ILMU SALAF IBNU QAYYIM

Standar

ILMU SALAF IBNU QAYYIM

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Tauhid
Dosen Pengampu: Syamsudin Yahya

Disusun oleh:
Nuzul Faizah (103111093)
Riza Rahmawati (103111094)
Siti Azimatul Ulya (103111095)
Siti Thoifah (103111096)
Shobihin (103111197)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010
I. PENDAHULUAN
Ilmu salaf secara bahasa yaitu yang terdahulu, yang awal, dan yang pertama. Aliran salaf terdiri dari orang-orang hanabillah yang muncul pada abad ke-4 hijriyah dengan mempertalikan dirinya dengan pendapat-pendapat Imam Ahmad bin Hambal. Yang dipandang oleh mereka telah menghidupkan dan mempertahankan pendirian ulama salaf karena pendapat ulama salaf ini menjadi motif brdirinya, maka orang-orang hannabillah menanamkan dirinya “ahli salaf”.
Ibnu Qoyyim tumbuh menjadi seorang yang luas wawasannya, sebab beliau dibentuk pada zaman ketika ilmu sedang jaya dan para ulama pun masih hidup. Sesunggguhnya beliau telah mendengar hadits dari asy-syihab, an-nablisy, isa al-muth’im, ismail bin ma’tum dan lain-lain.
Beliau belajar ilmu faraid dari bapaknya, karena beliau sangat menonjol dalam ilmu tersebut. Belajar bahasa arab dari ibnu abi al-fath al-baththy dengan membaca kitab-kitab: (al-mulakhas li abil balqo’ kemudian kitab al-jurjaniyan, kemudian al-fiyah ibnu malik, juga sebagian besar kitab al-kafiyah was syafiyah dan sebagian at-tas-hil).
Dalam pembahasan kali ini akan di bahas mengenai: Pengertian Salaf, Sejarah Ibnu Qayyim, Pandangan Ibnu Qayyim Mengenai Manusia. Oleh karena itu mari kita bahas makalah ini secara bersama-sama.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Pengertian Salaf
B. Ajaran-ajaran Ahli Salaf
C. Sejarah Ibnu Qayyim
D. Pandangan Ibnu Qayyim Mengenai Manusia

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Salaf
Kata “ salaf ” dalam bahasa arab berarti yang terdahulu. Maksudnya ialah Orang- orang muslim terdahulu, yang semasa Rasulullah, para shahabat, para Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in. Mereka itu adalah Orang- orang yang khusuk dan mendalam rasa keagamaannya karena terutama mereka itu amat dekat pada masa Nabi atau boleh dikatakan hidup pada awal dari masa islam.
Mereka itulah yang dinamakan juga Shalafus sholihin, artinya orang- orang shalih yang terdahulu.
Rasulullah SAW bersabda: abad yang sebaik- baiknya adalah abadku ini, kemudian abad berikutnya. ( H.R. Jabir Zurqani) Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat At- Taubat Ayat: 100 yang berbunyi :
 •     •         •           
Yang artinya: orang- orang yang terdahulu lagi yang pertama- tama (masuk islam) diantara orang- orang muhajirin dan Anshor dan orang- orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka surga- surga yang mengalir sungai- sungai dibawahnya: mereka kekal didalamnya selama- lamanya, itulah kemenangan yang besar ( At- Taubat ayat : 100).
Demikianlah, orang- orang salaf mendapat pujian dari Allah dalam ayat diatas, karena ridhanya mereka didalam mengikuti perintahnya Allah, maka ridhalah Allah kepada mereka.
Sejak kapan lahirnya ilmu salaf?.
Ada yang mengatakan pada abad IV H, para penganut madzhab Hambali melancarkan paham yang mereka katakana diambil dari Imam Ahmad bin Hambal. Mereka berkata bahwa Lmam Ahmaad bin Hambal inilah yang menghidupkan dan mempertahankan I’tiqad salaf.
Pada abad XII H. ( XVII M) lahirlah Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787 M) yang melancarkan suatu paham dan katanya, paham itu adalah paham salaf, yang kemudian terkenal dengan sebutan aliran Wahabilah.

B. Ajaran- ajaran Ahli Salaf
Ahli Salaf telah memberikan ajaran- ajarannya didalam berbagai persoalan Ilmu Kalam, seperti sifat- sifat Tuhan, perbuatan manusia, kemakhlukan Qur’an atau bukan dan sifat atau ayat- ayat yang muthasabihat ( yang mengesakan penyerupaan Tuhan dengan manusia).
Kesemuannya itu dapat digolongkan menjadi satu persoalan saja, yaitu “ Keesaan Tuhan” yang memiliki tiga segi, yaitu: Keesaan Zat dan Sifat, Keesaan penciptaan, dan Keesaan Ibadah.
1. Keesaan Zat dan Sifat
Di dalam ilmu tauhid berarti mengesakan, membersihkan, menyerupakan, dan memberi badan atau bentuk kepada Tuhan.
2. Keesaan penciptaan
Dasar “Keesaan penciptaan” ialah bahwa Tuhan menjadikan langit dan bumi, apa yang ada didalamnya atau yang terletak diantara keduannya, tanpa sekutu dalm menciptakannya.
3. Keesaan Ibadah.
“Keesaan Ibadah” artinya seseoarang manusia tidak mengarahkan ibadahnya selain kepada Tuhan dan hal itu baru terwujud apabila terpenuhi:
a) Hanya menyembah Tuhan semata- mata dan tidak mengakui ketuhanan selain Allah, siapa yang mengikut sertakan suatu makhliuk untuk disembah bersama Allah, berarti ia telah syirik. Siapa yang mempersamakan al- Khalik dalam makhluk dalam suatu macam labdah, berarti ia mengangkat Tuhsn selain Allah, meskipun ia mempercayai keesaan Tuhan al-Khalik.
b) Hanya menyembah Tuhan dengan cara yang telah ditentukan ( diisyaratkan) oleh Tuhan melalui Rasul-Nya. Baik ibadah yag wajib, atau sunnah ataupun mubah, harus dimaksudkan untuk ketaatan dan syukur semata- mata kepada Allah.

C. Sejarah Ibnu Qayyim
Imam ibnu qayyim al-jauziyyah yang lahir di damaskus, suriah pada 4 februari 1292. Ia memiliki nama lengkap Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Su’ad bin Hariz az-Zar’I ad-Dimasyqi. Ia adalah seorang imam ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan ahli fiqih bermzhab hanbali.
Ibnu Qayyim berguru ilmu hadits kepada shihab an-nablusi dan Qadi Taqiyyudin bin sulaiman. Ia pun berguru tentang fiqihkepada syaih safiyyudin al-hindi dan syaih ismail bin Muhammad al-Harrani. Ia juga berguru ilmu pembagian waris (fara’idh) kepada bapaknya.
Disamping itu juga, ibnu Qayyim adalah seorang ahli tafsir, ahli hadits, penghafal Qur’an, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus orang mujtahid. Ia adalah cendekiawan yang hidup pada abad ke-13. Ibnu Qayyim adalah salah seorang murid seorang imam dan mujtahid, Taqiyyudin Ahmad bin Taimiyah al-Harani ad-Dimasyqi selama 16 tahun.
Ia juga seorang ahli ibadah dan senantiasa menunaikan sholat tahajud dengan memanjangkannya. Ia mengalami beberapa kali ujian penjara bersama gurunya, Syaikh Ibnu Taimiyah. Dalam terakhir, ia berada di penjara sendirian dan baru dilepaskan setelah Ibnu Taimiyah meninggal dunia.
Buku karangan Ibnu Qayyim, di antaranya adalah Ibnu Qayyim al-jauziyya on the invocation of god yang merupakan terjemah bahasa inggris oleh Michael Abdurrrahman Fitzgerald dan Moulay Youssef Slitine.
Imam ibnu Qayyim al-jauziyah meninggal dunia pada waktu isya’, 18 Rajab 751 H bertepatan dengan tanggal 23 september 1350 M. Ia di Sholatkan di Masjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah. Kemudian ia dikuburkan di pekuburan Babush Shagir, Damaskus.

D. Pandangan Ibnu Qayyim Mengenai Manusia
Dengan menelaah pemikiran-pemikiran ibnu qoyim al-jauziyah rohimatullah mengenai tabihat manusia, maka akan dijelaskan bahwa diri manusia yang menjadi objek utama kerja tarbiyah itu terdiri dari beberapa unsur dasar yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Maka, tarbiyah yang baik adalah yang selalu memperhatikan atau memenuhi setiap kebutuhan unsur tersebut.
Beberapa unsur dasar penciptaan manusia yang dimaksud adalah: ruh, akal, dan jasad. Oleh karena itu, unsure ruh yang terdapat dalam diri manusia hendaknya selalu dipenuhi kebutuhannya, yaitu dengan cara diperhatikan, dibimbing dan dibina. Diberi nasihat-nasihat tentang kebaikan dengan tidak melupakan kebutuhan akal, juga kebutuhan-kebutuhan jasa dan tuntutan tuntutannya, karena badan adalah satu-satunya wadah yang menampung ruh dan akal.
Sesunguhnya dengan memaparkan pandangan Ibnu Qayyim Al- Jauziyah Rahimahullah mengenai hakikat manusia akan banyak membantu kita dalam usaha menyikapi dan menilai beberapa pemikiran para pakar tarbiyah mengenai manusia yang pemikiran dan pandangan mereka mengenai makhluk yang bernama manusia ini sangat berbeda- beda. Tiap- tiap mereka melihatnya dari sudut pandang yang berbeda sesuai falsafah dan keyakinan mereka.
Sebagaimana kelompok paham matrealisme mengatakan, bahwa manusia itu hanyalah seonggok daging tanpa ruh didalamnya. Kelompok ini dalam menyikapi kehidupan dan melihat hakikat manusia hanya berdasarkan sesuatu yang bisa ditangkap oleh panca indera. Segala sesuatu yang bisa ditangkap oleh panca indera, mereka katakan tidak ada atau dianggap tidak perlu diperhitungkan. Dari sini mereka puas hanya dengan memperhatikan hal- hal yang indrawi dalam kehidupannya di muka bumi dan dalam bersikap terhadap wujud manusia.
Kelompok lainnya berpendapat, bahwa hakikat manusia itu hanya terdiri dari unsure ruh tanpa jasad, yang selainnya dianggap sebagai tipuan yang tidak ada kenyataan dan tidak ada harganya. Atau laksana buih yang akan hilang dengan sendirinya tatkala mongering. Kelompok ini hanya memperhatikan sisi ruhiyah. Ruh adala unsue utama bagi eksistensi manusia yang sebenarnya. Oleh karena itu, mereka hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan ruhnya semata yang dianggapnya sebagai kebutuhan yang hakiki. Mereka senantiasa meleburkan diri dalam ibadah yang menahan kebutuhan serta tuntutan badannya, bahkan sampai kepada menyiksa badannya karena beranggapan bahwa jasad manusia adalah unsure yang najis yang tidak layak untuk dituruti dan dipenuhi keinginannya, bahkan layak untuk dimusnahkan.
Sehingga manhaj tarbiyah yang mereka ciptakan untuk membina jiwa manusia itu hanya brupa teori-teori ke-rahiban (kependetaan) yang dianggap sebagai mesin pencuci ruh satu-satunya dan akan mengangkatnya ke derajad yang kebih tinggi.
Ada juga kelompok yang beranggapan bahwa manusia tidak lain hanyalah bagian dari kelompok manusia lainnya atau bahkan merupakan perisai bagi yang lainnya ( yang orientasi kerja dan kehipannya bukan untuk kemaslahatan dirinnya tetapi semata- mata kemaslatan untuk orang lain) oleh karena itu inti undang- undang dan system pendidikan yang mereka ciptakan adalah semata- mata untuk memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat yang didiaminya kendatipun hal itu harus mengorbankan kemaslahatan diri seseorang bagi anggota masyarakat bagaimana yang terjadi dalam system Komunis yang dibangun di atas slogan, “ Menjunjung tinggi kekuasaan Negara, sedangkan rakyat yang menjadi anggota daulah dan masyarakat wajib meleburkan diri dan kehidupannya untuk mengabdi kepada Negara.
Ada juga ada kelompok lain yang berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang merdeka dalam bertindak, bebasa dalam berpikir dan berpendapat tanpa ada batasan atau undang-undang yang mengaturnya. Kelopok ini dalam menata manhaj tarbiyanya hanya beorientasi untuk mewujudkan keinginan pribadinya semata dan menuruti seluruh kecenderungan nafsu syahwatnya. Sebagaimana yang terjadi dalam system dan undang-undang Liberalisme.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil disimpulkan bahwa Kata “ salaf ” dalam bahasa arab berarti yang terdahulu. Maksudnya ialah Orang- orang muslim terdahulu, yang semasa Rasulullah, para shahabat, para Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in. Mereka itu adalah Orang- orang yang khusuk dan mendalam rasa keagamaannya karena terutama mereka itu amat dekat pada masa Nabi atau boleh dikatakan hidup pada awal dari masa islam.
Imam ibnu qayyim al-jauziyyah yang lahir di damaskus, suriah pada 4 februari 1292. Ia memiliki nama lengkap Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Su’ad bin Hariz az-Zar’I ad-Dimasyqi. Ia adalah seorang imam ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan ahli fiqih bermzhab hanbali.
Imam ibnu Qayyim al-jauziyah meninggal dunia pada waktu isya’, 18 Rajab 751 H bertepatan dengan tanggal 23 september 1350 M. Ia di Sholatkan di Masjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah. Kemudian ia dikuburkan di pekuburan Babush Shagir, Damaskus.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Muhaimin, Ilmu Kalam, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN WALISONGO, 1999
Iskandar, Salman, 99 Tokoh Muslim Dunia, Bandung: Mizan Media Utama, 2007
Hasan Bin Ali Hasan Al-Hijazy, Manhaj Tarbiyah Ibnu Qoyyim, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s