MACAM-MACAM NIKAH

Standar

MACAM-MACAM NIKAH

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: FIQIH MUNAKAHAT

Dosen Pengampu: Amin Farih, M.Ag

 


Disusun Oleh:

Tomi Azami                           103111102

Tri Isnaini                              103111103

Zeni Ngindahul Masruroh   1031111o6

Wachidatun  Nazilah            103111134

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

MACAM-MACAM PERNIKAHAN

  1. I.         PENDAHULUAN

Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, ada lelaki ada perempuan salah satu ciri makhluk hidup adalah berkembang biak yang bertujuan untuk generasi atau melanjutkan keturunan. Oleh Allah manusia diberikan karunia berupa pernikahan untuk memasuki jenjang hidup baru yang bertujuan untuk melanjutkan dan melestarikan generasinya.
Untuk merealisasikan terjadinya kesatuan dari dua sifat tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar-benar manusiawi, maka Islam telah datang dengan membawa ajaran pernikahan yang sesuai dengan syariat-Nya. Islam menjadikan lembaga pernikahan itu pula akan lahir keturunan secara terhormat, maka adalah satu hal yang wajar jika pernikahan dikatakan sebagai suatu peristiwa dan sangat diharapkan oleh mereka yang ingin menjaga kesucian fitrah.

  1. II.      RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana Hukum Nikah ?
    2. Apa Saja Macam-macam Nikah ?
    3. Apa Saja Hikmah Nikah ?
  1. III.   PEMBAHASAN
  2. Hukum Nikah

Tentang hukum melakukan pernikahan, Ibnu Rusyd menjelaskan:

Segolongan Fuqaha’, yakni jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa nikah itu hukumnya sunnah. Golongan Zhahiriyah berpendapat bahwa nikah itu wajib. Para ulama Malikiyah mutaakhirin berpendapat bahwa nikah itu wajib untuk sebagian orang, sunnah untuk sebagian lainnya dan mubah untuk segolongan lainnya. Ulama Syafi’iyah megatakan bahwa hukum asal nikah adalah mubah, di samping ada yang sunnah, wajib, haram dan yang makruh.[1]

Terlepas dari pendapat imam-imam mazhab, berdasarkan nash-nash, baik Al Qur’an maupun As Sunnah, Islam sangat menganjurkan kaum muslimin yang mampu untuk melangsungkan perkawinan. Namun demikian, kalau dilihat dari segi kondisi orang yang melaksanakan serta tujuan melaksanakannya, maka melakukan perkawinan itu dapat dikenakan hukum wajib, sunnat, haram, makruh ataupun mubah.

  1. Melakukan pernikahan yang hukumnya wajib

Bagi yang sudah mampu kawin, nafsunya telah mendesak dan takut terjerumus dalam perzinaan wajiblah dia kawin. Karena menjauhkan diri dari yang haram adalah wajib, dan untuk itu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali dengan jalan kawin. Sebagaimana firman Allah:

É#Ïÿ÷ètGó¡uŠø9ur tûïÏ%©!$# Ÿw tbr߉Ågs† %·n%s3ÏR 4Ó®Lym ãNåkuŽÏZøóムª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù 3

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”. (An Nuur: 33)

  1. Melakukan pernikahan yang hukumnya Sunnah

Adapun bagi orang yang nafsunya telah mendesak kawin, tetapi masih dapat menahan dirinya dari berbuat zina, maka sunnahlah dia kawin. Sebagaimana yang tercantum dalam hadits berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ وَتَزَوَّجُوْا فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْاَمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ  فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya: “ Dari Aisyah R.A. berikut, bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda:menikah adalah sunnahKu, siapa yang tidak mengamalkan sunnahKu, maka dia bukan termasuk umatKu,menikahlah karena aku sangat senang atas jumlah besar kalian dihadapan umat-umat lain, siapa yang telah memiliki kesanggupan, maka menikahlahjika tidak maka berpuasalah, karena puasa itu bisa menjadi kendali.

  1. Melakukan pernikahan yang hukumnya Haram

Bagi seorang yang tidak mampu memenuhi nafkah batin dan lahirnya  kepada istrinya serta nafsunya pun tidak mendesak, haramlah dia kawin.

  1. Melakukan pernikahan yang hukumnya Makruh

Makruh kawin bagi seseorang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi belanja istrinya, walaupun tidak merugikan istri, karena ia kaya dan tidak mempunyai keinginan syahwat yang kuat.

  1. Melakukan pernikahan yang hukumnya Mubah

Dan bagi laki-laki yang tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mewajibkan segera kawin atau karrena alasan-alasan yang mengharramkan untuk kawin, maka hukumnya mubah.[2]

 

  1. Macam-macam Nikah
    1. Nikah yang sah menurut syari’at

Perkawinan yang sah menurut syara’ adalah perkawinan yang memenuhi rukun dan syarat-syarat nikah.  Yang termasuk dalam syarat-syarat nikah diantaranya:

  1. Perempuanya halal dikawin oleh laki-laki yang ingin menjadikanya istri.
  2. Akad nikahnya dihadiri para saksi.[3]

Adapun yang termasuk rukun nikah di antaranya adalah:

  1. Calon mempelai laki-laki
  2. Calon mempelai perempuan
  3. Wali dari mempelai perempuan yang akan mengakadkan perkawinan
  4. Ijab yang dilakukan oleh wali dan qabul yang dilakukan oleh suami.[4]
  1. Nikah yang tidak sah menurut syari’at
    1. Nikah mut’ah

Mut’ah berasal dari kata “mata’a”  yang berarti menikmati. Nikah Mut’ah disebut juga nikah sementara atau nikah yang terputus. seperti : satu hari, satu minggu, satu bulan. Nikah mut’ah dalam istilah hukum biasa disebut: “perkawinan untuk masa tertentu”, dalam arti pada waktu akad dinyatakan ikatan berlaku perkawinan sampai masa tertentu yang bila masa itu telah datang, perkawinan terputus dengan sendirinya tanpa melalui proses perceraian.[5]

Nikah ini dilarang berdasarkan hadist Nabi:

عن عليّ بن ابي طالب رضي الله عنه انّ رسول الله ص م نهى عن متعة النّساء يوم   حيبر  

         Dari Ali bin Abi Tholib, Ia berkata: sesungguhnya Rasul saw melarang nikah mut’ah dengan perempuan-perempuan pada waktu perang khaibar.                                                                                              Contoh nikah mut’ah: suatu ketika Adi pergi ke Jepang, kemudian Adi menikahi Desy dengan masa kiontrak selama tiga tahun. Setelah masa kontrak habis, secara otomatis Desy sudah bukan menjadi istrinya lagi.

Perkawinan seperti di atas dilarang oleh agama, karena dianggap mempermaikan wanita.

  1. Nikah Syighar

Secara etimologi, kata syighar dari kata ومشاغر – شاغرته – شغارا. Orang arab menjadikan kata syighar tersebut menjadi redaksi berikut ini: “Saya akan menikahkan putriku dengan kamu, jika kamu menikahkan putrimu denganku”. Setidaknya ada tiga bentuk nikah syighar. Salah satu ta’rif yang rajih dan kuat menurut ulama adalah kondisi dimana seseorang hendak menikahkan putrinya, atau saudara perempuannya, atau budaknya dengan seseorang lelaki, sebagai kompensasi juga memberikan putrinya, atau saudara perempuan, atau budaknya untuk dinikahkan dengan dia, baik dengan membayar sejumlah mahar atau tidak. Dengan kata lain, syighar adalah perikahan dengan sejumlah kompensasi tukar menukar anak putrinya atau saudara perempuannya atau budak perempuannya. Dalam kata lain disebut saling menikah sebagai maharnya adalah manfaat kelamin anak putrinya atau  saudara perempuannya atau budak perempuannya.[6] Pernikahan semacam ini dalam Islam dilarang, berdasarkan hadist Nabi:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ الشِّغَارِ. وَ الشِّغَارُ اَنْ يَقُوْلَ الرَّجُلُ: زَوِّجْنِى ابْنَتَكَ وَ اُزَوِّجُكَ ابْنَتِى، اَوْ زَوِّجْنِى اُخْتَكَ وَ اُزَوِّجُكَ اُخْتِى. احمد و مسلم

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW melarang nikah syighar. Sedang nikah syighar yaitu, seorang laki-laki berkata, “Nikahkanlah aku dengan anak perempuanmu, dan aku akan menikahkan kamu dengan anak perempuanku, atau nikahkanlah aku dengan saudara perempuanmu dan aku akan menikahkan kamu dengan saudara perempuanku”. [HR. Muslim]

Contoh nikah syighar:

Seorang laki-laki bernama Dedi, mempunyai anak perempuan bernama Susy. Dedi mempunyai tetangga bernama Heru yang secara kebetulan Heru juga mempunyai anak perempuan bernama Lia. Dedi ingin menikahkan Susy dengan Heru. Heru pun menerima permintaan Dedi tapi dengan syarat anak perempuan Heru, yaitu Lia harus dinakahkan denganya (Heru).

Pernikahan seperti di atas dilarang oleh syari’at.

  1. Nikah Muhallil

Nikah muhallil adalah seorang perempuan dicerai tiga kali (talak bain kubra) maka haramlah menikahinya berdasarkan firman Allah:

Ÿxsù ‘@ÏtrB ¼ã&s! .`ÏB ߉÷èt/ 4Ó®Lym yxÅ3Ys? %¹`÷ry— ¼çnuŽöxî 3

“Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain”. (Q.S Al Baqarah: 230)

Larangan pernikahan ini (tahlil) juga terdapat dalam hadist Nabi dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ahmad, al-Nasa’I dan al-Tirmizi dan dikeluarkan oleh empat perawi hadist selain an-Nasa’i yang bunyinya:

عن عبد الله بن مسعود قال : لعن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم المحلّل والمحلّل له (رواه الترمذي )  

Dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata: “Rasul Allah saw. Mengutuk orang yang menjadi muhallil (orang yang disuruh kawin) dan muhallal lah (orang yang merekayasa perkawinan tahlil)”. (HR. Attirmidzi).

Contoh nikah tahlil:

Seorang suami bernama Andi mentalak istrinya yang bernama Rina sebanyak tiga kali, karena Andi masih mencintai Rina dan ingin kembali memperistri Rina, Andi menyuruh Umar untuk menikahi Rina sebagai perantara agar Andi bisa menikah lagi dengan Rina.

Pernikahan semacam ini dilarang oleh syari’at karena dianggap mempermainkan hukum pernikahan dalam Islam.

 

  1. Nikah Muhrim

Nikah muhrim adalah seorang laki-laki yang menikah, sedangkan ia dalam keadaan ihram untuk haji atau umrah sebelum tahalul. Hukum pernikahan ini batal. Jika ia menginginkan nikah dengannya maka ia melaksanakan akad kembali setelah selesai  haji atau umrahnya, berdasarkan sabda nabi:

عن عثمان بن عفّان : انّ رسول الله ص.م. لاينكح المحرم ولا ينكح  (رواه مسلم )

Dari Utsman bin Affan, sesungguhnya Rasullah Saw bersabda: “Orang yang berihrom tidak menikah dan tidak menikahkan”(HR. Muslim).

 

Maksudnya ia tidak melaksanakan akad nikah baginya dan ia tidak melaksanakan akad untuk orang lain. Larangan ini bersifat haram, yakni mengharuskan kebatalan.

Contoh:

Pada saat Anwar sedang melaksanakan ihram untuk ibadah haji atau umroh saat itu juga dia menikah dengan seorang wanita yang bernama Nisa’.

Pernikahan semacam ini dilarang oleh syari’at Islam.

  1. Nikah Masa Iddah

Nikah masa ‘iddah yaitu laki-laki yang menikahi perempuan yang masih ‘iddah baik karena perceraian ataupun kematian. Pernikahan ini bathil hukumnya, yaitu hendaknya mereka berdua dipisahkan karena batalnya akad dan ketetapan mahar tetap bagi perempuan meski ia tidak bercampur denganya. Diharamkan baginya menikahinya sehingga setelah habis masa ‘iddahnya sebagai hukuman baginya. Hal itu juga berdasarkan firman Allah:

Ÿwur (#qãB̓÷ès? noy‰ø)ãã Çy%x6ÏiZ9$# 4Ó®Lym x÷è=ö6tƒ Ü=»tFÅ3ø9$# ¼ã&s#y_r&

Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. (QS. Al-Baqarah: 235)

  1. Nikah tanpa wali

Nikah tanpa wali yaitu laki-laki yang menikahi perempuan tanpa izin walinya. Nikah ini batil karena kurangnya rukun pernikahan, yaitu wali, Rasulullah bersabda:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، أَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ وَهُوَ الأَصَمُّ، أَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، أَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ سُوَيْدٍ يَعْنِي ابْنَ مُقْرِنٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: ” أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، لَا نِكَاحَ إِلا بِإِذْنِ وَلِيٍّ ” ( رواه البيقي )

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-‘Abbaas, ia adalah Al-Asham : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Abdil-Hamiid : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Usaamah, dari Sufyaan, dari Salamah bin Kuhail, dari Mu’aawiyyah bin Suwaid, yaitu Ibnu Muqrin, dari ayahnya, dari ‘Aliy, ia berkata : “Wanita mana saja yang dinikahkan tanpa ijin dari walinya, maka pernikahannya itu baathil. Tidak sah pernikahan kecuali dengan ijin seorang wali” (HR. Al-Baihaqiy)

 

  1. Hikmah Nikah

Menurut Ali Ahmad Al-Jurjawi hikmah-hikmah perkawinan itu banyak antara lain:

  1. Dengan perkawinan maka banyaklah keturunan. Ketika keturunan itu banyak, maka proses memakmurkan bumi berjalan dengan mudah, karena suatu perbuatan yang harus dikerjakan bersama-sama akan sulit jika dilakukan secara individual
  2. Keadaan hidup manusia tidak akan tentram kecuali jika keadaan rumah tangganya teratur
  3. Laki-laki dan perempuan adalah dua sekutu yang berfungsi memakmurkan dunia masing-masing dengan ciri khasnya berbuat dengan berbagai macam pekerjaan
  4. Sesuai dengan tabiatnya, manusia itu cenderung mengasihi orang yang dikasihi. Adanya istri akan bias menghilangkan kesedihan dan ketakutan
  5. Pernikahan akan menjaga pandangan yang penuh syahwat terhadap apa yang tidak dihalalkan untuknya
  6. Perkawinan akan memelihara keturunan serta menjaganya, termasuk mmelihara hk-hak dalam warisan
  7. Manusia itu jika telah mati terputuslah seluruh amal perbuatannya yang mendatangkan rahmat dan pahala kepadanya. Namun apabila masih meninggalkan anak dan istri, mereka akan mendoakannya dengan kebaikan hingga amalnya tidak terputus dan pahalanya pun tidak ditolak.[7]

Selain hikmah-hikmah di atas, Sayyid Sabiq menyebutkan pula hikmah-hikmah yang lain, sebagai berikut:

  1. Kawin merupakan jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk menyalurkan dan memuaskan seks ini. Dengan kawin,badan juga segar, jiwa jadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram dan perasaan tenang menikmati barang yang halal
  2. Kawin merupakan jalan terbaik untuk menciptakan anak-annak menjadi mulia, memperbanyak keturunan, melestarikkan hidupmmanusia serta memelihara nasab yang oleh Islam sangat diperhatikan
  3. Naluri kebapaan ddan keibuan akan tumbuh saling melengkapi dalam dalam suasana hidup dengan anak-anak dan akan tumbuh pula perasaan-perasaan ramah, cinta dan sayang yang merupakan sifat-sifat baik yang menyempurnakan kemmanusiaan seseorang
  4. Menyadari tanggungjawab beristridan menanggung anak-anak akan menimbulkan sikap rajin dan sungguh-sungguh dalam memperkuat bakat dan pembawaan seseorang
  5. Adanya pembagian tugas, di mana yang satu mengurusi dan mengatur rumah tangga, sedangkan yang lain bekerja di luar, sesuai dengan batas-batas tanggung jawab antara suami dan istri dalam menangani tugas-tugasnya
  6. Dengan perkawinan, diantaranya dapat membuahkan kekeluargaan, memperteguh kelanggengan rasa cinta antara keluarga, dan memperkuat hubungan kemasyarakatan yang oleh Islam direstui, ditopang dan ditunjang.[8]

Jadi, secara singkat dapat disebutkan bahwa hikmah perkawinan itu antara lain: Menyalurkan naluri seks, jalan mendapatkan keturunan yang sah, penyaluran naluri kebapaan dan keibuan, dorongan untuk bekerja keras, pengaturan hak dan kewajiban dalam rumah tangga dan menjalin silaturrahmi antara dua keluarga, yaitu keluarga dari pihak suami dan keluarga dari pihak istri.

  1. IV.             ANALISIS

Di Indonesia sekarang ini masih banyak orang yang melakukan nikah mut’ah (kawin kontrak). Mereka berpedoman pada surat An-Nisa’: 24 yang mereka anggap sebagai ayat yang memperbolehkan nikah mut’ah.

 ¨@Ïmé&ur Nä3s9 $¨B uä!#u‘ur öNà6Ï9ºsŒ br& (#qäótFö6s? Nä3Ï9ºuqøBr’Î/ tûüÏYÅÁøt’C uŽöxî šúüÅsÏÿ»|¡ãB 4 $yJsù Läê÷ètGôJtGó™$# ¾ÏmÎ/ £`åk÷]ÏB £`èdqè?$t«sù  Æèdu‘qã_é& Z

Dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban

Mereka menafsirkan kalimat  منهنّ   فمااستمتعتم بهmereka memperkuat alasan mereka dengan bacaan Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas:فما ستمتعتم به منهنّ الي اجل مسمّى  “maka istri-istri yang telah kamu campuri sampai batas waktu tertentu” ayat tersebut sebenarnya untuk menerangkan tentang pernikahan yang sahih. Adapun maksud dari kata جورالا di situ adalah mahar itu sebanding dengan imbalan dari kesenangan  yang telah didapatkan oleh suami. Kesenangan tersebut adalah kenikmatan bersenggama, sedangkan mahar merupakan rukun nikah yang sahih. Karena itu mahar tidak boleh ditiadakan begitu saja.

Padahal menurut Ubay Ibn Ka’ab dan Ibnu Abbas bacaan di atas termasuk qira’at syadzan/bacaan lemah tak berdasar dan berbeda jauh dengan qira’at yang terdapat dalam mushaf-mushaf kaum muslimin, yang mana tak boleh bagi siapapun untuk menambah bacaan apapun di dalam Kitabullah tanpa berdasar khabar yang qath’i.

  1. V.                KESIMPULAN

Hukum awal dari pernikahan adalah Sunnah, namun dilihat dari segi kondisi orang yang melaksanakan serta tujuan melaksanakannya, maka melakukan perkawinan itu dapat dikenakan hukum wajib, sunnat, haram, makruh ataupun mubah.

Macam-macam nikah ada dua yaitu Nikah yang sah menurut syari’at dan Nikah yang tidak sah menurut syari’at, seperti: nikah mut’ah, nikah syighar, nikah muhalil, nikah muhrim, Nikah Masa Iddah, dan Nikah tanpa wali

hikmah perkawinan itu antara lain: Menyalurkan naluri seks, jalan mendapatkan keturunan yang sah, penyaluran naluri kebapaan dan keibuan, dorongan untuk bekerja keras, pengaturan hak dan kewajiban dalam rumah tangga dan menjalin silaturrahmi antara dua keluarga, yaitu keluarga dari pihak suami dan keluarga dari pihak istri.

DAFTAR PUSTAKA

As-Subki, Ali Yusuf, Fiqih Keluarga Pedoman Berkeluarga dalam Islam, Jakarta: Amzah, 2010

Ghozali, Abdul rahman, Fiqh Muakahat, Jakarta: Kencana Prenada Media Group: 2009

Mu’thi, Fadlolan Mustaffa’, “Nikah Friendly Solusi Halal Hindari Perzinaan”, Semarang: Syauqi Press, 2008

Sabiq, Sayyid, Fikih Sunnah 6, Bandung: PT.Al Ma’arif, 2011

Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Croup: 2009

 


[1] Abdul rahman Ghozali, Fiqh Muakahat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group: 2009), cet. 3, hlm. 16-18

[2] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 6, (Bandung: PT.Al Ma’arif, 2011), hlm. 22-26

[3] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 6, hlm. 87

[4] Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Croup: 2009), cet. 3, hlm. 61

[5] Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, hlm. 100

[6] Fadlolan Mustaffa’ Mu’thi, “Nikah Friendly Solusi Halal Hindari Perzinaan” (Semarang: Syauqi Press, 2008), cet.2, hlm45-46

[7] Abdul rahman Ghozali, Fiqh Muakahat, hlm. 65-72

[8] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 6,  hlm. 18-21

About these ads

One response »

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s