BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF BEHAVIORISME

Standar

BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF BEHAVIORISME

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Psikologi Agama

Dosen Pengampu : Dr. H. Abdul Wahib, M.Ag

 

 


 

Disusun oleh:

Amri Khan                                  (103111109)

Siti Asimatul Ulyah                (103111095)

Siti Thoifah                                 (103111096)

Susi Iffatur Rosyidah            (103111098)

Syafikur Rohman                   (103111099)

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF BEHAVIORISME

 

  1.        I.            PENDAHULUAN

Aliran yang paling keras menantang psikoanalisa atas prilaku manusia dan menekankan pada metode yang lebih objektif adalah madzhab yang biasa disebut Behaviorisme (perilaku). Mereka yang bekerja dibawah label Behavioris tidak memiliki metode yang sama, namun mereka memiliki pandangan yang sama tentang hakikat manusia dan tujuan psikologi. Semua yang tergabung dalam aliran Behaviorisme sependirian dengan kecurigaan mereka terhadap kesadaran (consciousness) sebagai pegangan pengertian yang berguna dan melepaskan acuan budi, psike, atau jiwa. Manusia didorong untuk berbuat oleh kekuatan-kekuatan yang ada didalam lingkungannya, dan menggapainya sebagai makhluk fisiologi.

Dibawah naungan Behaviorisme terdapat banyak ahli Psikologi yang menekankan bahwa Psikologi sebagai ilmu sosial perlu memurnikan metodenya dengan belajar langsung dari ilmu-ilmu sejenisnya dan juga pengamatan, peramalan, serta pengendalian perilaku manusia, sehingga dengan demikian menjadi lebih empiris dan eksperimental dalam analisisnya terhadap perilaku manusia. Para ahli psikologi ini diantaranya yaitu: J.B. Watson, B.F. Skinner, Pavlov, William Sargant. Untuk lebih memahami Beragama Dalam Perspektif Behaviourisme kelompok kami akan mempresentasikannya.

 

  1.     II.            RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana teori Behaviorisme
    2. Apa saja Pokok-pokok Teori Pengkondisian
  1.  III.            PEMBAHASAN
  2. A.       Teori Behaviorisme

John B. Watson adalah seorang ahli psikologi Amerika yang pada awal abad ke-20 mulai memperkenalkan gerakan Behaviourisme, sejak itu Behaviuorisme telah dikenal dengan analisis perilakunya dengan mengembangkan teknik-teknik guna mengamati perilaku dalam lingkungan yang dikendalikan untuk mengukur tanggapan, dan untuk meramal pola perilaku selanjutnya. Dengan menggunakan prosedur, misalnya seperti percobaan atau eksperimen yang dikendalikan, analisis faktor, studi korelasi, analisis isi, dan pengukuran tepat mengenai tanggapan neurologis dengan menggunakan satu atau lebih teknik-teknik yang dipakai untuk pengamatan, cara itu adalah produk madzhab ini. Behaviorisme amat mendalam dan berakar dalam psikologi Amerika, sehingga madzhab ini paling berpengaruh luas.[1]

Tidak mengherankan jika Behaviorisme tidak memberi perhatian banyak kepada agama, hal ini dikarenakan pengandaian mereka bahwa perilaku keagamaan adalah sama halnya dengan segala perilaku lain, yang merupakan akibat dari proses tanggapan fisiologis manusia. Meskipun demikian madzhab Behaviorisme penting bagi pengembangan psikologi agama yang komprehensif, alasan pertama karena, perilaku keagamaan kadang-kadang ditafsirkan dari sudut pandangnya.

kedua, karena Behaviorisme memiliki pengandaian tentnag manusia yang berat bernada teologis. Melalui cipta (reason) orang dapat menilai membandingkan dan memutuskan suatu tindakan terhadap stimulus tertentu. Perasaan intelek ini dalam agama merupakan suatu kenyataan yang dapat dilihat, terlebih dalam agama modern, peranan dan fungsi reason ini sangat menentukan.[2]

Kaum Behavioris terdahulu seperti Watson, percaya bahwa perilaku manusia ditentukan oleh pengaruh lingkungan. Teori Behavioral bersifat deterministik, reduksionistik, atomistik, matrealistik, dan mekanistik; dalam artian bahwa perilaku manusia dapat dijelaskan atau direduksi menjadi hubungan stimulus-respons dan bahwa yang dianggap nyata hanyalah perilaku yang dapat diamati.[3]

  1. B.       Pokok-pokok teori Pengkondisian
    1. 1.    Pengkondisian Klasik dan Pertobatan

William Sargant, seorang praktisi inggris menunjukkan bahwa penggunaan teori pengkondisian di bidang agama ada peluangnya. Dalam buku “The battle for the maid”, Sargant menyajikan teori yang menarik, meskipun sempit, tentang pertobatan (conversion) berdasarkan teori Pavlov. Sargant menggunakan dua konsep Pavlov yaitu: rangsangan transmarginal dan penghambatan transmarginal dari exsperimennya itu ditarik kesimpulan bahwa, Pavlov menemukan lontaran rangsangan yang berlebih dapat membahayakan sistem neorologis binatang, dengan menciptakan pola tanggapan yang aneh.

Rangsangan yang klewat batas juga menghasilkan penghambatan yang melebihi batas (transmarginal stimulation). Pavlov mau menyebut keterangsangan yang melebihi ambang kemampuan binatang untuk membari tanggapan yang dikondisikan. Rangsangan yang diperpanjang melebihi kebutuhan itu memperlemah atau merusak pola tanggapan yang sudah biasa terjadi, gejala ini oleh Pavlov disebut penghambatan transmarginal(Transmarginal Inhibition).

Sargant mengandaikan bahwa manusia memberi reasksi atau tanggapan menurut pola yang disebut pavlov di atas. Dan berdasarkan pendapat itu Sargant menafsirkan pertobatan keagamaan. Rangsangan transmarginal yang dibuat melebihi batas dan prilaku yang diakibatkan, pada akhirnya dapat berakibat dalam “Kegiatan otak yang dapat menambah secara berarti kemampuan orang untuk menerima saran sehingga orang itu menjadi mudah dipengaruhi oleh lingkungannya”.

Sargant melihat bahwa rasa takut yang ditimbulkan seperti, karena membayangkan api neraka, yang diciptakan lewat khotbah-khotbah yanng berapi-api merupakan keadaan kebangkitan emosi yang hebat yang diciptakan secara artifisial, buatan. Orang-orang yang bertobat adalah dibebaskan dari masa kedosaan di masa lampau dan terbuka untuk peyakinan tentang hidup baru yang harus mereka jalani, keadaan mereka yang mudah menerima saran membuat mereka juga mudah menerima tanpa kritis tatanan ajaran dan praktik keagamaan baru.[4]

Sesungguhnya emosi memegang peranan penting dalam setiap tindakan agama, tidak ada satu sikap atau tindakan agama seseorang dapat dipahami, tanpa mengindahkan emosinya. Oleh karena itu dalam memahami perkembangan jiwa agama pada seseorang, perlu diperhatikan seluruh fungsi-fungsi jiwanya keseluruhan.[5]

  1. 2.    Pengkodisian Operan (Operant Conditioning)

B.F. Skinner membuat perubahan besar atas teori Pavlov tentang Pengkondisian Klasik. Pengkondisian Operan, sama halnya dengan pengkondisian klasik yang dibangun atas pendapat bahwa ganjaran (reward)menjadi penyebab agar perbuatan diulang atau diperkuat. berbeda dengan Pengkondisian Klasik bahwa lingkungan yang menanggapi makhluk, dalam Pengkondisian Operan makhluk menanggapi lingkungan. Tanggapan itu merupakan cara untuk mengubah lingkungan, guna mendapatkan kepuasan.

Skinner berpendapat bahwa manusia berbuat sesuatu dalam lingkungannya untuk mendatangkan akibat-akibat, entah untuk mendatangkan pemenuhan kebutuhan atau untuk menghindari datangnya hukuman atau pengalaman yang tidak enak. Contohnya orang yang haus akan berusaha mendapatkan minuman, orang yang terkena jarum disepatunya akan berusaha mengeluarkannya dari sepatunya agar tidak tertusuk kakinya.

Mutu pemuas tindakan untuk memenuhi kebutuhan menambah kemungkinan bahwa pada kesempatan lain tindakan yang sama diulang, dan sebaliknya, tindakan yang mendatangkan akibat yang tidak enak, pada kesempatan lain cenderung dihindari. Menurut skinner segala perbuatan dan tindakan manusia dapat dimengerti dalam kerangka pemikiran itu, begitu pula manusia dalam beragama.[6] Ia juga berpendapat bahwa agama masih diperlukan oleh orang-orang awam, terutama sebagai cara untuk mendorong mereka menangguhkan pemuasan kebutuhan masa kini.[7]

  1. 3.    Tindakan Memperkuat

Pendekatan Skinner terhadap agama harus dibahas dengan hati-hati, seperti Sargant, Skinner tidak menyajikan dalam tulisan-tulisannya uraian sistematis tentang Agama. Meskipun demikian pendirian Skinner yang Behavioristis itu merupakan kerangka dari berbagai pendapat yang tidak di kembangkan, tetapi jelas berkaitan dengan hakikat prilaku keagamaan. Yang paling menonjol adalah pengamatannya tentang pemikiran, pengetahuan, dan pembicaraan keagamaan yang dia sempitkan dalam istilah-istilah Behavioristis. Semua itu merupakan cara bagaimana cara manusia, seperti makhluk-makhluk lain dengan Pengkondisian Operan belajar hidup di Dunia yang dikuasai oleh hukum ganjaran (reward) dan hukuman.

Perasaan dan keadaan jiwa tidak lain hanyalah cara yang dianggap sesuai untuk mengatakan prilaku yang diakibatkan oleh hukum Pengkondisian Operan. Dalam pandangan Skinner kegiatan keagamaan diulangi karena menjadi faktor penguat sebagai prilaku yang meredakan ketegangan. Kelembagaan agama itu merupakan ”isme” sosial yang lahir dari faktor penguat, lembaga sosial atau kemasyarakatan menjaga dan mempertahankan prilaku dan kebiasaan masyarakat, anak dilahirkan kedalam masyarakat itu seperti dia dilahirkan kedalam lingkungan fisiknya.

Lembaga Keagamaan merupakan bentuk khusus dari tatanan sosial dimana “baik” dan “buruk” menjadi “suci” dan “berdosa”. Jadi lembaga keagamaan bertahan hidup karena fungsinya sebagai faktor penguat.[8] Dalam pandangan Behavioristis manusia sekarang dapat mengendalikan nasibnya sendiri karena manusia tahu apa yang harus dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.

  1.   IV.            KESIMPULAN

Dalam perspektif modern, manusia dilihat sebagai objek kehidupan. Sebab menurut Behaviorisme bahwa manusia adalah makhluk yang “terbentuk” oleh lingkungan. Karena itu dialog merupakan cara yang efektif dan efisien dalam menentukan proses “adaptasi” terhadap kehidupan ini. Proses dialog berarti belajar melibatkan stimulasi dan respons, dari pandangan Behaviorisme kita memperoleh teori tentang yang disebut Pengkondisian Klasik, yang berisi (transmarginal stimulation) dan (Transmarginal Inhibition).

Dan Pertobatan, yaitu perubahan perilaku yang kurang lebih dari jahat menjadi baik, dari kenistaan menjadi kebenaran, dari kegiatan acuh menjadi kegiatan rohani. Pengkondisian Operan makhluk menanggapi lingkungan, tanggapan itu merupakan cara untuk mengubah lingkungan, guna mendapatkan kepuasan. Tindakan Penguat, yaitu kegiatan keagamaan diulangi karena menjadi faktor penguat sebagai prilaku yang meredakan ketegangan.

  1.      V.            PENUTUP

Makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1966), cet. xv.

Hardjana, A.M., Dialog Psikologi dan Agama, (Jogjakartaa: Kanisius, 199), cet. I.

Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2005).

Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Agama, (Bandung: Mizan, 2005), cet v

 


[1] A. M. Hardjana, Dialog Psikologi dan Agama, (Jogjakartaa: Kanisius, 199), cet. I, Hal. 101-103

[2] Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), hal. 57

[3] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama, (Bandung: Mizan, 2005), cet v, hal. 111

[4] Op. Cit., A. M. Hardjana, hal. 106-108

[5] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1966), cet. xv, hal. 77

[6] Ibid., hal. 110-111

[7] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama, (Bandung: Mizan, 2005), cet v, hal. 168

[8][8]  Op. Cit., A. M. Hardjana, hal. 112-114

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s