KODIFIKASI AL-QUR’AN PADA MASA UTSMAN BIN ‘AFFAN

Standar

KODIFIKASI AL-QUR’AN PADA MASA UTSMAN BIN ‘AFFAN

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu: Drs. H. Mat Solikhin, M.Ag

Disusun Oleh:

M. Khoirul Umam     (103111063)

Muhammad               (103111065)

Amri Khan                 (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

KODIFIKASI AL-QUR’AN PADA MASA UTSMAN BIN ‘AFFAN

  1. I.     PENDAHULUAN

Al-Qur’an merupakan wahyu dan mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat jibril AS. Oleh karena Al-Qur’an ini telah dijamin kemurnianya oleh Allah SWT, maka tidak akan berubah segala sesuatu yang ada didalamnya.

Sebagaimana Allah berfirman dalam ayat berikut:

إِناَّ ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm:

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya” (Q.S. Al-Hijr : 9)

Fakta sejarah tentang pengkodifikasian Al-Qur’an ini akan menjadi salah satu bukti kebenaran jaminan Allah terhadap pemeliharaan Al-Qur’an sepanjang zaman.

Maka disini pemakalah akan mencoba membahas tentang sejarah kodifikasi Al-Qur’an, khususnya pada masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan.

  1. II.     RUMUSAN MASALAH
    1. Sekilas Tentang Utsman Bin ‘Affan
    2. Bagaimana Kodifikasi Al-Qur’an Pada Masa Khlaifah Utsman Bin ‘Affan
    3. III.     PEMBAHASAN
    4. Sekilas tentang Utsman bin ‘Affan

Dia bernama Utsman bin ‘Affan bin Al-‘Ash bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib. Selain dikenal dengan Abu ‘Amr, beliau juga dipanggil Abu Abdullah Abu Laila.[1]

Khalifah Utsman bin ‘Affan adalah sosok yang sangat dermawan,lembut, sabar, dan pema’af.[2] Beliau dilahirkan pada tahun keenam tahun gajah atau 6 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu sekitar tanggal 20 april 572 Masehi. Beliau termasuk salah seorang yang menerima islam di awal perjalanan dakwah islam. Beliau orang yang diajak oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memeluk Islam. Juga melakukan dua kali hijrah. Pertama, ke Ethiopia dan yang kedua ke Madinah.[3]

Beliau termasuk kalangan sahabat yang pertama kali masuk islam, orang yang pertama kali melakukan hijrah, salah seorang dari sepuluh orang yang dapat jaminan surga dari Rasulullah saw, dan satu dari enam orang yang saat Rasulullah SAW meninggal, Beliau ridho terhadap mereka dan juga adalah salah seorang sahabat penghimpun Al-Qur’an.

Para ulama berkata: “tak seorang pun yang menikahi dua putri seorang Nabi kecuali Utsman”. Oleh karena itu Beliau diberi gelar Dzun Nurain (pemilik dua cahaya). Beliau menikah dengan Ruqayyah, seorang putri Rasulullah SAW dan pernikahannya berlangsung sebelum Muhammad saw diutus sebagai rasul.

Ruqayyah meninggal pada saat berlangsungnya perang badar. Inilah sebabnya Utsman tidak ikut serta dalam perang badar karena harus marawat istrinya. Kabar gembira tentang kemenangan kaum muslimin pada perang badar terdangar oleh Utsman setelah menyemayamkan Ruqayyah di Madinah. Kemudian Rasulullah saw menikahkannya dengan putrinya yang lain yaitu Ummu Kultsum, yang juga meninggal pada tahun Sembilan hijriyah.

Masa pemerintahannya adalah yang terpanjang dari semua khalifah di zaman al-Khulafa’ ar-Rasyidin yaitu 12 tahun. Sejarahwan membagi masa pemerintahan Utsman bin Affan menjadi dua periode, enam tahun pertama merupakan masa pemerintahan yang baik dan enam tahun terakhir adalah merupakan masa pemerintahan yang buruk.

Enam tahun pertama pada pemerintahan, Beliau melanjutkan sukses pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam. Daerah-daerah strategis yang sudah dikuasai islam seperti Mesir dan Irak terus dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terencana secara cermat dan simultan di semua front.

Pada separuh pemerintahan Utsman ibn Affan yang kedua muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat islam. Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat yang kecewa terhadap kepemimpinan Utsman bin Affan adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Mungkin karena usia Utsman yang sudah tua, setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Utsman laksana boneka, dia tidak banyak komentar dan juga Beliau tidak tegas terhadap orang-orang bawahan.

Jadi, dengan tidak tegasnya Utsman dalam pemerintahannya akhirnya tidak mampu membebaskan diri sepenuhnya dari pengaruh keluarga Umayyah yang mengitari dirinya. Dalam literatur politik pada masa pemerintahan Utsman tidak terealisasi dengan baik.

Dalam sejarah, Utsman sering dikatakan sebagai khalifah yang nepotisme. Tuduhan ini didasarkan pada banyaknya keluarga dekat Utsman yang diangkat menjadi pejabat penting karena Belaiu lebih percaya pada keluarganya. Kendatipun demikian, M.A Shaban dalam bukunya “Islamic History” meberikan penilaian yang lain.

Masa pemerintahan Utsman, wilayah kekuasaan Islam sudah bertambah luas. Oleh karena itu Utsman perlu mengangkat orang-orang yang dapat dipercaya dan setia terhadap pemerintah pusat. Selaku tokoh dari kelompok suku yang besar, tidak ada yang dinilainya lebih wajar dari pada menunjuk dan mengangkat kerabat sendiri sebagai gubernur-gubernur.

Di Syiria, keponakannya yang bernama Muawiyah, sudah menjadi gubernur dan ternyata sangat memuaskan, karenanya tidak perlu ada penggantinya. Di Mesir, ‘Amr bin Asy yang berpikiran bebas, dipecat dan digantikan oleh saudara angkatnya, ‘Abdullah bin sa’ad bin Abi Sahr, yang juga merupakan pegawai ‘Amr, dan sama-sama berpengalaman dalam masalah Mesir.

Jabatan gubernur untuk Kufah diberikan kepada keponakannya al-Walid bin ‘Uqbah, seorang yang tidak memiliki kemampuan apa-apa, yang akhirnya digantikan oleh keponakannya yang lain, Sa’id bin al-‘As. Karena itu orang dapat memahami mengapa Utsman dituduh menganut nepotisme. Tetapi kalau dilihat dari kompetensi para gubernur yang diangkat tersebut, kecuali al-Walid yang diberhentikan, adalah orang-orang yang sangat kompeten dan sebagian besar telah berpengalaman.

Pada tahun 35 H khalifah Utsman terbunuh. Tatkala Utsman memerintah ada sebagian sahabat yang tidak suka terhadap pemerintahannya, sebab Utsman lebih condong kepada kaumnya yang kebanyakan berasal dari Bani Umayyah yang tidak pernah hidup bersama Rasulullah. Orang-orang yang menjabat itu tidak disenangi oleh para sahabat Rasulullah. Utsman dicela oleh para sahabat akibat tindakan tersebut.

Pada masa enam tahun terakhir Utsman lebih mengutamakan anak dari pamannya, banyak diantara mereka diangkat menjadi penjabat juga dari orang-orang yang dekat dengan mereka. Diantaranya utsman mengangkat Abdullah bin Abi Sarah untuk menjadi gubernur di Mesir. Namun orang-orang Mesir mengadukan tingkah buruk yang dilakukan oleh Abdullah bin Abi Sarah, Utsman kemudian menulis surat kepada Abdullah bin Abi Sarah dan memperingatkannya dengan peringatan yang sangat keras. Akan tetapi Abdullah bin Abi Sarah tidak memperdulikannya bahkan membunuh utusan Utsman.[4]

Setelah itu sekitar tujuh ratus orang Mesir datang ke Madinah menemui para sahabat dan mengadukan permasalahan terhadap perlakuan jahat Abdullah bin Abi Sarah. Ali bin Abi Thalib dan Aisyah pun mengkritiknya. Utsman kemudian berkata kepada mereka untuk memilih pejabat yang disukai mereka, Orang-orang Mesir memilih Muhammad bin Abu Bakar yang pantas menjadi gubernur di Mesir. Utsman kemudian menulis keputusan dengan mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebagai gubernur.[5]

Tetapi Muhammad bin Abu Bakar dikejutkan oleh pelayan Utsman yang membawa surat yang isinya ditujukan kepada Abdullah bin Abi Sarah untuk membunuh Muhammad bin Abu Bakar, akhirnya mereka mendatangi rumah Utsman untuk minta penjelasan Utsman tentang surat tersebut tetapi Utsman menyangkal dugaan dari Muhammad bin Abu Bakar akhirnya mereka tidak puas dengan jawaban dan tanggapan dari Utsman dan terjadilah kerusuhan di rumah Utsman dan disitu pulalah khalifah Utsman terbunuh oleh orang yang tidak diketahui pelakunya.

Prestasi terpenting bagi khalifah Utsman ialah menulis kembali al-Qur’an yang telah ditulis pada zaman Abu Bakar.

  1. Bagaimana Kodifikasi Al-Qur’an Pada Masa Khlaifah Utsman Bin ‘Affan

Perlu diketahui bahwa embrio kodifikasi Al-Qur’an telah dimulai pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq, yaitu dengan dilakukannya pengumpulan shuhuf-shuhuf (menurut bahasa artinya lembaran-lembaran)[6] yang tertulis padanya ayat-ayat Al-Qur’an. Shuhuf-shuhuf itu berupa kepingan-kepingan tulang, kulit, pelepah korma,dan batu.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq, terjadi perang yang dipimpin oleh Kholid bin Walid untuk memerangi Musailamah Al-kadzab yang mengaku bahwa dirinya adalah nabi. Peperangan yang terjadi di Yamamah itu menggugurkan 700 sahabat penghafal Al-Qur’an. Melihat hal ini, Umar bin Khathab meminta kepada Abu Bakar Ash-Shidiq agar Al-Qur’an dikumpulkan karena khawatir Al-Qur’an akan hilang dengan gugurnya para penghafal Al-Qur’an.[7]

Atas usulan dari Umar bin Kathab itulah, maka Abu Bakar Ash-Shidiq memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulksn Al-Qur’an. Karena beliau adalah orang yang pintar, dipercaya keagamaannya, dan salah seorang penulis wahyu di masa Rasulullah. Zaid bin Tsabit dalam tugasnya dibantu oleh Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan.[8]

Dari berbagai riwayat menyebutkan bahwa penyimpanan shuhuf-ahuhuf itu dipegang oleh khalifah, namun setelah khalifah Umar bin khathab wafat, shuhuf-shuhuf itu tidak disimpan oleh Utsman sebagai khlafah berikutnya, tetapi dipegang oleh Hafsah. Karena beliau adalah istri Rasul dan anak khalifah Umar, beliau juga sosok yang pandai membaca dan menulis.

Pada masa khalifah Utsman bin affan terjadi perbedaan bacaan (qira’at) diantara umat islam yang mengakibatkan perselisihan yang hebat diantara mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Atsir dalam kitab Al-Kamil, tentang sebab-sebab terjadinya perselisihan qira’at Al-Qur’an. Bahwa penduduk Himash yang mengambil qira’at dari Al-Miqdad, menganggap qira’at mereka lebih baik dari qira’atqira’at yang lain. Begitu juga yang dilakukan oleh penduduk Damaskus dan Kufah yang mengambil qira’at dari Abdullah bin Mas’ud. Sementara penduduk Bashrah memegang teguh qira’at yang mereka terima dari Abu Musa Al-Asy’ary.[9]

Perselisihan-perselisihan itulah yang disampaikan oleh Hudzaifah Ibnu Yaman kepada khalifah Utsman bin Affan, dan kemudian meminta agar segera memperbaiki keadaan tersebut.

Maka dibetuklah suatu tim penulisan Al-Qur’an yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit, dengan beranggotakan antara lain Abdullah bin Zubaeir, Sa’ad bin Ash dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam. Yang bertugas untuk membukkukan Al-Qur’an, yakni menyalin lembaran-lembaran Al-Qur’an pada masa khalifah Abu Bakar yang dipegang oleh Hafsah binti Umar untuk dijadikan mushaf.

Ketika itu khalifah Utsman memberikan nasihat agar:[10]

  1. Mengambil keputusan dalam penulisan Al-Qur’an berdasarkan bacaan para penghafal Al-Qur’an.
  2. Apabila terdapat perbedaan di antara mereka tentang suatu bacaan, maka hendaknya ditulis menurut dialek suku Quraisy. Ini disebabkan karena Al-Qur’an diturunkan sesuai dengan dialek mereka.

Ada yang berpendapat bahwa dalam pengkodifikasian tersebut terdapat hambatan, yaitu perbedaan qira’at diantara orang-orang Arab, meskipun Utsman telah memberikan ketentuan di atas.

Setelah tugas itu selesai dikerjakan oleh tim tersebut, maka lembaran-lembaran Al-Qur’an kemudian dikembalikan kepada Hafsah binti Umar.

Hasil pembukuan Al-Qur’an itu diberi nama Al-Mushaf, dan ditulis beberapa buah. Empat diantaranya dikirim ke Mekkah, Syiria, Basrah, dan Kufah. Sedangkan sisanya disimpan di Madinah sebagai acuan khalifah Utsman sendiri. Mushaf ini lah yang kemudian dikenal dengan Mushaf al-Imam.

Sesudah masa Utsman, boleh disebut tidak ada lagi perubahan yang berarti; namun perbaikan dan penyempurnaan teknis terus berjalan seperti yang dilakukan pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan. [11]

Semua perubahan dan perbaikan yang dilakukan sesudah Utsman itu semata-mata untuk memudahkan membaca dan memahami Al-Qur’an.

Adapun perbedaan qira’at yang masih terdapat hingga kini masih dipakai, karena mempunyai riwayat yang jelas dari Nabi dan tidak bertentangan dengan mushaf yang ditulis pada masa khalifah Utsman.

Dengan demikian, Al-Qur’an yang dibukukan pada masa ini mempunyai faedah yang besar bagi umat islam, diantaranya:

  1. Menyatukan kaum muslimin dengan satu bentuk mushaf, yang seragam dalam ejaan dan tulisannya.
  2. Menyatukan bacaan. Walaupun kenyataan masih terdapat perbedaan bacaan, namun tetap satu dalam ejaan. Sedangkan bacaan yang tidak sesuai dengan mushaf utsmani tidak boleh digunakan lagi.
  3. Menyatukan tertib susunan surat-surat.

Penulisan Al-Qur’an yang dilakukan oleh khalifah Utsman ini adalah tahap pertama. Sedangkan penyempurnaan dengan menggunakan titik-titik, baru dikerjakan pada masa khalifah Marwan bin Hakam, yang dipelopori oleh Abu Al-Aswad Ad-Duali. Dilanjutkan dengan  menggunakan tanda (syakal atau harakat) yang di pelopori oleh Hajjaj bin Yusuf. Dan berikutnya penyempurnaan dengan tanda waqaf, marka’ dan sebagainya.[12]

Al-Qur’an tersebut pada mulanya ditulis bertahap dengan khath Kufi, khath Raihani, khath Tsuluts, dan hath Nasakh. Dengan khath Nasakh inilah kemudian untuk pertama kalinya Al-Qur’an dicetak di Jerman (Hamburg).[13]

  1. IV.     KESIMPULAN

Khalifah Utsman bin ‘Affan adalah sosok yang sangat dermawan. Beliau dilahirkan pada tahun keenam tahun gajah. Beliau termasuk salah seorang yang menerima Islam di awal perjalanan dakwah islam. Beliau orang yang diajak oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memeluk Islam. Juga melakukan dua kali hijrah. Pertama, ke Ethiopia dan yang kedua ke Madinah.

Penghimpunan Al-Qur’an seluruhnya secara resmi dilaksakan pada zaman khalifah Abu Bakar As-Siddiq (wafat 13 H/643 M) dan digandakan kemudian disebarluaskan dengan tujuan keseragaman bacaan pada zaman khalifah Utsman bin Affan (wafat 35 H/656 M).[14] Jadi bukan sekedar menyalin mushaf Abu Bakar, melainkan sekaligus menyatukan penulisan ayat-ayat yang diperselisihkan bacaannya di kalangan umat islam ke dalam bahasa Quraisy.

Tim penulisan Al-Qur’an yang dibentuk oleh khalifah Utsman itu, diketuai oleh Zaid bin Tsabit yang beranggotakan antara lain Abdullah bin Zubeir, Sa’ad bin Ash dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam.

  V.     PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami buat, semoga dapat mendatangkan manfaat bagi kami (pemakalah) khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya. Kami selalu mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan makalah kami yang berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Afzalurrahman, Indeks Al-Qur’an, diterjemahkan oleh Ahsin W. (Jakarta: Amzah, 2009) cet. IV

Al-Hafidz, Ahsin W., Kamus Ilmu Al-Qur’an (Jakarta: Amzah, 2008) cet.III

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir (Jakarta: Bulan Bintang, 1980) cet.VIII

Assa’idi, Sa’adullah, Hadits-Haits Sekte, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar (anggota IKAPI), 1996) cet.I

As-Suyuthi, Imam, Tarikh Khulafa’, diterjemahkan oleh Samson Rahman, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010)

Baidan, Nashruddin, Metode Penafsiran Al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002) hal.37

Murad, Mushthafa, Utsman ibn ‘Affan, diterjemahkan oleh Khalifurrahman Fath (Jakarta: Zaman, 2009) cet.I

 


[1] Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’, diterjemahkan oleh Samson Rahman (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010) hal.171

[2] Mushthafa Murad,Utsman ibn ‘Affan, diterjemahkan oleh Khalifurrahman Fath (Jakarta: Zaman, 2009) cet.I, hal.134

[3] Imam As-Suyuthi, Lock. Cit

[4]Imam As-Suyuthi, Op.Cit, hal.182

[5] Ibid,

[6] Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an (Jakarta: Amzah, 2008) cet.III, hal.262

[7] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir (Jakarta: Bulan Bintang, 1980) cet.VIII, hal.98

[8] Ibid, hal.100

[9] Ibid, hal.103

[10] Afrzalurrahman, Indeks Al-Qur’an, diterjemahkan oleh Ahsin W. (Jakarta: Amzah, 2009) cet. IV, hal.333

[11] Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran Al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002) hal.37

[12] Afrzalurrahman, Op. Cit,hal.334

[13] Ibid,

[14] Sa’adullah Assa’idi, Hadits-Haits Sekte, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar (anggota IKAPI), 1996) cet.I, hal. 13

4 responses »

  1. tentang tareh tasyrik pada masa kodifikasi ada gak? kalau ada tampilkanlah dalam artikel ya,,, makasih duluannya,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s