ABORTUS DAN MENSTRUAL REGULATION

Standar

ABORTUS DAN MENSTRUAL REGULATION

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Masail Fiqhiyah
Dosen Pengampu:

Disusun oleh:
Nova Fitri Rifkhiana
103111084

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

I. PENDAHULUAN
Aborsi adalah isu emosional dan kontroversial. Mungkin saja bahwa tidak ada perempuan yang ingin melakukan aborsi, tetapi mereka perlu melakukannya. Perempuan di berbagai belahan dunia sejak dahulu kala selalu membutuhkan melakukan aborsi. Tetapi, masih adanya negara yang mengkriminalisasi aborsi (seperti Indonesia) dengan berbagai stigma tentang aborsi, berakibat bahwa perempuan seringkali dipojokkan, bahkan didorong untuk memilih cara aborsi yang tidaka aman dengan resiko yang membahayakan kesehatannyadan kehidupannya.
Fatwa tentang aborsi adalah haram berkontribusi besar pada dilema yang dihadapi perempuan (Islam) Indonesia yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan karena tidak seorangpun ingin menanggung rasa dosa karena tindakan yang dipilih. Sehingga di tengah-tengah pandangan tentang aborsi yang sangat beragam dan perdebatan prodan kontra yang masih terus bergulir, adalah perempuan yang secara konkret harus menghadapinya. Seringkali harus menghadapinya sendiri.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa Pengertian Abortus dan Menstrual Regulation?
B. Apa Sajakah Jenis Abortus?
C. Apa Dasar Hukum Abortus dan Menstrual Regulation?

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Abortus dan Menstrual Regulation
Secara etimologi, Abortus berasal dari bahasa inggris “abortion”, bahasa latin yang berarti gugur kandungan atau keguguran. Dalam bahasa arab (fiqh) disebut “isqath, ijhadh, ilqa’tmah, dan inzal”. Kelima istilah tersebut menurut Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin Ath-Thariqi mengandung pengertian yang berdekatan.
Secara terminologi
Dalam ensiklopedi indonesia, abortus diartikan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1000 gram.
Menurut Sardikin Ginaputra (Fakultas Kedokteran UI), abortus adalah pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.
Menurut Maryono Reksodipuro (Fakultas Hukum UI), abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir secara alamiah).
Dapat disimpulkan bahwa abortus adalah suatu perbuatan untuk mengakhiri masa kehamilan dengan mengeluarkan janin dari kandungan sebelum tiba masa kehamilan secara alami.
Menstrual Regulation secara harfiah artinya pengaturan menstruasi atau datang bulan atau haid, tetapi dalam praktek menstrual regulation ini dilaksanakan terhadap wanita yang merasa terlambat waktu menstuasi dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratis ternyata positif dan mulai mengandung. Maka ia minta “dibereskan janinnya” itu. Maka jelaslah, bahwa menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah abortus provocatus ctiminalis, sekalipun dilakukan oleh dokter. Karena itu, abortus dan menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah pembunuhan janin secara terselubung.
B. Pembagian Abortus
Abortus ada dua macam, yaitu sebagai berikut:
1. Abortus yang disengaja (abortus provocatus/ induced proabortion), abortus ini terbagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut:
a. Abortus Artificiatis Therapicus, adalah abortus yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi media yang membahayakan. Misalnya jika kehamilan diteruskan bisa membahayakan jiwa si calon ibu, karena penyakit-penyakit yang berat, misalnya TBC.
Hal ini boleh dilakukan berdasarkan kaidah ushul yang berbunyi:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Menolak bahaya diutamakan dari pada mencapai kemaslahatan.
الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ
“Semua yang dilarang dalam keadaan darurat diperbolehkan (boleh dilakukan)”.
b. Abortus Provocatus Criminals, adalah abortus yang dilakukan tanpa dasar indikasi medis. Misalnya abortus yang dilakukan untuk meniadakan hasil hubungan seks di luar pernikahan atau untuk mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki.
2. Abortus Spontan (spontaneous abortus), adalah abortus yang tidak disengaja, terjadi dengan sendirinya dan alamiyah. Abortus spontan bisa terjadi karena penyakit sifilis, kecelakaan, dan sebagainya.

C. Dasar Hukum Abortus dan Menstrual Regulation
Dipandang dari segi hukum islam pada dasarnya abortus merupakan suatu tindakan yang dilarang oleh agama. Sesuai dengan bunyi QS. Al-Isra’: 31 dan QS. Al-Hajj: 5.
وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizqi kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
Namun ada batasan abortus seperti, menurut Prof. DR. Fu’ad Al-Hafnawi (Direktur Pusat Study dan Riset Kependudukan Islam Internasional) di Al-Azhar University mengatakan bahwa “Penolakan abortus sebab tergolong pembunuhan, karena manusia terbentuk sejak di rahim yang mulanya dari air yang setetes dari sang laki-laki dan perempuan.” Dan selanjutnya berkata bahwa ”Abortus boleh atau bisa dilakukan, jika si ibu terancam jiwanya oleh bahaya kematian.” Pernyataan beliau ini didukung oleh keputusan MUI se dunia, berpendapat bahwa abortus adalah pembunuhan terselubung.
Di beberapa negara islam seperti di Tunisia, Turki dan India, mereka membolehkan abortus sejak tahun 1970 dengan alasan jika jiwa dan keselamatan si ibu terancam, dan bukan untuk khawatir membludaknya penduduk dunia atau penduduk suatu negara, seperti pendapat Dr. Maziyah Mahmud yang menjabat sebagai Ketua Persatuan Wanita Nasional di Tunisia.
Legalisasi abortus di Tunisia didasarkan pada QS. Al-Mu’minun:12-14 yang menegaskan bahwa janin disebutkan bernyawa setelah berusia empat bulan atau sama dengan seratus dua puluh hari.
Turki juga mengamalkan ayat yang sama, yaitu memperbolehkan abortus jika kandungan dibawah jangka sepuluh pekan atau sama dengan tujuh puluh hari.
Mengenai menstrual regulation, islam juga melarangnya, karena pada hakekatnya sama dengan abortus, merusak atau menghancurkan janin calon manusia yang dimuliakan oleh Allah, karena ia berhak tetap survive dan lahir dalam keadaan hidup, sekalipun eksistensinya hasil dari hubungan yang tidak sah (di luar pernikahan yang sah). Sebab menurut islam, bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci (tidak bernoda).
Hadits Nabi:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ حَتَّى يَعْرُبَ عَنْهُ لِسَانُهُ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخارى)
“Semua anak dilahirkan atas fitrah, sehingga ia jelas omongannya. Kemudian orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Bukhari)
Yang dimaksud dengan fitrah dalam Hadits ini ada dua pengertian, yaitu:
1. Dasar pembawaan manusia (human nature) yang religius dan monoteis, artinya bahwa manusia itu dari dasar pembawaannya adalah makhluk yang beragam dan percaya pada kekuasaan Allah secara murni (pure monotheism atau tauhid khalis). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 172
2. Kesucian atau kebersihan (purity), artinya bahwa semua anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci atau bersih dari segala macam dosa. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Najm: 38
Ijtihad Para Ulama’
Pendapat Para Imam Madzhab:
Perdebatan tentang boleh-tidaknya abortus bukan hal yang baru. Para ahli hukum (hukum islam) dari Madzhab Hanafi berbeda dengan Ulama-Ulama Syafi’i dan Maliki, karena memberi hak pada wanita hamil untuk menggugurkan kandungan bahkan tanpa persetujuan suami.
1. Madzhab Hanafi
Sebagian besar dari fuqaha Hanafiyah berpendapat bahwa aborsi diperbolehkan sebelum janin terbentuk. Tepatnya membolehkan aborsi sebelum peniupan roh, tetapi harus disertai dengan syarat-syarat yang rasional, meskipun kapan janin terbentuk masih menjadi hal yang ikhtilaf. Sementara, Ali Al-Qami, salah seorang imam madzhab Hanafiyah kenamaan dan sangat terkenal pada zamannya beliau memakruhkan aborsi.
Pandangan tersebut sebagaimana ditulis oleh Al-Asrusyani salah satu pengikut Hanafi dalam kitab Jami’ Ahkam Al-Shighar sebagai berikut:
“Para Syaikh dari madzhab Hanafi umumnya mengatakan tidak makruh, sebagaimana difatwakan oleh penulis kitab Al-Mukhith. Dan Imam Ali Al-Qami memakruhkannya, demikian juga fatwa Abu Bakar Muhammad bin Al-Fadhl”.
Menurut Al-Qami, yang dikutip oleh Al-Asrusyani, pengertian makruh dalam aborsi lebih condong kepada makna dilarang (haram) dikerjakan, bila dilanggar pelaku dianggap berdosa dan patut diberi hukuman yang setimpal. Tetapi, pendapat tersebut ditolak Al-Haskafi, salah satu pengikut Hanafi yang lain, ketika ditanya:”Apakah pengguguran kandungan dibolehkan?”, beliau menjawab: ”Ya, sepanjang belum terjadi penciptaan dan penciptaan itu hanya terjadi sesudah 120 hari kehamilan.”
2. Madzhab Hanbali
Dalam pandangan jumhur Ulama Hanbali, janin boleh digugurkan selama masih dalam fase segumpal daging (mudghah), karena belum berbentuk anak manusia, sebagaimana ditegaskan Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni:
“Pengguguran terhadap janin yang masih berbentuk mudghah dikenai denda (ghurrah), bila menurut tim spesialis ahli kandungan janin sudah terlihat bentuknya. Namun apabila baru memasuki tahap pembentukan, dalam hal ini ada dua pendapat: pertama yang paling shahih adalah pembebasan hukuman ghurrah, karena janin belum terbentuk misalnya baru berupa alaqah, maka pelakunya tidak dikenai hukuman, dan pendapat kedua: ghurrah tetap wajib karena janin yang digugurkan sudah memasuki tahap penciptaan anak manusia”.
Pandangan tersebut disebutkan juga oleh ulama lain yang membolehkan aborsi secara mutlak sebelum peniupan ruh, diantaranya disebutkan Yusuf bin Abdul Hadi: ”Boleh meminum obat untuk menggugurkan janin yang sudah berupa segumpal daging”. Namun, Gamal Serour, pakar kependudukan dari Al-Azhar membatasi sebelum kehamilan berusia 40 hari diperbolehkan selebihnya dilarang . Senada dengan pendapat tersebut Al-Zaraksyi dalam Al-Inshaf yang dikutip oleh Imam Alauddin, mengatakan:”Setiap pengguguran kandungan yang janinnya sudah berbentuk sempurna, maka ada ghurrah-nya, tetapi jika belum berbentuk janin yang sempurna maka ghurrah-nya dibebaskan”.
3. Madzhab Syafi’i
Imam Al-Ghazali, salah seorang ulama dari madzhab Syafi’iyah yang terkenal beraliran sufi, beliau sangat tidak menyetujui pelenyapan janin, walaupun baru konsepsi, karena menurutnya hal tersebut tergolong pidana (jinayah) meski kadarnya kecil. Ia memberikan komentar tentang aborsi dengan sangat menarik, ketika dimintai pendapatnya tentang senggama terputus (‘azl). Al-Ghazali dalam Al-ihya Ulum Al-Din mengatakan sebagai berikut:
“Senggama terputus (al-‘azl) tidak dapat disamakan dengan aborsi (ijhadh), karena ijhadh merusak konsepsi atau pembuahan (maujud hashil), yakni pencampuran antara nutfah dengan ovum, dan merusak konsepsi merupakan perbuatan jinayah yang ada sanksi hukumnya. Mengapa? Karena menurutnya kehidupan itu berkembang dan dimulai secara bertahap demi tahap, awalnya nutfah dipancarkan ke dalam rahim, lalu bercampur dengan sel telur perempuan, kemudian setelah itu ia siap menerima kehidupan. Dan merusak hasil pembuahan tersebut adalah jinayah. Jinayah akan meningkat semakin besar sesuai dengan usia janin yang dirusak. Jinayah akan sampai pada puncaknya jika janin terpisah dari tubuh ibunya dalam keadaan hidup kemudian mati”.
Al-Ghazali menggambarkan perihal konsepsi atau percampuran antara sperma dan ovum sebagai sebuah transaksi serah terima (ijab qabul) yang tidak boleh dirusak: ”Percampuran antara air laki-laki (sperma) dan air perempuan (ovum) dapat dianalogikan seperti sebuah transaksi ijab dan qabul (perjanjian serah terima yang sudah disepakati). Artinya, perjanjian itu tidak boleh dirusak. Demikian pula pelenyapan hasil konsepsi, secara hukum fiqh dilarang, dan pelakunya wajib dikenai hukuman”.
Menurut Al-Ghazali, secara fiqh senggama terputus (‘azl)’ tidak ada sanksi hukumnya, tetapi pelenyapan hasil konsepsi ada sanksi pidananya, sebagaimana dalam pernyataan berikut:
“Apabila telah berbentuk segumpal darah (alaqah), maka membayar kompensasi sebesar 1/3 dari denda sempurna (ghurrah kamilah), bila berbentuk segumpal daging (mudghah), maka membayar kompensasi sebesar 2/3, dan setelah melewati masa penyawaan pelakunya dihukum dengan membayar denda penuh (ghurrah kamilah) jika gugur dalam keadaan meninggal. Tetapi, bila sebaliknya, pelaku diwajibkan membayar uang tebus penuh (diyat kamilah).
Ulama-ulama Syafi’iyah berselisih pendapat mengenai aborsi sebelum 120 hari. Ada yang mengharamkan seperti Al-‘Imad, ada pula yang membolehkan selama masih berupa sperma atau sel telur (nutfah) dan segumpal darah (alaqah) atau berusia 80 hari sebagaimana dikatakan Muhammad Abi Sad, namun ulama lain membolehkan sebelum janin berusia 120 hari, atau sebelum janin diberi roh. Namun sebagian besar dari fukaha Syafi’iyah menyepakati bahwa aborsi haram sebelum usia kehamilan 40-42 hari.
4. Madzhab Maliki
Ulama Malikiyah berpandangan bahwa kehidupan sudah dimulai sejak terjadi konsepsi. Oleh karena itu, menurut mereka, aborsi tidak diizinkan bahkan sebelum janin berusia 40 hari, kecuali Al-Lahkim yang membolehkan aborsi sebelum janin berusia 40 hari. Hal tersebut ditemukan dalam Hasyiah Al-Dasuki bahwa “tidak diperbolehkan melakukan aborsi bila air mani telah tersimpan dalam rahim, meskipun belum berumur 40 hari”. Begitu juga menurut Al-Laisy, jika rahim telah menangkap air mani, maka tidak boleh suami-istri ataupun salah satu dari mereka menggugurkan janinnya, baik sebelum penciptaan maupun sesudah penciptaan.
Sedangkan bagi ulama yang mengizinkan aborsi sebagian besar dari madzhab Hanafi dan syafi’i yang mempunyai argumen sebagai berikut:
1. Belum terjadi penyawaan, karena dianggap belum ada kehidupan.
2. Selama janin masih dalam bentuk segumpal daging, atau segumpal darah dan belum terbentukanggota badannya.
3. Janin boleh digugurkan selama masih dalam fasesegumpal daging, karena belum berbentuk anak manusia.
4. Aborsi boleh dilakukan hanya untuk menyelamatkan nyawa ibu.
5. Keringnya air susu ibu yang disebabkan kehamilan.
6. Ketidakmampuan seprang perempuan menanggung beban kehamilan karena tubuh yang kurus dan rapuh.

Pandangan Ulama Fiqh tentang Aborsi Sebelum 120 Hari
NO. MADZHAB/
ULAMA PENDAPAT BATASAN ALASAN SANKSI HUKUM
I. Hanafiyah
a. Al-Haskafi Boleh 120 hari Belum terjadi penyawaan –
b. Ibnu Abidin Boleh 120 hari “ –
c. At-Thathawi Boleh Mudghah “ –
d. Al-Qami Tidak boleh Konsepsi
Dalam proses penciptaan Berdosa, diberi hukuman setimpal
II. Hanabillah
a. Mayoritas ulama Boleh Mudghah Belum berbentuk manusia –
b. Ibnu Qudamah Boleh Mudghah “ –
c. Al-Zaraksy Boleh ‘Alaqah “ –
d. Abi Ishaq Boleh Mudghah “ –
e. Qatada Makruh ‘Alaqah
Mudghah
120 hari Dalam proses penciptaan 1/3 ghurrah
2/3 ghurrah
Ghurrah kamilah
III. Syafi’iyah
a. Abi Sad Boleh ‘Alaqah Belum ada nyawa –
b. Al-Ramli Boleh 42 hari “ –
c. Nawawi Boleh ‘Alaqah “ –
d. Al-Ghazali Tidak boleh ‘Alaqah
Mudghah
120 hari “ 1/3 ghurrah
2/3 ghurrah
Ghurrah kamilah
e. Al-‘Imad Haram Konsepsi Dalam proses penciptaan Ghurrah kamilah
IV. Malikiyyah
a. Mayoritas ulama Haram Konsepsi Dalam proses peciptaan
Uang tebusan sesuai usia janin, semakin tua usia janin maka semakin besar uang tebusannya
b. Al-Lakhim Boleh Sebelum 40 hari Belum ada nyawa –

IV. KESIMPULAN
Abortus adalah suatu perbuatan untuk mengakhiri masa kehamilan dengan mengeluarkan janin dari kandungan sebelum tiba masa kehamilan secara alami. Menstrual Regulation adalah pengaturan menstruasi atau datang bulan atau haid terhadap wanita yang merasa terlambat waktu menstuasi dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratis ternyata positif dan mulai mengandung. Abortus terbagi dalam dua jenis, yaitu Abortus Artificiatis Therapicus dan Abortus Provocatus Criminals. Dalam hukum islam abortus dan menstrual regulation dilarang dalam agama, tetapi ada batasan dalam pelaksanaanya.

V. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat saya buat. Saya menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah pada khususnya. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Albak, Kutbuddin, Fiqh Kontemporer, (Surabaya: El- Kaf, 2009), cet. II
Alhafidz, Ahsin W, Fikih Kesehatan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), cet. I
Anshor, Maria Ulfah, Fikih Aborsi, (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2006), cet. I
Madjid, Ahmad Abd, Masa’il Fiqhiyah, (Pasuruan: GBI, 1993), cet. IV
Zuhdi, Masyfuk, Masail Fiqhiyah, (Jakarta: Haji Masagung, 1991), cet. II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s