SEJARAH PENGHIMPUNAN DANPEMBINAAN HADITS

Standar

SEJARAH PENGHIMPUNAN DANPEMBINAAN HADITS

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Ulumul Hadits

Dosen Pengampu: Darmuin, M.Ag

 

 

Disusun oleh:

 

Siti Azimatul Uliyah                          (103111095)

Tarqiyah Ulfa                                    (103111101)

Tomi Azami                                       (103111102)

Tri Isnaini                                          (103111103)

Umi Hanik                                         (103111104)

Ahmad Fachry Yahya A.                 (103111136)

                        Amri Khan                                         (103111109)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

SEJARAH PENGHIMPUNAN DAN PEMBINAAN HADITS

       I.            PENDAHULUAN

Sunnah atau Hadits merupakan dasar hukum yang mempunyai kedudukan kedua setelah al-qur’an. Tanpa adanya Hadits, syari’at islam tidak dapat dimengerti secara utuh dan tidak dapat dilaksanakan. Yang menjadi permasalahan adalah banyak hadits buatan manusia/orang dikatakan berasal dari Nabi. Hal tersebut menyulitkan dalam membedakan mana hadits yang berasal dari Nabi dan mana yang bukan berasal dari Nabi (palsu). Hal tersebut juga membuat ulama berbeda pendapat dalam menentukan periodesasi pertumbuhan dan perkembangan hadits dalam tahapan-tahapannya.

    II.            RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana sejarah penghimpunandan pembinaan Hadits pada masa Rasulullah SAW?
  2. Bagaimana sejarah penghimpunandan pembinaan Hadits pada masa Sahabat?
  3. Bagaimana sejarah penghimpunandan pembinaan Hadits pada masa Tabi’in?
  4. Bagaimana sejarah penghimpunandan pembinaan Hadits pada masa kodifikasi (Tadwin Hadits)?

 

 III.            PEMBAHASAN

  1. Hadits pada masa Rasulullah SAW

Seluruh perbuatan, ucapan serta gerak- gerik Nabi dijadikan pedoman hidup bagi umatnya.

Ada suatu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya dengan masa lainnya, yaitu umat Islam dapat secara langsung memperoleh hadits dari Rasulullah SAW sebagai sumber hadits. Pada masa ini tidak ada jarak atau hijab yang dapat menghambat atau mempersulit pertemuan mereka.[1]

Ada beberapa cara yang digunakan Rasulullah SAW dalam menyampaikan hadits kepada para sahabatnya, yaitu:

  1. Melalui para jamaah yang berada dipusat pembinaan atau majelis al- ilmi.
  2. Dalambanyak kesempatan, Rasulullah SAW juga menyampaikan haditsnya melalui para sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya kepada orang lain.
  3. Cara lain yang dilakukan Rasulullah SAW adalah melalui ceramah atau pidato ditempat terbuka, seperti haji wada’ dan futuh mekah.[2]

Dari cara penyampaian Rasul tersebut menyebabkan kadar perolehan dan penguasaan hadits yang diterima sahabat menjadi tidak sama atau berbeda, itu disebabkan karena:

  1. Perbedaan mereka saat bersama Rasulullah SAW.
  2. Perbedaan soal kesanggupan untuk selalu bersama Rasulullah SAW.
  3. Perbedaan mereka dalam soal kekuatan hafalan dan kesungguhan bertanya kepada sahabat lain.
  4. Perbedaan mereka dalam waktu masuk islam dan jarak tempat tinggal mereka dari Rasulullah SAW.[3]

Para sahabat yang banyak memperoleh menerima hadits dari Rasulullah SAW anatara lain :

  1. As-sabiqun al awwalun : khulafaur rasyidin dan Abdullah Ibn Mas’ud.
  2. Yang selalu berada disamping Nabi dan sungguh-sungguh dalam menghafalnya yaitu Abu Hurairah dan yang mencatat Abdullah Ibn Amr bin Ash.
  3. Yang hidupnya sesudah Nabi : Annas Ibn Malik dan Abdullah Ibn Abbas.
  4. Ummahat Al Mukminin : Aisyah dan Ummu Salamah. [4]

Para sahabat dalam menerima hadits Nabi berpegang teguh pada hafalannya, yakni menerima dengan jalan hafalan bukan jalan menulis. Mereka mendengar dengan hati-hati apa yang Nabi sabdakan kemudian makna atau lafadz tergambar dalam dzin (benak) mereka. Pun juga mereka menyampaikan kepada orang lain lewat hafalan pula.

Akan tetapi, hadits tidak dibukukan secara resmi seperti halnya al-Qur’an. Hal tersebut disebabkan faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Mengkodifikasikan ucapan, amalan, serta muamalah Nabi adalah suatu hal yang sukar, karena memerlukan adanya segolongan sahabat yang terus menerus harus menyertai Nabi untuk hal tersebut padahal orang yang dapat menulis pada saat itu dapat dihitung.
  2. Karena orang Arab disebabkan mereka tidak pandai menulis dan membaca tulisan.
  3. Dikhawatirkan akan bercampur dalam catatan sebagian sabda Nabi dengan al-Qur’an tidak sengaja.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Said al-khudry bahwa Nabi SAW bersabda :

لَاتَكْتُبُوْا عَنِّيْ غَيْرَالْقُرْانِ وَمَنْ كَتَبَ عَنٍّيْ غَيْرَالْقُرْانِ فَلْيَمْهُ.

“ Jangan engkau tulis apa yang engkau dengar dariku, selain dari al-Qur’an. Barangsiapa yang menulis sesuatu selain al-Qur’an, hendaklah dihapuskan”.[5]

Dibalik larangan Rasul SAW pada hadits Abu Said al-Khudry diatas, ternyata banyak sahabat yang menuliskan hadits dan memiliki catatannya, diantaranya :

  1. Abdullah Ibn Amr Al-‘Ash yang menurut pengakuannya sudah dibenarkan Rasulullah SAW hingga ia diberi nama al-Shahifah as-Shadiqah.
  2. Jabir Ibn Abdillah Ibn Amr al-Anshari (W. 78 H) mengenai Rasul saat manasik haji yang catatannya dikenal dengan Shahifah Jabir.
  3. Abu Hurairah Al-Dausy (W. 59 H) yang dikenal dengan Shahifah al-Shahihah.
  4. Abu Syah ( Umar Ibn Sa’ad al-Anmari ) yang meminta Rasul untuk mencatatkan hadits yang disampaikan saat pidato pada peristiwa Futuh Mekah.[6]
  1. Hadits pada masa Sahabat

Periode kedua sejarah perkembangan hadits adalah masa sahabat, khususnya Khulafa  Ar-Rasyidin yaitu sekitar tahun 11 H sampai 40 H. Masa ini juga disebut masa sahabat besar. Karena pada masa ini perhatian para sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran al-Qur’an. Periwayatan hadits belum begitu berkembang dan masih dibatasi. Oleh karena itu para ulama menganggap masalah ini sebagai masa yang menunjukan adanya masa pembatasan periwayatan ( At-Tasabbut wa al-Iqlal min ar-Riwayah ).[7]

Meskipun begitu Rasul sangat memerintahkan sahabat untuk mentablighkan  hadits seperti dibawah ini:

نَضَّرَاللهُ امْرَاءً سَمِعَ  مِنِّيْ  مَقَالَتِيْ  مَحَفِظَهَا  وَوَعَاهَا فَاَدَّاهَا كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلَّغِ اَوْعَى مِنْ سَامِعٍ.

“mudah-mudahan Allah mengindahkan seseorang yang mendengar ucapanku, lalu dihafalkan dan dipahamkan dan disampaikan kepada orang lain persis sebagaimana yang dia dengar karena banyak sekali orang yang disampaikan berita kepadanya, lebih paham dari pada yang mendegarkan sendiri. (HR. Tirmidzi ).[8]

Hadits  pada masa Abu Bakar dan Umar hanya disampaikan kepada yang memerlukan saja dan apabila perlu saja, belum bersifat pelajaran. Pada masa ini hadits belum diluaskan karena beliau mengerahkan minat umat untuk menyebarkan al-Qur’an dan memerintahkan para sahabat untuk berhati-hati dalam menerima riwayat-riwayat itu. Perkembangan hadits dan riwayatnya terjadi pada masa Utsman dan Ali.

Pada masa Utsman dan Ali hadits lebih diaplikasikan dalam kehidupan untuk menjawab semua permasalahan dalam masyarakat dikala itu.[9]

  1. Hadits pada masa Tabi’in

Sesudah masa Utsman dan Ali, timbulah usaha yang lebih serius untuk mencari dan menghfal hadits serta menyebarkannya ke masyarakat luas dengan mengadakan perlawatan-perlawatan untuk mencari hadits.

Pada tahun 17 H tentara islam mengalahkan Syiria dan Iraq. Pada tahun 20 H mengalahkan Mesir. Pada tahun 21 H mengalahkan Persia. Pada tahun 56 H tentara islam sampai disamarkand. Pada tahun 93 H tentara islam menaklukan Spanyol. Para sahabat berpindah ketempat-tempat itu. Kota itu menjadi “perguruan“ tempat mengajarkan al-Qur’an dan hadits yang menghasilkan sarjana-sarjana tabi’in dalam bidang hadits.[10]

Diantara sahabat yang meriwayatkan hadits ialah :

  1. Abu Hurairah : 5.374 buah (Talqih Fuhumi Ahl at-atsar ), menurut al-Kirmany 5.364 buah,sedang dalam musnad Ahmad terdapat 3.848 buah.
  2. Aisyah, istri Rasul: 2.210 hadits.
  3. Annas Ibn Malik: 2.276hadits,menurut al-Kirmany sebanyak 2.236 hadits.
  4. Abdullah Ibn Abbas: 1.660 hadits.
  5. Abdullah Ibn Umar.
  6. Jabir bin Abdillah: 1.540 hadits.
  7. Abu Said al-Khudry: 1.170 hadits.
  8. Ibnu Mas’ud.
  9. Abdullah Ibn Amr bin Ash: 1.660 hadits.[11]

Tercatat beberapa kota sebagai pusat pembinaan dalam periwayatan hadits, sebagai tempat tujuan para tabi’in dalam mencari hadits, ialah Madinah al-Munawarah, Makkah Al-Mukaramah, Kufah, Basrah, Syam, Mesir, Maghribi dan Andalus.[12]

Intinya pada masa ini periwayatan hadits masih bersifat dari mulut ke mulut (al-Musyafahat ), seperti seorang murid langsung memperoleh hadits dari guru dan mendengarkan langsung dari penuturan mereka, dan selanjutnya disimpan melalui hafalan mereka. Perbedaannya dengan periode sebelumnya adalah bahwa  pada masa ini periwayatan hadits sudah semakin meluas dan banyak sehingga dikenal dengan Iktsar al-Riwayah ( pembanyakan riwayat ).[13]

  1. Masa kodifikasi (Tadwin Hadits)

yang dimaksud dengan kodifikasi Hadits atau Tadwin pada periode ini adalah kodifikasi secara resmi berdasarkan perintah kepala negara, dengan melibatkan beberapa sahabat yang ahli dibidangnya. Tidak seperti kodifikasi yang dilakukan secara perseorangan atau untuk kepentingan pribadi, sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah SAW.

Usaha ini dimulai ketika pemerintahan Islam dipimpin oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz (khalifah ke-8 dari kekhalifahan Bani Umayah), melalui intruksinya kepada para pejabat daerah agar memperhatikan dan mengumpulkan hadits dari para penghafalnya. Ia mengintruksikan kepada Abu Bakar bin Muhammad ibn Amr ibn Hazm (Gubernur Madinah). Beliau mengintruksikan kepada Abu Bakar ibn Hazm agar mengumpulkan hadits yang ada pada Amrah binti Abdurrahman al-Anshari (murid kepercayaan Siti Aisyah) dan al-Qasin bin Muhammad bin Abi Bakar. Intruksi yang sama juga diberikan kepada Muhammad bin Syihab az-Zuhri yang dinilainya sebagai seorang yang lebih banyak mengetahui hadits dari pada yang lainnya.[14]

Alasan mengapa hadits dibukukan/dikodifikasikan karena:

  1. Hilangnya sejumlah hadits besar.
  2. Penyebaran kebohongan.
  3. Periwayatan makna.
  4. Perbedaan diantara sesama muslim.
  5. Penyebarluasan ra’yu (penilaian subyektif).[15]

 IV.            KESIMPULAN

Pada masa Rasulullah hadits disampaikan melalui majlis-majlis yang berada pada pusat pembinaan ataupun yang lain. Namun, Rasul melarang untuk membukukan hadits karena dikhawatirkan akan bercampur dengan Al-qur’an. Begitu juga pada masa sahabat perbedaannya pada masa sahabat hadits digunakan hanya kepada yang memerlukan saja dan pada saat perlu. Berbeda lagi pada masa tabi’in walaupun sama-sama pada masa ini hadits belum dibukukan, tetapi telah banyak periwayatan hadits hingga meluas. Walaupun semuanya disampaikan dari mulut ke mulut, akan tetapi pada kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah, beliau telah mengintruksikan kepada pejabat daerah untuk mengumpulkan hadits dari hafalan-hafalannya. Beliau mengintruksikan kepada Abu Bakar ibn Muhammad ibn Hazm untuk mengumpulkan hadits dari Amrah binti Abdurrahman binti Al-anshari.

    V.            PENUTUP

Dengan segala keterbatasan kami, demikianlah makalah ini kami buat. Kesempurnaan hanyalah ada pada Allah SWT. oleh karena itu sudah pasti makalah ini memerlukan kritik dan saran yang membangun dari pembaca yang budiman demi lebih baiknya makalah setelah ini. Selamat membaca dan semoga bermanfaat. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Al Katib, Ajaj, Hadits Nabi Sebelum  Dibukukan, 1999, Jakarta: Gema Insani Press.

Ash Shiddiqie, Muhammad Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, 2009, Semarang: CV Pustaka Rizki Putera.

Ja’fariyah, Rasul, Penulisan Penghimpunan Hadits, 1992, Jakarta: Lentera.

Mudasir, Ilmu Hadits, 1999, Bandung: CV Pustaka Setia.

Suparta, Munzier, Ilmu Hadits, 2001, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Yuslim, Nawir, Ulumul Hadits, 1998, Jakarta: PT Mutiara Sumber Widya.

 


[1] Mudasir, ,Ilmu Hadits, 1999, (Bandung: CV Pustaka Setia, cet. 1), hlm. 88

[2] Ibid, hlm. 89

[3] Ibid, hlm. 90

[4] Muh. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, 2009, (Semarang: CV. Pustaka Rizki Putera, cet.1), hlm. 30

[5] Ibid, hlm. 32

[6] Munzier Suparta, Ilmu Hadits, 2001, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hlm. 77

[7]Mudasir, Op.cit, hlm.95

[8]Muh.Hasbi ash-Shiddieqie, Op.cit, hlm. 36

[9]Ajaj al-Khatib, HaditsNabiSebelumDibukukan, 1999, (Jakarta: GemaInsani Press, cet.1), hlm. 116

[10]Muh.Hasbi ash-Shiddiqie, Op.cit, hlm. 45

[11]Ibid, hlm. 48

[12]MunzierSuparta, Op.cit, hlm. 85

[13]NawirYuslem, UlumulHadits, 1998, (Jakarta: PT. MutiaraSumberWidya), hlm. 117

[14]Mudasir, Op.cit, hlm. 106

[15]RasulJa’fariyah, PenulisanPenghimpunanHadits, 1992, (Jakarta: Lentera, cet.1), hlm. 88

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s