PERBANDINGAN MU’TAZILAH DAN ASY’ARIYAH

Standar

PERBANDINGAN MU’TAZILAH DAN ASY’ARIYAH

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Tauhid
Dosen Pengampu: Syamsudin Yahya


Disusun oleh:
Susi Iffatur Rosyidah (103111098)
Syafikur Rohman (103111099)
Taat Rifani (103111100)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010
I. PENDAHULUAN
Pada masa Nabi Muammad ajaran Islam masih sangat murni, karena setiap persoalan yang ada selalu bisa ditanyakan kepada beliau. Sehingga pada masa itu bisa dikatakan dalam Agama Islam tidak pernah terjadi perbedaan dalam ajarannya.
Akan tetapi semenjak meninggalnya Nabi Muhammad SAW Agama Islam perlahan-lahan mengalami perpecahan. Hal itu bermula dari masalah politik pada masa kholifah Ali Bin Abi Thalib yang menyebabkan munculnya berbagai aliran-aliran Ilmu Kalam yang masing-masing dari mereka yang mempunyai perbedaan.
Untuk itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang perbandingan antara Aliran Mu’tazilah dan Aliran Asy’ariyah yang mempunyai perbedaan yang sangat signifikan dengan lebih menitik beratkan kepada ajaran-ajaran mereka. Untuk lebih jelasnya marilah kita simak bersama.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Pemahaman Mu’tazilah
B. Pemahaman Asy’ariyah
C. Perbandingan Mu’tazilah dan Asy’ariyah

III. PEMBAHASAN
A. Pemahaman Mu’tazilah
Kaum Mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada persoalan-persoalan yang dibawa kaum khowarij dan murji’ah. Dalam pembahasan, mereka banyak memakai akal sehingga disebut kaum rasionalis Islam.
Berbagai analisa yang dimajukan tentang pemberian nama mu’tazilah kepada mereka. Uraian yang bisa disebut buku-buku ‘Ilm al-Kalam berpusat pada peristiwa yang terjadi antara wasil ibnu ‘Ata’ serta temannya ‘Amr Ibnu Ubaid dan guru mereka Hasan al-Basri di Basrah. Pada suatu hari datang seorang yang bertanya mengenai pendapatnya tentang orang yang berdosa besar. Sebagai diketahui kaum Khawarij memandang mereka kafir sedang kaum murji’ah memandang mereka mu’min. ketika hasan al-Basri masih berfikir, Wasil mengeluarkan pendapatnya sendiri dengan mengatakan “saya berpendapat orang yang berdosa besar bukanlah mu’min dan bukan pula kafir tetapi mengambil posisi diantara keduanya yang disebut fasik”. Kemudian ia berdiri dan menjauhkan diri dari Hasan al-Basri untuk pergi ketempat lain di masjid, disana ia mengulangi pendapatnya kembali. Atas peristiwa ini Hasan al-Basri mengatakan “Wasil menjauhkan diri dari kita (I’tazala’anna Wasil)”. Dengan demikian ia dan teman-temannya disebut kaum mu’tazilah.
Aliran Mu’tazilah adalah aliran fikiran Islam yang terbesar dan tertua, yang telah memainkan peranan yang sangat penting orang yang hendak mengetahui filsafat Islam yang sesungguhnya dan yang berhubungan dengan agama dan sejarah pemikiran Islam haruslah menggali buku-buku yang dikarang aliran Mu’tazilah.
Abu al-Hasan al-Khayyath dalam bukunya al-intishar menyatakan: “tak seorang pun mengaku sebagai penganut mu’tazilah sebelum ia mengakui al-ushul al-khomsah (lima pokok ajaran) sebagai dasar pemikiran pahamnya, yaitu at-tauhid al-adl al-wa’ad al-manzilah baina manzilatain dan al-amru bi al-ma’ruf wa an-nahi al-almunkar”.
1. At-Tauhid (Keesaan)
Tauhid adalah ajaran monoteisme yang murni dan mutlak adalah dasar Islam yang pertama dan utama. Dalam islam tauhid ini bukan milik khusus aliran Mu’tazilah, hanya karena mereka tela menafsirkan dan mempertahankannya sedemikian rupa, maka mereka tekenal sebagai ahli tauhid.
Dari pandangan-pandangan Mu’tazila tentang tauhid mereka berpendapat, yaitu:
a. Tidak mengakui sifat-sifat Allah sebagai suatu yang Qodim yang lain dari pada zat-Nya.
b. Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, kalamullah juga makhluk yang dijadikan Allah pada waktu dibutuhkannya. Kalamullah ini tidak ada pada zat Allah melainkan berada di luarnya.
c. Mengingkari melihat Allah dengan mata kepala.
d. Mengngkari arah bagi Allah dan menakwilkan ayat-ayat yang mengesankan adanya persamaan Allah dengan manusia.
2. Al-Adl (Keadilan Allah)
Dasar keadilan yang dipegangi oleh aliran mu’tazilah ialah meletakkan pertanggun jawaban manusia atas segala perbuatannya. Dari pandangan Mu’tazilah mengenahi keadilan Allah mereka berpendapat, yaitu:
a. Allah menciptakan makhlukNya atas dasar tujuan dan hikmat kebijaksanaan.
b. Allah tidak menghendaki keburukan dan tidak pula memerintahkanNya.
c. Manusia diberi kebebasan atau kesangupan untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya, sebab dengan cara demikian, dapat dipaami ada perintah-perintah Allah janji dan ancamanNya, pengutusan Rasul-Rasul dan tidak ada kezaliman pada Allah.
d. Allah harus mengerjakan yang baik dan yang terbaik.karena itu kewajiban Allah menciptakan manusia, memerintahkan manusia dan membangkitkannya kembali.
3. Al-Wa’ad Wa Al-Wa’id (Janji dan Ancaman)
Aliran Mu’tazilah meyakini bahwa janji Allah akan memberi pahala dan ancaman siksa kepada mereka yang melakukan perbuatan pasti dilaksanakanNya, karena Allah telah menyatakanNya demikian. Siapa yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan dan siapa yang berbuat jahat akan dibalas dengan kejahatan pula.
4. Al-Manzilah Baina Manzilatain (diantara dua tempat)
Menurut pendapat Wasil seorang muslim yang mengerjakan dosa besar selain syirik tidak lagi menjadi mukmin dan tidak pula kafir melainkan menjadi orang fasik. Jadi kefasikan merupakan tempat tersendiri antara orang kafir dan mukmin. Dasar demikian mengenahi jalan tengah ini adalah dari nash Al-Qur’an, hadits kata hikmah dan filsafat Yunani.
5. Al-Amr Bi Al-Ma’ruf Wa An-Nahi Al-Munkar (memerintah kebaikan dan melarang keburukan)
Pendapat Mu’tazilah dalam hal ini sama dengan aliran khawarij dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mereka berpendapat agar amar ma’ruf nahi munkar dijalankan dengan hati bila sudah diucapkan demikian dan apabila belum secara bertingkat dilakukan dengan lisan, dengan kekuasaan atau bila perlu dengan pedang.

B. Pemahaman Asy’ariyah
Dalam suasana kemu’tazilahan yang keruh, munculah al-Asy’ari. Ia dibesarkan dan dididik sampai mencapai umur lanjut. Ia telah membela aliran mu’tazilah dengan sebaik-baiknya, akan tetapi aliran tersebut kemudian ditinggalkannya bahkan memberinya pukulan-pukulan hebat dan menganggapnya lawan yang berbahaya.
Sebab pada suatu malam al-Asy’ariyah bermimpi, dalam mimpi itu Nabi muhamad SAW mengatakan kepadanya bahwa madzhab ahli hadits lah yang benar dan Mu’tazilah salah. Sebab lain bahwa al-asyari berdebat dengan gurunya al-jubbai dan dalam perdebatan itu, al-jubbai tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan.
Diantara pertanyaannya ialah mengenahi tiga orang yang bersaudara yang tertua mati dalam keadaan beriman, kedua dalam keadaan kafir, sedang yang ketiga waktu masih kecil. Al-jubbai menjawab: mukmin yang taat pada derajat tertinggi (surga) yang kafir bawah sekali (neraka) dan yang kecil selamat. Setelah dialog yang agak lama terutama megenahi anak kecil, jawaban terakhir bahwa Allah memandangnya lebih baik mati dalam keadaan kecil. Al-Asy’ari bertanya lagi bila yang kafir itu mengadu: ya Tuhan engkau mengetahui masa depanku sebagaimana engkau mengetahui masa depannya. Apa sebabnya engkau tidak menjaga kepentinganku? Disini al-jubair terpaksa diam.
Kemudian untuk mengambil keputusan terakhir, al-Asy’ari mengasingkan diri dirumahnya selama 15 hari. Sesuda itu ia pergi ke masjid, naik mimbar dan mengatakan pada hadirin bahwa mulai saat itu atas petunjuk Allah ia meningalkan ajaran-ajaran mu’tazilah dan beralih menganut keyakinan-keyakinan yang ia susun sendiri yang beraliran ahlus sunnah.
Ajaran-ajarannya, ajaran al-Asy’ari dapat diketahui dari buku-buku yang ditulisnya yang bercirikan sebagai penengah antara pendapat berbagai pihak yang berlawanan pada masanya, atau dengan kata lain menempuh jalan tengah antara aliran-aliran rasionalis dan tektualis, yaitu:
1. Tentang wahyu Tuhan yang disebut kalam Allah.
Kalam Allah yaitu lafadz-lafadz yang diurunkan Tuhan melalui malaikat jibril kepada Nabi, adalah Dalalah (yang menunjukannya) dari kalam yang sifatnya azali, dalalah yang disebutkan itu adala makhluk (yang diciptakan), yang madlul bersifat qodim dan azali. Al-Qur’an menurut pandangan al-Asy’ari adalah kalam yang madlul yang qodim, bukan ciptaan.
2. Pengakuan adanya sifat-sifat Allah
Menurut al-Asy’ari sifat-sifat Tuhan itu tidak sama dengan zat tuhan, keduanya qodim. Jadi Tuhan mempunyai zat, sifat dan perbuatan-perbuatan. Diantara sifat-sift tersebut, Tuhan ‘Alim, qaadir, murid; tuhan mengetahui dengan ilmu, berkuasa dengan qodrat, dan berkehendak dengan iradah dan seterusnya.semua sifat- sifat yang wajib adalah sifat yang mutlak ada pada diri tuhan.
3. Manusia dapat melihat tuhan di akhirat
Manusia dapat melihat Tuhan di akhirat karena Tuhan itu maujud, setiap yang maujud memungkinkan untuk dapat dilihat. Tentang bagaimana cara melihatnya, hal ini jangan kita berfikir ke arah tempat dan bentuk yang kita alami di alam ini, tentunya hal itu tidak mungkin dan mustahil.
Dia mendasarkan pada firman Allah dalam surat al-Qiyamah ayat 22-23 yang berbunyi:
       
Artinya: wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya lah mereka melihat.
4. Dosa Besar
Orang islam yang melakukan dosa besar ia tetap mukmin ‘Ashi atau Fasik, apabila ia meninggal dunia sebelum bertaubat maka ia terserah kepada Tuhan atas pelanggarannya itu, apakah Tuhan akan menyiksa atau mengampuninya. Walaupun ia dimasukkan neraka, tetapi akhirnya dimasukkan ke dalam surge juga.
5. Imamah
Imamah atau kepala pemerintahan ditetapkan berdasarkan musyawarah untuk mendapatkan mufakat dengan pemilihan dan dengan pemilihan seperti halnya dalam penetapan Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali sebagai kholifah. Penetapan berdasarkan tertib keutamaan menjadi kolifah menurut system musyawarah.

C. Perbandingan Mu’tazilah dan Asy’ariyah
1. Refleksi Etika Terhadap Konsep Iman
a) Refleki Kemampuan Akal Terhadap Iman
Sasar etika Mu’tazilah adalah kekuatan akal. Dengan akal ini, segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia akan dinalar, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan Agama. Iman yang merupakan pokok dalam agama pun tak luput dari pengaruh teori kekuaan akal. Menurut Mu’tazilah, kemampuan akal sebagaimana telah dijelaskan di muka adalah sampai pada kewajiban mengetahui tuhan dan kewajiban menjalankan apa yang baik dan menjauhi yang buruk sehingga iman tidak bisa mempunyai arti pasif. Iman tidak bisa mempunyai arti tashdiq, yaitu menerima apa yang dikatakan atau disampaikan orang sebagai benar. Bagi aliran Mu’tazilah, iman pasti mempunyai arti aktif sesuai dengan anggapannya akan kekuatan akal di atas. Oleh karena itu, bagi kaum Mu’tazilah, iman bukanlah tashdiq. Dan iman dalam arti mengetahui pun tidaklah cukup.
Sementara itu, telah diketahui bahwa kemampuan akal menurut aliran al-Asy’ariyah adalah lemah: artinya, akal manusia tidak bisa sampai pada kewajiban mengetahui tuhan dan menjalankan kebaikan serta menjauhi kejahatan. Maka, iman tidak bisa merupakan ma’rifat apalagi amal. Manusia memiliki kewajiban mengetahui tuhan dan menjalankan serta menjauhi keburukan, dan manusia harus menerima berita itu. Oleh karena itu iman bagi Asy’ariyah adalah tashdiq, yaitu menerima sebagai kebenaran kabar tentang adanya tuhan. Iman ialah tashdiq tentang adanya tuhan, para rasul, dan apa yang dibawa oleh mereka; tashdiq tidak akan sempurna jika tidak disertai pengetahuan.
b) Refleksi Konsep keadilan Terhadap Iman
Dalam konsep Mu’tazilah, iman, keadilan, dan kebijaksanaan Tuhan cenderung diinterpretasikan dalam term yang tidak terpisah dari teodicy dan peran Tuhan terkait dengan perbuatan manusia. Kaum Mu’tazilah membahas keadilan ini diantonimkan dengan term kezaliman. Secara umum mereka mengatakan bahwa adil adalah kebijaksanaan yang sesuai dengan akal; artinya, menimbulkan perbuatan sesuai dengan kebenaran dan maslahat.
Berbeda dengan pemikiran kaum Mu’tazilah, kaum Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah tidak dapat dikatakan zalim karena Allah pada hakekatnya berbuat mutlak pemilik. Allah tetap dikatakan adil dalam segala perbuatan-Nya, dalam pengertian bahwa dia menggunakan hak milik-Nya. Oleh karena itu bagi kaum Asy’ariyah apa yang disebut adil adalah meletakkan sesuatau pada tempatnya, yakni menggunakan hak milik (termasuk manusia dan perbuatannya) sesuai dengan kehendak dan pengetahuan pemiliknya. Dengan denikian Tuhan tidak dapat dikatakan lacur dalam membuat keputusan hokum dan zalim dalam menggunakan hak milik-Nya. Sedangkan yang dikatakan zalim adalah kebalikan dari konsep adil tadi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Tuhan adalah sebagai pemilik mutlak yang dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.
2. Refleksi Tentang Wahyu Tuhan Menurut Mu’tazilah dan Asy’ariyah
Menurut aliran mu’tazilah bahwa kalam Allah yang diturunkan oleh malaikat jibril kemudian disampaikankepada nabi Muhammad itu adalah hadits (tidak Qodim) berbeda dengan aliran Asy’ariyah yang menganggap kalam Alla itu yang madlul adalah Qodim, bukan ciptaan karena menurut asy’ariyah seandainya diciptakan itu memerlukan kata-kata kun. Sedangkan dalalahnya yang disebutkan itu adalah makhluk (yang diciptakan), yang madlul bersifat Qodim dan azali.
3. Refleksi Mengenai Melihat Tuhan di Akhirat Menurut Mu’tazilah dan Asy’ariyah
Menurut mu’tazilah mengartikan kata nadziroh dengan menani artinya rahmat. Sehingga kita tidak mungkin melihat wujud tuhan hanya kita bisa mendapatkan rahmatnya.
Sedangkan menurul al-Asy’ariyah Manusia dapat melihat tuhan di akhirat karena tuhan itu maujud, setiap yang maujud kemungkinan dapat dilihat. Tentang bagaimana cara melihatnya, hal ini jangan difikir kearah tempat dan bentuk yang kita alami dialam Ini, tentunya hal itu tidak mungkin dan mustahil.
4. Perbedaan Mu’tazilah dan Asy’ariyah Mengenai Dosa Besar
Menurut mu’tazilah orang yang melakukan dosa besar itu bukan mukmin dan bukan pula kafir, melainkan menjadi orang fasik. Jadi kefasikan merupakan tempat tersendiri antara orang kafir dan mukmin. Tingkatan orang fasik berada dibawah orang mukmin dan diatas orang kafir.
Sedangkan menurut al-Asy’ariyah orang yang melakukan dosa besar ia tetap mukmin tetapi mukmin ‘Ashi atau Fasik, apabila ia meninggal sebelum bertaubat maka terserah tuhan atas pelanggarannya itu, apakah Tuhan akan menyiksa atau mengampuninya.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa akal mempunyai kemampuan mengetahui tuhan serta perbuatan yang baik dan buruk. Berpijak dari ini, menurut akal, manusia wajib berterima kasih kepada Tuhan dan wajib menjalankan kebaikan yang identik dengan perintah-perintah-Nya serta menjauhi kejahatan yang identik dengan larangan-larangan-Nya.
Sedangkan kaum Asy’ariyah berpandangan bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan, lainnya tidak. Meskipun akal ini mampu mengetahui Tuhan ini berdasarkan atas informasi wahyu sehingga kewajiban-kewajiban yang ditimpakan kepada manusia (termasuk menjalankan kebaikan dan menjauhi kejahatan) adalah berdasarkan wahyu, bukan atas dasar akal. Oleh karena itu akal bagi mereka adalah lemah sekali.
Perbedaan lain antara kaum mu’tazilah dan asy’ariyah adalah pandangannya mengenai kalam Allah, meliat Allah diakhirat dan mengenai orang yang bebuat dosa besar.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebgai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Hanafi, Ahmad, Teology Islam (Ilmu Kalam), Jakarta: Bulan Bintang, 1982.
Muthohar, Ahmad, Teologi Islam, Yogyakarta: Teras, 2008.
Muhaimin, Ilmu Kalam, Semarang: Pustaka Pelajar, 1998.
Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: Kompleks IAIN, 1978.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s