METODE PENDIDIKAN

Standar

 

 

METODE PENDIDIKAN

DALAM QS. IBRAHIM AYAT 24-25 DAN QS. AL A’ARAF AYAT 176-177

 

 

 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Tafsir Tarbawi I

Dosen Pengampu: Dr. Mustofa Rahman, M.Ag

Disusun Oleh:

Tarqiyah Ulfa                                              (103111101)

Muhammad Kholid Mawardi                     (103111127)

Amri Khan                                                  (103111109)

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

 

METODE PENDIDIKAN

DALAM QS. IBRAHIM AYAT 24-25 DAN QS. AL A’ARAF AYAT 176-177

 

  1. A.    QS. Ibrahim Ayat 24-25 dan tafsirannya

öNs9r& ts? y#ø‹x. z>uŽŸÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhŠsÛ ;otyft±x. Bpt7Íh‹sÛ $ygè=ô¹r& ×MÎ/$rO $ygããösùur ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇËÍÈ   þ’ÎA÷sè? $ygn=à2é& ¨@ä. ¤ûüÏm ÈbøŒÎ*Î/ $ygÎn/u‘ 3 ÛUΎôØo„ur ª!$# tA$sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 óOßg¯=yès9 šcr㍞2x‹tGtƒ ÇËÎÈ

Artinya : (24) tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (25) (pohon) itu menghasilkan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.[1]

Kalimat tayyibah كلمة طيبة. Dari segi bahasa kalimat tayyibah artinya kalimat (ajaran) yang baik. Maksud ungkapan ini setidaknya terdapat dua macam pendapat: pertama, menurut pendapat Abdullah bin Abbas yang dimaksud kalimat tayibah  adalah kalimat tauhid, la ilaha illaha (tiada Tuhan kecuali Allah SWT) yang merupakan aspek ajaran Islam yang paling asasi. Kalimat inilah yang membedakan antara Islam dan bukan Islam. Kedua menurut Abdullah bin Umar, yang dimaksud kalimat tayyibah adalah Islam, agama yang ditrurunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung berbagai aspek ajaran, yang dalam ayat ini diumpamakan sebagai pohon yang indah (syajarah tayyibah). Kedua pendapat tersebut tidak saling bertentangan, tetapi saling melengkapi. Pendapat yang pertama dapat diterima karena kalimat tayyibah memang ajaran Allah yang tersarikan dalam kalimat la illaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT). Pendapat kedua juga dapat di terima, mengingat Islam merupakan agama lengkap dan sempurna di mana la illaha illallah merupakan prinsip ajaran yang paling mendasar.[2]

 

 

 

Munasabah

Setelah menggambarkan kerugian yang akan diperoleh kaumnya yang dzalim dan keuntungannya yang akan didapat oleh orang–orang yang beriman dan beramal saleh pada ayat-ayat yang lalu, maka dalam ayat ini Allah SWT memberikan perumpamaan tentang kebenaran dan kebatilan.[3]

Tafsir

(24) Perumpamaan yang disebutkan dalam ayat ini ialah perumpamaan mengenai kata-kata ucapan yang baik. Kalimat yang baik adalah laksana pohon kayu yang baik, berurat tunggang, bercabang, berdahan yang kuat dan menengadah ke langit.[4]  Misalnya kalimah yang baik adalah kata-kata yang mengandung ajaran tauhid, seperti la illaha illallah atau kata lain yang mengajak manusia pada kebajikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Kata-kata semacam itu diumpamakan sebagai pohon yang baik, akarnya teguh menghujan kebumi. Akar bagi pohon memiliki dua fungsi utama: (1) menghisap air dan unsur hara dari dalam tanah (2) menopang tegaknya pohon. Apabila akar tidak dapat lagi mengambil unsur-unsur hara dari dalam tanah maka lambat laun pohon akan mati. Sedangkan akar pohon yang berfungsi baik akan dapat menyalurkan unsur-unsur hara dalam tanah kebagian atas pohon dan pertumbuhan pohon akan berjalan dengan baik. Dahannya rimbun menjulang kelangit.

Agama Islam mengajarkan kepada umatnya agar membiasakan diri menggunakan ucapan yang baik, yang berfaedah bagi dirinya, dan bermanfaat bagi orang lain. Ucapan seseorang menunjukkan watak dan kepribadiannya serta adab dan sopan-santunnya. Sebaliknya, setiap muslim harus menjauhi ucapan dan kata-kata yang jorok, yang dapat menimbulkan rasa jijik bagi yang mendengarkannya.

(25) Dalam ayat ini digambarkan bahwa pohon yang baik itu selalu memberikan buahnya pada setiap manusia, dengan seizin Tuhannya. Adapun proses pertumbuhan tanaman diperlukan berbagai unsur hara yang cukup banyak macamnya. Menurut jumlah yang diperlukannya, unsur hara ini dibedakan menjadi unsur hara makro yang diperlukan dalam jumlah banyak dan unsur hara mikro yang diperlukan dalam jumlah sedikit, tetapi keberadaanya mutlak diperlukan. Untuk sampai pada terjadinya buah, akar harus dapat memasok semua kebutuhan unsur hara ini dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Ada beberapa unsur hara yang apabila dipasok melebihi kebutuhannya akan menjadi racun bagi tanaman dan dapat menyebabkab kematian bagi tanaman (misalnya besi untuk tanaman padi). Sebab itu manusia yang mengambil manfaat dari pohon itu hendaklah bersyukur kepada Allah karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan yang diperolehnya melalui seseorang adalah karunia dan rahmat dari Allah SWT.

Demikian pula halnya kata-kata baik yang kita ucapkan kepada orang lain, misalnya dalam memberikan ilmu pengetahuan yang berguna, manfaatnya akan didapat oleh orang banyak. Setiap orang yang memperoleh ilmu pengetahuan dari seorang guru haruslah bersyukur kepada Allah karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan yang dipeoleh dari seorang guru adalah karunai dan rahmat dari Allah SWT.

Ibu bapak dalam rumah tangga haruslah senantiasa memperguanakan kata-kata yang baik dan sopan, serta menjauhi ucapan-ucapan kotor dan kasar. Karena ucapan-ucapan itu akan ditiru oleh anak-anak mereka.

Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan yakni memberi contoh dan pemisalan untuk manusia supaya dengan demikian makna-makna abstrak dapat ditangkap melalui ha-hal konkrit sehingga mereka selalu ingat.[5]

  1. B.     QS. Al A’raf Ayat176-177 dan Tafsirannya

öqs9ur $oYø¤Ï© çm»uZ÷èsùts9 $pkÍ5 ÿ¼çm¨ZÅ3»s9ur t$s#÷zr& †n<Î) ÇÚö‘F{$# yìt7¨?$#ur çm1uqyd 4 ¼ã&é#sVyJsù È@sVyJx. É=ù=x6ø9$# bÎ) ö@ÏJøtrB Ïmø‹n=tã ô]ygù=tƒ ÷rr& çmò2çŽøIs? ]ygù=tƒ 4 y7Ï9º©Œ ã@sVtB ÏQöqs)ø9$# šúïÏ%©!$# (#qç/¤‹x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ 4 ÄÈÝÁø%$$sù }È|Ás)ø9$# öNßg¯=yès9 tbr㍩3xÿtFtƒ ÇÊÐÏÈ   uä!$y™ ¸xsWtB ãPöqs)ø9$# z`ƒÏ%©!$# (#qç/¤‹x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ öNåk|¦àÿRr&ur (#qçR%x. tbqãKÎ=ôàtƒ ÇÊÐÐÈ

Artinya: (176) Dan sekiranya Kami menghendaki, Niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkan  lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia menjulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

(177) Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.[6]

Munasabah

Pada ayat yang lalu Allah SWT menjelaskan fitrah manusia yang cenderung kepada Agama tauhid dan penolakan terhadap alasan dari perbuatan syirik itu karena alpa atau ikut-ikutan, maka pada ayat ini Allah menjelaskan keadaan manusia yang mendustakan ayat-ayat Allah yang dibawa oleh Rasul-Nya, sebagi contoh bagi manusia yang berbuat sesuatu yang berlawanan dengan fitrahnya.

Tafsir

(176) Dalam ayat ini Allah menjelaskan sekiranya Allah berkehendak mengangkat laki-laki itu dengan ilmu yang telah diberikan kepadanya kemartabat yang lebih tinggi, tentulah Dia berkuasa berbuat demikian. Tetapi laki-laki itu telah menemukan pilihannya ke jalan yang sesat. Dia menempuh jalan yang berlawanan dengan fitrahnya, berpaling dari ilmunya sendiri, karena didorong oleh keinginan pribadi, yakni kemewahan duniawi. Dia mengikuti hawa nafsunya dan tergoda oleh setan. Segala petunjuk dari allah dilupakannya, suara hati nuraninya tidak didengar lagi.

Semestinya, orang yang diberi ilmu dan kecakapan itu, meningkatkan kejiwaannya, menempatkan dirinya ketingkat kesempurnaan, mengisi ilmu dan imannya dengan perbuatan-perbuatan yang luhur disertai niat ikhlas dan i’tikad yang benar. Tetapi laki-laki itu setelah diberi nikmat oleh Allah berupa ilmu pengetahuan tentang keesaan Allah, dia meningalkan ilmu yang diberikan Allah kepadanya dan tetap kafir seperti halnya dia tidak diberi apa-apa. Karena itu dalam ayat berikutnya Allah mengumpamakannya seperti anjing yang keadaannya sama saja diberi beban atau dibiarkan, dia tetap menjulurkan lidahnya. Laki-laki yang memiliki sifat seperti anjing ini termasuk manusia yang paling buruk.[7]

Maka ceritakan hai rasul yang mulia, kisah-kisah tentang orang yang menyerupai keadaanya dengan keadaan mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dengan kisah-kisah itu diharapkan mereka mau memikirkannya, sehingga keadaan mereka yang buruk dan perumpamaan mereka yang jelek akan menyebabkan mereka mau berlama-lama memperhatikan dan berfikir dengan pikiran yang jernih tentang keadaan diri mereka sendiri dan mau memandang ayat-ayat Allah dengan mata hatinya, bukan dengan mata nafsu dan sikapnya yang bermusuhan.[8]

(177) Dalam ayat ini Allah menjelaskan lagi betapa buruknya perumpamaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka disamakan dengan anjing baik karena kesamaan kebiasaan keduannya. Anjing itu tidak mempunyai cita-cita kecuali mendapatkan makanan dan kepuasan. Siapa saja yang meninggalkan ilmu dan iman lalu menjurus kepada hawa nafsu, maka dia serupa dengan anjing. Orang yang demikian itu sebenarnya menganiaya diri mereka sendiri.[9]

  1. C.    Korelasi QS. Ibrahim Ayat 24-25 dan QS. Al a’raf ayat 176-177 dengan Metode Pendidikan

Dalam tafsir QS. Ibrahim ayat 24-25 dan QS Al A’araf ayat 176-177 terdapat dua macam metode pendidikan, yaitu:

  1. Metode amsal (perumpamaan)

Adapun pengertian dari metode amsal (perumpamaan) adalah penuturan secara lisan oleh guru terhadap peserta didik yang cara penyampainnya menggunakan perumpamaan. Kebaikan metode ini diantaranya yaitu :

  1. Mempermudah siswa memahami apa yang disampaikan pendidik
  2. Perumpamaan dapat merangsang kesan terhadap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut.[10]
  3. Metode cerita (kisah)

Metode cerita (kisah) adalah penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Dapat pula maksudkan suatu cara penyajian atau penyampaian informasi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswanya. Peran siswa disini sebagai penerima pesan, mendengarkan dan memperhatikan. Metode ini dapat dilaksanakan apabila :

  1. Jumlah murid terlampau banyak
  2. Banyak bahan yang akan disampaikan, sedangkan waktunya terbatas
  3. Apabila tidak ada alat lain kecuali lisan
  4. Pesan yang akan disampaikan berupa fakta atau informasi
  5. Guru adalah seorang pembicara yang baik, berwibawa dan dapat merangsang siswa.[11]
  1. D.    Kesimpulan

Kata-kata yang baik yaitu ucapan yang mengajak kepada kebaikan dan bermanfaat bagi diri sendiri  dan orang lain bagaikan pohon yang memberikan banyak manfaat. Allah memberikan perumpamaan itu supaya manusia selalu ingat kepada kebenaran, sehingga dapat menghindarkan diri dari ucapan yang tidak baik.

Betapa buruknya perumpamaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka disamakan dengan anjing baik karena kesamaan kebiasaan keduannya. Anjing itu tidak mempunyai cita-cita kecuali mendapatkan makanan dan kepuasan. Siapa saja yang meninggalkan ilmu dan iman lalu menjurus kepada hawa nafsu, maka dia serupa dengan anjing. Orang yang demikian itu sebenarnya menganiaya diri mereka sendiri.

Dalam tafsir QS. Ibrahim ayat 24 terdapat potongan kata مثلا dan pada ayat 25 terdapat potongan kataالامثال  yang keduanya mempunyai arti perumpamaan. Dan pada QS Al A’araf terdapat potongan kata  فاقصص القصص yang mempunyai arti maka ceritakanlah cerita-cerita. Dari uraian tersebut terdapat dua macam metode pendidikan, yaitu:

  1. Metode amsal (perumpamaan)
  2. Metode Cerita (kisah)

Daftar Pustaka

Al Maragi, Ahmad Mustafa, Tafsir Al Maragi, pntrjmh: Bahrun Abu bakar, cet II,  Semarang: PT Karya Toha Putra, 1994.

Amrullah, Abdul Malik Abdul Karim, Tafsir Al Azhar , Jakarta: Panji Mas, 2008.

M Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.

RI, Departemen Agama, Alqur’an dan Tafsirannya jilid III, Jakarta: Lentera Abadi, 2010.

________, Al-Qur’an dan Tafsirannya jilid V, Jakarta: Lentera Abadi, 2010.

________, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang: CV. Asyifa’, 2010.

Shihab,  M Quraish, Tafsir Al Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2010.

Usman, Basiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.


[1] Departemen Agama RI , Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: CV. Asyifa’, 2010) hal. 687

[2] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirannya jilid V, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010),  hal.  143-144

[3] Departemen Agama RI,” Al-Qur’an dan Tafsirannya…”, hal. 144

[4] Abdul Malik Abdul Karim Amrullah, Tafsir Al Azhar , (Jakarta: Panji Mas, 2008), hal. 139

[5] M Quraish shihab, Tafsir Al Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2010),  hal. 365

[6] Departemen Agama RI , “Al-Quran dan Terjemahannya…”, hal. 460

[7] Departemen Agama RI, Alqur’an dan Tafsirannya jilid III, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010),  hal.  524-525

[8] Ahmad mustofa Al Maragi, Tafsir Al Maragi, pntrjmh: Bahrun Abu bakar, cet II,  (Semarang: PT Karya Toha Putra, 1994), hal. 203

[9] Departemen Agama RI,” Alqur’an dan Tafsirannya…”, hal. 525

[10] M Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hal.285-286

[11] Basiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)

About these ads

Satu tanggapan »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s