SHALAT DAN PUASA DI DAERAH ABNORMAL DAN HUKUM HAJI PETUGAS DAN ORANG YANG DI HAJIKAN

Standar

SHALAT DAN PUASA DI DAERAH ABNORMAL DAN HUKUM HAJI PETUGAS DAN ORANG YANG DI HAJIKAN

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Masailul Fiqhiyah
Dosen Pengampu: Bpk Amin Farih, M.Ag

Disusun oleh:
Siti Nur Hayati
(083111112)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010

SHALAT DAN PUASA DI DAERAH ABNORMAL DAN HUKUM HAJI PETUGAS DAN ORANG YANG DI HAJIKAN

I. PENDAHULUAN
Shalat dan puasa merupakan ibadah Mahdhah, dimana keduanya merupakan ibadah murni yang dibuktikan untuk mendapatkan keridhaan Allah semata. Karena itu, kalau kita benar-benar mengharapkan ibadah sholat dan puasa diterima oleh Allah SWT, maka kita harus menjalankan ibadah ini sesuai dengan pedoman dan tuntutan yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi tanpa menambah atau pun mengurangi sama sekali.
Di dalam Al-Qur’an dan Sunnah terdapat Nash Al-Qur’an sunnah yang sharih yang bersifat qath’i (sudah pasti dan jelas petunjuknya) atau yang bersifat dzanni (di duga kuat petunjuknya), yang menerangkan adanya kaitan atau hubungan antara waktu perintah melaksanakan sholat dan puasa dengan gerakan atau perjalanan matahari.
Lalu bagaimanakah orang-orang yang berdiam di daerah abnormal atau daerah kutub dalam menjalankan ibadah sholat dan puasa, padahal sehari semalam mereka disana adalah setahun kita disini.
Dalam makalah ini, penulis mencoba menelisik tentang permasalahan sholat dan puasa di daerah abnormal yang disertai dengan waktu dalam menjalankan ibadah tersebut. Selain itu penulis juga membahas mengenai hukum petugas haji dan orang yang menghajikan orang lain.

II. PERMASALAHAN
A. Sholat dan puasa di daerah abnormal
B. Hukum haji petugas dan orang yang dihajikan

III. PEMBAHASAN
A. Sholat dan puasa di daerah abnormal
1. Perbedaan daerah normal dan abnormal
Ketetapan hukum Islam yang diperoleh dari Nash Al-Qur’an dan Sunnah yang qath’i dan shanh adalah bersifat universal dan fix, dan berlaku untuk seluruh umat manusia sepanjang masa. Namun sesuai dengan asas-asas hukum Islam yang fleksibel, praktis, tidak menyulitkan, dalam batas jangkauan kemampuan manusia, sejalan dengan kemaslahatan umum dan kemajuan zaman, dan sesuai pula dengan rasa keadilan, maka ketentuan waktu sholat dan puasa berdasarkan Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 78 dan Al-Baqarah ayat 187 tidak berlaku untuk seluruh daerah bumi, melainkan hanya berlaku di zone bumi yang normal, yang perbedaan waktu siang dan malamnya relatif kecil, yakni didaerah-daerah khatulistiwa (equator) dan tropis. Daerah khatulistiwa sampai garis pararel 45º dari garis lintang utara dan selatan. Adapun bunyi ayat tersebut adalah
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (الاسراء : 78)
Artinya: Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Al-Isra’ : 78)

فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (البقرة : 187)
Artinya: Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (Al-Baqarah: 187)

Kedua ayat tersebut menujukan kepada kita :
a. Jadwal waktu shalat fardhu, ialah : tergelincirnya matahari waktu untuk shalat zuhur dan ashar ; gelap malam untukwaktu shalat maghrib dan isya ; dan fajar untuk waktu shalat shubuh.
b. Waktu berpuasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari.

Sedangkan untuk daerah abnormal terletak didaerah khatulistiwa dan tropis yang berada diluar garis pararel 45 derajat dari garis lintang utara dan selatan. Di daerah ini perbedaan antara siang dan malam tidak besar, yakni enam bulan terus menerus dalam keadaan siang dan enam bulan berikutnya dalam keadaan malam. Negara-negara yang termasuk dalam zone abnormal antara lain, Belanda, Inggris, dan Amerika Utara.

2. Waktu ibadah di daerah abnormal
Untuk melaksanakan kewajiban agama tak ada alternatif lain yang memang tidak sukar dilaksanakan dan dapat mendatangkan faedah yang diharapkan yaitu memperkirakan hari malam dan bulan di daerah-daerah kutub itu dengan waktu di negara-negara yang biasa atau normal.
Tentunya penduduk daerah-daerah ini dapat mengambil suatu cara dalam memperkirakan hari dan malam serta bulan untuk kepentingan kehidupan mereka, seperti untuk pekerjaan dan kepentingan hidup yang lainnya.
Oleh sebab itu untuk menentukan waktu-waktu ibadah bagi penduduk yang berada di daerah kutub dapat disesuaikan dengan waktu-waktu didaerah yang normal yang berdekatan dengan daerah tersebut.
Ada wilayah yang pada bulan – bulan tertentu mengalami siang selama 24 jam dalam sehari.Dan sebaliknya, pada bulan – bulan tertentu akan mengalami sebaliknya, yaitu mengalami malam 24 jam dalam sehari.dalam kondisi ini , masalah jadwal shalat disesuakan dengan jadwal shalat dan puasa wilayah yang terdekat dengannya dimana masih ada pergantian siang dan malam setiap harinya.
Ada wilayah yang pada bulan tertentu tidak mengalami hilangnya mega marah(syafaqul ahmar) sampai datangnya waktu shubuh.Sehingga tidak bias di bedakan antara mega merah saat maghrib dengan mega merah saat shubuh.Dalam kondisi ini, maka yang dilakukan adalah menyesuakan waktu shalat isya’ nya saja dengan waktu diwilayah lain yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib.begitu juga waktu untuk imsya’ (mulai start puasa), disesuaikan dengan wilayah yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maaghrib dan masih bias membedakan anara dua mega itu.
Ada wilayah yang masih mengalami pergantian malam dan siang dalam satu hari, meski panjangnya siang sangat singkat sekali atau sebaliknya.Dalam kondisi ini, maka waktu puasa dan juga shalat tetap sesuai dengan aturan baku dalam syariat Islam. Puasa tetap dimulai sejak masuk waktu shubuh meski baru jam 02.00 dinihari.Dan waktu terbuka tetap pada sat matahari tenggelam meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.
Tetapi jika di suatu daerah yang ketika musim panas mereeka berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari selama 23 jam 45 menit Atau sebliknya di musim dingin , mereka berpuasa hanya selam 15 menit, maka menurut ulama mereka dapat mengikuti waktu hijaz artinya jadwal puasa dan shalatnya mengikuti jadwal yang ada di hijaz (Mekkah, Madinah, dan sekitarnya). Karena wilayah ini di anggap tempat terbit dan muncul Islam sejak pertama kali. Lalu diambil waktu siang yang paling lama di wilyah itu untuk dijadikan patokan meraka yang ada di kutup utara dan selatan.
Di Negara-negara yang sejajar dengan Belanda, Jerman, Inggris , Polandia, Rusia, atau bahkan yang lebih utara, seperti Finlandia, Norwegia, Swedia, Denmark, pada waktu siang akan lebih lama di musim panas dan jika musim dingin , waktu siang lebih singkat daripada waktu malam Sehingga waktu puasa atau ibadahnya menyesuaikan waktu setempat,pada saat musim panas mereka berpuasa sekitar 18 jam lebih dari mulai jam 02.00 sd 21.00 dan pada saat musim dingin mereka hanya berpuasa selama 7 jam, dari mulai jam 04.00 sd 14.00.
Adapun dalil-dalil syar’i yang memberikan dispensasi atau hukum rukhshoh bagi masyarakat Islam yang tinggal di daerah-daerah yang abnormal untuk mengikuti waktu sholat dan puasa dari daerah normal yang terdekat, antara lain sebagai berikut:
a. Q.S. Al-Baqarah 286
لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْْسًا اِلاَّوُسْعَهَا … (البقرة : 286)
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al-Baqarah : 286)

b. Hadis Nabi riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah ra.
اَلَّذِيْنَ يُسْرٌوَلَنْ يُغَالِيُ الدِّيْنَ أَحَدٌاِلاَّغَلَبَهُ
Artinya: “Agama (Islam) itu mudah. Tiada seorang pun yang bisa mengalahkan atau menguasai agama, bahkan agama lah yang mengalahkan ia.

B. Hukum haji petugas dan orang yang dihajikan
Bahwa sahnya ibadah haji seseorang tidak tergantung orang yang bersangkutan harus melakukan sendiri, melainkan bisa dilakukan oleh anaknya, atau saudara atau orang lain. Demikian pula biaya hajinya (ONH) tidak harus dikeluarkan dari hartanya sendiri, melainkan bisa dibayar oleh anaknya, orang lain atau oleh sebuah lembaga pemerintah atau swasta baik dengan tugas maupun tanpa tugas. Jadi hukum haji bagi petugas haji hukumnya juga sah, ketika rukun dan syarat haji sudah terpenuhi. Sebab yang menentukan sah dan tidaknya haji itu adalah dipenuhi atau tidaknya syarat dan sah rukunnya haji. Sedangkan pembiayaan ONH oleh yang bersangkutan sendiri termasuk rukun dan syarat sahnya haji.
Sedangkan hukum orang yang dihajikan (haji untuk orang lain) menurut pendapat jumhur ulama, bahwasannya orang yang sanggup menunaikan ibadah haji, kemudian dia mengalami keuzuran karena sangat tua dan dia tidak mengerjakan haji diwaktu masih kuat, maka haruslah hajinya itu dikerjakan oleh orang lain, karena ia sudah tak mungkin lagi mengerjakan sendiri. Haji orang yang seperti itu dapat dikerjakan orang lain atas namanya. Sebagaimana dalam hadis
اَنَّ امْرَأَةَ خَتْعَمِ قَالَتْ : يَارَسُولُ الله, اِنَّ فَرِيْضَةَ الله عَلَى عِبَادِهِ فِى الْحَجِّ اَدْرَكْتُ أَبِى شيخًاكَبِيْرًالاَيَسْتَطِيْعُ أَنْ يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ, قَالَ, نَعَمْ
Artinya: Sesungguhnya seorang wanita dari golongan khaf’am berkata: “Ya Rasulullah sesungguhnya di fardhukan Allah atas hamba-Nya haji. Ayah saya sekarang sudah sangat tua tidak lagi sanggup duduk diatas kendaraan, apakah boleh saya berhaji atas namanya?” Nabi menjawab: “Boleh”

Selain pendapat jumhur ulama Imam empat mengemukakan pendapat yang berbeda-beda:
Menurut pendapat golongan Malikiyah, bahwa orang yang wajib melaksanakan haji tidak dapat digantikan oleh orang lain, baik dia dalam keadaan sehat maupun sakit yang diharap sembuh. Seandainya dia membiayai seseorang untuk mengerjakan haji maka pembiayaan itu tidak sah. Orang yang membiayai orang lain untuk mengerjakan hajinya yang tidak diwajibkan, seperti orang sakit yang tidak diharap sembuh, maka akad pengupahan itu sah dilakukan walaupun makruh. Orang yang tidak mampu mengerjakan haji sendiri pada tiap-tiap musim haji maka gugurlah kewajiban menunaikan ibadah haji dan tidak harus membiayai orang lain untuk menunaikan ibadah haji, walaupun ia mampu memberi biaya. Apabila seorang membiayai orang lain, baik dia sakit, baik haji yang biayai itu haji fardhu, atau pun haji sunnah, maka haji itu diperoleh oleh orang yang mengerjakan haji yang diupahkan itu. Seperti upah hanya memperoleh pahala membantu orang lain berhaji dan keterkaitan do’anya.
Menurut golongan Hanafiyah, bahwa haji dapat diganti. Karenanya, barang siapa tidak sanggup mengerjakan haji sendiri, wajib menyuruh orang lain menggantinya (mengerjakan atas namanya). Dan baginya itu sah untuknya, jika memenuhi:
1. Fisiknya terus menerus lemah sampai ia meninggal, seperti orang sakit yang tidak diharapkan sembuh lagi, tunanetra.
2. Diniatkan atas nama yang menyuruh
3. Tidak disyaratkan upah bagi orang yang mengganti, hanya dijamin biaya yang diperlukan
4. Hendaklah orang yang mengerjakan haji itu, mengerjakan haji yang dimaksudkan oleh orang yang mengupahnya
5. Niat ihrom itu untuk seorang saja
6. Orang yang menyuruh dan orang yang disuruh itu orang muslim dan berakal
7. Orang yang mengerjakan haji itu dewasa atau menjelang dewasa
8. Orang yang mengerjakan haji orang laki-laki
9. Orang yang mengerjakan haji yang merdeka
10. Orang yang mengerjakan haji orang yang sudah mengerjakan hajinya sendiri.
Golongan Syafi’iyah berpendapat, bahwa haji itu dapat diganti. Karenanya wajib atas orang yang tidak sanggup mengerjakan haji menggantikan dirinya dengan orang lain untuk mengerjakan hajinya. Batas ketidak sanggupan itu ialah tidak dapat duduk didalam kendaraan kecuali dengan sangat terpaksa yang mana tidak layak dialami biasa. Disyaratkan bagi orang yang tidak sanggup melaksanakan haji bahwa jarak antara orang tersebut dengan Mekkah minimal 2 Marhalah, jika kurang dari 2 Marhalah atau orang tersebut adalah orang Mekkah sendiri, maka tidak boleh ditunjuk pengganti. Dan tidak sah diganti oleh orang yang belum berhaji bagi dirinya sendiri, walaupun orang itu orang kepercayaan. Disyaratkan pula untuk sahnya akad pengupahan buat mengerjakan haji, bahwa yang mengerjakan itu mengerti tentang seluk beluk haji terutama mana yang wajib dan yang sunnah.
Golongan Hambaliyah berpendapat, bahwasannya haji dapat diganti karena apabila seseorang yang wajib mengerjakan haji tidak sanggup menunaikannya, maka wajiblah ia menunjuk pengganti.

IV. ANALISIS
Sholat dan Puasa di daerah abnormal, sebenarnya adalah permasalahan yang klasik yang mana pada saat itu belum bisa ditemukan alat pengukur waktu kecuali hanya berdasarkan dengan terbit dan terbenamnya matahari. Jadi dalam menentukan waktu di daerah tersebut (abnormal) untuk menjalankan ibadah dalam hal ini adalah ibadah sholat dan puasa cara yang dianggap efektif yakni dengan menyamakan dengan daerah normal yang berada dekat dengan daerah tersebut. Metode seperti ini merupakan metode yang paling mudah sehingga tidak menjadi beban bagi umat Islam dan ini disesuaikan dengan firman Allah yang tertera dalam surat Al-Baqarah yang dimana Allah tidak membebani umat–Nya.
Sedangkan hukum orang yang dihajikan dan petugas haji, yang dalam pembahasan ini telah disesuaikan dengan hadis Nabi, hukumnya tetap sah, karena pada dasarnya yang membuat sah dan tidaknya haji itu bukanlah dari maupun atau tidaknya orang tersebut baik dari segi medis maupun finansial, akan tetapi diproses menjalankan rukun dan syarat haji yang ranah tersebut boleh dilaksanakan oleh orang lain ketika pihak yang sebenarnya tidak mampu.

V. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa: dalam penentuan waktu sholat dan puasa di daerah Abnormal yakni dengan mengikuti waktu daerah normal yang berada dekat dengan daerah tersebut.
Hukum hajinya petugas haji adalah tetap syah, apabila rukun dan syarat haji terpenuhi. Dan hukum orang yang dihajikan boleh apabila dia mengalami keuzuran karena sangat tua atau karena sakit yang tidak diharapkan sembuh lagi. Dan disyaratkan bagi orang yang ditunjuk untuk mengerjakan haji tersebut harus mengerti tentang seluk beluk haji terutama mana yang wajib dan yang sunnah.

VI. PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat, dalam pembuatan makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif senantiasa kami harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Asy-Shiddieqh, M. Hasbi, Pedoman Haji, Jakarta: Bulan Bintang, 1983.
Sjaltout, Syaikh Mahmoud, Fatwa-Fatwa, Jakarta: Bulan Bintang, 1972.
Zuhdi, Masjfuk, Masail Fiqhiyah, Jakarta: CV Haji Masagung, 1994.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s