HADITS SHAHIH DAN HADITS HASAN

Standar

HADITS SHAHIH DAN HADITS HASAN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Ulumul Hadits

Dosen Pengampu : Darmu’in, M.Ag.


Disusun Oleh:

Nur Hidayati                                       (103111086)

Nur Khapipudin                                  (103111088)

Nur Rohman                                       ( 103111090)

Nurul Atikah                                       (103111091)

Nurul Mar’atus Sholikah                     (103111092)

Riza Rahmawati                                  (103111094)

Ana Rozana Mubarok                         (103111011 )

Amri Khan                                          (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

HADITS SHAHIH DAN HADITS HASAN

  1. I.          PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui pada penjelasan sebelumnya bahwa hadits dilihat dari aspek periwayatannya hadits terbagi menjadi dua, yaitu hadits mutawattir dan hadits ahad. Untuk hadits mutawattir sudah diakui kualitasnya oleh para ulama ahli hadits. Sedangkan pada hadits ahad masih diragukan kualitasnya.

Oleh karena itu, dalam penelitian para ulama merasa perlu memberi atau menciptakan beberapa istilah sebagai standar untuk mengukur tingkat kualitas hadits itu. Diantaranya adalah Hadits Shahih, Hadits Hasan, dan Hadits Dha’if. Dengan demikian kita dapat memilih atau mengetahui hadits mana yang dapat diterima dan mana yang ditolak. Dalam makalah ini akan kami paparkan berkaitan dengan Hadits Shahih dan Hadits Hasan mulai dari pengertian, persyaratan, klasifikasi, dan kehujjahan menurut para Ulama.

  1. II.       RUMUSAN MASALAH
    1. Apa  Pengertian Hadits Shahih dan Hadits Hasan?
    2. Apa Saja Persyaratan Hadits Shahih dan Hadits Hasan?
    3. Bagaimana Klasifikasi Hadits Shahih dan Hadits Hasan?
    4. Bagaimana Kehujjahan Hadits Shahih dan Hadits Hasan Menurut

Para Ulama?

  1. III.    PEMBAHASAN
    1. A.    Pengertian HaditsShahih dan HaditsHasan

Pengertian HaditsShahih

Shahih ( صحيح)” adalah bahasa arab, lawannya adalah “Saqiim ( سقيم), artinya “ sakit” dan menjadi bahasa indonesia dengan arti “ sah, benar, sempurna, sehat”.

Sedang menurut istilah, para ahli berbeda- beda redaksi dalam memberikan definisi hadits shahih, di antaranya ialah:

a)         Al- Suyuthi

هو ما اتّصل سنده بعدول الضّابطين من غير شدود ولا علّة

Hadits Shahih ialah hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabith dan tidak ditemukan kejanggalan dan tidak juga berillat.

b)        Ibn ash- Shalah

المسند الّذى يتّصل اسناده بنقل العدل الضّابط عن العدل الضّابط الى منتهاه ولا يكون شاذا ولا معلّلا

Hadits yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang sanad-nya bersambung , diriwayatkan oleh ( pe-rawi) yang adil dan dhabith, diterima ( pe-rawi) yang adil dan dhabith hingga sampai akhir sanad, tidak ada kejanggalan, dan tidak ber’illat ”.[1]

Pengertian Hadist Hasan

Kata Hasan dari kata Hasuna, Yahsunu, yang menurut bahasa berarti:

مَا تَشْتَهِيْهِ النّفْسُ وَ تَمِيْلُ اِلَيْهِ

sesuatu yang diinginkan dan menjadi kecenderungan

Maka sebutan Hadits Hasan, secara bahasa berarti Hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa. Ada juga yang mengembangkan pengertian yang diambil melalui pendekatan kebahasaan ini yang mengatakan, bahwa disebut Hadits Hasan karena, menurut Sanad Hadits tersebut, adalah baik. Atau bisa diartikan, hadits hasan adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil, yang rendah tingkat kekuatan daya hapalnya, tidak rancu dan tidak bercacat.[2]

At- Turmudzi, sebagai Ulama yang mempopulerkan istilah ini mendefinisikan Hadist Hasan, sebagai berikut:

كلّ حديث يروى لا يكون في اسناده من يتّهم بالكذب ولا يكون الحديث شاذا ويروى من غير وجه نحو ذلك

Tiap- tiap Hadits yang pada sanad-nya tidak terdapat pe-ra-wi yang tertuduh ian bahwa sanaddusta, ( pada matan-nya) tidak ada kejanggalan ( syadz), dan ( hadits tersebut) diriwayatkan pula melalui jalan lain ”.

Menurut definisi at-Turmudzi di atas menunjukan, bahwa ia tidak secara tegas menyebutkan terjadinya persambungan sanad, atau ke-adil-an, dan ke- dhabith– annya. Dengan ini dapat melahirkan pengertian sanad hadits tersebut bisa jadi tidak ke- dhabith- an yang sempurna. Sebagaimana yang disyaratkan dalam Hadits Shahih. Akan tetapi ia selanjutnya menyebutkan adanya sanad atau rawi lain yang juga meriwayatkan hadits ini. Dengan persyataan ini ia memandang, bahwa kelemahan yang dimiliki sanad tersebut dapat dibantu oleh adanya sanad lain yang juga meriwayatkan Hadits yang sama. Oleh karena itu, ia menyebutnya Hadits Hasan. [3]

  1. B.   Persyaratan HaditsHhahih dan HaditsHasan

Persyaratan Hadits Shahih

Berdasarkan beberapa definisi Hadits Shahih, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama’ diatas, diketahui adanya lima syarat yang harus dipenuhi, yaitu:[4]

  1.   Diriwayatkan oleh para pe-rawi yang Adil

Kata adil, dari kata adala, ya’dalu, ‘adalatan wa’udulatan, yang menurut bahasa yang berarti lurus, tidak berat  sebelah, tidal lazim, dan tidak menyimpang. Maka pe-rawi yang adil, secara bahasa berarti pe-rawi yang lurus, atau tidak menyimpang.

Yang dimaksud istilah adil dalam periwayatan disini, secara terminologis mempunyai arti spesifik atau khusus yang sangat ketat dan berbeda dengan istilah adil dalam terminologi hukum. Dalam periwayatan, seseorang dikatakan adil apabila memiliki sifat- sifat yang dapat mendorong terpeliharanya ketaqwaan, yaitu senantiasa melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya, baik akidahnya, terpelihara dirinya dari dosa besar dan kecil, dan terpelihara akhlaknya. Termasuk dari hal- hal yang menodai muru’ah, disamping ia harus muslim, baligh, berakal sehat, dan tidak fasik.

Ke-adil-anpara pe-rawi di atas, menurut para ulama, dapat diketahui melalui: pertama, keutamaan kepribadian nama pe-rawi itu sendiri yang terkenal dikalangan ulama ahli hadits, sehingga ke-adil-an-nya tidak diragukan lagi, kedua, penilaian dari ulama lainnya, yang melakukan penelitian terhadap para pe-rawi, tentang ke-adil-an  pe-rawi- pe-rawi Hadits, dan ketiga, penerapan kaidah al-jarh wa at-ta’dil, apabila terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama peneliti terhadap pe-rawi- pe-rawitertentu.

  1.   Ke-dhabit-an Pe-rawi-nya Sempurna.

Kata dhabith dari kata dhabatha, yadhbithu, dhabithan, yang menurut bahasa berarti yang kokoh, yang kuat, yang cepat, yang terpelihara, dan yang hafal dengan sempurna. Maka, ungkapan pe-rawi yang dhabith berarti pe-rawi yang cermat atau pe-rawi yang kuat.

Dikatakan pe-rawi yang sempurna ke- dhabith-annya, yang dimaksudkan di sini, ialah pe-rawi yang baik hafalannya, tidak pelupa, tidak banyak ragu, dan tidak banyak bersalah, sehingga ia dapat mengingat dengan sempurna hadist- hadist yang diterima dan diriwayatkannya.

Dari sudut kuatnya ingatan pe-rawi, para ulama membagi ke-dhabith-an ini kepada dua, yaitu: pertama, dhabth shadr  atau disebut juga dengan dhabth fu’ad, dan yang kedua dhabth kitab. Dhabth shadr, artinya terpelihara hadits yang diterimanya dalam hafalan, sejak ia menerima hadits tersebut sampai  meriwayatkannya kepada orang lain, kapan saja periwayatan itu diperlukan. Sedang Dhabth kitab, artinya terpeliharannya periwayatan itu melalui tulisan- tulisan yang dimilikinya. Ia mengingat betul hadits- hadits yang ditulisnya atau catatan- catatan yang dimilikinya, menjaganya dengan baik, dan meriwayatkannya kepada orang lain dengan benar.

  1.   Antara Sanad- sanadnya harus Muttashil

Kata Muttasshil dari kata ittashala, yattashilu, ittishalan, yang secara bahasa berarti yang bersambung atau yang berhubungan, Maka kata sanad yang muttashil, secara bahasa berarti sanad- sanad hadits yang berhubungan atau yang bersambung.

Yang dimaksud dengan sanad hadits yang muttashil disini, ialah sanad- sanad hadits yang antara satu dengan yang lainnya pada sanad- sanad yang disebut berdekatan atau beruntun, bersambung atau merangkai. Dengan kata lain, di antara pembawa hadits dan penerimanya terjadi pertemuan langsung. Dengan persambungan ini, sehingga menjadi silsilah atau rangkaian sanad yang bersambung menyambung, sejak awal sanad sampai kepada sumber hadits itu sendiri, yaitu Rasul SAW.[5]

  1.  Tidak ada cacat atau illat

Kata illat dari kata ‘alla, ya’ullu , atau ‘alla, ya’illu, yang secara bahasa berarti penyakit, sebab, alasan udhur/ halangan. Maka ungkapan tidak berillat secara bahasa, berarti tidak ada penyakit, tidak ada sebab ( yang melemahkannya), atau tidak ada halangan.

Secara terminologis yang dimaksud dengan illat di sini, ialah suatu sebab yang tidak nampak atau samar- samar yang dapat mencacatkan ke-shahih-an suatu hadits. Maka, yang disebut hadits tidak ber-illat, berarti hadits  yang tidak memiliki cacat, yang disebabkan adanya hal- hal yang tidak baik, yang kelihatanya samar- samar, karena dilihat dari segi zhahir-nya, hadits tersebut terlihat Shahih. Adanya cacat yang tidak nampak tersebut, mengakibatkan adanya keraguan, sedang hadits yang didalamnya terdapat keraguan seperti ini kualitasnya menjadi tidak shahih.

  1.  Tidak janggal atau Syadzdz

Kata Syadz dari kata syadzdza, yasyudzdzu, yang menurut bahasa berarti yang ganjil, yang tersaing, yang menyalahi aturan, yang tidak biasa atau menyimpang. Maka, hadits yang syadz menurut bahasa berarti hadits yang menyimpang, hadits yang ganjil, atau hadits yang menyalahi aturan.

Yang dimaksud hadits yang tidak syadz  di sini, ialah hadits yang tidak bertentangan dengan hadits lain yang sudah diketahui tinggi kualitas ke- shahih-annya. Hadits yang syadz pada dasarnya merupakan hadits yang diriwayatkan oleh pe-rawi yang lebih tinggi ke-tsiqah-annya.Maka kedudukan hadits ini dipandang lemah dari sudut matan-nya.[6]

 

 

 

 

Persyaratan Hadits Hasan.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan al- Asqalani, bahwa syarat- syarat yang harus terpenuhi bagi suatu hadits yang dikatagorikan sebagai hadits hasan adalah:

  1.  Para pe-rawi-nya adil.
  2. Ke– dhabith-anpe-rawi-nyadibawah pe-rawi  hadits shahih.
  3. Sanad- sanad-nyabersambung.
  4. Tidak terdapat kejanggalan atau syadz, dan
  5. Tidak mengandung illat.

Sedangkan persyaratan yang mengacu kepada definisi yang dikemukakan oleh at- Turmudzi, maka persyaratan yang harus dipenuhi adalah,

1. Para pe-rawi-nyatidak tertuduh dusta.

2. Matannyatidak syadz atau janggal, dan

3. Ada pe– rawi lain yang meriwayatkan hadits tersebut.[7]

  1. C.  Klasifikasi Hadits Shahih dan Hadits Hasan

Klasifikasi HaditsShahih

Hadits shahih itu terbagi dua bagian, yaitu hadits shahih lidzatih dan hadits shahih li ghairih.Hadist shahih lidzatih adalah hadits yang karena keadaan dirinya sendiri telah memenuhi kelima kriteria hadits shahih, sebagaimana dikemukakan di atas. Misalnya, hadits yang berbunyi: qala rasulullahu ‘alaihi wa sallam: al- muslim man salima al- muslimun min lisanihi wa yadihi wa al- muhajir man hajara ma naha allahu ‘anhu muttafa ‘alaihi ( orang islam adalah orang yang tidak mengganggu muslim- muslim lainnya, baik dengan lidah maupun dengan tangan lainnya, dan orang berhijrah itu adalah orang yang pindah dari apa yang dilarang oleh Allah).

Hadits ini antara lain diriwayatkan oleh al- Bukhari dengan sanad sebagai berikut:

  1. Adam ibn Iyas
  2. Syu’bah
  3.  Ismail
  4.  Ibn Safar
  5. Al- Sya’by
  6.  Abdullah ibn Amr ibn Ash

Rawi dan sanad al-Bukhari ini semuanya memenuhi kriteria hadits shahih lidzatih.Oleh karena itu, hadits tersebut termasuk hadits shahih lidzatih.

Adapun hadits shahih lighairih adalah, hadits yang shahihnya lantaran dibantu oleh keterangan yang lain. Jadi, pada diri hadits itu belum mencapai kualitas shahih, kemudian ada petunjuk atau dalil lain yang menguatkannya sehingga hadits tersebut meningkat menjadi  shahih lighairih.[8]

Syuhudi Ismail memberikan contoh sebagai berikut: misalnya, dua hadits yang semakna dan sama- sama berkualitas hasan lidzatih atau sebuah hasan lidzatih kemudian ada ayat yang bersesuaian benar dengan hadits tersebut maka kualitas hadits itu meningkat menjadi hadist hasan lidzatih lighairih: demikian juga bila ada hadits hasan lidzatih maka dilihat dari jurusan hadits yang tadinya berkualitas hasan  tersebut menjadilah ia hadits shahih lighairih.

Sedangkan yang berkualitas shahih lidzatih tetap berkualitas sebagaimana asalnya.

Contoh: lawla an asyuqqa ‘ala ummatiy la- armatahum bi as-siwak ‘inda kulli shalatin rawahu al- bhukari ‘an abiy hurairah ( sekitarnya tidak akan memberatkan kepada umatku, niscaya akan kuperintahkan untuk siwakan setiap menjelang shalat). [9]

Klasifikasi Hadits Hasan

Hadits Hasan terbagi menjadi hasan lidzatih dan hasan lighairih.Subhi as- Shahih dan kebanyakan ulama hadist lainnya mengungkapkan bahwa apabila hanya disebut hadits hasan maka yang dimaksud adalah hasan lidzatih. Adapun definisi yang dikemukakan oleh Ibrahim as- Syahawiy adalah “ Hadits hasan lidzatih adalah hadits yang sanadnya bersambung, dinukil oleh periwayat yang adil dan dhabith, namun kedhabithanya tidak sempurna, meski tidak terdapat ada syadz dan illat padanya. ”

Dari definisi- definisi yang ada dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud hasan lidzatih adalah hadits yang mencapai derajat hasan dengan sendirinya, sedikitpun tidak ada dukungan dari hadits lain. Dan kalau hanya disebutkan hadits hasan maka yang dimaksud adalah hadits hasan lidzatih.

Sedangkan hadits hasan lighairih adalah hadits hasanbukan karena dirinya sendiri melainkan karena dibantu oleh keterangan lain, baik dari syahid atau mutabi’. Dengan demikian, hadist hasan lighairih adalah hadist yang kualitas hadistnya pada dasarnya berada di bawah derajat hadits hasan.Ia berada pada derajat hadits dha’if.

Sedangkan menurut Ibrahim as-Sauqiy as- Syahawiy, hadits hasan lighairih adalah “ hadits yang diriwayatkan oleh periwayat yang dha’if , namun kedha’ifannya tidak karena banyaknya kesalahan, tidak bersifat fasik, dan hadits tersebut diriwayatkan oleh periwayat yang lain dari si periwayat yang dha’if tadi atau dari yang lebih tinggi darinya ( baik hafal maupun maknannya). ”

Dari definisi- definisi tersebut dapat diketahui bahwa hadits hasan lighairih adalah hadits yang pada asalnya  adalah hadits dha’if  yang kemudian meningkat derajatnya menjadi hasan karena adanya riwayat lain yang mengangkatnya.[10]

  1. D.  Kehujjahanhadist shahih dan hadist hasan menurut para ulama’

Kehujjahanhadist shahih menurut para ulama

Hadits yang telah memenuhi persyaratan hadits shahih wajib diamalkan sebagai hujjah atau dalil syara’ sesuai dengan ijma’ para ulama hadits dan sebagian ulama ushul dan fikih. Tidak ada alasan bagi seorang muslim tinggal mengamalkannya. Hadits Shahih lighairih lebih tinggi derajatnya dari pada hasan lizhatih, tetapi lebih rendah dari pada shahih lizhatih sekalipun demikian ketiganya dapat dijadikan hujjah.

Ada beberapa pendapat para ulama yang memperkuat kehujjahan hadits shahih ini, di antaranya sebagai berikut:

  1. Hadits Shahih memberi faidah Qath’i ( pasti kebenarannya) jika terdapat di dalam kitab Shahihayn ( Al- bukhari dan Muslim ) sebagaimana pendapat yang dipilih Ibnu As Shalah.
  2. Wajib menerima hadits shahih sekalipun tidak ada seorangpun yang mengamalkannya, pendapat Al- Kasimi dalam qawa’it at tahdits.[11]

Kehujjahan Hadist Hasan menurut para ulama

Sebagaimana Hadist Shahih, menurut ulama para ahli hadist, bahwa hadist hasan, baik Hasan li- dzath maupunHasan li- ghairih , juga dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan suatu hokum, yang harus diamalkan. Hanya saja terdapat perbedaan pandangan di antara mereka dalam soal penempatan rutbah atau urutannya, yang disebabkan oleh kwalitasnya masing- masing.Ada ulama yang tetap membedakan kualitas kehujjahan, baik antara Shahih li- dzatih dengan Shahih li- ghairih dengan hadist hasan itu sendiri. Tetapi ada juga ulam yang memasukannya kedalam satu kelompok, dengan tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya, yakni Hadist- Hadist tersebut dikelompokan kedalam Hadist Shahihpendapat yang disebut kedua ini dianut oleh al- hakim Ibn dan Ibn Huzainnah.  [12]

  1. IV.   KESIMPULAN

Penjelasan di atas dapat disimpulkan, Pengertian Hadist Shahihadalah “Shahih ( صحيح)” adalah bahasa arab, lawannya adalah “Saqiim” ( سقيم), artinya “ sakit” dan menjadi bahasa indonesia dengan arti “ sah, benar, sempurna, sehat”. Persyaratan Hadits Shahih, yaitu: Diriwayatkan oleh para pe-rawi yang Adil, Ke-dhabit-an pe-rawi-nya Sempurna, Antara Sanad- sanadnya harus Muttashil, Tidak ada cacat atau illat, Tidak janggal atau Syadzdz.

Sedangkan Hadist Hasan, secara bahasa berarti Hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.Persyaratan Hadits Hasan, yaitu: Para pe-rawi-nya adil, Ke- dhabith-an pe-rawi-nya dibawah pe-rawi  hadits shahih, Sanad- sanad-nya bersambung, Tidak terdapat kejanggalan atau syadz, dan Tidak mengandung illat.Dan kedua hadits tersebut menurut para ulama dapat dijadikan sebagai hujjah atau dalil yang kuat.

 

  1. V.       PENUTUP

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kesalahan dan kekurangan untuk itu kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini sangat kami harapkan. Besar harapan kami, semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi pembaca umumnya dan pemakalah khususnya.Amin.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Khon,Abdul Majid, Ulumul Hadits, ( Jakarta: Amzah, 2007)

Nuruddin,Ulum AlHSadits 2, (Bandung: Remaja Rosida Karya, 1997Bandung), Cet. 2.

Ranuwijaya, Utang,  Ilmu Hadits, (Jakarta: Gaya media pratama, 1996)

Suryadilaga, Al- Fatih, dkk. Ulumul Hadits, ( Yogyakarta: Teras, 2010)

Zein, Muhammad Ma’shum , Ulumul Hadits dan Mutathalah Hadits, ( Jombang: Darul Hikmah, 2008)

 


[1] Muhammad Ma’shum Zein, Ulumul Hadits dan Mutathalah Hadits, ( Jombang: Darul Hikmah, 2008), hal 112

[2] Nuruddin, Ulum AlHadita 2, (Bandung: Remaja Rosida Karya, 1997), Cet. 2., hlm. 27

[3]Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadits, (Jakarta: Gaya media pratama, 1996), hal. 169- 170

[4] Ibid., hlm. 172.

[5] Ibid., hlm. 174.

[6] Ibid., hal. 159- 164

[7] Ibid., hal. 171- 172

[8] Al Fatih Suryadilaga, dkk. Ulumul Hadits. ( Yogyakarta: Teras, 2010), hal. 249- 250

[9] Ibid., hal. 249- 250

[10] Ibid, hal 262- 263

[11] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, ( Jakarta: Amzah, 2007), hal 155- 156

[12] Utang Ranuwijaya, op. cit, hal 173- 174

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s