ISLAM INKLUSIF

Standar

ISLAM INKLUSIF

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Pengantar Study Islam
Dosen Pengampu: Mujiono


Disusun oleh:
Asmahani Atut Taslia (102211005)

FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010

I. PENDAHULUAN
Ada beberapa kesulitan yang ditemukan dalam rangka menulis tentang pengertian islam inklusif, kekurangan pertama adalah dalam mencari makna dan pengertian tentang islam isklusif, kalaupun kemudian ditemukan bukti-bukti, tetapi sangat sulit pula dalam mencari tentang pengertian islam inklusif.
Disinilah penelitian ini dilakukan dengan tujuan unruk mengetahui makna islam inklusif dalam ayat tersebut berdasarkan sudut pandang Cak Nur dan juga memiliki pandangan inklusif. adapn manfaat penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu teoritis dan praktis. Pada tataran teoritis, hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran terhadap wacana penafsiran inklusif disamping memperkukuh wacana penafsiran tersebut. Pada tataran praktis, hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan nfomasi dan kontribusi pemikiran bagi penelitian selanjutnya. Secara umum diharapkan dapat bermanfaat bagi khazanah ilmu pengetahuan, terutama dibidang tafsir Al-Qur’an.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Pengertian Islam Inklusif
B. Ciri-ciri Islam Inklusif

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Islam Inklusif
Secara etimologi kta inklusif dan eksklusif merupakan bentuk kata jadian yang berasal dari bahasa inggris “inclusive” dan “eksklusive” yang asing-masing memiliki makna “termasuk di dalamnya” dan “tidak termasuk di dalamnya”. dalam hal ini, inklusifisme merupakan sikap yang berpandangan bahwa diluar agama yang dipeluknya juga terdapat kebenaran dan jalan keselamatan, meskipun tidak seutuh atau sesempurna agama yang di anutnya. Diantara pandangan inklusif ini dapat ditemukan pada dokumen konsili vatikan II, yang mempengaruhi seluruh komunitas katholik sejak 1965. Konsili tersebut telah mengeluarkan tiga keputusan penting:
1. Orang yang tidak di baptis, yang tanpa kesalahan, tidak percaya kepada Allah, dapat diselamatkan atas mereka hidup menurut suara hati mereka.
2. Setiap orang berhak mengikuti agama yang di yakininya.
3. Umat katholik di anjurkan untuk menghormati apa yang baik dalam agama-agama lain.
Masalah inklusif dalam islam merupakan kelanjutan dari pemikiran atau gagasan neo-modernisme kepada wilayah yang lebih spesifik setelah pluralism, tepatnya pada bidang teologi. Gagasan tersebut berangkat bahwa teologi kita pada saat ini seperti sudah di setup dalam kerangka teologi eksklusif yang mengangap bahwa kebenaran dan keselamatan suatu agama, menjadi monopoli agama tertentu. Sementara agama lain, diberlakukan bahwa ditetapkan standar lain yang sama sekali berbeda, “salah dan kebenarannya tersebut ditengah jalan”. Hal ini sudah masuk ke wilayah state of mind kita. cara pandang suatu komunitas agama terhadap agama lain, dengan menggunakan cara pandang agamanya sendiri, teolgi inklusif menyisakan ruang toleransi untuk ber empati, apalagi bersimpati; “bagaimana orang lain memandang agamanya sendiri”. Seperti sudah kita sering kali menilai dan bahkan menghakimi agama orang lain, dengan memakai standar teologi agama kita sendiri maupun sebaliknya orang lain menilai bahkan menghakimi kita, dengan memakai standar agamanya sendiri.
Ide utama dari teologi inklusif adalah pemahamannya untuk memahami pesan Tuhan. Semua kitab suci (Injil, Zabur, Taurat, dan Qur’an) itu pesan tuhan diantaranya pesan taqwa, taqwa disini bukan sekedar tafsiran klasik seperti sikap patuh kehadirat Tuhan. Sebagaimana terpapar bahwa: “pesan tuhan itu bersifat universal dan merupakan kesatuan esensial semua agama samawi, yang mewarisi abrahamic religion, yakni yahudi (Nabi Musa), kristen (Nabi Isa), dan Islam (Nabi Muhammad)”. Lewat firmannya tuhan menekankan agar kita berpegang teguh kepada agama itu, karena hakikat dasar agama-agama itu adalah satu dan sama. Agama tuhan, pada esensinya sama, baik yang diberikan kepada Nabi Nuh, nabi musa, nabi isa, atau kepada Nabi Muhammad.
Istilah Al-Qur’an disebut washiyyah, yakni paham ketuhanan yang maha esa, atau monoteisme, istilah monoteisme adalah inti ajaran para Nabi dan Rasul. Hal tersebut sejalan pula dengan ibnu taemiyah yang menyatakan bahwa meskipun syari’atnya bermacam-macam. Maka kata nabi Muhammad SAW “bahwa kami golongan para nabi, agama kami adalah satu”. Al-Islam adalah Al-Din (tunduk, patuh). sesungguhnya ikatan Al-din disisi Allah adalah sikap pasrah. Sikap pasrah tersebut merupakan inti dasar teologi inklusif dari pandangan: kesatuan kemanusiaan yang berangkat dari konsep ke-tuhanan yang maha esa. dimana akhirnya sikap pasrah merupakan titik temu semua agama yang benar, sebagai upaya menuju tuhan yang maha esa. Dimana kepasrahan ini menjadi karakteristik pokok semua agama yang benar, yakni bersikap berserah diri kepada tuhan.
B. Ciri-ciri Islam Inklusif
1. Kebebasan berfikir
a. Memerlukan pembaharuan dalam agama.
b. Aliran liberal menghendaki islam melalui pemahaman dan logika akal.
c. Membahagikan wahyu kepada dua jenis yaitu wahyu tertulis (Al-Qur’an) dan wahyu tidak tertulis.
2. Hak asasi manusia
Merupakan salah satu cirri penting dalam memperjuangkan islam liberal.
3. Pluralisme agama (persamaan antar agama)
a. Golongan islam liberal berpendapat islam bukan satu-satunya agama yang benar. bahkan semua agama yang ada di dunia ini adalah sama dan benar kepada konsep keseluruhan. Yaitu semua agama memiliki tuhan dan menghancurkan kebaikan.
b. Demikian juga pendapat yang dikemukakan oleh alwi shihab di dalam bukunya islam inklusif: menuju sikap terbuka dalam beragama. Beliau berpendapat bahwa ayat 62 surat Al-Baqoroh dan ayat 69 surat al-Maidah itu bersifat inklusif bukannya eksklusif untuk umat islam sahaja.
c. Ulil Absor Abdalla pula mengatakan semua agama sama, semuanya menuju kebenaran, jadi islam bukanlah agama yang paling benar.
4. Mengkritik Al-Qur’an tidak sesuai dengan zaman
a. Penganut islam liberal enggan menyebutkan mereka mendakwa Al-Qur’an merupakan susunan kata-kata Muhammad atau merupakan karya bersama. Mereka berhujjah bahwa teks Al-Qur’an dalam bentuk apapun ada hakikatnya adalah produk budaya.
b. Selain itu, muncul pula hasan hanafi dari mesir yang mempelopori pemikiran islam berhaluan kiri. Beliau berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah dilalah dzaniyyah. Manakala akal merupakan pemutus terhadap perkara yang berkaitan dengan ketuhanan, kenabian dan hari akhirat.
5. Menghina Nabi Muhammad SAW
a. Golongan islam liberal menganggap bahwa kenabian Rasulullah SAW hanyalah menggambarkan kemampuan seseorang manusia yang memimpin kelompok tertentu.
b. Disamping itu mereka juga menganggap bahwa Rasulullah SAW sebagai manusia yang biasa yang tidak terlepas dari melakukan kesilapan. Dan umat ini pula dituduh berpura-pura karena mempercayai sunnah, dianggap sebagai menyembah teks berkenaan dan melupuskan fungsi akal.
6. Dibantu yayasan Kristen
a. Ide, pertumbuhan dan individu islam liberal disokong kuat dan dibantu oleh yayasan Kristen.
b. Di Malaysia, yayasan Kristen yang membantu perkembangan islam liberal ialah: kontrad adnaeur foundation dan freidrich nauman foundation yang kedua-duanya berasal dari jerman.
c. Pertumbuhan ini akan member dana dan mempromosikan ide menentang islam fundamentalis.
7. Menggunakan pendapat falsafah barat
Kebanyakan penduduk islam liberal mengambil rujukan pertama dari pendapat falsafah barat berbanding dengan golongan ulama’.
8. Memperjuangkan kumpulan minority
Misalnya memperjuangkan kelompok agama pagan orang asli.
9. Menolak mahkamah syari’ah
a. Menentang poligami
b. Menganggap kewujudan mahkamah syari’ah bertentangan dengan mahkamah civil.

IV. KESIMPULAN
Islam inklusif adalah Islam yang lebih mengedepankan tentang keterbukaan, islam inklusif telah banyak mendapatkan pertentangan dengan islam lainnya, oleh karena itu banyak masalah yang terjadi dalam dunia islam inklusif, pertentangan tersebut terjadi akibat adanya keterbukaan yang sangat bertentangan dengan agama islam lainnya.
Islam inklusif memiliki cirri-ciri yang sangat banyak, cirri-ciri tersebut mempunyai pertentangan dengan ajaran islam lainnya seperti contohnya adalah ajaran islam eksklusif yang tidak melakukan keterbukaan dalam ajaran-ajarannya.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat saya buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Rahmad, Jalaludin, Islam dan Pluralisme, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2006.
Rachman, Buddy Munawar, Islam Pluralis, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s