PERUBAHAN SOSIAL PADA MASA UMAR BIN KATTAB

Standar

 

PERUBAHAN SOSIAL PADA MASA

UMAR BIN KATTAB

 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu: Drs. H. M. Solikhin, M.Ag

Disusun Oleh:

Muchamad Sholechan          (103111061)

Muhammad Azhar Farih     (103111062)

Amri Khan                             (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

PERUBAHAN SOSIAL PADA MASA UMAR BIN KHATTAB

 

  1. I.            PENDAHULUAN

Islam dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai satu-satunya agama yang diakui oleh Allah. sesungguhnya agama yang diakui disisi Allah hanyalah Islam. barang siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya dan di akherat termasuk orang-orang yang merugi.

Wahyu Allah sebagai sumber pokok ajaran agama Islam telah berhenti turunnya dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW, sedangkan perubahan sosial akan selalu ada sampai berakhirnya kehidupan manusia di dunia ini dan Islam senantiasa akan bersentuhan dengan realitas yang melingkarinya.

Dalam hal ini berarti Islam mengikuti sistem sosial kultur, bersfat statis atau dinamis dengan kadar yang hampir tidak berarti bagi perubahan sosial. karena perubahan sosial dijagat raya ini terus berlangsung sejalan dengan perubahan ilmu dan tehnologi, maka Islam sebagai agama dan tuntunan hidup dituntut untuk berkompetisi bersama nilai-nilai yang berkembang dalam membentuk struktur kehidupan masyarakat. tentu peranan pemimpin dan ulama sangat dituntut, sehingga islam benar-benar menjadi rahmatan lil’alamin.[1]

  1. II.            RUMUSAN MASALAH
  2. Sekilas tentang Umar bin Khattab
  3. Pengangkatan Umar bin Khattab menjadi Khalifah
  4. Perubahan Sosial Pada Masa Umar bin Khattab
    1. III.            PEMBAHASAN
    2. A.    Sekilas tentang Umar bin Khattab

Sosok Umar adalah orang yang mampu membuat Nabi Muhammad SAW kagum, sampai-sampai Nabi berkata : “…..Saya belum pernah melihat seorang genius yang dapat berbuat sesuatu yang luar biasa seperti umar…”

Inilah kata yang diucapkan Nabi SAW mengenai Umar, r.a, yaitu kata-kata yang tidak diucapkan melainkan oleh orang besar yang dilahirkan untuk memimpin bangsa-bangsa dan memberikan pengarahan kepada para pemimpin.[2]

Sesungguhnya Umar memiliki kepribadian yang benar-benar kuat, tetapi dengan kekuatannya yang besar itu ia bukanlah seorang yang tamak dan serakah. Ia bukanlah orang yang ingin berkuasa dan memperbesar kemegahan dan kekuasaan bila tidak ada alasan yang benar yang mendorongnya ke arah itu sedang ia sendiri tidak menginginkannya.

Tidaklah diragukan bahwa Umar memilik semua sifat-sifat ini, Dia adalah pemberani, tegas, kasar, taat, cepat menolong, cinta peraturan, yakin pada kewajiban dan kebenaran, cepat melaksanakan dan mengenal tanggung jawab.[3]

  1. B.                      Pengangkatan Umar bin Khattab menjadi Khalifah

Sebelum meninggal pada tahun 634 M atau 13 H.[4] Tatkala Abu bakar merasa bahwa kematiannya telah dekat dan sakitnya semakin parah, dia ingin memberikan kekhilafahan kepada seseorang sehingga diharapkan manusia tidak banyak terlibat konflik. Maka, jatuhlah pilihannya kepada Umar Ibnul-Khattab. Dia meminta pertimbangan sahabat-sahabat senior. Mereka semua mendukung pilihan Abu Bakar.[5]

Oleh karena itu Abu Bakar secara resmi membuat surat pengangkatan Umar bi khattab sebagai orang yang menduduki jabatan khalifah apabila Abu Bakar wafat. Di antara surat pengangkatan tersebut berbunyi :

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ini pernyataan Abu Bakar bin Qahafah pada akhir hayatnya di dunia yang akan ditinggalkannya dan awal masanya ke akherat yang akan ditujunya. Sesungguhnya saya telah mengangkat Umar bin Khattab menjadi Khalifah untukmu, Apabila dan berlaku adil, maka itulah alasan dan harapan saya padanya. Tetapi apabila dia berubah dan beralih sikap, maka yang saya kehendaki hanyalah kebaikan dan saya tidak mengetahui sesuatu yang belum terjadi.”[6]

Beberapa bulan setelah penunjukan tersebut, Abu Bakar wafat dan Umar bin Khattab langsung menjadi khalifah. Pada waktu itu usia Umar sekitar 52 tahun, berdasarkan pendapat yang mengatakan Umar bin Khattab dilahirkan empat puluh tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Berdasarkan pada apa yang dikemukakan diatas, terdapat kesan bahwa cara pengangkatan Umar bin Khattab menjadi khalifah bertedensi rekayasa dari khalifah sebelumnya. Namun demkian, kesan tersebut tidak menimbulkan persoalan di kalangan umat Islam waktu itu. Agaknya hal ini dsebabkan oleh factor kelebihan umar bin Khattab dari tokoh-tokoh sahabat lainnya. Masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab berjalan sektar sepuluh tahun. Dalam masa yang relatif pendek ini telah mengukir sejarah Islam yang gemilang.[7]

Tindakan pertama yang dilakukan oleh Umar adalah mengubah kebijakan Abu Bakar terhadap para mantan pemberontak dalam peperangan riddah. Dia tidak hanya mengijinkan tetapi justru mendorong mereka untuk ikut serta dalam penyerangan ke wilayah-wilayah Sasaniyah. Bebarengan dengan menunjuk Abu ‘Ubaid As-saqif untuk memimpin fron ini, dan menyuruhnya untuk mengangkat, sambil berjalan, para anggota suku sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan kegiatan mereka selama perang riddah. Ini merupakan keputusan penting yang mengakibatkan perubahan-perubahan besar di Arab.[8]

Walaupun Umar membolehkan para anggota suku yang terlibat peperangan riddah untuk bergabung dengan pasukan Islam di fron Syiria, kita mendengar hanya 700 orang saja yang diantara mereka berada di bawah pimpinan Qais bin al-Maksuh al-Muradi sebagai bagian dari pasukan Arab di Syiria. Kelompok ini dipindahkan ke Iraq segera setelah pertempuran Yarmuk, kepergian mereka dari Syiria menyebabkan propinsi itu kosong sama sekali dari anggota suku-suku yang terlibat dalam perang Riddah dan setelah itu tidak ada lagi yang didatangkan lagi ke Syiria.[9]

  1. C.                     Perubahan Sosial Pada Masa Umar bin Khattab

Begitu cepat perubahanterjadi dalam kehidupan social, tetapi mmang iulah yang terjadi.. masing-masing faktor yang menyebabkanadanya lompatan demikian itu sangat berpengaruh da;am kehidupan mereka dalam arti  perorangan atau kelompok masyarakat. Faktor agama, faktor politik, fakor ekonomi. Pengaruh atas semua itu adakalanya saling berlawanan, tetapi satu sama lain saling terjalin dan menyatu, yang kemudian membawa pada peralihan dalam kehidupan social yang menarik perhatian dan mendorong orang berfikir tentang bagaimana akibatnya kelak terhadap kehidupan Islam dan kaum Muslimin. Untuk memeperkirakan sampai berapa jauh perkembangan itu terjadi, baik juga kita menngalihkan pandangan kita ke masa kehidupan social orang arab sebelum Islam. Mereka kebanyakan masyarakat pedalaman, masyarakat badui, sedikit sekali mereka menjadai penghuni  kota.[10]

D.P. Johnson mengemukakan unsur pertama sosial tu adalah indvidu. “Kenyataan sosial dipandang sebagai tindakan-tindakan sosial individu dan interaksi individu, ada pula yang mengemukakan bahwa perubahan sosial meliputi perubahan kebudayaan, karena antara masyarakat dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan.

Soejono Sekamto secara global membagi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor Internal

  1. Bertambah dan berkurangnya penduduk
  2. Terjadinya pertentangan dalam masyarakat
  3. Adanya penemuan-penemuan baru
  4. Timbulnya pemberontakan atau revolusi di dalam masyarakat itu sendiri

Faktor Eksternal

  1. Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia
  2. Terjadinya peperangan
  3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain[11]

Dalam melihat perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada masa Umar bin Khattab agaknya kerangka di atas bisa digunakan. Sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi selama pemerintahan Umar bin Khattab, sebagian besar diwarnai oleh penaklukan untuk memperluas pengaruh Islam. Sikap tegas yang sudah terbina sejak awal turut mewarnai berbagai kebijaksanaan yang diambilnya. Paling tidak ada tiga faktor yang ikut mempengaruhi kebijaksanaannya, yatu faktor militer, faktor ekonomi dan demografi.

  1. 1.                       Faktor Militer

Pada masa pemerintahan Umar bn Khattab diadakan ekspansi ke wilayah Irak, Syam, Mesir, Armenia, Azarbejan, Khurdistan, dan lain-lain. Penaklukan itu jelas menuntut adanya mobilisasi besar-besaran dan peningkatan efektifitas dan efisiensi dalam penanganan personil-personil militer. Untuk keentingan itu Umar bin Khattab menciptakan suatu system organisasi militer yang dapat mendukung system keamanan dan pengendalian wilayah yang smakin bertambah luas. Beliau menyetujui saran-saran sahabat lainnya untuk mendaftarkan personil militer dalam satu dewan. Dan beliau akhirnya terkenal sebagai orang yang pertama menciptakan lembaga itu.[12]

Dengan demikian beliau telah melangkah lebih maju, yaitu dengan telah membentuk tentara professional (Jaisy mukhtarif).[13] Lembaga itu timbul akibat kontak yang terjadi dengan Masyarakat lain. naminUmar melihatnya sebagai sesuatu yang baik dan perlu diadaptasikan kedalam Islam. Sebelum itu hanya ada sukarelawan sukarelawan  yang tidak tetap yang mendapatkan honoranium sebagai imbalan keikutsertaan  mereka dalam peperangan. Akan tetapi dengnan terorganisirnya militer dalam bentuk tentara professional , perubahanpun terjadi. Bagi tentara yang terdaftar diberi gaji tetap, sesuai dengan perjuangannya terhadap pengembangan agama Islam.

  1. 2.                       Faktor Ekonomi

Sebagai akibat lebih lanjut dari penaklukan-penaklukan yang terjadi, maka terbukalah sumber-sumber ekonomi yang tidak diperoleh sebelumnya. Dalam masa pemerintahannya, Umar menerima seperlima rampasan perang dar setiap pasukan muslim yang memperoleh kemenangan. Pajak tanah dari mereka yang sudah terikat dalam perjanjian yang hidup dari tanah mereka dan juga pajak perlindungan diri yang berasal dari mereka yang kalah tetapi tidak masuk Islam. Walawpun sumber sumber yang melukiskan penerimaan itu kelihatannya terlalu berlebihan, namun harta yang diterima itu jauh lebuh besar dari yang diperkirakan oleh orang orang Arab.

Sebagai kebijaksanaan lebih lanjut dari penerimaan Negara yabg senakin membengkak, Umar nenetapkan tunjanga tunjangan yang berbeda dari praktek yang dilakukan Abu bakar. Abu Bakar memberikan tunkangan pada rakyat dalam jumlah yang sama, tetapi Umar melakukannya dengan bertingkat tingkat. Ada Dua pertimbangan yang dijadikan pedoman Umar dalam menentukan besar kecilnya tunjangan social itu.

Pertama, dilihat dari kedudukan social seseorang menurut dekat jaunya hubungan darah dengan Rosulallah, dan kedua dipertimbangkan siapa dulu yang masuk Islam dan ini menyangkut jasa dan prestasi seseorang dalam perjuangan Islam. Kalau dilihat pertimbangan itu, mumgkin ada kaitannya dengan status social yang sederhana dari kerabat Rosulallah dan juga dengan pilihan politis, untuk mewujudkan kesetabilan pemerintahan.

Perubahan yang nyata nampak disini adala menjadi pentingnya kedudukan social seseorang,   karna kedudukan social mempunyai materi. Semakin dekat seseorang kepada Rosulallah dan semakin banyak jasanya dalam Islam serta lebih senior pengalaman ke Islamannya, maka semakin besar pula haknya atas tunjangan social dari Negara.

Ada beberapa hal penting yang perlu di catat berkaitan dengan kebijakan ekonomi pada masa Umar bin Khattab, diantaranya yaitu, pendirian baitu al-mal, kepemilikan tanah, zakat, usyur (pajak), sedekah dari kaum non muslim, mata uang, klasifikasi dan alokasi pendapatan Negara.  [14]

  1. 3.                       Factor demografi

Setelah dibangunnya kota kuffah sebagai tempat bertemunya kelompo kelompok dan suku dari utara dan selatan, dari hijjaz maupun majd, kabilah kabilah mudar maupun robi’ah.[15] Kota madinah tidak hanya dikunjungi oleh suku suku Arab, tetapi juga oleh orang orang Ajam. Sebaliknya  orang orang arab mengunjungi, bahkan menetap di Mesir, Syiria, Persia, dan lain lain.

Hal ini mengakibatkan kontak budaya antara mereka, sehingga tidak mustahil terjadi saling mengambil unsure unsure kebudayaan masing masing. Hubungan yang dilakuka secara fisik antar dua masyarakat, mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan  pengaruh timbale balik, artinya masing masing mayarakat mempengaruhi masyarakat lainnya, tetapi juga memperoleh dari yang lain.[16]

 

  1. IV.                        KESMPULAN

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa perubahan social di masa pemerintahan Umar bin Khottob, mempunyai beberapa penyebab .Soejono Sekamto secara global membagi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor Internal

  1. Bertambah dan berkurangnya penduduk
  2. Terjadinya pertentangan dalam masyarakat
  3. Adanya penemuan-penemuan baru
  4. Timbulnya pemberontakan atau revolusi di dalam masyarakat itu sendiri

Faktor Eksternal

  1. Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada disekitar                                 manusia
  2. Terjadinya peperangan
  3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain

 

  1. V.                        PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan mengenai pembahasan tentang perubahan sosialpada masa Umar bin khattab. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan baik dalam hal isi maupun sistematika penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif  sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya, besar harapan kami semoga makalah ini bisa memberikan banyak manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah khususnya, Amin..

DAFTAR PUSTAKA

A. Al-‘Usairy, Sejarah Islam, ( Jakarta : AKBAR MEDIA, 2003)

Al-Akkad,Abbas Mahmoud, Kecemerlangan Khalifah Umar bin Khattab, (Jakarta:

Bulan Bintang, 1978)

faishal,Syukri, al Mujtama’ Al Islamiyah dari Al Ilmi lil malayin, (Beirut, 1973)

Haekal,Muhammad Husain. Umar bin Khattab, ( Jakarta: PT. Pustaka Litera

AntarNusa)

Nu’mani,Syibli Al-Faruq; Life of Umar, The Great Second Caliph of Islam,

(Bandung: Pustaka, 1981)

Nu’mani,Syibli. Al-Faruq; Life of Umar, The Great Second Caliph of Islam,

(Bandung: Pustaka, 1981)

Soekamto,Soejono, Sosiologi Suatu Pengantar,( Jakarta: Rajawal, 1982)

Solikhin,M. Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Rasail, 2005)

Shaban M.A. Sejarah Islam , ( Jakarta: PT. Raja Grafndo Persada)

 


[1] M.Solikhin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Rasail, 2005) cet. 1, hal 7

[2] Abbas Mahmoud Al-Akkad, Kecemerlangan Khalifah Umar bin Khattab, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), cet, 1, hal 12

[3] Ibid, hal 87

[4] Shaban M.A. Sejarah Islam , ( Jakarta: PT. Raja Grafndo Persada) hal.41

[5] A. Al-‘Usairy, Sejarah Islam, ( Jakarta : AKBAR MEDIA, 2003) cet. 1. hal 155

[6] M.Solikhin, op.cit; hal 10

[7] Syibli Nu’mani, Al-Faruq; Life of Umar, The Great Second Caliph of Islam, (Bandung: Pustaka, 1981), hal 29

[8] A. Al-‘Usairy, op.cit; hal 42

[9] Ibid, hal 57

[10] Muhammad Husain Haekal, Umar bin Khattab, ( Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa) hal. 638:639

[11] Soejono Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar,( Jakarta: Rajawal, 1982), Hal 333

[12] M.Solikhin, op.cit; hal 12

[13] Muhammad Amarah, Ummar nazrah Ashriyyah jadidah ( Bairut: 1973) hlm. 39

[14] ibid, hal. 14

[15] Syukri faishal, al Mujtama’ Al Islamiyah dari Al Ilmi lil malayin, (Beirut, 1973) cet III, hal. 37

[16] Soejono Soekamto, op. cit hal. 332

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s