PERADABAN ISLAM DI MASA WALID BIN ABDUL MALIK

Standar

PERADABAN ISLAM DI MASA WALID BIN ABDUL MALIK

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Drs. H. M. Sholikhin Nur, M. Ag

Disusun oleh:
Nova Fitri Rifkhiana (103111084)
Nur Hayati (103111085)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
PERADABAN ISLAM di MASA
WALID BIN ABDUL MALIK

I. PENDAHULUAN
Naik tahtanya Bani Umayah tidak hanya menunjukkan suatu perubahan dinasti, tetapi juga berarti pemutarbalikan suatu prinsip dan lahirnya beberapa faktor baru yang menggunakan pengaruh sangat kuat atas kekayaan kerajaan dan perkembangan bangsa, sehingga dapat menjadikan pemerintahannya yang makmur dan terjamin kehidupannya. Termasuk dalam masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik yang disebut- sebut sebagai masa kejayaan dari Daulah Bani Umayah.
Pada zaman kekhalifahan Rasyidin, khalifah dipilih oleh rakyatdi Madinah, dan pemilihan itu dihormati oleh bangsa- bangsa di luar bangsa Arab. Akan tetapi, sejak zaman Mu’awiyah penguasa yang sedang memerintah itu mulai mencalonkan penggantinya dan tokoh kerajaan mengangkat sumpah setia kepadanya dalam upacara kerajaan. Dan itu berlanjut secara turun- menurun dalam sistem pemerintahan monarkhi. Termasuk dari pemerintahan Abdul Malik bin Marwan kepada Walid bin Abdul Malik dalam pengalihan jabatan sebagai khalifah menggunakan sistem pemerintahan monarkhi. Maka dari itu dalam makalah ini akan menguraikan beberapa hal mengenai Peradaban Islam pada masa Walid bin Abdul Malik.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Sejarah dan Kepribadian Walid bin Abdul Malik?
B. Bagaimana Pembangunan dan Kondisi Negara di masa Walid bin Abdul Malik?
C. Bagaimana Penaklukan dan Perluasan Wilayah di masa Walid bin Abdul Malik?
III. PEMBAHASAN
A. Sejarah dan Kepribadian Walid bin Abdul Malik

Nama lengkapnya adalah Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Dilahirkan pada tahun 50 H. Tetapi pendidikan tentang bahasa arabnya sangat lemah, sehingga beliau berbicara kurang fasih. Menurut riwayat ayahnya, Abdul Malik bin Marwan pernah berkata:”Cinta kasih kami membahayakan dirinya, sebab kami tidak mau mengirimkanya ke padang pasir”. Padahal padang pasir adalah sekolah yang terbaik bagi orang-orang yang ingin mempelajari Bahasa Arab yang fasih jauh dari cacat-cacat yang biasa terdapat dalam bahasa orang-orang di kota, yang disebabkan karena pergaulan bangsa Arab dengan bangsa-bangsa asing. Tetapi ayahnya tidak membiarkan Al- Walid dengan kecacatan itu, bahkan dengan tegas beliau berkata kepada anaknya:”Yang dapat memimpin bangsa Arab hanyalah orang yang baik bahasanya”, sebab itu Al- Walid lalu mengumpulkan ulama-ulama nahwu, lalu beliau belajar kepada mereka dengan rajinnya.
Khalifah Marwan ibnul Hakam dulunya telah mengangkat dua orang putranya sebagai putra mahkota yang akan menggantikannya menjadi khalifah berturut-turut, yaitu Abdul Malik dan Abdul Aziz telah meninggal sebelum wafat Abdul Malik. Maka Abdul Malik lalu menunjuk dua orang putranya juga, yaitu Al- Walid, kemudian Sulaiman. Ini terjadi pada tahun 85 H. Beliau mengirimkan surat ke daerah-daerah, menerangkan hal itu. Maka rakyat tidak keberatan untuk memberikan ba’iah dan sumpah setia. Sesudah wafat Abdul Malik, rakyat mengulangi sekali lagi bai’ah sumpah setia mereka kepada Al- Walid.
Setelah kematian ayahnya (Abdul Malik), Al- Walid menduduki tahta kerajaan Damaskus pada tahun 86 H/ 705 M. Memerintah selama sepuluh tahun lamanya (86 – 96 H/ 705- 714 M).
Dulu telah disebutkan bahwa Abdul Malik telah bekerja dengan sekuat tenaga untuk menegakkan kembali kesatuan Alam Islami, untuk itu beliau telah berjuang terus-menerus selama 20 tahun sampai beliau berhasil melaksanakan cita-citanya itu. Ketika wafat beliau telah mewariskan kepada putranya, Al- Walid, suatu kerajaan yang stabil, tentram, dan bersatu.
Al- Walid adalah orang yang terbaik untuk menerima kerajaan itu, dan orang yang terbesar untuk memelihara warisan itu. Selain dari itu dapat pula dikatakan bahwa Abdul Malik adalah pejuang, yang justru muncul pada suatu masa yang sangat memerlukan perjuangannya. Sedangkan Al-Walid adalah seorang yang suka damai dan menginginkan perbaikan-perbaikan, justru beliau muncul pada zaman damai, maka diadakanlah perbaikan-perbaikan dalam negeri. Seolah-olah Abdul Malik telah membangun suatu gedung yang besar, lalu datanglah Al-Walid, maka dihiasilah gedung itu, diperindah, dan diperluas.
Al- Walid menunjukkan dengan jelas betapa tingginya jiwa islam, dan betapa murninya prinsip-prinsip serta bimbingan-bimbingannya.
Beliau sangat dermawan, bijaksana, dan kasih sayang terhadap masyarakat serta rakyatnya yang kurang beruntung.

B. Pembangunan dan Kondisi Negara di masa Walid bin Abdul Malik
Masa kekuasaaan Walid bin Abdul Malik yang disebut- sebut sebagai masa kemenangan yang luas. Pengepungan yang gagal atas kota Konstantinopel di masa Muawiyah bin Abu Sofyan, dihidupkan kembali dengan memberikan pukulan- pukulan yang cukup kuat. Walaupun cita- cita untuk menundukkan ibu kota Romawi tetap saja belum berhasil, tetapi tindakan itu sedikit banyak berhasil menggeser tapal batas pertahanan islam lebih jauh ke depan, dengan menguasai basis- basis militer Kerajaan Romawi di Mar’asy dan ‘Amuriyah.
Perbaikan- perbaikan dalam negeri dengan karya-karya besar Al- Walid diantaranya adalah:
1. Mendirikan gedung- gedung, bangunan- bangunan dan pabrik- pabrik.
2. Mengumpulkan dan menyantuni fakir miskin dan anak- anak yatim piatu serta mendirikan banyak sekolah serta para pendidik dengan jaminan hidup dan gaji yang teratur.
3. Mendirikan rumah sakit khusus dan jaminan hidup kepada rakyatnya yang kurang beruntung (orang buta, orang cacat,orang yang berpenyakit kusta, dan orang lumpuh) serta pelayan atau perawat khusus untuk merawat dan mengurusi mereka dengan perawatan yang sesuai syarat- syarat kesehatan, dimana para perawat mendapatkan gaji tertentu.
4. Membangun jalan- jalan raya di seluruh kerajaan, terutama jalan yang menuju ke tanah Hejaz .
5. Membuat sumur- sumur di sepanjang jalan dan pegawai- pegawai yang bertugas mengurusi sumur- sumur ini dan menyediakan air kepada para kafilah yang melewati jalan ini.
6. Membangun Masjid Jami’ Damaskus dengan arsitektur yang indah dan selesai diakhir masa pemerintahannya selama 10 tahun.
7. Membangun kembali dan memperluas Masjid Nabawi di Madinah oleh gubernur Madinah, Umar ibnu Abdil Aziz. Dibongkar dan dibangun kembali dengan menperluas serta menggabungkan bekas dari kamar- kamar istri-istri Rasulullah.
8. Membangun masjid di setiap kota, semisal Masjid Aksa di Yerussalam.
9. Al- Qur’an dan Hadits dipelajari dengan penuh perhatian, baik di Kufah maupun di Basrah.
10. Perdagangan tumbuh dengan pesat, khalifah sendiri mengunjungi pasar- pasar.
11. Mengembangkan manufaktur dan desain.

Selain perbaikan dan pembangunan yang dilakukan diatas yang maju, kondisi negara yang aman saat beliau memerintah juga sangat stabil di seluruh negeri, karena khawarij tidak memiliki gigi pergerakan dan tidak ada pemberontakan di masa pemerintahannya. Masa pemerintahannya selama 10 tahun sangat sejahtera, aman,dan stabil.
Masa pemerintahan Al- Walid pada umumnya dapat disebut masa kemakmuran, keamanan, kedamaian, dan ketentraman. Dengan adanya kekayaan dan kesatuan bulat, terutama keteguhan iman Al- Walid. Dengan menilainya dari awal hingga akhir, tidak salah kalau dikatakan pemerintahan Walid bin Abdul Malik lebih gemilang dan lebih mengesankan dibandingkan dengan pemerintahan siapapun dari pada pendahulu dan para penerusnya.

C. Penaklukan dan Perluasan Wilayah di masa Walid bin Abdul Malik

Pada masa pemerintahannya terjadi penaklukan yang demikian luas. Penaklukan ini meliputi banyak kawasan, diantaranya:
1. Kawasan Barat
Panglima pasukan Islam Maslamah bin Abdul Malik sampai di daerah Amuriyah (dekat Ankara) dan Hiraqlah salah satu wilayah Romawi, lalu berhasil menaklukannya pada tahun 89 H / 707 M. Kaum muslimin berhasil mencapai Teluk Konstantinopel. Mereka juga menyerang Azarbaijan yang penduduknya selalu melanggar kesepakatan yang mereka lakukan. Di kawasan ini terjadi banyak peperangan pada tahun 93 H / 711 M.
Laut Tengah. Pasukan Islam berhasil menaklukan kepulauan Sisilia dan Merovits pada tahun 89 H / 707 M.
Afrika. Musa bin Nushair diangkat menjadi gubernur di pantai Laut Tengah hingga ke selatan Mesir. Beliau melakukan beberapa penaklukan besar di Barat. Beliau mengalahkan Bangsa Barbar dan menyebarkan agama islam yang banyak menimbulkan kesulitan kepada para pendahulunya dan mendirikan kembali kekuasaan khalifah hingga ke tepi Lautan Atlantik. Beliau mengirim beberapa ekspedisi untuk melawan Bangsa Romawi yang menimbulkan kerusuhan terhadap umat islam di Laut Tengah, dengan bantuan armada laut , merebut pulau Ivika , Minorca, dan Majorca, dekat Pantai Spanyol .
Penaklukan Andalusia. Panglima kaum muslimin Musa bin Nushair bertekad untuk menyeberangi selat yang memisahkan Benua Afrika dan Eropa. Tujuannya untuk menyebarkan islam di Eropa dan memasukannya menjadi bagian dari pemerintahan islam. Maka, Beliau memberangkatkan panglima islam asal Barbar yang bernama Thariq bin Ziyad ke Andalusia melalui Laut Merah dengan 7000 tentara merebut benteng yang kemudian dinamai Jabal Al-Thariq. Beliau menyerbu dan mengalahkan Roderic di tepi Sungai Guadalete dekat Medinia- Sidonia pada bulan September 93 H / 711 M. Dalam pelariannya Roderic tenggelam di Sungai Guadalete. Setelah itu Thariq bin Ziyad merebut Sidonia, Carmona dan Granada. Setelah Kordoba di taklukan Beliau menuju Toledo, ibukota Spanyol dalam waktu singkat sebagian besar wilayah Spanyol tunduk akan kekuasaan islam.
Di antara perang yang paling terkenal adalah Perang Lembah Langkah dimana Beliau berhasil mengalahkan Goth dan membunuh Raja mereka, Ludzrig. Andalusia berhasil di taklukan pada tahun 92 H / 710 M. Kemudian Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair sampai di Pegunungan Baranes dan berhasil menaklukan semua wilayah itu kecuali Jaliqiyah.

2. Kawasan Timur
Kawasan Asia tengah, Qutaibah bin Muslim al- Bahili berhasil menaklukan kota Tashkent pada tahun 87 H / 705 M. Masyarakat di daerah ini selalu menimbulkan kesulitan bagi orang Islam dengan melakukan pemberontakan. Untuk mengakhiri kerusuhan ini, Hajjaj bin Yusuf memecat Yazid bin Muhallab yang gagal menundukkan mereka, dan diganti oleh Qutaibah bin Muslim. Ternyata Beliau orang yang tepat dalam memangku tugas yang dipercayakan kepadanya. Beliau membawa seluruh Asia Tengah ke dalam kekuasaan Islam. Pertama kali menyerbu Balkh dan Turkaristan pada tahun 88 H / 706 M. Raja dari tempat ini tunduk kepadanya dan setuju membayar upeti kepada khalifah. Beliau menyerang negeri Saghd, Nasef, dan Kush pada tahun 89 H / 707 M. Qutaiba bin Muslim berhasil menaklukan Bukhara pada tahun 91 H / 709 M, kemudian menyeberangi Sungai Oksus dan menyerbu Kawarisma. Mendengar kabar bahwa Samarkand telah melepaskan diri dari kekuasaan islam maka Qutaibah bin Muslim beserta pasukannya memerangi dan merebut kota ini pada tahun 93 H / 711 M. Dan ini berlanjut hingga dua atau tiga tahun berikutnya, yaitu menyerang wilayah Syasy dan Farghanag hingga mencapai Khauqand pada tahun 94 H / 712 M. Beliau juga berhasil membuka Kota Kabul pada tahun 94 H / 712 M, kemudian Kashgar (kini wilayah Turkistan Timur) pada tahun 96 H / 714 M. Kabarnya perluasan sampai perbatasan Cina di tahun 96 H / 714 M, menyerbu Cina, Turkestan, dan juga merebut kasygar.
Panglima Islam ini berhasil meluaskan penaklukannya hingga wilayah- wilayah yang berada di antara dua sungai (wilayah yang dulu sebagian besar masuk wilayah Uni Soviet dan Afghanistan). Beliau melanjutkan misi militernya ini hingga sampai ke perbatasan Cina dan mewajibkan penguasa di sana untuk membayar jizyah. Hingga di sini Qutaibah bin Muslim berhenti melakukan ekspansi ke kawasan timur.
Qutaibah bin Muslim berhasil membuka wilayah yang sangat luas. Luas wilayah taklukannya diperkirakan sekitar 4.000.000 kilometer persegi yang memanjang dari bagian tengah negeri Kaukaz membentang ke bagian selatan Laut Khazr. Sementara itu, ke bagian utara meliputi Asia Tengah, ke timur bagian ke bagian Turkistan, dan ke barat ke Kabul (Afghanistan dan Sajistan).
Wilayah Sind dan India. Yang disebut dengan Sind adalah provinsi Sind yang berada di negara Islam Pakistan saat ini. Hajjaj bin Yusuf mengirimkan pasukan dalam jumlah yang sangat besar ke negeri itu di bawah pimpinan seorang panglima muda islam yang bernama Muhammad bin Qasim ats- Tsaqafi (saudara sepupu Hajjaj bin Yusuf sendiri). Panglima muda ini berhasil menorehkan kemenangan- kemenangan dan membunuh Dahir, Raja Sind. Beliau berhasil menduduki wilayah Sind antara tahun 93- 94 H / 711- 714 M. Kemenangan ini merupakan kemenangan terbesar yang dicapai pada saat itu. Penyebab ekspedisi ini adalah adanya gangguan terhadap guberbur Arab oleh bajak laut dari Sind. Raja Sind, Dahir, menolak mengabulkan permintaan gubernur itu. Beberapa usaha dilakukan untuk menghukum raja di samping menghukum para bajak laut, tetapi semua usaha tidak berhasil hingga Muhammad bin Qasim dapat memulihkan prestise dan kehormatan gubernur Arab itu. Beliau menyerang kerajaan Dahir. Dahir berusaha sekuat tenaga menyelamatkan negerinya dari kekuasaan asing, tetapi akhirnya dia kalah dan dibunuh. Kemudian Sind, Multan dan sebagian wilayah Punyab diduduki dan dijadiakan wilayah kerajaan Islam. Pasukan muslim juga membuat kemajuan besar pada waktu ini di Armenia dan Asia Kecil. Akan tetapi, semua penaklukan yang lain dari pemerintahannya menjadi pudar sebelum penaklukan Barat.
Pada masa inilah pemerintahan islam mencapai wilayah yang demikian luas dalam rentang sejarahnya.

IV. KESIMPULAN
Nama lengkapnya adalah Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Dilahirkan pada tahun 50 H. Tetapi pendidikan tentang bahasa arabnya sangat lemah, sehingga beliau berbicara kurang fasih. Dalam masa pemerintahannya dilakukan perbaikan dan pembangunan di bidang sosial yang lebih maju diantaranya pembangunan rumah sakit bagi penderita cacat, sekolah bagi anak- anak yatim piatu dan fakir miskin, pembuatan jalan dan sumur- sumur di sepanjang jalan tersebut dan lain sebagainya, serta kondisi negara yang aman saat beliau memerintah juga sangat stabil di seluruh negeri. Penaklukan dan perluasan wilayah di kawasan barat dan di kawasan timur, kawasan barat sampai pada afrika, sedangkan kawasan timur sampai pada cina oleh beberapa panglima perang diantaranya: Musa bin Nashir, Thariq bin Ziyad, Qutaibah bin Muslim, dan Muhamad bin Qashim Ats- Tsaqafi.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan mengenai pembahasan tentang peradaban islam di masa Walid bin Abdul Malik. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan baik dalam hal isi maupun sistematika penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya, besar harapan kami semoga makalah ini bisa memberikan banyak manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah khususnya, Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Terj. Adang Affandi, Studi Sejarah Islam, (Bandung: Putra A Bardin, 2000), cet. I
Al-‘Usairy, Ahmad Terj. Samson Rahman, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003), cet. I
Mufrodi, Ali Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), cet. I
Syalabi, Ahmad Terj. Mukhtar Yahya dkk, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 2, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1997), cet. IX

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s