ORGANISASI KURIKULUM

Standar

ORGANISASI KURIKULUM

 

RESUME

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah :  Pengembangan Kurikulum

Dosen Pengampu : Drs. Abdul Rahman, MA.g

Disusun Oleh :

Zubaidah                              (103111107)

Khafidhoh Luthfiana      (103111119)

Maria Ulfah                        (103111124)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

ORGANISASI KURIKULUM

  1. A.  Bentuk Organisasi Kurikulum

Organisasi kurikulum yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran disusun dan disampaikan kepada murid-murid, merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak dicapai. Hal tersebut dilakukan, karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid-murid.[1]

Ada beberapa bentuk organisasi kurikulum yang masing-masing memiliki ciri tersendiri, diantaranya :

  1. Kurikulum Mata Pelajaran (isolated subjects atau subject matter curriculum)

Kurikulum Mata Pelajaran merupakan kurikulum yang tertua dan banyak digunakan disetiap negara. Kurikulum ini digolongkan sebagai bentuk kurikulum yang masih tradisional. Organisasi ini berbentuk mata-mata pelajaran yang disajikan dan diberikan kepada para siswa secara terpisah-pisah satu sama lain.[2]

Ciri-ciri subject matter curriculum diantaranya :

  1. Terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang terpisah satu sama lain, masing-masing berdiri sendiri.
  2. Tiap mapel seolah-olah tersimpan dalam kotak tersendiri dan diberikan dalam waktu tertentu.
  3. Hanya bertujuan pada penguasaan sejumlah ilmu pengetahuan dan mengabaikan perkembangan aspek tingkah laku.
  4. Tidak didasarkan pada kebutuhan, minat, dan masalah yang dihadapi para siswa.
  5. Bentuk kurikulum tidak memperhatikan kebutuhan, masalah, dan tuntutan dalam masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang.
  6. Guru berperan paling aktif, siswa sama sekali tidak dilibatkan dalam perencanaan kurikulum dan mengabaikan unsur belajar aktif di kalangan siswa.[3]

Subject matter curriculum mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya :

1)   Penyajian bahan pelajaran dapat disajikan atau disusun secara logis dan sistematis.

2)   Organisasinya sederhana, dan tidak terlalu sulit untuk direncanakan dan dilaksanakan.

3)   Mudah dievaluasi dan dites.

4)   Dapat digunakan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

5)   Guru mempergunakannya lebih mudah.

6)   Tidak sulit untuk diadakan perubahan-perubahan.

7)   Lebih tersusun dan sistematis.[4]

  1. Kurikulum dengan Mata Pelajaran Berkorelasi (Correlated Curriculum)

Correlated berasal dari kata correlation yang dalam bahasa indonesia berati korelasi yaitu adanya hubungan antara satu dengan yang lainnya. Correlated curriculum Merupakan suatu pengaturan atau penyusunan mata pelajaran dengan cara menggabungkan dua atau lebih mata pelajaaran baik yang ada dalam bidang study maupunyang ada dalam bidang study lain.[5]

Ciri-ciri dari correlated curriculum, antara lain:

  1. Berbagai mata pelajaran dikorelasikan satu dengan yang lainnya.
  2. Sudah dimulai adanya usaha untuk merelevansikan pelajaran dengan permasalahan kehidupan sehari-hari, kendatipun tujuannya masih penguasaan pengetahuan.
  3. Sudah mulai mengusahakan penyesuaian pelajaran dengan minat dan kemampuan para siswa, meski pelayanan terhadap perbedaan individual masih sangat terbatas.
  4. Metode penyampaian menggunakan metode korelasi, meski masih banyak menghadapi kesulitan.
  5. Meski guru masih memegang peran aktif, namun aktivitas siswa sudah mulai dikembangkan.[6]

       Correlated curriculum mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya :

1)      Korelasi memajukan integrasi pengetahuan kepada murid-murid.

2)      Minat murid bertambah apabila ia melihat hubungan antara mata pelajaran dengan mata pelajaran.

3)      Pengertian murid-murid tentang sesuatu lebih mendalam, bila didapat penjelasan dari berbagai mata pelajaran.

4)      Korelasi memberikan pengertian yang lebih luas karena diperoleh pandangan dari berbagai sudut dan tidak hanya dari satu mapel saja.

5)      Korelasi memungkinkan murid-murid menggunakan pengetahuan yang lebih fungsional.

6)      Korelasi antara mapel lebih mengutamakan pengertian dan prinsip-prinsip daripada pengetahuan dan penguasaan fakta-fakta.[7]

  1. Kurikulum Terintegrasi (integrated curriculum)

Integrasi berasal dari kata integer yang berarti unit. Sedangkan integrasi merupakan perpaduan, koordinasi, harmoni, dan kebulatan keseluruhan. Integrated curriculum meniadakan batas-batas antara berbagai mapel dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit/keseluruhan. Apa yang diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kehidupan anak di luar sekolah sehingga dapat membantu anak dalam mengatasi masalah-masalah kehidupan diluar sekolah.

Integrated curriculum mempunyai beberapa Ciri-ciri, diantaranya :

  1. Integrasi merupakan suatu keseluruhan yang bulat.
  2. Integrasi menerobos mata pelajaran .
  3. Integrasi didasarkan atas kebutuhan anak.
  4. Integrasi didasarkan pada pendapat-pendapat modern mengenai cara belajar.
  5. Integrasi memerlukan waktu yang panjang.

f. Integrasi itu life-centereted.

  1. Menggunakan dorongan-dorongan yang sewajarnya pada anak-anak.
  2. Dalam integrasi anak-anak dihadapkan kepada situasi-situasi yang mengandung problema.
  3. Integrasi dengan sengaja memajukan perkembangan sosial pada anak-anak.

j. Integrasi direncanakan bersama oleh guru dan murid.[8]

Integrated curriculum memiliki beberapa keuntungan, diantaranya :

1)      Segala sesuatu yang dipelajari dalam unit bertalian erat

2)      Sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar

3)      Memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat

4)      Sesuai dengan paham demokrasi

5)      Mudah disesuaikan dengan minat, kesanggupan dan kematangan murid, sebagai kelompok maupun sebagai individu.[9]

  1. Kurikulum Inti (core curriculum)

Merupakan rangkaian pengalaman yang saling berkaitan, direncanakan secara kontinyu dan terus menerus sebelum dan selama dijalankan, didasarkan atas masalah atau problema, bersifat pribadi dan sosial dan diperuntukkan bagi semua siswa termasuk pendidikan umum.[10]

Core curriculum merupakan bagian dari seluruh program pendidikan yang dianggap penting, fundamental dan essensial yang harus diberikan kepada setiap murid agar mereka menjadi warga negara yang berharga, berguna serta efektif. Jadi core curriculum mempunyai arti yang sama dengan pendidikan umum.

       Core curriculum mempunyai beberapa Ciri-ciri, diantaranya :

  1. Core pelajaran meliputi pengalaman-pengalaman yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan semua siswa.
  2. Core program berkenaan dengan pendidikan umum untuk memperoleh bermacam-macam hasil (tujuan pendidikan).
  3. Berbagai kegiatan dan pengalaman core disusun dan diajarkamdalam bentuk kesatuan, tidak dibatasi oleh garis-garis pelajaran yang terpisah.
  4. Core program diselenggarakan dalam jangka waktu yang lebih lama.[11]

Core curriculum memiliki beberapa keuntungan, diantaranya :

  1. sesuatu yang dipelajari dalam unit bertalian erat Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar.
  2. Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat.
  3. Kurikulum ini sesuai dengan paham demokrasi.
  4. Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat.[12]
  5. Prosedur pengorganisasian Kurikulum

Dalam pemilihan dan re-organisasi isi kurikulum ini diperlukan suatu prosedur (tata kerja) tertentu yang meliputi:

  1. Prosedur Employee

Prosedur ini bersifat umum. Dalam prosedur ini, peran guru sangat penting, karena pemilihan dan pengorganisasian isi kurikulum ditentukan berdasarkan penguasaan isi kurikulum tersebut dikalangan guru, baik secara perorangan maupun kelompok dan harus dipertimbangkan faktor kepercayaan guru terhadap materi tersebut dalam manfaatnya bagi para siswa.

  1. Prosedur Buku Pelajaran  (the textbook procedure)

Dalam prosedur ini, pemilihan isi kurikulum didasarkan pada materi yang terkandung didalam sejumlah buku pelajaran yang telah dipilih oleh sebuah panitia tertentu. Hal ini diasumsikan karena buku-buku tersebut ditulis dan disusun oleh seorang ahli dalam bidang tertentu. Pada umumnya buku telah disusun secara sistematis dan logis, maka hal ini dapat mempermudah guru dalam menjalankan tugasnya, membantu murid dalam mempelajari pelajaran tersebut, serta memberikan rasa aman pada orang tua.

  1. Prosedur Survei Pendapat

Dalam prosedur ini, pemilihan, pengorganisasian, atau reorganisasi isi kurikulum dilakukan dengan mengadakan survei atau penelitian terhadap pendapat berbagai pihak. Cara yang ditempuh adalah dengan mengadakan angket atau wawancara terhadap berbagai kelompok masyarakat , seperti para ahli, guru, spesialis dalam pendidikan profesional, pemimpin dan tokoh masyarakat, masyarakat umum dan para siswa. Hasil dari survei inilah yang kemudian dijadikan isi kurikulum sekolah.

  1. Prosedur Studi Kesalahan

Prosedur ini dilaksanakan dengan mengadakan analisis terhadap kesalahan, kekeliruan, dan kelemahan dari pengalaman kurikuler. Misalnya dengan memerhatikan atau mempertimbangkan tingkah laku yang diperoleh melalui kurikulum tersebut. Setelah kelemahan dan kesalahan yang diketahui terjadi diketahui, dilakukan perbaikan dengan materi kurikulum yang baru.

  1. Prosedur Mempelajari Kurikulum Lainnya

Prosedur ini dapat disamakan dengan metode “tambal sulam”. Dengan mempelajari kurikulum sekolah lain, guru atau sekolah dapat menerapkan dan menentukan isi kurikulumn untuk sekolahnya sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

  1. Prosedur Analisis Kegiatan Orang Dewasa

Melaui prosedur ini, terlebih dahulu diadakan studi terhadap berbagai kegiatan dalam kehidupan. Hal ini bertujuan untuk menemukan sejumlah kegiatan yang diperkirakan berguna dipelajari para siswa disekolah. Pada umumnya berbagai kegiatan yang dianalisis tersebut adalah kegiatan yang berkenaan dengan pekerjaan atau jabatan yang dilakukan oleh orang dewasa, selanjutnya diadakan identifikasi terhadap ketrampilan dari setiap jenis atau klasifikasi kegiatan, sehingga dapat disusun suatu program pengalaman kurikuler untuk diajarkan disekolah.

  1. Prosedur Fungsi-fungsi Sosial

Prosedur ini berkaitan dengan prosedur analisis kegiatan seperti yang diuraikan sebelumnya,  hanya mempunyai pandangan yang lebih luas. Masyarakat dewasa melakukan banyak sekali fungsi sosial dalam kehidupannya sehari-hari .

  1. Prosedur Minat dan Kebutuhan Remaja

Prosedur ini tidak bersifat individualistis, melainkan berdasarkan interaksi antara individu anak (remja) dan lingkungannya. Melalui interaksi tersebut, akan muncul berbagai macam minat dan kebutuhan, yang senantiasa sejalan dengan perkembangan para remaja tersebut.[13]

  1. Faktor-faktor dalam Organisasi Kurikulum

Organisasi kurikulum dapat dipandang sebagai “one of the most potent factors in determining how learning proceeds” yaitu salah satu faktor yang paling penting yang menentukan bagaimana belajar akan berlangsung. Dalam organisasi kurikulum terdapat beberapa faktor yang perlu mendapat pertimbangan, yaitu:

  1. Masalah Scope

Scope atau ruang lingkup kurikulum berkenaan dengan ruang lingkup kurikulum atau bahan pelajaran yang harus diliputi. Scope menentukan apa yang akan yang akan dipelajari. Tiap organisasi kurikulum mempunyai scope tertentu yang saling berbeda, tiap kurikulum menyajikan bahan dan kegiatan serta pengalaman belajar yang berbeda-beda. Biasanya yang menetukan scope termasuk sequence (urutan) adalah para ahli pengembang kurikulum dibantu oleh ahli disiplin ilmu yang bekerja sebagai panitia yang diangkat oleh pemerintah, juga pengarang buku, penyusun program latihan atau kursus. Adakalanya hingga batas tertentu diberikan kebebasan kepada guru dan siswa untuk menentukannya.

  1. Masalah squence atau Urutan

Squence menentukan urutan bahan pelajaran yang disajikan, apa yang dahulu apa yang kemudian, dengan maksud agar proses belajar berjalan dengan baik. Biasanya guru berpegang pada urutan;

  1. Dari mudah kepada yang sulit,
  2. Dari yang sederhana kepada yang kompleks,
  3. Dari keseluruhan kepada bagian-bagiannya atau sebaliknya,
  4. Dari yang diketahui kepada yang belum diketahui
  5. Mengikuti urutan kronologis dalam sejarah daridulu kepada masa sekarang atau sebaliknya,
  6. Dari yang konkret kepada yang abstrak,
  7. Dari contoh-contoh konkret kepada generalisasi.
  1. Masalah Kontinuitas

Dengan kontinuitas dimaksudkan bahwa bahan pelajaran senantiasa meningkat dalam keluasan dan kedalamannya. Dengan bahan yang telah dipelajari siswa dihadapkan dengan bahan yang lebih kompleks, buah pikiran yang lebih sulit, nilai-nilai yang lebih tinggi, sikap yang lebih halus, ketelitian yangyang lebih cermat, oprasi mental yang lebih matang. Bahan yang sama dapat dipelajari pada tingkat abstrak yang lebih tinggi, dengan menggunakan bahan yang telah dipelajari sebelumnya.

  1. Masalah Integrasi

Guru yang baik dengan sendirinya akan melakukannya dalammengajarkan mata pelajaran yang diberikan. Integarsi diharapkan akan terjadi juga atas usaha individu sendiri. Pengetahuan yang diperolehnya dari berbagai sumber akan saling dihubungkan, bila menghadapi suatu masalah. Namun integrasi ini akan dibantu dengan bahan pelajaran yang disajikan secara terpadu.

  1. Masalah Keseimbangan

Jumlah mata pelajaran dalam kurikulum cukup besar dan cenderung bertambah lagi dengan timbulnya kebutuhan-kebutuhan baru. Keseimbangan ini dapat dipandang dari dua segi, yakni; keseimbangan isi atau tentang apa yang dipelajari dan keseimbangan cara atau proses belajar. Dalam menentukan keseimbangan isi, maka perlu dipertimbangkan betapa penting dan perlunya masing-masing mata pelajaran.

  1. Masalah Distribusi waktu

Kurikulum akhirnya harus dituangkan dalam bentuk mata pelajaran atau kegiatan belajar beserta waktu yang disediakan untuk masing-masing mata pelajaran. Sekolah menggunakan sistem kredit akan menggunakan jumlah kredit yang harus dipenuhi sebagai dasar untuk menentukan jumlah waktu yang disediakan.[14]

DAFTAR PUSTAKA

Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Rineka Cipta,2010.

Hamalik, Oemar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum,Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2008.

http.//Luqmanmaniabgt.blogspot.com/2012/11/05/macam.macam-kurikulum-organisasi/html/

Nasution, S,  Asas-asas Kurikulum, Jakarta : PT.Bumi Aksara, 2011.

, Pengembangan Kurikulum, Bandung :  PT. Citra Aditya Bakti, 1993.

Nurdin, Syafruddin dan M. Basyiruddin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Jakarta: Ciputat Press,2003.

Sudjana, Nana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung: Sinar Baru Algesindo.

 


[1] S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, (Jakarta : PT.Bumi Aksara, 2011), hlm. 176

[2] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Bandung : Sinar Baru Algesindo), hlm. 52

[3] Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum,(Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 155-156

[4] Syafruddin Nurdin dan M. Basyiruddin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta: Ciputat Press,2003), hlm. 45

[5] Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Rineka Cipta,2010), hlm. 44

[6] Oemar Hamalik, hlm. 157

[7] S. Nasution, hlm. 194-195

[8] S. Nasution, hlm.198-200

[9]S.Nasution, hlm. 206

[10] S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, (Bandung :  PT. Citra Aditya Bakti, 1993), hlm. 115

[11] Oemar Hamalik, hlm. 160

[12] http.//Luqmanmaniabgt.blogspot.com/2012/11/05/macam.macam-kurikulum-organisasi/html/.

[13] Oemar Hamalik, hlm. 161-166

[14] S.Nasution, hlm. 118-124

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s