TAFSIR AL QURAN TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN

Standar

TAFSIR AL QURAN TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Tafsir

Dosen pengampu: Dr. Hamdani Muin, M. Ag

Disusun oleh,

  1. Himatul Aliyah                : 103111112
  2. Khusna                                      : 103111113
  3. Malikhah                          : 103111123
  4. Amri Khan                       :103111109

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA  ISLAM  NEGERI  WALISONGO

SEMARANG

2011

 

 

AYAT-AYAT TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN

 

  1. I.          PENDAHULUAN

Al Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW yang mengandung ajaran-ajaran dan petunjuk bagi setiap sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Setiap orang berhak mengeyam pendidikan dan pengajaran. Kita juga diberikan kebebasan untuk memilih pendidikan yang sesuai dengan bidang yang kita sukai. Orang yang berpendidikan tentunya akan bermanfaat bagi lingkungan disekitarnya.

Oleh karena itu, dalam makalah ini, kami akan membahas tujuan dari adanya pendidikan. Dengan bersumber beberapa surat dalam Al-Qur’an kami akan mengkaji lebih jauh mengenai tujuan pendidikan yang telah tertera dalam surat tersebut.

  1. II.          RUMUSAN MASALAH
    1. Tujuan Pendidikan Secara Umum
    2. Tafsir ayat Al-Qur’an tentang tujuan Pendidikan
      1. Surat al-Dzariat ayat 56
      2. Surat Al-Baqarah ayat 247
      3. Surat al-Qashash ayat 26
      4. Surat Al-Imron ayat 19
  1. III.          PEMBAHASAN
    1. 1.      Tentang Tujuan Pendidikan Secara Umum

Menurut UU RI NO 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS bab 2 pasal 3 menyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. [1]

Pada dasarnya, tujuan dari pendidikan tersebut juga harus disesuaikan dengan kepercayaan masing-masing. Sebab, dalam proses pendidikan diharapkan mampu menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan lain-lain.

Selain itu, tujuan dari pendidikan itu harus disesuaikan dengan adanya pandangan hidup manusia. Oleh karena itu, kita sebagai umat yang beragama Islam harus memiliki tujuan dalam pendidikan sesuai dengan ajaran Islam.

Menurut Abdul Fatah Jalal (1988:119), tujuan umum dari pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Pendidikan haruslah menjadikan manusia menjadi manusia yang menghambakan Allah. Dalam konteks ini, menghambakan berarti beribadah kepada Allah SWT.[2]

  1. 2.      Tafsir ayat Al Qur’an tentang Tujuan Pendidikan

 Setiap proses yang dilakukan dalam pendidikan harusnya memiliki tujuan yang jelas. Dengan adanya tujuan yang jelas, diharapkan akan mewujudkan perubahan positif pada peserta didik nantinya. Adapun ayat-ayat yang menguatkan mengenai pentingnya tujuan dari pendidikan, yaitu:

  1. Surat Adzari’at, ayat 56

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.[3]

Mengabdi disini dianalogikan sebagai ibadah kepada Allah SWT. Ibadah berasal dari bahasa Arab (kamus idris marbawi ‘abada yang bararti menghambakan diri, menurut perintah atau merendahkan diri).[4] Oleh karena itu manusia diciptakan  Allah agar ia beribadah atau mengabdi kepada-Nya. Untuk beribadah dengan baik dan benar, maka manusia harus memiliki ilmu sebagai landasan yang kuat dalam menjalankan ibadah.

Adapun pengertian dari ibadah itu adalah memperhambakan diri dengan penuh keinsyafan dan kerendahan. Dan dipatri lagi dengan cinta, disertai oleh raja yaitu pengaharapan akan kasih sayang-Nya, cinta kasih yang tidak terbagi kepada yang lainnya.[5] Menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah kepada Allah SWT, sehingga dalam menuntut ilmu kita ditekankan untuk melakukan hal-hal tersebut. Kita tidak boleh merasa sombong ataupun merasa sudah paling pintar dalam menuntut ilmu. Selain itu, kita juga harus cinta dengan ilmu yang kita pelajari, sehingga jika kita merasa senang mempelajari ilmu pengetahuan, maka akan memudahkan kita dalam mempelajarinya.

Makna ibadah yang menjadi tujuan keberadaan manusia atau yang merupakan tugas utama manusia adalah lebih luas dan komprehensif daripada sekedar pelaksanaan simbol-simbol. Tugas kekhalifahan itu masuk dalam konsep ibadah. Dengan demikian, hakikat ibadah tercermin dalam masalah pokok berikut:

  1. Mengokohkan konsep penghambaan kepada Allah didalam diri. Yakni, mengokohkan perasaan bahwa disana ada hamba dan ada rabb, ada hamba yang beribadah dan ada rabb yang disembah.
  2. Menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh gerak hati, gerak anggota badan, dan gerak kehidupan.[6]

Pendapat tersebut sama dengan pendapat Az-Zajjaj, tapi ahli tafsir yang lain berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah bahwa Allah tidak menjadikan jin dan manusia kecuali untuk tunduk kepada-Nya dan agar mereka merendahkan diri. Maka, setiap makhluk jin atau manusia wajib tunduk pada peraturan tuhan, merendahkan diri terhadap kehendaknya. Menerima apa yang ia takdirkan. Mereka dijadikan atas kehendak-Nya dan diberi rizki sesuai dengan apa yang telah ia tentukan. Tak seseorang pun yang dapat memberi manfaat atau mendatangkan madarat karena kesemuaan adalah kehendak Allah. Ayat tersebut menguatkan perintah mengingat Allah dan memerintahkan manusia agar melakukan ibadah pada Allah.

  1. Surat al-Baqarah, ayat 247

tA$s%ur óOßgs9 óOßg–ŠÎ;tR ¨bÎ) ©!$# ô‰s% y]yèt/ öNà6s9 šVqä9$sÛ %Z3Î=tB 4 (#þqä9$s% 4’¯Tr& ãbqä3tƒ ã&s! ہù=ßJø9$# $uZøŠn=tã ß`øtwUur ‘,ymr& Å7ù=ßJø9$$Î/ çm÷ZÏB öNs9ur |N÷sムZpyèy™ šÆÏiB ÉA$yJø9$# 4 tA$s% ¨bÎ) ©!$# çm8xÿsÜô¹$# öNà6ø‹n=tæ ¼çnyŠ#y—ur ZpsÜó¡o0 ’Îû ÉOù=Ïèø9$# ÉOó¡Éfø9$#ur ( ª!$#ur ’ÎA÷sム¼çmx6ù=ãB ÆtB âä!$t±o„ 4 ª!$#ur ììřºur ÒOŠÎ=tæ ÇËÍÐÈ

Artinya: “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”[7]

Asbabun Nuzul dari ayat diatas:

tA$s%ur óOßgs9 óOßg–ŠÎ;tR ¨bÎ) ©!$# ô‰s% y]yèt/ öNà6s9 šVqä9$sÛ %Z3Î=tB

Artinya: Nabi mereka berkata,”Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”.

  1. Sesudah nabi Syamuil menerima wahyu dari Allah, maka dia memberi tahu kepada umatnya, ”Allah telah mengangkat Thatut sebagai seorang raja untuk menjadi panglimamu”. Dalam akhbar Bani Israil diriwayatkan bahwa pada zaman Nabi Syamuil, mereka telah meninggalkan syari’at, menyembah berhala dan patung, selain itu rasa persaudaraan merekapun telah lemah.

Setelah beberapa waktu tidak memiliki raja, mereka hanya dipimpin oleh pemuka-pemuka agama. Diantara nabi mereka, seperti Syamuwil, juga menjabat hakim. Setelah lanjut usia, Syamuil mengangkat putera-puteranya menjadi hakim. Tapi hakim-hakim itu curang dan menerima uang suap. Kemudian kepala-kepala Bani Israel di Al-Mala’a, dan bermusyawarah dengan kelompok Syamuwil yang bertugas mengendalikan pemerintahan. Sebelum raja baru diangkat, Syamuil menjelaskan tentang kekejaman raja dan keinginan menjajah negara lain. Tetapi mereka bersikeras minta diangkatnya raja baru. Maka Allah memberi ilham kepada Syamuwil untuk mengangkat Thalut (Syawul) rakyat biasa menjadi raja.

  1. Sikap mereka setelah raja baru diangkat, ternyata mereka ingkar, tidak mau mengakuinya.

4 (#þqä9$s% 4’¯Tr& ãbqä3tƒ ã&s! ہù=ßJø9$# $uZøŠn=tã ß`øtwUur ‘,ymr& Å7ù=ßJø9$$Î/ çm÷ZÏB öNs9ur |N÷sムZpyèy™ šÆÏiB ÉA$yJø9$#

Artinya: Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”

Telah menjadi tradisi dikalangan mereka, bahwa raja harus keturunan Yunuz ibn Ya’kub, tidak boleh dari orang lain. Diantara mereka yang menjadi raja adalah Daud dan Sulaiman, sedang kenabian dari keturunan Lawa ibn Ya’kub serta keturunan Musa dan Harun.

Juga telah menjadi tradisi waktu itu bahwa pemerintahan dipegang oleh ahli waris raja atau bangsawan tinggi yang memudahkan pemuka-pemuka rakyat tunduk kepadanya. Disamping itu, raja juga harus punya harta (berkecukupan). Mereka tidak memperdulikan ilmu, keutamaan budi pekerti, dan sifat-sifat pribadi.

  1. Nabi Syamuil menjawab respon negatif kaum-kaum tentang pengangkatan Thalut.

tA$s% ¨bÎ) ©!$# çm8xÿsÜô¹$# öNà6ø‹n=tæ ¼çnyŠ#y—ur ZpsÜó¡o0 ’Îû ÉOù=Ïèø9$# ÉOó¡Éfø9$#ur

Artinya: Nabi (mereka) berkata, ”Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugrahkannya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa, Allah telah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendakinya.

Allah telah memilih Thalut menjadi raja baru karena dia memiliki beberapa keistimewaan, yaitu:

  1. Fitrahnya, dan itulah yang sangat penting
  2. Memiliki pengetahuan yang luas untuk mengelola pemerintahan
  3. Sehat jasmani, dan sempurna fisik yang sangat diperlukan untuk kecerdasan pikiran.
  4. Mendapat taufik dari Allah, yang diperlukan untuk memerintah.

Untuk menjadi raja tidak memerlukan orang yang telah kaya. Jika seorang raja telah memperoleh taufik dari Allah maka mudahlah baginya untuk mendapatkan harta yang diperlukan untuk memimpin pemerintahan.

  1. Ayat yang selanjutnya:

ª!$#ur ’ÎA÷sム¼çmx6ù=ãB ÆtB âä!$t±o„ 4 ª!$#ur ììřºur ÒOŠÎ=tæ

Artinya: “Dan Allah maha luas pemberian-Nya lagi maha mengetahui.”

Allah itu maha luas pemberiannya dan luas kekuasaannya. Apabila dia menghendaki sesuatu urusan karena hikmah yang terkandung didalamnya dalam susunan makhluk-Nya, maka hal itu pastilah terjadi.

Tuhan mendahulukan persyaratan ilmu dibandingkan kesehatan (kekuasaan) fisik bagi seorang raja untuk memberi pengertian bahwa memprioritaskan penguasaan ilmu itu wajib didahulukan sebelum persyaratan kesehatan fisik, karena hal itu yang lebih diperlukan untuk mengatur pemerintahan secara baik.[8]

  1. Tafsir Surat Al Qashash, ayat 26

ôMs9$s% $yJßg1y‰÷nÎ) ÏMt/r’¯»tƒ çnöÉfø«tGó™$# ( žcÎ) uŽöyz Ç`tB |Nöyfø«tGó™$# ‘“Èqs)ø9$# ßûüÏBF{$# ÇËÏÈ

Artinya: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”[9]

Rupanya anak perempuan orang tua itu kagum kepada Musa AS. Bermula ketika dia melihat kekuatan fisik dan wibawanya saat mengambil air untuk ternak mereka di tengah kerumunan orang banyak, dan kedua ketika ia datang mengundangnya serta dalam perjalanan menuju pertemuan dengan orang tuanya. Konon Musa berjalan di depan dan meminta agar diberi tahu arah agar beliau tidak melihat gerak-gerik gadis itu bila ia berjalan di depan beliau.[10] Hal ini menunjukkan bahwa Musa sangat menjunjung tinggi sopan santun, dan sangat menghormati perempuan.

Putri itu mengusulkan kepada bapaknya agar mengangkat Musa sebagai pembantu mereka untuk mengembala kambing, mengambil air, dan sebagainya, sebab dia seorang yang jujur, dapat dipercaya, dan kuat tenaganya. Usul itu berkenan dihati bapaknya, bahkan bukan hanya ingin mengangkatnya sebagai pembantu, malah ia hendak mengawinkan salah satu puterinya dengan Musa.[11]

Tidak diragukan lagi usulan wanita itu termasuk perkataan yang padat dan mengandung hikmah yang sempurna. Manakala kedua sifat itu: keterpercayaan dan kemampuan terdapat pada seseorang yang mengerjakan suatu perkara, maka ia akan mendatangkan keuntungan keberhasilan.[12]

Oleh karena itu, ketika kita diberikan kepercayaan oleh orang lain, sebisa mungkin kita menjaga amanah orang tersebut. Dengan adanya kepercayaan dari orang lain, pintu keberhasilan akan semakin terbuka untuk kita.

Kemampuan diatas juga dapat diartikan sebagai kekuatan yang dimiliki oleh seseorang. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan dalam berbagai bidang. Karena itu, terlebih dahulu harus dilihat bidang apa yang ditugaskan kepada yang dipilih. Selanjutnya, kepercayaan yang dimaksud adalah integritas pribadi yang menuntut adanya sifat amanah sehingga tidak merasa bahwa yang ada dalam genggaman tangannya menepakan milik pribadi tetapi milik pemberi amanah yang harus dipelihara, dan bila diminta kembali harus dengan rela mengembalikannya.[13]

Dengan adanya sifat kepercayaan dan kekuatan atau kemampuan maka kedua hal tersebut juga harus diaplikasikan kedalam proses pembelajaran. Dengan demikian, maka tujuan dari pendidikan dapat tercapai dan berhasil.

  1. Tafsir surat Ali-Imron ayat 19:

¨bÎ) šúïÏe$!$# y‰YÏã «!$# ÞO»n=ó™M}$# 3 $tBur y#n=tF÷z$# šúïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# žwÎ) .`ÏB ω÷èt/ $tB ãNèduä!%y` ÞOù=Ïèø9$# $J‹øót/ óOßgoY÷t/ 3 `tBur öàÿõ3tƒ ÏM»tƒ$t«Î/ «!$#  cÎ*sù ©!$# ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇÊÒÈ

Artinya: Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.[14]

Kata دين mempunyai banyak arti, antara lain ”ketundukan, ketaatan, perhitungan, balasan”. Kata ini juga berarti “agama”, karena dengan agama seseorang bersikap tunduk dan taat, serta akan diperhitungkan seluruh amalnya yang atas dasar itu ia memperoleh ganjaran dan balasan.

“Sesungguhnya agama yang diridhoi disisi Allah hanyalah Islam”. Ini merupakan kabar dari Allah bahwasanya tidak ada agama disisi-Nya yang diterima dari seseorang selain Islam. Yaitu mengikuti para rasul dalam setiap apa yang mereka bawa pada setiap saat hingga berakhir pada Muhammad. Yang mana jalan menuju diri-Nya ditutup kecuali melalui jalan Muhammad, maka barang siapa menemui Allah (meninggal dunia) setelah diutusnya Muhammad dalam keadaan memeluk agama yang tidak sejalan dengan syariat-Nya, tidak akan pernah diterima.[15]

Selanjutnya Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dimasa-masa yang lalu berbeda pendapat setelah adanya Hujjah bagi mereka dengan diutusnya para Rasul serta diturunkannya kitab-kitab kepada para Rasul tersebut. Dia berfirman”tidak berselisih orang-orang yang telah diberi al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengankian (yang ada) diantara mereka.”Maksudnya, sebagian mereka merasa dengki atas sebagian lainnya sehingga mereka berselisih dalam hal kebenaran lantaran mereka saling dengki dan benci serta saling membelakangi. Lalu sebagian mereka membawa kebencian kepada sebagian yang lain, kepada penentangan terhadap sebagian yang lain dalam seluruh ucapan dan perbuatannya, meskipun benar. Kemudian Allah berfirman “Barang siapa kafir terhadap ayat Allah”. Yaitu barang siapa mengingkari apa yang telah diturunkan oleh Allah dalam kitab-Nya. ”Maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya”.[16]Maksudnya, Allah akan memberikan balasan atas perbuatan tersebut dan menghisabnya atas kedustaan yang telah diperbuatnya serta menyiksanya atas penolakannya terhadap kitab-Nya.

Sebenarnya para nabi dan rasul yang diutus itu tidak keliru atau salah, tidak juga lalai menjelaskan agama itu kepada para pengikut mereka, karena tidak berselisih orang-orang yang telah diberi al Kitab pada suatu kondisi ataupun waktu kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka. Jika demikian, mengapa mereka berselisih? Tentu ada penyebabnya. Mereka berselisih karena kedengkian yang ada diantara mereka. Bukan kedengkian antara mereka dengan orang lain. Kedengkian yang merupakan terjemahan dari kata بفيا  bagian ayat yang digunakan diatas, adalah ucapan atau perbuatan yang dilakukan untuk tujuan mencabut nikmat yang dianugerahkan Allah kepada pihak lain disebabkan rasa iri terhadap pemilik nikmat itu.[17]

 

  1. IV.          KESIMPULAN

Tujuan dari pendidikan tersebut juga harus disesuaikan dengan kepercayaan masing-masing. Sebab, dalam proses pendidikan diharapkan mampu menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan lain-lain.

Selain itu, tujuan dari pendidikan itu harus disesuaikan dengan adanya pandangan hidup manusia. Oleh karena itu, kita sebagai umat yang beragama Islam harus memiliki tujuan dalam pendidikan sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam memilih pemimpin, juga harus memilih pemimpin yang pandai. Dengan pemimpin yang pintar, maka managemen kepemimpinan juga dapat mensukseskan adanya kinerja suatu kepemimpinan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ashy-Shidieqi, Teungku Muhammad Hasby. Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nur 1.                 (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000)

—————–. Tafsir al Qur’an Majid An-Nur 4. (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2000)

Mudzakkir, Abdul Mujib dan Jusuf. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006)

Quthb, Sayyid. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an  Jilid 11. (Jakarta: Gema Insani, 2004)

RI, Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemahan, (Semarang: Toha Putra, 1989)

Shihab, M. Quraish. Tafsir al Misbah Jilid 9. (Jakarta: Lentera Hati, 2000)

—————-, Tafsir al Misbah Jilid 2. (Jakarta: Lentera Hati, 2000)

UU RI No. 20 Th. 2003 Tentang SISDIKNAS. (Bandung: CITRA UMBARA, 2003)


[1] UU RI No. 20 Th. 2003 Tentang SISDIKNAS, (Bandung: CITRA UMBARA, 2003), hlm. 7

[2] Ahmad Tafsir, Op. Cit, hlm. 46

[3] Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahan, Q.S Adzari’at: 56, (Semarang: Toha Putra, 1989)

[4] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 11, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 49

[5] Sayyid Quthb, Ibid, hlm. 49

[6] Sayyid Quthb, Op. Cit, hlm. 49

[7] Departemen Agama RI, Op. Cit, Q.S Al-Baqarah: 247

[8] Teungku Muhammad Hasby Ashy-Shidieqi, Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nur 1, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), hlm. 426-430

[9] Departemen Agama RI, Op. Cit, Q.S Al-Qashash: 26

[10] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah  Jilid 9, (Jakarta: Lentera Abadi, 2002), hlm. 579

[11] Kementrian Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya, (Jakarta: Lentera  Abadi, 2010), hlm. 284

[12]Ahmad Mustofa Al- Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Vol. 2, (Semarang: PT. Toha Putra, 1986), hlm. 84

[13] M. Quraish Shihab, Op. Cit, hlm. 580

[14] Departemen Agama RI, Op. Cit, Q.S Al-Imron: 19

[15] M. ‘Abdul Ghoffar, Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2008), hlm. 25

[16] M. ‘Abdul Ghoffar, Ibid, hlm. 25

[17] M. Quraish Shihab, Tafsir al Misbah Jilid 2, (Jakarta: Lentera Abadi, 2000), hlm. 39

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s