TASAWUF FALSAFI ITTIHAD, HULUL DAN WAHDATUL WUJUD

Standar

TASAWUF FALSAFI ITTIHAD, HULUL DAN
WAHDATUL WUJUD

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
Dosen Pengampu : M. In’amuzzahidin, Dr. H. M.Ag


Disusun Oleh :
SITI AZIMATUL ULIYAH 103111095
SITI THOIFAH 103111096
SHOBIHIN 103111097

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010
TASAWUF FALSAFI HULUL, ITTIHAD DAN WAHDATUL WUJUD

I. PENDAHULUAN
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang didalamnya tercampur antara rasa (dzauq) tasawuf dan pemikliran akal. Dzauq lebih dekat dengan tasawuf dan rasio lebih dekat dengan filsafat. Adapun ciri dari filsafat falsafi adalah menyusun teori-teori wujud berlandaskan rasa atau kajian proses bersatunya Tuhan dengan manusia dan tasawuf ini bersifat pemikiran dan renungan.
Tasawuf falsafi oleh sebagian kalangan dianggap sebagai lawan dari tasawuf sunny yakni tasawuf yang ajarannya diklaim sebagai yang sesuai dengan tradisi (sunnah) Nabi dan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian reaksi terhadap tasawuf semi falsafi maupun falsafi dilakukan oleh mereka yang dianggap membela sunnah Nabi. Reaksi terhadap tasawuf semi falsafi dilakukan oleh al-Quyairi, al-Harawy, al-Ghazali dan lain sebagainya. Dan reaksi terhadap tasawuf falsafi ditandai dengan munculnya (ordo) tarikat yang diantara yang latarbelakangnya adalah untuk memagari tasawuf agar senantiasa berada pada koridor syari’at.
Dalam kesempatan kali ini, kami berusaha untuk membahas lebih dalam tentang pengertian ittihad, pengertian dan tujuan hulul, serta pengertian dan pembagian wahdatul wujud. Oleh karena itu, mari kita bahas bersama-sama.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Pengertian Ittihad
B. Pengertian dan tujuan Hulul
C. Pengertian dan Pembagian Wahdatul wujud
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Ittihad
Apabila seorang sufi telah berada dalam keadaan fana, maka pada saat itu ia telah dapat menyatu dengan Tuhan, sehingga rujudiyahnya kekal atau al-baqa. Di dalam perpaduan itu ia menemukan hakikat jari dirinya sebagai manusia yang berasal dari Tuhan, itulah yang dimaksud dengan Ittihad.
Ittihad menurut bahasa berarti penyatuan atau berpadunya dua hal, artinya perpaduan dengan Tuhan tanpa diantarai sesuatu apapun. Ittihad dipandang sebagai ajaran doktrinal karena memadukan eksestensi dua wujud yang terpisah (Wahdah al-Wujud). Hal ini bertentangan dengan konsep kesatuan wujud (Wahdah al-Wujud) jika dipahami sebagai kesatuan.
Dalam tasawuf, ittihad adalah kondisi dimana seorang sufi merasa dirinya menyatu dengan Tuhan sehingga masing-masing diantara keduanya bisa memanggil kata-kata aku.
Menurut Abu Yazid, ia tidak pernah mengaku sebagai Tuhan. Proses ittihad adalah naiknya jiwa manusia ke hadirat Illahi, bukan melalui reinkarnasi. Sirnanya segala sesuatu dari kesadaran dan pandangannya, yang disadari dan dilihat hanya hakikat yang satu, yakni Allah. Bahkan dia tidak melihat dan tidak menyadari sendiri karena dirinya terlebur dalam Dia yang dilihat.
B. Pengertian dan Tujuan Hulul
Al-Hulul secara bahasa berarti menempati. Dalam istilah tasawuf hulul adalah ajaran yang menyatakan bahwa Tuhan memilih tubuh manusia-manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaannya dihilangkan.
Doktrin Hulul adalah salah satu tipe dalam aliran tasawuf falsafi dan merupakan perkembangan lanjut dari paham ittihad. Paham Al-Hulul ini pertama ditampilkan oleh Husain Ibnu Mansur Al-Hallaj. Ajaran al-hallaj adalah imbauan kepada perbaikan moral dan kepada pengalaman persatuan dengan Yang Dicintai, yaitu Tuhan. Ungkapan yang sangat terkenal “Ana Al-Haqq” (Aku adalah kebenaran Absolut) atau yang kemudian sering diterjemahkan menjadi “Aku adalah Tuhan”.
Al-Hulul mempunyai dua bentuk, yaitu :
1. Al-Hulul Al-Jawari yakni keadaan dua esensi yang satu mengambil tempat pada yang lain (tanpa persatuan), seperti air mengambil tempat dalam bejana.
2. Al-Hulul As-Sarayani yakni persatuan dua esensi (yang satu mengalir didalam yang lain) sehingga yang terlihat hanya satu esensi, seperti zat air yang mengalir didalam bunga.
Al-hulul dapat dikatakan sebagai suatu tahap dimana manusia dan Tuhan bersatu secara rohaniah. Dalam hal ini hulul pada hakikatnya istilah lain dari al-ittihad sebagaimana telah disebutkan diatas. Tujuan dari hulul adalah mencapai persatuan secara batin. Untuk itu Hamka mengatakan bahwa al-hulul adalah ketuhanan (lahut) menjelma kedalam diri insan (nasut0, dan hal ini terjadi pada saat kebatinan seorang insan telah suci bersih dalam menempuh perjalanan hidup kebatinan.
C. Pengertian dan Pembagian Wahdatul Wujud
Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud. Kata wahdah selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Dikalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi pada bagian yang lebih kecil. Selain itu kata al-wahdah digunakan pula oleh para ahli filsafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak (lahir) dan yang batin, antara alam dan Allah, karena alam dari segi hakikatnya qadim dan berasal dari Tuhan.
Pengertian wahdatul wujud yang terakhir itulah yang selanjutnya digunakan para sufi, yaitu paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. Menurut paham ini tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek, yaitu aspek luar yang disebut al-khalq (makhluk) al’arad (accident-kenyataan luar), zahir (luar tampak), dan aspek dalam yang disebut al-haqq (Tuhan), al-jauhar (subsetance-hakikat), al-bathin (dalam).
Faham wahdah al-wujud dalam tasawuf berarti faham yang menyatakan bahwa yang ada itu hakikatnya hanya satu yaitu Tuhan. Allah dan alam adalah satu hakikat. Makhluk hanyalah bayangan dari wujud yang hakiki sehingga tidak ada yang wujud selain Allah. Faham ini diajarkan oleh Muhyiddin Ibnu Arabi (w.628 H.).
Paham Wahdatul wujud tersebut diatas mengisyaratkan bahwa pada manusia ada unsur lahir dan batin, dan pada Tuhan pun ada unsur lahir dan batin. Unsur lahir manusia adalah wujud fisiknya yang tampak, sedangkan unsur batinnya adalah roh atau jiwanya yang tidak tampak yang hal ini merupakan pancaran, bayangan atau foto copy Tuhan. Selanjutnya unsur lahir pada Tuhan adalah sifat-sifat ketuhanannya yang tampak di alam ini, dan unsur batinnya adalah zat Tuhan. Dalam wahdatul wujud ini yang terjadi adalah bersatunya wujud batin manusia dengan wujud lahir Tuhan, atau bersatunya unsur lahut yang ada pada manusia dengan unsur nasut yang ada pada Tuhan sebagaimana dikemukakan dalam paham hulul. Dengan cara demikian maka paham wahdatul wujud ini tidak mengganggu zat Tuhan, dan dengan demikian tidak akan membawa keluar dari Islam.
Ibnu Arabi menyatakan bawa Tuhan adalah pencipta alam, dimana prosesnya adalah sebagai berikut :
1. Tajalli zat Tuhan dalam bentuk ‘a’yan Tsabitan
2. Tanazzul zat Tuhan dari alam ma’ani ke alam ta’ayyunat (realitas-realitas rohaniah), yaitu alam arwan yang mujarrat.
3. Tanazzul kepada realitas-realitas nafsiah, yaitu alam nafsiah berfikir.
4. Tanazzul Tuhan dalam bentuk ide materi yang bukan materi, yaitu alam mistsal (ide) atau khayal.
5. Alam materi, yaitu alam indrawi.
IV. KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Ittihad menurut bahasa berarti menyatu. Sedangkan menurut istilah adalah kondisi dimana seorang sufi merasa dirinya menyatu dengan Tuhan sehingga masing-masing diantara keduanya bisa mengambil kata-kata aku.
2. Hulul menurut bahasa berarti menempati. Sedangkan menurut istilah adalah ajaran yang menyatakan alamat bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaannya dilenyapkan.
3. Wahdah al-Wujud menurut bahasa berarti kesatuan wujud. Sedangkan menurt istilah adalah faham yang menyatakan bahwa yang ada itu hakikatnya hanya satu yaitu Tuhan.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak sekali kesalahan dan kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Besar harapan kami semoga makalah ini bisa memberikan sedikit manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah khususnya. Amin….

DAFTAR PUSTAKA
Jumanto, Totok. Kamus Ilmu Tasawuf. 2005. Jakarta: Penerbit AMZAH
Nasirudin. Pendidikan Tasawuf. 2009. Semarang: RaSAIL Media Group
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf. 2009. Jakarta: Rajawali Pers
Siregar, H.A. Rivay. Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme. 2002. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s