PERADABAN ISLAM PADA MASA MU’AWIYAH BIN ABU SUFYAN

Standar

PERADABAN ISLAM

PADA MASA MU’AWIYAH BIN ABU SUFYAN

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata  Kuliah: Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu: Drs. H. M. Solikin Nur, M.Ag

 

 

 

 

Disusun Oleh:

 

M. Farid Ma’ruf       (103111073)

M. Rokhimin             (103111074)

Amri Khan                 (103111109)

 

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

 SEMARANG

2011

 

 

 

 

PERADABAN ISLAM

PADA MASA MU’AWIYAH BIN ABU SUFYAN

 

    I.            PENDAHULUAN

Sejarah merupakan bagian penting dari perjalanan serbuah umat, Bangsa, Negara, maupun individu. Keberadaan sejarah merupakan bagian dari proses kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu tanpa mengetahui sejarah, maka proses kehidupan tidak akan diketahui.

Dengan sejarah Kita dapat mengetahui betapa umat Islam pernah mencapai suatu kejayaan yang diakui oleh dunia internasional. Ini dimulai dari masa Rasulullah hingga di zaman kekinian. Namun kami hanya akan membahas kejadian pada masa Mu’awiyah.

Semasa hidupnya, mu’awiyah memiliki peran yang cukup penting bagi umat Islam. Ini dibuktikan dengan bertambahnya wilayah kekuasaan Negara Islam. Mu’awiyah ialah salah seorang sahabat yang cerdas dalam segala bidang.

Jasa-jasa mu’awiyah pun dapat dibilang tidak sedikit. Seperti halnya merubah sitem pemerintahan, membangun kerajaan, madrasah, dan lain sebagainya.

 II.            RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaiana Biografi Mu’awiyah bin Abi Sofyan?
  2. Bagaimana Usaha-usaha Mu’awiyah bin Abi Sofyan?
  3. Bagaimana Jasa-jasa Mu’awiyah bin Abi Sofyan?

 

  1. III.            PEMBAHASAN
  2. Biografi Mu’awiyah bin Abi Sofyan

Mu’awiyah bin Abu Sofyan bin Harb bin Umayyah bin abd Asy-Syams bin Abu Manaf bin Qushay. Nama panggilannya ialah Abdurrohman bin Umawi. Dia masuk Islam pada saat pembukaan kota makkah, Perang yang pernah ia ikuti ialah Perang Hunain, dan termasuk mu’allaf yang ditarik hatinya untuk masuk Islam, ia memiliki tingkat keIslaman yang baik, sehingga dijadikan perawi.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan (606-681 M) adalah pembangun daulat bani Umayyah (661-750 M) dan menjabat khalifah pertama (606-681 M) dari daulat tersebut, dengan memindahkan ibu kota dari Madinah Al-Munawaroh ke kota Damaskus dalam wilayah Suriah.[1]

Kemudian mu’awiyah ikut dalam Perang Yarmuk dan membuka Syam dibawah pimpinan saudaranya zazid. Dia juga berhasil menaklukan Qaisariyah dan sebagian pesisir wilayah Syam.[2]

Dia meriwayatkan hadits dari Rasul SAW sebanyak 163 hadits,  beberapa sahabat dan tabi’in juga meriwayatkan  hadits darinya, antara lain; Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Darda’, dan lain sebagainya. Sedangkan dari kalangan tabi’in yakni; Sa’id bin Al Musayyib, Hamid bin Abd Rahman, dan lain-lain. Ia termasuk mempunyai kecerdasan dan kesabaran yang tinggi.[3]

Mu’awiyah pernah dido’akan oleh Nabi. Do’a tersebut berbunyi ”ya Allah jadikanlah dia orang yang memberi petunjuk jalan yang benar dan orang yang mendapat hidayah.” Mu’awiyah juga termasuk orang yang ahli dibidang politik, terutama ketika Khalifah Umar bin Khattab menjadi pemimpin umat Islam, terbukti ia ditunjuk menduduki jabatan Gubernur di Syiria. Suatu ketika ia meminta izin agar diperkenankan mengusir pasukan Romawi melalui laut, tetapi khalifah Umar melarangnya.

Keinginannya menghancurkan Pasukan Romawi itu baru terlaksana ketika Khalifah Usman mengizinkan untuk menyerang Pasukan Romawi melalui laut. Perang pun terjadi dan dimenangkan oleh pasukan Mu’awiyah. Perang besar tersebut terkenal dengan nama Zat as Sawari yang terjadi tahun 661 M. Perang ini merupakan Perang laut terbesar yang dilakukan kaum muslim sepanjang sejarah.

Setelah masa Khulafa’ur Rasyidin berakhir, Mu’awiyah mendirikan pemerintahan dengan sistem yang berbeda, pada tahun 661 M di Damaskus yang terkenal dengan sebutan Dinasti Umayyah. Dengan berbagai upaya dan trik politik yang dilakukan oleh Mu’awiyah maka bukan saja sistemnya yang berubah, pusat pemerintahannya pun dipindahkannya dari Madinah ke Damaskus. Kemampuannya menerapkan strategi politik itu diperoleh sejak masa Rasulullah SAW. Sampai pada khalifah Ali bin Abi Thalib berkuasa.

Memasuki kekuasaan Mu’awiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintah yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchi heridetas (kerajaan turun menurun). Kekhalifahan Mu’awiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi, dan tipu daya tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak.[4]

Akibat jasa-jasa dan kebijaksanaan politiknya yang mengagumkan, sehingga namanya disejajarkan dalam deretan Khulafa’ur Rasyidin. Bahkan kesalahannya pada saat proses pemilihan kepala Negara dapat terlupakan. Ia mendapatkan kursi kekhalifahan setelah Hasan ibn Ali ibn Thalib berdamai dengannya.

Pada tahun 41 H, sebagian umat Islam membai’at Hasan. Namun Hasan menyadari kelemahannya, sehingga ia berdamai dan menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah. Sehingga tahun ini dinamakan Ammul Jama’ah (tahun persatuan), penyerahan kekuasaan ini mempunyai syarat-syarat, antara lain:

  1. Mu’awiyah tidak dendam dengan penduduk Irak.
  2. Menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
  3. Pajak tanah Ahwaz diberikan kepadanya setiap tahun.
  4. Mu’awiyah membayar kepada Husain 2 Juta Dirham.
  5. Pemberian kepada Bani Hasyim haruslah lebih banyak dari pada Bani Abdis Syams[5]

Mu’awiyah adalah seorang laki-laki yang bertubuh tinggi, berkulit putih dan tampan serta kharismatik. Suatu ketika Umar bin Khattab melihat kepadanya dan berkata “Dia adalah Kaisar Arab”. Sikap dan prestasi politiknya sangat menakjubkan, sebetulnya ia adalah seorang pemimpin yang berbakat, di dalam dirinya terkumpul sifat-sifat seorang penguasa, politikus, dan administrator.[6]

Mu’awiyah adalah manusia hilm. Kata ini rumit dan komprehensif serta tidak mudah diterjemahkan, tetapi ia adalah cara yang terbaik kalau bukan satu-satunya cara untuk menggambarkan kemampuan utama Mu’awiyah sebagai pemimpin. Walaupun ada tekanan-tekanan yang keras dan penuh intimidasi, sebagai manusia hilm dia dapat menguasai diri secara mutlak dan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan.[7]

Dia mengambil keputusan-keputusan setelah berpikir lama dan bijaksana. Apabila dimungkinkan dia menolak untuk menunjukkan kekuatan sebagai pemecah terhadap permasalahan – permasalahannya. Dia mengamati permasalahan secara luas untuk melihat faktor-faktor apakah yang bekerja sehingga melalui penyesuaian kembali yang halus dari kekuatan-kekuatan ini, dia dapat mencapai kompromi yang beralasan.

Dengan demikian, Mu’awiyah senantiasa cepat menawarkan perdamaian dan memperlakukan musuh-musuhnya yang jatuh dengan keluhuran dan kebesaran yang tidak terduga-duga, yang menyelamatkan harga diri dan kehormatan pribadi mereka serta mendapatkan loyalitas mereka kepada dirinya. Pemikirannya nyata bersifat pragmatik dan politik, yang ditandai dengan menahan diri dan penguasaan diri. Pemimpin semacam itulah yang secara tepat diperlukan pada saat ini.

Ketika Mu’awiyah mengakui menolak mengakui Ali sebagai kholifah dan kemudian mengaku jabatan itu bagi dirinya, dia mewakili kepentingan-kepentingan Bani Umayyah dan Kepentingan-kepentingan dari mereka yang memiliki keterampilan administratif yang sangat diperlukan dalam kemaharajaan yang cepat meluas itu. Di juga didukung oleh orang Arab Suriah yang selama beberapa tahun telah merasakan pemerintahannya yang baik.

Mu’awiyah didukung oleh orang Arab Suriah yang selama beberapa tahun telah merasakan pemerintahannya yang baik. Kebanyakan orang Arab ini bukanlah orang-orang yang berasal dari gurun, tetapi berasal dari keluarga-keluarga yang menetap di Suriah sejak satu atau dua generasi. Dengan demikian mereka jauh lebih setabil dan handal dibanding orang-orang pengembara yang mengikuti Ali. Kualitas orang-orang Arab Suriah ini adalah faktor penting yang membantu Mu’awiyah.[8]

Mu’awiyah meninggal pada bulan Rajab tahun 60 H. disebutkan bahwa usianya mencapai 77 tahun. Dia memiliki beberapa helai rambut Rasulullah dan sebagian potongan kukunya. Dia mewasiatkan agar dua benda itu diletakkan dimulut dan kedua matanya. Dia berkata, “kerjakan itu dan biarkan saya mencari tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang.”

  1. Usaha-usaha Mu’awiyah bin Abi Sofyan

Beberapa Usaha di dalam pemerintahan dalam rangka mempertahankan kekuasaan Mu’awiyah adalah memperluas wilayah kekuasaan dan mempersiapkan putra mahkota sebagai pengganti khalifah berikutnya.

1)   Perluasan Wilayah

Mu’awiyah menerapkan politik perluasan wilayah kekuasaan dalam rangka dakwah Islam, sehingga ketika ia memerintah kaum muslimin mampu menaklukan daerah-daerah yang potensial, misalnya Turki, dan Armenia yang merupakan daerah kekuasaan Bizantium. Kemudian didukung kemampuan pasukan maritim yang tangguh dan merupakan pasukan yang paling hebat ketika itu, Mu’awiyah mampu menguasai Laut Tengah.

Selain itu, berkat kekuatan pasukan angkatan laut Mu’awiyah tersebut, akhirnya pulau Kreta masuk dalam kekuasaan kaum Muslimin. Demikian pula Pulau Arkabi yang berada di antara Yunani dan Turki. Setelah mengadakan penyerangan kedua pulau itu, Armada pasukan Mu’awiyah melanjutkan invansi ke arah barat untuk menguasai daratan Afrika Utara.

Pasukan Mu’awiyah juga berjaya di wilayah timur dengan keberhasilannya menaklukan Thakhanistan, Sajistan, dan Quhistan di daratan Asia Tengah, serta Sirt, Mogadishu, Tarablis, dan Qawairuwan di daerah Afrika.

2)   Pengangkatan Putra mahkota

Segera setelah menjadi khalifah. Mu’awiyah telah mempersiapkan putranya yang bernama Yazid untuk menjadi putra mahkota yang kelak akan menjadi khalifah setelah dia turun tahta. Setrategi yang diterapkannya adalah melakukan lobi politik kepada tokoh-tokoh yang berpengaruh, misalnya para pemuka masyarakat dari berbagai kalangan.

Meski demikian upaya itu masih ditentang oleh beberapa pihak yang kurang sependapat dengan rencana itu. Penentang itu berasal dari para pemuka agama, misalnya Abdullah bin Umar, Abdurrahman bin Abu Bakar, Husen bin Ali, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Abbas.

Para pemuka agama itu tidak menghendaki pengangkatan khalifah dilakukan dengan cara tunjukan atau turun-temurun, tetapi harus dilaksanakan dengan cara musyawarah, sehingga tidak menyimpang dari pergantian pimpinan yang telah dilaksanakan oleh Khulafaur Rasyidin. Selain dari para agamawan, beberapa sahabat dekat Mu’awiyah juga meminta penunjukan putra mahkota tidak dilakukan  dalam waktu dekat.

Pertimbangan para sahabat dekatnya itu disebabkan karakter Yazid kurang mendukung bila ditetapkan sebagai putra mahkota. Sifat Yazid yang menjadi kelemahannya adalah tidak pernah serius terhadap segala sesuatu dan meremehkan segala urusan. Adapun sifat yang tidak sesuai dengan syarat sebagai pemimpin adalah akhlak Yazid sangat tidak terpuji, sering bermabuk-mabukan, tidak istiqamah dalam beribadah, zalim, dan pemboros.

  1. Jasa-jasa Mu’awiyah bin Abi Sofyan

Jasa-jasa Mu’awiyah selam hidupnya, dalam rangka mengangkat hakikat dan martabat kaum muslim cukup banyak. Selama kepemimpinannya, umat Islam mampu disatukan dalam menjaga keamanan Negara.

Bukti keberhasilannya itu antara lain bahwa selama dia berkuasa, tidak pernah terjadi pemberontakan yang cukup berarti, kecuali penentang yang dilakukan oleh golongan Khawarij. Selama 19 tahun berkuasa, Mu’awiyah mampu menciptakan suasana yang aman dan terkendali.

Suasana kondusif itu sebagai hasil dari kemampuannya meredam pihak-pihak yang berusaha melawan kekuasaannya. Upaya-upaya gangguan dan ancaman yang dilancarkan oleh para penentangnya dapat dipatahkan dengan mudah. Dengan keamanan dalam negeri itu maka Mu’awiyah berhasil memperluas daerah kekuasaan Islam.

Jasa-jasa yang ditorehkan oleh Mu’awiyah antara lain membentuk dinas pos, membangun istana, serta membentuk lembaga Pendidikan, lembaga kementrian dan lembaga keuangan Negara.

Dalam sejarah pemerintahan secara umum, Mu’awiyah diakui sebagai pembaharu sistem pertahanan kekuasaan Islam.

  1. IV.            KESIMPULAN

Dari uraian di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut:

  1. Mu’awiyah merupakan salah satu sahabat Rasulullah, yang memiliki peran cukup penting. Pengalaman politiknya berawal ketika ia ditunjuk sebagai pimpinan Perang dalam upaya menduduki wilayah Palestina, Suriah, dan Mesir yang berada dibawah kekuasaan Romawi.
  2. Mu’awiyah berkuasa selam 19 tahun dan berhasil mengangkat harkat dan martabat kaum muslim, yaitu dengan semakin meluasnya wilayah kekuasaan Islam hingga merambah ke daerah Afrika Utara, Pulau Kreta dan Pulau Arkhabi.
  3. Mu’awiyah mempunyai jasa-jasa di bidang sosial, misalnya membentuk dinas pos, mencetak mata uang, membangun madrasah-madrasah, dan mengangkat hakim.

 V.            PENUTUP

Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayat, serta inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini, semoga uraian-uraian yang kami sampaikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri dan para pembaca.

Kami menyadari makalah ini masih kurang sempurna, maka dari itu kritik dan saran yang konstruktif sangat membantu dalam kesempurnaan makalah ini. Kami berdo’a  kepada Allah semoga Allah meridhoi makalah ini. Amin . . . . . .

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Usairy, Ahmad,  Sejarah Islam, diterjemahkan oleh Samson Rahman dari Al-tarikh Al-islami, Jakarta: Akbar Media Sarana Eka, 2008, cet. 6

As-Suyuthi, Imam,  Tarikh Khulafa’, Diterjemahkan oleh Samson Rahman dari Sejarah Para Penguasa Islam,Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010, Cet. 7

Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta:  Logos Wacana Ilmu, 1997, Cet. 1

Shaban, Sejarah Islam (600-75), diterjemahkan oleh Mahnun Husen dari buku Islamic History, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993, cet. 1

Sou’yb, Joesoef, Sejarah Daulat Umayyah 1 di Damaskus, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1977, cet. 1

Syalabi, A, Sejarah dan Kebudayaan Islam (jilid 2), Jakarta: PT. Alhusna Zikra, 2000, cet. 4

Syukur, Fatah, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010, cet. 2

Watt, W. Montgomery,  Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, diterjemahkan oleh Harto Hadikusumo dari buku The Majesty that was Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990, Cet. 1

 


[1] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Umayyah 1 Di Damaskus, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1977), cet. 1, hlm. 13

[2] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam, diterjemahkan oleh Samson Rahman dari Al-tarikh Al-Islami, (Jakarta: Akbar Media Sarana Eka. 2008), cet. 6, hlm. 187

[3] Imam As-Suyuthi, tarikh khulafa’, Sejarah Para Penguasa Islam, diterjemahkan oleh Samson Rahman. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), Cet. 7, hlm. 229

[4] Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010), cet. 2, hlm. 72

[5] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam (jilid 2), (Jakarta: PT. Alhusna Zikra, 2000), cet. 4, hlm. 34-35

[6] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), Cet. 1, hlm. 73

[7] Shaban, Sejarah Islam (600-750), diterjemahkan oleh Mahnun Husen dari buku Islamic History, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), cet. 1, hlm. 113

[8] W. Montgomery watt, Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, diterjemahkan oleh Harto Hadikusumo dari buku The Majesty that was Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), Cet. 1, hlm. 18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s