PERADABAN ISLAM PADA MASA ABUL ABBAS AS SAFFAH

Standar

 

PERADABAN ISLAM PADA MASA ABUL ABBAS AS SAFFAH

Makalah

Disusun Guna Menuhi Tugas

Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu : Drs. Mat sholikin, M.Ag

 

Disusun Oleh :

Nurul Atikah                                      (103111091)

Nurul Mar’Atus Sholikah                 ( 103111092 )

Amri Khan                                         (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

PERADABAN ISLAM PADA MASA ABUL ABBAS AS SAFFAH

I.PENDAHULUAN

Pada saat pemerintahan bani umayah mulai mengalami kemunduran, hal tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang keturunan Nabi muhammad saw. Terutama keturunan Ali bin Abi Tholib ( Ahlul Bait ). Mereka menganggap bahwa merekalah yang berhak atas kekhalifahan islam daripada bani umayah sebab mereka dari cabang bani hasyim memiliki nasab keturunan yang dekat dengan nabi. Menurut mereka, orang umayah secara paksa menguasai khilafah melalui tragedi perang siffin. Oleh karena itu mereka mendirikan dinasti abbasiyah dengan melakukan gerakan yang luar biasa melakukan pemberontakan terhadap dinasti umayah.

Salah satu tokoh yang melakukan pemberontakan tersebut adalah abul abbas as saffah. Dia juga pendiri sekaligus kholifah pertama pemerintahanbani abbasiyah. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani hasyim (alawiyun ) setelah meninggalnya Rasullulah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan saw dan anak-anaknya. Selanjutnya makalah ini akan membahas sekilas abul abbas as saffah menjadi pendiri sekaligus khalifah pertama pemerintahan dinasti abbasiyah, serta masa pemerintahan abul abbas as saffah yang dilakukan untuk menguatkan pilar-pilar negara dan membunuh tokoh-tokoh yang memiliki keturunan dengan bani umayah. Dalam makalah ini, pemakalah akan membahas tentang sekilah tentang abul abbas as saffah, pembaitan, dan masa pemerintahan abul abbas as saffah.

II. RUMUSAN MASALAH

  1. Sekilas tentang Abul Abbas As saffah
  2. Pembaitan Abul Abbas As Saffah
  3. Masa Pemerintahan Abul Abbas As Saffah

III. PEMBAHASAN

  1. A.    Sekilas tentang Abul Abbas As Saffah

Dia bernama Abdullah bin muhammad bin ali bin abdullah bin abbas, Khalifah pertama pemerintahan bani abbasiyah. Beliau dilahirkan di hamimah pada tahun 104 H. Ibunya adalah Rabtah binti abaidullah al haritsi, ayahnya muhammad bin ali adalah orang yang melakukan gerakan untuk mendirikan pemerintahan bani abbasiyah dan menyebarkannya kemana-mana. Inilah yang membuat Abdullah banyak mengetahui tentang gerakan ini dan rahasia-rahasianya.[1]

Abdullah bin muhammad mendapat gelar as saffah, yang berarti pengalir darah dan pengancam siapa saja yang membangkang tetapi yang sebenarnya adalah pemberontak pemusnah, maksudnya ialah pengancam dan mengalirkan darah bagi pihak yang menentang, khususnya bani umayan dan pendukung-pendukungnya. Hal itu dibuktikan bahwa as saffah menumpas mereka secara habis-habisan.

Abul Abbas adalah seorang yang bermoral tinggi dan mempunyai loyalitas sehingga beliau disegani dan dihormati oleh kerabat-kerabatnya. Beliau memiliki pengetahuan yang luas, pemalu dan budi pekerti yang baik. Menurut as sayuti, abul abbas as saffah ialah manusia yang paling sopan dan selalu menepati janji tepat pada waktunya.[2]

Beliau diangkat oleh saudaranya yang bernama ibrahim sebelum dia ditangkap oleh pemerintahan umayah pada tahun 129 H atau 746 M. Tertangkapnya ibrahim membuat abdullah harus berangkat ke kiffah bersama-sama dengan pengikutnya secara rahasia. 3 tahun berikutnya, tepatnya pada 3 rabiul awal 132 h beliau dibaiat menjadi khalifah pertama bani abbasiyah dan berpusat di kuffah.[3]

Abul abbas as saffah menjadi  khalifah selama 4 tahun 9 bulan, dan wafat dikota anbar pada hari ahad, setengah pertama dari bulan dzulhijah tahun 136 h atau 753 m.[4]

 

  1. B.     Pembaitan abul abbas as saffah

Sebelum berdirinya dinasti abbasiyah terdapat tiga poros yang merupakan pusat kegiatan. Antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman Nabi muhammad saw,yaitu abbas ibnu abdul mutholib. Tiga tempat itu ialah hamimah, kuffah, dan khurasan. Hamimah merupakan tempat yang terteram, disana banyak bermukim keluarga bani hasyim baik dari kalangan pendukung ali maupun pendukung keluarga abbas. Kuffah adalah wilayah wilayah yang penduduknya menganut aliran syi’ah, pendukung ali bin abi tholib, yang selalu bergolak dan di tindas oleh bani umayah sehingga mudah dipengaruhi agar memberontak dan menghancurkan kekuasaan bani umayah. Sedangkan khurasan mempunyai warga yang pemberani , kuat fisiknya,dan teguh pendiriannya sehingga tidak mudah terpengaruh nafsu dan disanalah diharapkan dakwah kaum   abbasiyah mendapat dukungan untuk meruntuhkan kekuasaan bani umayah yang sudah mulai lemah.[5]

Di hamimah bermukim keluarga bani abbas yang pemimpinnya adalah muhammad bin ali bin abi abdullah. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat ambisius, maka diapun segera melahirkan pemikiran untuk mendirikan pemerintahan abbasiyah. Beliau meletakkan dasar-dasar berdirinya daulah abbasiyah dan mengemukakan bahwa pemindahan kekuasaan harus didahului persiapan jiwa dan perubahan yang mendadak akan menyebabkan kegoncangan dalam masyarakat dan belum tentu berhasil. Sehingga harus diatur stategi yang hati-hati dengan cara menyebarkan para propagandis untuk mendukung keluarga nabi saw. Dia menjadikan hamimah sebagai sentral perencanaan, konsolidasi, dan sistem kerja gerakan, sedangkan kuffah dijadikan sebagai pusat pembentukan opini dan khurasan sebagai pusat penebaran opini tersebut.[6]

Dia memilih orang-orang yang sangat terpilih untuk menebarkan pemikiran dan rencananya ini. Sehingga gerakan ini berlangsung dengan sangat rahasia dan sangat lamban. Mereka menggunakan nama ahlul bait. Apa yang dikerjakan penuh semangat dan cemerlang. Setelah muhammad bin ali meninggal, anaknya yang bernama ibrahim menggantikannya pada tahun 125 H atau 742 M. Pada saat itu pemerintahan bani umayah telah mengalami kemunduran yang sangat tajam setelah meninggalnya hisyam bin abdul malik. Pada tahun 129 H ibrahim memerintahkan kepada seorang panglimanya yang paling terkenal yaitu abu muslim al- khurasani untuk mendeklarasikan gerakan secara terang-terangan di khurasan. Namun marwan bin muhammad ( khalifah terakhir bani umayah ) mengetahui rencana tersebut dan akhirnya merangkap dan memenjarakn ibrahim. Setelah ibrahim di tangkap dia memberikan wasiat kepada adiknya yaitu abul abbas untuk menggantikan kedudukannya dan pindah dari hamimah ke kuffah bersama dengan keluarganya. Dia tinggal di rumah Abu salamah al khalal dan melakukan gerakan dengan cara sembunyi-sembunyi.

Panglima Abu muslim berhasil mengalahkan nashr bin sayyar, gubernur khurasan, dan menjadikan khurasan dibawah kekuasaanya pada tahun 130 H atau 747 M. Dan kemudian mengambil alih irak dari tangan yazid bin umar bin futhairah pada tahun 132 H atau 749 M, Namun Yazid bin umar tidak menyerah pada bani abbasiyah kecuali setelah saffah menjadnjikan pandangan untuk memberikan rasa aman. Namun, mereka mengingkari dean mengkhianati janji membunuh Abu salamah al khalal dengan tuduhan dia akan melakukan makar untuk kekhilafan kepada golongan alawiyah.[7] Padahal orang ini memiliki peran yang sangat besar dalam menghancurkan pemerintahan umayah dan dalam menebarkan seruan untuk mendirikan pemerintahan bani abbasiyah. Hal ini menunjukkan semangatnya bani abbasiyah dalam memberikan perlindungan dan penjagaan keamanan kepada kekuasaan dan negaranya.

Setelah situasi stabil, Abul abbas as saffah keluar dari persembunyiannya dan berangkat menuju masjid di kuffah dan mendeklarasikan pemerintahan bani abbasiyah. Dia di baiat di masjid itu pada tanggal 3 rabiul awal tahun 132 H atau 749 M. Ketika di lantik menjadi khalifah, abul abbas sedang sakit sehingga beliau memberikan ucapan yang pendek saja dari mimbar masjid di kuffah. Dalam ucapanya beliau menyebutkan tentang keturunan Rasullulah yang berhak menjadi khalifah dan bentuk-bentuk kekejaman bani umayyah, serta menyanjung kebaikan-kebaikan penduduk kuffah,beliau berkata : “ Anda adalah tempat kesayangan dan kasih mesra kami. Anda tidak bergeming dan tidak mengubah sikap walaupun ada tekanan-tekanan dari golongan yang kejam, sehingga anda menemui kami. Allah kurniakan anda dengan kedaulatan kami, anda adalah manusia paling bahagia menerima kami dan paling bersimpati kepada kami. Kami tambahkan 100 dirham lagi ke atas pendapatan anda. Oleh karena itu bersedialah untuk memikul amanah.” Beliau mengakhiri ucapanya dengan berkata “ Aku ialah saffah tidak pantang menyerah dan pemberontakan pemusnah”.[8]

Menurut Daud bin Ali menyebutkan abul abbas mengatakan ahlul bait yang lebih berhak  mewarisi Rasullulah saw, dan menerangkan bahwa tujuan kaum abbasiyah bukan untuk menambah kekayaan emas dan perak dari perjuangan kami ini.

 

  1. C.    Masa pemerintahan Abul abbas as saffah

Masa pemerintahan abul abbas as saffah hanya berlangsung 4 tahun. Setelah di baiat menjadi khalifah pertama bani abbasiyah, tugas yang pertama ia lakukan adalah mengalahkan khalifah terakhir bani umayah yaitu marwan bin muhammad. Abul abbas memberangkatkan pasukannya untuk memerangi marwan bin muhammad yang saat itu bersama dengan tentaranya berada di Zab, marwan dikalahkan dalam perang ini dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya berhasil dibunuh oleh pasukan abul abbas pada januari tahun 132 H / 750 M. Dengan demikian semua wilayah pemerintahan berada dibawah kendali abbasiyah kecuali andalusia.

Setelah marwan bin muhammad terbunuh, maka secara de facto berdiri dinasti baru yaitu Dinasti abbasiyah dengan kekhalifahan abul abbas as saffah. Dia mengeluarkan dekrit kepada para gubernur supaya tokoh-tokoh umayah yang memiliki darah biru semuanya dibunuh. Ia sendiri banyak membunuh rival dari dinasti itu. bukan hanya diam di situ saja, abul abbas menggali kuburan para khalifah umayah ( kecuali umar bin abdul aziz ) dan tulang-tulangnya pun dibakar. Oleh karena itu rakyat damaskus, harran, hims, kinnisirin, zerusalam dan daerah lainnya memberontak, namun pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dengan tangan besi oleh razim abul abbas as saffah.[9]

Dalam pemerintahan abul abbas, ia menjadikan kota anbas sebagai ibukota negaranya, ia juga disibukkan dengan upaya untuk konsolidasi internal dan untuk menguatkan pilar-pilar negara yang hingga saat itu belum sepenuhnya stabil, oleh karena itulah, dia tidak banyak fokus terhadap masalah penaklukan wilayah karena pertempuran di kawasan turki dan asia tengah terus bergolak.

Oleh karena itu, pemerintahan abul abbas as saffah bersandar pada tiga hal utama yaitu

  1. keluarganya sebab dia memiliki paman, saudara-saudara, dan anak-anak saudara dalam jumlah besar. Mereka menyerahkan kepemimpinan dan pemerintahan wilayah kepadanya, demikian juga dalam masalah nasihat dan musyawarah.
  2. Abu muslim khurasani. Dia adalah panglima perang yang jempolan. Dengan kekuatan dan tekadnya yang kokoh, dia mampu menaklukan khurasan dan irak sehingga membuka jalan yang lapang bagi berdirinya pemerintahan abbasiyah
  3. Fanatisme golongan. Dia muncul pada akhir-akhir dan melemahnya pemerintahan umayah peluang ini di manfaatkan oleh bani abbasiyah mereka bersama-sama dengan yamaniyun bergerak melawan qoysiyun yang berpihak kepada bani umayah.[10]

IV. KESIMPULAN

Abdullah bin muhammad bin ali bin abdulkah bin abbas adalah khalifah pertama pemerintahan bani abbasiyah. Beliau dilahirkan di hamimah, dengan ibunya yaitu Rabtah binti ubaidullah al haritsi dan ayahnya adalah Muhammad bin ali abul abbas adalah seorang yang bermoral tinggi dan mempunyai loyalitas sehingga beliau di segani dan dihormati oleh kerabat-kerabatnya. Dia mendapat gelar as saffah yang artinya penumpah darah atau peminum darah.

Abul abbas as saffah di angkat oleh saudaranya yang bernama ibrahim dan membuat abul abbas beserta keluarganya pindah ke kuffah dengan pengikutnya secara rahasia. Setelah 3 tahun bersembunyi, akhirnya pada 3 rabiul awal 132 H beliau di baiat menjadi khalifah pertama bani abbasiyah dan berpusat di kuffah. Kemudian ia bersama pasukannya mengejar marwan bin muhammad yang melarikan diri ke mesir, dan akhirnya berhasil di bunuh, sehingga berdirilah  secara de  facto pemerintahan bani abbasiyah.

Dia ingin menghapuskan seluruh pengikut bani umayah, hal ini terbukti  dari perintahnya untuk membunuh semua orang yang memiliki darah keturunan dengan bani umayah, termasuk menggali kuburan khalifah bani umayah dan membakar tulang-tulangnya ( kecuali umar bin abdul aziz ).

Abul abbas as saffah memerintah selama 4 tahun dan wafat pada tahun 136 H atau 753 M, yang sebelumnya memberikan wasiat bahwa adiknya, Al mansyur yang akan menggantikan pemerintahannya.

V. PENUTUP

Demikian makalah yang dapat kami buat, pemakalah menyadari bahwa penulisan makalh ini masih banyak kesalahan dan kekurangan untuk itu kritik dan saran yang membangun selalu pemakalah harapkan dari pembaca, supaya dalam pembuatan makalah mendatang dapat lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin ..

6

DAFTAR PUSTAKA

A.Syalaby. Sejarah dan Kebudayaan Islam I ( Jakarta : PT. Al Husna Zikra, 2000)

Al-Usyairi, Ahmad. Sejarah Islam ( Jakarta : Media Grafika, 2003 )

Karim, M.Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam ( Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2007)

Mufrodi, Ali. Islam dikawasan Kebudayaan Arab ( Jakarta : Logos, 1997 )

 


[1] Ahmad Al Usairy. Sejarah Islam ( Jakarta :Media Grafika,2003 ) hal 220

1

[2] A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam 1( Jakarta : PT. Al Husna Zikra, 2000) cet.IV,hal 45

[3] Ahmad Al Usairy. Op.cit , hal 221

[4] A.Syalabi. Op.cit, hal 50

[5] Ali Mufrodi. Islam di kawasan kebudayaan Arab. (Jakarta :Logos , 1997 ), cet I, hal 87

2

[6] Ahmad Al Usairy. Op.cit, hal 216

[7] Ibid, hal 217

3

[8] A. Syalaby. Op.cit, hal 44

[9] M. Abdul karim. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam ( Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2007) cet I, hal 144

4

[10] Ahmad Al Usairy. Loc.cit, hal 221

5

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s