MEMPERHATIKAN IDDAH NIFAS DENGAN OPERASI/ OBAT, HUKUM MENIKAH DENGAN PENDERITA PENYAKIT HIV, HUKUM MONOGAMI DAN POLIGAMI

Standar

MEMPERHATIKAN IDDAH NIFAS DENGAN OPERASI/ OBAT, HUKUM MENIKAH DENGAN PENDERITA PENYAKIT HIV, HUKUM MONOGAMI DAN POLIGAMI

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Masail Fiqhiyah al Hadisah
Dosen Pengampu Bapak Amin Farih

Disusun Oleh :
PATUMI
063311016

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2008

MASAIL FIQHIYAH

I. Pendahuluan
Hukum diturunkan untuk kebaikan manusia sendiri, guna memagari aqidah dan moral. Itulah sebabnya, akhlak menjadi tolok ukur bagi semua pekerjaan. Selain itu, hukum Islam mengawinkan dunia dengan akhirat, seimbang antara kebutuhan rohani dan kebutuhan jasmani. Ia mudah diamalkan, tidak sulit dan tidak sempit, serta sesuai pula dengan logika yang benar dan fitrah manusia.
Hukum harus dijelaskan dengan hikmah dan falsafahnya yang benar, bukan mencari-cari dalih. Karena itu orang yang mampu menjelaskan hukum secara tepat dan benar adalah orang yang cerdas, jernih dikiranya dan tidak fanatik mazdhab dan golongan. Mereka harus mampu menjelaskan kemudahan syari’at, dapat menggambarkan secara jelas faedah yang akan diperoleh baik dalam waktu dekat maupun dikemukakan hari dan dapat membangkitkan kepercayaan kepada nikmat Illahi yang kekal.

II. Pokok Bahasan
A. Memperhatikan iddah nifas dengan operasi/ obat
B. Hukum menikah dengan penderita penyakit HIV
C. Hukum monogami dan poligami

III. Pembahasan
A. Memperhatikan Iddah Nifas Dengan Operasi/ Obat
Nifas yaitu darah yang keluar dari farji wanita sehabis melahirkan anak, ataupun darah yang keluarnya sebagian besar anak. Sekalipun hanya berupa anak guguran asal sudah nyata sebagian bentuknya.
Menurut madzhab syafi’i, masa nifas yang paling sama ialah 60 hari, sedang 40 hari adalah yang dialami oleh umumnya kaum wanita. Dan begitu pula Madzhab Maliki berpendapat bahwa masa nifas yang terpanjang adalah 60 hari.
Ada beberapa point yang harus difahami oleh hadits dalam permasalahan batas nifas:
a. Batas lazim nifas seperti banyak diriwayatkan oleh hadits adalah 40 hari (sebagai batas normal).
b. Jika kurang dari 40 hari sudah bersih dari darah maka sudah masuk masa suci.
c. Darah keluar terus menerus, lebih dari 40 hari maka masa nifas dicukupkan 40 hari, karena itulah batas kelaziman masa nifas.
d. Jika darah tidak kunjung berhenti dan bertepatan dengan kelaziman masa haid, maka tetap menunggu sampai habis masa kelaziman haidnya.
Mengenai penggunaan obat untuk menghentikan nifas itu sendiri dibolehkan setelah berakhirnya masa lazim nifas dengan dua syarat:
a. Apabila tidak dikhawatirkan mudharat pada si wanita, berdasarkan firman Allah:
    
“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian kepada kebinasaan”. (Al-Baqarah: 195)
    •    
“Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah maha pengasih terhadap kalian” (An-Nisa: 29)
b. Harus mendapat izin dari suami, apabila terkait dengan suami.
Bila ternyata dua syarat diatas terpenuhi maka yang lebih utama adalah tidak menggunakan obat kecuali bisa mendesak. Karena, membiarkan sesuatu yang bersifat thaba’i (alami) seperti apa adanya, lebih dapat menjaga kesehatan. Pada akhirnya, keselamatan yang diperoleh.

B. Hukum Menikah Dengan Penderita HIV
Orang yang sakit, apapun sebabnya harus tetap mendapatkan tempat khusus dalam masyarakat muslim. Dalam sebuah Khadis Qudsi Allah SWT mengatakan:
“Wahai hambaku, aku ini sakit tapi kau tidak mau menjenguk dan merawatku”. Hamba menjawab, “Bagaimana aku dapat menjenguk dan merawatmu sedangkan engkau adalah Rabbul’alamin”, Allah menjawab: “Seorang hambaku sakit, apabila kamu menjenguk dan merawatnya tentu kamu akan menjumpaiku disana”.
Dalam hadist tersebut Allah SWT telah menempatkan kedudukan orang-orang yang sakit seolah-olah Allah Ta’ala sendiri yang sakit. Ini artinya manusia dituntut agar selalu memperhatikan orang-orang yang sakit dengan memberikan bantuan baik moril maupun materiil, sehingga mereka tidak terkucil, khususnya secara moral dari masyarakat. Sementara, ajaran Islam juga taat dengan tuntutan untuk menghindari hal-hal yang membahayakan, apalagi penyakit yang berpotensi menular. Nabi Muhammad SAW menegaskan:
لاضررولاضرارا
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri, dan tidak boleh membahayakan orang lain”.
Anjuran Islam untuk memperhatikan dan memperlakukan dengan baik kepada orang-orang yang sakit itu juga termasuk orang-orang yang menderita virus HIV/AIDS. Namun tentunya jangan sampai perlakuan yang baik itu justru akan mengorbankan orang lain yang tidak terkena HIV menjadi terkena. Hal ini tidak dibenarkan dalam Islam. Kaidah fiqih menyebutkan:
“Bahaya itu tidak boleh dihilangkan dengan mendatangkan bahaya yang lain”.
Perkawinan penderita HIV
1. Perkawinan antara seorang yang menderita HIV dengan orang yang tidak menderita HIV:
a. Apabila HIB itu dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan (maradh daim), maka hukum tersebut dalam kifayah Al-Akhyar III (38) sebagai berikut:
“Keadaan kedua yaitu laki-laki yang mempunyai biaya perkawinan, namun ia tidak perlu nikah, baik karena tidak mampu melakukan hubungan seksual sebab kemaluannya putus atau impoten maupun. Karena sakit kronis, laki-laki tersebut “makruh” untuk menikah”.
Tersebut dalam Al Fiqh al-Islamy Wa Adilatuhu VII (32):
“Menurut mazhab syafi’i, orang yang sakit seperti lanjut usia atau sakit kronis atau impoten yang tidak bisa disembuhkan, “Makruh” untuk menikah”.
b. Apabila HIV itu selain dianggap sebagai penyakit yang sulit disembuhkan, juga diyakini membahayakan orang lain maka hukumnya “haram”.
Tersebut dalam Al Fiqh al-Islamy Wa Adilatuhu VII (83):
“Apabila laki-laki yang akan kawin yakin bahwa perkawinannya akan menzalimi dan menimpakan kemadharatan atas perempuan yang akan dikawininya. Maka hukum perkawinannya “haram”.
2. Perkawinan antara dua orang (laki-laki dan wanita) yang sama-sama menderita HIV hukumnya “boleh”.

C. Hukum Monogami dan Poligami
Asas monogami telah diletakkan oleh Islam sejak 15 abad yang lalu sebagai salah satu asas perkawinan dalam Islam yang bertujuan untuk landasan dan modal utama guna membina kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera dan bahagia.
Islam memandang poligami lebih banyak membawa mudharat dari pada manfaatnya. Karena manusia itu menurut fitrahnya mempunyai watak cemburu, iri hati dan suka mengeluh.
Karena itu, poligami hanya diperbolehkan, bila dalam keadaan darurat, misalnya istri ternyata mandul. Suami diizinkan berpoligami dengan syarat ia benar-benar mampu mencukupi nafkah untuk semua keluarga dan harus bersikap adil dalam pemberian nafkah lahir, batin dan giliran waktu tinggalnya.
Syarat yang ditentukan Islam untuk poligami ialah terpercayanya seorang muslim terhadap dirinya, bahwa dia sanggup berlaku adil terhadap semua istrinya. Siapa yang tidak mampu melaksanakan keadilan ini, maka dia tidak boleh kawin lebih dari seorang.
Firman Allah:
    
“Jika kamu tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja”. (An-Nisa: 3)
ولن تستطيعوا ان تعدلوابين النسأ ولوحرصتم فلا تميلواكل
“Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil antara istri-istrimu sekalipun kamu sangat berkeinginan, oleh karena itu janganlah kamu terlalu condong”.
Poligami hukumnya tidak wajib dan tidak sunnah, hanya merupakan kebolehan yang berarti boleh dikerjakan dan boleh juga tidak. Dalam pelaksanaannya, ia tergantung kepada individu, sekiranya ia merasakan itu baik dilaksanakan maka baiklah baginya untuk melaksanakan. Tapi jika dikhawatirkan akan membawa kerusakan maka lebih utama ia meninggalkannya.
1. Poligami boleh dilaksanakan sampai empat isteri. Perkataan “menikah kamu”, walaupun berbentuk perintah, namun maksudnya hanyalah mengatakan boleh dan bukan maksud wajib.
2. Poligami itu dilaksanakan dengan syarat berlaku adil diantara istri-istri. Barangsiapa merasa khuatir akan tidak berlaku adil maka ia hanya boleh menikah dengan seorang saja.
3. Imam Syafi’i berkata: Dan perkataan maksudnya agar kamu jangan sampai mempunyai keluarga yang terlalubanyak sehingga diluar daripada kemampuan kamu.
4. Adil masalah cinta adalah hal yang mustahil/ tidak mungkin suami hanya diperintahkan supaya jangan terlalu condong kepada salah seorang diantara istri-istrinya, sehingga membiarkan yang lain tergantung.

IV. Analisis
Diantara hak suami, ialah suami boleh mengambil wanita lain sebagai istrinya tidak melebihi empat orang serentak asalkan yakin bisa berlaku adil. Poligami ini diakui oleh Al-Qur’an, sunnah Nabi SAW dan oleh para fuqoha.
Diperlukan upaya yang sangat bijaksana agar para penderita HIV itu dapat dirawat, diobat dan diperlakukan secara manusiawi tetapi tidak mengorbankan pihak lain sehingga menjadi HIV yang baru. Kebijaksanaan ini akan lebih diperlukan karena sebagai manusia, penderita HIV akan selalu berhubungan dengan orang lain.
Nifas tidak ditetapkan kecuali seorang wanita melahirkan bayi yang berbentuk manusia. Adapun untuk wanita yang mengalami keguguran, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah penyakit (istihadhoh). Manakala seorang wanita mendapati darah yang disertai rasa sakit sebelum masa (minimal) tersebut maka tidak perlu dianggap sebagai nifas. Namun jika sesudahnya maka dia tidak shalat dan tidak puasa.

V. Kesimpulan
Menghentikan nifas dengan menggunakan obat dibolehkan selama tidak mendatangkan mudharat dan membahayakan diri sendiri. Poligami hukumnya tidak wajib dan tidak sunnah, hanya merupakan kebolehan yang berarti boleh dikerjakan dan boleh juga tidak. Tanpa harus mengurangi perlakuan yang baik kepada orang yang sakit, Islam mengajarkan agar kita mewaspadai dan menghindari kemungkinan penularan penyakit dari orang yang sakit tersebut.

VI. Penutup
Demikianlah makalah ini saya susun. Pemakalah sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu pemakalah mohon saran yang membangun. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi pemakalah pada khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

 Ibrahim Muhammad al Jamal, Fiqih Wanita, Asy Syifa’, Semarang, 1981.
http://silvinna.wordpress.com/2008/04/01/nifas danhukum-hukum seputarnya/
http://www.google.co.id/search?4: penggunaan obat untuk mencegah nifas & btn 6: telususi &id &sa.
http://www.heart-inti.net/heart/102504/tuntunan_syari%27at.htm
 Masfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, Haji Masagung, Jakarta, 1987
 Vide Rasyid Ridha, Tafsir Al Manar, Viol IV, Darul Manar, Mesir, 1374 H
 Muhammad Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram Dalam Islam, Bina Ilmu, Singapura, 1980
http://www.google.co.id/search?hl:& 4 : poligami dan monogami & btn 6 : telusuri & meta

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s