NIKAH MUT’AH DAN STATUS ANAK ZINA

Standar

NIKAH MUT’AH DAN STATUS ANAK ZINA

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Masailul Fiqhiyah
Dosen Pengampu: Bpk Amin Farih, M.Ag

Disusun oleh:
FATIMATUZ ZAHRO’
(083111127)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010
NIKAH MUT’AH DAN STATUS ANAK ZINA
I. PENDAHULUAN
Sebagaimana yang telah diketahui, di masa sekarang ini nikah mut’ah sering dimanfaatkan banyak orang, namun hal itu disalah artikan oleh mereka. Contohnya saja di kota-kota besar, banyak mereka yang melangsungkan nikah mut’ah, padahal mereka sendiri tidak termasuk kedalam salah satu syarat bagaimana melakukan nikah mut’ah itu sendiri. Lebih lagi banyak rumor menyatakan nikah mut’ah itu dilarang bahkan diharamkan.
Keberadaan anak dalam keluarga merupakan sesuatu yang sangat berarti. Anak merupakan pemegang keistimewaan orang tua, waktu orang tua masih hidup, anak sebagai penenang dan sewaktu orang tua telah meninggal, anak adalah lambang penerus dan lambang keabadian. Anak mewarisi tanda-tanda kesamaan dengan orang tuanya, termasuk ciri khas, baik maupun buruk, tinggi, maupun rendah. Anak adalah belahan jiwa dan potongan daging orang tuanya. Begitu pentingnya eksistensi anak dalam kehidupan manusia, maka Allah SWT mensyari’atkan adanya perkawinan.
Oleh karena itu agama Islam melarang perzinaan. Hukum Islam memberi sanksi yang berat terhadap perbuatan zina. Karena zina dapat mengakibatkan ketidakjelasan keturunan. Sehingga ketika lahir anak sebagai akibat dari perbuatan zina, maka akan ada keraguan tentang siapa bapaknya. Dengan adanya perkawinan setiap anak yang lahir dari tempat tidur suami, mutlak menjadi anak dari suami itu, tanpa memerlukan pengakuannya darinya.
Hal ini diungkapkan dalam al-Qur’an surat al-Isra’ : 32:
        
“dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Hukum Nikah Mut’ah
B. Status Anak Zina
III. PEMBAHASAN
A. Hukum Nikah Mut’ah
1. Pengertian nikah mut’ah
Kata mut’ah berasal dari bahasa arab ma-ta-’a yang mengandung beberapa arti diantaranya yaitu:
a. Kesenangan, seperti dalam firman allah: متاع الحياة الدنيا (QS. 3: 14)
b. Alat perlengkapan, seperti dalam firman allah: متاعا لكم وللسيارة(QS. 5: 96)
c. Pemberian, seperti dalam firman allah: وعلى المقتر قدره متاعا بالمعروف (QS. 2:236)
Nikah mut’ah dalam istilah hukum bisa disebutkan: “ perkawinan untuk masa tertentu”, dalam arti dalam waktu akad dinyatakan berlaku ikatan perkawinan sampai masa tertentu yang bila masa itu telah dating, perkawinan terputus dengan sendirinya tanpa melalui proses perceraian.
Nikah mut’ah adalah ikatan seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam batas waktu tertentu dengan upah tertentu pula.
Nikah mut’ah disebut juga nikah sementara atau nikah terputus karena laki-laki menikahi seorang perempuan hanya untuk sehari atau seminggu atau sebulan. Dinamakan nikah mut’ah karena laki-lakinya bermaksud untuk bersenang-senang saja.

2. Hukum nikah mut’ah
Jumhur ulama’ telah mengemukakan pernyataan tentang keharaman nikah mut’ah, antara lain:
Pada tanggal 25 oktober 1997, dewan pimpinan majlis ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa:
1) Nikah mut’ah hukumnya adalah HARAM.
2) Pelaku nikah mut’ah harus dihadapkan kepengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Firman Allah SWT:
                              
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Hal ini dikuatkan dengan pernyataan bahwa pernikahan seperti ini oleh seluruh imam madzhab disepakati haramnya. alasan mereka adalah:
a. Pernikahan seperti ini tidak sesuai dengan pernikahan yang di maksud dalam al-Qur’an, juga tidak sesuai dengan masalah thalak, iddah, dan pusaka. Jadi kawin seperti ini bathil sebagaimana bentuk perkawinan- perkawinan lain zang dibatalkan islam.
b. Banyak hadist-hadist yang dengan tegas menyebutkan haramnya. Umpamanya: hadist dari saburahal-jahmiy, bahwa ia pernah menyertai rosululloh dalam perang penaklukan makkah, dimana rosululloh mengizinkan mereka nikah mut’ah.
Katanya: ia (saburah) tidak meninggalkan kawin mut’ah ini sampai kemudian di haramkan oleh rosululloh. Dalam suatu lafadz yang di riwayatkan oleh ibnu majah, rosululloh telah mengharamkan kawin mut’ah dengan sabdanya:
يا ايها الناس انى كنت اذنت لكم فى الاستمتاع الا وان الله قد حرمها الى يوم القيامة.
“wahai manusia! Saya telah mengizinkan kamu kawin mut’ah. Tetapi sekarang ketahuilah bahwa Alloh telah mengharamkan sampai hari kemudian.”
وعن على ر.ض. ان رسول الله صلعم نهى عن متعة النساء يوم خيبر, وعن لحوم الحمر الاهلية
Dari ‘ali, Rasululloh saw. Telah melarang kawin mut’ah pada waktu perang khaibar dan melarang makan daging keledai penduduknya.
c. Umar ketika menjadi khalifah dengan berpidato di atas mimbar mengharamkannya dan para sahabat pun menyetujuinya, padahal merka tidak akan mau menyetujui sesuatu yang salah, andai kata mengharamkan nikah mut’ah itu salah.
d. Al khatthabi berkata: haramnya nikah mut’ah itu sudah ijma. Kecuali oleh beberapa golongan aliran syiah.
Menurut kaidah mereka (golongan syiah) dalam persoalan-persoalan yang di perselisihkan tidak adadasar yang sah sebagai tempat kembali kecuali kepada ali, padahal ada riwayat yang sah dari ali kalau kebolehan nikah mut’ah sudah dihapuskan.
Baihaqi meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad keetika ia di tanya orang tentang nikah mut’ah. Jawabannya: sama dengan zina.
e. Kawin mut’ah sekedar bertujuan pelempiasan syahwat, bukan untuk mendapatkan anak dan memelihara anak-anak, yang kedua merupakan maksud pokok dari perkawinan. Karena itu ia di samakan dengan zina, di lihat dari segi tujuan untuk semata-mata bersenang-senang.
Selain itu juga membahayakan perempuan, karena ia ibaratsebuah yang pindah dari satu tangan ke tangan lain, juga merugikan anak-anak, karena mereka tidak mendapatkan rumah tempat untuk tinggal dan memperoleh pemeliharaan dan pendidikan dengan baik.
f. Nikah mut’ah hanya bertujuan untuk melampiaskan syahwat, bukan untuk mendapatkan anak dan memelihara anak, yang keduanya merupakan tujuan utama pernikahan.
Firman Allah SWT:
    
       •   
Artinya:
Dan (diantara sifat orang mu’min itu) mereka memelihara kemaluannya kecuali terhadap istri mereka, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. (QS.Al-mu’minun:5-6).
Ayat tersebutjelas mengutarakan bahwa hubunggan kelamin hanya dibolehkan kepada wanita yang berfungsi sebagai istri. Sedangkan wanita yang di nikahi dengan jalan mut’ah tidak berfungsi sebagai istri, karena akad mut’ah bukanlah akad nikah, dengan alasan sebagai berikut:
a. Tidak saling mewarisi. Sedangkan akad nikah menjadi sebab memperoleh harta warisan.
b. Iddah mut’ah tidak seperti iddah nikah biasa.
c. Dengan akad nikah menjadi berkuranglah hak seseorang dalam hubungan dengan kebolehan beristri empat. Sedangkan tidak demikian halnya dengan mut’ah.
d. Dengan melakukan mut’ah, seseorang tidak dianggap menjadi muhsan, karena wanita yang diambil dengan jalan mut’ah tidak berfungsi sebagai istri, sebab mut’ah itu tidak menjadikan wanita berstatus sebagai istri.
B. Status Anak Zina
1. Pengertian
Sebelum kita masuk pada pembahasan status anak zina, perlu kita ketahui bahwa zina adalah memasukkan zakar kedalam farji istrinya dan tidak ada unsur syubhat ( keserupaan atau kekeliruan). Zina itu dilarang dan haram hukumnya, sebab zina mengandung bahaya besar bagi pelakunya sendiri dan juga bagi masyarakat, antara lain:
a. Pencemaran kelamin dan pencampuran nasab (keturunan), padahal islam sangat menjaga kesucian/ kehormatan kelamin dan kemurnian nasab.
b. Penularan penyakit kelamin.
c. Pertengkaran keluarga yang berakibat perceraian.
d. Teraniayanya anak yang tidak berdosa akibat zina.
e. Pembebanan kepada masyarakat dan Negara karena mengasuh anak yang tidak berdosa tersebut.
Anak zina adalah anak yang dilahirkan ibunya dari hasil hubungan badan diluar nikah. Anak zina menurut pandangan islam, adalah suci dari segala dosa, karena kesalahan itu tidak dapat ditujukan kepada anak tersebut tetapi kepada kedua orang tuanya. Firman allah SWT:
     
Artinya:
(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, (QS. An-Najm: 38)
Anak zina atau jadah itu suci dari segala dosa orang yang menyebabkan eksistensinya di dunia ini, sesuai dengan hadis nabi Muhammad SAW:
قال رسول الله ص م. كل مولود يولد على الفطره حتى يعرب عنه لسانه فابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه. ( رواه الترمذي التبران والبيهقي وا لاسواد بن السرى(
Artinya:
Rasulullah berkata: “ semua anak dilahirhan atas kesucian / kebersihan dari segala dosa dan noda dan pembawaan beragama tauhid, sehingga ia jelas bicaranya. Maka kedua orangtuanyalah yang menyebabkan anaknya menjadi yahudi, atau nasrani atau majusi”
2. Status Anak Zina Menurut Hukum Islam
Mengenai status anak zina, para ulama sepakat bahwa anak itu tetap punya hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya. Tanggung jawab atas segala keperluannya, baik materiil maupun spirituil adalah ibunya dan keluarga ibunya. Demikian pula dengan hak waris-mewaris.
Dalam hal ini akan di bagi ke dalam dua kategori :
a. Anak yang dibuahi tidak dalam pernikahan yang sah, namun dilahirkan dalam pernikahan yang sah
Menurut Imam Malik dan imam Syafi’i, anak yang lahir setelah enam bulan dari perkawinan ibu dan bapaknya, anak itu dinasabkan kepada bapaknya. Jika anak itu dilahirkan sebelum enam bulan, maka anak itu dinasabkan kepada ibunya. Berbeda dengan pendapat itu, menurut Imam Abu Hanifah bahwa anak di luar nikah itu tetap dinasabkan kepada bapaknya sebagai anak yang sah.
b. Anak yang dibuahi dan dilahirkan diluar pernikahan yang sah
Status anak diluar nikah dalam kategori yang kedua mempunyai akibat hukum sebagai berikut:
(a). Tidak ada hubungan nasab dengan bapaknya. Anak itu hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya. Bapaknya tidak wajib memebrikan nafkah kepada anak itu, namun secara biologis ia tetap anaknya. Jadi hubungan yang timbul hanyalah secara manusiawi, bukan secara hukum.
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ
“Anak yang lahir untuk pemilik kasur (artinya, anak yang dilahirkan oleh istri seseorang atau budak wanitanya adalah miliknya), dan seorang pezina tidak punya hak pada anak hasil perzinaannya.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)
(b). Tidak ada saling mewaris dengan bapaknya, karena hubungan nasab merupakan salah satu penyebab kerwarisan.
(c). Bapak tidak dapat menjadi wali bagi anak diluar nikah. Apabila anak diluar nikah itu kebetulan seorang perempuan dan sudah dewasa lalu akan menikah, maka ia tidak berhak dinikahkan oleh bapak biologisnya.
Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَابَاطِلٌ … فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ
“Siapa saja wanita yang menikah tanpa izin dari walinya maka pernikahannya batil…, dan jika para wali berselisih untuk menikahkannya maka sulthan adalah wali bagi seorang wanita yang tidak punya wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

IV. KESIMPULAN
Dari pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Nikah mut’ah adalah perkawinan untuk masa tertentu”, dalam arti dalam waktu akad dinyatakan berlaku ikatan perkawinan sampai masa tertentu yang bila masa itu telah dating, perkawinan terputus dengan sendirinya tanpa melalui proses perceraian. Dan dewan pimpinan majlis ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa nikah mut’ah hukumnya adalah HARAM. Kemudian mengenai status anak zina, para ulama sepakat bahwa anak itu tetap punya hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya dan tanggung jawab atas segala keperluannya, baik materiil maupun spirituil adalah ibunya dan keluarga ibunya. Demikian pula dengan hak waris-mewaris.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat pemakalah sampaikan, pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik allah SWT. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat pemakalah harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya.
Dan akhirnya pemakalah mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan, baik dalam sistematika penulisan, isi dari pembahasan maupun dalam hal penyampaian materi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah sendiri pada khususnya dan para pembaca budiman pada umumnya dalam kehidupan ini, amiiin,,

DAFTAR PUSTAKA
Al-Mahalli Jalaludin, Al-Qulyuby wa „Umarah, , Juz III, (Semarang: Maktabah Putra Semarang, t.th.)

Hasan Ali, Azas-azas Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukun Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja wali Press, 1997)

Ibn Ruyd, Bidayah Al-Mujtahid .juz 5(Beirut: Dar Al-Fikr)

Sabiq Sayid, Fiqih Sunnah, ( Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006

Sayyid Sabiq, fiqih sunnah, (Bandung: PT. Al-Ma’arif,1997)
Syarifuddin Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia antara Fiqih Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, (Jakarta: Kencana, 2009)
Syarifuddin Amir, Meretas Kebekuan Ijtihad, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002)

Qardhawi Yusuf, Halal dan Haram dalam Islam, (Surabaya: PT.Bina Ilmu, 1976

http://www.mui.or.id/mui-in/fatwa.php?id=52

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s