kuasa Bani Ahmar. Pendiri dinasti ini adalah Sultan Muhammad Ibn Yusuf  bergelar al-Nasr, oleh karena itu kerajaan ini disebut juga Nasriyyah. Kerajaan ini merupakan kerajaan terakhir umat Islam Andalus yang berkuasa di wilayah antara Almeria dan Gibraltar, pesisir Tenggara Andalus. Dinasti ini dapat bertahan karena di lingkupi ole bukit sebagai pertahanan dan mempunyai hubungan yang dekat dengan Negeri Islam Afrika Utara yang waktu itu dibawah kerajaan Marin. Ditambah lagi Granada merupakan tempat berkumpulnya pelarian tentara dan umat Islam dari wilayah selain Andalus ketika wilayah itu dikuasai tentara kristen. Oleh karena itu, Dinasti ini pernah mencapai kemajuan diantaranya membangun istana al-Hamra. Namun pada dekade terkhir abad XIV M dinasti ini telah lemah akibat kekuasaan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh kerajaan kristen yang telah mempersatukan diri melalui pernikahan antara Esabella dari Aragon dengan raja Ferdinand dari Castila untuk bersama-sama merebut kerajaan Granada. Pada tahun 1487 mereka dapat merebut Malaga, tahun 1489 menguasai Almeria, tahun 1492 menguasai Granada. Raja terakhir Granada, Abu Abdullah melarikan diri ke Afrika Utara.

Pusat-pusat peradaban Islam di Spanyol adalah sebagai berikut:

  1. Cordova

Cordova merupakan salah satu diantara kota-kota besar dan ajaib. Cordova adalah kota lama yang dibangun kembali dengan gaya Islam dengan luas 144 mil persegi.

Menurut  George zaidan, bahwa bangunan yang terdapat dalam kota cordova diantaranya: 3.873 masjid, 27 lembaga pendidikan, dan 70 buah perpustakaan dengan isi setiap perpustakaan 400.000 buku, disamping itu masih ada perpustakaan pribadi.[13]

Sebaagai ibu kota pemerintahan, Cordova di masa bani Umayyah mengalami perkembangan yang pesat. Banyak bangunan-bangunan baru yang didirikan seperti Istana dan Masjid-masjid. Kota ini diperluas dengan memperbesar tembok yang mengelilinginya. Sebuah jembatan dengan gaya arsitektur Islam yang mempunyai 16 lengkungan dalam gaya romawi, menghubungkan Cordova dengan daerah pinggiran diseberang sungai. Disebelah barat jembatan itu berdiri Istana al Caza. Perkembangan kota ini mencapai puncaknya pada abd. Al-Rahman al-Nashir dipertengahan abad ke-10 M. Pada masa pemerintahan Islam Cordova terkenal juga sebagai pusat kerajinan barang-barang dari perak, sulaman-sulaman dari sutra dan kulit yang mempunyai bentuk husus. Pada tahun 1236 M. Cordova direbut oleh tentara kristen dibawah pimpinan Ferdinand III dari castila. Setelah itu, supremasi islam di Spanyol mulai mengalami zaman kemunduran.

Pada masa pemerintahan bani Umayyah di Spanyol, Cordova menjadi pusat ilmu pengetahuan. Di kota ini berdiri Universitas Cordova. Banyak ilmuwan dari dunia Islam bagian timur yang tertarik untuk mengajar di Universitas ini. Disamping itu, di kota ini juga terdapat sebuah perpustakaan besar yang mempunyai koleksi buku kira-kira 400 judul. Daftar sebagian dari buku-buku itu terkumpul dalam 44 jilid buku besar. Kemajuan ilmu pengetahuan disana tidak dapat terlepas dari dua orang Kholifah pencinta ilmu, Abd. Al-Rahman al-Nashir dan anaknya al-Hakam. Yang disebut terakhir ini memerintahkan pegawainya untuk mencari dan membeli buku-buku ilmu pengetahuan, baik klasik maupun kontemporer. Bahkan, ia ikut langsung dalam pengumpulan buku itu. Ia menulis surat kepada penulis-penulis terkenal untuk mendapat karyanya dengan imbalan yang tinggi. Pada masanya lah tercapai apa yang dinamakan masa keemasan ilmu pengetahuan dan sastra di Spanyol Islam.

Cordoba telah menghasilkan banyak ulama untuk kita dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti Ibnu Abdil Barr, Ibn Hazm az-Zhahiri, Ibnu Rusyd, az-Zahrawi, al-Idrisi, al-Abbas bin Farnas, al-Qurthubi dan lainnya.

Cordoba tetap dalam keunggulan seperti ini dibandingkan dengan kota-kota lain di Spanyol hingga runtuhnya masa dinasti Umawiyah pada tahun 404 H atau 1013 M, ketika tentara Barbar memberontak dan menggulingkan kekhilafahan. Mereka menghancurkan istana-istana para Khalifah, meluluhlantahkan kota serta merampas keindahannya. Sejak saat itu padamlah sinar kemajuan di kota tersebut dan pindah ke kota selanjutnya, Asybiliah (Sevilla).

Masjid Jami’ terhitung sebagai satu karya besar dalam bidang seni bangunan yang didirikan pada masa Abdurrahman ad-Dakhil (Abdurrahman an-Nashir). Dan Masjid Cordoba tetap eksis hingga sekarang ini dengan seni dan artefak ala Islam lengkap dengan mihrab-mihrabnya. Akan tetapi sekarang telah berubah fungsi menjadi Gereja Katedral setelah Cordoba berhasil ditaklukkan dan setelah dirombak dengan membuang banyak kubah serta ornamen keislamannya.

Sekalipun demikian, Masjid ini mampu mempertahankan sebagian keunggulannya, hingga jatuh ke tangan Fernando III pada tanggal 23 Syawwal 633 H. Maka kaum muslimin sangat bersedih melihat keruntuhan ini, sehingga masjid tersebut beralih fungsi menjadi gereja. Kaum muslimin dipaksa meninggalkannya dan usailah sudah lembaran kebudayaan kaum muslimin yang luar biasa, berlangsung selama 5 abad di kota tersebut.

  1. Granada

Kota Granada terletak ditepi sungai genil di kaki gunung Sierra Nevada, berdekatan dengan pantai laut mediterania (Laut Tengah). Kota ini berada dibawah kekuasaan Islam hampir bersamaan dengan kota-kota lain di Spanyol yang ditaklukan oleh tentara Bani Umayyah di bawah pimpinan Tarik Ibn Ziyad dan Musa ibn Nushair tahun 711 M. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol, kota ini disebut Andalusia Atas.

Pada masa itu, Granada mengalami perkembangan pesat. Setelah Bani Umayyah mengalami kemunduran, tahun 1031 M, dalam jangka 60 tahun, Granada diperintah oleh dinasti Zirids. Setelah itu, Granada jatuh kebawah pemerintahan Al-Mubarithun, sebuah dinasti barbar di Afrika Utara pada tahun 1090-1149 M. Pada abad ke12, Granada menjadi Kota terbesar kelima di Spanyol. Sejak abad ke13, Granada diperintah oleh dinasti Nasrid selama lebih kurang 250 tahun. Pada masa itulah dibangun istana megah (Al-Hambra). Istana ini dibangun oleh arsitek-arsitek muslim pada tahun 1238 M dan terus dikembangkan sampai tahun 1358 M. Istana ini terletak di sebelah Timur Al-Kajaba, sebuah benteng tentara Islam. Granada terkenal dengan tembok dan 20 menara mengitarinya.

Pada masa pemerintahan Muhammad V (1354-1391 M), Granada mencapai puncak kejayaannya, baik dalam bidang arsitektur maupun dalam bidang politik. Pada tahun 1492, kota ini jatuh ke tangan penguasa Kristen, raja Ferdinand dan Issabela. Selanjutnya, tahun 1610 M orang-orang Islam diusir dari kota ini oleh penguasa Kristen.[14]

  1. Pusat peradaban Islam di Samarkhan

Tahun 323 M, kota Samarkand menjadi bagian dari kekuasaan yang berpusat di Bactaria. Setelah itu, di sana berdiri kerajaan Graeco Bactrion (Bactria Yunani) pada masa Anthiochus II Theos. Sejak itu, hubungan politik dan ekonomi antara samarkand dengan persia terputus, meskipun hubungan dalam budaya terus berlanjut.

Riwayat kota Bukhara , diperkirakan sudah ada ketika Iskandar datang ke sana , di lihat dari bangunan-bangunan kuno yang dipengaruhi Persia dan pengaruh Cina. Sebelum kedatangan Islam ke daerah tersebut, masyarakat masih memeluk agama Saman, yaitu agama nenek moyang mereka dan agama Budha. Pada masa pemerintahan Khalifah Ustman bin Affan, usaha penyebaran islam antara lain oleh Ahnaf bin Qays salah seorang panglima Arab, menuju ke daerah tepian sungai Jihun pada tahun 30 H.Kemudian pada masa Yazid bin Abi Sufyan dari Dinasti Umayyah, banyak melakukan serangan ke beberapa daerah di Turkistan bagian selatan. Di bawah pimpinan Said bin Utsman, tentara islam menyebrangi sungai Jihun, dan memasuki wilayah Uzbekistan . Dalam penaklukan itu, kota Biekand, yaitu sebuah kota yang terletak di antara Bukhara dan sungai Jihun, dapat dikuasai dengan cara perdamaian. Selanjutnya tentara islam mulai memasuki kota Samarkand pada tahun 55 H. Setelah beberapa lama, Bukhara melanggar perjanjian, sehingga tentara islam harus menaklukkan kembali kota tersebut.

Setelah Qutaibah bin Muslim Al Bahily berhasil menaklukkan Khurasan tahun 88 H, Bukhara tahun 90 H/709 M da Farghana tahun 96 H/ 725 M berhasil juga ditaklukkan mulai saat iulah agama islam tersebar ke wilayah Rusia. Sebagai pusat kegiatan dakwah, Qutaibah membangun sebuah masjid di Bukhara tahun 94 H (713 M). kemudian pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Abdul Azis beberapa raja dan pemimpin masyarakat di wilayah Uzbekistan menyatakan diri sebagai pemeluk Islam dan akan selalu menaati segala peraturan yang ditetapkan oleh pemerintahan Islam di Pusat, yaitu Damaskus. Masuknya para pemimpin dan tokoh masyarakat di Uzbekistan dan beberapa penguasa lainnya di Sajistan, Balkh , Bukhara dan Samarkand menjadikan istilah mulai berkembang dan dianut masyarakat Rusia. Terdapat empat orang pahlawan yang sangat berjasa dalam proses Islamisasi wilayah Transoxania di Rusia, yaitu Muslim bin Ziyad bin Abi Sofyan, Muhlab bin Abi Shafrah, Yazid bin Muhalab, dan Qutaibah bin Muslim Al Bahily.

Samarkhan adalah kota kedua terbesar dan ibu kota pertama di Republik Uzbekistan. Samarkhan berada di sebelah sungai as-Saghad.[15] Kota ini terdiri dari tiga bagian benteng yang terleletak di bagian selatan kota. Di dalamnya terdapat taman-taman yang indah. Kota ini dikelilingi oleh parit dan mempunyai empat pintu gerbang yaitu di Timur Bab as-Sin, sebagai suatu kenangan akan hubungan lama antara kota Samarkhan dan  Cina dalam perdagangan kulit, di Utara Bab Bukhara, pintu yang menghadap kota Bukhara, di Barat Bab an-Nawbahar, dan diselatan Bab al-Kabir.[16]

Pada tahun 202 H/819 M. Al Makmun, Kholifah dari dinasti Bani Abbasiyyah yang berpusat di Baghdad, menyerahkan urusan pemerintahan negeri Transoxania (Samarkhan dan Bukhoro) kepada Ibn Saman. Sejak itu kedua kota berada dibawah kekuasaan Dinasti Samaniyyah.

Penghasilan utama kota Samarkhan adalah kertas. Pabrik kertas ini di pindahkan dari cina. disini juga terdapat makam Qosim ibnu Abbas yang dipandang sebagai pembawa agama Islam ke negri ini, dan juga makam abu Mansur al Maturidi.[17]

  1. Pusat peradaban Islam di Bukhara

Kehidupan penduduk Bukhara mulai berubah ketika tentara Islam datang membawa dakwah. Pada akhir 672 M, Ziyad bin Abihi menugaskan Miqdam Rabi bin Haris berlayar dari Irak menuju daerah Khurasan. Miqdam berhasil menaklukkan wilayah itu sampai ke Iran Timur. Setelah Ziyad meninggal, Muawiyah, khalifah Bani Umayyah, memerintahkan Ubaidillah bin Ziyad untuk menaklukkan Bukhara. Pasukan tentara Islam pertama kali menjejakkan kaki di tanah Bukhara pada 674 M di bawah pimpinan panglima perang Ubaidillah bin Ziyad. Namun, pengaruh Islam benar-benar mulai mendominasi wilayah itu pada 710 M di bawah kepemimpinan Kutaiba bin Muslim. Seabad setelah terjadinya Perang Talas, Islam mulai mengakar di Bukhara.

Tepat pada 850 M. Bukhara telah menjadi ibu kota Dinasti Samanid. Dinasti itu membawa dan menghidupkan kembali bahasa dan budaya Iran ke wilayah itu. Ketika Dinasti Samanid berkuasa, selama 150 tahun Bukhara tak hanya menjadi pusat pemerintahan, namun juga sentra perdagangan.

Bukhara adalah salah satu diantara beberapa daerah yang dikenal dengan sebutan ma wara an-nahr yaitu daerah yang terletak disekitar sungai jihun di Uzbekistan, asia tengah. Buku-buku geografi lama menganggap Bukhara sebagai kota yang paling besar diantara kota-kota yang ada dalam kekuasaan umat islam. Bukhara tidak saja terkenal keindahannya,juga merupakan pusat perdagangan yang mempertemukan pedagang-pedagang cina dengan asia barat.

Selain itu, karena berada di sekitar Sungai Jihun, tanah Bukhara pun dikenal sangat subur. Buah-buahan pun melimpah. Kota Bukhara terkenal dengan buah-buahan seperti Barkouk Bukhara yang terkenal hampir seribu tahun. Geliat bisnis dan perekonomian pun tumbuh pesat. Tak heran bila kemudian nama Bukhara makin populer.

Bukhara adalah terkenal dengan perdagangan dan industri tenun. Disini juga terdapat makam Baha ‘Uddin An-Naqsabandi[18] wafat pada abad ke-8 H/14 M. Disini ada ulama ahli hadis terkenal yaitu imam bukhari. Yang menulis kitab shahih bukhari.[19]

  1. Kesimpulan

Kota-kota seperti Delhi, Cordova, Granada, Samarkhan dan Bhukara dapat menjadi Pusat peradaban Islam karena banyak faktor yang menunjang misalnya di Delhi, selain letaknya di pinggir sungai Janma yang notabene adalah daerah transit juga kemajuan dalam ilmu pengetahuan yang menunjangnya. Begitu juga di Cordova menjadi target menuntut ilmu setelah adanya Universitas Cordova. Lain halnya di Samarkhan dan Bhukara, selain kemahiran dalam sistem penataan kota, Samarkhan adalah penghasil kertas sedangkan Bukhara adalah pusat industri tenun.

DAFTAR PUSTAKA

Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta, Pustaka Book Publisher, 2007).

­­­_________, Sejarah Islam di India, (Yogyakarta, Bunga Grafies Production,2003).

Hitti, Phiilip K, Hystory Of The Arabs, Terjemah R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, (jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta).

Muhidin al-Allusi, Adil, Arab Islam di Indonesia dan India, (Jakarta: Gema Insani Press,1992).

Munir Amin, Samsul, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009).

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, (Bogor: Kencana, 2003).

Syukur, Fatah, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2009).

Thahir, Muhammad, Sejarah Islam Dari Andalus Sampai Indus, (Jakarta: PT Pustaka Jaya, 1981).

Thohar, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo  Persada, 2004).

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Isam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003).


[1]  M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hlm. 255-256.

[2]  M. Abdul Karim, Sejarah Islam di India, (Yogyakarta: Bunga Grafies Production, 2003), hlm. 6-7.

[3]  M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Op. Cit., hlm.. 258.

[4]  M. Abdul Karim, Sejarah Islam di India, Op. Cit., hlm. 13.

[5] Adil Muhidin al-Allusi, Arab Islam di Indonesia dan India, (Jakarta: Gema Insani Press,1992), hlm. 84.

[6]  Badri Yatim, Sejarah Peradaban Isam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 290-291.

[7]  Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2009), 260.

[8]  Badri Yatim, Op. Cit., hlm. 291.

[9] Phiilip K. Hitti, Hystory Of The Arabs, Terjemah R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, (jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta), hlm. 627.

[10] Muhammad Thahir, Sejarah Islam Dari Andalus Sampai Indus, (Jakarta: PT Pustaka Jaya, 1981), hlm. 373.

[11]  Ajid Thohar, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo  Persada, 2004), hlm. 58.

[12] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Bogor: Kencana, 2003), cet.1, hlm. 120-125.

[13] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 292-293.

[14] Badri Yatim, Op. Cit., hlm. 294-295.

[15] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Op. Cit., hlm. 296.

[16] Fatah Syukur, Op. Cit., hlm. 263.

[17] Fatah Syukur, Op. Cit., hlm. 263.

[18] Baha ‘Uddin An-Naqsabandi adalah seorang pendiri Tarekat An-Naqsyabandiyah.  An-Naqsyabandi lahir pada tahun 717H dan wafat pada tahun 791H. Ia tinggal disebuah desa bernama Qashrul Arifa di wilayah Bukhara. Syaikh An-Naqsyabandi dikenal sebagai seorang wali yang memiliki banyak karamah.

[19] Fatah Syukur, Op. Cit., hlm. 264.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s