ULUMUL HADITS DAN SEJARAH PENGHIMPUNANNYA

Standar

ULUMUL HADITS DAN SEJARAH PENGHIMPUNANNYA

 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Ulumul Hadits

Dosen Pengampu: Darmuin, M.Ag

 


 

Disusun Oleh:

 

Miftahul Janah        (103111059)

M. Aqshol                 (103111060)

M. Azhar Farih       (103111062)

M. Khoirul Umam   (103111063)

Muhammad             (103111065)

M. Amik Fahmi       (103111067)

Hilmi Karomi           (103511031)

Amri Khan                 (103111109)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

 

ULUMUL HADITS DAN SEJARAH PENGHIMPUNANNYA

 

  1. I.     PENDAHULUAN

Sebelum kita mempelajari Hadits, terlebih dahulu kita mempelajari pengantarnya yang meliputi sejarah pertumbuhan dan perkembanganya, sejarah dan ilmunya, dan pokok-pokok dasar yang jadi pedoman dalam menghadapi Hadits.

Mempelajari sejarah perkembangan hadits,baik perkembangan riwayat-riwayatnya maupun pembukuanya, sangat diperlukan karna dipandang satu bagian dari pelajaran hadits yang tidak boleh dipisahkan.

Dengan memeriksa periode-preiode yang telah dilalui oleh ilmu itu(sejarah perkembanganya) kita dapat mengetahui bagaimana proses pertumbuhanya dan perkembangannya dari masa ke masa.

Mempelajari sejarahnya dapat memberikan gambaran kepada kita betapa kesungguhan yang telah diberikan oleh para ahli untuk pertumbuhan dan perkembanganya dan merentangkan jalan-jalan untuk sampai kepada tujuan yang terakhir dari sesuatu ilmu itu.[1]

  1. II.     RUMUSAN MASALAH

A.Pengertian Ilmu Hadits

B. Cabang-Cabang Ilmu Hadits

C. Bagaimana Sejarah Pengimpunan Ilmu Hadits

  1. III.     PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Hadits

Ulumul hadits adalah sebuah disiplin ilmu yang berhubungan dengan hadits dalam berbagai aspeknya. Pengertian tersebut didasarkan atas banyaknya ragam dan macam ilmu yang bersangkut paut dengan hadits. Ulama mutaqaddimin merumuskan ilmu hadits secara terminologis dengan ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang cara-cara persambungan hadits sampai kepada Rasulullah, dari segi ihwal para periwayatnya yang menyangkut kedhabitan dan keadilan serta dari segi bersambung atau terputusnya sanad dan sebagainya.

Menurut ulama mutaqaddimin, (menurut istilah ulama hadits, ulama mutaqaddimin ialah ulama hadits yang hidup sampai abad III H[2]) ilmu hadits adalah “Ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang cara-cara persambungan hadits sampai kepada Rasulullah SAW dari segi hal ihwal para perawinya, kedhabitan, keadilan, dan dari bersambung tidaknya sanad dan sebagainya”.[3]

Pada perkembangan selanjutnya, oleh ulama mutaakhirin, ilmu hadits ini dipecah menjadi dua, yaitu ilmu hadits riwayah dan ilmu hadits dirayah. Pengertian yang diajukan oleh ulama mutaqaddimin itu sendiri, oleh ulama mutaakhirin dimasukan ke dalam pengertian ilmu hadits dirayah.

  1. Ilmu Hadits Riwayah

Dalam istilah ilmu hadits, yang dimaksud dengan riwayah al-hadits atau ar-riwayah ialah kegiatan penerimaan dan penyampaian hadits, serta penyandaran hadits itu kepada mata rantai para periwayat(rawi)nya.[4]

Yang dimaksud dengan ilmu hadits riwayah, ialah: ilmu yang menukilkan segala apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik perkataan, perbuatan, taqrir, sifat fisik ataupun sifat perangai.[5]

Ibn Al-Akfani, sebagaimana dikutip oleh As-Suyuthi, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ilmu hadits riwayah ialah: ilmu pengetahuan yang mencakup perkataan dan perbuatan Nabi SAW baik periwayatannya, pemeliharaannya, maupun penulisan atau pembukuan lafadz-lafadznya.[6]

Obyeknya ialah pribadi Nabi SAW, yakni perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat-sifatnya dari segi penukilan. Karena itu, ilmu ini mencakup pembahasan tentang segala yang berpautan dengan lafadz dan periwayatannya.

Menurut pendapat As-Suyuthi, obyek ilmu hadits riwayah ialah bagaimana cara menerima, menyampaikan kepada orang lain, dan memindahkan. Dalam menyampaikan dan membukukan hadits hanya disebutkan apa adanya, baik yang berkaitan dengan matan maupun sanadnya. Ilmu ini tidak membicarakan tentang syadz (kejanggalan) dan ‘illat (kecacatan) matan hadits. Ilmu ini juga tidak membahas tentang kualitas para perawi hadits, baik keadilan, kedhabitan atau kefasikannya.[7]

Faedah mempelajari ilmu hadits riwayah adalah untuk menghindari adanya penukilan yang salah dari sumbernya yang pertama, yaitu Nabi SAW.

  1. Ilmu hadits dirayah

Sebagian  ulama mendefinisikan ilmu ini dengan: suatu ilmu yang menerangkan kaidah-kaidah yang dengannya dapat diketahui keadaan sanad dan matan, yaitu tentang shahih, hasan, dha’if, marfu’, mauquf dan maqthu, serta cara panerimaan, penyampaiannya dan sifat-sifat para perawi.[8]

Ilmu hadits dirayah, ialah ilmu yang membahas makna-makna yang difahamkan dari lafal-lafal hadits dan yang dikehendaki dari suatu lafal dan kalimat, dengan bersandar kepada aturan-aturan (kaidah-kaidah) bahasa arab dan kaidah-kaidah agama yang sesuai dengan keadaan Nabi SAW.[9]

Kebanyakan ulama menta’rifkan Ilmu Hadits Dirayah,adalah: “Suatu ilmu untuk mengetahui keadan sanad dan matan dari jurusan diterima, ditolak dan yang bersangkut paut dengan itu.

At-Tirmizi mendefinisikan ilmu ini dengan: Kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan sanad dan matan, cara menerima dan meriwayatkan, sifat-sifat perawi dan lain-lain.[10]

Dari pengertian-pengtian di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu hadits dirayah ialah: sekumpulan kaidah dan masalah yang dengan kaidah dan masalah itu dapat diketahui keadaan perawi dan marwi, dari segi dapat diterima atau tidaknya riwayat mereka.

Ilmu hadits dirayah biasa juga disebut sebagai ilmu musthalah al-Hadits, ilmu ushul hadits, uluum al-hadits dan Qawaid at-tahdits.

Obyeknya ialah keadaan sanad dan matan.

Faedahnya ialah mengetahui mana hadits yang disandarkan kepada Nabi SAW yang harus diterima (maqbul) dan mana yang harus ditolak (mardud).

  1. Cabang-Cabang Ilmu hadits

Setelah ilmu hadits menjadi ilmu yang berdiri sendiri dan setelah dikembangkan pembahasannya oleh para ulama, muncul cabang-cabang ilmu yang membahas secara khusus tentang masalah-masalah tersebut. Pada akhirnya, cabang-cabang tersebut diberi nama sesuai dengan masalah-masalah yang dibahasnya.

Dari beberapa cabang yang dibahas jika dikelompokkan atas masalah yang akan dibahasnya, maka dapat dikelompokkan menjadi  tiga macam, yaitu:

  1. Cabang ilmu hadits yang pokok pembahasannya bertumpu pada sanad dan rawi. Diantaranya adalah:
    1. Ilmu Rijal al-Hadits,

Ilmu yang membahas tentang hal ihwal kehidupan para rawi dari golongan sahabat, tabiin, dan tabi’ut-tabiin.

b. Ilmu Thabaqat ar-Ruwah,

Ilmu yang membahas keadaan rawi berdasarkan pengelompokkan keadaan rawi-rawi tertentu.

  1. Tarikh Rijal al-Hadits,

Ilmu yang membahas tentang rawi yang menjadi sanad suatu hadits mengenai tanggal lahirnya, silsilah keturunannya, guru-guru yang pernah yang memberikan hadits kepadanya, jumlah hadits yang diriwayatkan, dan murid-murid yang pernah mengambil hadits dari padanya.

d. Ilmu Jarh Wa At-Ta’dil

Ilmu yang membahas tentang hal ihwal para periwayat dalam bidang kritik keaiban dan memuji keadilannya dengan norma-norma tertentu.

  1. Cabang ilmu hadits yang pokok pembahasannya bertumpu pada matan. Diantaranya adalah:
    1. Ilmu Gharib al-Hadits,

Ilmu yang membahas lafal-lafal matan hadits yang sulit dipahami dikarenakan jarangnya lafal itu digunakan atau nilai sastranya yang tinggi.

b. Ilmu Asbab Wurud al-Hadits,

Ilmu yang menerangkan tentangsebab-sebab atau latar belakang lahirnya suatu hadits.

  1. Ilmu Tawarikh al-Mutun,

Ilmu yang menerangkan tentang kapan suatu hadits itu diucapkan atau diperbuat oleh rasulullah.

d. Ilmu Nasikh wa Mansukh,

Ilmu yang membahas tentang hadits yang dinasikh dan dimansukh.

  1. Ilmu Muhtalaf al-Hadits,

Ilmu yang membahas hadits-hadits yang secara lahiriyah bertentangan namun kemungkinan dapat diterima dengan suatu syarat.

  1. Ilmu at-Tashif wa a-Tahrif,

Ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah diubah titik atau syakalnya (Mushahhaf) dan bentuknya (Muharraf).

  1. Cabang ilmu hadits yang pokok pembahasannya berpangkal pada sanad dan matan. Diantaranya adalah:
    1. Ilmu Ilal al-Hadits,

Ilmu yang menjelaskan sebab-sebab yang tersembunyi, yang dapat mencacatkan keshahihan hadits, seperti mengatakan muttashil terhadap hadits yang munqathi’, menyebut marfu’ terhadap hadits yang mauquf, memasukkan hadits ke dalam hadits lain dan hal-hal yang seperti itu.

b. Ilmu Fann al-Mubhamat,

Ilmu yang menerangkan tentang nama-nama orang yang tidak disebutkan namanya di dalam matan dan sanad.

  1. Sejarah Pengimpunan Ilmu Hadits

Ilmu hadits riwayah sudah ada sejak periode Rasulunah SAW sendiri, bersamaan dengan dimulainya periwayatan hadis itu sendiri. Sebagaimana diketahui, para sahabat menaruh perhatian yang tinggi terhadap hadis Nabi SAW. Mereka berupaya mendapatkannya dengan menghadiri majelis Rasulullah SAW serta mendengar dan menyimak pesan atau nasihat yang disampaikan Nabi SAW.[11]

Ulama yang membahas hadits dengan perspektif ilmu riwayah atau sebagai pendiri ilmu hadits riwayah ialah Muhammad ibn Syhab Az-Zuhri (51-124H) beliau menghimpun hadits Nabi atas intruksi dari Umar bin Abdul Aziz.[12]

Sedangkan pembahasan ilmu hadits dirayah sudah dimulai sejak abad kedua hijriyah. Namun pembahasan yang dilakukan pada saat itu masih berserak-serak dalam beberapa kitab dan belum merupakan ilmu yang berdiri sendiri. Diantara ulama yang membahasnya ialah Ali bin Madany (161-234H), Al-Bukhari (198-252H), Muslim (204-261H) dan Turmudzi (200-279H).[13]

Ilmu hadits dirayah baru menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri sejak disusunnya kitab oleh Al-Qadli bin Muhammad Ar-Ramahurmuzy (265-360 H) dengan judul al-Muhaddits al-fashil bayna ar-Rawi wa Sami’. Dari usaha inilah kemudaian diikuti oleh para ulama berikutnya. Diantaranya ialah al-Hakim Abu Abdillah an-Naisabury (231-405H) dangan karyanya Ma’rifat Uluum Al-Hadits, Abu Nuaim al-Asfahany (wafat 430H) dengan karyanya Al-Mustakhraj ‘ala Ma’rifat Uluum al-Hadits, al-Khatib Abu Bakar al-Baghdadi (w. 463 H) dengan karyanya al-Kifayah fi ‘Ilm ar-Riwayah dan al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami, dan lain-lain.[14]

  1. IV.     KESIMPULAN

Ilmu hadits dibagi menjadi dua macam oleh ulama mutaakhirin, yaitu ilmu hadits riwayah dan ilmu hadits dirayah. Menurut imam As-Suyuthi, Ilmu Hadits Dirayah adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat periwayatan, syarat-syaratnya, macam-macamnya dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, macam-macam periwayatan, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sedangkan ilmu hadits riwayah adalah ilmu pengetahuan yang mencakup perkataan dan perbuatan Nabi SAW baik periwayatannya, pemeliharaannya, maupun penulisan atau pembukuan lafadz-lafadznya.

Diantara cabang-cabang pokok ilmu hadits ialah: ilmu Rijal al-Hadits, ilmu Thabaqat ar-Ruwah, Tarikh Rijal al-Hadits, ilmu Jarh Wa At-Ta’dil, ilmu Gharib al-Hadits, ilmu Asbab Wurud al-Hadits, ilmu Tawarikh al-Mutun, ilmu Nasikh wa Mansukh, ilmu Muhtalaf al-Hadits, ilmu at-Tashif wa a-Tahrif, ilmu Ilal al-Hadits, dan ilmu Fann al-Mubhamat.

Dengan demikian, dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa substansi ilmu hadits meliputi periwayatan, pencatatan, pengkajian sanad, matan, hadits, dan faedah yang dapat dipetik dari pengkajian tersebut. Sedangkan esensi dari pembahasannya ialah sanad dan matan hadits.

  V.     PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami buat, semoga dapat mendatangkan manfaat bagi kami (pemakalah) khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya. Kami selalu mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan makalah kami yang berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Assa’idi, Sa’dullah, Hadits-Hadits Sekte (Yogyakarta: Pustaka Pelajar IKAPI, 1996) cet. I

Muhammad, Teungku Hasbi Ash Shidiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1999) cet.IV

____________, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits(Jilid I),(Jakarta: PT Bulan Bintang, 1987) cet. VII

Suparta, Munzier, Ilmu Hadits (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003) cet. IV

Suryadilaga, Alfatih, dkk., Ulumul Hadits (Yogyakarta: Teras, 2010) cet.I

http://azzamalwan.blogdrive.com/archive/6.html, diakses pada 2 april 2011, pukul 11.30


[1]Teungku Muhammad Hasbi Ash Shidiqy, sejarah dan pengantar ilmu hadits (semarang:PT pustaka rizki putra,1999) cet.IV hal.24

[2] Sa’dullah Assa’idi, Hadits-Hadits Sekte (Yogyakarta: Pustaka Pelajar IKAPI, 1996) cet. I hal.15

[3] Munzier Suparta, Ilmu Hadits (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003) cet. IV  hal.24

[4] Ibid, hal.12

[5] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits(Jilid I),(Jakarta: PT Bulan Bintang, 1987) cet. VII, hal.20

[6] Munzier Suparta, Op. Cit, hal.13

[7] Ibid,

[8] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Op.Cit, hal.22

[9]Ibid, hal.24

[10] Munzier Suparta, Op.Cit, hal.26

[11] http://azzamalwan.blogdrive.com/archive/6.html, diakses pada 2 april 2011, pukul 11.30

[12] Alfatih Suryadilaga, dkk., Ulumul Hadits (Yogyakarta: Teras, 2010) hal.4

[13] Ibid, hal.5

[14] Ibid, hal.6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s